May I Love For Twice

May I Love For Twice
Kecupan Romansa



Hampir setengah jam berlalu dan Alesha baru saja keluar dari dalam kamar mandi.


"Sudah selesai, tuan putri Ale?" Ledek Jacob yang sejak tadi sudah merasa bosan karna menunggu Alesha yang memakan banyak waktu hanya untuk membersihkan tubuhnya.


"Belum." Jawab Alesha. "Aku harus mengeringkan rambutku lalu bersiap dan setelah itu..."


"Sudah cukup. Cepat keringkan saja rambutmu, atau aku sendiri yang akan melakukannya." Potong Jacob.


"Nooooo... Tidak usah repot-repot, aku bisa mengeringkan rambutku sendiri."


"Kalau begitu cepat keringkan."


"Aku sedang mengeringkannya, Mr. Jacob. Lihatlah, sinar matahari itu sangat membantu."


Jacob menghela napas dengan sabar ketika melihat Alesha yang berdiri dipinggir jendela hanya untuk membiarkan rambut gadis itu terpapar sinar matahari. Bukan begitu yang Jacob maksud, jika mengandalkan cahaya matahari akan memakan waktu lebih lama lagi. Oh tentu, Jacob baru ingat kalau Alesha tidak bisa menggunakan alat hairdryer.


"Ya ampun, Al." Jacob pun menepukkan kening dengan telapak tangannya sendiri.


"Kenapa?" Tanya Alesha dengan wajah santai.


"Kau hanya membuang waktu jika mengeringkan rambutmu dengan cara seperti itu."


"Lupakan saja. Oh ya, tadi ada apa? Kenapa kau mengganggu tidurku?"


"Ganti bajumu." Perintah Jacob yang mengabaikan pertanyaan Alesha. "Pakai saja pakaian santai, kau tidak mengikuti pelajaran hari ini."


"Apa? Lalu ke...."


"Cepat ganti bajumu, kau akan mendapatkan jawabannya nanti." Potong Jacob lalu bangkit dari duduknya dan berjalan keluar. Tidak mungkin juga Jacob berada dalam kamar itu sedangkan Alesha sedang mengganti bajunya.


Mulut Alesha sedikit terbuka, keningnya berkerut, dan kedua alisnya saling bertautan. Sebenarnya apa yang direncanakan mentornya itu? Dan kenapa tidak bilang dari awal saja kalau Alesha tidak perlu mengenakkan seragam.


"Ck, dasar ribet." Gerutu Alesha.


Gadis itu pun segera menuruti perintah mentornya untuk mengganti pakaiannya. Setelah lima menit berlalu, kini Alesha sudah siap dengan pakaian lain yang melekati tubuhnya.


"Mr. Jacob." Panggil Alesha sambil membuka pintu kamar messnya.


Melihat Alesha yang keluar menggunakan pakaian feminim membuat Jacob terkekeh. Semakin saja hatinya dibuat lemah oleh Alesha yang terlihat semakin manis. Ingin rasanya Jacob membawa gadis itu ke ruangannya, mengurung Alesha dan menghabiskan waktu bersama. Namun hal itu mesti Jacob hindari, ia tidak ingin terjadi hal negatif yang berasal dari luar jangkauannya. Alesha selalu bisa membangunkan hasratnya, maka dari itu Jacob harus pintar mengatur sikapnya saat bersama dengan Alesha.


Kembali Jacob menemukan perbedaan yang mencolok antara Yuna dan Alesha. Kepolosan dan tingkah Yuna yang cenderung lebih banyak diam membuat Jacob mudah mengatur hasratnya sebagai seorang lelaki. Tetapi dengan Alesha, entah kenapa Jacob selalu merasa ada daya tarik yang begitu kuat yang membangunkan jiwa kelelakiannya. Jacob merasa kalau takdir ia dan Alesha itu sama dan mereka hanya membutuhkan satu ikatan yang sah. Alesha dan Yuna itu sama, tetapi mereka sangat berbeda. Mungkin cinta Jacob sangat besar pada Yuna, tapi bersama Alesha, Jacob seperti memandang masa depannya.


