
Di perjalanan pulang, Alesha, dan Jacob saling diam tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
Alesha yang asik memandangi jalan raya melalui jendela mobil sembari mendengarkan murotal Al-Quran melalui ponselnya, sedangkan Jacob terdiam karna rasa bersalahnya terhadap Alesha.
Jacob sadar, ia memang keras dan kerap kali membentak juga memarahi Alesha, apalagi bila ia lelah sepulang kerja. Jacob bersyukur karna selama ini Alesha tidak pernah marah padanya, malah Alesha selalu meminta maaf karna sudah membuatnya marah. Padahal baru tujuh bulan mereka menikah, namun Jacob sudah mendapatkan beberapa hal baru tentang Alesha, diantaranya adalah penyabar, dan selalu berusaha membuat Jacob agar tidak marah padanya. Alesha selalu meminta maaf walau ia sendiri kadang tidak tahu apa salahnya, dan hal itu kadang membuat Jacob merasa begitu beruntung karna memiliki istri yang bisa dengan sabar menghadapi sisi kerasnya.
Jacob memang begitu mencintai Alesha, tapi disatu waktu jika ia merasa lelah, pusing, atau badmood, kadang hal kecil saja selalu membuatnya membentak Alesha.
Maafkan aku, Alesha...... Lirih Jacob dalam hatinya.
***
Tak terasa, kini mobil yang ditumpangi oleh Jacob, dan Alesha telah tiba di mansion mereka.
Jacob pun langsung menggandeng lengan istrinya menuju kamar.
"Jack, kau mau makan apa? Biar aku bawakan," Ucap Alesha.
"Tidak usah, sayang," Balas Jacob, lembut.
"Kau tidak lapar?" Tanya Alesha.
"Tidak, aku tidak lapar."
"Tapi aku lapar," Alesha menghentikan langkahnya lalu mendongkak menatap Jacob. "Baby J juga lapar."
"Kau mau makan apa, Tuan Putri," Jacob mencubit kedua pipi istrinya dengan gemas.
"Aku mau ayam rica-rica," Alesha tersenyum sembari mengedipkan kedua kelopak matanya.
"Kalau begitu pesan lah."
"Aku mau tiga porsi," Alesha mengangkat tiga jarinya tepat dihadapan wajah Jacob.
"Tidak kurang banyak, sayang? Hmm?" Ledek Jacob.
"Tidak. Ada tiga orang yang kelaparan, aku dan dua anakmu," Balas Alesha sembari mengelusi perutnya.
"Oh iya aku lupa. Ada tiga orang yang mesti aku beri makan," Lalu Jacob merogoh ponselnya dari dalam saku jaket yang ia kenakan.
"Hallo, Taylor. Tolong belikan Alesha tiga porsi ayam rica-rica."
"......"
"Oke, terima kasih."
Singkat, padat, jelas. Jacob segera menutup sambungan telponnya dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jaket.
"Selesai, Tuan Putri, permintaanmu akan segera terpenuhi," Ucap Jacob yang berlaga bak pelayan kerajaan.
"Tidak! Belum semua!" Alesha menatap manja pada suaminya, memberikan sebuah sinyal khusus.
Jacob pun terkekeh mendapati tingkah menggemaskan istrinya itu. "Baiklah, baiklah, aku paham."
Tanpa aba-aba atau pun bertanya terlebih dahulu, Jacob langsung saja mencium kedua pipi Alesha dengan gemas, dan berakhir pada ciuman bibir yang sengaja dilama-lamakan.
"Emmm, Jack!" Alesha mendorong wajah suaminya agar menjauhi wajahnya. "Bukan itu maksudku!" Lalu Alesha mendengus sebal. "Aku ingin seblak!"
"Tidak boleh! Kemarin kau memakan tiga porsi seblak pedas. Jika kau mau makan seblak lagi, tunggu sampai minggu depan!" Ucap Jacob sembari menangkup wajah istrinya.
"Ish, kau ini! Tau ah!" Alesha merajuk, dan berjalan mendahului Jacob untuk masuk ke dalam kamar mereka.
*Di dalam kamar
Jacob memeluk tubuh istrinya dari belakang sembari terus menghirup aroma parfum bayi yang menyegarkan dari kerudung yang Alesha pakai.
