
Sejak siang tadi Alesha tertidur, dan ia masih belum bangun juga. Jacob dan Levin berniat untuk membangunkan Alesha untuk makan, tapi mereka tidak tega dan sekarang sudah hampir jam lima sore.
Mendadak ponsel Jacob berdering. Mr. Frank menelpon Jacob. Ada apa?
"*Hallo, Jack,"
"Ya, ada apa Mr. Frank?"
"Bisa kau kembali lagi ke SIO?"
Jacob mengerutkan keningnya.
"Kenapa memangnya?"
"Aku ingin kau menyerbu markas Vincent, dia sudah berhasil mencuri beberapa sampel berlian dari gua yang kami temukan itu."
"Apa? Bagaimana mungkin*?"
"Dia meretas sistem komputer kita untuk mengetahui letak dari gua itu."
Jacob terdiam sesaat. Ia tidak mungkin bisa meninggalkan Alesha yang sedang sakit.
"Mr. Frank, maaf sebelumnya, memangnya tidak ada agent SIO lain yang bisa menyerbu markas Vincent? Karna aku rasa aku tidak bisa."
"Beberapa agent punya misi lain, Eve juga sudah aku panggil untuk berjaga di gua itu bersama anak buahnya*."
Jacob terdiam. Ia tidak bisa meninggalkan Alesha yang kondisinya belum pulih sepenuhnya. Tapi Mr. Frank memintanya untuk menyerbu markas Vincent.
"Bagaimana, Jack?"
Jacob berpikir. Alasan apa yang harus ia katakan pada Mr. Frank? Ia mengedarkan pandangannya, berharap otaknya bisa menemukan alasan yang tepat.
Matanya, berhenti pada sosok Levin yang sedang asik memainkan ponselnya. Ya, Levin, dia juga salah satu agen SIO.
"Aku tidak bisa meninggalkan anggotaku yang sedang dirawat di rumah sakit saat ini, bagaimana kalau Levin saja."
"Apa?" Levin terlonjak kaget saat mendengar namanya disebut oleh Jacob.
"*Dia bisa memimpin anak buahku untuk menyerang markas Vincent."
"Menyerang markas Vincent?" Levin mengerutkan keningnya.
"Kau yakin Levin bisa melakukan itu?"
"Ya, dia cukup berpengalaman dalam menghabisi orang-orang seperti Vincent."
"Baiklah, kalau begitu beritahu padanya kalau aku memanggilnya untuk datang ke SIO."
Jacob tersenyum kecil. "Baik, Mr. Frank*."
Sambungan telepon itu segera terputus. Levin menatap bingung ke arah Jacob. Ia bingung, apa yang Jacob bicarakan dengan Mr. Frank hingga menyebut namanya.
"Mr. Frank memintamu untuk kembali ke SIO." Ucap Jacob dengan datar.
"Kembali ke SIO? Untuk apa?" Tanya Levin.
"Menyerang markas Vincent." Jacob duduk di sofa sambil menyilangkan kakinya.
"Menyerang markas lelaki lemah itu?" Levin terkekeh. "Aku sudah malas berurusan dengannya."
"Setidaknya kau punya kesempatan sekali lagi untuk menghabisinya." Balas Jacob.
"Mr. Jacob.." Panggil Alesha lirih. Ia mulai terbangun dan mengerjapkan matanya.
"Kau tidur lama sekali, Al." Ucap Jacob yang berjalan menghampiri Alesha. "Cepat makan." Jacob membawakan Alesha sebuah nampan yang berisi makanan.
Alesha bangun dan terduduk. Rambutnya acak-acakkan, dan wajahnya menunjukan ekspresi orang yang baru saja bangun tidur. Alesha menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Bukan buburkan?" Tanya Alesha.
Jacob menggelengkan kepalanya. "Bukan."
Kemudian Alesha membuka penutup yang menutupi makanan itu. Nasi, dan semangkuk sup.
"Aku merasa benar-benar seperti orang yang sedang sakit sekarang." Alesha menatap pasrah pada makanannya itu.
"Kau memang masih sakit, Al." Ucap Jacob.
"Setidaknya aku sudah mulai pulih, tapi makanannya masih seperti ini." Alesha mulai menyendokan kuah sup itu ke nasi.