Bersama Yuna, Jacob mendapatkan dan merasakan besarnya cinta dan ketulusan, namun bersama Alesha, Jacob mendapatkan yang lebih. Cinta dan ketulusan tidak cukup rupanya, hingga ada banyak rasa lain yang Jacob alami saat jatuh hati pada remaja manis dihadapannya.


Waktu benar-benar berubah. Sekuat apapun Jacob mencoba mengerahkan hatinya untuk kembali pada Yuna, itu hanya akan sia-sia saja. Alesha sukses mengubah hati Jacob yang selama tiga tahun terus terpaku pada masa lalunya bersama Yuna.


Jacob pun segera beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Alesha. "Ayo."


Jacob meraih lengan Alesha dan membawa gadisnya berjalan-jalan mengelilingi WOSA. Tapi sebelum itu Jacob terlebih dahulu mengajak Alesha menuju kantin. Gadis itu harus mengganjal perut dan memakan obatnya.


"Aku kenyang. Perutku tidak dapat menampung makanan lagi." Ucap Alesha dengan pasrah saat perutnya terasa tidak enak karna terlalu banyak ditimbun oleh makanan.


"Ini, minum obatmu." Jacob pun menyodorkan kapsul kecil pada Alesha.


Segera Alesha mengambil alih kapsul obat itu dan memasukannya kedalam mulutnya. Dengan susah payah Alesha menelan kapsul itu, rasa mual yang diakibatkan dari rasa kenyang yang berlebih membuat Alesha hampir saja memuntahkan kembali kapsul obatnya, namun dengan dorongan air minum, akhirnya kapsul itu pun dapat meluncur dengan lancar menuju lambungnya.


"Sudah?" Tanya Jacob.


Alesha mengangguk.


"Bagus, kalau begitu ayo."


Tanpa memberi jeda untuk Alesha mendiamkan tubuhnya agar makanan dalam perutnya dapat terolah secara lancar, Jacob malah langsung meraih lengan Alesha dan membawanya untuk berkeliling WOSA.


"Mr. Jacob, sebenarnya apa yang mau kau lakukan?" Tanya Alesha yang mulai keheranan dengan tujuan yang tersembunyi dalam kepala mentornya itu.


"Berjalan-jalan menikmati udara segar." Jawab Jacob dengan santai.


"Jalan-jalan menikmati udara segar? Bagaimana kalau Mr. Thomson tahu? Dan bukannya kau memiliki banyak pekerjaan?" Alesha mendongkakkan kepalanya agar bisa menatap Jacob yang menjulang tinggi disebelahnya.


"Aku sudah minta izin pada Mr. Thomson, dan soal pekerjaanku, aku sudah membereskan semuanya."


Bohong. Ucapan Jacob barusan adalah kebohongan agar Alesha mau menemaninya berjalan-jalan. Pekerjaan menumpuk sudah memanggili Jacob, namun untuk saat ini Jacob hanya ingin menghabiskan waktunya bersama Alesha. Berjalan-jalan berdua dan menghabiskan waktu bersama Alesha mampu menyehatkan dan menyegarkan hati juga pikiran Jacob.


"Tapi bagaimana kalau yang lain tahu?" Tanya Alesha yang mulai dilanda kepanikan. Ia takut jika ada seseorang yang melihatnya dan Jacob sedang asik berjalan-jalan dikala para murid lain sedang belajar dalam kelas masing-masing.


"Tidak akan jadi masalah, Al, aku akan menjamin itu. Kau ini selalu saja panik." Jawab Jacob.


"Mr. Jacob, masalahnya yang lain sedang sibuk belajar, para guru dan mentor pun sibuk mengerjakan tugas mereka. Aku merasa tidak enak."


