May I Love For Twice

May I Love For Twice
Love About Levin



Di dalam ruang kerjanya, sepasang ibu dan anak itu kini sedang dalam kecemasan yang sama. Jacob yang sudah mendengar semua cerita dari ibunya tentang penyerang kelompok jaringan gelap terhadap WOSA pun seketika langsung menghubungi Eve. Jacob benar-benar panik, timnya di WOSA berada dalam bahaya, sedangkan Jacob tidak ada di sana untuk menjaga mereka. Hatinya begitu bimbang dan cemas, satu sisi Jacob tidak ingin meninggalkan Alesha karna takut jika Mack akan melakukan hal buruk pada gadis itu, tapi disisi lain, Jacob juga sangat amat mengkhawatirkan anggota timnya yang lain.


"Angkat, Eve!" Jacob menggeram. Ponselnya sudah berada tepat disebelah telinganya.


"*Hallo, Jack, ada apa?"


"Kau di mana?"


"Aku masih menjaga gua berlian itu, ada apa memangnya?"


"Kau ingat kelompok jaringan gelap yang kita hancurkan beberapa tahun lalu?"


"Ya, ada apa?"


"Mereka menyerang WOSA dan SIO!"


"APA?! Bagaimana bisa? WOSA tidak memberitahukan apapun padaku!"


"Aku pun sama, aku baru tahu saat ini. Jaringan WOSA dan SIO dilumpuhkan oleh mereka!"


"Lalu apa yang harus kita lakukan*?"


Jacob menatap pada ibunya.


"*Kita tunggu kabar dari orang-orang yang Nyonya Laura kirim ke WOSA."


"Kau yakin, Jack?"


"Bagaimana kalau mereka gagal?"


"Tidak akan, aku percaya kalau SIO memiliki banyak agent yang dapat mengerjakan tugas mereka dengan baik, begitu pun WOSA."


"Aku mencemaskan anggota timku!"


"Aku juga sama! Kau pikir aku tidak pusing, satu sisi aku harus menjaga Alesha yang masih sakit, satu sisi aku mengkhawatirkan anggota timku!"


"Tunggu, kau tidak sedang di WOSA?"


"Tidak, aku sedang tidak berada di WOSA."


"Baiklah, segera kabari aku jika ada sesuatu yang terjadi."


"Baik*."


Sambungan telpon pun terputus. Jacob menjambak pelan rambutnya untuk menahan rasa frustasi dan kecemasannya.


"Tenang, Jack, ibu tidak akan membiarkan kelompok jaringan gelap itu mengambil alih WOSA dan SIO." Ucap Laura yang mencoba untuk menenangkan anaknya.


Jacob tidak menjawab. Dengan rasa cemas dan amarah yang bercampur rata, Jacob pun pergi begitu saja dan meninggalkan ibunya yang sedang menatap ke arah anaknya dengan tatapan sedih.


Dengan rasa gelisah yang begitu meledak-ledak, Jacob melajukan langkahnya dengan lebar dan cepat, bahkan suara hentakan kakinya pun dapat terdengar. Kedua tangan Jacob terkepal kuat. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa kelompok jaringan gelap yang ia dan Eve berantas beberapa tahun lalu dapat beraksi kembali?


"Mr. Jacob." Sebuah panggilan halus dan pelan yang barusan terdengar membuat Jacob berhenti melangkahkan kakinya. Jacob mengedarkan pandangan kesekitarnya untuk mencari sosok perempuan yang memanggilnya barusan.


"Alesha?" Jacob mengerutkan keningnya saat mendapati Alesha yang sedang berdiri mematung dengan tatapan sayu dan wajah yang datar namun begitu pucat. Panik, itulah hal yang pertama kali terlintas pada diri Jacob saat melihat Alesha yang seolah sedang menahan sesuatu.


"Alesha, kau kenapa?" Tanya Jacob yang begitu panik. Ia mendekati Alesha lalu menunduk sambil menyentuh bahu Alesha.


