
Warning 17+ Area.......
*
*
*
******************
Pukul 10.15 WIB
Tampak seorang gadis muda yang baru saja keluar dari dalam mobil tampak sibuk dengan ponsel yang berada dalam genggamannya.
Dialah Sharon, adik bungsu Jacob yang baru saja tiba di mansion kakak laki-lakinya itu.
"Nona, ayo masuk, Nyonya, dan Tuan Jacob sudah menunggu di dalam," Ucap Taylor.
"Oh ya, Taylor, kadoku mana?" Tanya Sharon.
"Tadi dibawa oleh pelayan, Nona, kenapa memangnya?" Tanya balik Taylor.
"Huh!" Sharon mendengus. "Dibawa kemana?"
"Mungkin ke kamar, Nona," Jawab Taylor.
"Yah, padahal aku ingin memberi kado itu pada Alshiba," Sharon mengerutkan bibirnya.
"Hey, Sharon...."
Sharon membalikkan tubuhnya ke asal suara berat yang barusan sekali memanggilnya. "Jacob?"
"Kau sudah tiba? Kalau begitu cepat masuk ke dalam," Ucap Jacob.
"Alshiba di mana?" Sharon malah balik bertanya.
"Di kamar bersama Alesha, sedang tertidur," Jawab Jacob.
"Boleh aku menemuinya? Boleh ya, boleh boleh," Mohon Sharon sembari menunjukan ekspresi menggemaskan supaya kakaknya itu mau memberikan izin agar bisa menemui Alshiba.
Jacob menghela napasnya sembari menggelengkan kepalanya, pelan. "Cuci tangan, dan kakimu terlebih dahulu, dan pastikan kalau kau dalam keadaan bersih jika ingin bertemu dengan Alshiba."
"Pastilah, aku akan bertemu dengan bayi, dan aku tidak ingin menularkan kuman," Balas Sharon sembari mulai berjalan beriringan bersama kakaknya.
"Oh ya aku juga punya hadiah buat anakmu, Jack."
"Apa?" Jacob menundukkan wajahnya untuk menatap sang adik seraya bertanya.
"Lihat saja nanti, hehehe."
"Kau hanya membelikkan untuk Alshiba saja, sedangkan kakakmu yang tampan ini tidak dibelikan?" Goda Jacob.
"Tidak, dan lagi pula apa yang harus aku belikan untukmu?" Balas Sharon sembari memainkan ponselnya.
Jacob hanya memutar kedua bola matanya dengan malas setelah mendengar jawaban dari si bungsu itu.
"Sudah, sekarang kau pergi saja ke kamarmu, Taylor akan menunjukkannya," Ucap Jacob.
"Hmmm...." Hanya itulah balasan Sharon. Gadis itu terus terpaku pada ponselnya.
Sedangkan Jacob, kini ia sedang menunggu kedelapan anak asuhnya yang akan segera tiba tidak lama lagi.
"Jack..." Panggil Alesha sembari menghampiri suaminya yang tengah berdiri di depan ruang tamu.
"Alesha, apa yang kau lakukan di sini? Alshiba dengan siapa?" Tanya Jacob yang tampak sedikit khawatir.
"Dia sedang tidur, ada pengasuhnya di sana. Kau, apa yang sedang kau lakukan di sini?" Tanya balik Alesha.
"Aku sedang menunggu Bastian, dan yang lain," Jawab Jacob.
"Bastian, dan yang lain? Maksudmu Bastian, Lucas, Nakyung, Merina, Maudy, Aiden, Tyson, Mike? Begitu?" Alesha menunjukkan raut bingungnya.
"Iya, sayang..."
"Ada apa mereka datang ke sini?" Alesha mengerutkan keningnya.
"Aku yang memintanya. Mereka juga akan menginap malam ini di sini."
"APA?" Pekik Alesha.
Jacob hanya tersenyum ketika mendapati reaksi istrinya itu.
"Menginap di sini? Kau bercanda ya?"
"Tidak, sayang."
"Tuan, Bastian, dan teman-temannya sudah datang," Ucap Taylor yang dibelakangnya sudah ada kedelapan kawan seperjuangan Alesha ketika di WOSA dulu.
"Hai, Mr. Jacob," Sapa Bastian, dan yang lain.
"Alesha, dimana Alshiba?" Tanya Merina dengan semangat.
"Dia di kamar, sedang tertidur," Jawab Alesha.
"Yahhh...." Merina mengerucutkan bibirnya, tanda ia kecewa.
