May I Love For Twice

May I Love For Twice
Holiday Dihari Weekend



Di kamar, kini Alesha, dan Jacob tengah berbaring dengan posisi miring. Saling memandang juga berbincang-bincang. Terutama Alesha yang terus saja menceritakan semua yang ada didalam otaknya.


Jacob sendiri hanya menjadi pendengar meski sesekali mengajukan pertanyaan. Ia terlihat sangat menikmati waktu senggang bersama istrinya malam ini. Biasanya, ketika Jacob pulang ia sudah mendapati Alesha yang sudah tertidur.


"Boleh aku memanggilmu dengan sebutan 'Mr. Jacob' lagi? Aku benar-benar merasa aneh jika hanya memanggil namamu saja."


"Tidak!" Jacob membalas dengan tegas ucapan istrinya itu. "Aku bukan mentormu lagi, Alesha!"


"Tapi aku masih merasa kalau kau itu mentorku," Balas Alesha. "Kau ingat, baru sekitar empat bulan lebih aku keluar dari WOSA. Rasanya seperti baru kemarin aku bertemu denganmu, tapi sekarang aku sudah menyandang status sebagai istrimu."


"Aku ingat saat-saat pertama kali kita bertemu. Aku mencarimu, dan yang lain, lalu aku menemukanmu sedang berada di gerbang selatan WOSA."


Alesha beranjak bangun untuk terduduk diatas kasurnya.


"Fist Ceremony." Alesha menjentrikkan jarinya. "Lalu keesokan harinya kau menghukumku, dan membuatku pingsan. Sungguh aku sangat sebal padamu waktu itu," Alesha melirik dengan tatapan tajam pada suaminya. "Aku mencoba untuk diam, dan mendumal dalam hati.."


"Aku penarasan umpatan apa yang kau berikan padaku?" Potong Jacob sembari mengikuti Alesha untuk terduduk diatas kasur. "Apa yang kau katakan?" Jacob mengeluarkan tatapan menggodanya.


"Jika saja kau bukan mentorku, sudah pasti aku akan sangat membencimu!"


"Sungguh?" Jacob mendekatkan wajahnya pada wajah Alesha.


"Tidak juga sih," Balas Alesha, malas.


"Tapi kenyataannya kau sudah jatuh cinta padaku sekarang," Jacob berbisik tepat dihadapan wajah istrinya, bahkan ujung hidung mereka nyaris bersentuhan.


"Kau yang jatuh cinta terlebih dulu padaku," Balas Alesha dengan begitu percaya diri seraya menjauhkan wajahnya dari wajah suaminya.


"Karna kau sangat memikatku, sayang," Kini tatapan Jacob berubah menjadi seperti seekor singa yang sedang berhadapan dengan mangsanya.


Tetapi Alesha, tiba-tiba saja malah ia merasakan pilu didalam lubuk hatinya.


Bukannya kau tertarik padaku karna aku mirip dengan Yuna ya, Mr. Jacob...... Air muka Alesha berubah murung. Sakit rasanya ketika ia mengingat sosok gadis yang pernah menjadi ratu dalam hati suaminya.


Yuna.


Alesha tidak marah, apalagi membenci gadis itu. Namun, Alesha berubah ragu. Apakah Jacob benar-benar tulus mencintainya saat ini?


"Alesha, ada apa? Kau terlihat murung," Tanya Jacob.


"Mr. Jacob, apa kau benar-benar mencintaiku?" Tak terasa, mulut Alesha pun mengucapkan pertanyaan itu, pertanyaan yang semula terbentuk dari otaknya, kini sudah tersalurkan lewat suaranya.


"Apa? Apa maksudnya, Alesha?" Jacob begitu terkejut dengan pernyataan istrinya barusan. Apa maksudnya?


"Apa kau sungguh-sungguh mencintaiku, Mr. Jacob? Aku takut kau mencintaiku karna aku..."


