
"Mr. Jacob, apa yang harus kita lakukan?" Tanya Bastian yang panik saat kapal pesiar mini yang ia tumpangi bersama yang lain tiba-tiba berhenti begitu saja.
Jacob menggeram, dan rahangnya mengeras. Tangan Jacob sudah terkepal kuat hingga dinding baja yang berada disebelahnya menjadi korban dari tonjokan Jacob. Kapal pesiar mini itu berhenti tidak jauh dari pantai. Jacob yakin kalau orang yang menculik Alesha sudah mensabotase kapal milik WOSA ini.
"Minta pada pihak WOSA untuk mengirim kapal pesiar lain atau helikopter secepatnya!" Perintah Jacob dengan tegas. "Aku akan terus melacak mereka, karna aku tidak akan membiarkan mereka membawa Alesha!" Jacob menggeram dengan sorot mata tajam ke arah kapal pesiar orang yang menculik Alesha yang sudah berjarak sangat jauh.
***
Saat ini Laura sedang bermurung di ruangan anaknya itu. Laura tidak berhenti menangis sambil memeluk foto Jacob, anaknya itu. Ia begitu menyesal karna sudah meninggalkan Jacob dan Mona waktu itu. Semuanya terjadi karna terpaksa, keadaan ekonomi yang sangat tidak memungkinkan membuat ia dan mending suaminya harus melepas Jacob dan Mona begitu saja. Memang itu adalah kesalahan terbesar yang pernah Laura lakukan bersama suami. Seharusnya keadaan perekonomian yang sangat memprihatinkan tidak menjadi alasan untuk menelantarkan kedua anaknya. Dan sekarang, setelah Laura dan mendiang suaminya memiliki semuanya, kekayaan dan harta yang begitu bergelimang, kedua anaknya tidak menerima kehadirannya. Ibu mana yang tidak sedih jika tidak dianggap oleh anaknya? Dan anak mana yang tidak sedih karna diterlantarka begitu saja oleh orang tuanya?
"Jacob, maafkan ibu, nak, ibu sadar kalau ibu salah, tolong maafkan ibumu ini." Laura memeluk erat foto Jacob yang berada dalam bingkai kayu. Hatinya begitu hancur saat Jacob meninggalkan ia begitu saja. "Ibu sangat menyesal, tolong maafkan ibu." Air mata yang didasari oleh rasa bersalah dan penyesalan mengalir mengikuti alur pipi beralaskan bedak diwajah Laura.
Wanita paruh baya itu segera bangkit dari kursi kerja milik Jacob kemudian melangkahkan kaki menuju keluar ruangan anaknya itu. Tangan berbalut gelang emas yang memiliki harga jual tinggi itu segera mengelap air mata kesedihan yang sedari tadi terus mengalir. Batinnya terasa begitu sesak dan pikiran yang terus tertuju pada Jacob membuat mata Laura terus saja menghasilkan butiran air walau pun sudah berkali-kali Laura berusaha untuk menghentikannya.
"Apa? Kapal yang Jacob tumpangi mengalami kerusakan, bagaimana bisa?"
Dengan jelas Laura bisa mendengarkan ucapan Mr. Thomson yang berjarak tidak jauh dari tempatnya berdiri. Rasa panik menghampiri diri Laura saat mendengar kalau Jacob sedang dalam masalah. Kapal yang anaknya tumpangi itu mengalami kerusakan, dan sebagai seorang ibu, tentunya Laura sangat khawatir sesuatu terjadi pada Jacob. Segera Laura menghampiri Mr. Thomson dan menanyakan tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Mr. Thomson, apa yang terjadi?" Tanya Laura dengan segala rasa khawatirnya akan keselamatan anaknya, Jacob.
"Seseorang menculik salah satu murid WOSA, dan Jacob sedang mengejar penculik itu, namun sayangnya ada kendala terjadi pada kapal yang Jacob dan yang lain tumpangi." Jawab Mr. Thomson yang tidak kalah paniknya.
"Penculik?" Ekspresi bingung dilayangkan oleh Laura pada Mr. Thomson.
"Ya. Anda tahu kan anak buah Mack. Mereka yang menculik Alesha, murid WOSA dan juga anggota tim Jacob." Jawab Mr. Thomson.
"Mack? Bagaimana bisa, bukankah dia sudah dipenjara karna sudah melanggar perjanjian dengan beberapa perusahaan yang bekerja sama dengannya, termasuk perusahaanku juga?" Tanya Laura dengan ekspresi bingung yang kian bertambah.
