May I Love For Twice

May I Love For Twice
Penculikan dan Pengakuan



Langkah kaki Jacob berpacu dengan cepat untuk sesegera mungkin sampai pada bibir pantai. Hatinya begitu resah saat tahu kalau Alesha tidak ada di kamar messnya. Kunci pintu itu masih Jacob pegang, dan bagaimana bisa Alesha keluar dari kamar messnya?


"Di mana Alesha?" Tanya Jacob dengan panik saat ia sudah sampai di tepi pantai. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar pantai, namun tidak ada tanda-tanda dari Alesha.


Tiba-tiba saja ponsel milik Jacob berdering. Ada sbuah panggilan masuk dari Levin. Tanpa pikir panjang, Jacob segera mengangkat panggilan telepon itu.


"Jack, anak buah Mack, mereka memburu Alesha! Mack masih memburu Alesha, Jack! Mack adalah penyebab kematian orang tua Alesha, dan Mack berniat ingin membalas perlakuan orang tua Alesha karna dulu orang tua Alesha pernah membuat usahanya hancur dan menjebloskannya kepenjara! Kau harus menajaga Alesha! Anak buah Mack sedang berada di WOSA!"


Jacob tertegun saat mendengar ucapan Levin barusan. Jadi, Mack penyebab kematian orang tua Alesha? Dan sekarang Mack memburu Alesha untuk membalas perlakuan orang tuanya dulu?


"Jack, kau mendengarkan aku kan?"


"Ya. Aku mendengarkanmu." Balas Jacob dengan ekspresi wajah yang terlihat sedikit syok.


"Jaga Alesha, aku tidak mau hal buruk menimpanya lagi. Dia tidak bersalah, jangan biarkan anak buah Mack menemukan Alesha, Jack!"


Setelah mendengar ucapan Levin barusan, Jacob segera memutuskan sambungan teleponnya. Sebuah rasa penyesalan menyelinap memasuki hati Jacob. Sekali lagi ia meninggalkan Alesha, dan sekarang Alesha dalam masalah lagi. Jacob yakin, pasti anak buah Mack yang membawa Alesha.


"Mr. Jacob!" Panggil Bastian yang berlari menghampiri Jacob. "Seseorang membawa Alesha! Aku dan Aiden berusaha mengejarnya, namun ia menghilang begitu saja, dan kami tidak bisa menemukan Alesha." Lanjut Bastian sambil mencoba untuk mengatur nafasnya yang terasa berat setelah berlari cukup jauh.


"Bastian, kau ikut aku, dan kalian pergi lalu cari Mr. Thomson, bilang padanya untuk menghubungiku!" Perintah Jacob yang berusaha untuk bersikap setenang mungkin. JacobĀ  tidak mau memperkeruh situasi, ia harus bisa berpikir tenang dan mencari cara untuk menemukan Alesha.


"Mack, sialan kau!" Gumam Jacob sambil mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Gemertak gigi dan rahang yang sudah mengeras menunjukan kalau emosinya sudah siap untuk dilepaskan.


"Bas, dimana terakhir kali kau melihat Alesha?" Jacob menatap tajam pada Bastian.


"Terakhir aku melihat orang itu membawa Alesha masuk ke dalam hutan." Jawab Bastian yang sedikit takut saat mendapat tatapan menyeramkan dari mentornya itu.


Tatapan Jacob beralih menuju arah hutan. Dipandanginya hutan itu sambil menerka-nerka kemana larinya anak buah Mack yang sudah berhasil menculik Alesha. Pikirannya dipaksa untuk terus bekerja agar Jacob bisa segera mendapatkan keputusan kemana ia harus pergi. Matanya menatap tajam seperti sebuah laser yang sedang membidik suatu titik. Rasa bersalah kembali muncul kepermukaan hati Jacob. Jika saja ia tidak meninggalkan Alesha, pasti kejadian ini tidak mungkin terjadi, dan Jacob masih bersama dengan Alesha sekarang. Sebuah kesimpulan yang dapat dihasilkan oleh otak Jacob adalah anak buah Mack sudah berhasil masuk ke WOSA dan memata-matai Alesha tanpa sepengetahuan siapa pun, termasuk Jacob. Pikiran Jacob kembali menjelajah berbagai pertanyaan yang semakin bermunculan. Apa hubungan orang tua Alesha dan Mack? Dan bagaimana bisa orang tua Alesha menghancurkan usaha Mack dan juga membuat Mack harus dipenjara? Dan sekarang, Mack mengincar Alesha untuk menjadi sasarannya dalam membalaskan kebenciannya pada orang tua Alesha. Kenapa harus seperti ini? Kenapa Alesha harus terlibat dalam hal seperti ini? Jacob tidak pernah sesibuk ini saat ia bersama Yuna karna memang tidak pernah ada yang berniat buruk pada Yuna, namun bersama Alesha, Jacob harus benar-benar awas jika ia tidak ingin kehilangan gadis itu.


