May I Love For Twice

May I Love For Twice
Mine



"Ganti bajumu, aku tidak suka wangi parfumnya!" Titah Alesha.


Biasanya Alesha bersikap biasa saja jika mencium wangi parfum Jacob. Tapi kenapa dengan kali ini?


"Cepat mandi, dan ganti bajumu, Jack!"


"Baiklah, baiklah..." Ragu-ragu, Jacob memutar tubuhnya, dan berjalan menuju tangga untuk kembali ke kamarnya.


"Eeuummm..." Alesha menutup mulutnya saat merasakan sensasi mual akibat efek dari wangi parfum yang melekat pada tubuh suaminya.


***


Di halaman mansion, kini tiga buah mobil mewah berwarna hitam pekat yang begitu mengkilat kala bertemu dengan cahaya lampu sudah terpakir rapih, dan bersejajar dengan mobil sang tuan rumah.


"Selamat datang, Nyonya Laura," Sambutan berupa sapaan pun Taylor ucapkan kepada Nyonya besar, ibunda dari sang Tuan muda.


"Terima kasih, Taylor," Balas Laura. Ibu mertua dari Alesha itu terlihat tampak elegan, dan mewah jika dilihat dari setelan pakaian yang dikenakannya.


"Bagaimana perjalanan anda, Nyonya?" Basa-basi biasa dari Taylor.


"Lancar-lancar saja," Balas si Nyonya besar.


"Syukurlah," Ucap Taylor.


Bersama dengan beberapa pengawal kepercayaannya, Laura pun memasuki rumah besar, tempat bagi anak, dan menantunya tinggal.


Beberapa pelayan yang berpapasan pun langsung memberikan sapaan untuk menunjukan rasa hormat mereka terhadap kedatangan sang Nyonya besar.


"Dimana Alesha, dan Jacob?" Tanya Laura pada Taylor yang berjalan tepat di belakangnya.


"Saya lihat tadi Nona berada di ruang makan, dan sedang menunggu anda, juga Tuan Jacob, Nyonya," Jawab Taylor.


"Menungguku, dan Jacob?" Ulang Laura, pelan.


Dengan langkah tegap, dan penuh wibawa juga kharisma, hanya dalam waktu kurang dari tiga menit, Laura akhirnya tiba pada ruangan dimana menantunya sedang menunggu kedatangannya.


Namun, Laura sedikit terkejut ketika mendapati Alesha yang sedang mentupi mulut, dan memegangi perut, seperti sedang menahan sesuatu.


Karna khawatir, cepat-cepat Laura berjalan menghampiri menantunya itu.


"Alesha, kau baik-baik saja?" Laura bertanya sembari menyentuh bahu Alesha.


"Astagfirullah!!" Reflek, Alesha pun terlonjak karna terkejut dengan sentuhan, juga pertanyaan yang tiba-tiba saja ia dapatkan. "Ibu?" Kening Alesha berkerut. Ternyata ibu mertuanya. "Huft, aku pikir siapa," Alesha mengelusi dadanya yang beberapa saat berdebar akibat rasa terkejutnya.


"Maaf, ibu mengejutkanmu ya?"


"Hehe, tidak apa-apa, Bu," Alesha tersenyum kikuk.


"Kau baik-baik saja? Wajahmu terlihat sedikit pucat?" Tampak raut cemas pada wajah Laura. Ia khawatir jika menantunya itu sedang sakit.


"Tidak apa-apa, Bu, aku hanya sedikit kelelahan tadi siang. Tapi aku sudah tidur, dan istirahat cukup," Balas Alesha.


"Kau yakin?"


Alesha mengangguk.


"Baiklah kalau begitu," Laura tersenyum kecil. "Oh ya, dimana Jacob?"


"Aku menyuruhnya untuk langsung mandi, Bu."


Hening...


Laura tidak membalas apa-apa setelah mendengar jawaban dari menantunya. Tetapi sepersekian detik kemudian, Alesha pun kembali berbicara.


"Ibu mau makan? Aku sudah membuatkan rendang, dan semur daging untuk ibu, dan Jacob?" Tawar Alesha.


"Membuatkan apa? Kau memasak untuk ibu?" Tanya balik Laura.


