
"Pergi!" Alesha mendorong pelan tubuh Jacob untuk menjauh darinya. Sekali lagi, mentornya itu membuat Alesha benar-benar marah, bahkan untuk kali ini Alesha kecewa pada Jacob. Ada sedikit rasa takut dalam diri Alesha untuk berdekatan dengan Jacob setelah ia tahu kalau Jacob berciuman dengan seseorang namun menganggap orang itu sebagai Alesha. Mungkin Alesha memang bukan gadis yang alim, namun Alesha tahu batasannya. Ia tidak mungkin melakukan tindakan seperti itu, apalagi pada Jacob, mentornya sendiri.
"Pergi, Mr. Jacob!" Air mata Alesha terus mengalir bersamaan dengan rasa sakit dari jahitan yang ada diperutnya lalu menjalar keseluruh tubuh Alesha.
"Kau menahan perutku terlalu kencang." Lirih Alesha sembari sesegukan.
Jacob berusaha untuk mendekati Alesha dan menjelaskan semuanya, namun Alesha malah menghindarinya. "Alesha, maaf, aku tidak bermaksud seperti itu." Jacob tidak bisa menyembunyikan rasa bersalahnya. Ia benar-benar takut jika Alesha akan marah lagi padanya.
"Jangan dekati aku, kau membuatku takut jika berdekatan denganmu sekarang. Aku tidak mungkin melakukan hal yang terjadi padamu semalam, dan kau malah menganggap orang yang menciummu itu adalah aku, bagaimana jika kau benar-benar melakukan hal itu padaku? Aku memang bukan gadis alim, tapi aku tau batasan untuk diriku, aku tidak serendah itu, Mr. Jacob." Balas Alesha dengan nada penuh kekecewaan.
"Alesha, dengarkan aku dulu, aku mohon." Ucap Jacob dengan pasrah. Jacob sudah bingung bagaimana cara agar ia bisa menjelaskan semuanya pada Alesha. Mendadak rasa penyesalan memadati diri Jacob. Ia menyesal karna harus bercerita pada Alesha. Pikiran Jacob sudah kalut, seolah banyak sekali benang-benang panjang yang saling terikat tidak karuan. Buntu untuk berpikir bagaimana cara ia bisa menjelaskan pada Alesha, Jacob terlalu takut apabila Alesha akan marah dan menjauhinya. Baru seperti ini saja Jacob sudah dibuat pusing dan takut oleh Alesha. Jacob tidak mau sampai Alesha marah padanya, itu akan menyulitkan jalannya untuk segera menggapai Alesha.
Alesha berjalan perlahan ke arah kasurnya. Jacob berusaha untuk membantu Alesha, namun Alesha malah menepis tangan Jacob. "Pergilah, aku tidak apa-apa. Kau kembali saja ke ruanganmu." Usir Alesha secara halus.
"Alesha, kau harus dengarkan aku." Jacob mendekati lalu menahan kedua tangan Alesha agar tidak menjauh lagi.
Air mata Alesha perlahan mulai berhenti menetes setelah rasa sakit pada jahitan yang ada diperutnya berkurang.
"Aku mohon, aku tau aku salah, tapi biarkan aku beri penjelasan lain." Ucap Jacob seraya menatap memohon pada Alesha.
Alesha balik menatap Jacob dengan tatapan seolah kalau ia memberikan Jacob kesempatan untuk berbicara.
"Beberapa lelaki, termasuk aku! Pikiranku kalut dan aku kelelahan semalam. Aku tidak tau bagaimana bisa ada orang lain yang bisa berbicara sepertimu dan memiliki wangi parfum yang sama denganmu juga. Jika para lelaki, termasuk aku sudah merasa kelelahan pasti tidak akan memperdulikan hal lain. Apalagi saat pikiran sedang kalut dan tubuh sedang kelelahan, dan tiba-tiba saja ada seseorang yang datang menggoda dan memberikan sebuah ciuman manis, itu merupakan alat pelepasan kelelahan dan semua beban pikiran. Tidak perduli siapa pun itu orangnya atau wanitanya yang terpenting adalah melepas semua beban pikiran dan lelah yang dirasakan melalui ciuman itu, atau mungkin hal yang lebih parah dari sekedar ciuman. Semalam aku sedang tidak begitu fokus dengan apa yang aku rasakan dan aku pikirkan. Aku terlalu lelah karna ada beberapa tugas yang harus aku kerjakan, dan saat aku merasakan ada seseorang yang masuk dengan membawa aroma parfum milikmu, aku pikir itu kau, dan yang perlu kau tau adalah kalau aku tidak memulainya duluan, orang itu yang menciumku terlebih dulu, ia berbisik padaku kalau dia adalah kau, Alesha. Aku tau aku salah, aku hanyut dalam kegiatan itu, dan aku tidak memikirkan hal lain. Orang itu juga pergi begitu saja setelah ia selesai melakukannya denganku tanpa memberiku waktu untuk melihat wajahnya." Jelas Jacob dengan melayangkan tatapan seyakin mungkin agar Alesha percaya.
