May I Love For Twice

May I Love For Twice
LDR Part 1



Siang ini, seperti biasanya jadwal bagi para mentor untuk menggurui anggota tim mereka masing-masing. Di taman yang begitu bersih, indah, sangat nyaman, dan tempat bagi Bastian dan anggota timnya menerima ajaran dari mentor mereka. Sang mentor pun tidak memberikan pelajaran apa-apa hari ini, ia hanya menyuruh kesepuluh remaja didikannya untuk mengulang atau mengingat materi-materi lalu yang sudah diberikan.


"Bulan depan kalian akan diberi jatah liburan selama satu bulan." Ucap Jacob yang baru datang. Ia baru saja kembali dari aula utama setelah hadir dalam pertemuan seluruh mentor dan pengurus WOSA yang membahas mengenai masa libur para murid dan juga masa orientasi untuk bakal calon murid WOSA yang baru.


"Sungguh? Akhirnya, aku sudah sangat rindu rumah dan keluargaku." Seru Merina yang antusias akan pengumuman yang baru saja diberitahukan oleh mentornya.


"Bagus lah, aku juga ingin pergi berlibur. Sudah lama sekali aku ingin mengunjungi pulau Jeju." Sambung Nakyung penuh semangat.


"Aku tidak menyangka kalau waktu berjalan dengan sangat cepat. Rasanya seperti baru kemarin aku masuk dan menjadi murid WOSA." Ucap Aiden.


Memang benar apa kata Aiden, bahkan semua murid WOSA pun merasakan hal yang sama. Mereka sudah dipenghujung semester dua, tidak ada yang mengira kalau waktu berjalan dengan kecepatan penuh. Satu tahun lagi tersisa, mungkinkah waktu akan berjalan semakin cepat dan membawa kelulusan bagi angkatan murid WOSA yang sekarang.


Alesha sendiri tidak memberikan komen apapun setelah mendengar pengumuman dari mentornya. Ia senang dan juga sedih. Senangnya sudah jelas, ia akan kembali ke negara asalnya, tapi kesedihannya adalah itu berarti ia akan bertemu kembali dengan keluarganya yang sama sekali tidak pernah memperdulikannya dengan sang kakek. Alesha mungkin akan tinggal sendirian di kontrakan milik tetangganya karna sekarang kakeknya sudah tinggal di panti jompo.


Setahun ini Alesha bisa tenang, biaya pendidikan, jaminan, dan semua kebutuhannya ditanggung oleh WOSA, namun kembali ke Indonesia, semua kebutuhan atau jaminannya di luar tanggung jawab WOSA.


Sejak siang hingga malam yang sudah bertamu kembali, Alesha tidak henti-hentinya memikirkan bagaimana ia bisa tinggal di Indonesia sedang keuangannya sangat menipis. Alesha memang masih memiliki sejumlah uang dari uang tabungan yang ia kumpulkan sejak ia kuliah empat tahun yang lalu. Namun itu jauh dari kata cukup, setengah uang tabungan itu sudah Alesha pakai untuk membeli kebutuhan sekundernya sebagai perbekalan di WOSA.


Mengandalkan keluarganya hanya akan membuat Alesha semakin terpuruk. Bukannya mendapatkan bantuan, yang ada malah ledeka, cacian, dan makian. Alesha sudah bahagia karna selama sebelas bulan ini hidupnya lebih berwarna. Namun Alesha harus kembali ke desa tempat ia tinggal bersama keluarga jahatnya.


Tapi mau bagaimana lagi? Barang-barang yang Alesha punya setengahnya adalah milik mendiang orang tuanya. Alesha mana punya uang untuk membeli baju-baju bagus. Paling juga baju milik ibunya yang sekarang sudah bisa Alesha pakai, mengingat dahulu orang tua Alesha meninggal diusia yang masih relatif muda, jadi untuk pakaian ibunya yang rata-rata memiliki kualitas kain dan model menengah keatas sengaja tidak diberikan kepada siapa pun agar bisa dipakai olehnya.


Yah, kepergian kedua orang tua memang memberikan dampak yang sangat amat buruk untuk kehidupan Alesha.


