
"Khalid, kamu yang tenang ya, sayang, Bunda minta maaf, Bunda gak bisa jagain Khalid, tapi Bunda sayaanggg banget sama Khalid. Tidur yang nyenyak, cinta, Bunda bakal selalu doa'in Khalid, Bunda bakal selalu nyapa Khalid kalo Bunda udah sholat, hiks," Alesha menyerka buliran air mata yang membasahi wajahnya. "Selamat jalan pangeran kecil bunda, I love you so much."
Terakhir, Alesha menciumi wajah bayinya itu dengan perlahan untuk menyalurkan semua rasa kasih sayang, dan cinta yang tidak akan pernah ia lepaskan, meski nyatanya ia sudah tidak bisa lagi bersama dengan pangeran kecilnya.
"Bunda ikhlas, Bunda bakal ikhlas kalau emang kita gak bisa bersama dulu buat sekarang, sayang, selamat jalan," Lirih Alesha tepat dihadapan wajah putranya.
Lalu beberapa saat setelah itu, Alesha pun mengangkat wajah seraya menyerahkan tubuh mungil Khalid pada suaminya, Jacob agar segera dikebumikan.
"Aku pergi dulu, sayang," Ucap Jacob sembari mencium kening istrinya ketika ia sudah mengambil alih tubuh anak bayinya.
Alesha hanya terdiam datar dengan air mata yang masih bercucuran.
"Assalamualaikum..." Jacob berlalu pergi setelah mengucap kalimat itu.
"Waallaikumussalam...." Balas Alesha sangat pelan.
"Kamu masih marah sama Jacob, Sha?" Tanya Sulis sembari menggendong tubuh si kecil Alshiba yang sedang tertidur.
"Gak usah ngomongin tentang dia, aku males," Jawab Alesha, datar.
Mendengar itu, Sulis pun paham jika Alesha memang masih marah pada suaminya.
"Yaudah, kalau gitu kamu makan dulu ya, biar si cantik aku bawa lagi ke ruang NICU," Ucap Sulis yang dibalas dengan anggukan oleh Alesha.
***
Beralih pada Jacob, pria yang kini tengah dalam perjalanan di dalam mobil menuju salah satu TPU di kota Bandung pun sudah tak dapat lagi membendung rasa sedihnya. Sejak kemarin malam, saat ia mengetahui jika putranya telah meninggal dunia, Jacob berusaha sekuat tenang untuk tidak menangis berlebihan, ia mencoba untuk kuat, dan tegar dihadapan istrinya. Namun tidak dengan sekarang, Jacob tidak perduli jika disebelahnya terdapat Taylor, dan juga satu orang supir yang sedang mengemudi di jok depan, yang Jacob inginkan saat ini adalah menangis, dan menangis sejadi-jadinya.
"Khalid, ayah minta maaf, ayah gak bisa jaga kamu, sodara kamu, dan bunda kamu, ayah minta maaf, hiks hiks, ayah salah, ayah harusnya ada disaat kalian lahir, tapi ayah malah sibuk ngurusin pekerjaan ayah," Tangis Jacob pecah seketika. Ia sangat terpukul, melihat jenazah anak bayinya sendiri dalam pelukannya membuat Jacob benar-benar lemah. Kepergian Khalid bukan hanya membuat Alesha tersiksa, Jacob pun sama, ia sangat menyayangi anaknya, tapi sayang kondisi sangat tidak memihak, tubuh Khalid terlalu lemah, tidak seperti saudarinya, Alshiba yang masih tetap bertahan.
"Khalid..... Ayah sayang banget sama Khalid, hiks."
"Khalid tahu, kalau Ayah selalu doain Khalid sama Alshiba waktu kalian masih didalam rahim bunda. Ayah bener-bener gak sabar buat nunggu kalian lahir," Jacob membuka sedikit kain kafan yang menutupi wajah si buah hatinya. "Ayah sayang banget sama kamu, Khalid. Tapi ayah udah gagal, ayah udah acuhin kalian, ayah abai, ayah lupa, ayah terlalu sibuk sama pekerjaan ayah, ayah minta maaf, sayang, hiks."