"Aku tadi sedang sarapan dengan Mr. Levin dan Bastian, namun aku merasa mual dan kepalaku pusing." Jawab Alesha dengan pelan.


"Ya, ampun!" Jacob menepuk keningnya sendiri. Ia melupakan sesuatu.


"Maaf, aku lupa memberimu obat, Al." Jacob segera meraih pinggang dan lengan Alesha untuk membantu gadis itu berjalan.


"Kepalaku sakit." Keluh Alesha.


"Tidak apa, kau hanya perlu meminum obatmu." Jawab Jacob.


Alesha dibawa oleh Jacob menuju kamar pribadi miliknya, karna Jacob menyimpan obat Alesha didalam tasnya.


Setelah sampai di kamar pribadi miliknya, Jacob segera membawa Alesha untuk terduduk dipinggiran kasur, lalu ia beralih mengambil obat dan segelas air dengan waktu yang begitu singkat.


"Ini." Jacob berlutut dihadapan Alesha dan membiarkan Alesha untuk meminum obatnya, baru setelah itu, segelas air yang sedang Jacob pegang pun diambil alih oleh Alesha untuk meminum air yang tertampung dalam gelas kaca itu.


"Tidurlah, istirahatkan tubuhmu dan biarkan obatnya berjalan dengan lancar." Jacob membaringkan tubuh Alesha diatas kasurnya.


"Tidak, aku tidak mau tidur di kamarmu." Tolak Alesha dengan nada yang begitu lemah.


"Alesha, aku tidak akan melakukan hal-hal buruk padamu, sudah kau jangan pergi kemana-mana dan tidurlah." Ucap Jacob sambil menahan tubuh Alesha agar tidak kembali bangkit.


"Tapi - -"


"Cukup, kau tidur di sini, dan aku harus pergi dulu karna ada urusan yang harus aku selesaikan!" Jacob bangkit dan segera berjalan meninggalkan Alesha yang terbaring lemas diatas kasurnya.


Alesha pun tidak bisa menolak lagi, tubuhnya terasa seperti tidak memiliki daya. Jadi, Alesha lebih memilih untuk menuruti ucapan mentornya, dan mulai menutup matanya sambil meresapi setiap waktu yang berlalu hingga membawanya terlelap dalam ketidak sadaran karna efek dari obat tidur yang tadi ia makan.


Jika saja Alesha bisa merasakan, sayangnya, Alesha tidak mampu melihat Jacob yang begitu menyayanginya. Alesha selalu berpikir kalau semua perhatian yang mentornya berikan adalah salah satu tanggungjawab yang mesti diemban. Walau kadang Alesha merasa kalau mentornya itu memperlakukannya dengan cara yang berbeda, tapi Alesha selalu menepis jauh-jauh pikiran kalau Jacob memperlakukannya karna suatu sebab, dan bukan hanya sekedar tanggungjawab saja. Lagi pun Alesha berpikir kalau mentornya itu tidak mungkin juga menyukainya, siapa Alesha hingga Jacob dapat tertarik padanya?


"Kau hanyalah bagian dari mimpi terpendamku, Al, aku harap Jacob dapat menjagamu dengan baik, semoga kalian bisa bahagia kelak." Ucap Levin yang tersenyum kecut. Tidak dapat dipungkiri lagi kalau Levin merasa ada bongkahan hatinya yang retak saat tau Jacob meninggalkan sebuah luka kecil pada bibir Alesha. Namun Levin juga bisa tenang karna gadis yang membuatnya tertarik itu berada dalam lindungan pria yang tepat. Levin tahu seberapa besar kemampuan Jacob dalam menghadapi para manusia tak berguna seperti Mack dan Vincent, ia dan Jacob pernah ditugaskan dalam satu misi yang sama waktu itu, dan disitulah Levin tahu kalau Jacob memang tidak bisa dianggap remeh.


