May I Love For Twice

May I Love For Twice
Semua Karna Cinta



Kini Jacob dan beberapa agent SIO sudah sampai diperbukitan Hollywood untuk menjemput anggota timnya. Bangga dan senang sekali rasanya, Jacob ingin segera memeluk tubuh anggota timnya itu.


"Mr. Jacob!! Kita berhasil!!" Pekik Stella sambil berlari kearah mentornya lalu menaruh sebuah kebahagiaan yang diikuti oleh anggota timnya yang lain.


"Kita berhasil, Mr. Jacob." Girang Merina.


"Selamat untuk kalian semua, aku sangat bangga dan bahagia karna kalian sudah berhasil menjalankan misi ini." Balas Jacob yang tidak kalah bahagianya.


"Oh, ya lalu bagaimana dengan anggota tim kita yang lain?" Tanya Alesha.


"Mereka tidak perlu lagi mengejar tim Brandon, dan sebagai konsekuensinya kalian akan mendapatkan dua puluh lima persen nilai yang dimiliki oleh tim Brandon karna mereka kalah dalam persaingan ini." Jawab Jacob sambil mengucap puncak kepala gadisnya itu dengan gemas.


"Kita mendapatkan nilai berlipat-lipat. Pertama adalah nilai yang diberikan oleh tim juri, kedua adalah nilai yang kita dapatkan karna berhasil menjadi yang pertama dalam menuntaskan ujian akhir semester dua ini, dan ketiga adalah nilai yang kita dapatkan karna berhasil mengalahkan tim lawan dengan menjadi yang terlebih dahulu menuntaskan misi ini." Seru bahagia Mike.


"Kau benar! Peringkat satu sudah dalam genggaman kita!" Sambung Alesha sambil meloncat-loncat bahagia.


Keberhasilan yang diraih oleh tim Bastian adalah hasil dari kerja sama baik antar anggota dan ketuanya. Mereka mengikuti semua arahan yang pernah dikatakan oleh sang mentor. Memang ada sedikit drama permainan Mr. Frank demi bisa menangkap anak buah Vincent, namun hal itu pun dapat dilewati oleh Bastian, dkk.


Jika Luxury-1 sedang dilingkupi oleh suka cita karna berhasil mengaktifkan kartu memori mereka dengan waktu yang cukup cepat, berdeda halnya dengan yang sedang dirasakan oleh tim Brandon saat ini.


"Argh, sial! Kita kehilangan dua puluh lima persen nilai kita karna mereka sudah terlebih dahulu menyelesaikan ujian akhir dengan cepat!" Brandon meninju jok mobil yang ada dihadapannya.


"Brandon, penjahat yang tadi mengejar kita telah ditangkap oleh agent SIO, dan kita bisa kembali menjalankan ujian ini dengan tenang." Ucap Ken.


"Bagus, kita kembali pada rencana awal! Lagi pula kita tidak perlu berurusan lagi dengan anggota tim Bastian. Tujuan kita kini adalah segera menemukan lokasi kartu itu dan menghindar dari para penguji." Balas Brandon.


Ia kesal? Tentunya. Timnya kalah bersaing dengan si rival, padahal Brandon berniat untuk memperlihatkan kalau ia dan timnya jauh lebih baik dari tim Brandon. Tapi sekali lagi, keberuntungan sedang tidak memihak padanya juga timnya. Jadi, Brandon hanya bisa mengepalkan tangannya untuk menahan emosi yang sedang menggejolak dalam dirinya.


***


Drett..


Getaran yang berasal dari ponsel milik Maudy membuat gadis itu tersentak dan segera meraih ponselnya.


"Mr. Jacob meminta kita untuk langsung menuju hotel." Ucap Maudy saat membaca pesan singkat yang dikirimkan oleh Bastian.


"Syukurlah, kita tidak perlu jauh-jauh pergi ke bukit Hollywood dan bisa langsung menuju hotel." Saut Aiden.


"Kau benar, aku sudah lelah mengemudi." Sambung Tyson.


Tidak ada lagi perbincangan yang terdengar dalam mobil itu. Tyson fokus mengendalikan kemudi dan laju kendaraan, sedangkan yang lain sibuk dengan pikiran masing-masing.


