
Jam 00.00
"Sembilan belas tahun umur Alesha, terima kasih buat semua karunia yang udah engkau kasih ke Alesha. Alesha bersyukur karna masih mempunyaimu disegala masalah dan ujian yang Alesha lewatin. Semuanya berlalu, bahkan gak berasa kalau udah sebelas tahun orang tua Alesha engkau panggil untuk kembali menuju rumah kedamaian di taman surga. Harapan Alesha sekarang adalah tolong terus bimbing Alesha agar bisa menjadi wanita sholehah seperti umi Alesha, dan seorang yang cerdas seperti bapak Alesha. Karuniailah Alesha ketabahan hati dan kekuatan serta keteguhan iman dan takwa hanya kepadaMu. Tolong tuntun Alesha untuk kembali kepada fitrahnya seorang muslimah taat, biar pun Alesha tahu kalau untuk bisa menjadi seperti itu rasanya banyak sekali rintangan dan cobaan, tapi Alesha gak bakal nyerah. Aamiin."
Terucap lah panjatan doa dari seorang gadis yang kini sudah memasuki fase baru ditahun yang membawanya memasuki angka baru dalam rentan waktu kehidupan yang sudah terlewatkan. Sembilan belas tahun bukan waktu yang Alesha lalui dengan mudah, kebahagiaan masa kecil yang terenggut karna perginya kedua orang tua menunju dunia keabadian, hilangnya kasih sayang dan cinta dari sanak saudara, diperlakukan keras dan kasar oleh para sepupu, dan kewajibannya untuk mengurus sang kakek yang sakit juga sudah lapuk termakan usia. Ejekan demi ejekan, dijauhi oleh teman-teman dan tidak memiliki seseorang untuk berkeluh kesah. Itulah Alesha, ketegaran seolah tidak ada habisnya dalam batin gadis itu. Masa remaja telah habis, namun Alesha merasa dirinya masih belum juga berubah.
Disetiap tanggal, bulan, dan tahun yang sama, Alesha selalu tersenyum dan merasakan kehadiran orang tuanya dengan cara membaca setiap kalimat-kalimat suci dalam kitab pedoman yang tidak pernah ia lepaskan. Setelah orang tuanya meninggal, Alesha tidak pernah mendapatkan asuhan yang baik, apalagi ucapan selamat ulang tahun, hal itu sangat mustahil. Satu-satunya cara yang biasanya Alesha lakukan yaitu murotal Al-Quran dan mengingat semua kenangan dan didikan yang sudah diajarkan oleh dua malaikat berupa manusia yang sekarang sudah kembali keasalnya.
Alesha selalu mencoba untuk tersenyum ceria jika tanggal kelahirannya sudah tiba, walau banyak sekali orang dan para saudara yang menganggapnya gila. Kadang Alesha pergi sendirian mengelilingi kota Bandung yang luas dengan berjalan kaki hanya untuk merayakan hari ulang tahunnya dan menghibur diri. Alesha tidak memiliki uang, untuk menghalau rasa lapar biasa Alesha akan menjual makanan ke jalanan, dan untungnya saja biaya rumah sakit dan pengobatan kakeknya ditanggung oleh pemerintah.
Dan hari ini, tepatnya pukul dua belas malam lewat satu menit, Alesha pun mulai memejamkan matanya setelah hampir tiga jam mulutnya menggumamkan lantunan ayat-ayat dalam kitab suci kesayangan pemberian orang tuanya. Untuk yang terakhir, Alesha memberikan sebuah kecupan pada liontin bulan dan bintang yang menggantung dilehernya. Kalung itu dan Al-Quran adalah dua benda yang tersisa dari pemberian orang tuanya, untuk sisanya, para saudara dan sepupu yang cukup tamak mengambil semua barang dan benda-benda indah milik Alesha dan mendiang orang tuanya. Alesha masih kecil saat itu, jadi ia lebih memilih diam dan menangis saat melihat semua barangnya dirampas oleh para saudara.
Hari ini adalah hari yang spesial untuk Alesha, dan ia ingin hari ini dipenuhi oleh kebahagiaan walau hanya dilalui sendirian karna semua anggota timnya tidak ada yang mengetahui tanggal ulang tahun Alesha yang jatuh hari ini, kecuali Jacob.