Sedangkan di tempat lain, tepatnya di tengah hutan yang berjarak sangat jauh dengan WOSA, Alesha terdiam sambil menyandarkan kepalanya dibatang pohon yang sangat besar. Dalam hatinya Alesha begitu takut. Ia dibawa oleh seorang lelaki yang menyamar menjadi petugas kebersihan. Singkatnya, ada seorang yang membuka pintu kamar messnya Alesha yang terkunci, didapatinya oleh Alesha seorang petugas kebersihan berseragam WOSA. Petugas kebersihan itu meminta Alesha untuk mengikutinya dengan alasan kalau Mr. Thomson sedang menunggu Alesha di pantai. Alesha tidak tahu kalau itu adalah sebuah tipuan, jadi tanpa berpikir panjang, Alesha menuruti ucapan petugas kebersihan itu. Setelah sampai di pantai, tiba-tiba saja orang itu membekap mulut Alesha. Untungnya, ada Bastian, Aiden, Maudy dan Merina melihat orang yang sedang mambawa Alesha itu. Karna merasa sedikit curiga, mereka pun mengikuti Alesha hingga pantai. Mereka sangat terkejut saat melihat petugas kebersihan itu membekap mulut Alesha lalu membawa Alesha ke arah hutan. Merina dan Maudy segera berlari untuk mencari Jacob, sedangkan Bastian dan Aiden berlari untuk mengejar Alesha.


"Mr. Jacob, kau dimana?" Ucap Alesha dengan lirih. Alesha sangat takut dan bingung. Tangannya diikat dengan tali dan kakinya diikat kepohon. Sorot mata Alesha juga semakin sayu, dan wajahnya menunjukan ekspresi pasrah. Alesha ingin sekali menangis, namun kalau dipikir lagi tidak ada gunanya juga karna walau pun dengan menangis, orang itu tetap tidak akan melepaskan Alesha.


"Aku sudah mendapatkan gadisnya, cepat jemput aku!" Ucap orang yang menculik Alesha melalui ponselnya.


Alesha berpikir kalau orang itu akan membawanya kabur dari WOSA. Alesha benar-benar tidak mengenali orang yang menculiknya itu, dan Alesha tidak tahu tujuan orang itu menculiknya.


"Cepat bangun! Kita harus pergi dari sini!" Ucap orang itu sambil menarik tangan Alesha dengan kasar.


"Kau mau bawa aku pergi kemana?" Tanya Alesha dengan pasrah.


"Kau akan tahu nanti." Jawab orang itu sambil mendorong kasar tubuh Alesha.


Kaki Alesha terasa sangat perih karna ia berjalan tanpa beralaskan sendal. Dilehernya juga terdapat garis merah yang cukup besar dan terasa sangat perih apabila bergesekan dengan tali tambang yang mengalungi leher Alesha. Orang itu memperlakukan Alesha seperti seekor hewan. Leher Alesha diikat, dan orang itu akan menarik tali ditangannya yang tersambung dengan tali yang melingkari leher Alesha apabila Alesha berjalan lambat. Wajah Alesha mulai memucat dan rambutnya juga sudah acak-acakkan. Alesha sudah pasrah kali ini, ia hanya berharap agar Allah bisa membantunya terbebas dan pergi dari orang itu. Rasa sakit dan perih dibekas jahitan diperut Alesha membuat Alesha meneteskan air matanya.


"Mr. Jacob, kau dimana?" Ucap Alesha dengan sangat pelan. Kepalanya tertunduk untuk menahan rasa kesedihan dan ketakutan yang sekarang sedang melanda dirinya.


