
(Warning! 17+ area! Authornya gelagapan sendiri bikin part ini๐ bijak dalam membaca ya๐)
Perjalanan pulang tidak terasa cepat seperti yang biasa orang rasakan. Alesha malah merasa kalau waktu kian melambat saat Alesha kembali mengingat bagaimana pengorbanan mentornya yang rela bertaruh nyawa. Alesha tidak habis pikir, sebesar itukah tanggung jawab seorang mentor? Tapi Alesha merasakan hal lain. Bukan sebagai seorang mentor, tapi Alesha merasa kalau Jacob melakukan itu karna hal lain. Alesha tidak mengerti kenapa kecurigaan itu tiba-tiba saja tumbuh dalam benaknya. Sikap sang mentor yang selalu saja over protective membuat Alesha bingung akan pertanyaannya dalam kepalanya sendiri.
Jacob yang kini tertidur dengan bersandar pada pintu mobil pun tidak luput dari tatapan Alesha.
Apa dasarmu melakukan itu semua? Apa memang sebesar itukah tugas seorang mentor hingga berani bertaruh nyawa demi anak muridnya? Kenapa aku mencurigai sesuatu?...... Ucap Alesha dalam hati.
Tangan Alesha terangkat untuk menyentuh pipi mentornya.
Kau sangat baik dan penyayang, sayangnya kau kehilangan seseorang yang sangat berharga dalam hidupmu. Beruntung sekali Yuna bisa dicintai oleh pria sepertimu, Mr. Jacob...... Ucap Alesha dalam hatinya, sedangkan ia sendiri tidak menyadari kalau Levin yang sedang mengemudi melirik ke arahnya melalui kaca yang menggantung pada atap mobil.
Sentuhan halus dari tangan Alesha dapat Jacob rasakan pada pipinya, hanya saja ia enggan membuka mata dan tetap berpura-pura tertidur agar Alesha tidak melepaskan sentuhannya.
Aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan saat ini, Al, hanya saja yang perlu kau tahu nanti adalah aku melakukan semua ini karna aku menyayangimu, aku tidak ingin kehilangan sosok yang berharga dalam hidupku untuk yang kedua kalinya. Aku akan lakukan apapun untuk bisa mempertahankanmu..... Ucap Jacob dalam hati.
Tidak ada sepatah kata pun yang terucap selama perjalanan di dalam mobil itu. Semua hening dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
Jalan yang begitu sepi menjadi penentu lamanya perjalanan. Levin melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata, sedangkan Bastian, ia tertidur pulas.
"Alesha, kau tidak tidur?" Tanya Levin.
"Tidak, aku tidak mengantuk." Jawab Alesha dengan pelan.
Levin sebenarnya khawatir dengan kondisi Alesha, bahkan ia sedikit gelisah walau Alesha terlihat biasa saja.
Keheningan yang terjadi didalam mobil mengantarkan waktu agar berjalan mulai cepat. Semua yang berada didalam mobil hanya menikmati waktu yang kian berlalu hingga akhirnya mereka sampai pada istana modern milik Laura itu.
"Mr. Jacob, kita sudah sampai." Alesha menepuk pelan pipi Jacob untuk membangunkan mentornya yang tidak tertidur.
Jacob pun membuka matanya dan langsung menatap kedua mata Alesha.
"Ayo." Ajak Jacob seraya membuka pintu mobil dan bergerak keluar. Levin sudah terlebih dahulu keluar dari dalam mobil pun segera membantu Jacob untuk berjalan. Jujur saja, kalo boleh bilang saat ini Jacob benar-benar merasakan tubuhnya yang seperti sedang dihantam oleh benda besar dan ototnya yang seperti tidak berdaya. Namun Jacob bukan tipe pria yang lemah, ia tidak mau bermanja-manja hanya karna saat ini ia sedang merasakan tubuhnya yang remuk akibat pergelutan yang tidak seimbang tadi. Biasanya Jacob hanya akan beristirahat saja untuk memulihkan kembali kekuatan tubuhnya. Rasa sakit dan luka-luka itu akan sembuh dengan sendirinya, itulah yang biasa terjadi pada Jacob. Jadi, intinya ini bukanlah hal yang asing untuk Jacob.