Namun sepersekian detik kemudian, Jacob jadi teringat akan sikap buruknya terhadap Alesha.
"Lil Ale.."
"Hmmm?"
"Kau marah padaku?" Tanya Jacob.
"Tidak," Jawab Alesha, santai.
"Tapi aku sudah kasar padamu," Jacob membalikkan tubuh istrinya agar mereka dapat saling berhadapan. "Maafkan aku, Alesha."
Alesha terdiam, menatapi mimik sedih suaminya yang terlihat begitu jelas.
"Kau mau menghukumku? Silahkan, Alesha. Aku selalu memarahimu, aku selalu membentakmu waktu itu hanya karna aku lelah, dan pusing karna urusan pekerjaan, dan tidak seharusnya aku melampiaskannya padamu, sayang."
Alesha tersenyum hangat sembari membelai wajah suaminya. "Lupakan saja. Aku tidak marah, dan sudah melupakan itu. Aku juga minta maaf karna sering membuatmu marah."
Kenapa Alesha begitu baik? Jacob benar-benar beruntung memiliki istri sesabar Alesha.
"Aku mencintaimu, Alesha."
Alesha langsung menghamburkan tubuhnya pada pelukan suaminya.
"Jangan tinggalkan aku, Jack. Aku mencintaimu."
Jacob tersenyum, rasanya sekarang lebih lega bisa berbaikkan dengan Alesha.
Mungkin Jacob memang keras, dan galak, tapi itu bukan berarti Jacob kehilangan rasa cinta dan sayangnya untuk Alesha. Tidak! Tidak sama sekali. Jacob masih mencintai istrinya itu. Ia akan selalu mencintai, dan menyayangi Alesha.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Peri kecil," Jacob mencium gemas kening Alesha.
"Jack, Baby J juga mau dicium," Manja Alesha.
Sesuai permintaan istrinya barusan, Jacob pun menurunkan tubuhnya untuk berhadapan langsung dengan perut besar istrinya.
"Hei junior juniorku."
Elusan yang Jacob berikan pada perutnya membuat Alesha memejamkan mata, menikmati sentuhan kasih sayang yang sangat terasa.
"Aku mencintai kalian," Kecupan lembut pun akhirnya mendarat pada perut Alesha.
Bukan hanya satu, melainkan beberapa kecupan Jacob lakukan untuk mengabsen tiap-tiap bagian area sekitar perut.
Namun semakin lama, Alesha merasa jika ciuman Jacob semakin bergerak ke atas.
"STOP!" Alesha menghentikan ulah jahil suaminya.
Sedangkan Jacob malah menunjukkan senyum nakalnya.
"Sudah lama aku tidak mencium dua bukit kesukaanku."
"Ish, dasar mesum!" Alesha mendumal sebal.
"Tapi kau sukakan jika aku melakukannya?" Goda Jacob.
"Tidak juga!"
Jacob terkekeh.
"Kalau begitu kemari, akan aku buat kau semakin menyukainya."
Jacob berdiri dengan cepat lalu kemudian menyibak kerudung yang menutupi area dada istrinya.
"Tidak mau! Jack, hentikan!" Paksa Alesha.
"AKU MAU MAKAN! AKU MAU MAKAN! AKU MAU MAKAN!!!" Alesha meronta, lalu berlari dengan susah payah ke luar kamar, dan meninggalkan suaminya.
***
Beralih menuju Stella, kini gadis itu tengah mendekam dalam sel polda setempat untuk menunggu jadwal sidang yang harus ia hadiri.
"Stella, apa yang sudah kau lakukan? Kenapa kau bisa ada di dalam sini, sayang?" Ucap ibu Stella sembari menangis histeris. Orang tua mana yang tidak sedih melihat anaknya mendekam dalam kurungan jeruji besi? Tentunya ibu Stella pun akan menangis karna mendapati anak semata wayangnya berada di dalam penjara.
"Apa yang sudah kau lakukan, Stella? Hiks, apa salahmu?"
Stella hanya terdiam, menatap datar pada ibunya yang menangis.
"Stella, apa yang sudah kau lakukan? Kenapa kau bisa berakhir di tempat ini?"
"Ibu bisa mendengarnya dipersidangan nanti," Jawab Stella, dingin.
"Permisi, Bu, maaf tapi ibu gak bisa lama-lama di sini," Ucap salah seorang polisi.