Saat matahari sudah membawa kembali pagi dan sinar yang begitu cerah, Jacob terlihat begitu semangat.
"Aku harap kalau ulang tahunmu kali ini akan berkesan, Al, aku sudah mempersiapkannya dari jauh-jauh hari." Gumam Jacob sambil memandangi gambar Alesha dalam galeri ponselnya.
"Selamat ulang tahun, sayang." Bibir Jacob maju dan mencium layar ponsel yang sedang menampakkan wajah ceria Alesha yang sedang tersenyum cerah.
Jacob pun beralih untuk menggeserkan layar ponselnya dan mendapati foto si cantik kesayangannya yang lain.
"Hari ini akan ku buat kau bahagia, Al." Gumam Jacob.
Menyambut hari kelahiran sang gadis kesayangan, Jacob pun dengan semangatnya mempersiapkan segala kebutuhan untuk membuat sebuah pesta kecil di taman tengah hutan buatannya. Tidak lupa pula kue ulang tahun buatan ibu penjaga kantin yang sudah bekerja sama dengan Jacob untuk terselenggaranya pesta mini buatan Jacob.
"Mr. Jacob, kuenya udah saya taruh diatas meja kerja ya." Ucap sang ibu kantin yang tidak sengaja berpapasan dengan Jacob.
"Terima kasih, bu sudah mau membantu saya." Balas Jacob sambil menyunggingkan senyum tulusnya.
Setelah mendapatkan balasan berupa anggukan dari sang ibu kantin, Jacob pun akhirnya segera melangkahkan kembali kakinya menuju tempat di mana pesta mini itu akan berlangsung.
Selama satu hari ini, Alesha begitu semangat dan aktif. Ia ingin menghidupkan hari ulang tahunnya dengan penuh kebahagiaan walau tidak ada seorang pun yang tahu. Senyuman segarnya tidak pudar-pudar walau kondisi ruang kelas begitu sunyi karna para murid lain sedang fokus untuk mencatat materi.
Tidak ada kesedihan yang ingin Alesha rasakan dihari ulang tahunnya kali ini, ia ingin mengeluarkan semua aura baik dan cerianya lalu membagikan pada yang lain.
Detik, menit, jam, setiap waktu yang berlalu pada hari itu membuat Bastian dan yang lain merasa ada keanehan dalam diri Alesha yang tiba-tiba saja bertingkah melebihi keceriaan dihari-hari sebelumnya. Wajar saja, mereka tidak tahu kalau Alesha itu sedang merayakan ulang tahunnya dengan terus mengembangkan senyum sumringah serta keceriaan yang tiada hentinya selama jam pelajaran sesi kedua berlangsung.
Jacob sadar akan tingkah Alesha yang terus menerus menunjukkan tanda kebahagiaan pada mimik wajahnya. Jacob juga turut merasakan hatinya yang berbahagia saat melihat Alesha berada dalam mood sebaik hari ini, dipenuhi oleh tawa ria dan kesenangan pribadi.
***
Pukul 05.15 sore
Tok.. Tok.. Tok....
"Ck, siapa sih yang ketuk pintu ganggu aja." Cerocos Merina. "Buka, Stel!"
Stella yang merasa namanya disebut pun menatap bingung pada Merina. "Apaan?"
"Buka pintunya!" Titah Merina dengan malas.
"Loh kenapa harus aku?" Stella pun mengerutkan kening sambil menunjuk pada dirinya sendiri.
"Ck, berisik tau gak kalian tuh!" Ketus Nakyung sambil beranjak dari atas kasurnya dan berjalan menuju pintu.
"Iya ada apa?" Tanya Nakyung sembari membuka pintu kamar messnya.
"Kamu Alesha?" Tanya seorang pria yang merupakan petugas kebersihan.
"Bukan, kenapa memangnya?" Jawab Nakyung sembari melemparkan pertanyaan balik.
"Boleh saya tahu yang mana Alesha?" Pintar pria petugas kebersihan itu.