Alesha pun melepaskan lengannya dari genggaman Jacob. "Lebih baik aku kembali saja ke messku, dan kau kembali saja ke ruanganmu. Kita hanya membuang waktu."


"Alesha, apa salahnya kita menikmati waktu luang? Tidak akan ada yang menegur kita, tenang saja." Ucap Jacob yang berusaha untuk meyakinkan Alesha.


"Aku tidak mengikuti pelajaran hari ini karna aku harus beristirahat agar tubuhku semakin pulih, Mr. Jacob, dan bukan untuk memanfaatkan waktu liburku." Balas Alesha.


"Aku tahu. Tapi kau juga butuh rileksasi setelah semua kekacauan dan tragedi yang menimpamu, Alesha."


Benar. Jacob benar kalau Alesha memang butuh rileksasi otak dan pikiran. Lelahnya selama dua minggu yang disebabkan oleh banyak masalah membuat Alesha sedikit frustasi. Luka jahitan diperutnya masih bisa Alesha rasakan seperti dua peluru yang waktu itu tertancap belum juga dikeluarkan.


"Sudah ayo." Jacob pun kembali meraih lengan Alesha dan membawanya untuk kembali berjalan.


Tujuan Jacob kali ini adalah rumah pohonnya. Tempat dimana Jacob berniat untuk mengukir cerita bersama kekasih lamanya, namun yang terjadi malah diluar dugaan Jacob. Bukan Yuna, melainkan Alesha lah yang akan mengukir cerita disana.


Jalan menuju hutan yang diimbangi dengan pepohonan besar layaknya seperti sambutan menyejukkan yang dilayankan oleh penunjang kejernihan udara. Flora tumbuh dan berkembang di pulau itu, WOSA seperti sebuah kerajaan tersudut yang berada dipojokkan dunia. Letaknya yang strategis selalu menyajikkan pemandangan selayak tempat wisata alam kalangan atas. Sunset dan sunrise yang menjadi primadona utama, tidak lupa hamparan penduduk langit malam yang selalu menjadi candu bagi pengagum kegelapan.


Alam indah nan asri di pulau itu membuat Alesha ingat akan negara tempatnya bertumbuh. Indonesia  kaya akan fasilitas penunjang kenyamanan batin dan pikiran. Rindu akan kampung halaman dan negara tercinta membuat Alesha merasa tidak sedang berada di WOSA.


"Indonesia mempunyai banyak destinasi wisata kelas dunia, tapi aku belum pernah datang ke tempat seperti itu sekali pun. Pulau ini membuatku rindu dengan negaraku."


Jacob menunduk dan menatap wajah gadisnya itu. Ah, gemasnya. Jacob sangat menyukai Alesha dengan gaya berpakaian yang feminim. Cantik sudah biasa, namun daya tarik Alesha berbeda untuk Jacob.


"Kau akan kembali nanti setelah dua tahun." Balas Jacob.


"Apa tidak ada waktu libur di WOSA?" Alesha pun memberikan tatapan balik pada Jacob.


"Ada, tapi aku memiliki niat lain untuk kalian." Jawab Jacob yang kini membuat sebuah senyum lebar hingga kedua kelopak matanya menyipit.


"Apa?"


"Nanti saja, aku masih pikiran lagi."


Percakapan tidak berlangsung. Mereka berdua sama-sama menikmati nuansa alam yang begitu mendamaikan waktu sekitar. Kaki yang saling melangkah, namun genggaman tetap pada posisinya. Alesha melemaskan jemarinya dalam pelukan telapak tangan lebar yang mentornya berikan, dan Jacob enggan melepaskan jemari manis milik si gadis kesayangannya. Rasanya kali ini berbeda, Jacob tidak ingin merusak kesejukan yang sedang membendung dalam hatinya. Keberadaan Alesha bisa membuat Jacob berubah seketika.