"Tapi anak saya salah apa? Kenapa dia bisa ada di sini?" Rintih ibunda Stella.
"Ibu bisa denger sendiri dipersidangan nanti. Buat sementara waktu anak ibu bakal mendekam dipenjara ini," Jawab sang polisi.
"Enggak! Tolong jangan penjarain anak saya, hiks, Stella..." Ibunda Stella meronta kala polisi tersebut membawanya dengan paksa.
Tetapi Stella tetap diam dipojokan penjara sembari memeluk kedua lututnya.
Tatapannya lurus datar. Sedikit menyesal, namun rasa kesal lebih mendominasi. Dua kali ia gagal untuk bisa mendapatkan Jacob, malah kali ini ia terancam dipidana penjara.
"Huft!!" Stella menghembuskan napasnya dengan kasar. Pikirannya kosong, dan yang ada hanyalah gejolak amarah pada dirinya sendiri.
"Awas kau, Alesha!!!"
...Bugh!...
****
Matahari telah berlalu, kini waktu telah digantikan oleh gelap malam dengan cahaya bulan.
Tepatnya di mansion Jacob, kini pria itu tengah sibuk berbicara dengan anak buahnya melalui ponsel.
"Bagaimana bisa CEO perusahaan mineral kabur dengan membawa tiga persen saham perusahaan? "
"....."
"Mona sudah tahu ini? "
"....."
"Cari, dan kejar terus CEO itu sampai ketemu! Aku tidak mau tahu! Saham perusahaan yang dia bawa harus kembali meski tidak utuh! "
"......"
"Baiklah."
Alesha yang terduduk di atas kasur hanya bisa terdiam memandangi suaminya yang sejak tadi sibuk, dan uring-uringan karna masalah perusahaan.
"Hallo, Taylor, kau sudah mencaritahu penyebab direktur industri tekstil yang ada di Bogor mengundurkan diri? "
"...."
"APA? "
Alesha terlonjak kaget ketika mendegar lengkingan berat dari suara suaminya.
"Besok pagi kumpulkan semua anggota manajemen perusahaan tekstil itu di kantor cabang utama, di Bogor. Aku akan mengadakan rapat dadakan bersama mereka! "
"Argh!!" Jacob mengusap wajahnya, gusar. Ia frustasi, masalah kini sedang melanda perusahaan milik ibundanya.
"Jack, ada apa?" Tanya Alesha dengan hati-hati.
"CEO perusahaan mineral, dan manajer industri tekstil mengkorupsi, dan membawa kabur saham milik perusahaan, salah satu direktur juga mengundurkan diri, dan sudah tidak bekerja selama dua hari," Gusar Jacob. "Ibu pasti akan marah besar jika mendengar ini!!"
"Mona sudah tau?" Tanya Alesha, lagi.
"Ya, dia sudah menyuruh orang untuk memburu dia pimpinan perusahaan itu, dan Taylor sedang mencari tahu alasan direktur perusahaan tekstil mengundurkan diri."
Jacob berjalan menuju kasur lalu duduk di sebelah istrinya. "Besok aku akan ke Bogor untuk membahas masalah ini."
Alesha hanya mengangguk. Ia memang tidak merasakan bagaimana rasanya diposisi Jacob sekarang, tapi ia cukup mengerti kalau saat ini pasti suaminya itu sedang amat pusing karna masalah perusahaan.
"Dan mungkin besok Taylor tidak bisa menjagamu karna dia akan ikut bersamaku," Lanjut Jacob.
Lagi, Alesha hanya memberikan balasan dengan mengangguk.
Lalu sejurus kemudian, Jacob membawa dirinya untuk berbaring diatas paha Alesha.
"Aku mencintai kalian," Ucap Jacob sembari mencium, dan mengelusi perut istrinya.
Alesha pun tidak tinggal diam, ia menggerakkan telapak tangannya untuk mengelusi rambut suaminya. Alesha pikir hal itu dapat sedikit memberikan ketenangan pada Jacob.
Dan benar saja, tidak butuh waktu lama, Alesha pun mendapati suaminya yang sudah terlelap.
