
Sharon berjalan menuju ruangan dimana kedua kakanya berada, namun ditengah perjalanan, ia tidak sengaja bertabrakan dengan Bastian.
"Aww!" Pekik Sahron yang nyaris terjatuh jika saja disebelahnya tidak ada tembok.
"Ups, maaf, aku tidak sengaja!" Ucap Bastian dengan panik. "Kau tidak apa-apa?"
"Tidak, aku tidak apa-apa," Balas Sharon masih memegangi sebelah tangannya yang nyeri karna berbaku hantam dengan tembok.
"Maaf, aku tifak sengaja, Sharon," Bastian kembali mengulang permintaan maafnya itu. Ia benar-benar merasa tidak enak pada adik dari mentornya itu.
"Iya, tidak apa-apa,"
"Sharon..." Panggil Jacob yang tiba-tiba muncul. "Apa yang kau lakukan di sini?" Jacob mengerutkan keningnya.
"Em, tadi aku tidak sengaja menabraknya, Mr. Jacob," Jawab Bastian.
"Tapi aku tidak apa-apa kok," Lanjut Sharon. "Oh ya, ada apa? Taylor bilang kau dan Mona memanggilku?" Tanya Sharon pada kakaknya, Jacob.
"Mona ingin mengatakan sesuatu padamu, temui dia di kamarnya," Jawab Jacob.
"Mengatakan apa?" Mona mengerutkan keningnya.
"Tanyakan saja sendiri padanya."
"Baiklah, kalau begitu aku akan ke sana sekarang," Ucap Sharon dan kembali berjalan untuk melanjutkan niatnya menemui Mona, kakaknya.
"Kau mau kemana?" Tanya Jacob pada Bastian yang masih terpaku pada tubuh Sharon yang sudah berjalan menjauh.
"Hei!" Jacob menjentrikkan jarinya tepat didepan wajah Bastian.
"Ah ya! Ada apa?" Bastian yang terkejut malah balik bertanya pada Jacob.
"Kau mau kemana?" Ulang Jacob.
"Kembali ke apartemenku," Jawab Bastian.
"Oh," Jacob hanya mengedikkan bahunya.
"Kau sendiri mau kemana, Mr. Jacob?"
"Kembali ke apartemenku juga."
"Kalau begitu ayo bareng," Ajak Bastian yang langsung menjalankan kembali tubuhnya, begitu pula Jacob.
Untung saja unit-unit apartemen yang ditempati oleh Jacob dan Bastian tidak jauh dan saling bersebelahan.
Dan ketika sampai di unit apartemennya, Jacob langsung berjalan menuju arah kamarnya dimana ia mendapati Alesha yang sedang tertawa cekikikan bersama Haris.
"Alesha..." Panggil Jacob.
"Ah, lihat! Pamanmu sudah datang," Ucap Alesha sembari memangku tubuh mungil Haris.
"Kalian terlihat sangat asik," Ucap Jacob yang mengambil tempat untuk duduk disebelah istrinya.
"Tentu saja, kita sangat menikmati waktu bersama, benar bukan, pria kecil?" Alesha menoel gemas ujung hidung Haris dan membuat Haris kembali tertawa.
"Ibumu mencarimu, sayang," Ucap Jacob yang mengambil alih tubuh keponakan tampannya itu.
Namun tidak seperti biasanya, kali ini Haris malah menolak untuk digendong oleh Jacob dan malah meronta untuk kembali pada pangkuan Alesha.
"Hei, kenapa menangis, biasanya kau akan senang jika aku menggendongmu?" Tanya Jacob pada keponakannya. Namun Haris malah semakin memberontak dan menangis kencang.
"Kemarikan, kau hanya membuatnya menangis," Segera Alesha mengambil alih kembali tubuh mungil Haris dari gendongan suaminya.
"Biasanya dia akan senang jika aku menggendong dan mengajaknya bermain," Gumam Jacob.
Alesha menghiraukan ucapan suaminya itu. Kini ia sibuk untuk merepehkan tangisan Haris.
"Kau ingin berbulan madu kemana, sayang?"
Respon terkejut pun langsung terjadi pada Alesha saat suaminya menanyakan pertanyaan itu.
"Bulan madu? Aku tidak memikirkan hal itu sebelumnya,"
Jelas itu bukan jawaban yang Jacob maksudkan dari istrinya.