"Setidaknya aku bisa mempercayai Jacob agar kau bisa aman, Al. Kau gadis manis yang asik, senang bisa kenal denganmu." Levin mencium foto Alesha yang sedang tersenyum pada layar ponselnya.


"Hebat ya Alesha, bisa disukai oleh dua pria tampan yang hebat." Ucap Bastian yang tiba-tiba saja muncul dari belakang Levin lalu ikut berdiri disisi Levin sambil menikmati pemandangan dari atas balkon kamar.


"Sekarang ini, aku akui kalau Jacob lebih hebat dariku." Balas Levin.


"Kenapa kau tidak melakukan hal yang sama seperti yang Mr. Jacob lakukan pada Alesha?" Pertanyaan itu kembali muncul dari mulut Bastian dan membuat Levin yang mendengarnya menjadi tersenyum dengan memperlihatkan deretan gigi yang tersusun begitu rapi.


"Aku bisa saja melakukan itu, aku sudah bilang waktu itu bukan, hanya saja ada hal lain yang membuatku mengalah."


"Apa itu?"


"Ada satu janji yang harus aku tepati. Seorang gadis menungguku untuk pulang, dia mengharapkan pertanggungjawaban dariku."


Bastian terlonjak kaget saat mendengar itu. Apa yang Bastian pikirkan secara terlintas sebenarnya tidak sesuai dengan apa yang Levin maksud. Bastian berpikir kalau Levin sudah menghamili seorang gadis diluar hubungan pernikahan, dan Levin menyadari hal yang Bastian pikirkan itu.


Levin kembali tersenyum. "Tenang, aku tidak menghamili anak orang diluar pernikahan, Bas, kau terlalu berlebihan." Sindir Levin.


Bastian mengerutkan keningnya. Ingin sekali mulutnya melontarkan pertanyaan 'Lalu apa?', namun Levin sudah terlanjur melanjutkan ucapannya.


"Nama perempuan itu, Tessa, dia gadis yang sangat baik, aku cukup tertarik padanya. Aku sudah berhutang budi padanya, dan aku ingin membalasnya dengan perasaanku juga. Dia gadis yang manis dan begitu lugu, dia menyukaiku, dan aku cukup tertarik dengannya karna kebaikan dan tingkah lucunya, hingga akhirnya ada satu insiden yang terjadi padaku, dokter bilang separuh paru-paruku rusak, dan Tessa, dia rela memberikan separuh paru-parunya padaku agar bisa memastikan kalau aku bisa tetap bersamanya. Sejak saat itu, aku baru menyadari betapa tulusnya perasaan ia padaku, sebenarnya aku tertarik pada Tessa karna sikapnya dan bukan karna perasaan cinta, kemudian aku berpikir lagi, seorang wanita yang rela mengorbankan separuh organ tubuhnya yang vital untukku, dan aku harus menyia-nyiakan dia begitu saja? Sejak saat itu pula aku bertekad untuk menumbuhkan rasa cintaku padanya. Tessa tidak pernah menuntut apa-apa dariku, tapi aku sadar kalau aku harus bertanggungjawab padanya, dia tidak memaksaku untuk membalas cintanya, namun aku berinisiatif untuk membalasnya dengan perasaan cintaku kelak. Aku tidak bisa melepasnya karna dia sudah menjadi bagian dari diriku, separuh paru-parunya membantuku untuk tetap bernapas hingga saat ini, sedangkan dia, Tessa hanya bisa bernapas dengan separuh paru-paru saja." Jelas Levin.


"Kau beruntung bisa dicintai oleh wanita sebaik dia, Mr. Levin." Bastian mengucapkan kalimat itu dengan mata yang berbinar. Untuk Bastian, itu adalah kali pertamanya ia mendengar sebuah cerita tentang pengorbanan berbahaya yang  seorang wanita lakukan.