"Ini semur daging," Alesha menunjuk sebuah mangkuk. "Dan ini rendang," Kemudian Alesha menunjuk satu mangkuk yang lain. "Aku membuatnya sendiri, tanpa bantuan para pelayan," Alesha tersenyum bangga. Tentu saja, ia sudah berhasil membuatkan masakan untuk ibu mertua, juga suaminya dengan hasil jerih payah sendiri.


"Sungguh?" Senyum Laura semakin mengembang ketika mendengar ucapan menantunya barusan.


"Iya. Aku ingin menjadi menantu yang baik untuk ibu, juga istri yang baik untuk Jacob. Maka dari itu aku sudah berniat untuk memasakan hidangan makan malam untuk kalian, dan semua pelayan juga anak buah Jacob yang tinggal di mansion ini."


"Baik sekali menantuku ini," Laura mengusap pelan puncak kepala Alesha.


Sedangkan Alesha, ia menundukkan kepalanya karna tersipu akan perlakuan manis dari ibu mertuanya.


"Ibu mau makan sekarang?" Tawar Alesha.


"Tidak, ibu akan menunggu Jacob dahulu, setelah itu kita makan bersama," Jawab Laura.


Alesha mengangguk kecil. Lalu sejurus kemudian, mereka berdua pun duduk bersebelahan, dan melakukan perbincangan kecil.


Beberapa pertanyaan yang Laura ajukan dijawab dengan begitu lancar, dan santai oleh Alesha. Bahkan, canda tawa kecil pun turut mewarnai interaksi antar menantu, dan mertua itu.


Alesha begitu bahagia karna memiliki ibu mertua yang ternyata sangat baik, dan ramah. Alesha juga tidak menyangka bisa menjalin keakraban dengan ibunda dari suaminya itu.


Alesha pikir Laura tidak akan menyukainya karna jika dilihat dari status sosial sudah jelas, Alesha bukanlah orang dari kalangan atas, belum lagi dengan perbedaan keyakinan. Alesha takut jika ibu mertuanya itu akan menyalahkan dirinya karna sudah membuat Jacob berpindah keyakinan, tapi syukur saja hal itu tidak terjadi. Alesha sangat bersyukur.


"Al, bagaimana? Apa kau sudah hamil?"


Deg!!


Alesha membeku, tubuhnya mengkaku.


Apa Alesha udah hamil?....... Alesha mengulang pertanyaan yang ibu mertuanya itu ajukan dalam hati.


"Ehmm... Alesha belum hamil, Bu," Jawab Alesha, kaku. Ia mulai salang tingkah. Menurutnya pertanyaan yang Laura berikan merupakan hal yang cukup sensitif.


"Kapan kau akan hamil?"


Lagi! Oh bagus! Tatapan yang seolah-olah mengharapkan sesuatu pun terpancar dari kedua iris coklat milik ibunda Jacob.


Ayolah, Alesha harus menjawab apa? Kapan ia akan hamil? Entahlah, seharusnya pertanyaan itu diajukan pada Jacob, pria itukan yang seharusnya bertanggung jawab untuk menghamili Alesha.


Mr. Jacob, kapan kau akan menghamiliku? Jika sudah seperti ini aku bingung untuk menjawab pertanyaan 'Kapan aku akan hamil?'........ Oceh Alesha dalam hati.


"Aku tidak ingin terburu-buru untuk memiliki anak, Bu," Jawab Jacob yang entah sejak kapan sudah berada diantara Alesha, dan Laura. "Alesha masih terlalu muda, usianya baru dua puluh tahun, belum lagi dia juga memiliki riwayat darah rendah, dan ASMA. Akan sangat berisiko jika dia hamil dalam waktu dekat."


"Huftt..." Alesha menghembuskan napasnya dengan samar. Untung saja Jacob sudah datang, dan berhasil menjawab pertanyaan yang seharusnya dijawab oleh Alesha.


Terlihat seluas raut kecewa pada wajah Laura.


"Memangnya kalian berencana untuk memiliki anak kapan?" Laura kembali bertanya.


"Nanti saja, jika usia Alesha sudah pas," Jawab Jacob begitu santai. Lantas ia pun mengambil tempatnya untuk terduduk diatas bangku dihadapan meja makan. "Ayo kita makan, aku sudah lapar, dan ya aku dengar Alesha yang memasak hidangan makan malam kali ini."


