May I Love For Twice

May I Love For Twice
I will always protect you



Sore yang sudah sangat gelap, menunjukan kalau malam sebentar lagi akan menyapa. Hiruk pikuk perkotaan dapat dilihat langsung melalui kaca jendela mobil taxi yang saat ini sedang Jacob tumpangi. Jacob membiarkan pikirannya terus tertuju pada Alesha tanpa memperdulikan ibunya yang kini sedang bersedih. Orang tuanya tidak pernah memberikan kebahagiaan apapun sejak Jacob berusia dua tahun, dan Jacob tidak akan membiarkan ibunya melakukan hal-hal yang bisa membuat Jacob kehilangan kebahagiaannya. Dan Alesha, gadis itu lebih Jacob utamakan. Kesehatan Alesha adalah nomor satu, dan Jacob sangat merindukan saat-saat ketika ia sedang bercanda dengan Alesha. Baru sekitar dua harian Jacob tidak melihat candaan dari Alesha rasanya seperti ada sesuatu yang kurang melengkapi harinya. Alesha yang merupakan hal baru untuk Jacob, dan mampu membuat Jacob begitu tertarik pada gadis itu. Sikap Alesha sungguh manis menurut Jacob, bahkan Jacob pun bingung bagaimana ia bisa dibuat seperti sekarang ini oleh Alesha. Tidak masalah kalau diawal Jacob yang harus berusaha sendiri karna Alesha juga tidak mengetahui tentang perasaan Jacob. Untuk Jacob, diumur yang sekarang ini adalah waktu yang tidak bisa dibuat main-main dalam hal mencari pasangan. Jacob ingin mempunyai istri yang begitu ia cintai dan membuat keluarga kecil yang berbahagia, dan harapannya ada pada Alesha. Jacob siap menunggu jika memang Alesha adalah jodohnya. Mungkin untuk Alesha, perbandingan umur akan menjadi sedikit masalah, namun bagi Jacob, umur berapa pun Jacob akan selelau siap jika Alesha meminta untuk dipinang olehnya.


Satu hal yang Jacob minta. Ia tidak mau ada orang lain dalam hubungannya, cukup Alesha saja jika benar gadis itu yang akan menjadi wanita masa depannya.


Aku berharap padamu, Al, dan aku ingin kau adalah jodohku, aku akan berusaha keras untuk membuktikan pada diri dan hatiku kalau kau adalah gadis yang akan membuka jalan baru untukku..... Ucap Jacob dalam hati.


***


"*Hallo, Bas, gimana keadaan Alesha di sana?"


"Masih sama, Stel, Alesha masih kritis."


"Ya ampun, semoga cepet sembuh ya."


"Iya, Stel. Oh, ya kalian gimana? Udah ada mentor pengganti belum?"


"Nakyung udah bilang ke Mr. Thomson, tapi belum ada jawaban, mungkin besok."


"Yaudah, sabar aja dulu ya, kalian juga jangan macem-macem di sana, kasian Mr. Jacob."


"Iya, Bas, kita gak bakal bandel kok."


"Yaudah, udah dulu ya, malem, Stel."


"Malem, Bas*."


Sambungan telepon pun terputus. Stella menatap ketiga temannya. "Alesha masih kritis." Ucap Stella dengan pasrah.


"Hmm, kasian Alesha, dia baru aja pulih dan sekarang harus masuk rumah sakit lagi." Saut Merina.


"Iya, biasanya malem gini dia suka jadi bahan lawakkan kita. Jadi kangen." Lanjut Merina.


Nakyung bangkit dari duduknya, dan bola matanya bergerak kekiri dan kanan seolah ada sebuah hal mengganjal dalam pikirannya.


"Kalian ngerasa aneh gak sih?" Tanya Nakyung.


"Aneh gimana?" Tanya balik Stella.


Nakyung mulai berjalan mondar-mandir. Ketiga temannya menatap bingung pada tingkah Nakyung yang tiba-tiba menjadi aneh.


"Hah." Nakyung tersentak dan menunjukan satu jari telunjuknya keatas tanda kalau ia menemukan sesuatu dalam pikirannya.


