
20.25 WIB
"Hoammm..." Kedua lengan Alesha terangkat, mulutnya terbuka, dan tubuhnya merenggang untuk menyelaraskan otot-otot juga tulang belulang yang terasa kaku karna seharian dipaksa untuk beraktivitas.
Sejak pukul enam pagi Alesha berangkat menuju Bogor untuk mengerjakan beberapa tugas bersama para pawai SIO, hingga pukul delapan malam ia baru menapaki kakinya kembali di rumah besar milik suaminya.
Kini, Alesha sudah bisa berleha-leha, dan beristirahat setelah beres mandi, juga beres menunaikan ibadah sholat isya sendirian. Tubuh sudah sangat kelelahan, dan lemas, mungkin bersantai sembari memainkan ponselnya bisa menghilangkan rasa bosan, juga sekalian merileksasikan tubuhnya.
Baru saja Alesha membuka layar ponsel, dan mengaktifkan data selulernya, tiba-tiba saja spam chat, dan notifikasi panggilan tak terjawab sudah membludak membuat keramaian, dan kesibukan pada ponselnya.
*Drett... Drett... Drett... Drett...
Ting Tong.... Ting Tong*....
Alesha langsung membisukan suara, dan getaran ponselnya yang terjadi secara terus menerus ketika pesan-pesan itu masuk.
Selang satu menit, barulah ponselnya itu berhenti bergetar, dan berbunyi.
Dengan sigap, Alesha segera membuka aplikasi chatting dimana kumpulan spam chat itu berada.
"Dua ratus tiga puluh lima pesan, dan seratus panggilan tak terjawab," Gumam Alesha yang terus menatapi layar ponselnya.
"YA AMPUN! MR. JACOB!!" Alesha memekik, dan terlonjak kaget karna ia sadar jika suaminya itulah yang sudah mengirimkan ratusan pesan, dan panggilan telepon, namun tidak sempat Alesha baca, dan balas.
Kepala Alesha menengok ke arah dinding untuk melihat pukul berapa saat ini.
"Jam setengah sembilan, berarti di Florida sekitar jam setengah sepuluh pagi."
Peluang besar Alesha dapatkan untuk menghubungi balik suaminya itu, dan meminta maaf karna tidak sempat membalas pesan, juga panggilan masuk.
"Ayo, Mr. Jacob, angkat dulu telponnya," Gumam Alesha yang sudah khawatir jika suaminya itu akan marah.
"Hallo, Assalamualaikum, Mr..., Ck! Maksudnya, Jack, ada apa? Maaf Alesha baru sempat kasih kabar, Alesha lupa, seharian ini Alesha sangat sibuk, jadi tidak banyak membuka ponsel. Maaf, Jack, Alesha minta maaf...." Sambar Alesha sesaat setelah Jacob menerima panggilannya. Alesha merasa gelisah, khawatir, dan takut, tapi ia siap jika Jacob akan memarahinya.
" Waallaikumussalam, Alesha, apa saja yang kau lakukan? Aku sangat khawatir karna kau tidak membaca, apalagi membalas pesanku, panggilan teleponku juga tidak kau angkat." Balas Jacob yang sama-sama merasakan apa yang saat ini sedang dirasakan oleh diri Alesha.
"Kau tahu, aku sangat merindukanmu, Alesha. Aku takut kau marah padaku." Lirih Jacob
"Aku, minta maaf, Jack. Aku salah karna lupa untuk memberi kabar padamu. Maaf, Jack," Lirih Alesha, juga.
"Tapi kau tidak marah padaku kan, sayang? Aku takut kau akan mengacuhkanku," Ucap Jacob.
"Kenapa Alesha harus marah? Yang ada Alesha takut kalau kau akan marah pada Alesha," Balas Alesha.
"Tidak, sayang, aku tidak marah padamu. Hanya saja aku bingung kenapa kau tidak membalas pesan, dan mengangkat panggilan telpon dariku. Aku takut kau marah padaku, Alesha."
Sejenak, tidak ada balasan dari Alesha. Tiba-tiba saja istri tercinta Jacob itu termenung, pandangannya kosong, namun matanya berkaca-kaca.
Ada apa dengan Alesha?
"Jack, kapan kau akan pulang? " Lirih Alesha yang masih bisa terdengar oleh Jacob.
"Masih belum pasti, Alesha. Kenapa, apa ada masalah? "
Hening....