"Oh ya, tadi kau bilang katanya mereka akan menginap?" Alesha mendongkak, dan menatap lekat pada suaminya.
"Iya, Al, mereka akan menginap malam ini di sini," Jawab Jacob dengan santai.
"Jack, jangan bohong!"
"Tanya saja pada mereka langsung."
Lalu Alesha memutar tubuhnya untuk menghadap ke arah kawan-kawannya.
"Kami sudah bawa baju salin, Alesha, Mr. Jacob menyuruh kami untuk menginap malam ini di sini," Ucap Maudy.
"Sungguh?" Alesha melebarkan matanya yang sudah berbinar. "Bagus kalau begitu!" Ia pun berseru senang.
Kini, yang ada dalam bayangan Alesha adalah malam yang begitu ramai dengan canda tawa, dan keseruan tim, seperti halnya saat di WOSA dulu.
"Yey! Kalau begitu, timmu sudah lengkap lagi sekarang, Jack, emm maaf, maksudku, Mr. Jacob," Ucap Alesha sembari menunjukan tatapan menggodanya.
"Jadi......" Alesha berjalan, lalu berdiri tepat membelakangi kedelapan kawannya. "Apa yang akan kita pelajari hari ini?" Sebelah alisnya terangkat, dan kedua tangannya saling berlipat.
"Masih belum berubah juga gayanya," Komen Lucas.
"Aku tidak akan lupa gaya bicara, dan tubuh Alesha jika sudah menanyakan pelajaran apa yang akan dipelajari. Sedangkan Mr. Jacob malah mengacuhkannya, dan sibuk menyiapkan materi, dan itu selalu terulang disetiap harinya," Ledek Mike.
Alesha mendengus. "Ya, dia memang jutek padaku," Alesha menunjuk singkat pada suaminya.
Jacob terkekeh. "Sudah, sudah, ayo masuk dulu, kalau kalian ingin membicarakan masa lalu bisa di dalam, di ruang tamu, atau ruang keluarga terserah, atau mau di taman belakang juga silahkan."
"Kalau kalian lapar atau haus pergi saja ke dapur, cari makanan atau minuman kesukaan kalian," Lanjut Jacob.
"Kebetulan sekali aku haus," Tyson menjentrikkan jarinya. "Nakyung, tolong ambilkan minuman!" Titahnya, santai.
"Aku?" Nakyung menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, Yuna Kyung, tolong-ambilkan-aku-minuman-aku-haus," Ulang Tyson yang memperjelas ucapannya.
"Ambil saja sendiri! Kau yang haus kan?" Ketus Nakyung.
"Syut, sudah sudah, aku yang mengambil minuman itu, kalian pergilah ke kamar masing-masing," Sahut Bastian.
"Yasudah ayo, Mr. Jacob, kami ke kamar dulu ya, sekalian mau menaruh tas-tas kami," Ucap Aiden.
"Silahkan, Taylor akan menunjukkan pada kalian kamar kalian yang mana," Balas Jacob.
"Baiklah, Mr. Jacob, terima kasih," Ucap Merina sembari menyunggingkan senyumnya yang dibalas dengan anggukan kecil oleh Jacob.
Lalu ketujuh remaja dewasa itu pun pergi mengikuti langkah Taylor menuju kamar tamu.
"Jack, terima kasih sudah mengizinkan mereka menginap di sini," Ucap Alesha.
"Kenapa berterima kasih?" Jacob menundukkan wajahnya yang sudah berekspresi bingung.
"Aku senang saja, jadi rumah ini tidak sepi, dan aku juga merindukan saat dimana aku, dan mereka, juga kau berkumpul bersama, seperti di WOSA dulu."
Jacob tersenyum sembari menangkup wajah istrinya. "Kalau begitu, mereka boleh sesekali menginap di sini, lagi pula mereka juga kan sudah aku anggap seperti adik sendiri."
"Sungguh? Terima kasih kalau begitu, Mr. Jacob," Alesha tersenyum sembari menyipitkan kedua matanya hingga eye smile khas pun terbentuk dengan indah.
"Alesha....." Jacob menajamkan tatapannya.
"Hehehe, jangan marah. Kau pikir setelah kita menikah image mu sebagai mentorku telah hilang," Alesha mencubit gemas kedua pipi suaminya, lalu ia pun menggelengkan kepalanya. "Tidak! Tidak, Mr. Jacob, ups!" Alesha sedikit terkejut ketika ia salah menyebutkan nama panggilan suaminya. "Eehh, maksudku, Jack, hehe," Alesha tersenyum kikuk. "Aku berusaha untuk menyingkirkan image itu, namun entah kenapa aku merasa kau memanglah masih menjadi mentorku, dan yang lain."