Baru saja mulut Nakyung terbuka untuk tengatakan suatu hal, tiba-tiba saja pintu kamar mess diketuk oleh seseorang. Sontak, keempat wajah gadis itu menghadap ke arah pintu.


"Aku yang akan membukanya." Ucap Merina dan beranjak dari bangkunya. Kemudian, dibukalah pintu kamar mess itu dan mendapati Aldi yang sedang berdiri di depan pintu.


"Ada apa, Mr. Aldi?" Tanya Merina.


"Kalian harus ikut saya." Ucap Aldi.


Merina mengerutkan keningnya.


"Jangan banyak tanya dulu sekarang. Ayo, kalian ikutin saya!" Tutur Aldi seraya berjalan lebih dulu.


Merina menatap ketiga temannya dan menggerakkan kepala sebagai isyarat agar mengikuti Aldi. Segera Nakyung, Stella, dan Maudy bangkit dan bergegas menyusul Aldi dan Merina.


Malam itu Aldi membawa keempat gadis itu menuju pantai yang terletak tidak jauh dari gerbang belakang WOSA. Udara begitu dingin dan ombak laut terus bergerak kebibir pantai. Tidak jauh, mereka menemukan ada Lucas, Mike, Aiden, dan Tyson bersama kesepuluh anggota tim Mr. Eve, yaitu tim Appolo X01. Brandon yang ada di sana menatap sini pada keempat gadis yang kini baru datang.


"Brandon, aku sudah bilang padamu untuk waspada, dan selama mentor kalian belum kembali, aku yang akan mementori kalian. Selama beberapa hari kedepan, kalian akan menjadi satu tim." Ucap Aldi.


Nakyung tersentak kaget, wajah bingung dan tampak tidak percayanya terbentuk jelas pada gadis asal Korea Selatan tersebut. Bukan tanpa alasan juga, Nakyung seperti itu karna ia tidak percaya kalau timnya akan menjadi satu tim dengan tim Brandon walau hanya untuk beberapa hari kedepan.


"Ada masalah?" Tanya Aldi.


"Kenapa kita harus satu tim bersama mereka?" Tanya balik Nakyung.


Brandon memutar bola matanya dengan jengah. "Kau pikir aku mau setim dengan timmu." Balas Brandon.


"Ada suatu masalah. Kalian tahu, mentor-mentor kalian sedang menjadi incaran orang jahat. Eve dan Jacob adalah agen dan mentor terbaik di SIO dan WOSA, mereka berdua pernah mengacak-acak sekelompok jaringan gelap. SIO sudah mendeteksi adanya kelompok itu lagi yang secara diam-diam sedang mengawasi WOSA, terutama kalian." Cerita Aldi. "SIO memprediksi kalau kalian, tim Eve dan Jacob akan dijadikan sasaran mereka untuk melancarkan misi." Lanjut Aldi.


"Kenapa harus kami?" Tanya Stella.


"Entahlah, namun SIO memprediksi kalau kalian akan dijadikan sebagai umpan oleh mereka." Jawab Aldi. "Maka dari itu Mr. Frank memintaku untuk mengawasi kalian selagi mentor kalian sedang tidak ada di sini."


"Apa Mr. Eve dan Mr. Jacob tau tentang ini?" Tanya Brandon.


"Belum, SIO belum memberitahu mereka." Jawab Aldi.


"Untuk sementara waktu, kalian harus tetap bersama, Mr. Thomson juga akan mengawasi kelompok lain." Lanjut Aldi.


***


Saat ini Jacob sudah sampai di rumah sakit. Langkah kakinya dipercepat agar bisa segera sampai di ruangan tempat Alesha berada. Namun, kebingungan melanda pikiran Jacob saat ia sampai pada ruangan itu dan mendapati kalau Alesha tidak ada di sana, juga Bastian dan Levin. Kemana mereka?


Kening Jacob berkerut, ia berpikir kalau mungkin Alesha di pindah ruangkan.


"Permisi, tuan." Sapa seorang perawat. Jacob berbalik dan menatap perawat itu.


"Apa anda tuan Jacob anggota keluarga pasien bernama Alesha?" Tanya perawat itu. Jacob mengangguk.