"Ya. Seharusnya dia sudah dipenjara, namun dia memiliki anak buah yang banyak dan setia padanya. Padahal Jacob dan Levin sudah berhasil menghancurkan, mengacak-acak usaha dan mengirim semua bukti kejahatannya. Tapi, Mack memang tidak bisa dianggap remeh. Dia begitu cerdik." Ucap Mr. Thomson sambil memegangi keningnya yang terasa sedikit pusing karna kejadian ini.
"Apa? Jacob mengacak-acak dan mengirim bukti kejahatan Mack?" Lonjakan kecil terjadi pada Laura yang kaget. Matanya membulat sempurna dengan sorot yang masih menetap pada wajah Mr. Thomson.
"SIO lah yang mengirim Jacob ke markas Mack, karna saat itu Mack berhasil mengambil salah satu sampel milik SIO. Jacob lah yang mengirim semua bukti kejahatan Mack pada pihak pemerintah dan beberapa perusahaan yang bekerja sama dengan Mack." Jelas Mr. Thomson pada Laura.
Laura tidak menyangka kalau anaknya, Jacob bisa sehebat itu. Bocah kecil yang dulu ia tinggalkan kini malah menjadi pria hebat yang pemberani. Laura benar-benar menyesal sudah meninggalkan kedua anaknya dulu, dan kini mereka tumbuh menjadi seseorang yang hebat karna bisa masuk dalam organisasi intelegent dunia tanpa ada dukungan dari orang tua sendiri.
"Nyonya, saya harus permisi dulu karna saya harus mengurus semua ini, saya harus segera mengirim bantuan pada Jacob." Ucap Mr. Thomson yang mulai melangkahkan kakinya.
"Tunggu." Laura menahan lengan Mr. Thomson. "Beritahu lokasi Jacob, saya akan kirimkan beberapa anak buah saya untuk membantunya." Ucap Laura dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
Sedikit tarikan dikedua sudut bibir Mr. Thomson terbentuk setelah mendengar ucapan Laura. "Baik, Nyonya, dan terima kasih sudah mau membantu." Ucap Mr. Thomson lalu bergegas pergi meninggalkan Laura sendiri.
"Mungkin kau membenci ibumu ini, Jacob, tapi ibu akan selalu menyayangimu, dan ibu akan lakukan apa saja asal kau bisa memaafkan ibumu ini." Mata Laura terpejam untuk menghalau air matanya agar tidak kembali turun. Sekali tarikan nafas yang pelan sedikit meringankan beban yang ada dalam hati ibunda Jacob itu.
Jacob pun sama, ia berusaha untuk setenang mungkin agar ia bisa berpikir jernih. Hatinya tidak bisa diajak kompromi, selalu saja membuat rasa risau yang berlebihan. Bahkan semua bayangan buruk yang belum tentu terjadi sudah menjadi tamu dipikiran Jacob. Ketakutan yang seminggu lalu saat Alesha jatuh dari tebing dan mengalami kondisi yang kritis kini menyapa Jacob lagi. Bahkan mungkin saat ini rasa was-wasnya semakin bertambah karna Alesha tidak berasamanya, melainkan bersama anak buah Mack.
Kenal dengan Alesha bisa menjadi anugrah untuk Jacob, namun itu tidak semudah yang diperkirakan. Jacob harus memiliki kewaspadaan yang tinggi jika tidak mau gadis itu pergi darinya karna ulah orang-orang yang berniat jahat pada Alesha.
***
Disuatu pulau, yang masih terletak di daerah kepulauan Pasifik, anak buah Mack berhasil membawa Alesha pada tuannya, Mack. Tentu saja, dengan sangat mudah Mack bisa lolos dari jeblosan penjara, walau mungkin saat ini ia sedang menjadi buronan para aparat kepolisian. Mack sudah tidak memperdulikan hal itu lagi, ia sudah terlanjur kehilangan semua aset perusahaan, dan semua bisnisnya hancur karna ulah Jacob, Levin, dan Alesha. Tapi, meski begitu Mack masih tetap mampu membayar beberapa anak buahnya untuk menculik Alesha. Keinginan terbesar Mack saat ini adalah mengirim Alesha untuk menyusul kedua orang tuanya. Mack tidak bisa lupa atas tindakan ayah Alesha yang waktu itu berhasil mengungkap segala kejahatan Mack dalam dunia bisnis, dan Mack berniat untuk melampiaskan semua emosi, amarah, dan kebencian yang selama ini ia pendam. Alesha harus menanggung perbuatan orang tuanya dahulu, walau hal yang orang tua Alesha lakukan adalah sebuah kebenaran.