Alesha menundukkan wajahnya seraya tersenyum malu-malu.


"Benar kau yang memasak ini, Sayang?" Tanya Jacob. Piring yang sudah tersedia dihadapannya pun segera diisi oleh satu porsi makanan yang tentu saja menu utamanya adalah masakan yang tadi Alesha buat.


"Iya," Alesha mengangguk kecil.


"Hmm, rasanya enak, Al. Aku tidak tahu kalau kau pandai memasak," Puji Jacob sembari mengunyah satu suapan makanan yang belum lama masuk kedalam mulutnya.


"Sungguh? Terima kasih," Balas Alesha, pelan. Ah, rasanya semakin bahagia ketika melihat suami, dan ibu mertuanya yang begitu menikmati hidangan yang ia buat sendiri.


Kurang lebih setengah jam Alesha, Jacob, dan Laura sibuk berkutik dengan makanan mereka masing-masing.


Sesekali Alesha melirik pada suaminya yang tampak sangat menikmati makanan buatannya itu.


Jadi gini ya rasanya masakin makanan buat ibu mertua, khususnya suami. Alhamdulillah, mereka suka masakan Alesha....... Alesha menyunggingkan senyumnya secara samar-samar.


Alesha sungguh bahagia, dan merasa sangat dihargai ketika hidangan makan malam buatannya begitu dinikmati oleh ibu mertua, dan suaminya.


Dan jika memang dicicip-cicip, Alesha juga menyadari jika semur daging, dan rendang khas tangannya itu memang sangat enak dengan rasanya yang begitu pas dilidah.


Hmmm.... Alesha baru tahu kalau Alesha itu bisa masak....... Kekeh Alesha dalam hatinya.


Tidak terasa, karna begitu menikmati hidangan buatan Alesha, kini Jacob, dan Laura baru saja menyelesaikan sesi makan malam mereka.


"Terima kasih, Alesha untuk masakannya. Ibu sangat menyukai ini," Puji Laura sembari mengelap mulutnya dengan perlahan menggunakan tisu.


Alesha kembali tersenyum manis. Ah, jadi malu rasanya. Pujian itu benar-benar membuat hatinya berbunga-bunga.


"Al, Jack, ibu akan langsung ke kamar. Sepertinya ibu mulai merasa kelelahan karna perjalanannya yang jauh," Ucap Laura seraya bangkit dari duduknya.


"Mau aku antar, Bu?" Tawar Alesha.


"Tidak. Tidak usah, Al, terima kasih," Balas Laura. "Kalau begitu ibu pergi sekarang, selamat malam."


Alesha terdiam dengan pandangan yang terpaku pada tubuh ibu mertuanya yang berjalan kian menjauh.


Setelah Laura pergi menuju kamarnya, kini tinggalah tersisa Jacob, dan Alesha yang berada di dapur itu.


Alesha pun membelokkan arah wajahnya menuju sang suami.


"Jack.." Panggil pelan Alesha.


"Hmm.." Balas Jacob yang ternyata sudah sibuk berkutik dengan ponselnya.


Alesha mendengus sebal karna Jacob hanya membalas dengan deheman kecil saja. Lalu ia pun beralih dengan mendekati bangku yang ditempati oleh suaminya.


"Jack," Alesha mengguncang pelan bahu Jacob.


"Apa, My Lil Ale?" Tanya lembut Jacob tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel


"Ck, terus saja sibuk dengan ponselmu, dan menghiraukan saja aku!" Alesha menghentakkan kakinya dengan kesal, lalu berbalik badan, dan pergi begitu saja meninggalkan Jacob yang tidak pernah memperdulikannya lagi.


Jacob yang mendapati perubahan sikap Alesha pun langsung saja menaruh ponselnya diatas meja, lalu bangkit dari duduknya, dan menghampiri istri tercintanya.


"Hey, hey, sayang. Baiklah, maafkan aku," Jacob berdiri tepat dihadapan Alesha dengan kedua telapak tangan yang menahan baru istrinya itu. "Ada apa, Alesha?" Tanya Jacob begitu lembut.