"Pasien Alesha sudah dipindahkan ke ruangan lain, dan tadi ada lelaki yang meminta pada saya untuk menyampaikan pesan ini pada anda, tuan." Ucap perawat itu.


"Pindah ke ruang mana?" Tanya Jacob.


"Platinum 1." Jawab perawat itu.


Jacob mengangguk. "Terima kasih." Ucap Jacob lalu segera berjalan menuju ruangan yang tadi disebutkan oleh perawat itu.


Jacob sedikit mendengus, Levin atau pun Bastian tidak memberitahunya tentang Alesha yang pindah ruangan.


Langkah kaki Jacob terus berjalan hingga ia sampai pada ruangan yang dituju. Dibukanya pintu ruangan Platinum 1.


Bastian, Levin, dan juga Alesha seketika menatap ke arah pintu yang terbuka dan menunjukan sosok lelaki tinggi yang bukan lain adalah Jacob.


Jacob sedikit terkesiap dan matanya sedikit melebar. Alesha sudah sadar, dan kini sedang bersandar pada bantal yang diletakkan didepan tembok.


"Mr. Jacob." Panggil Alesha dengan pelan. Senyum kecil yang diberikan oleh Alesha membuat Jacob terharu.


"Alesha sudah sadar sekitar satu jam yang lalu, makanya dia dipindahkan ke ruangan ini, dokter juga bilang kalau kondisi Alesha sedang mengalami kenaikan, namun dokter juga bilang kondisi Alesha bisa menurun drastis secara mendadak." Ucap Bastian yang menjadi kalimat pembuka untuk Jacob.


"Alesha mengalami ketidak seimbangan dalam sistem imunya untuk saat ini, tapi jika dia mendapatkan penanganan yang lebih baik, kondisinya juga akan semakin membaik." Lanjut Levin.


Jacob segera berjalan mendekati Alesha. Tatapan matanya tidak bisa lepas dari iris coklat milik Alesha.


"Baguslah, kau harus sembuh atau timmu akan terus ditinggalkan olehku." Ucap Jacob dengan senyuman yang ditujukan untuk Alesha. Hati Jacob begitu tenang saat melihat senyuman manis milik Alesha lagi. Jacob sudah sangat takut kalau ia tidak bisa melihat wajah manis dengan mata yang berbinar itu lagi.


"Jangan salahkan aku, aku tidak tahu apapun, bahkan yang terjadi pada tubuhku, aku tidak tahu." Balas Alesha. Jacob terkekeh, elusan lembut yang Jacob berikan dipuncak kepala Alesha membuat wajah Alesha sedikit memerah.


Alesha menghembuskan napasnya dengan samar lalu menunduk menahan malu. Lagi dan lagi Alesha dibuat merona oleh mentornya. Levin yang melihat itu hanya bisa mendengus dan beralih menuju sofa. Lalu Bastian, lelaki itu hanya bisa tertegun dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan. Pertama kali untuk Bastian melihat sikap Jacob yang begitu lembut, apalagi sikap itu ditujukan untuk Alesha. Bastian percaya sekarang kalau mentornya memang menyukai Alesha, anggota timnya sendiri. Bastian mungkin belum tahu momen apa saja yang sudah Alesha dan Jacob lewatkan, kalau pun tahu, Bastian mungkin akan tercengang saat tahu Alesha dan Jacob yang begitu dekat dan sangatlah akrab melebihi anggota timnya yang lain.


"Kau membuatku panik, Al." Ucap Jacob dengan lembut.


Alesha mengerutkan keningnya. "Kenapa? Bukannya aku hanya tertidur?" Canda Alesha.


Jacob mendengus. "Kau tertidur dan aku takut kau tidak akan bangun lagi." Jacob mencubit pelan pipi Alesha.


"Aarghh, Mr. Jacob!" Alesha menepis tangan Jacob yang memainkan pipinya.


"Mulai lagi." Levin memutar bola matanya dengan malas. "Bas, lebih baik kau itu aku ke kantin dan mencari makanan, daripada kau harus menjadi nyamuk di sini." Ucap Levin seraya bangkit dan menarik lengan Bastian untuk keluar dari ruangan itu.


Bastian pun bingung, beberapa kali kepalanya bergerak menghadap pada Alesha dan Jacob, lalu menghadap kembali pada Levin.


