May I Love For Twice

May I Love For Twice
Hamil Atau Tidak?



Sesuai dengan perintah dari Mr. Thomson, Alesha dan Dela harus menunggu selama dua minggu untuk dapat diuji apakah mereka hamil atau tidak. Kasus ditutup sementara oleh Mr. Thomson untuk mencegah penyebaran berita mengenai kejadian yang menimpa dua mentor dan dua murid WOSA itu.


"Alesha.... Alesha tunggu!" Jacob menahan bahu Alesha agar gadis itu tidak terus berjalan dan mengacuhkannya.


Saat ini, Jacob baru saja menyelesaikan pembelajaran bersama anggota timnya, namun melihat Alesha yang murung dan tidak mengeluarkan suara sedikit pun selama pembelajaran berlangsung membuat Jacob benar-benar khawatir.


"Alesha, dengarkan aku, aku bersungguh-sungguh tidak melakukan apapun padamu." Ucap Jacob penuh keyakinan.


"Kau bisa katakan itu pada Mr. Thomson." Balas Alesha datar. Ia sudah muak dan sudah tidak bisa terukur lagi bagaimana perasaan kecewanya terhadap sang mentor yang ia pikir sudah menodainya.


"Alesha! Jika aku melakukannya padamu, kau pasti akan merasakannya, Al. Kau tidak akan tidur lelap."


Alesha bergeming. Ia tidak bisa membalas apapun. Memang benar, jika Jacob melakukan hal 'Itu' seharusnya Alesha dapat merasakannya, setidaknya rasa sakit pasti menjalar diantara area pinggul dan pahanya. Tapi Alesha tidak merasakan apapun, sama sekali tidak.


"Alesha, percayalah, aku memang mencintaimu, tapi aku masih tahu batasanku, Al. Aku tidak mungkin menghilangkan kesucianmu hanya karna tidak tahan melihatmu yang terus menggogaku dengan gerakan liar."


"Cukup!" Mendadak Alesha menjambak rambutnya dengan kencang. "Jangan ingatkan aku dengan hal menjijikan itu. Itu bukan aku." Lirih Alesha yang mulai terisak. Boleh dikata trauma, napasnya pun sampai tersengal-sengal. "Itu bukan aku.." Alesha menggelengkan kepalanya seperti seorang yang frustasi. "Itu bukan aku, Mr. Jacob... Aku tidak mungkin semenjijikan itu."


"Alesha, tenanglah, aku tahu kau tidak mungkin melakukan hal itu. Kau dibawah pengaruh obat perangsang, Al." Ucap Jacob yang berusaha setenang mungkin setelah melihat perubahan sikap Alesha.


Namun Alesha yang sudah terlanjur mengingat petaka yang menimpa dirinya semalam pun tidak bisa terenyahkan dari ketakutan. Tubuhnya mulai bergetar dan pikirannya tidak terkendali membuat gerak gerik seperti orang yang sedang dihantui oleh suatu hal yang sangat menakutkan.


"Alesha, tenanglah.... " Jacob sungguh tidak tega melihat ekspresi ketakutan yang terukir jelas pada raut wajah si manis kesayangannya itu. Ia pun langsung meraih pinggang Alesha dan membawa gadis itu masuk dalam pelukannya. "Aku bersungguh-sungguh tidak melakukannya, Al. Percayalah, kau tidak merasakan apapun malam tadi saat kau tertidur bukan? Itu karna aku memang tidak melakukan hal apapun padamu."


"Tapi kau tertidur disebelahku, Mr. Jacob. Aku tidak memakai baju kemeja dan celana jeansku. Kau sudah melihat tubuhku yang hanya menggunakan dalaman saja, aku sudah tidak suci lagi sekarang." Lirih Alesha dalam pelukan mentornya.


"Alesha, jangan beranggapan seperti itu. Ya, aku memamg melihatnya, tapi aku bukanlah lelaki nakal, Al. Buktinya aku tidak melakukan apapun padamu."


"Mr. Jacob, aku ingin kau mendengarkan penjelasanku. Aku mohon, aku tidak bisa menahan ini sendirian lagi. Aku sungguh frustasi, aku takut." Alesha sudah merasakan kekacauan pada dirinya saat ini. Ia kecewa pada mentornya, tapi disisi lain ia malah percaya kalau mentornya itu memang tidak malakukan hal apapun tadi malam terhadapnya.