Jacob tersenyum saat melihat wajah kecewa Alesha. Matanya selalu saja tertarik masuk dalam aura manis yang Alesha punya. Iris mata Alesha seperti sebuah magnet bagi tatapan Jacob. Memandang wajah Alesha selalu membuat hatinya menjadi tenang. Apakah Jacob menyukai Alesha? Jacob tersenyum saat memikirkan hal itu. Bagaimana mungkin ia bisa menyukai gadis yang tujuh tahun lebih muda darinya? Tapi Jacob berusaha tidak ingin membohongi perasaannya. Ia ingin memastikan kalau itu hanya sekedar sekelebat pikiran yang melintas tanpa izin. Atau ini adalah saat bagi Jacob untuk membuka hatinya lagi? Jatuh cinta pada anggota timnya untuk yang kedua kali.
Jacob menundukan dan menyentuh kepalanya. Ia tersenyum kecil bersama pikirannya. Bagaimana ia bisa menyukai Alesha secepat itu, dan bagaimana ia bisa melupakan kenangannya bersama Yuna?
Yuna dan Alesha memiliki beberapa kepribadian yang bertolak belakang. Yuna gadis manis dan pendiam, tidak begitu banyak bicara, namun asik jika diajak bercanda. Sedangkan Alesha? Dia memang gadis yang canggung kalau dengan orang yang baru saja dikenalnya, namun jika sudah dekat, Alesha akan menunjukan sisi ceria, jahil, pemberani, petakilan, dan sikap manisnya. Bahkan sampai saat ini Jacob masih penasaran apa yang membuat Alesha begitu mirip dengan Yuna.
"WOEE!" Sentak Alesha sambil menepuk bahu Jacob. "Jangan bengong, Mr. Jacob."
Jacob yang kaget kemudian menatap tajam pada Alesha.
"Hehe, maaf, aku tidak bermaksud mengagetkanmu, tuan tukang halu." Ucap Alesha sambil tersenyum manis. Hati Jacob menjadi luluh saat melihat senyuman Alesha.
"Kau bilang apa barusan?" Tanya Jacob.
"Memang aku bilang apa barusan?" Tanya balik Alesha.
"Tuan tukang?" Jacob mengangkat sebelah alisnya.
Alesha mencoba untuk berpura-pura lupa. "Tuan tukang apa?"
"Jangan pura-pura lupa, Al." Ucap Jacob.
"Tidak. Aku bilang, memangnya tadi aku bilang apa?" Alesha memutar balikan kata-kata. Ia sebenarnya tahu apa yang Jacob tanyakan, tapi Alesha hanya ingin bermain-main saja bersama Jacob.
"Tuan tukang halu." Saut Levin. Mendadak Levin mendapatkan tatapan tajam dari Alesha.
"Kenapa kau menatapku seperti itu, Al?" Levin balik menatap Alesha dengan tatapan tidak bersalah.
Alesha mendengus. Ia menatap ke arah Jacob. "Hehe, aku pikir kau memang senang menghayal"
"Kalau aku suka menghayal memangnya kenapa?" Jacob menangkup kedua wajahnya.
"Itu tandanya kau punya banyak impian." Balas Alesha.
Jacob tersenyum mendengar jawaban Alesha. Ia tidak bosan-bosannya memandangi wajah Alesha yang sedang makan itu.
Aku ingin tau kenapa aku jadi seperti ini. Tolong jangan buat aku membohongi diriku sendiri, Alesha. Kau selalu bisa menarik perhatianku seperti yang Yuna lakukan dulu. Tapi kenapa kau begitu berbeda? Aku tidak mau mengelak dari kenyataan. Perjelas semua ini agar aku yakin, Al. Agar aku yakin kalau inilah saatnya bagiku untuk melupakan Yuna sepenuhnya....... Ucap Jacob dalam hati.
Jacob terkesiap saat tiba-tiba saja telapak tangan Alesha menutupi matanya.
"Jangan tatap aku seperti itu." Omel Alesha.
Jacob tersenyum. Ia mengambil tangan Alesha lalu menurunkannya. "Aku hanya menatapmu, apa salahnya?" Tanya Jacob lembut dengan tangannya yang masih memegang tangan Alesha.
Alesha menodongkan sendoknya ke arah wajah Jacob.
"Kau tau kan kalau aku tidak suka ditatap seperti itu!" Alesha melotot pada Jacob.
"Sungguh?" Jacob balik menatap mata Alesha dengan tatapan hangat namun dalam.