"Itu." Lalu Nakyung pun membuka jalan dan menunjuk pada Alesha yang sedang asik duduk diatas kasurnya. "Dia Alesha."
Alesha yang menyadari kalau namanya itu disebut-sebut juga Nakyung yang barusan menunjuk ke arahnya seketika memberikan tatapan bingung sambil bertanya. "Ada apa?"
"Dia mencarimu." Jawab Nakyung sambil melirik ke arah petugas kebersihan yang berdiri disebelahnya.
"Iya ada apa, pak?" Tanya Alesha yang langsung turun dari kasurnya lalu berjalan mendekati petugas kebersihan yang memanggilnya.
"Mr. Jacob memanggilmu untuk datang ke ruangannya." Bisik petugas kebersihan itu tepat ditelinga Alesha. "Sekarang juga, dan dia tidak mau dibuat menunggu lebih lama lagi."
"Apa memangnya ada apa?" Tanya Alesha.
"Saya tidak tahu, hanya itulah yang dipesankan olehnya." Jawab petugas kebersihan itu.
Alesha mengangguk pelan. "Baiklah, terima kasih."
Petugas kebersihan itu segera pergi kembali dan meninggalkan Alesha yang sedang berdiri di ambang pintu.
Satu tarikan napas menjadi pendahuluan untuk Alesha mengumpulkan niatnya untuk menemui san mentor.
"Aku pergi dulu sebentar." Ucap Alesha pada teman-temannya lalu setelah itu ia pun mengambil langkah demi langkah untuk sampai di ruangan mentornya.
Diperjalanan menuju gedung para mentor, kepala Alesha seperti sedang dijadikan ruangan rapat oleh segerombol pertanyaan yang saling berdebat dan menghasilkan sebuah rasa kepenasaranan.
Entah kenapa hati Alesha merasakan sesuatu yang mengganjal, seperti ada hal yang samar-samar dapat Alesha tebak, namun ia masih sangat meragukan hal itu.
Akhirnya, setelah memakan waktu yang cukup singkat, Alesha sampai juga di depan pintu ruangan yang terdapat papan nama bertuliskan 'Ridle', yaitu nama belakang Jacob.
"Alesha!" Panggil seorang bersuara berat yang sukses membuat Alesha terlonjak kaget.
"Ini, ada titipan dari Mr. Jacob."
Security? Ya ampun, Alesha pikir siapa.
Security itu memberikan selembar kertas berlipat kepada Alesha yang langsung diterima oleh jemari pada telapak tangan sebelah kanan Alesha.
"Ini titipan dari Mr. Jacob."
Sekilas Alesha memandang bingung pada lipatan surat berwarna merah muda itu.
"Baik, terima kasih, pak." Balas Alesha sambil tersenyum kaku.
Security itu menangguk dan kembali melangkah melewati Alesha untuk pergi ke pos penjaga di depan gedung mentor.
"Surat dari Mr. Jacob? Lah terus, berarti Mr. Jacob gak ada di ruangannya dong?"
Kedua ujung alis Alesha saling mendekat dan matanya pun ikut menyipit. Dipandanginya oleh Alesha pintu ruangan sang mentor selama beberapa saat. Lalu dorongan dari rasa kepenasaranan pun membuat Alesha mengangkat lengannya lalu membuka sedikit pintu yang ada dihadapannya itu.
"Permisi, Mr. Jacob..." Panggil Alesha yang menonjolkan kepalanya diambang pintu ruangan sang mentor yang terlihat sepi dan kosong.
Benar dugaan Alesha, Jacob tidak ada di ruangannya.
Alesha pun memberanikan diri untuk membuka lebar pintu ruangan itu dan masuk ke dalamnya.
Hening...
Tidak ada yang dapat Alesha rasakan selain udara yang begitu sejuk dari dalam ruangan mentornya. Kemana Jacob? Pikir Alesha.
Beberapa detik berlalu, Alesha baru sadar kalau ada sebuah baju dress wanita yang begitu cantik menggantung dipinggir tembok ruangan mentornya.
Alesha pun mendekati sudut tembok itu sambil terus membidikkan tatapannya pada dress wanita yang entah milik siapa dan bagaimana bisa berada di dalam ruangan mentornya.