"Sekarang kau bisa memikirkannya," Balas Jacob sembari menyandarkan kepalanya pada bahu Alesha dan memeluk tubuh istrinya itu dari pinggir.
Bulan madu? Kemana? Kenapa tidak Jacob saja yang menentukannya sendiri?
"Mr. Jack.... "
"Ck, Alesha!" Jacob berdecak sebal, lagi-lagi istrinya itu salah menyebutkan panggilan yang baru untuknya.
"Ah, maaf! Aku masih sulit membiasakan bibirku. Rasanya tidak enak jika hanya memanggil namamu saja," Alesha pun mendengus, ia sebal hanya karna masalah panggilan saja.
"Kau harus membiasakannya! Itu perintahku!" Paksa Jacob sembari menciumi leher Alesha yang terlapisi oleh kerudung.
"Aku malah merasa tidak enak padamu, Jack,"
"Apanya yang tidak enak? Aku suamimu, sayang, bukan mentormu lagi."
"Tapi aku rindu saat kau menjadi mentorku. Saat kau membentak dan memarahiku karna aku beberapa kali gagal dalam pelatihan dan praktek yang kau ajarkan."
"Jangan ingat bagian itu. Aku selalu merutuki diriku jika aku mengingat betapa keras dan jahatnya aku saat menjadi mentor kalian."
"Kau tidak jahat, tapi tegas. Aku suka ketegasanmu, meski kadang aku dan yang lain suka menangis diam-diam karna omelanmu."
"Maaf karna waktu itu aku sudah keras pada kalian," Lirih Jacob sembari mencium sebelah pipi Alesha.
"Tidak, harusnya kami yang berterima kasih. Aku dan yang lain jadi bisa memiliki pengetahuan dan kemampuan yang belum tentu orang lain punya," Balas Alesha yang balik menelusupkan wajahnya pada lekukkan leher suaminya.
Wajah Jacob terlihat tenang dengan senyum kecilnya. "Aku sangat menyayangi kalian, maka dari itu aku ingin membuat kalian menjadi seseorang yang lebih baik lagi."
"Kau sudah melakukannya, aku bangga memiliki mentor sepertimu."
"Aku bangga memiliki anak didik seperti kau dan yang lain," Jacob mengecup puncak kepala Alesha.
Sesaat hening pun mengambil alih suasana. Haris yang berada dalam pelukan Alesha juga sudah tertidur. Balita itu terlihat sangat nyaman dan tenang ketika Alesha memeluknya.
"Jack, aku lapar," Lirih Alesha.
"Ya ampun! Aku lupa jika kau belum sarapan. Sekarang sudah jam sebelas," Jacob menepuk keningnya sebagai refleks dari rasa bersalahnya karna melupakan waktu makan untuk istri tercintanya.
"Kau mau makan apa?" Tanya Jacob.
"Ayam geprek yang pedas, aku tahu restoran mana yang menjual makanan kesukaanku itu," Jawab Alesha dengan bersemangat.
"Kalau begitu ayo."
"Eh tunggu!" Alesha menahan lengan Jacob. "Bisa kau gendong haris? Tanganku sakit," Pinta Alesha dengan wajah memelasnya.
Jacob mengangguk dan segera mengambil tubuh mungil Haris yang tertidur dengan lelap.
"Ayo, sayang," Lalu sebelah tangan Jacob yang lain meraih lengan Alesha agar mereka bisa jalan beriringan.
Ada beberapa pelayan yang menunduk untuk memberikan hormat pada Jacob dan Alesha ketika mereka berdua berjalan di koridor.
Memang kalau dilihat, Alesha dan Jacob tampak serasi sebagai pasangan pengantin baru hingga membuat beberapa pelayan yang dilewati tidak bisa melepaskan perhatiannya pada mereka berdua.
"Dimana kakek?" Tanya Alesha.
"Dia berada di apartemenmu, sayang," Jawab Jacob.
"Sekarang kita akan kemana?" Tanya Alesha, lagi.
"Apartemen Mona, menyerahkan Haris."
Alesha hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Lihatlah pengantin baru ini, sangat lengket sekali kalian."
"Mrs. Laras!" Pekik girang Alesha.
"Selamat atas pernikahan kalian, maaf kemarin aku tidak sempat datang, beberapa pengurus SIO datang, jadi aku tidak bisa meninggalkan kantor," Ucap Laras.