"Maaf kalau aku sering membuatmu marah, Mr. Jacob, tapi aku akan selalu berusaha untuk menjadi istri yang lebih baik lagi untukmu," Ucap Alesha. Ia pun menghela, lalu menghembuskan napasnya dengan tenang. Ia sadar, memang ia sering membuat Jacob marah padanya, seharusnya sebagai seorang istri ia mesti paham situasi, dan kondisi yang sedang suaminya alami.
Beberapa kali Jacob marah karna Alesha sering mengganggunya bekerja. Bahkan pernah Alesha menangis karna Jacob yang memarahinya oleh sebab menelpon kala pria itu sedang bersama rekan kerjanya. Alesha tidak marah, ia selalu introspeksi diri, mengingat kesalahan apa saja yang sudah ia buat hingga sering membuat Jacob memarahinya.
Alesha sudah paham betul bagaimana sikap suaminya sejak ia masih menjadi anak didik Jacob. Maka dari itu sudah tidak aneh lagi untuk Alesha mendapati kemarahan suaminya, karna sebelumnya saat masih di WOSA pun ia sering terkena semburan amarah Jacob.
Tegas.
Itulah Jacob. Bahkan ketegasannya itu sering melukai hati Alesha, namun tidak lama karna Alesha pasti langsung menyadari kesalahannya, dan berusaha untuk meminta maaf pada Jacob.
Tapi jujur saja, sikap Jacob yang keras, dan ucapannya yang sedikit kasar membuat Alesha membatin. Alesha selalu menahan, dan ia tidak mau melawan suaminya sendiri, maka dari itu ia lebih sering mengalah daripada harus memiliki masalah berkepanjangan dengan Jacob.
Alesha tahu, dan sangat sadar jika Jacob itu memang sangat mencintainya, namun yang namanya pernikahan, susah senang, baik buruknya sikap masing-masing harus bisa saling menerima. Maka dari itu, Alesha akan menunjukkan pada suaminya jika ia adalah istri yang kuat, dan tidak mau banyak mengeluh, apalagi hanya karna masalah bentakan yang diterima, Alesha ingin membuktikan jika ia pun benar-benar tulus mencintai, dan menerima Jacob apa adanya, meski sikap keras Jacob selalu membuat luka batin dalam hatinya.
Alesha hanya mau satu, yaitu Jacob tidak akan pernah meninggalkannya dalam kondisi apapun serta bertanggung jawab penuh atas kehidupannya juga anak anak mereka kelak.
Tujuh bulan berlalu sejak mereka menikah, Alesha sudah merasakan pahit manisnya berumah tangga. Ditinggal kerja dihari kedua setelah pesta pernikahan, sering dimarahin, dan dibentak, kadang Jacob lupa dengannya karna begitu banyak pekerjaan, dan mengurus kehamilan sendirian, kecuali saat jatuh tanggal dimana ia mesti check up kehamilannya, pasti Jacob selalu menemani. Tapi itu masih batas wajar, dan Alesha juga tidak mau begitu mempermasalahkan. Namun satu! Jika Jacob berani selingkuh, maka Alesha akan langsung menggugat cerai pada pria itu.
"Eungh..." Jacob terusik tepat pada pukul setengah satu malam. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali hingga menyadari jika ternyata ia masih berada dalam pangkuan istrinya.
"Ya ampun, Alesha!" Jacob segera bangkit, dan menatap lekat wajah pucat istrinya.
"Alesha, maaf...." Ucap Jacob terdengar sangat berdosa.
"Tidak apa-apa," Balas Alesha sembari menyunggingkan senyum kecilnya.
"Kau pasti pegal-pegal, sayang, maafkan aku," Jacob berucap penuh penyesalan, dan sepersekian detik kemudian, ekspresinya pun berubah, seperti seorang yang kebingungan.
"Alesha, wajahmu pucat. Kau sakit, Lil Ale?" Jacob menyentuh pipi istrinya.
"Tidak," Alesha tersenyum untuk menutupi kebohongannya. Ia tidak sakit, tapi lebih tepatnya lemas.
"Jangan bohong, Alesha, kau pucat," Jacob menelisiki setiap jengkal wajah istrinya.
"Aku bukan sakit, tapi mengantuk. Aku ingin berbaring tapi tidak tega untuk membangunkanmu."
"Ya ampun, sayang. Maaf, aku lupa, aku benar-benar pusing tadi, dan saat kau mengelusi kepalaku rasanya sangat nyaman, dan tenang, jadi aku tertidur."
