
Setibanya di apartemen sang kakek, Alesha langsung disambut oleh pria tua yang selama ini begitu menyayangi, dan mengasuhnya sejak sang kedua orang tua meninggal dunia.
"Uyut abah udah datang ya.." Ucap Kakek Alesha dengan riang gembira.
"Kek, Eneng boleh langsung ke kamar aja gak? Soalnya Alshiba kasian kalo digendong terus kaya gini," Ucap Alesha.
"Yaudah atuh sok sana, langsung aja ke kamar, tadi juga kakek udah minta pelayan buat masakin makanan buat Eneng," Balas Kakek Alesha.
"Wah yang bener, Kek?" Tanya Alesha.
"Iya, kan kakek tau cucu sama buyut kakek mau ke sini, nanti eneng langsung makan aja ya, kakek mau ke kamar kakek dulu, kalo nanti si Alshiba udah bangun kasih tau kakek ya."
"Oke," Alesha melengkungkan ibu jari, dan jari telunjuknya untuk memebentuk lambang OK.
Kemudian Alesha pun masuk ke dalam kamarnya lalu membaringkan tubuh sang buah hati tepat di tengah-tengah kasur. Tidak lupa Alesha juga menjejerkan bantal untuk membentengi sisi kiri, dan kanan tubuh bayinya.
Setelah itu, Alesha segera merapikan tas-tas yang berisi pakaian ke dalam lemari besar. Ia juga meletakkan barang bawaannya pada meja dengan rapih agar tidak berantakan.
Sedikit Alesha merasa lelah, namun karna masih ada yang mesti ia kerjakan, akhirnya Alesha pun meminta Taylor untuk menjaga Alshiba yang tengah terlelap.
"Taylor, tolong jaga Alshiba sebentar, aku mau mencuci pakaiannya dulu di kamar mandi."
"Baik, Nona," Balas Taylor sembari mengangguk.
"Huft!" Alesha menghembuskan napasnya. Ia memandang ke arah tumpukan baju bayi yang sebenarnya tidak begitu banyak, dan juga tidak akan memakan waktu lama untuk dicuci.
Karna ingin segera menyelesaikan pekerjaannya, kini Alesha pun mulai menggosoki satu persatu baju bayinya didalam bak mandi lalu setelah itu mencelupkannya pada bak lain yang sudah terisi oleh air bersih.
Kenapa tidak menggunakan mesin cuci saja?
Ya. Sebenarnya lebih enak menggunakan mesin cuci, namun sayang mesin cuci itu sedang dipakai oleh pelayan.
"Nona, apa Nona kelelahan? Atau perlu saya panggilkan pelayan saja?" Tawar Taylor.
"Tidak, tidak usah, aku tidak apa-apa. Lagi pula cuciannya tidak banyak kok, hanya lima setel baju dan enam kain bedongan," Balas Alesha.
"Baiklah, Nona kalau begitu."
Lalu Taylor berjalan kembali mendekati kasur yang sedang ditiduri oleh Alshiba.
Mungkin selang lima menit setelah itu, tiba-tiba saja Jacob datang, melewati pintu yang sengaja dibiarkan terbuka.
"Taylor, dimana Alesha? Dan apa yang sedang kau lakukan di sini?" Tanya Jacob.
"Nona di kamar mandi sedang mencuci baju, Tuan, saya di sini karna Nona meminta saya untuk menjaga Alshiba," Jawab Taylor.
Jacob tidak berkata-kata lagi setelah itu. Ia hanya berjalan mendekati anaknya yang tengah terlelap.
"Sayang....." Jacob menaiki kasur dengan sangat perlahan supaya tidak mengusik putrinya yang tengah tertidur.
Pelan-pelan, Jacob menyingkirkan bantal yang membentengi tubuh sang buah hati. Jacob ingin berbaring sembari memeluk anaknya itu. Jacob butuh ketenangan saat ini, dan satu-satunya cara yaitu dengan menatap lekat wajah tenang Alshiba.
Rasanya sangat nyaman, dan damai. Setidaknya Jacob memiliki penghibur dikala masalah tengah melanda rumah tangganya.