"Pergilah! Tidak usah perdulikan aku lagi! Urus saja urusanmu, aku tidak mau mengganggumu," Balas Alesha, datar. Ia juga menggerakkan kedua bahunya agar dapat terlepas dari genggaman tangan suaminya.


"Alesha, maaf.." Lirih Jacob.


"Tidak usah meminta maaf. Kau selesaikan saja dulu pekerjaanmu," Masih datar. Alesha benar-benar merasa malas dengan sikap Jacob saat ini.


"Alesha, aku tahu aku tidak pernah memiliki waktu untukmu, maafkan aku, sayang," Jacob menangkup wajah istrinya seraya menatap sendu. Ia sedih, ia tahu kalau Alesha pasti sedang marah padanya. "Maafkan aku, Alesha," Rasa bersalah Jacob menggiringnya untuk memeluk tubuh Alesha.


"Tidak apa, Jack," Alesha menarik napasnya dalam-dalam. Ia harus bisa setenang mungkin. Ia tidak boleh egois terhadap Jacob. "Aku hanya ingin menagih asinan, dan kue lapis talasku."


Oh ya, Jacob baru teringat dengan asinan, dan kue lapis talas yang sudah ia janjikan pada istrinya.


"Ada dimobilku, aku ambilkan dulu sebentar," Jacob mengelus singkat pipi Alesha, baru setelah itu ia pun melangkah pergi menuju mobilnya untuk mengambilkan dua jenis makanan yang siang tadi istrinya pinta.


Sabar, Alesha. Mr. Jacob sibuk bukan karna kemauan dia, tapi karna emang pekerjaannya yang banyak. Jangan egois jadi istri...... Alesha mencoba untuk meyakinkan dirinya dengan tetap berpikir positif. Sedih? Wajar saja. Sebagai seorang istri ia merasa seperti terabaikan.


Sekitar beberapa menit menunggu, akhirnya Alesha pun mendapati Jacob yang kembali dengan membawa dua bungkus asinan buah, dan juga kue lapis talas yang bertoping keju.


"Ini, sayang," Jacob menyerahkan bungkusan yang ia bawa pada istrinya, Alesha.


"Terima kasih, Jack," Alesha menerima bungkusan itu sembari menunjukkan senyum manisnya.


"Ayo kita kembali ke kamar."


"Tidak! Aku lelah seharian mengeram diri di kamar. Aku ingin menonton TV di ruang keluarga!" Tolak Alesha dengan tegas.


"Baiklah, kalau begitu ayo kita ke sana," Lalu Jacob meraih lengan Alesha, dan membawa istrinya itu berjalan menuju ruang keluarga.


"Sebentar, aku butuh mangkuk, dan sendok untuk makan!" Alesha menghempaskan genggaman suaminya lalu berlari menuju dapur.


Sesampainya di dapur, segera Alesha meraih satu buah mangkuk berukuran sedang, juga satu buah sendok. Buru-buru ia berbalik badan, dan kembali berlari kecil menuju Jacob yang sedang menunggunya.


***


Di tempat lain.


Si gadis bernama Stephani Laurent, atau Alesha biasa menyebutnya dengan panggilan Stella kini tengah asik menyeruput teh manis kesukaaannya di balkon apartemen yang sejak sebulan lalu ia sewa di kota berjuluk Paris Van Java itu.


Rautnya begitu tenang dengan senyum menawan yang menunjukan seolah-olah tidak ada beban dalam hidupnya.


Huh, tentu saja! Stella tidak merasakan beban apapun karna tidak lama lagi pria yang beberapa tahun lalu mementorinya akan segera menjadi miliknya.


"Kau pikir aku akan menyerah, Al?" Stella menyeringai. "Oh, Lil Ale sahabatku, maaf tapi suamimu itu akan menjadi milikku," Kini ibu jari Stella mengelusi layar ponselnya yang menampakkan wajah Alesha.


"Bersenang-senang lah karna aku masih memberikan waktu untuk kalian. Tapi ketika saatnya sudah tiba, kesenangan kalian itu akan beralih padaku."