Jemari Alesha terangkat ketika otaknya memberikan perintah untuk menyentuh permukaan dress cantik itu.
Mata Alesha berbinar dan tanpa terasa seulas senyum terbentuk pada sudut bibirnya.
"Bagus banget dressnya." Puji Alesha.
Lalu sepersekian derik kemudian pikirannya kembali teralihkan pada selembar kertas pemberian security tadi.
Alesha tidak mau membuang-buang waktu, maka dari itu Alesha segera membuka lipatan kertas yang sedari tadi ia genggam.
Tertulis sebuah pesan yang berasal dari mentornya, Jacob.
Pakai dress itu, ganti bajumu di kamarku. Jika kau membaca tulisan ini, itu berarti aku sedang menunggumu di tamanku, cepatlah datang kemari karna aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Dan usahakan agar tidak ada yang mengikutimu, Alesha.
Tunggu..
Apa maksud dari isi tulisan yang mentornya itu buat? Wajah Alesha berkerut bingung saat memahami isi pesan tinta diatas kertas itu.
"Baju ini buat Alesha pake?" Mata Alesha beralih pada dress cantik yang sangat memikat jiwa wanitanya.
"Mr. Jacob nunggu di taman? Trus Alesha harus ke sana gitu? Eh terus ini gimana sama dressnya? Alesha pake? Tapi emang bener? Nanti salah lagi, siapa tau ini buat cewe lain." Racau Alesha yang masih dilanda kebingungan.
"Tapi ditulisan ini jelas-jelas Mr. Jacob manggil nama Alesha."
Alesha pun berkacak pinggang. Ia memikirkan keputusannya untuk memakai dress cantik itu atau tidak. Yang Alesha bingungkan adalah kenapa Jacob menyuruhnya untuk memakai dress itu? Keraguan Alesha semakin bertambah saat pikirannya mengatakan kalau dress itu pasti ditujukan untuk orang lain dan bukan untuknya.
"Tadi ditulisannya, Mr. Jacob nyebut nama Alesha." Ucap Alesha sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ah, iya kali ya. Yaudah lah bodo amat, mau buat Alesha atau bukan juga, yang penting buktinya ada di surat ini kalau Mr. Jacob yang suruh Alesha pake." Lanjut Alesha dengan percaya diri. Ya walau hatinya masih meragukan ucapannya barusan.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk Alesha mengganti bajunya dengan dress cantik itu di dalam kamar Jacob. Sebenarnya Alesha merasa sangat risih karna harus memakai baju dress yang sekarang sudah ia kenakan, namun ia tidak mau membuat sang mentor untuk menunggu lebih lama lagi, bisa-bisa kalau Alesha terlambat masalah baru akan muncul dan terjadilah keributan antara ia dan Jacob. Alesha ingin menghindari hal itu, ia ingin hubungannya dengan sang mentor baik-baik saja tanpa harus ada keributan atau pertengkaran entah itu besar atau pun kecil.
Alesha masih bertanya-tanya kenapa mentornya itu menyuruh untuk mendatangi taman tengah hutan pada sore hari menjelang malam seperti ini. Tampak jelas kabut jingga diufuk barat sudah tertekan oleh kegelapan malam yang sebentar lagi akan menutupi seluruh cahaya. Alesha masih tidak mengira kalau mentornya itu ternyata memiliki sebuah pesta kecil demi merayakan hari ulang tahunnya.
Sambil terus melewati jalan setapak yang diiringi oleh pepohonan rindang disisinya, Alesha terus membawa langkah kakinya untuk terus menapaki setiap inchi tanah demi bisa sampai pada tempat dimana mentornya sedang menunggu sekarang. Baju pijama yang tadi ia kenakan pun masih tersangkut pada lengannya. Alesha sengaja membawa baju tidurnya karna tidak mungkin juga jika ia meninggalkannya di dalam kamar Jacob, hal itu bisa menimbulkan prasangka negatif disetiap pikiran para murid WOSA, bahkan para mentor sekali pun.
