May I Love For Twice

May I Love For Twice
Kebersamaan Lagi



Malam sudah berapa pada pukul tujuh tiga puluh. Jacob masih setia duduk disisi kasur pasien dan menemani Alesha yang sudah terlelap. Sesekali Jacob mengusap pelan pipi Alesha dan memperhatikan pergerakan napas Alesha. Rasa takut masih mendiami hati Jacob saat melihat Alesha yang begitu tenangnya terlelap, sedangkan Jacob, ia takut kalau kondisi Alesha akan kembali memburuk.


Sebuah ketukan dan suara pintu yang terbuka membuat Jacob tersadar dari lamunannya. Ditatapnya seorang wanita yang membawakan nampan berisi bubur, buah, dan susu untuk Alesha. Setelah meletakkan nampan berisi makanan itu diatas meja, wanita itu segera berpamit pada Jacob dan pergi meninggalkan ruangan.


"Alesha." Jacob mengguncang pelan tubuh Alesha.


Gerakan kecil dari tubuh Alesha menandakan kalau gadis itu merasa terusik. Jacob bernapas lega setelah Alesha memberikan respon saat ia membangunkan Alesha.


"Ayo bangun, kau harus makan dulu." Jacob menepuk pelan pipi Alesha.


"Engh. Aku masih ngantuk." Balas Alesha sambil mengerjapkan matanya beberapa kali.


"Kau bisa melanjutkan tidurmu saat kau sudah menghabiskan makananmu." Ucap Jacob seraya membantu Alesha bangun untuk duduk bersandar.


"Aku sedang tidak mau makan, Mr. Jacob. Aku tidak lapar." Ucap Alesha.


"Dua hari kau tidak makan, tubuhmu butuh asupan." Balas Jacob sambil membawa nampan berisi makanan itu.


"Bubur?" Alesha menatap jijik pada bubur yang ada dimangkuk. "Tidak aku tidak mau makan itu." Alesha menggelengkan kepala dan menutup mulut dengan telapak tangannya.


"Bubur ini enak, Al." Ucap Jacob yang mulai bersabar menghadapi tingkah Alesha.


"Tidak, aku makan buahnya saja, aku tidak mau buburnya." Tolak Alesha.


Jacob menghembuskan napasnya dengan kasar. "Makan ini!" Jacob menyodorkan sendok berisi bubur itu pada Alesha.


"Tidak mau!" Balas Alesha.


"Alesha!" Sorotan tajam dari mata Jacob membuat Alesha takut. Mentornya itu kadang menyeramkan saat marah. "Makan ini!" Paksa Jacob.


Dengan pasrah Alesha menerima suapan sendok berisi bubur itu dari tangan Jacob. Dalam hatinya, Alesha merutuki sikap Jacob yang tiba-tiba menjadi galak. Jacob memang sangat menyebalkan menurut Alesha, apalagi kalau sudah memerintah, apapun harus selalu dituruti. Alesha mendengus kesal dan menatap tajam pada Jacob melalui sudut matanya.


"Kenapa? Kau marah?" Jacob menatap balik Alesha.


Tidak ada jawaban dari Alesha, gadis itu hanya mengalihkan pandangannya pada sudut lain di dalam ruangan itu. Sambil terus mengunyah, Alesha merasakan sesuatu yang bergejolak diperutnya. Rasa mual menjalar keseluruh tubuh Alesha.


Pipi Alesha mengembung saat ia mencoba menahan sesuatu agar tidak keluar dari dalam mulutnya.


"Alesha, kau kenapa?" Tanya Jacob yang mulai panik. Alesha menggerak-gerakkan telapak tangannya sebagai isyarat pada Jacob kalau Alesha tidak bisa melanjutkan makannya lagi dengan bubur penyebab rasa mual itu.


Jacob mengerutkan keningnya. "Aku akan panggil dokter."


Alesha menggeleng dan menahan lengan Jacob yang akan menekan sebuah tombol yang menempel pada dinding tembok.


"Jangan, aku tidak apa-apa, aku hanya mual karna bubur itu. Aku sudah bilang aku tidak menyukai bubur itu." Ucap Alesha.


"Kau yakin?" Tanya Jacob.


"Tentu, aku tidak apa-apa, hanya saja jangan beri aku bubur itu lagi, bisa-bisa rasa mualku semakin bertambah." Jawab Alesha.


Jacob mengedikkan bahunya. "Baiklah."