"Cukup, Alesha!" Sentak Jacob hingga membuat tubuh Alesha terlonjak. "Kau bukan Yuna! Aku mencintaimu karna kau adalah pengobat untukku! Kau yang berhasil menyembuhkan lukaku! Dan bukan karna kau mengingatkanku pada Yuna!" Jacob menatap penuh keyakinan, dan kepastian pada Alesha. " Percayalah, bersamamu kini, aku benar-benar lupa dengan segala kenangan, dan pengalaman burukku. Termasuk Yuna. Aku tidak pernah mengingat-ingatnya lagi karna aku sangat mencintaimu, Alesha."


Alesha tidak membalas ucapan suaminya itu, namun ia hanya memberikan tatapan lurus yang membingungkan, seolah sedang mencari sesuatu di dalam manik hitam Jacob.


"Alesha, tolong jangan berpikiran macam-macam. Aku sungguh mencintaimu," Lanjut Jacob dengan nada memohon.


Sejenak, Alesha masih menatapi suaminya, namun sejurus setelah itu ia pun menghamburkan tubuhnya kedalam pelukan Jacob.


"Kapan promosi perusahaan akan berlangsung?" Alesha harus mengalihkan topik pembicaraan. Semakin ia membahas tentang Yuna, maka akan semakin dalam juga luka dihatinya.


"Minggu depan, sayang," Jawab Jacob sembari mengelus pelan punggung Alesha.


"Syukurlah," Alesha semakin mengeratkan pelukannya.


"Setelah itu kita akan pergi untuk menikmati bulan madu kita," Jacob mengangkat dagu Alesha. "Jangan pernah ragu lagi, Alesha.Aku sangat mencintaimu." Kemudian Jacob pun memberikan banyak ciuman kilat pada wajah istri kesayangannya itu.


"Ck. Ish, kau ini! Tidak bisa apa sekali saja menciumnya!" Protes Alesha.


"Kau membuatku gemas, Alesha," Lagi. Jacob menghujani wajah Alesha dengan cumbuannya.


"Argh, cukup!!" Alesha meronta, berupaya untuk menjauhkan wajahnya dari jangakauan bibir Jacob.


Tetapi Jacob semakin mengunci tubuh Alesha dalam pelukannya.


Finally.....


Jacob membawa tubuh istrinya untuk kembali berbaring.


"Milikku..." Bisik Jacob tepat dihadapan wajah istrinya.


***


Dipagi harinya, tepat pukul setengah enam Jacob mengusikkan tubuhnya yang berada dalam satu selimut dengan Alesha.


Senyum manis Jacob langsung merekah kala mendapati tubuh istrinya yang sedang meringkuk kedinginan didalam pelukannya.


"Selamat pagi, Lil Ale," Bisik Jacob sembari mencium pundak istri manisnya itu.


Ingin rasanya Jacob berlama-lama dalam posisi seperti itu bersama Alesha, namun meski hari ini adalah hari minggu, tetap saja Jacob harus terus bekerja untuk meninjau persiapan promosi perusahaan di stadion GBLA mengingat promosi itu akan digelar minggu depan.


Segera, Jacob bangkit dengan perlahan agar tidak mengusik istrinya, tidak lupa ia juga membenarkan posisi selimut agar menutupi tubuh polos Alesha hingga ke area leher.


Sebelum melangkahkan kakinya, Jacob terlebih memunguti pakaiannya, dan pakaian Alesha yang berserakan dipinggir kasur. Barulah setelah itu ia pun berjalan menuju kamar mandi.


Tidak lama, mungkin sekitar lima belas menitan menghabiskan waktu untuk membersihkan diri, kini Jacob sudah selesai dengan kebiasaan dipagi harinya itu.