"Alshiba sayang...." Panggil Jacob. Senyum kecil mengembang diwajahnya. Ia sangat bahagia akan kehadiran Alshiba yang menjadi bukti cintanya pada Alesha.
Jacob tidak menyangka jika waktu akan berlalu begitu cepat hingga kini ia telah memiliki seorang keturunan bersama wanita yang merupakan anak didiknya sendiri di WOSA.
Jacob tidak lupa ketika ia pertama kali mengungkapkan perasaannya pada Alesha. Di Surabaya, disebuah hotel mewah, kala itu Jacob sedang menghadiri acara ulang tahun perusahaan milik rekan bisnis ibunya. Jacob ingat momen intinya. Ia memeluk Alesha dari belakang sembari menghadap ke arah jendela kamar hotel yang berukuran besar, dan menyuguhkan pemandangan malam berbintang.
"Jangan menghindar."
"Tapi, Mr. Jacob.."
"Apa? "
"Aku tahu kau merasakannya, Al."
"Aku mencintaimu, Alesha."
Jacob tersenyum mengingat ucapannya itu. Sudah berapa tahun berlalu? Dua mungkin. Dan kini Jacob sudah menghasilkan anak bersama Alesha.
"Alshiba," Jacob mengelus lembut pipi bayinya. Sebelah lengannya memeluk tubuh mungil Alshiba. Tapi tenang saja, Jacob juga tidak akan membiarkan lengannya itu menindih tubuh anaknya sendiri, jadi Jacob memberikan jarak renggang supaya Alshiba tetap merasa nyaman.
"Ayah sayang banget sama kamu, cantik," Jacob mulai mengajak bicara bayinya. "Sehat terus ya, sayangku, kasian bunda."
Jacob memberikan sekilas kecupan samar pada sebelah pipi Alshiba. Hidup Jacob kian berarti dengan hadirnya bayi mungil itu. Karna hal Itu menjadi pertanda bahwa cintanya pada Alesha tidaklah main.
****
Malam demi malam berlalu, Alesha tak kunjung memberikan sinyal jika kemarahannya akan berakhir. Jacob yang sudah terlanjur biasa diacuhkan, dan tidak ditanggapi pun kini hanya bisa pasrah, namun ia selalu berdoa selepas sholatnya, berharap jika hubungan rumah tangganya dapat berjalan normal kembali.
Hingga tiba lah dimalam kesembilan. Seminggu lebih dua hari telah berlalu sejak kepulangan Alesha, dan Alshiba dari rumah sakit, dan kini Alesha tengah asik berdiri di balkon kamar bersama si putri sulung, Alshiba yang tengah terlelap dalam gendongan bundanya.
Disisi lain, tepatnya di ambang pintu, kini Jacob sedang berandar sembari menatap sendu pada istrinya.
"Alesha, kapan kau akan pulang ke rumahku?" Jacob berucap sedih. Ia sudah tidak tahu lagi mesti bagaimana, dan harus apa. Ia selalu membujuk Alesha untuk pulang, namun Alesha terus saja hirau.
"Kapan kau akan berhenti marah padaku, Lil Ale?" Lanjut Jacob.
Tentunya dua pertanyaan itu dapat Alesha dengar dengan jelas. Namun, seakan tidak mendengar, Alesha terus saja santai menimang putri kecilnya.
"Alesha......" Jacob mendekat, dan berdiri tepat dihadapan istrinya. "Ayo pulang..." Mohon Jacob.
Sekilas Alesha dapat merasakan jika sepertinya suaminya itu mulai menangis.
"Alesha.... Aku mohon, aku minta maaf, aku sudah menyadari kesalahanku, dan aku sangat menyesali itu, sayang, hiks."
Benar saja, Jacob menangis kembali. Pria itu sungguh mengharapkan jika istrinya mau berbaikan lagi dengannya. Jacob sudah tidak kuat, dan tahan. Tiga minggu tidak dianggap oleh istrinya sendiri merupakan tamparan, hajaran, dan pukulan yang teramat keras bagi Jacob.
