May I Love For Twice

May I Love For Twice
Bucin



Malamnya, Alesha termenung menatapi langit gelap sendirian. Seperti ada suatu jalan, Alesha merasa jika jiwanya sedang terhubung dengan Sang Pemilik Rab. Ia tidak ingin berkhayal yang aneh-aneh, kekosongan melanda dirinya sejak tadi.


Senyap-senyap damai mencelahi ruang waktu, hening dingin memportali situasi dan kondisi. Alesha tidak menunjukkan ekspresi apapun, ia fokus merasakan kehadiran dan kedekatan Sang Pencipta agar hatinya dapat lebih tenang.


Segumpal pikiran yang membenang kusuti otaknya menimbulkan efek nyut-nyuttan disekujur kepala Alesha. Pejaman mata bisa menjadi alternatif, namun ratapan mengenai bagaimana wanita yang sudah Adam ceraikan terus saja menampari hati Alesha.


Menyesakkan untuk Alesha menerima keberadaan Adam kembali sedangkan di luar sana terdapat seorang wanita yang menderita karna sudah diceraikan oleh Adam.


Apa yang mesti Alesha lakukan? Ia sungguh merasa bersalah terhadap mantan istri Adam itu. Alesha adalah wanita, sedikitnya ia bisa merasakan sakit hati mendalam yang sudah pasti dirasakan oleh mantan istri Adam.


"Alesha..."


Suara berat yang familiar itu membuat Alesha terbuyarkan dari lamunannya. Ia pun melirik pada sosok pria berpostur tubuh tinggi besar yang sedang berjalan ke arahnya itu.


"Mr. Ja... Ehm, maksudnya, Jack, ada apa?"


Jacob mendapati ujung hidung, dan alis Alesha tampak sangat jelas memerah, bahkan pinggiran kerudung yang berada dibagian pipi Alesha juga tampak basah, mungkin karna tadi gadisnya itu menangis tanpa sepengetahuannya. Kemudian, Jacob pun langsung membelai lembut pipi gadisnya itu.


"Alesha..." Lirih Jacob.


Alesha memejamkan matanya ketika merasakan sentuhan lembut yang Jacob berikan pada wajahnya.


"Ayo, kau harus makan, aku sudah memesankan ayam penyet, dan jus mangga juga jambu kesukaanmu. Makanannya ada di dapur, sayang, ayo kita ke sana," Ucap Jacob begitu lembut.


Tetapi Alesha menolak, ia sama sekali tidak memiliki mood untuk melakukan apapun, termasuk makan. Wajah Alesha kembali menengok ke arah pinggir, menembus jendela kaca untuk melihat aktivitas malam hari yang berada disekitaran apartemen itu.


"Alesha, jangan seperti ini, aku tidak tega melihatmu saat ini, Al," Sorot mata Jacob menurun, menatap sedih pada gadisnya yang masih murung.


"Aku tidak perduli dengan Adam, yang aku pikirkan sekarang adalah wanita itu, mantan istrinya Adam. Aku tidak tega padanya," Balas Alesha yang masih enggan untuk menatap balik Jacob. "Aku tidak tahu bagaimana jadinya jika aku yang ada diposisi wanita itu, pasti sangat sakit," Lalu Alesha tersenyum miris. "Aku baru tahu, ternyata Adam bisa sejahat itu pada istrinya. Dia pikir aku akan menerimanya meski istrinya itu memberikan izin supaya Adam menikah lagi denganku."


Jacob diam kembali. Ia akan mendengarkan dengan seksama apa yang gadisnya itu akan curahkan.


"Dia pikir aku mau memiliki suami yang memiliki istri lebih dari satu? Aku wanita, dan wanita mana yang hatinya tidak terluka jika suaminya menikah lagi dengan wanita lain? Aku tidak mau mempunyai suami yang memiliki dua istri."


Meski tidak ada niatan sama sekali untuk menyindir, namun ucapan Alesha barusan cukup mengusik Jacob.