Seandainya Jacob tahu jika rasanya akan sesakit ini ditinggalkan oleh anaknya yang baru saja lahir, pasti waktu itu Jacob lebih memilih untuk meminta izin cuti kerja pada kakaknya, Mona agar bisa menemani Alesha. Tapi semua sudah terlanjur, tidak ada lagi yang bisa diubah, Khalid sudah meninggal, dan Jacob begitu menyesal.
"Maafin ayah, sayang, ayah udah salah besar," Jacob berisik tepat disebelah telinga anaknya. Tangisnya pelan, namun begitu dalam, bahkan Taylor pun tak kuasa menahan kesedihan kala melihat tuan mudanya yang terus bercucuran air mata.
"Selamat jalan, jagoan ayah, tidur yang tenang ya, sayang, ayah bakal selalu kasih doa buat kamu," Jacob mengukir senyumnya. Sebuah senyuman tulus yang menampakkan kasih sayang besar untuk sang buah cintanya bersama sang kekasih hati.
Alesha, aku sadar kau marah padaku hingga kau terus mengacuhkanku. Aku siap, Lil Ale, silahkan hukum aku, aku siap, sayang..... Lirih Jacob dalam hatinya.
****
Kembali menuju rumah sakit. Kini seorang gadis manis yang bukan lain adalah, Nina, teman seperjuangan Alesha semasa kuliah dulu telah datang menjenguk.
Gadis itu membawakan beberapa jenis buah-buahan, dan dua buah bungkus kado yang berisikan satu paket alat makan khusus untuk bayi. Nina tidak tahu jika salah satu dari dua anak Alesha sudah meninggal, maka dari itu ia sengaja membeli dua kado, namun ketika ia sampai di rumah sakit, dan bertemu dengan Alesha, ia malah mendapati Alesha yang menangis kala ia mengatakan jika ia membawa dua kado untuk si kembar.
"Alesha, maaf, aku gak tahu kalo salah satu anak kamu meninggal, hiks," Nina pun turut menangis sedih sembari memeluk tubuh kawannya dari pinggir.
"Gak apa-apa, Nin, hiks, aku cuman keinget aja sama Khalid, aku gak nyangka kalau dia bakal meninggal secepat itu," Balas Alesha sembari menyerka air matanya.
"Tapi bayi kamu yang satu lagi gak kenapa-kenapa kan, Sha?" Tanya Nina.
"Alhamdulillah, dokter sih bilangnya dia cukup stabil. Doain dia ya, Nin, semoga anak aku yang perempuan baik-baik aja, dan sehat sampe seterusnya, hiks."
"Iya, Sha, aamiin, semoga anak kamu yang satu lagi terus sehat, dan gak ada gangguan macem-macem biar bisa tumbuh jadi anak yang sholehah, baik, pinter kaya bundanya."
"Hiks, makasih, Nina."
"Yaudah, mending sekarang kamu makan dulu aja ya," Nina pun bangkit dari duduknya, dan beralih menuju meja yang diatasnya terdapat senampan makanan untuk Alesha.
"Kamu harus jaga kesehatan, jangan ngikutin ego kamu, jangan terlalu larut dalam kesedihan, inget masih ada anak kamu yang satu lagi, seengganya kamu masih dititipin satu anak, Sha," Ucap Nina sembari menaruh senampan makanan tersebut tepat didepan Alesha.
Ceklek.......
Tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka, dan mengejutkan Alesha juga Nina.
"Alesha..."
"Ibu..."
Ya. Laura telah tiba di Indonesia, dan kini wanita paruh baya itu tengah berlari kecil menghampiri menantu perempuannya, Alesha.
"Bagaimana kondisimu?" Tanya Laura yang tampak khawatir.
"Aku baik, Bu," Jawab Alesha.
"Lalu, bagaimana kondisi cucu-cucu ibu?"
Alesha menunduk. Ratapan kesedihan mulai menyambanginya kembali ketika Laura mengatakan 'Cucu-cucuku'. Wajar saja, yang tersisa sekarang hanyalah seorang cucu, dan Alesha takut jika mertuanya akan marah padanya karna tidak bisa menjaga kehamilan dengan baik.
"Cucu ibu yang perempuan, dia ada di ruangan NICU, kondisinya cukup stabil," Ucap Alesha, lirih tanpa membalas tatapan wajah mertuanya.
"Sedangkan cucu ibu yang laki-laki," Alesha mulai terisak, air mata menggenangi kelopaknya. "Hiks, Jacob sudah membawanya, hiks, kepemakaman."