"Alesha!" Seru Bastian sambil menahan tubuh Alesha yang oleng dan hampir saja terjatuh.
"Kepalaku sakit, Bas." Lirih Alesha sambil memegangi kepalanya.
Jacob yang mendengar hal itu pun segera melepaskan tubuhnya dari bantuan Levin, ia berjalan cukup tertatih dan mendekati Alesha.
"Alesha.." Panggil Jacob yang mulai mengkhawatirkan gadisnya itu.
"Aku tidak apa-apa, Mr. Jacob, hanya sedikit sakit dikepalaku." Ucap Alesha yang berusaha untuk bersikap biasa saja agar tidak membuat rasa khawatir yang berlebih pada diri mentornya itu.
"Aku baik-baik saja." Alesha mengembangkan senyumnya agar membuat Jacob yakin kalau ia baik-baik saja, padahal rasa sakit kian bertambah dikepalanya.
"Jacob!!" Panggil Laura sambil berlari untuk menghampiri anaknya.
"Jacob, apa yang terjadi padamu?" Tanya Laura dengan sangat khawatir karna melihat beberapa luka lebam pada wajah Jacob.
"Dia menghabisi tujuh anak buah Mack sendirian, termasuk Mack sendiri yang berhasil Jacob bunuh." Jawab Levin.
"Apa?!" Lengkingan suara dari Laura membuat beberapa orang yang berada didekatnya menjadi terlonjak kaget. "Bagaimana bisa?" Laura menyentuh pelan wajah anaknya itu.
"Ini semua karnaku, Nyonya, maaf, Mr. Jacob melakukan itu semua karna ia berusaha untuk melindungiku dari Mack dan anak buahnya." Ucap Alesha dengan pelan. Kepalanya tertunduk, dan rasa bersalah kembali memasuki lubuk hatinya.
"Mack berniat untuk membunuhku, dan juga Mr. Jacob." Lanjut Alesha.
"Dasar tak berguna!" Laura menggeram marah. Bukan karna Alesha yang sudah membuat anaknya menjadi babak belur hanya karna untuk melindungi gadis itu, tapi karna kemarahannya pada Mack yang dengan beraninya melukai anak lelaki Laura satu-satunya.
"Cepat panggil dokter pribadiku, suruh dia untuk langsung pergi ke kamar Jacob!" Perintah Laura pada asisten pribadinya.
"Tidak, aku tidak apa-apa." Tolak Jacob.
"Tidak apa-apa bagaimana? Jelas-jelas kau terluka dan banyak sekali lebam pada wajahmu, Jack!" Balas Laura. Wanita paruh baya itu sangat amat mengkhawatirkan kondisi anaknya saat ini.
Tidak mau banyak bicara lagi, Laura pun segera membawa Jacob menunjuk kamar, sedangkan Jacob, ia malah mengkhawatirkan Alesha.
Mereka berpisah saat sudah berada dilantai dua, Jacob pergi ke kamarnya, dan Alesha pergi ke kamar tamu yang ia tempati.
"Aku baik-baik saja, tidak usah berlebihan." Ucap Jacob pada ibunya.
"Kau terluka, lihat! Itu luka lebam!" Balas Laura. "Sekarang duduk dan biarkan dokterku memeriksamu!"
Jacob menghembuskan napasnya dengan kasar. Sedangkan Laura, ia tidak perduli jika anaknya itu marah. Menurut Laura, kesehatan anaknya adalah yang paling utama, dan hati Laura begitu sakit ketika melihat banyak luka lebam yang mewarnai tubuh anaknya itu.
Ibu melakukan ini karna ibu sangat menyayangimu, Jack. Ibu tidak akan membiarkan anak ibu terluka. Ibu sangat amat menyayangimu walau sebenci apapun kau kepada ibumu ini..... Ucap Laura dalam hati.
***
Alesha membaringkan tubuhnya di atas kasur setelah ia mengganti bajunya yang kotor karna tanah dengan baju piyama lain yang tentunya bersih, wangi, dan nyaman.
"Kenapa aku merasakan hal lain? Kau sangat perhatian padaku, dan bahkan kau membuat dirimu sendiri dalam bahaya. Mr. Jacob, kau membuatku merasa bingung."
Alesha termenung sendiri dalam hening ruang kamar yang bercahaya dari lampu redup.