"Aku berjanji tidak akan pernah menduakanmu, Alesha, kau peganglah ucapanku itu," Ucap Jacob sembari meraih jemari Alesha, namun Alesha sendiri tidak memberikan respon apapun


"Aku sudah berjanji pada diriku untuk tidak akan pernah mengharapkan Adam kembali, apalagi sampai jatuh cinta padanya lagi, dan aku tidak akan mau mengingkari janjiku itu."


"Baguslah, kau hanya akan menjadi milikku saja, Alesha." Balas Jacob.


"Aku sudah memiliki lelaki yang benar-benar tulus padaku, dan aku juga sangat mempercayainya, aku selalu merasa nyaman dan aman karna dijaga olehnya," Alesha sedikit menyunggingkan senyumnya, dan ia pun menengokkan wajahnya untuk dapat menatap sosok lelaki yang dimaksudkan oleh ucapannya barusan.


"Aku akan selalu menjagamu, Alesha, itu sudah menjadi tugas dan kewajibanku," Balas Jacob yang turut menyunggingkan senyumnya kala melihat sang ratu hati tersenyum padanya.


"Aku harap lelaki itu tidak akan pernah membawa wanita lain dalam hubungan yang sudah terjalin bersamaku. InsyaAllah, aku bisa melewati semua ujian, cobaan, dan berbagai halang rintang bersamanya meski seberat apapun itu, tapi jika masalah yang ditimbulkan karna hadirnya wanita lain, entahlah, mungkin aku akan menyerah dan mengalah saja dengan memutuskan hubunganku dengan lelaki itu," Senyuman yang tersirat sebuah keseriusan sengaja Alesha tunjukkan. Ia ingin tahu bagaimana reaksi Jacob.


"Tidak akan pernah ada wanita lain yang hadir dalam hubungan kita," Jacob memperkecil jaraknya dengan Alesha. Menatap penuh seraya berkata. "Aku tidak mau menjadi lelaki brengsek, aku ingin menjadi lelaki sejati bersama gadisku, ratuku, dan dia yang mampu membawaku pada kehidupan yang jauh lebih baik lagi. Kau, hanya kau saja Alesha, aku mencintaimu sepenuh hatiku, percayalah kalau hanya kau hingga seterusnya hanya kau saja yang akan menjadi kekasihku, My Lil' Ale,"


Alesha langsung memunculkan tawa kecilnya hingga deretan gigi putih, bersih, dan rapinya itu terlihat dengan jelas. Siapa sih wanita yang tidak tersipu ketika mendapatkan ucapan seperti itu dari lelaki yang dicintai? Pastinya bunga-bunga hati pun langsung bermekaran dan membuat sebuah taman indah di dalam sana.


"Dasar bucin," Ledek Alesha, pelan.


"Apa?" Kening Jacob langsung berkerut ketika mendengar ucapan Alesha barusan.


"Tidak apa-apa," Jawab Alesha sembari tersenyum manis.


Jacob menatap bingung pada Alesha, namun sejurus kemudian ekspresi wajahnya kembali berubah menjadi biasa.


"Boleh aku memelukmu?"


"Tidak!" Balas Alesha begitu kilat.


"Kenapa dua minggu terasa lama sekali? Aku sudah tidak sabar untuk menikahimu, Alesha," Jacob merajuk, ia bertingkah seperti bocah kecil sekarang.


"Kenapa kau tidak memberitahunya padaku? Jujur saja, aku merasa tidak enak padamu, sebagai pihak wanita aku belum mempersiapkan apapun, apalagi membantumu entah dalam hal dana atau pun persiapan lainnya, Jack."


"Aku memang sengaja, Ale. Aku tidak mau merepotkanmu.."


"Tapi aku yang merepotkanmu!" Potong Alesha.


"Aku sama sekali tidak merasa kerepotan, Al," Sanggah Jacob.