Sinar matahari semakin meredup dan berganti dengan sinar cerah ungu gelap yang membuat hutan terasa semakin menakutkan, tetapi hal itu tidak membuat Alesha terusik, gadis itu malah semakin melajukan langkahnya dengan sesekali menundukkan kepala agar bisa melewati rerantingan pohon yang menjuntai kebawah.
Sekitar sepuluh meter dari tempat tujuan, Alesha mendapati ada segerombol cahaya orange yang berlindung dibawah kegelapan, tepatnya dibalik dua pohon rindang yang memberikan sedikit celah agar Alesha dapat memperjelas tatapannya.
Rasa penasaran bergejolak dalam diri Alesha hingga akhirnya ia berhasil melewati dua pohon yang menjadi gerbang utama untuk memasuki taman kecil buatan mentornya.
Namun, secara mendadak langkah Alesha terhenti begitu saja saat ia berada sekitar satu meter dari gerbang utama tadi. Ada apa?
Tepat diujung sana, di depan sebuah pohon yang diatasnya terdapat sebuah rumah kayu, Jacob berdiri tegap sambil tersenyum ke arah Alesha yang berjarak sekitar tujuh meter darinya. Kedua telapak tangan Jacob dimasukkan kedalam saku celana menambah kesan dan aura tampan yang begitu memancar dan mempesona. Smirk bahagia Jacob terbentuk ketika melihat Alesha yang hanya bisa celingak-celinguk memandang bingung pada cahaya-cahaya lilin kecil yang mengelilinginya.
Kening Alesha berkerut, ekspresi aneh pun tidak luput dari raut wajahnya sekarang. Alesha bingung? Tentu saja, bahkan saking bingung dan terkejutnya mulut Alesha pun sedikit terbuka, dan menunjukkan deretan gigi yang rapih, putih juga bersih. Alesha tidak mengetahui apa niat mentornya itu, dan sekarang ia sudah berada disebuah taman cantik yang begitu rapih dengan banyaknya lilin kecil dan taburan potongan kelopak bunga mawar di atas tanah. Beberapa gelengan dikepala Alesha bergerak secara refleks, matanya pun berkedip-kedip untuk memastikan kalau apa yang terekam oleh kedua irisnya itu bukan lah sebuah halusinasi.
Benar-benar bingung, jangan ditanya seberapa bingungnya Alesha kali ini. Sedikit syok saat mendapati mentornya yang sedang asik memandang ke arahnya. Tunggu apa itu Jacob? Alesha tidak yakin kalau Jacob terlihat begitu tampan dengan balutan tuxedo berwarna biru gelap yang senada dengan langit malam.
Pandangan Alesha kembali terpusat pada satu titik dimana ada sebuah meja bulat kecil dengan hiasan kue ulang tahun diatasnya juga tiga buah paper bag mewah yang diletakkan dengan mengelilingi kue ulang tahun juga boneka beruang kesayangannya, si Bontot sedang duduk bersandar pada kaki meja.
Sebentar...
Kue ulang tahun?
Sejenak Alesha berpikir. Hari ini adalah hari ulang tahunnya, apa mungkin mentornya itu berniat untuk merayakannya? Tapi mana mungkin Jacob melakukan itu? Pikir Alesha.
Otak gadis itu pun semakin berkecamuk dan saling melemparkan pertanyaan yang membuat Alesha merasa tidak enak. Mata Alesha berpencar-pencar menatap kesetiap sudut taman yang kali ini begitu kental dengan aura keromantisan.
Gelap malam pun seakan menjadi dinding ruangan bagi bintang-bintang dan bulan yang kembali menjadi tamu dalam acara manis buatan Jacob yang dipersembahkan untuk gadis tercintanya. Bayangkan saja bagaimana rasanya berada diposisi Alesha, ulang tahunnya kali ini dibuat begitu sempurna oleh Jacob. Taman tengah hutan yang semula acak-acakkan, sekarang disulap menjadi taman yang begitu romantis dengan banyak sekali lilin kecil yang melingkupinya, taburan kelopak bunga mawar menjadi alas cantik yang siap dipijaki oleh kaki Alesha yang terbalut sendal santai yang sangat bertolak belakang dengan dress selutut yang ia gunakan saat ini. Tidak ada lampu sedikit pun, cahaya hanya berasal dari lilin-lilin pendek dan juga bulan yang memantulkan sinar terang pengganti bohlam.