"Tuan, kami berhasil membawa gadisnya." Samar-samar Alesha dapat mendengar ucapan lelaki yang menculiknya. Matanya sedikit demi sedikit mulai terbuka, namun dengan kondisi tubuh yang masih sulit digerakkan karna terlalu lemas.
"Apa efek obat biusnya masih berjalan?" Tanya Mack sambil melihat ke arah Alesha.
"Sepertinya tidak, tuan." Jawab lelaki yang tadi menculik Alesha.
"Bagus, bawa dia ke markas, dan awasi tempat ini, Levin berhasil mengetahui rencana kita karna ulah Vincent!" Mack mengepalkan tangannya dan rahangnya mengeras.
"Baik, tuan." Balas lelaki itu dengan patuh.
Segera beberapa orang menarik tubuh Alesha dengan kasar. Alesha merasakan kepalanya yang sedikit berputar, entah makanan apa yang sudah ia makan hingga membuatnya terbius.
Tepat dihadapannya, Alesha bisa melihat smirk jahat Mack yang dilayangkan untuk Alesha.
"Kali ini tidak akan ada Levin, atau Jacob yang akan menghalangi." Ucap Mack sambil mencengkram leher Alesha. Kuku panjang milik Mack berhasil membuat goresan luka-luka yang membuat Alesha meneteskan air matanya. Alesha tidak tahu kenapa ia begitu lemah saat ini, bahkan ia tidak mampu menggerakkan sekujur tubuhnya, walau pun hanya satu jari saja.
Mack menghempaskan wajah Alesha begitu saja. "Bawa dia cepat!" Ucap Mack dengan tegas.
Senyuman jahat yang tidak luput dari wajah Mack menandakan kalau ia begitu puas karna sebentar lagi tujuannya akan tercapai, yaitu menyiksa Alesha dan setelahnya mengirim Alesha untuk menyusul kedua orang tuanya. Mack ingin memastikan kalau kali ini tidak ada Jacob atau pun Levin yang akan menghalanginya. Ia pun membalikkan tubuhnya dan berjalan menyusul Alesha yang sudah dibawa terlebih dahulu menuju hutan.
***
Di WOSA, Levin sudah bersiap untuk segera menaiki helikopter milik ibunda Jacob. Levin berhasil membujuk Mr. Frank untuk mengirimnya kembali menuju WOSA dan membantu membebaskan Alesha dari Mack dan para anak buahnya. Levin sangat marah saat mendengar kalau anak buah Mack sudah berhasil membawa Alesha, dan rasanya Levin ingin sekali memberikan bogem mentah dari tangannya untuk Jacob. Sebagai seorang mentor, bagaimana bisa Jacob membiarkan anak buah Mack menculik Alesha, dan menurut Levin itu menandakan kalau Jacob tidak becus menjadi seorang mentor.
"Mr. Thomson, aku akan langsung menyusul Alesha, aku tahu pulau yang Mack tempati untuk menculik Alesha." Ucap Levin seraya memasukan sebuah pistol kedalam kain tebal yang sudah menggantung diikat pinggangnya.
"Kau yakin tahu lokasi pulaunya?" Tanya Mr. Thomson yang sedikit ragu.
"Aku tahu, anak buah Vincent memberitahu padaku saat aku akan menghabisinya." Jawab Levin dengan penuh keyakinan.
Levin menyeringai malas saat mendengar nama Jacob. Pria itu sama sekali tidak bisa menjaga Alesha dengan benar menurut Levin.
"Nyonya, semua sudah siap." Ucap seorang lelaki yang merupakan anak buah Laura.
"Baik. Levin, kau bisa berangkat sekarang." Ucap Laura pada Levin. Levin mengangguk dan segera ia melajukan langkah kakinya yang lebar menuju helikopter. Beberapa kapal pesiar mini siap mengikuti helikopter yang Levin tumpangi.
"Mack harus dihukum seberat mungkin, aku sudah memberitahukan pihak kepolisian untuk menyusul Jacob dan Levin untuk menangkap Mack." Ucap Laura sambil melipatkan kedua tangannya dengan pandangan lurus menatap pada helikopter yang sudah terbang menjauh.
"Dan aku tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada anakku." Lanjut Laura yang membuat Mr. Thomson yang berada disebelahnya menatap dengan ekspresi bingung.
"Jacob adalah anakku, dan aku tidak akan membiarkan anakku mengalami kesulitan untuk kali ini dan seterusnya." Ucap Laura yang menyadari tatapan bingung dari Mr. Thomson.