Namun kini Jacob bersungguh-sungguh jika ia telah sadar, dan ia juga akan bersikap jauh lebih baik lagi pada istri, dan anaknya.
"Alesha.... Maaf, aku minta maaf, ayo pulang, sayang, hiks," Jacob menangkup, dan mengangkat wajah istrinya supaya mereka bisa bertatapan.
"Ayo pulang.... Pulanglah ke rumahku, sayang... Aku salah, dan aku akan memperbaiki itu, aku mohon berikan aku kesempatan, Alesha,.hiks."
Alesha diam, tidak merespon atau pun menjawab, namun ia terus menatap lekat wajah suaminya untuk memastikan suatu hal, yaitu kejujuran.
"Ayo pulang, Alesha....." Lirih Jacob.
Alesha memejamkan matanya. Ia mencoba untuk tenang, dan tenang. Suaminya sudah sering mengajak pulang, dan berkali-kali meminta maaf. Alesha bukannya tidak mau, dan tidak perduli, namun saat itu hatinya masih benar-benar sakit atas sikap, dan perlakuan suaminya.
"Huft!" Alesha menghembuskan napasnya. Ia pun menggelengkan kepalanya supaya bisa terlepas dari tangkupan kedua telapak tangan besar Jacob.
"Alesha...... Aku minta maaf, ayo pulang, hiks, hiks," Jacob lemas, ia bertekuk lutut ketika mendapati istrinya yang kembali mengacuhkannya. Alesha berjalan begitu saja masuk ke dalam kamar, meninggalkan Jacob sendiri dengan segala rasa bersalah, dan penyesalan.
"Alesha.... Sudah cukup kau marah padaku, hiks, aku mohon maafkan aku, ayo pulang bersamaku.... Hiks," Bahu Jacob bergetar. Air mata bercucuran deras, dan menghantami lantai kala ia menundukkan kepalanya, pasrah.
Jacob tidak tahu cara apalagi yang mesti ia gunakan supaya Alesha mau memaafkannya. Jacob hanya ingin berbaikan lagi dengan Alesha, atau paling tidak Jacob siap menerima hukuman lain asal Alesha tidak terus menerus mengacuhkannya.
"Ayo pulang ke rumahku, Alesha.... Hiks. Kita perbaiki lagi hubungan kita."
Jacob terus memohon layaknya lelaki yang tidak berdaya. Kini yang terdengar hanyalah isakan kesedihan mendalam dari seorang pria yang begitu merindukan istrinya.
Namun tiba-tiba saja, insting Jacob menangkap satu hal yang membuatnya berhenti menangis.
Alesha.
Istri Jacob itu, kini ia berdiri tepat dihadapan Jacob sembari mengangkat tubuh suaminya agar kembali berdiri.
Tanpa banyak berkata-kata, Alesha pun mulai menghapusi air mata yang mengalir diwajah suaminya.
"Ayo pulang, sayang..... Hiks.." Jacob meraih pinggang istrinya dengan posesif. Harapannya begitu besar saat ini, semoga saja Alesha mau memaafkannya.
"Maaf...." Ucap Alesha, pelan. "Maaf aku sudah mengacuhkanmu selama beberapa minggu ini."
Alesha pikir saat ini adalah saat yang tepat untuk mengakhiri hukumannya pada Jacob. Alesha benar-benar tidak tega melihat Jacob yang terus memohon, dan meminta maaf, maka dari itu, mulai malam ini, ia akan kembali memperbaiki hubungan rumah tangganya bersama Jacob, dan perlahan menghapus luka juga rasa sakit dalam hatinya.
Lalu Alesha tersenyum tulus. "Aku mau pulang ke rumahmu."
Jacob terkesiap mendengar ucapan Alesha barusan. Benarkah? Alesha sudah memaafkannya kah? Kalau ia maka Jacob akan sangat amat senang. Akhirnya, kini Alesha mau juga pulang bersamanya.
"sungguh, Alesha?" Kedua mata Jacob terbuka lebar, menatap penuh harapan pada istrinya.