Entah apa yang ada dalam pikiran Stella. Satu tahun lebih sudah berlalu, namun ternyata tekadnya untuk mendapatkan Jacob belum juga usai. Untung saja berkat kelihaian, dan kecerdasannya, Stella mampu untuk menyembunyikan identitasnya sebagai anak buah Vincent dari buruan para agent SIO.


"Tunggu saja waktu bermainnya. Maka kau harus siap untuk kehilangan Mr. Jacob, Alesha!" Stella menggeram, menatap penuh benci pada foto Alesha.


Kali ini Stella akan memastikan kalau rencananya itu akan berjalan dengan sangat mulus.


Step by Step.


Stella sudah tahu alur awal sampai akhir yang harus ia lewati demi mendepatkan lelaki primadonanya itu. Meski memalukan karna masih saja mengejar suami milik orang lain, namun Stella tidak memperdulikan itu, yang ia mau adalah Jacob menjadi miliknya. Hanya miliknya!


***


Kembali menuju Alesha, dan Jacob. Kini mereka berdua tengah asik menonton TV di ruang keluarga. Hanya ada mereka berdua di sana. Tentu saja, siapa juga yang berani untuk menjadi orang ketiga disela-sela momen kebersamaan pengantin baru itu.


Sembari memangku mangkuk berisi asinan buah dipahanya, Alesha menyandarkan tubuhnya begitu manja pada dada sang suami.


Kapan lagi bisa menikmati waktu berdua seperti itu? Pikir Alesha.


Jacob pun sama. Ia merasa jauh lebih tenang saat istri kesayangannya itu bergelayut manja pada tubuhnya.


"Ah, sudah habis!" Alesha mendumal. Ia kesal karna asinannya sudah habis, bahkan sisa kuahnya saja sudah tidak ada lagi.


"Kau sudah memakan dua bungkus asinan sendirian, Alesha. Masih kurang?" Komen Jacob.


"Aku masih ingin asinannya! Besok kau ke Bogor lagi tidak?" Alesha berbalik tanya.


"Tidak. Besok aku harus pergi ke stadion untuk melihat persiapan promosi perusahaan."


Jawab dari Jacob barusan membuat Alesha berdecak sebal.


"Aku ingin asinan ini lagi!" Alesha menaruh mangkuk bekas asinan itu lalu beralih mengambil box yang berisi kue lapis talas toping keju kesukaaannya.


Kresek...... Kresekk....


Bunyi kantung Kresek yang Alesha buka untuk mengeluarkan box kuenya.


"Kapan kau akan ke Bogor lagi?" Tanya Alesha.


"Entahlah," Jacob mengedikkan bahunya.


Alesha langsung cemberut setelah mendengar jawaban suaminya itu.


"Memangnya di kota ini tidak ada yang menjual asinan?" Tanya Jacob sembari mengelusi puncak kepala istrinya.


"Ada, tapi aku hanya ingin asinan yang dibeli dari tempat kau membelikan asinan itu untukku." Jawab Alesha, malas sembari menunjuk mangkuk bekas menampung asinan Bogor itu.


"Memangnya kenapa kalau di tempat lain?" Tanya Jacob, lagi.


"Belum tentu rasanya seenak, dan sepas asinan itu," Alesha kembali menunjuk pada mangkuk kosong bekas menampung asinan Bogornya.


"Ya sudah, nanti jika aku ke Bogor lagi, aku akan membelikanmu asinan itu," Ucap Jacob.


"Nanti! Bukan sekarang!" Oceh Alesha sembari menyuapkan satu potongan besar kue lapis talas toping keju kedalam mulutnya.


"Alesha, kau sadarkan potong kue itu terlalu besar untuk mulutmu?" Jacob menatap aneh pada istrinya.


Alesha tidak menjawab. Ia sadar, dan ia kesulitan untuk mengunyah sekarang.


"Makanya kalau makan itu kira-kira, sayang," Jacob mencium gemas pipi istrinya yang tembam karna didalamnya dipenuhi oleh makanan.


Bukan hanya pipi, tapi seluruh area wajah Alesha kini menjadi landasan untuk bibir Jacob mendarat.


"Milikku," Bisik Jacob tepat disebelah telinga Alesha yang tertutupi oleh kerudung. Baru setelah itu, Jacob membawa tubuh minimalis istrinya kedalam pelukannya.