"Kenapa dia harus menyebut namaku?" Alesha memalingkan pandangannya dari tatapan Jacob.
"Aku tidak tau, mungkin orang itu tau kalau aku dan kau sangat dekat, sehingga dia berpura-pura menjadi dirimu agar bisa mengelabuiku." Ucap Jacob.
"Aku harus mencari wanita itu, dia tidak bisa seenaknya begitu. Kalau dia menyukaimu dan ingin dekat denganmu kenapa harus melibatkan aku?" Ucap Alesha dengan penuh emosi. "Dan kau! Aku tidak perduli kau adalah mentorku atau bukan, tapi aku akan sangat marah dan benci padamu jika kau melakukan hal itu padaku baik disengaja atau pun tidak!" Alesha menatap tajam pada Jacob.
Jacob segera mengangkat jari kelingking Alesha dan segera mengaitkan pada jari kelingkingnya.
"Aku berjanji kalau aku tidak akan pernah melakukan hal semacam itu padamu, atau pun pada anggota timku yang lain. Aku khilaf semalam, tolong maafkan aku." Jacob menatap Alesha dengan mata yang sedikit berbinar dan penuh akan keyakinan.
"Baiklah." Balas Alesha pelan disertai anggukan kecil.
Jacob tersenyum setelah mendengar balasan dari Alesha, walau masih terlihat jelas sedikit ekspresi marah dan kecewa pada wajah Alesha. Jacob beruntung karna Alesha masih mau mendengarkan penjelasannya. Ia tidak tau bagaimana jadinya kalau Alesha tidak memberikan ia kesempatan untuk bicara dan marah lagi padanya. Tapi, Jacob jadi bertanya-tanya siapakah wanita yang semalam menciumnya kalau bukan Alesha? Kenapa gaya bicara dan wangi parfumnya sama dengan Alesha. Mungkin saat ini Jacob harus lebih waspada dan berjaga-jaga untuk mengawasi Alesha. Ia tidak mau ada seseorang yang berniat buruk dan mencelakai Alesha.
"Alesha, apa kau melihat buku.." Ucap Stella yang tiba-tiba saja datang. Ia berhenti tepat diambang pintu dan wajahnya menjadi datar saat melihat Alesha dan Jacob sedang berpegangan tangan. "Apa aku mengganggu waktu kalian?" Tanya Stella.
"Tidak." Jawab Alesha sambil melepaskan tangannya dari genggaman Jacob. "Kenapa?" Tanya balik Alesha.
"Aku lupa membawa buku sainsku, dan sekarang aku lupa menaruhnya." Jawab Stella sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar. Gadis itu segera berjalan menuju lemari besarnya. "Aku sudah mencari semalam, namun aku tidak menemukannya." Stella mendengus dan menghentakkan kakinya pada lantai.
"Kau yakin sudah memeriksa semua ruangan ini?" Tanya Jacob.
"Sudah, dan aku tidak menemukannya." Jawab Stella dengan frustrasi. "Jika aku tidak membawa buku itu ke kelas sekarang, aku akan dihukum." Stella berjalan menuju bupet kecil miliknya. Ia membuka pintu bupet itu dan mengeluarkan semua barang yang ada didalamnya berharap kalau ia akan menemukan buku yang sedang dicarinya.
Jacob merasa kasihan pada Stella. Ia bangkit dan membantu untuk mencarikan buku sains milik Stella yang tiba-tiba saja menghilang.
"Makanya jangan ceroboh, Stella." Ucap Jacob pelan sambil membuka setiap lemari dan mencari keberadaan buku sains itu.