Alesha mengedipkan matanya perlahan seolah ia terbius dengan tatapan Jacob. Mulutnya tidak bisa digerakan. Semakin lama Alesha menatap manik hitam milik Jacob, semakin ia masuk ke dalam pesona Jacob yang cukup kuat untuk dirasakan.
Perlahan Jacob memajukan wajahnya untuk mendekati wajah Alesha yang masih tertegun. Alesha tidak menyadari itu karna pergerakan Jacob yang tidak terasa. Semakin dekat dan semakin dekat. Jarak wajah mereka hanya beberapa centimeter saat ini. Apa yang akan Jacob lakukan? Hembusan nafas Jacob sampai terasa oleh wajah Alesha.
"Jangan alihkan pandanganmu, Al." Gumam Jacob sangat pelan. Alesha terdiam seperti sudah terhipnotis oleh Jacob. Mata Jacob benar-benar sebuah daya magnet yang kuat saat ini. Jacob semakin mendekat hingga membuat Alesha terkesiap. Alesha tidak mau kehilangan kesadarannya. Segera ia menggelengkan kepalanya lalu mendorong Jacob agar tidak mendekat padanya.
"Apa yang akan kau lakukan?" Pelik Alesha.
Jacob terkekeh lalu kemudian tertawa karna sesuatu yang melintas di dalam pikirannya. Barusan secara tidak sadar Jacob ingin mencium Alesha.
Astaga, apa yang terjadi padaku?.... Gumam Jacob dalam hatinya.
Jacob tertawa saat ia mengingat kejadian barusan. Itu benar-benar di luar kendalinya, dan untung saja Alesha menyadarkannya.
"Mr. Jacob, kau membuatku takut!" Ucap Alesha sambil mencoba menjauhkan dirinya dari Jacob.
"Dia berusaha untuk menciummu, Al." Saut Levin dengan santai.
"Tadinya jika kalian beneran berciuman aku akan pergi dari ruangan ini karna hatiku pasti akan patah." Lanjut Levin sambil fokus menatap layar ponselnya.
Kemudian Alesha menatap Jacob dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana mungkin mentornya itu berniat ingin menciumnya?
"Tentanglah, Al, aku tidak akan melakukan hal itu." Ucap Jacob di sela-sela tawanya. "Aku hanya berniat untuk mengadu tatapan saja denganmu."
"Tidak mungkin." Gumam Levin yang bisa didengar oleh Jacob dan Alesha.
"Kalau mau aku bisa langsung menciummu tanpa harus menatap matamu dengan lama seperti tadi." Sanggah Jacob.
Alesha masih terdiam. Hatinya merasa sedikit syok karna ulah Jacob tadi. Bagaimana jadinya jika tadi Alesha tidak segera sadar? Apa mungkin Jacob akan menciumnya? Wajah Alesha memerah seketika saat membayangkan jika Jacob beneran menciumnya.
Alesha menundukkan kepalanya. Ia tidak mau kalau Jacob melihat wajahnya yang sedang memerah dan panas. Tapi sayangnya Jacob mengetahui itu. Lagi-lagi tawa keluar dari mulut Jacob.
Levin yang melihat itu hanya mengalihkan wajahnya dengan malas.
"Cukup, Mr. Jacob." Gumam Alesha.
"Kenapa? Kau ingin aku benar-benar menciummu?" Ledek Jacob.
Alesha menangkup wajahnya dengan telapak tangannya. Malu! Dasar Jacob, mentor yang menyebalkan!
"Kau tidak perlu menyembunyikan wajahmu, Al." Ucap Jacob sambil membuka tangan Alesha agar ia bisa melihat wajah Alesha yang sedang memerah.
Alesha menatap tajam pada Jacob sambil mendengus.
Maaf, Al, tadi di luar kendaliku, kau yang membuatku seperti itu.... Ucap Jacob dalam hati.
Dasar mentor menyebalkan! Aku akan membencinya jika dia melakukan hal itu padaku!..... Ucap Alesha dalam hati.
"Kenapa kau melakukan itu?" Tanya Alesha menuntut jawaban dari Jacob.
"Aku tidak melakukan apa-apa padamu." Balas Jacob.
"Lalu tadi apa maksudnya?" Alesha menatap sebal pada Jacob.
"Yang tadi yang mana?" Rayu Jacob.
"Yang tadi!" Bentak Alesha.