"Terserah kau saja, Al, yang pasti sekarang adalah kau sudah menjadi miliku!!"
Alesha tersentak ketika tiba-tiba saja Jacob menciumi wajahnya dengan sangat cepat, dan penuh penekanan.
"Emm, Jack!!" Alesha mendorong dada suaminya, namun itu tidak berhasil. "STOP!! Keru......dungku......bisa.....acak......acakkan......tahu!!"
"Itu hukuman untukmu!!" Jacob menyudahi aksinya.
"Ish, bisa tidak sih kalau mencium itu sekali saja!!" Alesha menghentakkan kakinya sembari menatap sebal pada Jacob.
"Tidak bisa," Jacob tersenyum jahil. "Karna kau itu...." Jacob kembali mendekatkan bibirnya pada wajah Alesha.
"Aaaaaa!!!" Alesha memekik saat merasakan nyeri pada pipi kanannya. "Gigit terus! Atau tidak makan saja aku sekalian, Jacob Ridle!!"
"Sangat mengemaskan," Jacob menggertakkan giginya karna gemas pada istrinya.
...****...
Malam harinya, sekitar pukul setengah delapan para pelayan dibuat sibuk menyiapkan hidangan makanan untuk majikan mereka.
Mansion yang biasanya sepi itu kini menjadi ramai dengan adanya canda gurau dari kawan-kawan Alesha. Dari sejak siang, tepatnya saat Alshiba terbangun, Laura beserta anak juga menantunya, dan tidak lupa beberapa pengawal termasuk Taylor berkumpul di ruang keluarga. Menghabiskan waktu bersama, mengobrol, dan saling berbagi cerita.
Bahkan Alshiba pun sempat menjadi bahan rebutan untuk digendong, namun Alesha menolak karna ia tidak mau anaknya menjadi sakit badan. Kecuali Laura, selama Alshiba masih membuka matanya, ibunda Jacob itu terus saja menggendong tubuh cucu perempuannya. Namun saat Alshiba menangis, terpaksa Laura pun menyerahkan bayi mungil itu pada bundanya, Alesha.
"Bastian, kau lihat Mr. Jacob tidak?" Tanya Alesha yang menghampiri kawannya sembari menggendong Alshiba yang baru saja terbangun.
"Bas...." Panggil Alesha sekali lagi. Tetapi sepertinya Bastian tidak menyadari, atau tidak mendengar, atau bahkan pura-pura tuli hingga tidak menyahuti pertanyaan, dan panggilan Alesha.
Alesha dibuat bingung melihat kawannya melamun dengan tatapan lurus, dan senyum tipis.
Nih anak napa sih?....... Pikir Alesha.
Akhirnya, Alesha pun mengikuti arah mata Bastian yang tertuju pada satu objek.
"Ups.." Kedua pipi Alesha menggembung saat mencoba untuk menahan tawanya setelah mengetahui penyebab dari Bastian yang tidak menyahuti ucapannya.
Ya, mungkin sekitar tujuh atau delapan meter dari posisi Alesha, dan Bastian berdiri, di sana ada Sharon yang sedang asik bersandar pada dinding sembari memainkan ponselnya.
"Ya? Alesha, ada apa?" Tanya Sharon yang dengan jelas menatap pada kakak iparnya, Alesha. Namun, insting Sharon tiba-tiba saja tertarik pada sepasang mata yang dirasa sedang memperhatikannya.
Sejurus kemudian, Bastian, dan Sharon pun sama-sama tersentak kala pandangan mata mereka sama-sama bertemu.
"Hahahahahaha, Bastian...... Bastian...." Alesha menggelengkan kepalanya sembari tertawa geli karna melihat reaksi Bastian, dan Sharon yang sama-sama saling bertemu pandang.
Sharon yang kebingungan pun akhirnya bertanya. "Ada apa?"
"Alesha, Bastian, Sharon," Panggil Jacob sembari berjalan mendekati istrinya. "Apa yang kalian lakukan di sini? Makan malam sebentar lagi."
"Jack, tadi aku mencarimu, dan aku bertanya pada Bastian kau dimana, tapi....." Alesha kembali mengembungkan pipinya untuk menahan tawa.
"Tapi apa?" Jacob mengerutkan keningnya.