"Aku selalu menyangkalnya dan aku juga tidak mau kegeeran, lagi pula bagaimana mungkin kau bisa menyukaiku? Mungkin kau memang pria yang sangat baik, dan aku terlalu berpikir lebih tentangmu."
Alesha menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Tidak, tidak, Alesha gak boleh kegeeran dulu, Mr. Jacob itu emang baik, bukan berarti dia suka sama Alesha."
Perdebatan pun terjadi antara pertanyaan apakah Jacob itu menyukai Alesha, dan pernyataan kalau Jacob itu memang menyukai Alesha. Dilema itu membuat Alesha tidak dapat menjadi moderator untuk pikirannya sendiri. Ia tidak bisa mengendalikan perdebatan antara Si Pertanyaan dengan Si Pernyataan.
Tunggu.
Kenapa Alesha menjadi gelisah seperti itu? Harusnya ia bersikap biasa saja.
"Halah bodo amat lah, bisa tambah pusing nih pala, mau suka mau engga juga bodo amat, mendingan Alesha tidur." Ucap Alesha yang sudah menyerah akan pikirannya sendiri. Ia lebih memilih untuk menutup matanya dan mulai berlabuh menunju pulau mimpinya yang mungkin saja bisa memberikan jawaban untuknya.
***
Waktu seolah berlari, dan matahari pun kini sudah kembali. Jam pada dinding tidak menunjukkan ketidak kejelasan karna terlihat begitu samar. Sebuah lengan tiba-tiba saja meraih tangan Alesha dan membawanya menuju taman belakang. Alesha hanya bisa menurut dan mengikuti langkah mentornya yang membawanya kesebuah bangku kecil yang sudah tersedia di tengah-tengah taman itu. Mereka berdua duduk saling bersebelahan dan membenamkan pikiran masing-masing tanpa ada yang mulai membuka pembicaraan.
Pikiran Alesha bergerak menelusuri sebuah labirin yang terbuat dari pertanyaan yang sejak kemarin membangkitkan kepenasaranannya. Ucapan Levin yang mengatakan kalau Alesha tahu yang sebenarnya mengenai sikap mentornya itu, namun sayang, Alesha tidak menyadari hal itu. Tapi semakin Alesha menebak-nebak apa yang Levin maksud, sebuah jawaban yang meragukan lah yang menjadi hasil dari tebakkannya. Apa mungkin mentornya itu menyukai Alesha? Tapi sangat tidak mungkin untuk Alesha jika itu adalah benar. Lagi pun kenapa Jacob harus menyukainya? Tapi Alesha bingung kenapa hatinya terus saja merasakan hal yang janggal terhadapnya sikap Jacob kepada Alesha dan kepada anggota tim yang lain. Apa hanya karna sebuah kedekatan lah yang membuat Alesha merasa kalau mentornya itu memperlakukannya secara khusus? Bagaimana kalau Jacob benar-benar menyukai Alesha? Pikir Alesha hal itu tidaklah mungkin. Yang Alesha tahu kalau mentornya itu masih belum bisa melupakan sosok kekasih yang sudah tiga tahun pergi tanpa diketahui keberadaannya.
Ya. Alesha mendapatkan satu point lagi dari dalam pikirannya. Yuna memiliki posisi penting dalam lubuk hati Jacob, mungkin saja Jacob ingin melupakan gadisnya itu dengan cara mengakrabkan dan mendekatkan diri dengan anggota timnya yang sekarang. Mungkin sedikit demi sedikit Jacob akan lupa dengan Yuna yang saat ini jiwanya sudah tidak lagi di dunia dengan cara membahagiakan dirinya bersama para anggota timnya yang sekarang.
Jacob yang menyadari tatapan dari gadis kesayangannya itu seketika terkekeh dan tertawa kecil.
"Aku tahu aku memang tampan, Al." Ucap Jacob yang berhasil menggubris kefokusan Alesha.
Alesha terlonjak lalu menggelengkan kepalanya beberapa kali setelah mendengar ucapan mentornya barusan. Malu! Itu adalah satu hal yang Alesha rasakan saat ini.
"Apa yang kau bayangkan tentangku hingga membuatmu tersenyum tadi?" Tanya Jacob sambil menyandarkan wajahnya pada lengan yang bertumpu diatas meja.