Jacob berpura-pura berpikir. Lagi-lagi ia ingin mengajak Alesha bercanda. Jacob merasa dirinya lebih beraura lagi saat ia tertawa karna Alesha. Jacob tidak perduli dengan kebimbangan dalam hatinya saat ini. Jacob sudah terlanjur asik bersama gadis yang kini menjadi tanda tanya terbesar untuknya.
Alesha mendengus. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia bisa tertegun seperti tadi. Ia nyaris saja kehilangan first kissnya. Alesha bertanya-tanya kenapa Jacob bisa seperti itu. Ia tidak menyangka kalo mentornya itu diam-diam memiliki niat yang kurang baik padanya.
Tapi.......
Kenapa Alesha menyukai itu? Menyukai sikap Jacob yang selalu manis saat mereka sedang bercanda. Alesha pikir Jacob adalah tipe orang yang tidak mudah untuk diajak bercanda. Paling juga bercanda hanya gitu-gitu saja. Tapi kenapa dengan Alesha, Jacob terlihat begitu semangat? Alesha menepis jauh-jauh pikiran kalau mentornya itu menyukainya. Tidak mungkin Jacob menyukai Alesha. Siapa Alesha sehingga Jacob bisa menyukainya? Alesha harap kalau Jacob hanya menganggapnya sebagai bagian dari anggota timnya, atau sebagai sahabat, dan tidak lebih dari itu. Alesha tidak mau melibatkan hati lelaki lain saat ini. Ia masih merasa sangat sedih karna Adam.
Tapi Alesha suka sikap Jacob yang selalu baik padanya, walau kadang mengesalkan. Alesha yang terlalu overthinking atau memang Jacob memperlakukannya secara berbeda?
"Sudah selesai menghayalnya, nona tukang hayal?" Ledek Jacob.
Alesha mendengus.
Tidak salah aku dengar? Nona Tukang Hayal? Dasar plagiat......... Ucapnya dalam hati.
"Kau marah?" Rayu Jacob.
"Tidak." Balas Alesha datar.
"Baiklah." Jacob mengangguk pelan. "Apa hukumannya?" Tanya Jacob.
Alesha menatap Jacob. "Hukuman apa?" Tanya balik Alesha.
"Aku kalah dipermainan tadi, jadi kau harus menghukumku." Jawab Jacob.
"Oh, iya, Alesha lupa. Hmm, hukuman ya.." Alesha mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di keningnya. "Hukumannya, kau-harus-menuruti-apa-yang-aku-
ucapkan-selama-tiga-hari." Ucap Alesha dengan mengejah setiap katanya.
Jacob menyerngit. "Menuruti ucapanmu selama tiga hari?"
"Huuh." Alesha mengangguk.
Mata Jacob menyipit sambil menatap Alesha.
"Kenapa? Kau tidak mau?" Tantang Alesha.
Jacob menggelengkan kepalanya. "Baiklah, deal." Jacob mengulurkan tangan kanannya.
Alesha membalas uluran tangan Jacob lalu berjabat tangan. "Deal!" Alesha tersenyum jahat.
Namun tiba-tiba saja Jacob menarik tangan Alesha hingga wajahnya hanya berjarak beberapa centimeter saja dengan Alesha. Alesha menatap kaget pada Jacob. Jacob menyeringai. "Aku akan jalanin hukuman itu, tapi ingat, aku adalah mentormu, aku bisa mengurangi nilaimu jika menyuruhku untuk melakukan hal-hal yang aneh."
Alesha segera melepaskan tangannya. Ia menjauh dari Jacob. "Gak asik, mainnya nilai." Alesha melipatkan kedua tangannya dengan sebal.
Jacob terkekeh. Ia akan dengan tenang mendengarkan ocehan Alesha kali ini.
"Apa-apa nilai, apa-apa nilai, tidak ada ancaman yang lebih parahkah? Sudahlah lupakan, aku tidak perlu menghukummu. Lupakan saja. Lagi pula aku hanya anggota muridmu. TIDAK LEBIH!" Oceh Alesha. Jacob hanya tersenyum. Ia akan terus menunggu sampai mana Alesha akan berhenti mengoceh.
"Sabar, Al, atau nanti nilaimu akan dikurangi oleh mentor menyebalkan dan.." Alesha melihat sekilas pada Jacob lalu mengalihkan pandangannya lagi. "Dan sangat menyebalkan ini!" Alesha membuang wajahnya. Ia malas melihat Jacob yang terus saja menatapnya. Padahalkan Jacob tau kalau Alesha tidak suka ditatap seperti itu.