****


Satu bulan pun berlalu....


Seluruh murid WOSA sudah masuk kedalam ruang pesawat dan duduk dibangku masing-masing. Mereka akan dibawa menuju bandara yang terdapat di Australia, baru setelah itu mereka akan berpencar untuk kembali ke negara masing-masing.


Untuk Alesha sendiri, ia merasa sangat sedih karna harus meninggalkan WOSA yang sudah seperti rumahnya sendiri. Alesha tidak menyangka kalau waktu akan berlalu sangat cepat, rasanya seperti baru kemarin ia datang ke WOSA dan menjadi murid resmi dari sekolah terprivasi yang hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja, atau paling orang tua murid, itu pun setiap orang tua dilarang keras memberitahu pada siapa pun kalau anak mereka bersekolah di WOSA. Identitas sangat dirahasiakan, Alesha masih bingung bagaimana ia menjelaskan pada keluarganya di Bandung nanti. Satu tahun Alesha tidak pulang dengan alasan bersekolah di Universitas yang terdapat di Australia.


Dalam perjalanan di pesawat pun Alesha tidak banyak bicara, ia lebih memilih mendengarkan musik melalui earphone -nya sambil menatap hamparan awan melalui jendela mungil berbentuk bulat.


Lalu bagaimana dengan sang mentor? Jacob merasakan kehilangan saat ia melihat Alesha yang melewati ambang pintu untuk memasuki pesawat. Rasanya hampa dan kosong. Satu bulan ia tidak akan melihat secara langsung wajah gadis kesayangannya. Bahkan di ruangannya saat ini, Jacob mencoba untuk tidak menyibukkan dirinya agar bisa melepas kesedihan dan kegundahan akibat ditinggal pulang oleh sang pujaan hati. Tapi usahanya itu gagal, Jacob semakin resah, ia tidak tenang berjauhan dengan Alesha. Jacob khawatir kalau gadisnya itu akan kembali mendapatkan perlakuan buruk dari keluarganya.


"Alesha...." Lirih Jacob sembari meremas rambutnya dengan gusar. "Maaf, aku tidak bisa menemanimu."


Awalnya Jacob berniat untuk mengajak anggota timnya berlibur di Hawaii, namun seminggu sebelum hari ini Jacob mendengar kalau ibunya, Laura jatuh sakit, dan dirawat intensif di rumah sakit. Jacob tidak bisa abai akan tugasnya sebagai anak, ia juga harus mengurus perusahaan orang tuanya itu. Tanggung jawab yang Jacob emban kali ini akan cukup berat, bisnis mineral dan minyak bumi milik orang tuanya sedang menunjukan grafik penjualan yang begitu pesat. Berdasarkan data bulanan yang Jacob peroleh dari Irene, saham perusahaan mineral melonjak hingga lima persen, dan untuk minyak bumi naik hingga empat koma tiga persen. Belum lagi beberapa resort mewah di kawasan Asia Tenggara yang sudah dalam tahap akhir untuk dapat di jadikan sebagai tempat wisata kelas dunia.


Industri tekstil yang baru saja dirintis satu tahun yang lalu sukses mencapai prestasi pertama dengan lonjakan saham yang begitu signifikan dalam satu tahun, sekitar lima belas persen kenaikan yang dihasilkan dari target awal yang hanya sepuluh persen.


Jacob menepuk keningnya. Ia begitu pusing, bisnis milik orang tuanya itu harus bisa ia tangani sendiri? Jacob tidak akan tega meminta bantuan pada kakaknya yang sedang hamil besar atau pun pada adiknya, Sharon yang pastinya masih sangat tabu dalam dunia perbisnisan.


Drett..


Ponsel Jacob bergetar menandakan ada sebuah pesan yang masuk.


Segara Jacob meraih ponselnya untuk mengecek siapa yang mengirimkan pesan padanya. Layar ponsel menyala, dan Jacob mendapati kalau ternyata Irene, si sekretaris cantik itu yang sudah mengirimkannya pesan.