"Aku ingat, aku menaruh bukunya dilemariku, tapi kenapa sekarang tidak ada?" Stella menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal.
Jacob menghela nafasnya. Ia juga samanya tidak menemukan buku sains milik Stella. Kemana buku sains itu?
"Kau ikut denganku, aku akan tanyakan pada petugas kebersihan atau siapa pun yang mungkin menemukan bukumu itu." Ucap Jacob. "Alesha, jangan pergi dari sini!"
Alesha mengangguk setelah mendapat perintah dari mentornya itu.
"Ayo." Jacob segera berjalan mendahului Stella, lalu Stella berjalan tepat di belakang Jacob.
***
"Nyonya Laura, pesawat anda sudah siap. Kita akan berangkat menuju WOSA saat anda siap." Ucap seorang lelaki bertubuh tinggi besar dengan otot yang besar dikedua lengannya.
"Aku sudah siap, kita akan ke WOSA sekarang. Tolong bawakan koperku!" Perintah seorang wanita paruh baya yang bernama Laura itu. Ia segera bangkit dari sofa super mewahnya yang bergawa elegan.
Wanita paruh baya bernama Laura itu adalah seorang pengusaha sukses yang memiliki banyak perusahaan dan bekerja sama dengan beberapa induk organisasi seperti SIO. Suaminya, Trafis sudah meninggal sejak satu tahun yang lalu karna penyakit jantung yang dideritanya. Jadi, Laura harus mengurus sendiri semua aset dan perkembangan perusahaan yang ditinggalkan oleh suaminya itu. Ia begitu kaya, bahkan beberapa perabotan rumahnya terbuat dari emas murni yang pastinya kalau dijual akan cukup untuk membeli tiga mobil seharga lima ratus jutaan. Rumahnya sangat besar dan ia memiliki lapangan golf pribadi di halaman rumahnya.
Laura segera meraih kacamatanya yang berbahan dasar emas lalu memasangkan kacamata itu agar bisa menghalau sinar matahari yang bisa menusuk matanya. Dengan penuh kewibawaan, Laura segera melangkahkan kakinya ketangga pesawat pribadinya.
Kalung berlian yang wanita itu pakai begitu bersinar saat beradu dengan cahaya matahari dan menghasilkan sebuah garisan pelangi kecil. Tas tangan yang ia bawa juga tidak kalah bersinar saat matahari menyentuhnya. Tas itu ditaksir seharga satu buah mobil sport. Beberapa hiasan berlian kecil dan kulit tas itu memiliki kandungan emas dua puluh karat. Syal dileher yang Laura pakai merupakan produk unggulan dari designer ternama dunia.
Kehidupan mewah dan semua yang wanita dan mendiang suaminya inginkan sudah didapatkan. Kebahagiaan materi yang seolah tidak akan ada habisnya. Namun, sayangnya mereka melalaikan suatu hal yang merupakan kebahagiaan dan inti hidup mereka.
"Berapa lama agar kita bisa sampai di WOSA?" Tanya Laura.
"Sekitar satu jam, Nyonya." Jawab pengawal pribadi Laura.
"Baguslah, aku ingin segera sampai. Ini pertama kalinya aku mengunjungi WOSA. Aku ingin melihat bagaimana sistem mengajar di sana." Ucap Laura seraya meminum segelas kecil wine.
Wanita yang sudah berkepala empat itu begitu menikmati pemandangan pulau Hawaii dari atas melalui kaca jendela pesawatnya.
***
"Ini buku sainsnya." Ucap Aldi sambil memberikan buku sains milik Stella.
"Terima kasih, Al, untung saja kau menemukannya." Balas Jacob.
Aldi membalas dengan senyuman dan anggukan kecil. "Aku menemukan itu dikoridor semalam."
"Berterima kasih pada Mr. Aldi, cepat!" Perintah Jacob pada Stella.
Stella melirik pada Aldi dengan senyuman yang mengisyaratkan rasa bersalah dan juga terima kasih karna sudah menemukan buku sainsnya. "Terima kasih, Mr. Aldi." Ucap Stella sambil menunduk menahan rasa malunya.
"Lain kali harus hati-hati." Balas Aldi sambil mengusap pelan puncak kepala Stella.