"APA?" Laura terlonjak kaget. Matanya terbebalak menandakan sebuah ketidak percayaan atas apa yang barusan menantunya katakan.
"Apa maksudnya, Alesha?" Laura menatap tajam pada Alesha.
"Khalid..." Lirih Alesha. "Khalid, hiks, cucu laki-laki ibu meninggal semalem, Bu," Bahu Alesha bergetar disusul dengan sesegukan yang dibarengi oleh tangisan.
"Jantungnya lemah, dia belum cukup kuat, dan semalem dia udah dinyatakan meninggal, Bu, hiks," Lanjut Alesha.
Tampak Laura yang diam membisu. Ekspresinya datar lusuh, lemah karna baru mengetahui jika cucu laki-lakinya telah tiada sedang ia masih belum sempat melihatnya.
"Trus gimana kondisi cucu perempuan Ibu?" Tanya Laura begitu pelan.
"Alshiba, dia masih stabil, dan sedang tertidur sekarang."
Tubuh Laura benar-benar lemas, kakinya bergetar, hingga pada akhirnya ia memilih terduduk disofa besar dengan air mata yang mulai mengalir.
"Cucuku meninggal...." Gumam Laura. "Bagaimana bisa?"
Alesha yang mendengar itu pun akhirnya membalas. "Maaf, Bu. Aku tidak bisa menjaga kehamilan dengan baik, hiks."
Alesha menyerka air matanya. Ia masih belum berani untuk bertatapan langsung dengan ibu mertuanya. Ia takut jika Laura akan marah, dan benci padanya.
Ruangan pun menjadi sepi, dan hening. Hanya isakan kecil Alesha saja yang terdengar pelan. Laura yang masih tidak menyangka jika cucu laki-lakinya sudah meninggal pun kini hanya diam terpaku di tempat, pandangannya lurus namun sendu.
Telat.
Itu yang terlintas dalam benak ibunda Jacob tersebut. Ia baru saja tiba, namun sayang, ternyata kabar duka terlebih dahulu menyambutnya.
"Leo, hubungi Taylor untuk memberitahu lokasi makam cucuku! Aku ingin pergi ke sana sekarang!" Perintah Laura pada asistennya.
"Baik, Nyonya," Patuh Leo yang berdiri tepat di depan pintu.
Setelah itu, Laura bangkit dari duduknya, dan menghampiri Alesha. "Ibu akan pergi ke pemakaman cucu ibu sekarang, nanti ibu akan kembali lagi ke sini."
Alesha hanya mengangguk kecil, dan sejurus kemudian, Laura pun pergi meninggalkan Alesha, dan Nina yang ada di ruangan itu.
Iris mata Alesha bergerak, mengikuti langkah pergi Laura yang hilang dibalik pintu.
"Huft..." Alesha menghembuskan napasnya dengan samar. Matanya sayu memikirkan apakah ibu mertuanya itu marah padanya? Semoga saja tidak. Semua yang terjadi sekarang bukanlah kemauan Alesha, bahkan Alesha teramat terpukul atas masalah yang saat ini tengah menimpanya. Kehilangan seorang anak benar-benar membuat Alesha jatuh kembali pada titik terendah. Mengandung selama tujuh bulan, sekuat tenaga melawan tubuh sendiri yang tidak mampu untuk menerima kehadiran janin, dan bersabar juga menerima perlakuan buruk dari suaminya akhir- akhir ini.
Alesha harap bayi perempuannya akan semakin stabil, dan baik-baik saja. Alesha pikir ia bisa gila jika hal menimpa Khalid akan kembali menimpa Alshiba.
*****
Pukul 08.00 WIB
Jacob baru saja menuntaskan prosesi pemakaman putra kecilnya bersama beberapa orang anak buahnya yang turut membantu menggali, juga menaruh jenazah sang pangeran kecil tersebut ke dalam liang lahat. Tidak lupa Jacob mengundang ustadz Fariz untuk membantu memimpin doa supaya bisa mengantarkan ruh Khalid ke tempat yang layak.
Selepas itu, Jacob tidak langsung meninggalkan area pemakaman, melainkan ia menyuruh semua anak buahnya yang di sana untuk pergi, sedang ia beralih dengan tertunduk lutut tepat disebelah gumpalan tanah merah yang diatas terdapat taburan bunga.