***


Jacob sedang berada di ruangannya saat ini, tepatnya sedang terduduk dibangku kerjanya. Mr. Thomson meminta Jacob agar tidak mengejar anak buah Mack yang menculik Alesha ke hutan, dan itu membuat Jacob frustasi. Pikiran Jacob tidak bisa lepas dari Alesha, hatinya tidak bisa tenang, dan kekhawatiran terus melingkupi Jacob. Alesha dalam bahaya saat ini, dan Jacob tidak bisa bertindak saat ini sampai WOSA berhasil melacak keberadaan anak buah Mack. Dan disaat Jacob tengah khawatir-khawatirnya pada sosok gadis yang kini menjadi incarannya, tiba-tiba saja Laura, ibu Jacob membuka pintu ruangan Jacob dan menampilkan wajah yang penuh dengan air mata. Tangis haru yang ibu Jacob rasakan merupakan suatu kebahagiaan dan penyesalan yang selama ini terpendam. Jacob, sang anak sudah berada dihadapan Laura, ibunya yang dua puluh tiga tahun lalu menelantarkan.


"Anakku." Ucap Laura seraya berlari ke arah Jacob lalu memeluk anaknya itu. Tangis Laura semakin pecah saat ia berada dalam pelukan Jacob. "Jacob, aku ibumu dan ibu Mona." Ucap Laura disela-sela tangisnya.


Tubuh Jacob mendadak menegang. Seperti sebuah tombak yang melesat dan mengenai titik hati Jacob, ucapan Laura barusan memecahkan sebuah kotak yang penuh dengan pertanyaan dalam pikiran Jacob. Sentakan terjadi dalam hati dan pikiran Jacob secara bersamaan.


"Aku mencarimu dan Mona, dan akhirnya aku menemukan kalian." Lanjut Laura yang masih terisak.


Jacob menggelengkan kepalanya mencoba untuk menolak ucapan yang baru saja dia dengar.


"Tidak, Nyonya, anda pasti salah." Ucap Jacob sambil melepaskan pelukan Laura.


"Tidak, aku sudah tau tentang Mona dan aku yang menghubunginya waktu itu." Balas Laura. "Kau akan percaya setelah melihat ini." Laura menampilkan sebuah foto kehadapan mata Jacob yang menunjukkan Jacob, Mona, dan kedua orang tuanya sedang berlibur disebuah tempat rekreasi. Jacob menyipitkan kedua matanya dan memperhatikan sosok ia yang waktu itu masih berusia satu tahun, dan juga Mona kakaknya yang masih berusia sembilan tahun. Rasa tidak percaya merasuki perasaan Jacob saat ia mengenali wajah kakaknya, Mona yang tidak jauh berbeda dengan wajah Mona yang sekarang.


Kaki Jacob perlahan mundur. Semrawut rasa sedih, kecewa, dan marah memenuhi segala penjuru ruang hati Jacob. Apa benar wanita dihadapannya ini adalah ibunya? Dan bagaimana bisa ibunya kembali setelah dua puluh tiga tahun meniggalkan Jacob dan Mona?


"Jacob, aku ibumu dan ibu Mona, aku mencari kalian, aku merindukan kalian." Ucap Laura dengan lirih disertai untaian air mata yang terus membasahi wajahnya.


Jacob menggelengkan kepalanya. Ia menolak semua ucapan Laura, ibunya tersebut. "Ibuku sudah tidak ada, dia bersama ayahku sudah meninggalkan aku dan kakakku saat kami masih kecil." Balas Jacob dengan sorot mata yang masih tertuju pada foto yang ibunya pegang. "Dan mereka tidak akan mungkin kembali pada anak-anaknya yang sudah mereka lupakan." Lanjut Jacob sambil menepis foto yang ibunya pegang lalu berjalan begitu saja dengan rasa penuh dengan emosi dan kekecewaan. Ia meninggalkan ibunya, Laura yang terjatuh dilantai dengan lutut sebagai tumpuan. Laura pun menangis sejati-jadinya. Ia sudah tahu kalau saat seperti sekarang ini akan menghampirinya. Tidak dianggap oleh anaknya sendiri karna kesalahannya dulu.


Saat ini Jacob berjalan dengan amarah yang memenuhi lubuk hati dan pikirannya. Pikirannya yang tadi terpusat pada Alesha, kini berubah menjadi mengarah pada setiap kata yang Laura ucapkan tadi. Jacob berusaha menyangkal semuanya. Semua ucapan Laura yang mengaku sebagai ibunya dan ibu Mona. Jacob tidak bisa menerima itu. Bahkan walau pun Jacob sadar kalau Laura adalah ibunya, ia tetap tidak akan pernah mau menganggap wanita itu sebagai ibunya sendiri. Kekecewaan yang teramat besar sudah terlanjur merasuki diri Jacob. Hati anak mana yang tidak hancur setelah ditinggal dan ditelantarkan oleh orang tuanya sendiri selama dua puluh tahun lebih? Dan sekarang ini ibunya kembali berharap Jacob akan dengan mudah memaafkan dan melupakan kejadian saat itu. Masa-masa kelam yang waktu itu Jacob dan Mona lalui, akan selalu menjadi pengingat betapa kejam orang tuanya yang pergi begitu saja. Air mata pun tidak luput dari wajah Jacob. Tangannya sudah terkepal dan gejolak amarah semakin matang dalam hati Jacob.