"Aku beruntung, setidaknya aku masih memiliki Tessa yang selalu menungguku, aku sudah berjanji padanya untuk kembali dan menumbuhkan rasa cintaku terhadapnya." Lanjut Levin.


"Jika saja aku bisa memiliki seorang wanita sepeti Tessa, tapi aku belum menemukan sosok yang selama ini aku harapkan." Bastian mulai murung.


"Kau benar, terimakasih atas motivasinya, Mr. Levin." Bastian mengangguk paham.


Levin mengedipkan sebelah matanya sebagai jawaban. Mereka berdua pun kembali memandang ke arah langit biru dan perbukitan luas yang terasa begitu dekat.


***


Malam ini terasa begitu lama di WOSA. Para murid berkumpul membentuk sebuah kerumunan besar di dalam ruang aula utama saat mereka mendengar jelas bagaimana suara yang saling bersautan yang terjadi karna adu tembak dari peluru yang dilesatkan dari dalam pistol.


"Aku takut mereka memasuki ruang aula!" Ucap Stella dengan panik.


"Aku mendengar kalau WOSA mendapatkan bantuan." Seru Nakyung.


"Kau tahu dari siapa?" Tanya Lucas.


"Aku bilang aku mendengarnya, para penjaga mengatakan itu." Jawab Nakyung.


"Seandainya ada Mr. Jacob." Merina mulai menurunkan butiran air matanya.


"Aaaaaaaa...." Teriak seluruh murid yang berada dalam ruang aula utama saat mereka mendengar sebuah ledakan besar yang begitu dekat.


"Mereka berhasil ditangkap! Kepala kelompok jaringan gelap berhasil disergap!" Teriak seorang penjaga yang memasuki ruang aula utama pada penjaga lainnya.


"Ketua mereka berhasil ditangkap, namun anak buahnya berpencar keseluruh sudut WOSA, pengejaran di dalam hutan sedang dilakukan untuk menangkap pelaku lain." Ucap penjaga itu.


"Angkat tangan kalian!!" Perintah seorang lelaki sambil menodongkan pistol besar yang seperti ada pada game peperangan.


"Siapa di sini yang merupakan anggota tim Jacob dan Eve?" Tanya lelaki itu dengan lantang.


"Ya ampun, dia mencari kita!" Bisik Merina.


"Syutt.. Diam!" Balas Nakyung.


"Mengaku atau kalian semuanya akan aku tembak!!"


Hening...


Tidak ada yang berani menjawab.


"Katakan siapa saja anggota kelompok Jacob dan Eve!" Lelaki itu menarik salah satu anak murid WOSA.


Dengan gemetar dan air mata yang mulai bercucuran, anak murid WOSA itu pun akhirnya mengangkat jari telunjuknya yang diarahkan menuju sudut kiri ruang aula. Disanalah kelompok Jacob dan Eve berkumpul.


"Bagus." Lelaki itu menyeringai lalu menjatuhkan anak murid WOSA yang tadi ia tarik.


"Nakyung, apa yang harus kita lakukan?" Tanya Stella yang mulai menangis.


Nakyung tidak menjawab, ia pun sama takutnya, bahkan tubuhnya bergetar. Dalam diri Brandon, terbesit rasa kasihan pada Nakyung yang ketakutan. Bagaimana pun juga Brandon adalah ketua tim, ia harus bisa menjadi pemimpin yang baik, walau sekarang mau tidak mau ia harus memimpin anggota tim Bastian juga yang notabennya adalah musuhnya.


Dengan jiwa lelakinya, Brandon pun maju dan membelakangi Nakyung.


"Apa maumu?" Tanya Brandon dengan tegas.


"Siapa kau berani menantangku?" Balas lelaki itu sambil tersenyum merendahkan.


"Aku ketua tim! Siapa kau, beraninya dengan anggota timku!" Sentak balik Brandon.