Mungkin kebohongan kecil tidak akan menjadi kendala besar untuk Jacob san Alesha. Mereka sama saja bolos, lebih tepatnya Alesha yang bolos. Tapi sesekali tidak masalah, waktu terbatas seperti ini harus Jacob manfaatkan semaksimal mungkin.


"Eh, Mr. Jacob, inikan rumah pohonmu, kenapa kita kesini?" Alesha mengangkat kepalanya dan menatapi wajah Jacob.


"Menghabiskan waktu luang." Jawab Jacob dengan santai.


Menghabiskan waktu luang? Alesha pikir ia dan mentornya hanya akan membuang-buang waktu saja.


"Apa yang akan kita lakukan di tempat seperti ini?"


Yaps, pertanyaan Alesha barusan berhasil membuat ambigu pikiran Jacob. Apa yang akan mereka lakukan berdua di tempat seperti itu? Tentu saja menikmati setiap momen yang akan Jacob buat semanis mungkin.


"Eh, ada pohon apel?" Wajah Alesha berkerut ketika matanya menangkap sebuah pohon yang cukup tinggi yang biasa ia naiki dulu saat masih kecil.


"Aku yang menanamnya. Di sana juga ada pohon ceri." Ucap Jacob sambil menunjuk ke arah pohon lain yang terletak tidak jauh darinya.


"Kau bisa menanam pohon? Hebat." Alesha pun menatap kagum pada mentornya. Baru kali ini Alesha tahu kalau Jacob bisa menanam pohon hingga tumbuh dan berbuah lebat.


"Pohon-pohon itu berbuah sempurna, walau ada beberapa yang busuk." Lanjut Alesha.


"Pohon itu aku tanam beberapa tahun lalu, dan sekarang sudah berbuah. Aku memang sudah biasa menanam tumbuhan, beberapa jenis pohon di taman WOSA, aku yang menanam mereka."


Tanpa membalas ucapan Jacob, Alesha pun berniat untuk pergi menghampiri pohon apel lalu memanjatnya. Sudah lama sekali Alesha tidak melepaskan jiwa liarnya.


Reflek, jemari Alesha terlepas begitu saja dari genggaman Jacob karna gadis itu berlari kecil menuju pohon besar milik mentornya.


Sedangkan Jacob, ia terkesiap ketika telapak tangannya kehilangan genggaman dari kulit jemari yang lembut milik Alesha. Kosong sekali yang Jacob rasakan sekarang. Hangatnya telapak tangan Alesha membuat Jacob merasa tenang, tapi sekarang rasanya hampa setelah Alesha menarik lengannya dan pergi begitu saja.


"Kau mau aku ambilkan berapa, Mr. Jacob?" Teriak Alesha yang mulai mencoba untuk memanjat pohon apel itu.


"Alesha, ya ampun kau bisa jatuh!" Pekik Jacob ketika melihat Alesha yang mulai mengambil langkahnya untuk menaiki pohon besar itu.


"Turun!"


Baru saja Alesha mengambil tiga langkah pertama untuk memanjat pohon apel itu, dan sekarang mentornya, Jacob malah meraih pinggang Alesha dengan kedua lengan kekarnya dan menurunkan gadis itu agar kembali menapaki tanah.


"Kau belum pulih sepenuhnya, jangan melakukan hal yang tidak-tidak." Jacob menunduk dan menatap marah pada Alesha.


"Aku hanya akan mengambil buah itu, tidak usah panik, memanjat pohon adalah hobiku, bahkan terjatuh dari pohon adalah kebiasaanku, Mr. Jacob."


Alesha membalikkan tubuhnya dan mendongkakkan kepalanya kearah atas tepat dimana ada beberapa buah apel yang menggantung pada dahan pohon yang letaknya tidak jauh dari ujung kepala Alesha.


"Apel yang itu tidak busuk." Tunjuk Alesha pada buah apel yang menggantung tidak jauh dari kepalanya.