Hal serupa juga terjadi didalam mobil mini bus yang ditumpangi oleh Bastian dan lima anggota timya, beserta seorang supir, dan dua orang agent SIO yang tadi ikut menjemput untuk mengambil kartu memori yang sudah teraktifkan. Namun sesekali mereka mendengar percakapan pelan antara Jacob dan Alesha.


Dua sejoli itu duduk saling bersebelahan dijok belakang. Betapa Jacob menginginkan untuk memeluk tubuh Alesha dengan gemas. Memandangi Alesha dari pinggir adalah hal Jacob lakukan untuk menghilangkan kejenuhannya selama perjalanan.


Rindu sekali rasanya, berapa hari ia tidak membuat canda tawa bersama gadis kesayangannya. Jacob sangat ingin menggoda Alesha saat ini, namun melihat ekspresi lelah pada wajah gadisnya itu membuat Jacob mengurungkan niatnya.


Kurang lebih dua jam waktu yang ditempuh, akhirnya Jacob dan yang lain sampai juga di hotel dan mendapati kalau Tyson, Nakyung, Aiden, dan Maudy sedang menunggu di depan pintu masuk hotel tanpa menghalangi jalan yang dilewati oleh orang lain.


Setelah keluar dari dalam mobil mini bus itu, Bastian, Lucas, Mike, Alesha, Stella, dan Merina segera menghampiri empat anggotanya yang lain dan saling berseru penuh kebahagiaan dan keceriaan.


"Jangan berpesta di sini." Ucap Jacob sambil tersenyum. "Sekarang kalian kembalilah dulu ke kamar masing-masing, mandi dengan air hangat untuk merileksasikan tubuh kalian, baru setelah itu kita bisa merayakannya." Lanjut Jacob.


Kesepuluh remaja itu mengangguk patuh terhadap ucapan mentornya. Mereka pun bergegas untuk menaiki lift menuju lantai tiga.


Hanya beberapa detik berlalu, lift berhenti dan pintunya pun terbuka. Bastian dan timnya segera berjalan menuju ruang kamar masing-masing. Mereka sangat kelelahan dan membutuhkan sedikit istirahat agar bisa kembali memulihkan kondisi tubuh mereka sebelum merayakannya pesta kecil atas keberhasilan dalam menjalankan ujian akhir mereka.


Jacob sengaja menyuruh pada anggota timnya untuk berendam atau mandi dengan menggunakan air hangat karna itu adalah hal yang biasa Jacob lakukan setelah menjalani aktivitas berat. Dengan berendam atau mandi dengan air hangat, tubuh yang tadinya kelelahan dapat menjadi lebih rileks dan segar.


Ucapan sang mentor itu pun membawa efek yang baik pada tubuh salah satu anggota timnya, yaitu Stella. Ia baru saja keluar dari dalam kamar mandi setelah menghabiskan waktu lima belas menit untuk mandi dan mengenakan baju tidurnya.


"Sudah?" Tanya Alesha yang sedang bersandar santai pada tembok pinggir pintu kamar mandi dengan handuk, dan piyama yang sudah menggantung dilengannya.


Stella tersenyum manis. "Sudah. Silahkan masuk, Little Ale."


Sejenak Alesha mematung dan ekspresi wajahnya pun berubah datar saat mendengar nama 'Little Ale' yang terucap dari dalam mulut Stella.


Bagaimana Stella bisa tahu sebutan kesayangan yang Jacob berikan untuknya? Pikir Alesha.


"Ck, kau mau mandi atau tidak?" Stella mengibaskan telapak tangannya tepat dihadapan wajah Alesha.


Alesha terkesiap. Ia menyedipkan matanya beberapa kali.


"Udah sana, aku akan mandi sekarang." Balas Alesha sembari mendorong tubuh Stella untuk menjauh dari pintu kamar mandi.


"Ish!" Stella mendengus dan menghentakkan kakinya. Ia menatap sebal pada sahabatnya itu.


"Wleee..." Alesha meledek Stella dengan menjulurkan lidahnya lalu setelah itu pintu kamar mandi tertutup.


"Awas kau, Alesha!" Pekik Stella.