(Irene: Sore, tuan Jacob. Saya ingin memberitahukan kalau jadwal rapat yang anda minta sudah saya siapkan. Lusa anda bisa menghadiri rapat tersebut beserta seluruh dewan dan pentinggi dari setiap cabang perusahaan yang juga akan turut hadir.) read


(Me: Baiklah kalau terima kasih, Irene.)


"Huft." Jacob menghembuskan napasnya berharap ketenangan dapat menyambanginya.


Disatu sisi ia begitu mengkhawatirkan Alesha, dan disisi lain ia juga pusing dengan bisnis orang tuanya yang harus ia tangani sendirian untuk sementara waktu ini.


"Kenapa aku tidak membiarkan Alesha berlibur saja di Hawaii bersama Bastian?" Gumam Jacob. Ia baru ingat, ia memang menjanjikan tiket liburan gratis selama seminggu di Hawaii untuk Bastian karna waktu itu Bastian sudah mau membantunya untuk mempersiapkan pesta kecil demi merayakan ulang tahun Alesha. "Ya, aku seharusnya membiarkan Alesha pergi berlibur dan tidak membiarkan ia kembali pada keluarganya yang jahat itu." Refleks Jacob menghentakkan kedua telapak tangannya pada meja kerjanya.


Ia pun ingat akan hal lain. Keselamatan Alesha, ya keselamatan gadisnya itu selama ia tidak berada dekat dengan Alesha. Jacob harus memastikan kalau Alesha selalu dalam keadaan aman dan jauh dari jangkauan orang jahat. Tapi bukan hanya itu saja. Satu lagi adalah kebutuhan harian Alesha? Jacob juga baru ingat kalau gadisnya itu tumbuh besar dalam status ekonomi yang cukup memprihatinkan. Walau memiliki keluarga atau saudara, tidak ada satu pun yang bisa diandalkan.


Jacob meraih ponselnya dan berniat untuk menghubungi Irene. Tidak membutuhkan waktu lama, sekretaris muda yang cantik itu pun langsung menerima panggilan dari tuan mudanya.


"Sore, tuan, ada yang bisa saya bantu? "


"Irene, perintahkan pada tiga anak buah ibuku untuk pergi menuju Bandung, Indonesia. Suruh mereka untuk menghubungiku setelah mereka sampai di sana! "


"Tiga anak buah Nyonya Laura? Pergi ke Bandung, Indonesia? "


"Ya, kau pahamkan maksudku? "


Irene terdiam sesaat untuk mencaritahu maksud dari perintah yang tuan mudanya itu berikan.


"Maksud tuan adalah para pengawal Nyonya Laura? "


"Ya, tiga yang terbaik. Suruh mereka menuju Bandung, Indonesia sekarang juga! "


Irene tertegun seketika setelah mendapatkan perintah seperti itu dari tuan mudanya. Irene kebingungan, CEO nya yang kini sedang dirawat di rumah sakit memiliki banyak sekali pengawal dan orang-orang hebat yang selalu bersiap siaga kapan pun dan dimana pun, tapi Irene tidak mengenal mereka, apa lagi mengetahui mana yang terbaik.


"Irene..." Panggil Jacob.


"Bagus, kalau begitu terima kasih."


Tanpa ada basa-basi lagi, Jacob segera mematikan sambungan telponnya bersama sekretaris cantik itu. Tapi belum sempat ia menonaktiftkan ponselnya kembali, tiba-tiba saja ia mendapatkan sebuah pesan lain yang dikirim oleh Bastian. Dengan sigap, Jacob pun langsung saja membuka pesan yang Bastian kirimkan.


Sebuah foto. Bastian mengirimkan sebuah foto yang memperlihatkan Alesha sedang duduk termenung sendiri dikursi bandara dengan raut wajah seperti orang yang sedang dilanda kesedihan.


(Bastian: Kami sudah sampai di Bandara Australia, dan sebentar lagi aku dan yang lain akan berpisah. Tapi aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Alesha. Dia terus terdiam dan menyendiri sejak tadi. Aku pikir dia sedang merasa sedih. Kau lihat kan ekspresi wajahnya?)