"Aku bisa mendapatkannya." Ucap Alesha sambil membawa dirinya untuk terangkat beberapa centimeter dari tanah.


"Aku bisa!" Alesha kembali mendorong kedua kakinya agar mau melompat dan meraih buah apel itu.


Lima kali percobaan yang sudah Alesha korbankan ternyata tidak juga memberikan hasil. Tinggi tubuhnya ternyata masih belum memadai untuk bisa mencapai buah apel incarannya yang menggantung indah pada dahan pohon.


Jacob terkekeh ketika melihat kegagalan Alesha agar bisa mendapatkan apel incarannya. Kasihan, padahal dahan pohon tempat apel itu menggantung tidak begitu tinggi untuk Jacob, dan bukan untuk Alesha. Hanya dalam satu kali loncatan saja Jacob mampu mendapatkan buah apel itu dengan mudah.


"Kau mau apelnya?"


Alesha membalikkan kembali tubuhnya untuk menghadap Jacob, lalu setelah itu ia pun mengangguk, dan dalam sepersekian detik kemudian Alesha merasakan kakinya yang melayang dan tubuhnya yang terangkat.


"Ambil cepat." Titah Jacob seraya memeluk Alesha dan mengangkat tubuh gadis itu agar dapat meraih buah incarannya. Ya, itung-itung kesempatan dalam kesempitan, begitu lah Jacob.


Alesha sedikit terlonjak dan jantungnya berdebar cepat saat merasakan tubuhnya yang diangkat keudara oleh Jacob, mentornya.


"Mr. Jacob! Turunkan aku! Aku takut terjatuh!"


"Tidak akan, ambil saja cepat." Jacob pun hanya membalasnya dengan nada santai. Ia tahu Alesha yang kini sedang terserang kepanikan karna takut tubuhnya tidak seimbang dan terjatuh, padahal Jacob sama sekali tidak merasa kesulitan kalau hanya untuk mengangkat tubuh gadisnya.


"Mr. Jacob, aku takut."


"Tidak apa, Al, ambil saja buahnya cepat, atau aku akan menjatuhkanmu." Jacob terkekeh sendiri ketika menjalankan niat jahilnya untuk menakuti Alesha dengan ancaman kalau ia akan menjatuhkan Alesha.


"Jangan! Kau akan memperburuk keadaanku!" Pekik Alesha yang bertambah panik karna sikap jahil mentornya yang mengancam akan menjatuhkan tubuhnya.


"Kalau begitu tahan sebentar, aku akan mengambilnya."


Alesha pun segera mengangkat sebelah lengannya dan memetik beberapa buah apel yang masih bisa dicapai oleh kedua ujung lengannya.


"Turunkan aku, Mr. Jacob."


Setelah mendengar ucapan Alesha barusan, dengan perlahan Jacob pun segera menurunkan kaki Alesha agar kembali mendarat diatas tanah.


Tapi setelah itu, Jacob tidak langsung melepas lengannya yang masih melingkari tubuh Alesha. Jarak mereka sangat dekat, tubuh mereka nyaris bersentuhan karna jarak yang disisakan tidak sampai lima centimeter. Kepala Jacob tertunduk untuk menatap gadis yang kini sedang mematung dalam peluknya. Ekspresi datar namun dengan sorot mata penuh arti Jacob bidik menuju si manis yang malah tertunduk dihadapan dadanya.


Alesha sendiri lagi dan lagi merasakan tubuhnya yang kaku. Entah apa yang ia rasakan dan kenapa ia tidak melakukan apapun agar bisa melepaskan tubuhnya dari sang mentor yang kini malah menatap intens pada dirinya.


No, Al, gak boleh baper, inget gak boleh kepikiran yang macem-macem oke.... Gumam Alesha dalam hatinya.


Berapa lama waktu berlalu? Entah mungkin jarum jam pun sudah beralih tempat kali ini.