"Akan ku alihkan perhatiannya, kau berlarilah, dan bawa yang lain!" Perintah Brandon pada Nakyung.


Kedua alis Nakyung saling bertautan, ia bingung harus bagaimana? Menuruti Brandon atau tetap di dalam ruang aula itu?


"Cepat! Cari Mr. Aldi!" Bentak Brandon dan membuat Nakyung tersentak.


"Lalu bagaimana denganmu?" Tanya Nakyung dengan khawatir.


Tiba-tiba saja lelaki itu menyerang Brandon dengan sebuah pukulan tajam tepat mengenai rahang.


"Kemari!" Lalaki itu menarik lengan Nakyung dan mencenkram leher Nakyung dengan kencang.


"Dimana mentormu?" Tanya lelaki itu dengan seringai jahatnya.


Nakyung meronta menahan sakit yang ada pada lehernya.


"Pergi, cepat!" Bentak Brandon pada anggota timnya juga anggota tim Bastian.


Dengan cepat, Lucas pun menjadi yang pertama untuk segera membawa dirinya pergi berlari meninggalkan ruang aula itu, kemudian disusul oleh yang lain yang juga mengikuti arah Lucas berlari.


Brandon bangkit dan menendang perut anggota jaringan gelap itu dengan sangat kencang, setelah itu, tangannya segera beralih meraih Nakyung lalu menariknya agar segera berlari mengikuti yang lain.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Brandon pada Nakyung disela-sela larinya.


"Ya."


Entah kenapa, melihat wajah Nakyung yang ketakutan, Brandon jadi merasa kasihan. Seketika rasa bencinya hilang begitu saja pada salah satu anggota tim Bastian itu. Lagi pula, saat ini Brandon adalah ketua untuk dua tim, dan ia harus bisa berlaku seadil mungkin. Walau terkenal dengan kesombongan dan keangkuhannya, Brandon juga merupakan sosok ketua yang adil dan baik hati pada anggota timnya.


"Dimana Mr. Aldi?" Tanya Brandon pada Lucas yang berada disebelahnya.


"Aku tidak tahu, dan aku rasa kita harus terus berlari." Jawab dan juga usulan dari Lucas.


"Kita ke hutan!" Ucap Brandon.


"Kau yakin, mereka berada di hutan, Brandon!" Sanggah Nakyung.


"Tidak. Kita lebih leluasa mencari tempat aman di hutan." Balas Brandon.


"Kau yakin?" Tanya Tyson.


"Ya, ayo!" Brandon segera berlari diurutan pertama untuk memimpin jalan yang harus dilewati olehnya dan anggota timnya agar bisa terhindar dari buruan kelompok jahat itu.


***


Di dalam kamarnya, Jacob terlihat begitu panik dan gusar, hati dan pikirannya kembali kalut saat ia tidak bisa mendapatkan informasi apapun dari WOSA. Sesekali pandangannya melirik pada Alesha yang masih terlelap, dan setelah itu kekacauan kembali memenuhi isi kepalanya.


"Jacob!" Panggil Laura yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Namun, tatapannya seketika berubah saat melihat Alesha yang sedang terbaring diatas kasur anaknya. Laura pun menatap curiga pada Jacob. Apa yang sudah anaknya itu lakukan bersama Alesha?


"Jangan berpikiran yang aneh, dia hanya tertidur karna efek dari obat yang dokter berikan." Jelas Jacob yang menyadari tatapan sang ibunda. "Ada apa?" Tanya Jacob.


Laura berjalan mendekat. "Bisa kau memimpin orang-orangku untuk menangkap kelompok jaringan gelap itu?"


"Ya. Apa aku akan dikirim ke WOSA sekarang?"


"Tidak. Kau akan memimpin mereka dari rumah ini, jaringan di WOSA bisa diaktifkan kembali, dan satu lagi temanmu siapa namanya?"


"Eve?"


"Ya, dia yang akan memimpin orang-orangku di SIO."