"Aku tidak perduli." Balas Alesha yang berteriak dari dalam kamar mandi. Ia pun tersenyum-senyum sendiri sambil menatap pantulan wajahnya melalui cermin yang menempel pada dinding kamar mandi.


"Alhamdulillah, semuanya lancar, gak ada sesuatu yang buruk." Ucap Alesha seraya menutup matanya. Ia senang karna perasaan gelisahnya yang muncul sejak dua hari lalu tidak lah benar dan tidak menimbulkan hal-hal buruk apapun selama ujian berlangsung.


Alesha berjalan menuju bathub yang sudah terisi penuh oleh air hangat. Satu jemarinya dicelupkan kedalam air untuk memastikan kalau air tersebut tidak terlalu panas. Baru lah setelah itu Alesha pun mulai untuk membersihkan dirinya.


Rasanya sangat tenang berendam dalam air hangat yang sudah dicampuri oleh sabun cair hingga membuat gumpalan busa yang tebal dan menutupi seluruh permukaan air.


Alesha tidak ingin memikirkan hal lain. Ia lelah dan ingin menjernihkan pikirannya. Namun Alesha juga sadar, ia tidak bisa terlalu lama di dalam kamar mandi. Perutnya yang sudah keroncongan terus saja meronta-ronta dan meminta asupan. Hingga setelah sepuluh menit berlalu, Alesha memutuskan untuk menyudahi mandinya itu. Baju piyamanya segera ia pakai dan barulah pintu kamar mandi pun kembali terbuka.


Gelap...


Alesha mematung diambang pintu ketika matanya memandang kosong ke arah ruangan yang tiba-tiba saja kehilangan cahayanya.


Apa listriknya padam? Pikir Alesha.


"Arkhh.."


Tiba-tiba saja leher Alesha dicengkram kuat oleh seseorang. Tapi sayangnya Alesha tidak dapat mengenalinya. Orang itu memakai kain penutup wajah yang dibolongi pada bagian mata dan hidung saja. Pakaian orang itu serba hitam dan tertutup. Siapkah orang itu?


"Dia milikku!!" Orang itu menggeram dan mencekik leher Alesha dengan sekuat tenaga.


"S-siapa, ka-kau!!" Alesha meronta-ronta dan berusaha untuk membawa udara masuk kedalam mulutnya. Tapi sialnya orang itu semakin mengencangkan cekikkannya pada leher Alesha.


"Kau merebutnya dariku!! Aku membencimu, Alesha!! Arrghh!!"


Bug!!


Alesha berhasil menendang perut orang itu hingga akhirnya ia pun dapat terbebas dari cekikkan orang yang tidak ia kenal, namun dari suaranya, Alesha seperti mengenali suara itu.


"Argh!" Lagi dan lagi orang itu menggeram dan bangkit lalu berniat untuk menghajar Alesha.


Dengan sekali gerakan, Alesha berhasil menghindar dari kepalan tangan yang nyaris saja meninju wajahnya. Sebagai gantinya, dengan gerakan kilat Alesha pun mendaratkan sebuah sebuah pukulan menggunakan sikutnya pada punggung orang tidak dikenal itu.


Alesha mengambil jarak beberapa langkah ke belakang untuk mengambil ancang-ancang.


"SIALAN KAU, ALESHA!!" Teriak orang itu. Ia berbalik dan dengan cepat melangkah menuju Alesha.


Bug..


Satu tonjokkan berhasil orang itu daratkan pada perut Alesha.


"Argh!!" Ringgis Alesha.


Melihat sebuah kesempatan, orang asing itu pun kembali menyerang Alesha, namun kali ini dengan membabi-buta. Tentu saja Alesha kewalahan mengatasi setiap pukulan yang orang itu berikan.


Namun Alesha juga tidak mau lemah. Sesekali ia membalikkan pukulan keras yang orang asing itu berikan.


"Siapa kau?!" Teriak Alesha. Rasa takut mulai melingkupi ruang perasaannya. Alesha memang cukup baik dalam hal bela diri, namun sepertinya lawannya itu jauh lebih handal.


"Jangan menghindar, kau!!" Orang itu kembali mengambil langkah besar dan berniat untuk memberikan tonjokan lain pada Alesha, tapi Alesha yang sudah dalam posisi siap pun akhirnya terlebih dahulu melayangkan pukulan keras terhadap orang itu.