"Alesha.." Panggil Jacob dengan lembut.
Wajah Alesha langsung berbalik dan menatap lurus ke arah mentornya yang barusan memanggil. Tidak ada ekspresi yang Alesha tunjukkan, gadis itu masih dikelabui oleh perasaan aneh bercampur bingung.
Menghiraukan Alesha yang sama sekali tidak memberikan ekspresi apa-apa, Jacob pun melangkah maju dan mendekati Alesha. Ia membawa dirinya begitu dekat dengan gadis dambaannya hingga hanya tersisa satu langkah lagi sebagai jarak antaranya dan Alesha.
"Selamat ulang tahun."
"Hhh.. Huuft.." Satu tarikan dan hembusan napas pun terdengar samar dari Alesha. Ia terkesiap hingga membuat kakinya bergerak mundur satu langkah.
Tidak salah dengarkan kuping Alesha barusan? Jacob mengucapkan ucapan selamat ulang tahun padanya, pada Alesha.
Alesha mendongkak menatap wajah Jacob yang terlihat begitu tenang. Sedangkan Alesha, matanya melebar dan bibir sedikit terbuka bersamaan tatapan haru penuh sendu yang menghasilkan beberapa mili air mata pada ujung kelopak mata Alesha.
Tidak percaya dengan apa yang kupingnya tangkap barusan, namun Alesha tidak dapat mengelak dari kenyataan bahwa barusan mentornya itu mengucapkan kalimat 'Selamat ulang tahun' padanya.
"Selamat ulang tahun yang kesembilan belas, Alesha Sanum Malaika." Lanjut Jacob sembari memberikan usapan lembut pada puncak kepala Alesha.
"Kau mengucapkan apa?" Tanya Alesha sangat pelan namun masih dapat Jacob dengar.
Pertunjukan pun dimulai, para penonton yang bukan lain adalah benda bulat kecil yang aslinya berukuran sangat besar yang mengambang dilangit pun ikut hanyut dalam momen hangat yang akan sangat berarti untuk pribadi Alesha.
"Selamat ulang tahun, Alesha Sanum Malaika." Ulang Jacob sangat lembut.
"Katakan kalau kau benar-benar mengucapkan kalimat itu, Mr. Jacob." Lirih Alesha yang tak disangka akan dibarengi dengan terjunnya satu butiran cair berukuran kecil yang berasal dari dalam mata Alesha.
"Hiks, sepuluh tahun aku tidak pernah mendengar kalimat seperti itu yang ditujukan untukku." Isakkan kecil pun mulai terdengar hingga sedikit menghambat proses masuknya udara kedalam paru-paru Alesha. "Dan sekarang, setelah sampai pada tahun kesebelas...."
"Selamat ulang tahun, Alesha." Potong Jacob dan setelah itu satu tarikan halus pun berhasil membuat tubuh Alesha terbenam dalam pelukan mentornya. "Selamat ulang tahun yang kesembilan belas, Ale."
Jacob merengkuh pinggang Alesha dan meletakkan kepalanya pada bahu Alesha.
Respon balik masih belum Alesha berikan. Ia masih dalam fase syok dan tidak percaya akan ucapan mentornya barusan.
"Aku tahu hari ini kau ulang tahun, maka dari itu aku menyiapkan ini semua."
Hati Alesha semakin dibuat luluh ketika mendengar ucapan Jacob barusan. Benarkah mentornya itu yang menyiapkan ini semua? Mengubah tamannya menjadi begitu indah dan romantis? Ini pertama kalinya untuk Alesha merasakan dirinya yang seolah begitu spesial dimata orang lain setelah sebelas tahun berlalu tanpa merasakan adanya kasih sayang, belas kasihan, dan cinta.
Buliran air bening kian bertambah dan saling berbalap pada wajah Alesha. Tidak bisa terungkapkan bagaimana terharu dan bahagianya hati Alesha kali ini. Ia sangat amat berterima kasih pada Jacob karna selalu membuatnya merasakan kembali perhatian dan kasih sayang murni yang selama satu dekade lenyap begitu saja.