Alesha diam dengan hati yang tersayat-sayat. Batin Alesha teramat tersakiti saat ini, bahkan air mata menetes meluncur dipipinya. Ia harap ada seseorang yang bisa mendekap, dan menjadi teman curhatnya saat ini. Sejak dua hari lalu memang Alesha menjadi semakin murung dan bersedih oleh satu sebab.
"Alesha, ada apa? Kenapa kau terdiam? Hallo... Sayang...." Hanya suara Jacob saja yang bisa terdengar. Tapi Alesha membutuhkan sosok suaminya itu untuk saat ini.
"Hiks," Alesha menutup kelopak matanya, dan mulai menangis.
"Alesha, ada apa? Kenapa kau menangis? Sayang..." Jacob mulai khawatir. Ia curiga jika istrinya itu sedang menyembunyikan sesuatu.
"Cepatlah pulang, aku merindukanmu." Tidak ingin membuat suaminya merasa curiga atau khawatir, Alesha pikir yang barusan ia katakan adalah alasan yang tepat.
"Alesha, jika kau ada masalah katakan padaku, jangan memendamnya sendirian."
"Satu-satunya masalah adalah aku ingin segera bertemu denganmu. Aku merindukanmu, Jack."
Terdengar sebuah hembusan napas berat yang berasal dari Jacob. Tentu saja, Jacob merasa cukup terpukul dengan permintaan istrinya barusan, tapi untung saja setelah seminggu berlalu, Jacob sudah berhasil menuntaskan beberapa pekerjaan yang tertunda oleh Mona, dan juga beberapa pertemuan bersama para petinggi perusahaan untuk mulai merancang perencanaan promosi berskala besar yang akan berlangsung di stadion GBLA, Bandung, Indonesia.
"Aku akan segera pulang, Alesha. Bersabarlah," Ucap Jacob, pelan.
"Iya, Jack." Balas Alesha.
"Kalau begitu, bisa kita tutup dahulu sambungan teleponnya, Lil Ale? Saat ini aku perlu mengurus sisa pekerjaanku." Cukup hati-hati Jacob mengucapkan kalimat itu, ia takut jika Alesha akan marah karna mereka tidak bisa lebih lagi untuk bertukar kabar walau hanya melalui sambungan telepon.
" Iya, tidak apa-apa. "Balas Alesha, pelan.
" Maaf, Alesha. Aku berjanji untuk segera menyelesaikan pekerjaanku, dan pulang ke Bandung. "
" Tidak, jangan tergesa-gesa, aku tidak apa-apa, Jack. Selesaikan pekerjaanmu dengan baik, dan santai saja, aku tidak akan marah. Yang penting kau harus menjaga kesehatanmu di sana. "
" Pasti, sayang. Kau kan selalu menjadi alarmku jika waktu makan, dan istirahatku tiba. "
Seulas senyum tersungging pada wajah Alesha." Iya. Sudah tutup saja telponnya, lanjutkan pekerjaanmu dengan baik. Tidak usah buru-buru. "
"Siap, My Lil Ale! Aku mencintaimu."
"Aku juga. Bye, assalamualaikum.."
Komunikasi suara via digital antara Alesha, dan Jacob sudah terurus. Jacob merasa cukup lega karna sudah mendengar suara istrinya kembali, sedangkan Alesha malah bersedih diatas kasurnya.
Boleh dibilang saat ini Alesha sedang berada dalam fase yang disebut mental break down. Dari mulai pikiran, perasaan, dan hatinya sedang jatuh ketitik tedalam.
Ingatan dua hari lalu kian memperburuk keseimbangan emosi, dan sedikit mempengaruhi psikis Alesha.
Air mata yang berjatuhan dalam tangis lirih sungguh menyesakkan batinnya. Ia ingat bagaimana dua hari yang lalu ia bertemu dengan bibinya ketika ia sedang berziarah ke makam kedua orangtuanya, bahkan ucapan bibinya itu masih terekam dengan segar dalam kepala Alesha.
"Heh anak haram! Ngapain ada di sini? Udah pulang lagi ya ke Indonesia? Jangan sombong jadi orang! Tau diri dong, hidup masih susah aja blagu! "
Kala itu, Alesha hanya bisa terdiam sembari terus memeluk nisan milik ibunya.
"Gak ada gunanya juga kamu peluk tuh nisan. Emang kamu pikir umi sama bapak kamu bakal bangun lagi? Udah bagus mereka meninggal, jadi kita gak perlu liat lagi muka penjahat, sama *******."