"Argh!" Darah keluar begitu saja dari sudut bibir orang itu saat Alesha sukses meninju wajahnya, dan bukan hanya itu saja, orang itu pun merasakan tulang hidungnya yang sepertinya sedikit bergeser.


"Apa maumu!!" Bentak Alesha dengan napas yang terengah-engah karna kelelahan menghajar dan menerima hajaran dari orang itu.


"Kau sudah merebut milikku!!" Suara orang itu begitu dalam dan cukup menyeramkan.


"Kau harus mati menyusul gadis itu." Sebuah seringai jahat terbentuk dibalik masker gelap yang orang itu gunakan.


Alesha terkejut saat mendengar ucapan lawannya itu. Apa maksudnya mati? Apa orang yang ada dihadapannya itu berniat untuk membunuhnya? Ya ampun ternyata benar adanya perasaan buruk yang Alesha rasakan sejak dua hari lalu.


Orang itu mengalihkan pandangannya pada bathub yang masih terisi dengan air lalu kemudian menatap kembali pada Alesha.


"Ini akan menjadi akhir bagimu!!" Terdengar dingin, namun penuh dengan amarah. Orang itu berucap dan setelah itu maju untuk menggapai Alesha.


Refleks, Alesha pun melangkahkan kakinya dan menghindari orang itu. Namun sayangnya keberuntungan sedang tidak berpihak pada Alesha. Orang itu berhasil meraih lengan Alesha dan menariknya dengan kasar.


"Matilah kau!!"


Wajah Alesha mengalami benturan hebat dengan kepalan keras yang dilayangkan oleh orang itu.


Kelap-kelip bintang kecil bermunculan pada pandangan Alesha yang sedikit memburam.


"Aku yang akan mendapatkannya!! Dan bukan kau!!"


"Argh!!" Rintih Alesha lagi saat orang itu kembali menjedotkan kepala Alesha dengan dinding yang ada dibelakangnya.


Alesha tidak dapat membalas hajaran orang itu karna kepalanya terasa diremas dan diputar dengan cepat. Kunang-kunang hadir, dan pijakkannya terasa bergoyang. Alesha kehilangan keseimbangannya, pukulan itu mengacak-acak konsentrasinya.


"Maaf, tapi aku sangat membencimu, Alesha!"


Orang itu menjatuhkan tubuh Alesha dan menghantamkan kepala Alesha dengan keras pada lantai.


"Kau harus mati agar dia bisa menjadi milikku!!"


Alesha pasrah, air matanya mengalir bersama rasa sakit yang sudah tiada tara. Denyutan kencang dalam tengkorak kepalanya membuat Alesha tidak tahan lagi untuk membuka matanya. Apakah ini akan menjadi hari akhir untuknya? Alesha berpikir kalau kecil kemungkinannya ia akan bisa melihat dunia lagi, dan mungkin saja tengkoraknya itu sudah retak karna hantaman yang orang itu lakukan pada dirinya, bahkan sekarang darah mengalir dari kuping dan hidungnya.


Sesaat sebelum terpejam, Alesha masih sempat mendengar apa yang orang itu katakan.


"Selamat jalan, kawan."


Bugg!!


"Aarrghh!!" Darah menyembur keluar dari dalam mulut Alesha ketika perutnya dihantam dengan keras oleh kepalan tangan orang asing itu.


"Semoga kau tenang." Orang asing itu bangkit dan menarik paksa tubuh Alesha lalu mengangkatnya dengan sekuat tenaga dan menenggelamkannya kedasar air yang memenuhi bathub itu.


Selama beberapa saat Alesha masih memiliki sedikit kemampuan dan memberontak untuk membawa kembali tubuhnya, terkhusus kepalanya kepermukaan air. Namun tenaga Alesha sudah langsung terbuang habis akibat benturan kencang pada kepalanya.


Pasrah adalah jalan satu-satunya yang bisa Alesha ambil. Ia lemah, tubuhnya tidak berdaya, dan sekarang ia harus tenggelam dalam air yang memenuhi bathub itu. Napas Alesha tidak dapat tersalur karna orang itu terus saja mencekik Alesha, padahal Alesha sendiri sudah tidak berdaya didalam air.