"Kita ke pantai sekarang." Tanpa menunggu jawaban dari sang mentor, Alesha pun langsung menarik lengan Jacob dan berlari secepat mungkin menuju pantai.


Alesha ingin menumpahkan segala gundahnya pada pria yang sudah tidur bersamanya tadi malam. Alesha sudah kebingungan, sejak pagi ia menahan kesedihan dan ketakutannya karna tidak mau membuat anggota yang lain curiga.


Sesampainya di pantai yang berlokasi sangat jauh dari gerbang Utara WOSA, Alesha berdiri dengan tatapan yang mengisyaratkan sebuah kesakit hatian.


"Apa yang sebenarnya terjadi padaku?" Lirih Alesha saat air matanya kembali meluncuri wajahnya. "Kenapa aku bisa sampai seperti semalam, Mr. Jacob?"


"Alesha..." Lirih Jacob. Ia berniat untuk memeluk tubuh Alesha, namun gadis itu malah memundurkan langkahnya untuk menghindar.


"Mr. Hatric jahat, dia yang memulainya. Aku tidak tahu kenapa aku begitu menikmatinya, tapi aku sangat membenci diriku sekarang." Ucap Alesha dengan isak tangis dan air mata yang terus bertambah. "Mr. Jacob, kau harus percaya, aku tidak mungkin bertingkah seperti seorang pelacur. Aku gadis baik-baik, tapi sekarang aku sudah tidak suci."


Jacob terkesiap saat mendengar apa yang Alesha ucapkan. "Alesha, aku selalu percaya padamu, kau gadis yang baik, kau tidak menyadari apa yang kau lakukan tadi malam karna pengaruh obat."


"Aku tidak pantas untuk siapa pun, Mr. Jacob. Kenyataannya sekarang adalah aku sudah tidak suci lagi. Aku tidak pantas memiliki suami karna aku sudah tidur dengan keadaan yang sangat memalukan bersama pria yang tidak memiliki ikatan yang sah denganku." Pikiran Alesha sungguh kacau dan kalut, hingga akhirnya terucap lah kalimat itu.


"Alesha, apa yang kau katakan, tidak ada yang merebut kesucianmu..."


"TAPI KAU TIDUR DENGANKU, MR. JACOB!! AKU MALU!! AKU HANYA MEMAKAI DALAMAN SAJA YANG OTOMATIS KAU DAPAT MELIHAT TUBUHKU!! APA AKU MASIH BISA DIKATAKAN SUCI? HAH?" Bentak Alesha bersama pecahnya tangis, amarah, serta kekecewaan yang mengacaukan pikirannya.


"AKU MALU, AKU MEMBENCI DIRIKU!! KENAPA NASIB BURUK SELALU MENIMPAKU? APA SALAHKU? HIKS."


"Alesha, jangan seperti ini. Aku mohon, aku tahu kau begitu frustasi, tapi tolong kendalikan dirimu, Al." Sekuat tenaga Jacob memeluk tubuh Alesha yang meronta-ronta.


"Mr. Jacob, aku harus bagaimana? Aku takut? Kau harus bertanggung jawab jika sampai aku hamil! Hiks.." Alesha sudah tidak kuat lagi untuk menahan ganjalan dan beban berat dalam hatinya, hingga ia pun menangis sejati-jadinya dalam pelukan Jacob. "Aku diluar kendaliku semalam, percayalah, Mr. Jacob, bukan aku yang ingin bertingkah seperti seorang pelacur malam tadi. Aku takut, tolong bantu aku..."


Dada Jacob seperti sedang ditikami oleh benda-benda berat dan besar kala merasakan tangisan gadis kesayangannya yang begitu memilukan hatinya. Sedih? Jangan ditanya. Jacob sudah tidak tahu lagi dimana tingkat kesedihannya. Hatinya merintih merasakan setiap getaran tangis yang dihasilkan oleh gadis yang berada dalam pelukannya.


"Mr. Jacob, aku hancur sekarang. Temani aku, aku butuh seseorang yang bisa membantuku, jangan jauhi aku, kau boleh jijik padaku karna tingkahku yang semalam, tapi tolong temani aku dalam masalah ini. Aku mohon.... "


Jacob pun semakin mengeratkan pelukannya pada Alesha. Tidak mungkin dan tidak akan pernah sekali pun Jacob meninggalkan gadis yang sangat ia cintai saat ini. Jacob turut menangis, ia tidak tega dan tak kuasa mendengar permohonan Alesha yang begitu dalam.