Sembari mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil, Jacob berjalan untuk keluar dari dalam kamar mandi, dan setelah berada di luar, perhatian Jacob pun tiba-tiba teralihkan pada sesosok objek manis yang selalu menjadi kesukaannya. Seperti selayaknya bocah kecil, objek manis itu terduduk diatas kasur sembari menggesekkan dua jari telunjuknya pada kedua kelopak matanya, belum lagi tubuh minimalisnya yang tenggelam dalam balutan selimut tebal juga besar.


Manis sekali...... Gumam Jacob dalam hati.


Perlahan, langkah Jacob kini tertuju pada objek manis kesayangannya itu.


"Selamat pagi, My Lil Ale."


Sapaan manis, dan satu kecupan pada pipinya membuat Alesha terkesiap hingga membuat matanya yang semula tertutup jadi terbuka.


"Mr. Jacob!"


Jacob terkekeh melihat raut sebal pada wajah istrinya. Meski dengan muka bantal, namun Jacob begitu menyukai wajah Alesha yang terlihat lebih polos, dan murni selepas bangun tidur.


"Jam berapa sekarang?" Tanya Alesha, pelan.


"Jam enam kurang," Jawab Jacob sembari mengelusi rambut istrinya.


"Kau belum berangkat?" Tanya Alesha, lagi.


"Aku baru akan bersiap, Alesha."


"Yasudah sana. Oh ya karna ini hari minggu, aku akan pergi bersama Nakyung, Maudy, dan Merina."


"Kemana?"


"Entah. Yang pasti bersenang-senang untuk merileksasikan diri."


"Jangan pulang terlalu sore kalau begitu!"


"Tidak! Aku ingin makan-makan bersama mereka di cafe, atau restoran, jadi mungkin aku akan pulang malam. Tapi tidak larut kok."


"Intinya ketika aku pulang kerja, dan sampai di rumah, kau harus sudah ada di sini!" Jacob berbicara sedikit lebih tegas.


"Iya, Mr. Jacob!" Balas Alesha yang juga sedikit meninggikan nada bicaranya.


"Baiklah, aku akan bersiap sekarang," Baru saja Jacob akan beranjak dari duduknya, tiba-tiba saja Alesha kembali memanggilnya dengan lirih.


Otomatis tubuh Jacob pun kembali berbalik menghadap ke arah istrinya itu.


"Iya? Kenapa, Alesha?"


Alesha menundukkan wajahnya, ia murung sekarang. "Kau sangat sibuk sekali ya?"


Jacob sedikit tersentak dengan ucapan Alesha barusan. Apa maksudnya Alesha menanyakan hal itu? Apa mungkin Alesha ingin ditemani oleh Jacob untuk saat ini?


Jacob pun sulit berucap. Ia tidak tahu bagaimana menjawabnya. Sebenarnya mudah sih, ia hanya tinggal mengatakan 'Ya', tapi itu akan membuat Alesha semakin bersedih.


"Kenapa memangnya, Al?" Jacob barbalik tanya dengan nada yang begitu lembut.


"Tidak apa. Aku hanya ingin bilang kalau kau harus menjaga kesehatanmu, dan jangan sampai sakit," Alesha menatap wajah suaminya dengan senyum manis yang jelas saja hanya sebuah kepalsuan belaka.


"Pasti, sayang. Tidak lama lagikan kita akan berbulan madu, dan aku tidak mau menundanya lagi," Jawab Jacob yang juga membalas senyuman manis Alesha.


"Sudah sana, kau bersiap-siapalah, aku juga akan mandi," Ucap Alesha sekalian membawa dirinya untuk turun dari atas kasur.


"Hey, lepaskan dulu selimutnya, Alesha," Jacob terkekeh ketika melihat Alesha berjalan dengan selimut yang masih membaluti tubuhnya minimalisnya itu.


"Tidak! Jika aku melepaskan ini dihadapanmu bisa-bisa aku menjadi sarapan pagimu!" Alesha pun berlari kecil, takut jika ucapannya itu akan menjadi kenyataan.