"Tidak apa, Jack."
"Yasudah, kalau begitu kita tidur sekarang."
Jacob pun membantu istrinya untuk berbaring, tidak lupa ia juga menyelimuti tubuh Alesha agar tidak kedinginan.
"Kemarilah, sayang," Ucap Jacob yang menjadikan lengannya sebagai bantal untuk Alesha, bahkan satu lengannya yang lain pun tidak tinggal diam, dan mengelusi perut Alesha untuk membantu istrinya itu cepat terlelap.
"Aku mencintaimu, Alesha," Ucapan itu menjadi pengantar untuk Jacob mencium kening istrinya.
Baru setelah itu, mereka berdua pun sama-sama menutup kedua kelopak mata, dan membiarkan alam lain menarik mereka pada ketidak sadaran.
******
Menskip waktu memang cepat jika dilewatinya melalui jalur mimpi. Tak terasa ketika bangun tidur waktu sudah berubah pagi. Tapi kali ini Alesha terbangun sendiri karna Jacob sudah pergi pagi sekali menuju Bogor.
Seperti biasanya, Alesha bersiap-siap, dan setelah itu menyempatkan untuk menunaikan sholat dhuha terlebih dahulu, berulah ketika selesai, ia pun pergi menuju SIO untuk bekerja.
Setiba di tempat kerjanya pun Alesha langsung menyibukkan diri dengan membantu para ilmuan untuk meneliti luar angkasa, dan memeriksa wahana antariksa yang rencananya akan diluncurkan sekitar tiga bulan lagi.
Alesha memang sangat suka ilmu yang bersangkutan dengan astronomi, maka dari itu ia sangat bahagia saat ditempatkan di kantor yang khusus untuk meneliti, dan mengerjakan kegiatan yang bersangkut paut dengan astronomi.
Tapi saat ini, Alesha, dan yang lain sedang fokus-fokusnya meneliti planet venus, si bintang dipagi hari.
Berdasarkan penelitian, awan-awan di planet venus memiliki suhu normal, bahkan ada seorang ilmuan yang mengatakan jika bisa jadi ada kehidupan di awan-awan venus tersebut.
"Alesha, ayo makan," Ajak Maudy yang datang bersama Nakyung, dan Merina.
"Makan? Memangnya sekarang sudah jam berapa?" Tanya Alesha.
"Sekarang jam dua belas kurang," Jawab Maudy.
"Ah ya ampun, kehamilanmu semakin besar saja. Aku jadi gemas, dan tidak sabar menunggu kelahiran si kembar ini," Gemas Merina sembari membungkukkan tubuhnya untuk memeluk perut bulat Alesha.
"Oh ya, Al, apa mereka sudah menendang?" Tanya Nakyung.
"Sudah," Jawab Alesha sembari merapikkan buku catatannya.
"Bagaimana rasanya?" Penasaran Maudy.
"Sakit, tapi bahagia," Alesha tersenyum. "Kalian harus merasakannya."
"Hay, Hay, Hay, kalian di sini rupanya," Ucap Mike yang datang bersama Aiden, dan Bastian.
"Ayo kita ke kantin bersama-sama," Ajak Mike.
"Tumben kalian bertiga, kemana Lucas, dan Tyson?" Tanya Nakyung.
"Mereka sedang ada tugas keluar," Jawab Bastian.
"Yasudah ayo, aku sudah lapar sekali, aku belum sarapan tadi pagi," Ucap Merina.
"Bantu aku berjalan," Pinta Alesha.
"Kasihan ibu hamil kita, dia kesulitan untuk berjalan," Ledek Mike.
"Biarin!" Alesha mendengus.
"Apa kau selalu seperti ini, Alesha? Meminta bantuan Mr. Jacob untuk berjalan?" Tanya Nakyung sembari membantu kawannya, Alesha untuk berjalan.
"Tidak juga, hanya saja tadi pagi kakiku membengkak, dan sedikit kaku, aku jadi cukup kesulitan untuk berjalan," Jawab Alesha.
"Huhu kasihan," Ledek Merina.
"Kalian bertiga pasti akan merasakannya nanti!" Alesha pun menatap sebal pada ketiga kawan perempuannya yang barusan meledeknya.