"Yasudah, kau sudah menemukan bukumu, sekarang cepat kembali ke kelasmu!" Perintah Jacob pada Stella. Stella mengangguk dan membalikkan badannya untuk berjalan menuju ruang kelas tempat gurunya yang sudah menunggu untuk Stella menyerahkan buku sains itu.
"Kalau begitu aku juga pergi dulu ya, Al." Ucap Jacob lalu berbalik. Langkah kakinya itu segera dipacu agar bisa secepat mungkin sampai ke kamar mess Alesha. Jacob tidak mau membuat Alesha menunggunya terlalu lama, walau Alesha sama sekali tidak menunggu kedatangan mentornya itu.
Saat dalam perjalanannya untuk kembali menuju kamar mess Alesha, tiba-tiba ponsel Jacob mengeluarkan sebuah nada dering tanda ada panggilan masuk. Ditatapnya layar ponsel itu, dan Jacob mendapati kalau Mona, kakaknya sedang menghubunginya. Tanpa banyak berpikir, Jacob segera menggeser tombol hijau dan memposisikan layar ponselnya itu tepat disebelah telinganya.
"*Ya, Mona, ada apa?"
"Jack, ibu menelpon*." Balas Mona dengan lirih dan tanpa jeda.
"Ibu?" Jacob mengerutkan keningnya.
"Dia menelponku melalui panggilan video. Dia meminta kita untuk menemuinya."
"Tunggu, apa yang kau maksud? Ibu siapa?"
Melalui sambung telepon itu, telinga Jacob mendapati sebuah suara isak tangis yang keluar dari mulut Mona. "Ibu kita, Jack. Kau pikir ibu siapa lagi?"
"Ibu kita?" Kedua sudut tengah alis Jacob semakin berdekatan. Ia tidak mengerti apa yang Mona maksud, dan kata ibu yang Mona ucapkan.
"Jack, kau ingat ibu dan ayah kita menelantarkan kitakan? Mereka sekarang kembali, dan ibu meminta kita untuk menemuinya." Ucap Mona untuk memperjelas maksud dari perkataannya.
"Apa?!" Sebuah bentakkan kecil keluar dari mulut Jacob. "Kau yakin kalau yang menghubungimu itu adalah ibu?"
"Tentu aku yakin. Dia menghubungiku lewat panggilan video, dan aku masih mengingat wajahnya, Jack!" Tegas Mona.
"Tidak, mereka tidak mungkin kembali, mereka sudah melupakan kita." Ucap Jacob lirih disertai rasa kecewa dan tidak percaya.
"Aku pun sama, Jack, namun ibu benar-benar menghubungiku, aku tidak berbohong. Ibu meminta kita untuk menemuinya." Lanjut Mona.
Jacob terdiam. Ia sama sekali tidak yakin dengan ucapan kakaknya itu. Masih tidak mungkin bagi Jacob untuk membayangkan orang tuanya yang kembali setelah bertahun-tahun pergi dan menelantarkan ia dan Mona. Rasa kecewa dan amarah mendadak muncul pada hati Jacob. Apakah Mona benar? Bagaimana kalau orang tuanya memang sudah kembali? Awalnya Jacob memang berharap kalau ia ingin bertemu dengan orang tuanya, namun kenapa sekarang jadi rasa amarah dan penuh luka memenuhi hati Jacob. Kekecewaan yang Jacob rasakan setelah mendengar kalau orang tuanya kembali dan ingin bertemu dengan ia dan Mona. Semudah itulah orang tua Jacob mempermainkan kehidupan anak-anaknya?
"Jack, apa yang harus kulakukan?" Mona kembali terisak.
"Terserah. Aku tidak perduli jika mereka kembali atau tidak. Itu bukan urusanku." Balas Jacob dengan bahasa sedatar mungkin. Tatapan Jacob lurus kosong. Ia tidak perduli tindakkan apa yang akan kakaknya ambil, namun Jacob tidak akan pernah mau bertemu dengan orang tuanya. Sakit hati sudah mendadak memenuhi setiap penjuru hati Jacob.
Jacob segera memutuskan sambungan teleponnya. Ia berjalan dengan ekspresi dingin dan aura yang sedikit menakutkan. Tatapan datar namun tajam seolah ada pedang dalam pupil mata Jacob yang siap menusuk siapa saja yang menatapnya.