"Umi Alesha bukan *******, bapak Alesha bukan penjahat, hiks," Alesha hanya mampu membalas dengan lirihan kecil.
"Apa? Gak salah denger telinga Bibi? Heh, kamu tuh gak tahu kalau bapak kamu itu buronan aparat kepolisian negara, umi kamu itu diem-diem suka jual diri sama cowo lain! "
Alesha menangis hingga timbul sesegukan kecil. Miris sekali mendengar ujaran jahat dari bibinya barusan. Namun Alesha diam, dan membungkam mulutnya, ia masih mencoba untuk bersabar meladeni ucapan kotor, dan semena-mena yang Bibi katakan.
"Kamu belum ngerti apa-apa waktu itu. Asal kamu tahu, Alesha, bapak kamu itu didatengin sama pihak intelegent negara buat diintrogasi beberapa kali, umi kamu itu keliatan alim di depan doang, dibelakang dia itu jablay murahan!"
"Cukup! Apa buktinya kalau umi sama bapak Alesha itu emang orang yang gak bener?" Pekik Alesha bersamaan tangis yang semakin menjadi.
"Bibi liat langsung gimana bapak kamu dimarahin, dan dibentuk-bentak, trus ditunjuk-tunjuk sama pihak intelegent itu!"
"Trus bibi langsung berspekulasi kalau bapak Alesha itu orang jahat?" Pekik Alesha dengan intonasi suara yang semakin meninggi. Panas hati, dan telinganya, ia tidak terima jika orang tuanya yang sudah meninggal pun masih terus menerus dihina oleh keluarga dari uminya itu.
"Nona!" Tiba-tiba saja Taylor muncul dengan ekspresinya panik karna melihat Alesha yang menangis. "Nona, apa Nona baik-baik saja?"
"Kenapa bibi sama yang lain selalu hina Alesha? Apa salah Alesha, umi, sama bapak? Kayanya kalian itu bahagia banget gitu ya kalo udah ngatain orang tua Alesha? Dan satu lagi, Alesha bukan anak haram!" Ucap Alesha penuh ketegasan. Kali ini ia tidak akan mundur, bila perlu ribut sekalian saat itu juga.
"Tahu darimana kalau kamu bukan anak haram?" Bibi Alesha menyeringai. "Saya sepupu umi kamu! Saya tahu gimana pribadi umi kamu! Dia itukan sering pergi sama laki-laki lain trus pulang larut malem. Dia itu jablay!"
Plak.....
"STOP BILANG KALAU UMI ALESHA ITU WANITA YANG GAK BENER! UMI ALESHA ITU PERGI SAMA TEMENNYA BUAT MANTAU ANAK-ANAK SANTRI SAMA PANTI!!" Napas Alesha terengah-engah saking tak kuasanya ia menahan emosi.
"HEH! Kamu ini ya! Berani banget tampar saya!" Balas bibi Alesha dengan sorot mata tajam yang menunjukkan sebuah ketidak terimaan terhadap tamparan yang Alesha berikan. "Kamu gak usah sok' sok'an ya. Saya itu bibi kamu! Gak sopan jadi keponakan!" Sentak bibi Alesha.
"Bibi juga gak usah terus-terusan hina Alesha! Alesha bukan anak haram, umi Alesha bukan wanita murahan, dan bapak Alesha bukan penjahat!" Balas Alesha yang tidak kalah kerasnya. "Bahkan harusnya bibi ngaca! Yang busuk itu bibi karna selalu hina, trus fitnah yang gak bener tentang orang tua Alesha!"
PLAK....
Satu tamparan keras dari sang bibi membuat pipi sebelah kanan Alesha langsung memerah kebiru-biruan. Hantaman telapak tangan yang bibi Alesha layangkan itu memang sangat keras sampai-sampai bibi Alesha sendiri sedikit meloncat ketika melayangkan tamparan itu.
"NONA!" Pekik Taylor yang terkejut hingga kedua matanya terbelalak ketika menyaksikan istri dari tuan mudanya ditampar begitu keras oleh seorang wanita paruh baya. "TIDAK AKAN SAYA LEPASKAN, ANDA! ANDA AKAN MENANGGUNG RISIKONYA!!" Taylor langsung menggenggam erat pergelangan tangan bibi Alesha.
Geraman, dan tatapan mematikan yang Taylor berikan membuat bibi Alesha ketakutan setengah mati.