"Aku sangat mencintaimu, Alesha. Aku akan selalu menemanimu, percayalah padaku. Kita lewati ini bersama-sama." Balas Jacob dengan lirih.


Berjanjilah, Mr. Jacob. Kalau Mr. Jacob emang cinta sama Alesha, tolong jangan tinggalin Alesha dimasalah ini.... Rintih Alesha dalam hatinya.


Hari demi hari terus berlanjut, membawa rasa kekhawatiran dan ketakutan yang semakin membesar dalam benak. Alesha dan Dela sama-sama terpuruk dan membuat para murid lain juga anggota timnya masing-masing menaruh rasa curiga. Untung saja ada ketua tim yang bertugas untuk menjaga dan menutupi kerahasiaan kasus yang sedang menimpa dua siswa dan dua mentor WOSA tersebut. Bastian pun mesti berbohong pada anggota timnya dengan mengatakan kalau Alesha sedang diberi hukuman oleh Mr. Thomson, dan syukurnya para anggota timnya pun mau percaya. Mereka pikir keterpurukan dan kesedihan yang sedang melanda diri Alesha disebabkan oleh hukuman dan bukan dari kasus memalukan yang dapat menjatuhkan harga diri Alesha.


Setiap hari seperti mati, tidak ada keceriaan dalam diri Alesha. Kala teman-temannya mengajak bermain, Alesha lebih memilih untuk menolak dan menyudutkan diri dipojokan kasurnya. Dela juga sama, gadis yang menjadi korban keganasan Hatric dalam melakukan hubungan terlarang itu pun hanya bisa terdiam, terdiam, dan terdiam. Membisu, dan menghindari siapa saja yang ingin bersosialisasi dengannya. Beruntung ada sang ketua tim dan mentor yang selalu menyemangati Dela, tapi itu tidak berpengaruh sedikit pun terhadap mental Dela yang sudah lebih dulu down akibat kejadian yang menimpanya malam itu bersama salah satu mentor WOSA, Hatric.


Sebisa mungkin Alesha menyembunyikan keterpurukan dan kefrustasiannya dari jangkauan para anggota tim. Terkadang Alesha hanya bisa menangis saat ia berada dalam kamar mandi.


Tapi jika dipikir lagi, seharusnya ia tidak perlu mengalami ketakutan yang berlebih. Alesha tidak merasakan dirinya yang disetubuhi oleh mentornya malam itu, bahkan ia tertidur sangat lelap setelah lelah menggerakkan tubuhnya seperti wanita liar walau hanya sendirian di dalam kamar mentornya.


***


Dua minggu setelah kejadian malam itu, kini Alesha dan Dela sudah berada di depan pintu kamar mandi ruangan laboratorium untuk segera mendapatkan sempel urine agar dapat mendeteksi ada atau tidaknya hormon HGC (human chorionic gonadotropin) yang hanya ada dalam urine wanita hamil. Alesha dan Dela masih sama-sama termenung selama beberapa menit, mereka takut akan hasilnya nanti.


"Alesha, semoga kita beruntung." Dela berucap dengan gemetar. Aura ketakutan terpancar kuat dari sekitaran tubuh gadis itu.


"Aku akan beruntung, karna aku memang tidak melakukan apapun dengan Mr. Jacob malam itu." Balas Alesha yang langsung membuka pintu dan masuk ke dalam kamar mandi itu.


Karna aku memang tidak melakukan apapun dengan Mr. Jacob malam itu...


Ucapan Alesha pun terngiang-ngiang dalam pikiran Dela.


"Jika benar Alesha tidak melakukannya, lalu bagaimana denganku?" Lirih Dela. Air mata membendung, pasrah dan takut. Bagaimana hasilnya nanti? Apa ia akan dipecat dari WOSA karna kelakuan bejad salah satu mentor?


"Huftt.." Dela menghembuskan napasnya untuk mendapatkan sedikit ketenangan. Ia pun masuk ke dalam kamar mandi dengan berbagai macam perasaan yang sudah terolah menjadi satu.


Di dalam ruangan Mr. Thomson, Jacob dan Hatric sama-sama menegang menunggu hasil dari tes urine yang dijalani oleh Alesha dan Dela.


Kedua mentor itu menunggu dengan sabar dan pastinya penuh pengharapan semoga saja dua murid WOSA itu tidak ada yang positif hamil.