Taylor, dan ustadz Fariz masih setia menunggu Jacob yang kini tengah menangis tersedu-sedu dihadapan nisan sang mendiang pangeran kecil.
"Khalid, maafin ayah, hiks, seandainya ayah bisa jaga bunda lebih baik lagi, pasti kamu gak akan bernasib kaya sekarang, sayang. Ayah, minta maaf..."
Air mata yang tak kunjung berhenti membuat kedua mata Jacob menjadi sembab, dan merah. Pria itu benar-benar terpukul atas kepergian salah satu anak tercintanya. Sang buah hati yang selama ini begitu ditunggunya kini telah kembali pada tempat awalnya.
"Khalid, ayah minta maaf, sayang...." Jacob kian tertunduk, meratapi nasib, dan kesalahannya terhadap istri juga kedua anaknya.
Seketika Jacob tersenyum miris mendengar ucapan dari pria kepercayaannya itu. "Dia membutuhkanku, tapi aku sudah membuatnya kecewa."
Ustadz Fariz pun mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Jacob seraya menepuk bahu. "Jack, saya tahu Alesha pasti sakit hati sama hal yang udah kamu lakuin ke dia," Ucap ustadz Fariz yang sudah mengetahui masalah antara Jacob, dan Alesha karna tadi Jacob menceritakan semuanya pada ustadz itu.
"Alesha orang yang baik, dia penyabar, dan gampang maafin orang, apalagi orang itu suaminya sendiri..."
"Tapi saya udah sering bikin dia kecewa. Dia selalu ngalah dari saya," Potong Jacob.
"Saya emang gak begitu tahu gimana karakter asli Alesha, tapi karna saya guru mengajinya dari kecil, saya cukup hapal gimana sifat Alesha, dia selalu maafin orang yang salah sama dia," Sambung ustadz Fariz.
"Udah, lebih baik sekarang kamu kembali ke rumah sakit, temuin Alesha, dan minta maaf sama dia, saya yakin Alesha bakal maafin kamu," Ustadz Faris mencoba untuk meyakinkan, dan menguatkan Jacob.
"Tolong bantu saya buat bisa baikkan lagi sama Alesha, Ustadz, saya sadar saya salah, saya pengen perbaikkin hubungan saya, Ustadz, hiks," Bendungan dalam kelopak mata Jacob kian membludak ketika pikirkannya membuka beberapa kenangan manisnya bersama sang istri tercinta.
"Alesha.... Aku minta maaf, sayang, hiks, hiks..." Bahu Jacob bergetar hingga tangis sendunya membuat sesegukkan kecil. Ia sangat menyesal. Sangat amat menyesali perbuatannya.
"Istigfar, Jack, pasrah, dan mohon sama Allah," Ucap Ustadz Fariz.
Jacob diam, memegangi dadanya yang terasa sesak.
"Huft..." Jacob berusaha untuk tenang, ia harus bisa melewati cobaan yang tengah menimpa rumah tangganya kali ini. Jacob berusaha untuk berpikir jernih supaya menemukan jalan terbaik untuk ia lewati bersama istrinya.
"Ayo, aku mau ketemu sama Alesha," Ucap Jacob seraya bangkit.
"Tuan, Nyonya Laura sedang dalam perjalanan untuk menuju ke sini," Ucap Taylor.
"Biarkan saja, aku sangat ingin bertemu dengan Alesha saat ini," Balas Jacob sembari berjalan.
Yang ada dalam pikiran Jacob kali ini adalah meminta maaf, meminta maaf, dan meminta maaf, atau mungkin menerima hukuman setimpal yang akan Alesha berikan nanti.
Jacob siap, ia akan sangat siap asal Alesha tidak marah lagi padanya.
Dalam perjalanan, Jacob terus saja menangis kecil sembari menatapi wajah manis Alesha melalui layar ponselnya. Jacob memutar kembali kenangan ketika ia dan Alesha berada di rumah pohon, lalu mereka berciuman di pinggir pantai, dan mereka saling bercanda ria berdua menghabisi waktu hingga larut malam di tepian pantai. Jacob ingat bagaimana ia saat pertama kali menyadari kalau ia menaruh rasa pada Alesha, dan saat itu Alesha harus tertembak karna ulah Mack, lalu ketika di rumah sakit, Jacob tidak lupa saat Alesha memakaikannya sebuah mahkota bunga yang dibuat oleh tangan Alesha sendiri langsung saat itu juga.