***
Di dalam sebuah gubuk tua yang sudah reyot, Alesha bersandar pada dinding gubuk yang terbuat dari kulit kayu pohon. Tangan dan kakinya dirantai, kulit Alesha semakin pucat dan membiru, perutnya terasa mual dan beberapa kali mengalami kram kecil, dan secara mendadak Alesha mulai kesulitan untuk bernafas seolah ada sebuah dinding yang menghalangi jalur pernafasannya.
"Sepertinya racun Botulinum yang kita berikan sudah bereaksi padanya, tuan." Ucap salah seorang anak buah Mack.
"Biarkan saja, aku ingin melihatnya menderita." Balas Mack dengan santai.
Alesha bungkam karna mulutnya tidak bisa digerakkan, semua saraf dan ototnya semakin melemah. Satu-satunya yang bisa Alesha gunakan saat ini adalah hatinya. Ia terus berdoa dan berharap agar ada pertolongan yang akan segera datang. Tetesan air yang mulai turun berpacu pada kedua pipi Alesha yang sudah membiru. Alesha sudah tahu kalau ia keracunan, dan efek racun itu sudah bereaksi. Sungguh Alesha ingin berteriak dan menangis. Tubuhnya terasa kaku dan rasa ingin mengeluarkan sesuatu dari dalam perutnya terus bergejolak.
Ya Allah, kalau emang ini caramu mencabut nyawa Alesha, tolong beri Alesha kesempatan untuk mengucap kalimat syahadat untuk terakhir kali, Alesha ikhlas yang penting Alesha bisa ketemu sama umi dan bapak Alesha lagi. Alesha udah gak kuat, ya Allah....... Ucap Alesha dalam hati disertai air mata yang terus menetes.
Rasa sesak yang semakin menjadi-jadi membuat Alesha kewalahan. Tubuhnya tidak bisa digerakkan, namun paru-parunya meminta pasokan udara yang lebih. Sorot mata Alesha semakin melemah, namun Alesha masih belum kehilangan kesadarannya. Mack membuatnya lebih menderita kali ini. Kram kecil terus saja terjadi pada perut Alesha, dan membuat air mata Alesha terus mengucur semakin deras tanpa disertai suara tangis. Alesha lebih memilih untuk langsung mati saja ketimbang ia harus menahan semua rasa sakit yang saat ini menghantam tubuhnya secara bertubi-tubi. Paru-parunya terasa diremas, perutnya yang terus mengejang dan kram, rasa mual yang tidak tertahankan, syaraf dan oto tubuh yang semakin tidak berasa, pandangan yang memburam, dan rasa seolah dirinya itu kosong. Alesha berharap kalau Mack membunuh langsung tanpa harus menyiksanya seperti ini. Alesha tidak bisa melakukan apapun.
"Tuan, mereka berhasil menemukan kita, dan Levin berada diantara mereka bersama Jacob!" Saut salah satu anak buah Mack yang lain dengan nada bicara yang penuh dengan kepanikan.
"Levin!" Mack menonjok pohon yang ada didekatnya. "Bawa Alesha kekapal sekarang, dan berikan dia racun itu lagi! Aku ingin melihatnya yang semakin tersiksa!" Perintah Mack dengan penuh amarah.
Alesha sudah benar-benar pasrah saat lelaki yang tadi menculiknya itu mengangkat tubuhnya dan membawanya pergi dari gubuk tua itu.
Suara adu tembakan terdengar jelas oleh telinga Alesha. Beberapa kali ia mendengar suara seorang lelaki memanggil namanya. Namun, Alesha tidak bisa bersaut, mulutnya terasa berat untuk digerakkan, suaranya juga mendadak menghilang.
Setelah sampai di tepi pantai, Alesha bisa melihat dari jarak yang cukup jauh kalau ada sekitar sepuluh orang lelaki yang sedang beradu kekuatan fisik dan kelincahan dalam melakukan pergulatan.
Dalam hatinya Alesha bertanya-tanya, kalau Jacob ada di mana? Kenapa Alesha tidak melihat mentornya itu?
Brukk!!
Lelaki yang menggendong Alesha itu menjatuhkan Alesha dengan sengaja kesofa besar yang berada di tengah-tengah kapal pesiar mini milik Mack itu. Alesha kehilangan kendali untuk kepalanya dan juga keseimbangan tubuhnya. Pandangannya berbayang dan kepalanya terasa diputar dengan kencang.
"Minum ini!" Mack memasukan setengah sendok teh racun botulinum kemulut Alesha lalu mengangkat wajah Alesha agar racun itu segera melewati tenggorokan dan memasuki tubuh Alesha.