Sedangkan Jacob, ia tertawa kecil melihat tingkah Alesha yang menurutnya menggemaskan. Memang benar juga sih, jika Alesha melepaskan balutan selimut itu dari tubuhnya, maka ia harus bersiap-siap untuk menjadi santapan pagi suaminya.


Meski hanya bisa menciptakan momen seperti itu tanpa ada tambahan momen yang lebih khusus lagi, Jacob sangat bersyukur karna memiliki istri yang begitu mengertikannya. Jacob tahu pasti cukup sulit rasanya berada diposisi Alesha, namun mau bagaimana lagi?


Tapi Jacob sudah berjanji, selepas promosi perusahaan terlaksanakan, maka ia akan langsung mengambil jatah cutinya bersama Alesha untuk pergi berlibur dan menikmati masa bulan madu mereka di Turki.


***


Pukul 08.00 WIB


Jacob sudah berangkat kerja sejak satu jam lalu, sedangkan kini Alesha sedang menunggu kedatangan Nakyung, Maudy, dan Merina ke mansionnya.


"Alesha....."


Teriakkan dari Merina barusan langsung menggema di dalam mansion. Ia baru saja tiba bersama dua kawannya.


"Merina! Ini mansion, bukan hutan!" Senyak Maudy.


"Mansion ini terlalu luas, aku pikir Alesha akan mendengar teriakanku," Balas Merina.


"Tidak dengan berteriak juga, Merina!" Sindir Nakyung.


"Selamat datang kalian bertiga," Sapa ramah Taylor yang menghampiri ketiga gadis, kawan dari Nyonya mudanya.


"Hai, Tuan Taylor. Oh ya, dimana Alesha?" Tanya Nakyung.


"Nona berada di kamarnya saat ini," Jawab Taylor.


"Boleh kami ke sana sekarang?" Pinta Merina.


"Tentu saja," Lalu Taylor pun memimpin dengan berjalan di depan untuk membawa ketiga gadis itu menuju kamar Alesha.


Sesampainya di kamar, Maudy pun mengetuk pintu kamar itu seraya memanggil nama temannya.


Tok... Tok... Tok...


"Alesha..."


"Iya tunggu sebentar..." Sahut Alesha dari dalam kamar.


Cekrek....


Suara gagang pintu yang ditekan kebawah.


"Haii, Ale," Sapa Merina setelah melihat Alesha yang berdiri tepat didepan ambang pintu.


"Owh, syukurlah kalian sudah datang. Aku menunggu kalian dari tadi tahu!" Oceh Alesha.


"Di jalan macet, Al," Balas Nakyung.


Alesha memutar bola matanya dengan jengah. "Baiklah, kalian mau makan dulu atau langsung saja?" Tawar Alesha.


"Langsung saja ayo," Ucap Merina terdengar bersemangat.


"Kau sudah kan bersiap-siapnya? Tanya Nakyung pada Alesha.


"Dari tadi juga sudah siap, kalian saja yang datangnya terlalu lama," Balas Alesha.


"Sudah, sudah, ayo lebih baik kita berangkat sekarang," Ucap Maudy.


"Kau benar, Maudy. Ayo, Alesha," Merina segera menggandeng lengan Alesha dan berjalan beriringan.


Para gadis itu, kecuali Alesha akan menghabiskan waktu seharian ini bersama-sama. Entah pergi kemana yang penting happy.


Pertama-tama, mereka mengunjungi sebuah mall dipusat kota. Selayaknya perempuan biasa, keempat sekawan itu membeli beberapa aksesori, pakaian, dan lain-lain, termasuk makanan. Lalu Alesha, ia tidak banyak membeli barang-barang seperti ketiga kawannya, ia hanya membeli sepasang sandal wedges, dan satu buah kerudung berbahan satin.


Lalu holiday dihari weekend pun kembali berlanjut dengan mengunjungi salah satu tempat wisata yang cukup terkenal, yaitu farm house.