Perlahan, mata Alesha terpejam. Kaku dan membeku tubuhnya. Apa ia akan segera menjadi mayat?


Setelah menyadari Alesha yang sudah tidak sadarkan diri didalam air, orang itu segera melepaskan cekikkannya dan pergi begitu saja.


Atas kesalahan fatal yang baru saja dilakukannya, orang itu dilingkupi oleh perasaan takut, panik, dan bingung. Ia termakan oleh api cemburu yang membuatnya kini terjerumus dalam masalah. Tuanya pasti akan sangat marah. Ia harap tuannya dapat membantu menghilangkan semua bukti rekaman atau apapun itu.


"Bodohnya aku!!" Umpat orang itu pada dirinya sendiri. Penyesalan membenak dalam batinnya. Ia seharusnya tidak gegabah hanya karna mendapatkan sebuah peluang kecil.


"Alesha, Stella..." Panggil Merina sambil mengetuk pintu kamar hotel.


Orang itu begitu terkejut dan sangat panik ia harus segera bersembunyi atau Merina akan melihatnya.


"Ck, Alesha, Stella, aku buka pintunya ya." Ucap Merina seraya menekan gagang pintu itu dan membukanya.


"Hah!" Merina cukup terkejut saat mendapati ruang kamar kedua temannya itu sudah dalam keadaan gelap.


Merina pun menyalakan senter melalui ponselnya lalu mengedarkannya kesegala sudut ruangan. Langkah kakinya bergerak menuju sisi ranjang sambil memperhatikannya sekitarnya.


Lampu senter yang berasal dari ponsel itu pun segera Merina edarkan menuju ruangan kamar mandi yang pintunya terbuka lebar.


"Astaga!!" Pekik Merina saat melihat air dalam bathub itu dipenuhi oleh darah.


Kemana Alesha? Kemana Stella? Kemana dua temannya itu?


"Mr. Jacob!!!!!" Teriak Merina seraya berlari menuju bathub berisi air yang sedikit kotor karna sudah bercampur dengan darah. Firasat Merina mengatakan kalau kedua temannya itu sedang dalam masalah, dan benar saja, mulut Merina menganga lebar dan kedua kelopak matanya terbelalak saat melihat tubuh Alesha yang sudah pingsan didalam air.


"Alesha!!!" Merina berteriak sangat kencang. Ia menangis tersedu-sedu menatap miris pada temannya. Ia berusaha untuk mengangkat tubuh Alesha, namun ia tidak kuat melakukan hal itu.


"Merina, ada apa?" Tanya Maudy yang tiba-tiba saja datang.


"Alesha....." Rintih Merina. "Cepat panggil Mr. Jacob!" Merina sangat sedih dan ketakutan saat melihat tubuh Alesha yang tenggelam dalam air dengan banyak tetesan darah yang mengalir melalui hidung dan kupingnya. Tetapi kini Merina hanya bisa menangis sambil menyandarkan wajahnya pada pinggiran bathub dengan harapan mentornya akan segera datang.


Dan benar saja, kurang lebih satu menit, Jacob dan para anggota lain pun muncul lalu menghampiri Merina.


Mata Jacob membuka lebar dan jantungnya langsung berdetak dengan saat kencang saat melihat tubuh gadisnya yang terbaring pingsan didalam air yang sudah bercampur dengan darah.


Merina segera menyingkir dan membiarkan mentornya untuk mengangkat tubuh Alesha dari dalam air.


"Apa yang terjadi padamu, Alesha?" Jacob meraih tubuh Alesha yang sudah kaku dan mengeluarkannya dari dalam air.


Tangisan Jacob pecah saat melihat darah sudah mengalir deras dari hidung dan kuping Alesha.


"Bangun!! Kau harus bernapas, Alesha." Air mata Jacob mengalir sangat deras, namun ia tetap harus memberikan pertolongan pertama dengan menekan dada Alesha beberapa kali untuk mengeluarkan air dan kembali membuka akses jalan untuk pernapasan Alesha.