"Membayangkan kalau kau menyukaiku."
Jlebb...
Mata Alesha membulat dengan cepat dan mulutnya sedikit terbuka. Kaget, syok, apa yang ia katakan barusan? Kenapa kalimat itu bisa kabur begitu saja dari dalam mulutnya?
Garisan senyum pada wajah Jacob seketika berubah saat mendengar ucapan Alesha barusan. Kedua alis Jacob saling bertautan dan mulutnya terbuka. Kekehan kecil lepas begitu saja, dan Jacob berusaha untuk menahan tawanya.
"Kau membayangkan kalau aku menyukaimu?" Jacob pun tertawa. Hatinya kini memberikan respon yang sama dengan pikirannya. Kebahagiaan yang saat ini sedang bertamu membuat Jacob enggan untuk menghentikan tawanya.
Alesha menggigit bibir bawahnya, ia gugup, malu, dan salah tingkah. Apa yang harus ia jelaskan pada mentornya itu?
Ish bodoh banget sih kenapa bisa keceplosan gitu sih, Alesha.... Ucap Alesha dalam hati.
Sangat amat gugup, ingin kabur tapi tidak bisa, tapi malu jika harus terus berada didekat dengan mentornya untuk saat ini. Alesha harus bagaimana? Ia hanya bisa memandangi mentornya yang masih tertawa itu.
"Katakan lagi, Al, apa yang kau bayangkan tadi." Ucap Jacob dalam sela-sela tawanya.
Mulut Alesha membuka dan menutup, ia bingung harus berucap apa. Kenapa Alesha semakin merasa salah tingkah, kenapa ia dengan mudahnya mengucapkan kalimat tadi yang kini sukses membuat pusing dirinya sendiri.
"Aku menyukaimu?" Jacob menyerka air mata bahagia disudut kelopak matanya.
Alesha mengangkat sebelah alisnya dengan ekspresi yang masih menunjukan kebingungan akan penjelasan yang sebenarnya yang harus ia sampaikan agar mentornya itu tidak salah paham.
"Kau menyukaiku?" Goda Jacob yang kembali tertawa lepas.
Blushh...
Pipi Alesha memerah seketika setelah mendengar ucapan mentornya barusan. Pasrah, sudah tidak bisa Alesha sangkal lagi kalau saat ini ia benar-benar malu dihadapan mentornya. Kenapa Jacob mengatakan hal itu? Tidakkah Jacob tahu kalau saat ini Alesha sedang menahan segala sesuatu yang membuatnya ingin pergi dan kabur untuk menghindari mentornya.
Alesha menunduk. Sudah tidak tahu lagi bagaimana warna kulit wajahnya saat ini, yang pasti Alesha merasakan aliran darahnya yang membuat rasa panas disekujur tubuh.
"Mr. Jacob!" Alesha mendengus kesal.
"Kenapa? Apa kau akan menyukaiku jika aku menyukaimu? Hahahah." Jacob kembali tertawa setelah candanya barusan untuk Alesha.
"Tidak!" Balas Alesha. "Aku tidak bermaksud bilang seperti itu tadi, aku hanya...."
Jacob mengangkat sebelah alisnya lalu memandang Alesha dengan tatapan gemas.
"Aku hanya..." Lagi dan lagi Alesha kembali pada rasa gugup dan bingung.
"Hanya?" Jacob mendekatkan wajahnya pada Alesha. Tatapan mereka saling tarik menarik. Alesha tidak dapat bergeming atau bergerak sedikit pun. Jatuh dalam pesona yang baru Alesha sadari kalau mentornya itu sangat mengoda. Jacob seperti mengunci Alesha hanya dengan tatapan dari dua iris yang terlihat begitu menawan.
Aura Jacob yang memeluk erat tubuh Alesha dan wajah mereka semakin berada dalam jarak yang begitu sempit.
Jacob memajukan kembali wajahnya hingga bibirnya hanya berjarak beberapa milimeter dari mulut Alesha.
Jacob memiringkan wajahnya beberapa derajat hingga berada diposisi yang tepat untuk kembali merasakan sensasi lembut dari bibir Alesha.