"Baiklah, karna semuanya sudah terlanjur, maka aku akan membantu keperluan atau kekurangan lainnya yang mesti diselesaikan sebelum akad kita tiba," Ucap Alesha.


"Tidak! Kau tidak boleh melakukan apapun atau membantu apapun! Semua urusan sudah ditangani oleh Taylor. Gedung, surat undangan, dan semuanya sudah beres, Alesha, kita hanya tinggal menunggu harinya saja, sayang."


"Tapi, Mr. Ja. Arghhhh!!! Maksudnya, Jack, aku ingin ikut mengambil peran juga dalam proses perencanaan pernikahan kita," Balas Alesha.


"Bagaimana aku bisa membalas semua kebaikanmu, Jack? Aku malu, kau sangat baik padaku," Wajah-wajah sendu kembali muncul pada raut Alesha.


"Satu! Jadilah istri dan ibu dari anak-anakku, aku hanya ingin itu, Alesha. Kau menjadi bagian dari hidupku, juga anak-anak kita nanti. Tetaplah bersamaku hingga kita tua, dan maut menjarakki kita, dan pada akhirnya kita akan bersatu kembali di surga." Tampak serius namun diselingi dengan senyuman ketulusan, Jacob berbicara sesuai tuntunan hatinya.


"Terima kasih banyak sudah memilihku, padahal kau tahu aku bukanlah gadis yang sempurna," Tatapan Alesha begitu lembut, ia mengucapkan kalimat itu dengan begitu tenang.


"Tidak! Aku yang seharusnya berterima kasih karna kau berhasil lolos seleksi WOSA, jika tidak belum tentu aku bisa jauh lebih baik sekarang. Kehadiranmu membawa aura baru untukku, Al. Aku mencintaimu."


Kriuk... Kriuk...


Saat kehangatan dan manisnya situasi sedang dinikmati oleh dua insan yang sama-sama kasmaran, tiba-tiba saja para demonstran diperut Alesha sudah menuntut keadilan supaya segera diberikan asupan.


"Kau lapar?" Jacob terkekeh. "Ayo, kita makan, tidak ada penolakan!" Langsung saja Jacob menarik lembut lengan Alesha lalu membawa gadisnya itu pergi menuju dapur.


Untuk apa?


Untuk makan tentunya, apa lagi?


***


Semalam mungkin menjadi waktu yang sedikit kelabu untuk Alesha. Hingga tengah malam mata Alesha masih terjaga. Ia kepikiran bagaimana nasib mantan istri Adam? Lalu bagaimana keadaannya sekarang?


Alesha berusaha untuk mengalihkan perhatiannya dengan menyibukkan diri dengan berkutik bersama buku-buku berisi data-data sampel milik SIO yang sudah dipindahkan ke kantor barunya, ke sini, di Bandung, Indonesia. Namun hal itu tidak mengubah apapun dalam pikirannya, ia tetap terpaku pada ucapan Adam kemarin siang.


Alesha pun menjatuhkan dirinya pada bangku kerjanya. Memijit kening secara perlahan, rasanya seperti Alesha sedang menumpuk banyak sekali beban dalam kepalanya itu.


Sesekali Alesha mengedarkan pandangan kesekelilingnya, kantor baru SIO ini tergolong cukup sepi, bisa jadi karna saat ini masih hari pertama dan awal, para karyawan SIO pusat juga belum semuanya pindah ke sini.


Tugas Alesha adalah mengarsipkan data dari hasil uji sampel yang dilakukan oleh petugas laboratorium, lalu setelah itu ia pun menginputnya ke dalam komputer. Bukan hanya itu saja, dihari tertentu, sesuai jadwal yang sudah ditentukan, dan bergantian dengan pegawai yang lain, Alesha juga akan menguji dan meneliti berbagai jenis sampel baru di ruangan laboratorium.