"Dasar mentor aneh." Gumam Alesha.
Jacob memiringkan kepalanya untuk melihat wajah Alesha yang sedang menahan kesal.
"Cukup, kalian membuatku sirik." Ucap Levin sambil menatap sebal pada Alesha dan Jacob.
"Mr. Levin, kemari temani aku, aku bosan." Pinta Alesha.
"Kau punya teman disebelahmu." Balas Levin.
Alesha menatap sebal pada Jacob. "Tidak, dia bukan temanku!"
"Lalu?" Tanya Jacob dengan lembut.
Alesha tidak menjawab. Ia mendengus sebal. Ia segera beranjak turun dari kasurnya.
"Jangan ada yang ikuti aku! Aku ingin pergi ke taman sendiri! Ucap Alesha.
Jacob mengangkat sebelah alisnya sambil melipat kedua tangannya.
"Baiklah, tidak ada yang menghalangimu." Ucap Jacob.
"Alesha, kau harus istirahat." Ucap Levin.
"Aku sudah cukup beristirahat, aku ingin pergi jalan-jalan. Dan jangan ikuti aku!" Balas Alesha.
Alesha segera berjalan ke luar sambil membawa tiang impusnya.
Jacob menatap datar pada Alesha.
"Jacob, dia bisa tersesat!" Ucap Levin.
"Biarkan dia melakukan apa yang dia inginkan." Balas Jacob dengan datar.
"Dasar menyebalkan! Aaarrgghh, Mr. Jacob!" Gumam Alesha sambil menahan emosinya. Ia terus saja menggerutu sambil terus berjalan di lorong rumah sakit. Ia menghiraukan orang-orang yang memperhatikannya yang sedang mengoceh sendiri. Mood Alesha sedang turun saat ini karna Jacob membuatnya kesal. Alesha masih tidak habis pikir kenapa Jacob bisa seperti itu. Apa benar Jacob berniat untuk menciumnya? Hanya karna sebuah tatapan mata yang berlangsung cukup lama membuatnya berniat untuk mencium Alesha.
Sekitar sepuluh meter di belakang, Jacob berjalan mengikuti Alesha. Ia melipatkan tangannya dan wajahnya menunjukan ekspresi datar dan dingin. Jacob sedikit kesal karna sikap Alesha yang tiba-tiba marah begitu saja. Namun, Jacob juga tidak bisa membiarkan Alesha pergi berkeliaran sendirian.
"Alesha, Alesha! Gak usah pikiran yang aneh-aneh deh! Mr. Jacob tuh emang gitu orangnya! Dia cuman mau bercanda aja. Mungkin. Lagian juga kenapa dia mau ciumlu coba, Al, mikir!" Oceh Alesha yang masih belum berhenti sejak tadi. Mulutnya itu masih terus mengeluarkan kata-kata yang berasal dari isi hatinya.
"Dasar aneh!" Dengan penuh emosi, Alesha menendang sebuah pohon besar yang berada di taman. "Aww.." Alesha memekik kencang saat kakinya beradu dengan batang pohon yang keras itu. "Ck!"
Alesha kembali berjalan dengan sedikit tertatih. Pandangannya terlalu asik menatap langit yang penuh bintang hingga ia kehilangan arah. Alesha berhenti ditempat yang sangat sepi.
Ya ampun, kenapa jadi gelap banget.... Gumam Alesha dalam hati.
Matanya menatap awas pada sekelilingnya. Kulitnya mulai dingin dan merinding. Alesha tidak menemukan seseorang, tapi ia merasa seperti ada yang sedang mengawasinya. Alesha ingin tetap berpikir positif. Ia lanjut berjalan hingga menaiki anak tangga disebuah gedung disudut rumah sakit itu. Satu demi satu anak tangga ia pijak dan berharap akan menemukan seseorang yang bisa membawanya kembali ke kamarnya.
"Sudah tau tidak hapal denah rumah sakit ini, masih saja mau berjalan-jalan sendiri. Alesha, Alesha, tersesat lagi kan." Oceh Alesha dengan malas. "Tapi niatku hanya ingin berjalan-jalan saja, lagi pula aku juga tadi sedang badmood." Alesha menghentakkan kakinya.
Prang.....