"Mr. Jacob, lepas." Alesha berusaha membangkitkan kesadarannya agar tidak hanyut dalam momen yang membuat hatinya berpesta ria didalam sana.


Dorongan dari lengan Alesha pada dada Jacob membuat tubuh mereka kembali mendapatkan jarak.


Canggung


Kenapa Alesha merasa sangat canggung pada mentornya? Padahal mereka tidak melakukan apapun.


Tunggu


Panas....


Ah tidak, Alesha merasakan wajahnya yang memanas. Aish mentornya ini malah membuat Alesha malu.


Jacob yang menyadari Alesha yang sedang tersipu pun seketika membentuk lengkungan indah pada bibirnya. Entah ini kali keberapa Jacob melihat wajah Alesha yang memerah karna ulah jahilnya.


Untuk melepas kegugupannya, Alesha pun segera membawa dirinya untuk duduk dan bersandar pada salah satu pohon. Alesha sudah menyadari ekspresi wajah Jacob yang kini sedang tersenyum jahil padanya. Huh, Alesha selalu saja terbawa oleh pikirannya yang berspekulasi kalau mentornya itu memang menyimpan rasa padanya. Alesha tidak mau hal itu terjadi, ia tidak akan enak dengan anggota tim yang lain.


Tunggu..


Kenapa Alesha berpikiran seperti itu? Ia tidak seharusnya berpikiran seperti itu lagi. Jacob yang menyukainya? Ayolah menurut Alesha hal itu tidak akan mungkin. Pria tampan yang menjadi mentornya itu adalah primadona para wanita, dan tidak mungkin mentornya itu menyukai Alesha yang jelas dari umur saja Alesha hanya bocah kecil untuk Jacob, dan Alesha juga tidak ada apa-apanya jika harus dibandingkan dengan wanita lain. Sudahlah, Alesha tidak ingin berpikiran seperti itu lagi. Segeralah ia menepis jauh spekulasi itu.


Sedang Jacob, kini ia mengubah senyum jahilnya menjadi seukir senyum ramah yang menawan. Setelah itu Ia pun segera berjalan mendekat dan duduk tepat disebelah gadis kesayangannya.


Saat ketenangan sudah menyinggahi mereka, Jacob dan Alesha pun sama-sama merenung bersama perasaan masing-masing sambil bersandar pada batang pohon.


Situasi seperti itu membuat Alesha kembali merasakan saat-saat manis bersama sosok lelaki yang begitu ia kagumi. Adam yang masih bertahta pada hatinya kini malah mengembalikkan kenangan yang begitu spesial pada pikiran Alesha.


Bukan sedih. Alesha tidak mau ada kesedihan untuk saat ini. Situasinya sangat tidak mendukung jika digunakan untuk bersedih. Jadi, Alesha lebih memilih untuk mengukir senyum sambil membayangkan kalau ia dan Adam sedang bernyanyi bersama. Biasanya dulu jika Alesha sedang sendirian Adam akan datang dan menghibur Alesha dengan nyanyian indah. Sungguh Alesha sangat rindu mendengar suara Adam yang bernyanyi untuknya. Baik bukan Adam itu? Ya. Tapi Adam melakukan itu hanya demi menghargai perasaan Alesha, bukan untuk membalas perasaan Alesha.


"Mr. Jacob, boleh aku meminjam ponselmu sebentar?"


"Tentu, pakai saja." Dengan senang hati dan tanpa berpikir dua kali Jacob segera menyerahkan ponselnya pada Alesha.


"Terima kasih." Balas Alesha yang menyunggingkan senyum manis dan membentuk lengkungan eye smile.


Jacob tersipu. Ia malah merasa malu dan panas, padahal Alesha hanya tersenyum saja. Ya ampun, Alesha memang candu baru bagi Jacob.