Siang hari yang cukup membosankan untuk Alesha, dan sekarang ia sedang berusaha untuk menghilangkan rasa kantuknya itu dengan pergi ke ruangan laboratorium untuk melihat Nakyung, Tyson, juga Aiden yang sedang meneliti sebuah sampel obat-obatan yang entah Alesha tidak tahu namanya. Ia tidak fokus karna rasa kantuknya itu. Beberapa kali Alesha menguap,


"Mengantuk, sayang?"


Alesha terkejut saat mendengar suara Jacob yang berbunyi tepat disebelah telinganya.


"Argh, kau ini, aku kaget!" Balas Alesha sembari menggertakkan gigi-giginya.


"Tidurlah, atau mau aku saja yang menidurkanmu?"


Godaan Jacob barusan membuat Alesha merasa semakin geram. Untung saja di ruangan itu sedang sepi, hanya ada Nakyung, Tyson, Aiden, dan dua orang petugas laboratorium yang berjarak cukup jauh dari Alesha dan Jacob.


"Jika kalian ingin bermesraan jangan pilih tempat ini," Ledek Nakyung sembari menahan senyumnya.


"Ck, aku bosan!" Dumal Alesha. "Dan lelaki besar ini membuatku geram!" Alesha melirik cepat pada Jacob melalui ekor matanya.


"Kalau begitu ayo, kita jalan-jalan," Jacob menarik lengan Alesha begitu saja.


"Hey, hey! Apa yang kau lakukan? Ini masih jam kerja!" Bentak Alesha dengan suara pelan.


"Kau tidak kerjaan bukan? Itu tidak menjadi masalah, Alesha. Kau tinggal bilang saja pada kepala pengawas kalau pekerjaanmu sudah selesai, dan tidak ada yang perlu dikerjakan lagi." Balas Jacob.


"Mudah sekali kau mengatakan itu, Big Guy!"


"Alesha, hal seperti itu sudah biasa terjadi. Bukan hanya kau saja, para karyawan SIO pusat juga seperti itu, jika mereka merasa bosan dan tidak ada pekerjaan yang harus diselesaikan lagi, biasanya mereka akan meminta izin untuk pergi keluar, entah untuk urusan lain atau sekedar untuk menghilangkan bosan saja. Tenang saja, tidak akan ada yang memecatmu, kecuali pekerjaanmu sedang menumpuk lalu kau meninggalkannya begitu saja."


"Lalu bagaimana jika aku pergi dan ada pekerjaan lain?"


"Kepala Pengawas yang akan menghubungimu."


"Hai, di ruangan laboratorium dilarang untuk berbicara lantang, apalagi berdebat!" Sindir Aiden.


"Kau dengarkan? Kalau begitu ayo, kita pergi,"


"T-tapi!"


"Syut!"


Dan akhirnya mau tidak mau Alesha pun harus mau menerima ajakan pria yang akan meminangnya itu kurang dari dua minggu lagi.


Kepala pengawas memang memberikan izin pada Alesha untuk keluar sebentar, apalagi dengan melihat sosok Jacob, semakin saja kepala pengawas itu memberikan keleluasaan untuk Alesha menikmati waktu istirahatnya, walau pun jam untuk beristirahat sudah terlewat sekitar satu jam yang lalu.


Alesha dan Jacob pergi ke sebuah cafe dan menghabiskan waktu berdua mereka di sana selama kurang lebih tiga puluh menit. Sebenarnya Jacob ingin waktu yang lebih lama lagi, namun Alesha terus mengoceh meminta untuk segera kembali ke kantor SIO.


Aku masih anak baru, tidak enak dan akan terkesan songong jika aku sudah bepergian begitu saja dijam kerja, meski kepala pengawas sudah memberikan izin padaku, terlebih lagi ini masih hari keduaku bekerja sebagai pegawai SIO.....


Itulah kalimat yang Alesha jadikan sebagai bahan alasan. Dengan berat hati, Jacob akhirnya mau untuk mengembalikan Alesha itu ke tempat kerjanya, dan setelah itu, Jacob juga kembali ke kantor cabang milik ibunya untuk melanjutkan pekerjaannya.