Suara benda jatuh terdengar dari sudut gedung itu. Alesha segera berbalik dan menatap waspada kesekelilingnya. Perasaan merinding lagi-lagi menghampiri Alesha. Angin berhembus dan membuat Alesha bergidik. Suasana jadi terasa mencekam. Alesha berjalan lagi beberapa langkah hingga ia menemukan sebuah pintu yang terbuka. Pintu itu sudah kusam dan ruangan di dalamnya juga sudah acak-acakkan. Jadi Alesha memasuki gedung yang sudah terbengkalai? Alesha maju lagi beberapa langkah dan ia menemukan hal serupa.
Namun, tiba-tiba saja Alesha menjadi tertegun. Ia menangkap suatu sosok tinggi gelap sedang berdiri membelakanginya. "Astagfirullah, ya allah." Alesha segera berbalik dan berlari secepat mungkin. Air matanya sudah menetes. Satu demi satu anak tangga ia turun dengan air mata yang sudah mengalir membasahi pipinya. Alesha sangat ketakutan, dan karna kurang hati-hati, ia terjatuh di salah satu anak tangga.
"Aduh!" Alesha memegangi kakinya yang terkilir. Ia berusaha bangkit dan kembali menuruni anak tangga lagi. Namun kakinya sangat sakit. Saat menginjak anak tangga terakhir, Alesha terjatuh lagi. Kakinya benar-benar sakit dan nyut-nyuttan. Alesha memegangi kakinya. Sebuah suara langkah kaki yang berasal dari anak tangga di atasnya membuat Alesha terkejut dan menambah rasa takutnya. Dengan penuh tekad Alesha segera bangkit lagi.
"Ya allah tolong lindungi Alesha." Ucap Alesha dengan gemetar. Alesha berlari sambil menyeret kaki kirinya yang terkilir. Di belakangnya, Alesha merasa ada yang terus mengikutinya dan lehernya terasa sangat berat. Alesha sudah takut dan panik setengah mati. Ia sudah tidak perduli dengan apapun, yang ia mau sekarang adalah agar ia bisa pergi dari sekitar gedung itu.
Saat Alesha sudah sampai di sebuah taman yang cukup terang namun sepi, Alesha bertemu dengan Jacob. Akhirnya. Alesha sudah sangat takut, untungnya ada Jacob yang berhasil menemukannya.
Alesha segera menghampiri dan memeluk Jacob. Ia tidak perduli lagi kalau tadi ia sedang marah dengan Jacob. Saat ini Alesha sedang ketakutan karna bertemu dengan sosok yang baru pertama kali ia lihat di gedung itu.
"Mr. Jacob, Alesha t-tak-kut." Ucap Alesha sambil sesegukan di pelukan Jacob.
"Alesha kau kenapa?" Tanya Jacob panik.
"Di sana" Alesha menunjuk ke arah gedung tua yang masih utuh namun sudah terbengkalai. Gedung itu berjarak cukup jauh dari Alesha dan Jacob. "Aku melihat hantu di sana." Tangis Alesha semakin menjadi-jadi.
Jacob yang mendengar itu seketika terkejut. "Hantu itu mengejarku. Aku takut bawa aku pergi dari sini, kumohon." Ucap Alesha dengan gemetar. Alesha tidak berbohong. Ia benar-benar bertemu dengan penghuni gedung terbengkalai itu.
"Alesha ingin kembali ke kamar. Kaki Alesha sakit karna tadi Alesha dua kali terjatuh di tangga di gedung itu." Lanjut Alesha.
Jacob segera melepaskan pelukan Alesha. "Kita kembali sekarang, ayo. Tenang jangan panik, ada aku di sini." Ucap Jacob. Alesha memegang erat tangan Jacob. Kemudian Jacob segera membantu Alesha untuk berjalan. Jacob bisa merasakan tangan Alesha yang sangat dingin, dan wajah Alesha yang juga pucat. Jacob sempat kehilangan jejak Alesha tadi karna begitu banyak orang yang berkerumun dan menghalangi pandangannya.
Alesha menyandarkan kepalanya pada dada Jacob. Alesha benar-benar takut. Itu kali pertama ia bertemu dengan hantu. Bayang-bayang sosok itu tidak akan hilang dalam beberapa hari, pasti akan terus terbayang. Alesha adalah tipe orang yang parnoan. Ia akan tiba-tiba mengingat bentuk dan rupa sosok itu hingga membuatnya menjadi takut jika ia sendirian.
***
Author pengen cerita dikit nih. Author jadi sawan sendiri ngetik part ini, udahmah di kamar sendiri sambil gelap-gelapan ☹️