"Tidak apa, Mrs. Laras," Balas Alesha dengan senyum manisnya.
"Dimana Danish?" Tanya Jacob.
"Dia bersama Eve, Aldi, dan Rendi di apartemennya Mona," Jawab Laras.
"Mereka ada di sini juga?" Alesha mengerutkan keningnya.
"Tentu saja, kaliankan yang mengundang mereka," Balas Laras.
"Ayo, kita ke sana sekarang!" Alesha langsung menarik lengan suaminya dan Laras untuk segera menuju apartemen kakak iparnya.
Kurang lebih tiga menit, Alesha bersama Jacob, dan Laras akhirnya tiba di apartemen Mona.
Alesha menekan bel yang menempel pada pintu, sesaat kemudian, pintu pun terbuka.
"Aish, anakku, dia sudah tertidur rupanya," Ucap Mona sembari meraih tubuh anak balitanya dari gendongan Jacob.
"Dia tidur sendiri saat Alesha memeluknya," Ucap Jacob.
"Sungguh? Terima kasih, manis," Mona memberikan senyuman manisnya pada Alesha sebagai ungkapan terima kasihnya.
"Ayo masuk, Jack, ada teman-teman agentmu di dalam," Mona pun membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju ruang tamu.
"Hai, Jack, selamat atas pernikahanmu dengan Alesha," Ucap Eve yang bangkit dari duduknya dan menghampiri Jacob juga Alesha. "Aku tidak menyangka kau akan jatuh cinta lagi pada salah satu anggota timmu," Eve menampakkan smirk diwajah.
"Tanyakan itu pada Alesha, kenapa dia bisa membuatku jatuh cinta padanya," Balas Jacob.
"Aku?" Alesha menunjuk dirinya sendiri.
"Kau beruntung bisa mendapatkan Jacob, Alesha," Ucap Eve.
Samar-samar senyum kesombongan ternyata sudah terukir pada wajah Jacob setelah mendengar ucapan rivalnya.
"Eve benar, kamu hebat bisa taklukin hati Jacob, Alesha," Ucap Aldi yang juga berjalan menghampiri Jacob dan Alesha. "Selamat buat pernikahan kalian."
"Selamat buat pernikahan kalian, maaf aku tidak sempat hadir kemarin, kami bertiga baru menyelesaikan satu masalah," Sambung Rendi.
"Masalah?" Jacob mengerutkan keningnya.
"Vincent kabur dari penjara sebulan yang lalu, tapi aku bersama Aldi dan Rendi sudah menangkapnya kembali," Ucap Eve.
"Bagaimana bisa dia kabur?" Tanya Alesha.
"Manusia seperti Vincent terlalu memiliki banyak akal kalau hanya untuk membobol sistem keamanan pihak kepolisian," Jawab Jacob.
"Kini dia dipenjara oleh SIO di sel khusus," Lanjut Aldi.
"Vincent, dia yang berusaha untuk membunuhku waktu itu, tapi dia tidak jadi melakukannya," Alesha bergumam. "Dia membawaku pada danau yang airnya sangat amat dingin. Dia menyiksaku di sana," Ingatan beberapa bulan lalu membuat rasa trauma kembali menyerang Alesha. "Anak buahnya mendorongku ke tepian danau dan menjatuhkan aku di sana. Aku disirami air danau itu. Tubuhku sudah setengah membeku, aku menangis dan berteriak memanggili namamu," Alesha mengangkat kepalanya dan menatap wajah sang suami tercinta. "Aku tidak tahu berapa lama aku direndam di dalam air danau itu, tapi yang aku ingat tiba-tiba saja Vincent menyuruh anak buahnya untuk tidak lagi menyirami air danau itu padaku. Lalu dia mengangkatku dari air dan memeluk tubuhku, dia juga memerintahkan anak buahnya untuk melepaskan jaket mereka dan memakaikannya padaku. Aku tidak ingat apa-apa lagi setelah itu, dan terakhir yang aku ingat adalah aku terbangun masih dalam pelukannya."
"Dia memang berniat untuk membunuhmu, tapi dia tidak tega melihatmu yang menangis karna tersiksa oleh tekanan dingin dari air danau itu," Ucap Eve.
"Bagaimana kau tahu?" Tanya Alesha.
"Dia yang mengatakannya sendiri," Jawab Eve, santai.