Alesha bernapas lega setelah akhirnya ia tidak perlu memakan bubur itu lagi. Diambilnya oleh Jacob piring berisi buah mangga yang sudah dipotong dadu. Pria itu segera menusukan potongan mangga itu dengan garpu dan memberikannya pada Alesha.


Alesha terkekeh saat melihat tangan Jacob yang kembali mendekat kemulutnya. Bukan karna perlakuan manis Jacob yang berniat menyuapi Alesha dengan potongan mangga yang ditusuk oleh garpu itu, melainkan gelang pertemanan yang Alesha berikan pada Jacob, dan mentornya itu masih mengenakannya hingga sekarang.


"Kau masih memakai gelang itu?" Tanya Alesha sambil meraih garpu berisi potongan mangga yang Jacob sodorkan. Dilahapnya potongan mangga itu oleh Alesha dan merasakan sensasi manis segar pada mulutnya.


"Aku tidak pernah melepasnya." Jawab Jacob dengan santai.


"Sungguh? Bagus kalau begitu, aku juga tidak melepaskan ini." Alesha mengangkat tangannya dan menunjukan gelang yang sama yang masih ia pakai.


Jacob tersenyum kecil. Ia selalu menjaga gelang yang Alesha beri, maka dari itu Jacob selalu memakainya.


"Kalau pulang ke Indonesia, aku ingin beli lebih banyak gelang seperti ini lagi untuk dibagikan ketemuan-temanku di WOSA." Ucap Alesha sambil memutar-mutarkan pergelangan tangannya.


"Aku ingin cepat sembuh, aku ingin belajar lagi, berapa hari aku tidak belajar? Dan sekarang aku harus kembali ke rumah sakit lagi." Alesha menghela napasnya dengan sabar. "Maaf, aku merepotkan kalian."


Tatapan sendu yang Alesha layangkan membuat kesedihan dalam hati Jacob.  Bahkan Jacob sungguh tidak tega melihat Alesha yang masih dalam keadaan lemah seperti ini, kondisi tubuhnya pun masih tidak bisa diprediksi. Doa terbaik selalu Jacob ucapkan secara diam-diam dalam hati dengan berharap kalau Alesha akan segera pulih dan aktif lagi.


Gadis yang biasanya begitu ceria dan penuh kelucuan saat ini hanya bisa terdiam tanpa boleh banyak melakukan gerakan karna itu akan memengaruhi kondisinya. Dengan penuh rasa prihatin, Jacob memegang bahu Alesha.


"Kau akan segera pulih, cepat atau lambat. Aku berjanji kalau aku tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada kondisimu saat ini." Ucap Jacob yang meyakinkan Alesha. Senyum hangat dari Jacob mampu membuat Alesha merasa sedikit tenang.


"Aku hanya takut jika aku memejamkan mataku lagi," Alesha menjeda sesaat ucapannya. "Setelah itu aku tidak bisa melihat kalian lagi, juga kakekku di Indonesia." Alesha menjadi murung. Bahkan ia merasakan ketakutan yang sama seperti Jacob.


"Tidak!" Jacob menggenggam lengan Alesha dengan erat. Matanya terpejam dan ia menepis semua pikiran buruk yang mulai memasuki kepalanya. "Jangan katakan itu, kumohon." Jacob menunduk dan mengedipkan matanya beberapa kali.


"Apa yang terjadi jika seandainya hal itu terjadi padaku?" Alesha kembali murung.


"Alesha!" Sebuah bentakan terlontar dari mulut Jacob dan membuat Alesha terkejut. Alesha menatap kaget pada Jacob yang terlihat sedang mengatur emosinya.


"Maaf.." Gumam Jacob. Sekali lagi Jacob memejamkan mata dan menarik napas untuk menenangkan dirinya. "Kau akan segera pulih, dan jangan pernah katakan hal itu lagi." Lanjut Jacob dengan nada yang sedikit melembut.


Alesha hanya menjawab dengan anggukan. Ia jadi merasa takut saat melihat bahkan merasakan emosi Jacob yang tadi sempat menghampiri, dan untungnya, mentornya itu mampu untuk mengendalikan emosi sehingga Alesha bisa merasa sedikit lebih tenang ketika melihat tatapan Jacob yang kembali menghangat.