"Iya, itu pun jika kau mau memaafkanku karna aku sudah mendiamkanmu selama ini," Jawab Alesha.
"Jangan meminta maaf, kau tidak bersalah, aku mewajari jika kau marah padaku karna aku sudah kasar, dan bersikap tidak baik padamu," Ucap Jacob. "Maafkan aku, Alesha, aku berjanji untuk berusaha supaya bisa bersikap lebih baik lagi padamu."
"Lupakan saja, yang lalu biar jadi pelajaran, sekarang lebih baik kita perbaiki hubungan kita saja, jujur sebenarnya selama ini aku tidak tega padamu, dan sekarang aku sudah memutuskan untuk mengakhiri hukuman itu. Aku sudah memaafkanmu, dan aku ingin hubungan kita kembali seperti semula, Jack."
"Terima kasih, sayang, aku mencintaimu, sangat mencintaimu, Lil Ale," Jacob merengkuh lalu mengangkat tubuh istrinya dengan begitu mudah. Sedangkan Alesha, ia melingkarkan kedua tangannya pada leher Jacob seraya menelusupkan wajah pada lekukkan leher suaminya itu.
Rasanya sangat nyaman, dan hangat. Akhirnya, kini Alesha bisa kembali merasakan dekapan penuh cinta dari suaminya sendiri.
"Jangan marah lagi, Alesha," Ucap Jacob.
Alesha menggelengkan kepalanya. Pelukannya semakin erat kala Jacob membawanya berjalan menuju sofa.
"Alesha, kau bersungguh-sungguh sudah memaafkanku?"
Alesha mengangkat wajahnya saat mendapati pertanyaan itu dari suaminya.
"Aku juga lelah terus mendiamkanmu, aku merasa berdosa, Jack," Alesha menangkup wajah suaminya. "Sudah cukup tiga minggu ini, aku tidak mau menambahnya lagi."
Senyum Jacob mengembang setelah mendegar itu. "Terima kasih, Alesha."
Jacob pun langsung menciumi setiap jengkal wajahnya istrinya. Jacob begitu rindu pada kedekatan, dan keharmonisan mereka, Jacob rindu ketika ia asik bermain ditubuh indah istrinya, Jacob benar-benar merindukan Alesha nya.
Alesha hanya terdiam sembari tersenyum ketika wajahnya dihujani oleh banyak ciuman lembut yang suaminya lakukan. Alesha bahagia, hatinya sangat tenang, dan hangat. Sudah berapa lama ia tidak mendapatkan belaian kasih sayang seperti itu suaminya? Lupakan saja yang penting sekarang adalah mereka sudah berbaikan kembali.
"Emm, Jack..."
Alesha berusaha menetralkan tubuhnya yang memanas saat Jacob membawanya terduduk disofa sedang lengan besar pria itu mulai bermain diarea dadanya.
"Jack...."
"Hmm...."
Alesha menggeliatkan tubuhnya ketika ciuman Jacob semakin turun ke bawah.
Tunggu.
Sejak kapan kancing baju Alesha sudah terbuka?
"Argh, Jack!" Alesha meringgis, merasakan nyeri dari gigitan kecil yang suaminya lakukan diarea dadanya.
"Jack, stop.... " Alesha harus menghentikan ulah suaminya itu. Pasalnya ia masih dalam masa nifas, dan ia tidak ingin memberikan harapan palsu pada suaminya.
"Jack!" Alesha meremas rambut Jacob ketika pria itu menggigit lehernya.
"Jack, berhenti! Kita tidak bisa melakukannya sekarang!" Terpaksa Alesha mendorong tubuh Jacob untuk menghentikan ulah suaminya itu.
"Kau tahukan kalau aku masih....." Alesha menjeda ucapannya.
"Iya, sayang, iya, aku ingat," Jacob mengelus lembut rambut istrinya. "Aku tidak akan memintanya sekarang, tadi aku hanya merindukan tubuhmu saja, Lil Ale."
"Huft!" Alesha segera meringsek, menyandarkan tubuhnya pada dada bidang Jacob yang terasa hangat.
