May I Love For Twice

May I Love For Twice
Hanya Sebuah Gurauan



"Kau akan terkejut jika melihat nilai ujian akhirku saat aku masih sekolah menengah. Aku tidak pernah masuk ranking lima besar, dan beberapa nilai mata pelajaranku juga banyak yang jelek. Tapi bagaimana bisa aku masuk universitas diusia yang masih sangat muda? Aku memiliki pola pikir dan sudut pandang lain yang berbeda dengan teman-teman dan guruku di sekolah. Aku pikir nilaiku kecil saat masih di sekolah menengah adalah karna ya mungkin beberapa mata pelajaran di sekolah bukanlah basicku. Aku punya kemampuan lain yang tidak bisa aku pelajari di sekolah menengah, dan aku bahagia saat mendaftar untuk mengambil beasiswa disebuah universitas. Awalnya universitas itu menolakku karna usiaku masih sangat muda, tapi pihak universitas merubah keputusannya, ia mempertimbangkan lagi kemampuan dan kecerdasanku hingga akhirnya aku bisa diterima di sekolah itu. Dan saat aku kuliah juga aku lebih merasa senang karna aku bisa mengeluarkan pendapat dan opiniku dengan bebas. Teman dan guruku tidak percaya kalau aku diterima di Universitas karna mereka hanya memandang umurku." Alesha mendengus.


Jacob hanya tersenyum sambil mendengarkan cerita Alesha.


"Aku pikir tidak selalu besarnya nilai mata pelajaran di sekolah bisa menjadi acuan untuk masa depan, bahkan orang yang sangat bodoh juga bisa menjadi lebih kaya raya dibanding orang pintar. Semua tergantung orang itu sendiri, buktinya saja aku, aku tidak pernah dapat ranking lima besar, sepuluh besar pun jarang, tapi aku berhasil masuk kejajaran remaja terbaik dunia. " Alesha tersenyum bangga.


"Kau benar, Al, kau memang berbeda dari yang lain." Ucap Jacob. "Dan aku menyukai itu." Lanjut Jacob. Alesha menatap bingung ke arah Jacob. Raut wajah Alesha seperti mencari sesuatu yang tersembunyi dari wajah Jacob.


Alesha sempat menangis tadi karna teringat orang tuanya, namun Jacob segera mengalihkan pembicaraan. Alesha bisa sangat mudah berubah mood, jadi itu juga memudahkan Jacob untuk membangkitkan mood Alesha.


"Mr. Jacob, apa aku boleh menghubungi teman-temanku, di WOSA?" Tanya Alesha dengan ekspresi wajah memohon.


"Tidak perlu memohon seperti itu." Ucap Jacob. "Ini, telpon Laras karna dia yang sementara menggantikanku." Jacob memberi ponselnya pada Alesha.


"Terima kasih, Mr. Jacob." Alesha tersenyum sangat manis dan itu membuat Jacob menjadi gemas. Kalau saja Alesha sedang tidak sakit, mungkin Jacob akan menjahili Alesha saat Alesha tersenyum seperti itu.


"*Hallo, Mrs. Laras."


"Hallo, Jack?"


"Mrs. Laras ini aku Alesha."


"Ouh, Alesha, bagaimana kondisimu?"


Alesha membesarkan volume suara dari ponsel Jacob.


"Aku membaik, dokter bilang besok aku boleh pulang."


"Alhamdulillah kalo gitu, kita disini udah kangen sama kamu*."


Jacob tersenyum. Matanya tidak bisa lepas dari Alesha. Gadis itu membuat Jacob tenang jika melihat senyumnya. Jacob tidak mau banyak bertanya kepada dirinya sendri kenapa ia bisa begitu. Alesha selalu bisa mendapatkan perhatian Jacob tanpa Alesha sadari. Ditambah, semakin hari mereka semakin dekat.


Jacob berpikir, bagaimana bisa mereka memiliki nasib yang sama? Sama-sama ditinggalkan orang tua sejak kecil, dan sama-sama ditinggalkan oleh orang yang sangat amat dicintai. Apa mereka juga sama-sama akan jatuh cinta lagi untuk yang kedua kalinya? Jika iya, apa yang akan terjadi jika cinta kedua itu muncul? Apa Alesha masih belum menyadari bagaimana perilaku Jacob padanya? Atau mungkin Jacob juga belum menyadari sikapnya pada Alesha. Bahkan untuk memikirkan hal itu saja bisa membuat Jacob merasa pusing. Jatuh cinta untuk kedua kalinya?


Raut wajah Jacob berubah menjadi datar. Pikirannya dikacaukan lagi oleh pertanyaan yang masih belum ada jawabannya. Apa yang membuat Jacob menjadi sangat merasa nyaman jika bersama Alesha, apa Alesha juga merasa seperti itu jika bersama Jacob? Sepertinya tidak. Alesha baru saja kehilangan lelaki yang dia cintai, dan tidak semudah itu melupakan seseorang yang berarti.