"Jika saja memiliki kesempatan, aku ingin sekali mengantarkannya pada kematian," Jacob menggeram, rahangnya mengeras, dan tangannya terkepal. "Sialan, dia!" Umpat Jacob.
"Jack, tenanglah," Alesha mulai panik karna merasakan aura kemarahan yang Jacob pancarkan saat ini.
"Dia menyiksamu hanya untuk bisa menyingkirkan aku? Lemah sekali mentalnya! Cih, kenapa tidak langsung saja berhadapan denganku!"
"Jacob, tenang saja, kau tidak perlu terbawa emosi. Vincent sudah berada di tempat yang layak sekarang. Ia tidak akan bisa berkutik dalam sel milik SIO," Ucap Eve.
"Aku ingin sekali menghajarnya!" Sorot tajam mata Jacob semakin memperjelas kepulan emosi yang sedang mengasapi dirinya itu.
Melihat itu, Alesha harus buru-buru melakukan hal yang bisa menurunkan kembali tensi emosi Jacob.
"Jack, Alesha lapar," Rengek Alesha.
"Ya ampun, maaf aku lupa, sayang," Ucap Jacob sembari mengelus puncak kepala Alesha.
"Oh ya, aku dan Alesha akan pergi sebentar keluar, Alesha ingin makan di restoran," Ucap Jacob pada Eve, Aldi, Rendi, Laras, dan Mona.
"Iya, jangan lama-lama tapi, takutnya nanti ada tamu lain!" Ucap Mona.
"Iya.." Barulah setelah itu, Jacob dan Alesha pun pergi menuju restoran yang menjual ayam geprek pedas kesukaaan Alesha.
Sepanjang perjalanan Alesha terus mengoceh mengenai banyak hal agar Jacob dapat melupakan pembahasan tentang Vincent tadi. Bahkan setelah sampai di restoran, Alesha masih saja membahas hal-hal tidak penting yang terkesan lucu untuk Jacob.
"Berhenti mengoceh, makan makananmu sekarang," Ucap Jacob.
"Suapi aku," Pinta Alesha dengan manja.
Tidak biasanya Alesha seperti itu. Pikir Jacob.
"Baiklah," Jacob mengangguk lalu mengambil satu suapan nasi dengan tangannya. Tapi sebelum itu Jacob mencuci tangannya dulu menggunakan handsanitizer, lalu mengelapnya menggunakan tisu kering.
"Ini makan," Jacob menyodorkan suapan nasi itu pada istri kesayangannya.
Tetapi Alesha malah tertegun menatapi suapan nasi yang suaminya itu sodorkan.
"Kenapa diam?" Tanya Jacob.
"Kenapa pakai tangan?" Tanya balik Alesha.
Jacob mengerutkan keningnya. Memang kenapa jika memakai tangan?
"Memangnya tidak boleh?"
Alesha menggelengkan kepalanya. "Nanti kau merasa jijik karna menyuapiku dengan tanganmu sendiri."
Jacob langsung tertawa kecil saat mendengar ucapan wanita kesayangannya barusan. "Alesha, cintaku. Kau adalah istriku, kenapa aku harus merasa jijik?"
"Makan ini, atau aku yang akan memakanmu!" Ancam Jacob dengan seringai nakalnya.
Owh, jadi mau bermain-main ya? Pikir Alesha.
Ia membalas ancaman suaminya itu dengan mengedipkan bulu mata sembari bertingkah genit. "Mau dong dimakan olehmu,"
Apa yang terjadi dengan Alesha? Tumben sekali dia bertingkah seperti itu pada Jacob? Mau menggoda serigala yang sedang lapar? Huft, untung saja ini di restoran.
Jacob menggeram kecil, ia menatap lapar pada mangsa cantik kesukaaannya. "Pulang nanti aku akan menghabisimu, Alesha."
"Silahkan saja," Balas santai Alesha sembari memakan suapan nasi yang sudah sejak tadi Jacob sodorkan.
Sesuai dengan perintah dari Mona untuk tidak berlama-lama di luar karna takut ada tamu yang datang. Alesha makan dengan sangat cepat dan buru-buru. Sesekali ia terbatuk, dan membuat Jacob mengomelinya. Namun Alesha tetap makan dengan lahap dan cepat.
Yang penting kenyang!
Itu yang ada dalam kepalanya.