"Jack, apa kau menyangka kita sudah mempunyai anak?" Tanya Alesha.
Dengan senang hati, Jacob pun merengkuh tubuh mungil istrinya. "Alshiba. Dia akan tumbuh menjadi wanita sepertimu. Cantik, pintar, dan sholehah."
"Aku tidak menyangka ini akan cepat berlalu. Aku menikah denganmu, dengan mentorku sendiri, ya ampun," Alesha terkekeh.
"Memangnya kenapa?" Tanya Jacob.
"Mr. Jacob.... Aku masih ingat panggilan itu."
"CK!" Jacob berdecak sebal ketika istrinya menyebutkan panggilan itu lagi.
"Dan sekarang mentor yang menyebalkan itu sudah menjadi suamiku sendiri, bahkan dia sudah menaruh benih cintanya dalam rahimku hingga sekarang benih itu sudah tumbuh menjadi bayi yang sangat imut," Alesha tersenyum sembari melirik pada suaminya.
Cup.
Jacob tidak tahan, jadi ia cium saja sekalian bibir Alesha ketika istrinya itu menghadap padanya.
"Bagaimana rasanya, Al?" Tanya Jacob.
"Bagaimana apa?" Tanya balik Alesha.
"Menajdi istriku...." Terdengar nada bicara Jacob yang murung ketika mengucapkan dua kata itu.
Ada apa? Pikir Alesha.
"Jack," Alesha menghadapkan tubuhnya pada Jacob.
"Maafkan aku, Alesha," Jacob tertunduk, malu untuk menatap istrinya.
"Aku tidak ada disaat kau sedang sangat membutuhkanku, aku tidak bisa membantumu. Kau ingat sore itu? Terakhir kali aku membentakmu? Aku rasa saat itu kau ingin mengungkapkan sesuatu padaku, tapi aku malah bersikap buruk padamu, aku baru tersadar saat keesokan harinya. Maafkan aku, Alesha, aku malu, aku tidak bisa menjadi suami yang baik untukmu, padahal kau selalu mengalah saat aku memarahimu, kau selalu memaafkanku. Aku malu, Alesha, maaf..."
Alesha terhenyak saat mendegar ucapan suaminya barusan. Oh Ayolah, Alesha jadi merasa kasihan pada pria itu.
"Jack..." Alesha pun membawa Jacob dalam dekapannya, ia menelusupkan wajah pria itu pada lekuk lehernya. "Aku bahagia, sangat bahagia menikah denganmu. Aku bersyukur, dan beruntung memiliki suami sepertimu, dan aku tidak mau kau pergi. Aku mengalah karna aku tidak mau membuat rumah tangga kita goyah, aku sering memaafkanmu karna kau adalah suamiku, tapi mungkin tiga minggu kemarin adalah hukuman kecil yang aku berikan karna aku lelah dengan sikap kasarmu. Tapi itu bukan berarti aku tidak mencintaimu lagi, atau mau mengakhiri rumah tangga kita. Tidak! Tidak sama sekali! Itu hanya sedikit teguran yang aku berikan padamu agar kau bisa sadar jika aku lelah menghadapimu," Alesha menarik panjang napasnya. "Yang namanya dalam rumah tangga tidak akan pernah terhindarkan dari yang namanya masalah, entah itu bagaimana bentuk permasalahannya. Contohnya seperti kita. Tapi biarlah itu menjadi pelajaran, semoga seterusnya kita bisa harmonis lagi, dan menghadapi masalah bersama demi anak kita," Alesha mencium kening suaminya sebagai penutup akhir dari ucapannya sendiri.
"Aku mencintai kalian, kau, dan Alshiba. Kalian berdua adalah harta terindah untukku," Ucap Jacob.
"Terima kasih banyak sudah mau menjadikanku istrimu, terima kasih banyak karna kau sudah banyak membantuku, aku mencintaimu, dan Alshiba," Alesha mengeratkan pelukannya, begitu pun Jacob yang memeluk pinggang istrinya dengan posesif.