Walau pun hanya difoto melalui pinggir, Jacob bisa sangat mudah menebak raut wajah gadisnya itu.


"Alesha, ada apa denganmu? Jangan bersedih seperti itu, aku sangat merindukanmu, Al." Lirih Jacob. Tidak dapat tepungkiri lagi, ia baru beberapa jam ditinggalkan oleh Alesha, dan rasa rindu yang teramat sangat sudah membuih dalam hatinya.


Jacob menatap penuh kesenduan pada foto Alesha yang dikirimkan oleh Bastian barusan. Menatap wajah gadisnya melalui layar ponsel membuat Jacob mengingat semua hal yang sudah terlalu bersama selir manisnya itu.


Momen-momen ketika Jacob pertama kali memandang Alesha sebagai sosok Yuna, lalu saat Alesha pingsan dihari pertamanya bersekolah di WOSA karna diberi hukuman oleh Jacob dengan berjemur dibawah cahaya matahari siang hari, canda gurau yang selalu mengisi waktu-waktu mereka, rumah pohon, pesta ulang tahun, dan ciuman yang berlangsung pada malam itu.


Jacob menyunggingkan senyumnya saat sang ingatan membawanya kembali menuju waktu dimana ia dan Alesha sama-sama menikmati kegiatan mereka di pinggir pantai dengan malam indah juga alam yang seolah memberikan dukungan untuk mereka bisa memperoleh ciuman hangat. Jacob tidak menyangka kalau Alesha juga akan menikmatinya, bahkan setelah kejadian itu Alesha sama sekali tidak marah padanya. Sejak malam perciuman itu pula hubungan Jacob dan Alesha semakin rapat.


Jacob meremas pelan rambutnya saat ia membayangkan kalau jemari Alesha sedang bermain-main lembut disana. Sungguh Jacob masih bisa merasakan pergerakan yang jemari Alesha berikan pada kepalanya ketika ciuman mereka sedang berlangsung.


Bibir Jacob mendadak geli dan gatal, rasanya seperti ia sedang memberikan usapan dan tekanan lembut juga pelan pada bibir ranum Alesha.


"Argh!" Jacob mengerang frustasi. Ia tidak bisa seperti itu. Membayangkan ia dan Alesha yang kembali berciuman membuat Jacob gelagapan sendiri.


"Cukup! Aku bisa gila jika seperti ini terus!" Jacob menghentakkan kakinya lalu bangkit dari duduknya. Ia tidak mau membuat dirinya semakin tersiksa karna harus berpisah terlebih dahulu bersama Alesha selama satu bulan.


Jacob berniat pergi menuju ruangan Mr. Thomson untuk meminta izin pergi menuju SIO. Jacob harus berbicara dengan direktur utama SIO, Mr. Frank mengenai izin cutinya karna harus mengurus perusahaan milik orang tuanya.


***


Di bandara, Alesha benar-benar mengundutkan dirinya sendiri. Teman-temannya yang lain sudah pergi bersama pesawat yang mereka tumpangi menuju negara masing-masing.


"Alesha, kau baik-baik saja?" Tanya Bastian. Hanya si ketua itulah yang tersisa dari anggota tim Luxury-1 yang masih menunggu kedatangan pesawat. Itu pun pesawat yang akan Bastian tumpangi akan segera landing dalam beberapa menit lagi.


"Iya."


"Kau yakin bisa pulang sendiri?" Tanya Bastian yang sudah mengkhawatirkan salah satu anggota timnya itu. Alesha adalah seorang gadis, dan Bastian tidak tega meninggalkan gadis itu sendirian di bandara ini, ia takut jika ada orang yang akan menjahati Alesha. Walau saat ini adalah masa untuk berlibur, namun Bastian tetaplah seorang ketua tim, ia harus bisa memastikan kalau anggota timnya baik-baik saja.


"Tentu saja, Bas. Aku bukan anak kecil."


Bastian semakin risau dan tidak tenang. Waktu pada jam memberi tanda kalau pesawat akan tiba kurang dari lima menit lagi.