Dalam genggaman Alesha, tiba-tiba saja ponsel milik Jacob mengeluarkan sebuah alunan musik dari speaker yang terletak dibagian bawah ponsel itu.


Alesha memutar lagu yang selalu Adam nyanyikan untuknya. Bagaimana Alesha tidak tergila-gila dan semakin jatuh pada Adam. Sikap lelaki itu yang selalu saja manis dan perhatian pada Alesha kian memperbesar serta memperdalam rasa cinta Alesha. Makanya Alesha benar-benar terpukul saat mendengar kabar kalau Adam akan segera melangsungkan akad pernikahan bersama wanita lain. Secara, waktu kebersamaan Alesha dan Adam jauh lebih banyak, momen romantis selalu saja tercipta diantara mereka. Alesha tidak mau berpikir kalau Adam hanya memberikan harapan palsu untuknya, namun memang begitu kenyataannya. Bagaimana rasanya? Sakit bukan? Ibarat menjalin kasih dengan siapa dan menikah malah dengan yang lain. Huft, Alesha hanya bisa mengelus dada untuk menahan rasa sakitnya.


Alesha pun membuka suaranya dan bergumam mengikuti alunan lirik dari musik yang sedang berputar itu.


"Kini 'ku tak lagi dengannya


Sudah tak ada lagi rasa


Antara aku dengan dia


Siapkah kau bertahta... di hatiku hai cinta...


Karena ini saat yang tepat untuk singgah di hatiku....


Namun... siapkah kau 'tuk jatuh cinta lagi?... "


"Meski bibir ini tak berkata


Bukan berarti 'ku tak merasa


Ada yang berbeda di antara kita


Dan tak mungkin 'ku melewatkanmu hanya karena


Diriku tak mampu untuk bicara


Bahwa aku inginkan kau ada di hidupku.... "


Spechless...


Jacob yang mendengar senandung nyanyian dari suara Alesha tidak bisa berkata apapun. Jacob memang tidak tahu arti dari lirik lagu yang Alesha nyanyikan, namun Alesha terlihat begitu meresapi dan menghayati setiap kata dari lirik lagu itu.


Indah dan merdu, Jacob kembali tersadar kalau Alesha memang memiliki suara yang sangat merdu jika ia sedang bernyanyi.


"Pikirlah saja dulu


Hingga tiada ragu


Agar mulus jalanku


Melangkah menuju ke hatimu


Pikirlah saja dulu....


Hingga tiada ragu...


Agar mulus jalanku


Melangkah menuju ke hatimu...


Siapkah kau 'tuk jatuh cinta..... lagi? Hiiii"


"Meski bibir ini tak berkata


Bukan berarti 'ku tak merasa


Ada yang berbeda di antara kita


Dan tak mungkin 'ku melewatkanmu hanya karena


Diriku tak mampu untuk bicara


Bahwa aku inginkan kau ada di hidupku."


(HiVi: Siapkah Kau Tuk Jatuh Cinta Lagi)


Jacob begitu terkesima hingga kedua bola matanya berbinar. Kenapa menenangkan sekali jika mendengar Alesha bernyanyi? Ah gadisnya kali ini sungguh membawa banyak hal baru untuk hati Jacob.


Terpaan angin yang menghantam rambut Alesha menambah romansa cinta diraut wajah gadis itu. Alesha seperti tidak sedang bernyanyi, namun seperti sedang mengutarakan isi hatinya. Kenapa Jacob sangat tertarik melihat wajah sejuk Alesha yang sedang bernyanyi, bahkan alam pun mengirimkan angin agar bertambahnya resapan yang membuat jiwa kian menenang bersama mengalirnya keindahan yang dibawa hanyut oleh suara lembut Alesha.


***


Next, next, next, pengen bikin yang lebih greget lagi nih, ditunggu ya kelanjutannya🤗😊 makasih juga yang udah vote, like, komen, and rate. Luv U All💋💕❤️😘