Berbeda dengan Jacob yang berusaha untuk tetap bersikap tenang, Hatric malah mengeluarkan gerak-gerik salah tingkah yang membuat Jacob merasa curiga.


Apa mungkin Hatric benar melakukan 'Itu' dengan Dela? Mungkin iya, mungkin tidak, siapa yang tahu?


"Alesha, Dela.." Panggil Laras yang sudah mendapati kembalinya dua gadis itu ke dalam ruangan Mr. Thomson.


Refleks, wajah Jacob langsung bergerak cepat menengok ke arah gadis kesayangannya, Alesha.


"Bagaimana?" Tanya Laras yang menelisik penuh kepenasaranan pada wajah Alesha dan Dela.


"Kita diminta untuk menunggu lima sampai sepuluh menit, Mrs. Laras." Balas Dela dengan lemah.


"Baiklah, kalian yang sabar ya. Sekarang duduklah, tenangkan dulu pikiran dan diri kalian." Laras pun menggiring Alesha dan Dela untuk terduduk disofa panjang.


Tenang? Mana bisa. Ini jantung udah kaya lagi tempur. Alesha takut, tapi Alesha yakin, Alesha gak ngelakuin apapun sama Mr. Jacob, ya otomatis Alesha gak bakal mungkin dong hamil....... Gumam Alesha dalam hati.


"Alesha..." Panggil Jacob cukup lirih.


Alesha hanya membalas panggilan mentornya itu dengan tatapan datar dan kosong.


"Jack, jangan ganggu Alesha sekarang!" Tegas Laras.


Jacob pun langsung tertunduk melihat ekspresi marah dan kecewa yang terautkan pada wajah sahabat wanitanya itu. Jacob tahu dan mengerti, Laras pasti sedang kecewa terhadapnya.


*


Hening...


*


Alesha berusaha meyakinkan dirinya, dan Dela berdoa agar takdir dapat merubah kenyataan yang mungkin akan ia dapatkan dalam beberapa menit lagi.


Jacob yang tetap berusaha tenang, walau kenyataannya ia merasakan ketegangan akan hasil dari tes urine yang dijalani oleh Alesha. Berlainan hal pula dengan Hatric, wajah mentor itu memucat dan tubuhnya terlihat begitu gelisah walau hanya melalui gerakan-gerakan kecil saja.


Menunggu dan terus bersabar sebelum hasilnya dinyatakan oleh Mr. Thomson juga petugas laboratorium.


Tepat saat jam berhenti pada pukul 08.15 pagi, Mr. Thomson pun datang memasuki ruangannya dan membuat Jacob, Hatric, Alesha, Dela, dan Laras yang ada di ruangan itu terlonjak kaget.


Jika dilihat dari raut wajah Mr. Thomson, Jacob dan yang lain sudah dapat menebak kalau sang kepala sekolah itu sedang menahan amarah juga rasa kekecewaan. Lalu apa artinya itu? Apa mungkin Alesha, atau Dela, atau bahkan keduanya hamil?


Ketegangan membekukkan tubuh keempat orang yang sedang dalam masalah itu. Tidak dapat bergerak selain iris dan kelopak mata yang menyiratkan rasa takut, panik, penasraan, dan lain-lain.


Brak.......


Mr. Thomson menghentakkan telapak tangannya cukup kencang pada meja kerjanya.


Tatapannya begitu tajam dan menusuk pada Hatric dan Jacob.


"Aku kecewa! Sangat kecewa! Siapa pun yang namanya aku sebutkan, itu tandanya dia harus angkat kaki dari WOSA dan melepaskan status kesiswaannya sebagai murid dan mentor WOSA secara tidak hormat!"


Semua yang ada dalam ruangan itu membulatkan mata mereka dengan mulut yang sedikit terbuka. Mereka sudah dapat memastikan kalau antara Alesha dan Dela ada yang hamil.


Tatapan Mr. Thomson terarah pada Jacob. Sorot mata itu, Jacob dapat merasakannya. Kekecewaan dan kesedihan. Tatapan Mr. Thomson langsung berubah menjadi sayu kala Jacob menatapnya balik.


Tapi tunggu. Jacob jadi bertanya-tanya. Apa maksudnya? Kenapa Mr. Thomson menatapnya dengan sorot kecewa dan kesedihan yang cukup dalam? Apa mungkin? Tapi tidak, Jacob tidak melakukan apapun dengan Alesha.


*


*


*


"Jack, Alesha hamil.."


"Apa?" Pekik Laras secara refleks dan mengejutkan.