Jacob rindu masa-masa itu, Jacob rindu Alesha yang selalu jahil, dan kadang kala membuatnya geram namun gemas kala itu. Remaja manis itu kini telah menjadi seorang ibu, Jacob bersyukur karna Alesha adalah ibu dari anaknya, tapi Jacob kecewa pada sikapnya sendiri.
Harapan Jacob saat ini adalah semoga Alesha mau memaafkannya.
*****
Sesampainya di rumah sakit, Jacob segera bergegas menuju ruang rawat inap istrinya. Ia sungguh gelisah, perasaannya bercampur aduk, rasanya ingin segera ia sampai lalu menatap wajah manis Alesha.
Ceklek
Jacob menekan gagang pintu, lalu setelah itu ia pun melewati ambang. Sedikit terkejut karna Jacob mendapati Alesha yang tengah menangis dalam pelukan Nina.
"Assalamualaikum..."
"Waallaikumussalam..." Jawab Alesha, dan Nina bersamaan seraya melirik ke arah Jacob.
"Nina, bisa gak kalau kamu keluar dulu," Pinta Jacob, pelan.
Nina terdiam sejenak ketika mendapati ucapan itu dari suami temannya.
"Yaudah, Ok," Nina mengangguk. "Sha, aku keluar dulu ya," Sambung Nina.
Alesha tidak membalas, ia terdiam dingin dengan tatapan datar. Ia bukan marah pada Nina, sama sekali tidak, tapi ia malas saja dengan kehadiran suaminya.
"Assalamualaikum..." Ucap Nina seraya melangkah pergi dari ruang itu.
"Waallaikumussalam..." Balas Alesha, datar.
"Permisi," Ucap Nina ketika melewati Jacob.
Jacob pun hanya mengangguk kecil sebagai balasannya. Lalu setelah itu, Jacob berjalan menghampiri istrinya yang begitu dingin, dan kaku tanpa menggerakkan pupil matanya ke arah lain.
"Alesha..." Panggil Jacob, lirih.
"Lil Ale...." Panggil Jacob, lagi.
"Sayang...." Kini telapak tangan Jacob mulai membelai pelan permukaan wajah istrinya.
"Aku menyesal......" Air mata kembali mengaburkan pandangan Jacob. "Maafkan aku, Alesha....." Dan satu tetes pun meluncur diikuti oleh tetesan-tetesan lain.
"Sayang, jangan diam seperti itu," Jacob mengguncang pelan bahu istrinya.
Sedangkan Alesha yang memang enggan untuk berkomunikasi dengan suaminya itu pun hanya terdiam, dan terus menerus diam. Ia tidak perduli mau seberapa banyak Jacob meminta maaf, jika rasa sakitnya belum sembuh, maka mungkin Alesha masih enggan untuk berbaikkan dengan suaminya. Biarkan saja, Alesha sengaja melakukan ini supaya Jacob semakin sadar, dan merasakan apa yang Alesha rasakan waktu itu. Diacuhkan, dihiraukan, dibilang mengganggu lah, membuang-buang waktu lah, biarkan saja, Alesha melakukan ini sebagai teguran keras untuk suaminya. Ia juga ingin melihat, seberapa jauh, dan kuat Jacob dapat bertahan dalam posisi itu.
Maaf, Mr. Jacob, Alesha lakuin ini supaya Mr. Jacob bisa mikir. Selama ini Alesha berusaha buat tahan, dan lupain apa yang udah Mr. Jacob lakuin sama Alesha, Alesha berusaha buat maafin, dan mentoleransi, tapi sekarang Alesha udah cape, dan bener-bener kecewa. Sekarang rasain dulu apa yang bakal Alesha lakuin. Semoga dengan begini Mr. Jacob bisa lebih baik lagi sama Alesha. Mr. Jacob harus bisa bedain dulu sama sekarang, dulu Mr. Jacob bisa seenaknya bentak, dan marahin Alesha karna emang dulu udah kewajiban, dan tanggung jawab Mr. Jacob buat ngedidik, dan ngajarin supaya Alesha sama yang lain bisa lulus sesuai harapan WOSA, dan SIO. Alesha juga ngewajarin hal itu kok. Mr. Jacob keras karna pengen Alesha sama yang lain bisa jadi yang terbaik, dan itu udah terbukti, Mr. Jacob. Tapi sekarang udah beda, kita udah nikah, dan jelas tugas sama tanggung jawab pun udah berubah. Semoga dengan begini bisa jadi tamparan keras buat Mr. Jacob........... Curah Alesha dalam hatinya sendiri.