Kedua iris coklat milik Alesha seketika tertegun saat secara tidak sadar ia dan mentornya saling beradu tatapan. Dua manik itu tidak bisa bergerak kelain arah selain benda kecil berwarna hitam yang merupakan bagian dari bola mata milik mentornya. Seolah ditarik masuk semakin dalam menuju titik dimana Alesha dapat merasakan dirinya yang mulai tidak seimbang. Antara sadar mau pun tidak, Alesha dapat menyadari tatapan mata Jacob yang membawanya semakin tenggelam dalam dua iris hitam itu. Kekakuan yang tubuhnya rasakan kini menjadikan Alesha seolah ada yang sedang mengendalikan pikirannya.


Dengan gerakan samar, perlahan Jacob memajukan tubuhnya hingga hanya berjarak beberapa centimeter saja dengan Alesha. Wajahnya semakin mendekat pada Alesha yang masih tertegun. Apa mungkin Jacob menghipnotis Alesha?


Smirk pada sudut bibir Jacob pun terbentuk. Pria itu segera mengangkat tangannya dan membelai pipi Alesha pelan.


"Hey, ada apa?" Tanya Jacob dengan lembut.


Dikala waktu yang begitu hangat untuk Jacob dan Alesha, tiba-tiba saja seseorang membuka pintu ruangan tersebut. Sosok dua orang lelaki, yaitu Bastian dan Levin sudah kemanli dari kantin, dan saat itu pula Bastian tertegun ketika melihat pemandangan yang sedang berlangsung dihadapannya itu, mentornya bersama Alesha ada dalam jarak yang begitu dekat dan sangat serasi. Levin yang melihat kejadian itu hanya mendengus.


Alesha pun terkesiap dan menggelengkan kepalanya pelan. Ditatapnya Levin dan Bastian yang tiba-tiba muncul dalam situasi yang sedang tidak mendukung. Dikerjapkannya beberapa kali bola mata yang mungkin akan menjadi candu bagi mentornya. Ekspresi Alesha sulit dijelaskan, terlalu banyak pertanyaan yang kini masuk dalam benak dan pikiran gadis itu. Jacob sendiri mengabaikan Levin dan Bastian yang tiba-tiba masuk, ia masih fokus menatapi wajah Alesha yang sangat alami dan begitu manis.


"Alesha, jangan banyak berpikir." Ucap Jacob dengan lembut.


Kedua mata gadis itu kembali menatap iris gelap milik mentornya.


"Mr. Jacob, bisa kau mundur sedikit?" Pinta Alesha.


"Kau lihat? Itu adalah makanan sehari-hariku saat aku ikut menjaga Alesha beberapa hari yang lalu di rumah sakit juga." Ucap Levin dengan malas.


Bastian tidak menjawab. Ia masih tertegun dan tidak percaya dengan pemandangan yang baru saja ia lihat.


"Mr. Jacob, mundur lagi." Alesha mendorong pelan dada Jacob untuk lebih menjauh lagi dari dirinya. "Dan jangan tatap aku seperti itu." Alesha membelokkan wajah Jacob agar mentornya itu tidak terus menerus menatapnya. Wajah Alesha sedikit memerah karna ulah Jacob itu.


Levin berdecak dan mendengus. Ia bersandar pada sofa dan mulai memainkan ponselnya.


"Kenapa memangnya?" Goda Jacob yang kembali menatap Alesha.


"Mr. Jacob!" Pekik Alesha.


Jacob terkekeh dan mendekatkan wajah pada Alesha lagi, namun dengan cepat Alesha segera menahan wajah Jacob dan kembali memundurkannya. Tidak peduli kalau Alesha akan dianggap songong atau apa, Jacob kadang menyebalkan kalau sudah bercanda.


"Apa kalian selalu seperti ini?" Tanya Bastian.


"Ya."


"Tidak!" Alesha menatap tajam pada Jacob.


"Kau jangan berpikir macam-macam, Bas!" Tatapan tajam Alesha segera teralihkan pada Bastian.


Bastian mengerutkan keningnya. Jadi Alesha memang tidak tahu kalau Jacob memang menyukainya. Begitulah pikir Bastian. Kekehan kecil terpampang pada wajah Bastian.


"Setidaknya kau tidak tahu seberapa menyebalkannya Mr. Jacob!" Alesha mendengus.


"Sungguh?" Rayu Jacob.


"Ya, anak-anak Luxury-1 harus tahu seberapa menyebalkannya mentor mereka." Balas Alesha sambil melipatkan kedua tangannya.


"Bagaimana kalau hanya kau saja yang tahu seberapa menyebalkannya mentormu ini?" Jacob mengangkat sebelah alisnya dengan senyum menggoda.