"MACK!!" Teriak Jacob dengan lantang. Jacob sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi saat ia melihat Mack memasukan racun kedalam mulut Alesha dengan cara yang kasar. Segera Jacob menghabisi seluruh anak buah Mack yang berada dikapal pesiar mini itu. Mack juga tidak mau kehilangan akal, ia sudah cukup puas dengan apa yang sudah ia lakukan pada Alesha, dan Mack berpikir mungkin Alesha akan segera mati setelah semua racun itu bereaksi dalam tubuh Alesha.
Diangkatnya tubuh Alesha yang sudah tidak berdaya oleh Mack.
"Jika kau maju, maka aku akan buang gadis ini ke dalam air." Ancam Mack dengan seringai jahatnya.
Jacob terdiam dengan amarah yang sudah menggebu-gebu dalam dirinya. Rahangnya sudah mengeras, begitu pula tangan besarnya yang sudah terkepal kuat nenunjukan garisan urat-urat besar. Semua perlakuan Mack pada Alesha tidak akan termaafkan, nafas Jacob semakin memburu saat melihat ekspresi wajah Mack yang seolah meledek.
"Kau ingin gadis ini?" Tanya Mack disertai senyum jahatnya. "Kalau begitu ambil dia." Dengan ringannya tangan Mack melemparkan tubuh Alesha ke dalam air.
BYUR.....
Tubuh Alesha pun tenggelam, dan menghantam air dengan cukup keras.
"Alesha!!" Jacob terkejut! Dan sebuah lonjakan kecil terjadi dalam dadanya saat melihat tubuh Alesha yang melayang dan terjun ke dalam air.
Segera Jacob menceburkan diri ke dalam air untuk meraih tubuh Alesha. Di atas kapal pesiar mininya, Mack tersenyum puas setelah melihat Alesha yang sudah menutup matanya. Senyum jahat dan penuh kemenangan terpampang jelas diwajah Mack. Seringai licik ditunjukkan oleh Mack untuk Jacob yang menatapnya dengan tatapan penuh kebencian dan amarah. Tidak mau membuang waktu, Mack segera beralih menuju bagian kemudi dan melajukan kapal itu. Beberapa anak buah Mack yang selamat berhasil menyusul dengan mencuri kapal pesiar mini milik WOSA. Helikopter milik Laura, ibunda Jacob tidak bisa digunakan karna anak buah Mack berhasil merusak baling-balingnya. Kini hanya tersisa Levin, Bastian, Jacob, Alesha, dan beberapa orang dari WOSA yang turut ikut.
Jacob membawa Alesha ke tepi pantai, kemudian dipeluknya tubuh Alesha yang sudah pucat dan membiru. Tangan Jacob terus mengusap pipi Alesha yang terasa dingin dan kaku. Bibir Alesha seperti sebuah bongkahan es batu, dan Jacob hanya bisa merasakan sedikit napas Alesha walau jarak mereka sangat dekat.
Rasa kehilangan menyeruak memenuhi hati Jacob. Ia tidak rela jika harus merasa kehilangan untuk yang kedua kalinya. Dada Jacob terasa sesak dan air mata mengucur deras tanpa adanya suara yang keluar dari mulutnya.
"Mr. Levin, aku menemukan botol racun bertuliskan Botulinum!" Saut Bastian sambil memberikan sebuah botol kecil berisi racun yang tadi diberikan pada Alesha.
Levin terdiam lemas, ia dan Jacob sama-sama tahu apa itu racun botulinum dan seberapa bahayanya racun yang termasuk dalam deretan racun mematikan di dunia itu.
"MACKKK!!!!" Teriakkan dari dalam mulut Jacob berhasil menggelegar diseluruh area pantai.
"Alesha.." Panggil Bastian dengan lirih saat melihat tubuh Alesha yang sudah terbujur kaku seperti tidak ada pergerakan pernapasan.
"Jangan tinggalkan aku, Alesha Sanum Malaika." Ucap Jacob lirih tepat ditelinga Alesha. Air mata Jacob kini berjatuhan mengenai pipi Alesha yang sudah kaku.
"Jangan lagi." Jacob meremas pelan jari-jari Alesha dengan harapan kalau Alesha akan terusik dan membuka matanya. Diciumnya jari-jari Alesha yang sudah kaku oleh Jacob. Bastian yang melihat perlakuan mentornya itu pada Alesha seketika terlonjak kaget, matanya membulat dan menunjukkan ketidak percayaan akan kejadian yang baru saja ia lihat. Sebuah pertanyaan menghampiri pikiran Bastian, kenapa Jacob melakukan itu pada Alesha? Tentu saja karna Jacob menyayangi Alesha, dan Bastian tidak tahu hal itu. Levin membuang pandangannya ke arah laut saat melihat Jacob yang menciumi jari-jari tangan Alesha.