Alesha membeku. Jantungnya berpacu sangat amat kencang saat wajah mentornya itu hanya berjarak beberapa centimeter saja dari wajahnya. Alesha tidak dapat memberontak, entah kenapa ia malah membiarkan pergerakan Jacob begitu saja, padahal Alesha sangat anti jika berada dalam jarak yang sedekat itu jika bersama dengan seorang lelaki.
Deru napas Jacob menabrak dinding kulit leher Alesha dan membuat tubuh Alesha bergidik.
"Jadilah kekasihku, Al." Bisik Jacob dengan sangat pelan.
"Katakan ya." Lanjut Jacob dengan sangat sesual. Alesha semakin jatuh dengan suara mentornya yang terdengar seperti lelaki yang sedang mendambakan sebuah gejolak hasrat yang sudah mendidih.
Alesha dapat mendengar suara detakkan jantungnya sendiri. Ia tidak tahu bagaimana tapi ia benar-benar merasakan tubuhnya yang menegang setelah mendengar ucapan mentornya barusan. Hati Alesha lemas, ia pasrah berada dalam posisi yang sangat menguntungkan mentornya itu.
Deg...
Deg...
Deg...
Alesha butuh alat penetralisir denyut jantung. Alesha takut ia terkena serangan jantung karna mentornya yang kini mulai memajukan kembali mulutnya dan siap ditabrakan dengan bibir ranum milik Alesha.
"Katakan ya, atau mengangguk lah." Lanjut Jacob dengan deru napas yang terdengar begitu seksi bersamaan dengan setiap kata yang terucap.
Syaraf manakah yang sudah membuat Alesha mengambil langkah asal hingga membuat kepalanya bergerak kebawah sekali dan keatas sekali.
"Kau pacarku sekarang, terima kasih, dan aku mencintaimu."
Cup...
Mata Alesha membulat seketika saat dengan jelas ia merasakan bibir mentornya itu mengecup lembut bibirnya. Memberikan sedikit usapan dan berusaha untuk membuka jalan agar bibir Alesha dapat terbuka. Begitu pelan dan lembut, hati-hati dan penuh dengan perhitungan. Alesha tidak menolak, ia hanya bisa terdiam saat sentuhan pada bibirnya itu terasa lebih nyata dan sangat jelas.
Tangan Jacob terangkat dan menopang tubuh Alesha tanpa melepaskan ciuman mereka, lalu kemudian Jacob membawa Alesha pada rerumputan lembut dan membaringkan tubuh kekasihnya itu di sana.
Sejenak Jacob melepaskan bibirnya dari lolipop manis yang kini menjadi candu baginya. Tangan Jacob menjadi bantal untuk kepala Alesha, dan Jacob memposisikan tubuhnya berada tepat diatas tubuh Alesha.
"Aku mencintaimu, Little Ale." Jacob kembali menaruh sentuhan indah dan membuat tubuh Alesha kembali menegang. Tangan Alesha terangkat dan mengalungkannya pada leher sang mentor yang kini sedang menikmati lolipopnya. Alesha tidak membalas setiap pergerakan, namun ia cukup menikmati semua yang mentornya itu lakukan. Alesha tahu dirinya sedang dilanda kekhilafan, tapi Alesha tidak dapat memberontak, Jacob mengunci tubuhnya dan tangannya yang satu menahan lengan Alesha. Mempererat pelukan dari jemari mereka.
Jenggutan kecil pada rambut Jacob menjadi tanda kalau Alesha membutuhkan pasokan udara untuk paru-parunya. Alesha mendorong dada Jacob untuk melepaskan cumbuan kekhilafan itu. Deru napas dapat terdengar dari sepasang kekasih yang kini sedang menikmati waktu intim mereka. Senyum Jacob yang begitu menawan seketika merekah. Alesha menelan ludahnya dengan susah payah. Apa yang terjadi padanya barusan? Ia dan sang mentor baru saja melakukan hal yang seharusnya tidak terjadi.
"Aku mencintaimu. Kau pacarku sekarang." Ucap Jacob dengan sangat lembut sambil mengelus pelan puncak kepala Alesha. Aliran kasih sayang tersalur dengan lancar dari dalam diri Jacob hingga Alesha sendiri dapat merasakannya. Namun sayangnya, kabut tiba-tiba saja memenuhi indra penglihatan Alesha. Pandangannya menjadi pudar dan ia merasakan sakit dan pusing dalam kepalanya.