"Nona, saya akan laporkan ini pada tuan Jacob," Ucap Taylor.
"Lepasin tangan saya!" Bibi Alesha memberontak, namun tenaga Taylor jauh lebih kuat. "Awww!" Semakin memberontak, semakin kencang cekikkan yang Taylor berikan pada pergelangan tangan bibi Alesha itu.
"Enggak! Jangan kasih tahu, Mr. Jacob," Lirih Alesha sembari memegangi pipinya yang barusan ditampar keras oleh bibinya.
"Tapi, Nona, wanita ini harus menanggung risikonya karna sudah bersikap kasar pada Nona!" Intonasi nada bicara Taylor mulai meninggi.
"TIDAK!" Bentak Alesha. "Lepaskan dia! Ayo kita pulang! Dan jangan pernah beritahu masalah ini pada, Mr. Jacob, biar aku yang akan mengantakkannya langsung nanti!"
Alesha terhenyak, satu tarikan napas panjang mengembangkan paru-parunya yang semula sesak karna teringat akan perkataan yang ia terima dari saudaranya sendiri dua hari lalu.
Alesha masih bisa mendengar dengan sangat jelas ucapan bibinya yang terus terputar didalam kepalanya.
"Umi Alesha bukan *******, bapak Alesha bukan orang jahat, Alesha bukan anak haram, hiks," Tangis Alesha. "Sebenci itukah mereka sama keluarga Alesha? Cuman karna mereka sirik karna bapak sama umi Alesha itu termasuk mampu? Tapi sekarang kenyataannya apa? Semenjak umi sama bapak meninggal, Alesha udah gak pernah lagi ngerasain yang namanya hidup enak, dan dimanja. Mereka pikir bapak dapet uang pengsiun yang gede. Mana? Gak ada!"
Bantal, dan guling yang berada disekitar Alesha pun menjadi korban dari tangis sedih yang mendalam dilubuk hati si manis kesayangan Jacob itu. Alesha sudah lelah menghadapi sikap, dan omongan jahat dari keluarganya sendiri. Sejak dulu ia selalu dipoyoki sebagai anak haram lah, uminya ******* lah, dan bapaknya adalah orang jahat. Alesha sudah terbiasa dengan cemoohan yang seperti itu, untung saja ada kakeknya yang selalu menyemangatinya, dan menegaskan jika ia bukanlah anak haram.
Saudara dari uminya Alesha memang seperti itu, mereka tidak menyukai ayah Alesha karna kesuksesannya, dan ditambah dengan kehamilan umi Alesha yang secara tiba-tiba walau ketika itu usia pernikahan umi dan bapak Alesha baru akan menginjak minggu keempat.
Saudara-saudara, dan para sepupu menganggap bahwa umi Alesha sudah hamil sebelum hari pernikahan. Padahal jika dihitung, umi dan bapak Alesha menikah pada tanggal dimana umi Alesha sedang dalam masa subur, dan tentunya hal itu mampu mempercepat pembuahan yang terjadi dalam rahim umi Alesha.
"Mr. Jacob, kapan pulang?" Rintih Alesha.
Membaringkan tubuh, dan memejamkan mata, berharap mimpi dapat mengambil alih dunianya. Alesha lelah, seandainya ada Jacob, mungkin Alesha akan terus menangis sembari memeluk tubuh suaminya itu.
****
Kesibukan yang sudah terjadi selama beberapa hari ini, kini mulia normal kembali.
Seminggu sudah Jacob menggantikan posisi kakaknya untuk sementara waktu, dan kini adalah saatnya untuk ia kembali ke Indonesia untuk bisa melihat langsung segala persiapan yang sudah mulai dilakukan untuk bisa terlaksananya promosi besar-besaran yang akan dilakukan oleh induk perusahaan milik ibunya.
"Tuan, pesawat sudah siap, dan akan lepas landas satu jam lagi," Ucap Irene.
Sekretaris cantik itu sangat bahagia karna bisa bertemu dengan Jacob kembali, namun ia juga sangat sedih karna tahu tuan mudanya sudah menikah.
"Bagus," Hanya itu balasan Jacob.
Kenapa kau harus menikah secepat ini, Tuan? Padahal aku bisa melakukan apapun jika kau bisa menjadi milikku. Tapi sekarang kau sudah menjadi suami dari wanita lain. Lalu apa yang harus aku lakukan?................. Lirih Irene dalam hatinya.