"Drama dimulai." Ucap Levin dengan malas.


"Cukup, aku ingin istirahat," Alesha mendengus. "Dan kau, men-ja-uh-lah!" Alesha mendorong kedua bahu Jacob dengan jari telunjuknya.


Perasaan gemas merasuki diri Jacob, ingin sekali ia mencium jari-jari Alesha yang menyentuh bahunya itu.


"Habiskan dulu buahnya." Ucap Jacob sambil menyodorkan garpu yang berisi potongan mangga.


"Tidak!" Tolak Alesha.


"Kau harus makan dulu,Al." Jacob menahan lengan Alesha agar Alesha tidak kembali berbaring.


Alesha berdecak. "Aku hanya ingin istirahat, aku tidak lapar."


"Makan dulu." Jacob meraih wajah Alesha dan memasukan potongan buah mangga itu kedalam mulut Alesha.


Bastian terkekeh dan berusaha menahan tawanya saat melihat perilaku Jacob yang begitu perhatian pada Alesha.


"Tidak usah senyum-senyum." Sindir Levin.


"Selamat malam, semua." Sapa Laura yang tiba-tiba saja masuk dan membuka pintu ruangan bersama Irene yang berada tepat di belakangnya.


Jacob terkejut seketika saat mendapati ibunya dan sekretaris cantik itu datang. Irene tersenyum manis saat matanya bertemu dengan Jacob. Wanita begitu sumringah saat CEOnya, Laura mengajaknya menuju rumah sakit untuk menemui Jacob.


Jacob pun mendengus kesal. Wajah bahagianya kini berubah menjadi ekspresi masam dan begitu dingin. Alesha mengkerut keningnya saat mendapati ekspresi wajah Jacob yang secara tiba-tiba berubah drastis.


"Malam, tuan Jacob." Sapaan manis dari Irene untuk Jacob. Senyuman sekilas menjadi respon Jacob atas sapaan yang Irene berikan.


"Kau sudah bangun? Syukurlah." Ucap Laura seraya mengelus pelan rambut Alesha.


Kini, Irene memposisikan dirinya berada tepat disisi Jacob, dan secara diam-diam berniat untuk mengambil perhatian pria yang kini menjadi daya tariknya.


"Kau sudah makan?" Tanya lembut Laura pada Alesha.


Alesha terdiam, ia bingung akan menjawab apa. Berbohong atau jujur saja?


"Apa Jacob tidak memberikanmu makan?" Tanya Laura lagi.


Alesha mengerutkan keningnya. Satu sisi ia bingung siapa wanita paruh baya yang sedang mengajaknya bicara itu, dan disisi lain ia bingung kenapa Laura menanyakan hal seperti itu?


"Baiklah, kalau kau bingung menjawab." Laura mengangguk pelan. "Kalau begitu siapa namamu, kau sangat manis?"


"Aku Alesha Sanum Malaika." Jawab Alesha yang gugup. Aura Laura begitu kuat, bahkan Alesha saja tidak bisa berkutik saat bersebehalan dengan ibunda mentornya itu.


"Nama yang bagus." Puji Laura. "Oh, ya kenalkan, dia Irene, sekretaris saya." Laura menunjuk pada Irene.


"Alesha." Ucap Alesha yang tersenyum pada Irene.


"Irene." Balas Irene dengan senyuman manis pula tentunya.


"Berapa usiamu?" Tanya Laura lagi.


"Delapan belas tahun." Jawab Alesha masih dengan perasan yang gugup.


"Masih sangat muda." Laura terkekeh. "Aku membawakan roti ini untukmu." Ucap Laura sambil menunjuk sebungkus roti dengan berbagai rasa yang dibawa oleh Irene.


"Berikan pada dia." Perintah Laura pada Irene.


"Ini." Irene segera memberikan bungkusan roti itu pada Alesha.


"Terima kasih." Balas Alesha yang tersenyum manis pada Irene juga Laura.


Jacob menatap waspada pada bungkusan roti yang ibunya berikan pada Alesha. Rasa curiga mulai memenuhi pikirannya.


"Tidak usah menatap seperti itu, Jack, aku tidak meracuni roti itu." Sindir Laura yang menyadari tatapan waspada Jacob yang ditujukan pada roti yang diberikan untuk Alesha.


Jacob yang mendengar itu segera membuang wajah.


Aku berharap lebih baik kau tidak usah datang.... Ucap Jacob dalam hati.