Berkeliling, berfoto, lalu berteduh, beristirahat, dan berkeliling lagi. Alesha, dan ketiga temannya sangat menikmati waktu kebersamaan mereka. Melihat-lihat, dan mencuci mata dengan taman-taman indah yang berada di dalam tempat wisata itu.


Oh ya, tidak lupa juga dengan Taylor, dan lima antek-anteknya yang sejak awal terus mengikuti Alesha, dan teman-temannya, namun dalam jarak yang cukup jauh supaya membuat Alesha, Nakyung, Maudy, dan Merina merasa tetap enjoy dengan keasikkan mereka.


Hingga tak terasa, hari semakin larut, jingga di ufuk barat sudah sangat bersinar, dan menandakan kalau malam akan segera tiba.


Lelah.


Alesha, Nakyung, Maudy, dan Merina kini sudah berada disebuah cafe. Mereka beristirahat di sana dengan memesan makanan juga minuman. Perbincangan khas para wanita pun terjadi, terutama Merina yang menjadi paling bawel diantara ketiga temannya.


Kebersamaan yang begitu mengasyikkan. Seru rasanya bisa berkumpul dengan sahabat-sahabat, bercanda gurau, dan mencari kesenangan secara bersama-sama.


Lalu, kapan Alesha dapat menghabiskan waktu bersama suaminya? Entahlah. Tapi Jacob bilang kalau tidak lama lagi promosi perusahaan akan segera diselenggarakan, dan itu berarti waktu untuk Alesha, dan Jacob untuk bisa berbulan madu tidak akan lama lagi.


Hari demi hari pun kembali silih berganti, menyesuaikan dengan waktu yang sudah ditentukan dalam tiap detiknya.


Alesha kembali menjalani aktivitas sehari-harinya sejak ia menikah dengan Jacob satu bulan yang lalu. Bangun pagi tanpa melihat wajah suaminya, bersiap-siap, lalu bekerja sembari tetap diikuti, dan dipantau oleh Taylor, pulang malam, tidur, dan selesai.


Begitu secara terus menerus. Jacob pun sama. Bangun dipagi hari mendahului istrinya yang masih tetap terjaga, bersiap, berangkat kerja tanpa pamit pada sang istri, bertemu dengan para petinggi perusahaan, mengurus ini itu, berpikir keras, dan cepat, melihat perkembangan perusahaan, dan persiapan promosi, lalu pulang, mandi, dan kembali tertidur disebelah istrinya yang juga sudah tidur terlebih dahulu.


Mereka sudah terbiasa menjalani aktivitas keseharian mereka yang seperti itu. Tapi tenang saja, karna tidak lama lagi, atau boleh dibilang tinggal hitungan hari saja, promosi perusahaan akan diselenggarakan, lalu setelah itu Jacob, dan Alesha bisa menghabiskan waktu mereka berdua sepuasnya.


***


H-1 menjelang promosi perusahaan.


Di tengah lapangan stadion GBLA, sebuah panggung besar sudah berdiri kokoh, begitu pula dengan meja-meja, dan bangku-bangku untuk para tamu undangan, dan para hadirin yang akan datang dimalam puncak promosi perusahaan milik ibunda Jacob itu.


Para petugas juga sudah melakukan uji coba pada setiap bagian-bagian, dimulai dari pencahayaan, LED besar yang akan digunakan, listrik, dan lain-lain untuk memastikan kesiapan dari terselenggaranya promosi besar-besaran itu.


"Tuan Jacob, Nyonya Mona sudah tiba di bandara, dan sedang menuju ke apartemen," Ucap asisten Jacob, yang pasti bukan Taylor.


"Bagus. Terima kasih informasinya," Balas Jacob.


Maklum, sebagai seorang CEO utama dari induk perusahaan milik Laura, tentunya Mona harus ada dalam gelaran promosi itu, malah kehadirannya adalah yang terpenting. Tapi bukan hanya Mona, semua CEO cabang, juga para petinggi perusahaan sudah berada di Bandung sejak beberapa hari lalu.