Apa aku bisa? Apa Alesha bisa? Lalu bagaimana dengan Yuna dan Adam?.... Jacob masuk ke dalam pikirannya. Ia mencari celah agar bisa menemukan jawaban itu.


"Mr. Jacob, terima kasih." Ucap Alesha sambil menyodorkan ponsel milik Jacob. Jacob tidak langsung mengambil ponsel miliknya, justru Jacob malah tampak bingung.


"Mr. Jacob?" Panggil Alesha. Seketika Jacob terkesiap saat Alesha menepuk bahunya.


"Yuna.." Gumam Jacob pelan. Alesha mengerutkan keningnya.


Alesha membuang wajahnya. "Aku bukan Yuna." Ucap Alesha datar. "Kau masih saja belum bisa melupakan Yunamu itu, bagaimana denganku? Berapa tahun untukku bisa melupakan Adam?" Alesha mendengus.


Alesha segera menyerahkan ponsel yang tadi ia pakai untuk menelpon Laras ke tangan Jacob. "Mungkin aku juga butuh waktu beberapa tahun sepertimu."


"Tidak." Balas Jacob.


"Kenapa?" Tanya Alesha.


"Kau harus bisa melupakannya secepat mungkin." Jawab Jacob.


"Kau sendiri tidak bisa melupakan Yuna dengan cepat." Balas Alesha.


"Aku tidak bisa karna aku selalu menutup diri dan selalu hanyut dalam masalah dan pikiranku. Tapi kau, kau punya aku, kau punya anggota timmu yang bisa menghiburmu, dan secara tidak kau sadari kau akan bisa melupakan Adam dengan cepat." Jacob meraih tangan Alesha. "Ada banyak orang disekitarmu yang bisa membantumu melupakan orang yang sangat kau cintai, Alesha."


Alesha termenung saat mendengar ucapan Jacob. Jacob benar. Alesha punya banyak orang disisinya yang bisa membantu untuk melupakan Adam. Tapi Alesha tidak bisa begitu saja. Perasaan Alesha sangat tulus pada Adam. Saat masih SD, Adam pernah mendekati Alesha dan memberikan Alesha dukungan, karna saat itu Alesha sedang terpuruk akibat orang tuanya yang meninggal.


"Kau benar, Mr. Jacob, aku punya kau, dan yang lain yang bisa membuatku tertawa dan bahagia. Tapi..." Alesha menjeda ucapannya. "Adam adalah teman dan sahabat terbaikku. Semoga aku bisa senang melihat dia bersama wanita pilihannya."


Jacob tersenyum. Ia menyelipkan rambut Alesha didaun telinga Alesha. Alesha menatap sendu pada Jacob. "Kau memang gadis hebat dan cerdas." Jacob memainkan ujung hidung Alesha dengan gemas.


Alesha yang merasa risih segera menepis pelan tangan Jacob dari hidungnya. "Sakit." Protes Alesha. Jacob tertawa kecil saat melihat hidung Alesha yang memerah.


"Malah ketawa." Omel Alesha.


"Kenapa?" Tantang Jacob.


"Ih, nantangi." Tantang balik Alesha.


"Apa? Hmmm?" Jacob memajukan sedikit tubuhnya ke arah Alesha. Dengan reflek, Alesha mundur.


"Hei, heii, gak usah deket-deket deh." Alesha mendorong tubuh Jacob untuk menjauh. "Nanti, Mr. Jacob malah suka sama Alesha." Canda Alesha sambil meninggikan wajahnya.


Jacob terkekeh. "Kalau memang beneran suka gimana? Hmmm?" Goda Jacob sambil mendekatkan wajahnya kewajah Alesha.


Blushh...


Wajah Alesha memerah seketika. Ia menundukkan wajahnya.


Dasar mentor gak ada akhlak......Batin Alesha.


"Hei." Panggil Jacob.


"Ck, dasar pedofil." Balas Alesha sambil menjauhkan wajah Jacob dengan telapak tangannya.


"Memangnya tidak boleh?" Lanjut Jacob. Jacob ingin membuat momen kebersamaan lagi bersama Alesha. Ia sangat suka jika Alesha sudah mengajaknya bercanda. Untung saja Alesha itu gadis yang asik, tidak baperan dan tidak membosankan. Itu kenapa Jacob sangat suka untuk menjahili dan bercanda dengan Alesha.


"Gak!" Balas Alesha singkat.


"Sungguh?" Jacob menatap mata Alesha dengan tatapan jahil.


"Tapi aku menyukaimu." Ucap Jacob yang sukses membuat Alesha menjadi patung selama beberapa saat. Alesha tidak menyangka kalau mentornya itu benar-benar gila. Tapi entah kenapa Alesha merasa ada kupu-kupu yang sedang terbang dihatinya.