Mungkin sepuluh menitan Alesha menghabisi makanannya itu.
"Ini minum, aku akan bayar makanannya dahulu," Jacob memyodorkan gelas besar berisi jus jambu pada Alesha, lalu setelah itu ia pergi menuju bagian kasir untuk membayar makanannya.
Beberapa kali sedotan, Alesha sukses menghabisi setengah dari jus jambunya, dan saat Jacob kembali lagi, jus jambu itu pun sudah habis diminum olehnya.
"Sudah?" Tanya Jacob.
Alesha mengangguk.
"Mau langsung pulang atau main dahulu?"
Tawaran yang cukup menggiurkan, namun Alesha tidak mau tergoda.
"Pulang."
"Ya sudah, ayo," Jacob meraih lengan istrinya dan berjalan beriringan menuju tempat parkir mobil.
"Ayo masuk, My Lil Ale," Senyuman Jacob itu sungguh mempesona, belum lagi sikap manisnya yang membukakan pintu mobil untuk istrinya.
Alesha jadi tersipu dan malu-malu sendiri. "Terima kasih."
Jacob pun berlari kecil untuk menyusul masuk ke dalam mobilnya. Mesin mobil pun menyala, awalnya Jacob membawa kendaraan itu dengan kecepatan rendah saat memasuki area jalan raya, tak lama setelah itu ia langsung memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Untung saja Alesha tidak mempermasalahkan hal itu atau menderita phobia kecepatan mobil. Entah apa yang ada dalam pikiran Jacob, jalanan yang ramai oleh kendaraan lain pun berhasil ia taklukkan, dan beruntung sekali tidak ada polisi yang menilangnya.
Alesha pikir pria itu sudah terbiasa kebut-kebuttan di jalan raya saat melaksanakan tugasnya untuk menangkap musuh-musuh SIO.
Waktu tempuh tentunya berjalan jauh lebih cepat dari yang seharusnya.
Sesampainya di apartemen mereka, Jacob dan Alesha langsung berjalan menuju kamar. Awalnya memang tidak ada niatan apapun, mereka hanya ingin istirahat saja. Namun siapa yang sangka? Secara tiba-tiba dan tanpa ada perizinan terlebih dahulu, Jacob mencopot satu persatu jarum yang menancap pada kerudung dan melepaskan balutan hijab dikepala istrinya itu.
"Jack, apa yang kau lakukan?" Pekik Alesha.
"Memakanmu."
"A-apa? Hei!!" Refleks, Alesha mengalungkan lengannya pada leher Jacob ketika pria itu mengangkat tubuhnya dan membaringkannya diatas kasur.
"Jack, apa yang mau kau lakukan?" Alesha memberontak agar dapat terlepas dari kukungan tubuh besar suaminya, namun ia sudah terlanjur terkunci.
"Memakanmu."
Deruan napas Jacob terdengar jelas. Alesha panik, takut, apa yang mesti ia lakukan untuk menghindari suaminya yang sedang dilanda nafsu itu?
"Jack, ini masih siang!"
"Kau yang menawarinya tadi saat di restoran."
"Aku hanya becanda!"
"Tapi bercandamu itu mengusikku, Alesha," Jacob semakin bernafsu sekarang.
Alesha semakin panik dan takut. "Jack, bagaimana jika ada tamu?"
"Mereka tidak mungkin mengganggu sepasang suami istri yang sedang berhubungankan?"
Aish, kenapa sih? Ada saja yang bisa Jacob jawab untuk dijadikan alasan!
"Cukup, Alesha. Kau yang memancingku. Sekarang rasakanlah akibatnya!"
Dan akhirnya, setelah itu terjadilah pergulatan panas disiang hari yang disebabkan oleh sebuah candaan. Alesha sangat menyesali ucapan dan tingkahnya tadi saat ia di restoran. Menggoda Jacob sama saja menyerahkan dirinya untuk dimakan oleh monster tampan itu. Jacob tidak main-main dalam ucapannya, ia sungguh menghabisi istrinya siang itu juga.
Awalnya Alesha kewalahan, dan kesulitan menghadapi nafsu suaminya, namun mau bagaimana lagi? Tubuhnya dikunci hingga membuatnya susah untuk berusik.
Tidak lagi aku bertingkah seperti tadi. Kau memang tidak bisa diajak bercanda, Mr. Jacob......... Oceh Alesha dalam hatinya.