"Bangun!!" Bentak Jacob. Ia tidak perduli dengan keberadaan anggota timnya yang sedang mengelilinginya. Jacob segera membuka mulut Alesha dan meniupkan udara kedalam tenggorokan Alesha. Beberapa kaki Jacob mencoba, namun nihil hasil. Ia pun kembali mengangkat wajahnya dan menekan kembali dada Alesha untuk beberapa kali.


Dalam hatinya, Jacob terus meracau. Takut, trauma, panik, bingung, marah, sedih dan kehilangan Alesha. Beberapa hal itu mengobrak-abrik dirinya dan memfrustasikkan pikirannya. Air mata sangat deras, namun Jacob tidak bisa mengucapkan apapun. Ia tidak mau kehilangan, ia tidak mau menjadi gila lagi, ia tidak mau Alesha pergi meninggalkannya. Alesha sangat amat berarti untuk Jacob, tapi kenapa hal buruk selalu saja terjadi pada gadisnya itu?


Dada Jacob naik turun mengatur napas yang tertahan-tahan akibat tangisan batin yang meyiksa-nyiksa jiwanya.


"Uhuk.. Uhukk.." Akhirnya Jacob berhasil mengeluarkan air dari dalam paru-paru Alesha dan membuat denyut nadi pada gadis itu perlahan berjalan kembali setelah tadi berhenti selama beberapa menit.


Namun hal itu tidak membuat Alesha tersadar. Dirinya kembali ditarik paksa kedalam ketidak sadarannya.


"Jangan tinggalkan aku, Ale." Jacob segera meraih tubuh Alesha dan didekap dalam pelukannya.


Jacob menyentuhkan keningnya pada kening Alesha, ujung hidung mereka saling bersentuhan, dan air mata Jacob terjatuh membasahi pipi Alesha.


Kenapa begitu menyakitkan? Rasanya seperti Jacob kehilangan dirinya sendiri, bahkan lebih.


Jacob memejamkan matanya seraya berisik. "Kenapa kau selalu saja membuatku seperti ini? Kau bisa membunuhku secara halus, Alesha."


Tubuh Jacob bergetar kencang akibat tangisannya sendiri. Ia jatuh pada titik terendahnya untuk yang kesekian kali. Dua kali ia dibuat seperti itu oleh Alesha, apa masih belum cukup? Dan sekarang adalah kali ketiga Jacob melihat Alesha menutup matanya dengan resiko kematian yang cukup tinggi jika tidak cepat ditangani.


Jacob mengguncang pelan tubuh Alesha disela-sela tangisnya. "Bangun, bangun, Al, kumohon jangan lagi, jangan seperti ini lagi, cukup tragedi beberapa bulan yang lalu menimpamu, dan jangan terulang lagi. Aku tidak mau kehilanganmu, aku membutuhkanmu, kumohon." Bisik Jacob yang dapat didengar oleh seluruh anggota timnya yang kini sedang memandang dengan ekspresi yang sulit diartikan karna terlalu banyak pertanyaan membingungkan dalam pikiran mereka, kecuali Bastian.


Kenapa Jacob sampai segitunya pada Alesha? Kenapa Jacob terlihat sangat amat terpukul mendapati keadaan Alesha yang diambang kematian saat ini? Apakah Jacob akan tetap seperti itu jika anggota lainnya yang berada diposisi Alesha saat ini? Dan masih banyak lagi pertanyaan lain dalam pikiran mereka hingga menghasilkan sebuah rasa kecurigaan besar terhadap mentor mereka itu. Apalagi setelah mereka mendengar gumaman kesedihan Jacob yang ditujukan untuk Alesha.


"Tolong, Alesha. Aku mohon jangan tinggalkan aku." Ucap Jacob yang tersendat-sendat. Ia tidak kunjung melepaskan tubuhnya yang mendekap tubuh Alesha.


"Mr. Jacob, kita harus segera membawa Alesha menuju rumah sakit!" Pekik Tyson yang baru menyadari kalau ada darah yang mengalir dari telinga Alesha.


***


Hmm, sedih, pengen banget bikin lebih banyak momen buat Alesha dan Jacob, tapi karna waktu, aku harus mempersingkat dan mempercepat alurnya. 😞 Hmmm happy reading kakak kakak readerskuu 😅😍 semoga suka ya🙏😊 maaf kalo masih banyak kesalahannya 🙏😊