"Mereka kenapa?" Tanya Alesha.


Jacob mengedikkan bahunya. "Biarkan saja, mungkin mereka ingin memiliki waktu untuk bersama." Jawab Jacob yang bercanda dengan ucapannya.


"Hah?" Alesha menatap bingung pada Jacob. "Mereka?" Alesha berpikir kalau Bastian dan Levin adalah penyuka sesama jenis.


Jacob terkekeh saat melihat ekspresi wajah Alesha. "Tidak, Al, aku hanya bercanda." Ucap Jacob yang mengetahui maksud pada pikiran Alesha.


Alesha mendengus. "Terus saja bercanda. Aku baru saja membaik dan kau sudah mengajakku bercanda lagi."


"Memangnya tidak boleh?" Tanya Jacob sambil menatap kedua mata Alesha.


"Bukan begitu, aku baru saja sadar, dan kau.." Ucap Alesha yang terhenti. Gadis itu terdiam dan berpikir sekali lagi untuk melanjutkan ucapannya yang ditakutkan akan menyinggung Jacob.


"Aku?" Jacob memajukan sedikit wajahnya agar lebih dekat lagi pada Alesha.


"Lupakan." Alesha membuang wajahnya dengan ekspresi datar.


Jacob menyeringai. Ia memiringkan kepalanya untuk menatap Alesha. "Kenapa? Kau menyembunyikan sesuatu dariku?"


"Tidak. Sudahlah aku lemas, aku ingin berbaring saja, jangan ganggu aku, aku ingin istirahat lagi." Ucap Alesha seraya mendorong tubuh Jacob untuk menjauh darinya.


Smirk menawan terukir jelas pada sudut bibir Jacob. Pria itu terkekeh. "Baiklah, kau bisa istirahat, aku yang akan menjagamu."


"Ya memang sepatutnya kau menjagaku, kau mentorku." Balas Alesha dengan malas. Segera tubuh itu terbaring kembali dikasur pasien. Alesha menarik selimutnya dan memejamkan matanya.


Jacob tersenyum lembut, hatinya sedikit tenang setelah mengetahui kondisi Alesha yang membaik.


Aku akan selalu menjagamu, Alesha... Ucap Jacob dalam hati.


Kemudian senyum pada wajah Jacob tiba-tiba saja luntur saat mengingat kondisi Alesha yang bisa kembali memburuk sewaktu-waktu. Rasa panik dan takut kembali menyerang hatinya.


"Alesha." Panggil Jacob lirih.


"Hmmm." Balas Alesha.


"Bisa tidak kalau kau tidak usah tertidur?" Jacob mengutarakan kalimat pertanyaan itu dengan nada sendu yang mewakili hatinya.


***


Kini, Bastian dan Levin sedang asik berjalan di lorong rumah sakit untuk menuju kantin.


"Mr. Levin." Panggil Bastian.


"Apa?" Balas Levin.


"Ada apa denganmu?" Tanya Bastian.


"Tidak apa-apa." Jawab Levin datar.


"Lalu kenapa kita pergi ke kantin?" Tanya Bastian lagi.


"Aku tidak mau menjadi nyamuk diantara mereka." Jawab Levin.


"Alesha dan Mr. Jacob?" Bastian mengerutkan keningnya.


"Ya." Balas Levin singkat.


"Apa mereka selalu seperti itu?" Kali ini pertanyaan dari Bastian membuat Levin sedikit geram.


"Mereka selalu bermesraan dihadapanku." Jawab Levin dengan malas.


Mendadak Bastian tersentak kaget saat mendengar jawaban dari Levin. Matanya sedikit membulat dan mulutnya sedikit terbuka. Ragu iya bingung juga iya. Bastian tidak dapat memastikan mana yang benar. Levin bilang Alesha dan mentornya selalu bermesraan, apa maksudnya?


"Tidak perlu berlebihan menanggapi itu. Maksudku mereka begitu dekat dan sering bercanda berduaan dihadapanku." Kalimat klarifikasi itu sengaja Levin ucapkan agar Bastian tidak salah paham dengan Alesha dan Jacob.


"Dan kau cemburu?" Tanya Bastian.


Levin mendengus. "Ya."