"Alesha, maafkan aku sayang, jangan seperti ini...." Jacob memejamkan matanya kala tangisan itu pecah. Jacob sudah tak kuasa, hukuman seperti inilah yang mesti ia terima? Alesha mengacuhkannya, dan bersikap dingin tanpa mau menunjukkan ekspresi apapun untuk memberikan sedikit saja respon.
"Alesha, tolong, maafkan suamimu ini, aku menyesal, Alesha, tolong jangan hukum aku seperti ini, sayang," Jacob yang kian tak kuat atas apa yang Alesha berikan pun kini hanya bisa memeluk tubuh sang wanita tercinta kuat-kuat. Sesakit inikah rasanya diacuhkan? Lalu bagaimana dengan perasaan Alesha saat ia membentak, dan memarahinya? Apalagi waktu itu ia pernah membuat Alesha menangis, padahal saat itu Alesha hanya ingin sedikit perhatian darinya.
"Alesha, sayang, maafkan aku, hiks......"
Alesha diam, walau tubuhnya dapat merasakan dengan jelas bagaimana kencangnya tubuh Jacob yang bergetar karna Jacob memeluknya dengan sangat erat.
"Alesha....." Jacob menundukkan wajahnya, menelusup pada lelukan leher istrinya.
"Sayang, aku mencintaimu....." Bisik Jacob.
Selama beberapa saat, dalam ruangan itu hanya terdengar isak tangis Jacob yang meratapi kesalahan juga nasibnya. Namun meski begitu Jacob masih enggan melepaskan dekapan tubuhnya dari tubuh Alesha.
"Katakan padaku apa yang harus aku lakukan supaya kau mau memaafkanku, Alesha.." Mohon Jacob.
Hening.......
"Alesha.... Lil Ale bicaralah..... Hiks, aku mohon...."
Alesha acuh, ia malah beralih mengambil ponsel yang berada tepat dihadapannya.
"Hallo, Sulis. Boleh gak kalau aku ketemu sama Alshiba sekarang? "
"......."
"Owh, oke, aku tunggu ya."
"....."
"Oke, makasih Sulis yang cantik."
Peralihan. Itulah yang akan Alesha lakukan, ia malas meladeni suaminya, ia juga kasihan pada suaminya, tapi mau bagaimana lagi? Itu harus Alesha lakukan supaya suaminya sadar.
Tidak lama kemudian, Sulis pun tiba, otomatis Alesha langsung melepaskan pelukan suaminya.
"Ayo, bantuin aku jalan," Pinta Alesha pada Sulis.
Sulis yang paham pun segera menuruti permintaan kawannya itu. Sebenarnya Sulis juga sempat sedikit terkejut kala mendapati Jacob yang tengah menangis tersedu-sedu sembari memeluk Alesha.
Pasti lagi minta maaf.
Begitulah pikir Sulis.
"Ayoo," Ajak Alesha.
"Alesha, sayang...." Jacob melangkahkan kakinya secepat mungkin untuk menghalau supaya Alesha tidak pergi. "Aku mohon, sayang." Jacob menangkap wajah istrinya seraya menatap lekat penuh keyakinan.
Alesha segera menepis kasar, dan kembali berjalan.
"Alesha, aku sadar aku salah, tolong jangan seperti ini....." Jacob yang sudah benar-benar pasrah pun akhirnya bertekuk lutut tepat dihadapan istrinya. Jacob tertunduk, membiarkan air mata berjatuhan menghantami lantai.
Tetapi Alesha masih teguh pada apa yang sedang ia jalani demi membuat sang suami jera. Ia tidak perduli, lebih tepatnya ia benar-benar tidak perduli, meski hati kecilnya menangis karna kasihan melihat Jacob.
"Ayo Sulis."
Alesha tersenyum palsu. Lalu melangkah begitu saja melewati suaminya.
Maafin Alesha, Mr. Jacob........ Itulah yang terakhir Alesha ucapkan dalam hati sebelum ia memilih untuk meninggalkan suaminya.