"Tidak usah khawatirkan aku, Bas. Aku baik-baik saja, pesawat yang akan kau tumpangi sebentar lagi mendarat, pergi saja, aku tidak apa-apa." Ucap Alesha yang menyadari keresahan yang sedang melanda diri ketuanya itu.


Bastian menatap sekelilingnya. Ia hanya ingin memastikan kalau tidak ada gerakan yang mencurigakan dari siapa pun yang ada di dalam bandara itu.


"Jaga dirimu baik-baik, Alesha. Jika suatu terjadi hubungi Mr. Jacob atau siapa pun." Pesan terakhir Bastian sebelum pergi menuju area yang digunakan untuk memuat dan menurunkan penumpang atau pun barang.


Dengan perasaan gelisah, mau tidak mau Bastian mesti meninggalkan Alesha sendirian di bandara itu. Pesawat yang akan Bastian tumpangi sudah mendarat dan sedang menunggu penumpang lain.


Dan untuk Alesha, pesawat yang akan ia tumpangi akan segera tiba dalam waktu satu jam lagi. Bosan? Pastinya. Teman-temannya sudah pergi menuju negara masing-masing. Memang sih masih ada beberapa lagi murid WOSA yang menunggu kedatangan pesawat, tapi Alesha tidak akrab dan hanya tau wajah serta nama saja.


"Huft..." Alesha menghembuskan napasnya dengan sabar. Semoga satu jam itu akan berlalu secepatnya.


Tapi dikala seperti itu, Alesha kembali tertingat pada sosok mentornya. Rasa rindu akan kehadiran Jacob membuat Alesha semakin bersedih. Alesha terlanjur nyaman dengan sikap mentornya itu, ia malah berharap agar tidak usah kembali pulang menuju desa tempat keluarganya tinggal. Alesha merasa sendirian lagi sekarang, sangat kesepian.


Ia pun hanya bisa menatap wajah sang mentor melalui foto pada ponsel usangnya. Alesha harap walau ponselnya itu hanya ponsel biasa yang sangat kalah jauh dengan model dan merk ponsel milik teman-temannya yang lebih bagus dan mahal, yang penting ia masih bisa berkomunikasi secara lancar dengan mentornya juga rekan setimnya.


Alesha menyadarkan kepalanya dengan pasrah pada dinding. Ia benar-benar bosan dan sedih. Ia tidak mau kembali pada keluarganya. "Mr. Jacob.." Lirih Alesha.


Seperti ada sebuah ikatan batin yang begitu besar, Jacob yang sedang fokus berkutik dengan laptopnya pun tiba-tiba saja tersentak. Pikirannya langsung teralihkan pada sosok gadis kesayangannya.


"Alesha.." Perasaan Jacob jadi tidak karuan. Ia cemas. Tanpa berpikir panjang lagi, Jacob segera meraih ponselnya untuk menghubungi Alesha. Tidak sampai setengah menit berlalu, Jacob pun dapat mendengar suara dari si manis kesayangannya.


"Hallo, Mr. Jacob, ada apa? "


"Alesha, apa kau baik-baik saja? Kau belum naik pesawatkan? "


"Ya, aku baik-baik saja. Pesawat yang akan aku tumpangi akan tiba satu jam lagi. "


"Dimana yang lain? "


"Mereka sudah dalam perjalanan menuju negara masing-masing. Aku sendirian di sini. Ada beberapa murid WOSA yang masih menunggu, tapi aku tidak mengenalnya, hanya tahu nama dan wajah saja. "


Mengetahui gadisnya itu tidak memiliki teman lagi untuk menunggu kedatangan pesawat, Jacob langsung berinisiatif untuk menemani walau jarak mereka sangat jauh. Jacob tahu kalau Alesha pasti merasa kesepian dan butuh teman.


Dalam komunikasi melalui saluran telepon, Jacob sengaja mengajak Alesha untuk membicarakan segala hal. Walau Alesha sedang menyendiri dan tidak memiliki teman disisinya saat ini, tapi Jacob ingin selalu bisa menemani Alesha, tidak perduli dengan jarak yang memisahkan mereka. Setidaknya saat ini Alesha memiliki teman mengobrol walau hanya melalui media telepon.