"Hahahah, tapi bohong, hahahaha, itu hanya sekedar gurauan, Al." Jacob tertawa lepas sekali hingga mungkin orang di luar ruangan bisa mendengarnya. Tidak pernah Jacob tertawa seperti itu di depan Alesha atau anggota timnya. Itu pertama kalinya Alesha melihat Jacob tertawa seperti itu. Bahkan aura tampan Jacob semakin terpancar saat tertawa seperti itu.


Alesha mendengus. Ia memanyunkan bibirnya.


"Kenapa? Kau tersipu? Pipimu merah, Al." Jacob tertawa puas sekali lagi.


"Puas!" Balas Alesha.


Jacob mulai berhenti tertawa. Ia menatap Alesha yang sedang kesal dan memalingkan pandangannya ke arah lain.


Terima kasih, Al, aku tidak pernah tertawa sepuas ini sebelumnya semenjak Yuna pergi. Maaf kalau aku selalu saja menjahilimu, itu karna aku menyukai sikap manis dan gaya bertemanmu. Terima kasih sudah datang dan membantu mencerhakan hari-hariku lagi.......Ucap Jacob dalam hati.


Jacob memandang lembut ke arah Alesha. "Al..." Alesha tidak menjawab.


"Alesha..." Panggil Jacob dengan lembut.


"Apa?" Jawab Alesha marah.


"Kau marah karna candaanku? Kalau begitu kau berharap kalau candaanku yang tadi itu adalah kenyataan?" Ledek Jacob.


"Mr. Jacob!" Protes Alesha. "Dasar aneh."


"Kau berharap kalau aku menyukaimu sungguhan?" Jacob kembali tertawa.


"Tidak. " Balas Alesha datar.


"Kenapa kau marah?" Tanya Jacob beralih menuju tempat lain agar bisa menatap Alesha.


"Jelas saja aku marah, aku menyukaimu, tapi kau malah mempermainkan aku." Bentak Alesha.


Deg..... Jacob tertegun saat mendengar ucapan Alesha barusan.


Wajah Jacob berubah seketika, yang tadinya tersenyum jahil menjadi datar dengan tatapan kosong. Apa benar Alesha menyukainya?


Hahaha, siapa suruh jahil sama Alesha....... Ucap Alesha di dalam hati.


Sebenarnya Alesha tidak mengatakan itu dengan serius. Ia hanya ingin membalas kejahilan Jacob saja karna sudah membuatnya malu. Sekarang gantian. Alesha pun tertawa jahat dalam hati.


Namun sayangnya Jacob malah menganggap ucapan Alesha itu sebuah keseriusan. Jacob tidak berkata apa-apa. Mendadak perasaan aneh mulai mengambil alih hati dan pikirannya. Jacob mencoba mensinkronkan hati dan pikirannya yang tiba-tiba kalut. Perasaan sesak tapi bahagia menyelinap ke dalam hati Jacob tanpa izin terlebih dahulu.


Alesha menyukaiku? Apa itu benar?..... Jacob tidak bisa mengelak. Ia merasa itu seperti sebuah signal yang baru saja ditangkap oleh hati dan perasaannya. Jacob harap Alesha tidak membuatnya kecewa.


"TAPI BOHONG!!" Ucap Alesha tepat di hadapan wajah Jacob. Alesha tertawa sejadi-jadinya. Ia sangat puas bisa menjahili balik mentornya itu.


"PUAS? HAH? KAU TERSIPU? IYA KAN? HAHAHAHA..." Alesha menang kali ini. Lebih tepatnya sih seri karna tadi Jacob juga sukses membuatnya tersipu.


"Mau jahil sama Alesha lagi? Hmmm? Iya?" Alesha lanjut tertawa sambil memukul-mukul kasur pasien yang ia tempati.


Jacob mendengus. Wajahnya menjadi dingin dan menakutkan. Ia membuang wajahnya ke arah lain. Jacob benar-benar marah pada Alesha kali ini.


Jacob menelpon seseorang.


"Hallo, Lev, kau kembali kesini sekarang juga! Aku ada perlu!" Ucap Jacob melalui ponsel itu.


Tanpa berbicara. Jacob langsung berdiri dan mulai berjalan. Alesha kaget. Ia menahan lengan Jacob.


"Mr. Jacob, kau kenapa?" Tanya Alesha panik.


"Lepaskan tanganku." Jacob menepis kasar tangan Alesha lalu pergi begitu saja meninggalkan ruangan itu.


Alesha tertegun sambil menatap Jacob yang berjalan keluar. Ia panik dan takut. Apa bercandanya kelewatan ya hingga Jacob marah seperti itu?


"Ya ampun, apa yang sudah aku lakukan?" Alesha memukul keningnya pelan. Lalu menatap ke arah pintu yang sudah tertutup lagi.


***


Hmm, maaf ya authornya kemaren gak up karna ada banyak kerjaan 🙏😞 tapi hari ini sengaja authornya up 2 bab buat ganti yang hari kemaren. Semoga kalian suka ya 🙏😁 makasih juga yang masih setia baca cerita pertama Author ini, and buat like vote and komen, thank you all, Luv youuuuu 🙏😇💕