"Jacob!" Panggil Mr. Thomson yang tiba-tiba datang menghampiri Jacob tanpa menyadari gejolak amarah dan emosi yang terpampang jelas diwajah Jacob. "Kami sudah tahu siapa yang menculik Alesha, kami juga sudah menemukan lokasi mereka sekarang. Pergi ke pantai sebelah Barat, mereka membawa Alesha ke sana!" Mr. Thomson memberikan sebuah tablet yang menunjukan lokasi anak buah Mack yang menculik Alesha.


Segera Jacob dan diikuti beberapa orang dari WOSA berlari menuju pantai untuk menyusul orang yang sedang menculik Alesha. Saat ini, Jacob menepis jauh-jauh tentang ucapan ibunya, Laura, Jacob ingin fokus untuk menyelamatkan Alesha, karna menurutnya, Alesha lebih penting dari pada pernyataan Laura yang mengaku sebagai ibunya.


***


"Cepat naik kekapal!" Orang itu mendorong Alesha dengan cara yang sangat kasar.


"Beritahu tuan Mack, kita sudah mendapatkan gadisnya." Lanjut orang itu dengan tegas pada lelaki yang berada di sebelahnya.


Alesha meringgis saat bekas jahitan diperutnya terasa sangat ngilu. Air matanya menetes karna ia tidak mampu menahan rasa sakit yang menjalar keseluruh tubuhnya. Lelaki itu memperlakukan Alesha dengan kasar, dan Alesha berharap agar Jacob segera menemukannya, tapi kenapa mentornya itu belum datang juga? Bahkan wajah Alesha sendiri sudah pucat, dan tubuhnya berkeringat dingin. Sorot matanya semakin meredup dan rasa lelah mendadak menghampiri Alesha. Kaki Alesha dipenuhi oleh luka goresan cucuk tajam yang ia lewati saat di hutan tadi. Kepalanya ia sandarkan pada pinggiran kapal pesiar berukuran mini itu. Ke mana ia akan dibawa? Dan apa yang akan orang itu lakukan padanya? Alesha sudah tidak tahu lagi harus seperti apa. Pandangannya memburam dan membayang seolah ada sesuatu yang menghalangi kefokusannya.


Samar-samar Alesha mendengar ada seseorang yang memanggil namanya, namun Alesha tidak mampu melihat ke arah orang itu karna kepalanya terasa berat dan matanya tidak mampu untuk memfokuskan penglihatan pada sekelilingnya. Sesuatu dalam kepala Alesha memaksanya untuk memejamkan matanya dan juga merileksasikan tubuhnya.


"Mr. Jacob, kau di mana?" Gumam Alesha sangat pelan sebelum akhirnya kegelapan memenuhi pandangannya.


"Jalankan sekarang!" Perintah tegas orang yang menculik Alesha saat menyadari keberadaan Jacob bersama yang lain. Kapal pesiar mini itu segera melaju dengan kecepatan penuh untuk menghindari Jacob yang mengejarnya dengan kapal pesiar mini yang lain.


"Mr. Jacob, aku melihat Alesha! Dia bersandar pada pinggiran kapal, sepertinya ia pingsan!" Saut Bastian.


"Aku tahu, dan aku tidak akan membiarkan mereka membawa Alesha." Balas Jacob. "AWASS!!" Saut Jacob saat menyadari ada peluru melesat yang mengarah kepadanya dan juga Bastian. Segera Jacob menjatuhkan diri bersama Bastian.


"Mr. Jacob, sesuatu sepertinya terjadi pada mesin!" Ucap sang pengemudi kapal.


"Apa? Cek apa yang terjadi!" Perintah Jacob dengan tegas.


"Sepertinya tangki minyaknya bocor, Mr. Jacob! Kita tidak bisa mengejar mereka!" Balas pengemudi kapal itu.


Dari kejauhan, lelaki yang menculik Alesha tersenyum menang, ia tahu Jacob dan yang lain tidak bisa mengejarnya karna ia sudah mensabotase kapal pesiar mini milik WOSA itu. Rencananya berjalan cukup mulus, dan tuannya, Mack pasti akan bangga karna memiliki anak buah yang bisa menjalankan misi dengan amat baik.