"Alesha, ada apa?" Tanya Sharon, lagi.
"Sharon, lebih baik kau ke ruang makan sekarang, ibu pasti sudah menunggu," Jawab Alesha.
Sebelah alis Sharon terangkat. "B-baiklah," Ragu Sharon. Ia masih penasaran sebenarnya ada apa? Kenapa Alesha memanggilnya, dan tiba-tiba tertawa begitu saja? Tapi yasudahlah, Sharon menurut saja akan ucapan kakak iparnya itu. Lalu ia pun mulai berjalan meninggalkan Alesha, Jacob, dan Bastian.
"Sayang, kenapa?" Tanya Jacob.
"Sepertinya kau akan segera memiliki adik ipar, Jack, hahahaha," Alesha kembali tertawa, hingga membuat Jacob merasa gemas.
"Semangat, Bas, aku mendukungmu!!" Alesha menepuk bahu Bastian, sedang Bastian sendiri tertunduk karna wajahnya yang memerah akibat ucapan Alesha barusan.
"Aku ke ruang makan duluan ya.... Byeeee... Hahahahhahaha......." Alesha pun berjalan meninggalkan suami dan temannya sembari terus tertawa.
Jujur saja Jacob masih merasa kebingungan akan sikap, dan ucapan istrinya barusan. Apa maksudnya adik ipar? Apa Sharon sudah memiliki pacar? Lalu kenapa wajah Bastian memerah? Pikir Jacob.
Kemudian Jacob pun mencoba untuk menelisik, dan mencari tahu maksud dari ucapan Alesha.
Adik ipar? Alesha memberi semangat, dan dukungan pada Bastian? Dan wajah Bastian yang merah merona? Oh jangan-jangan.....
Kedua mata Jacob menyipit. Senyum jahil pun terukir. "Kau harus berhadapan denganku terlebih dahulu, Bas."
Bastian terlonjak kaget saat mendapati ucapan seperti itu dari Jacob. Apa maksudnya?
"Karna aku tidak akan memberikan adikku pada lelaki yang tidak pantas untuknya, jadi buktikan, dan buat aku percaya padamu," Bisik Jacob tepat disebelah telinga Bastian.
"Hahahhahahahaha," Tawa Jacob pun pecah, dan menggelegar dalam ruangan itu.
...*****...
Makan malam pun dimulai. Semua tenang, dan sibuk menyantap makanan masing-masing. Alesha juga turut ikut dalam makan malam itu karna ia sudah menitipkan Alshiba pada pengasuhnya.
Berbagai macam jenis olahan terhidang indah diatas meja makan. Hanya dalam kurun waktu setengah jam saja, hidangan-hidangan itu pun habis dimakan.
Sungguh makan malam yang sempurna untuk Alesha. Ia senang karna kali ini makan malamnya tidak sendiri, atau berdua saja dengan Jacob, melainkan dengan keluarga, dan teman-temannya.
"Permisi, Teh, Dede Shiba nangis ini dari tadi, kayanya laper, atau gak ngantuk deh," Ucap Bi Mina, pengasuh Alshiba, atau Alesha biasa memanggilnya Teh Ina.
"Ulululu, sayang Bunda nangis ya..." Alesha mengambil alih tubuh bayinya yang sedang menangis kencang. "Ah, sayang, kamu laper ya? Maafin Bunda ya."
"Alesha, bawa Alshiba ke kamar, dan tidurkan dia," Ucap sang ibu mertua, Laura.
"Iya, Bu," Balas Alesha sembari bangkit berdiri. "Kalau begitu, aku pergi dulu ya, Alshiba sudah rewel soalnya," Pamit Alesha sebelum akhirnya ia pergi menuju kamarnya.
"Bu, aku mau ke taman belakang dulu ya," Disusul Sharon, ia pun memilih untuk meninggalkan ruang makan setelah dirasa perutnya kenyang.
"Iya," Balas Laura sembari mengangguk.
Adik bungsu Jacob itu pun segera bangkit, dan berlalu pergi. Namun uniknya, Bastian malah mengikuti arah matanya yang terpaku pada Sharon ketika gadis itu berjalan, dan lewat dihadapannya.
"Ekhm!!" Jacob berdehem kencang ketika menyadari arah mata Bastian yang mengikuti langkah adiknya.
"CK! Mr. Jacob, aku terkejut tahu!" Dumal Merina.
"Maaf," Balas Jacob sembari menyunggingkan senyum manisnya, lalu setelah itu ia pun mengubah senyumnya menjadi senyuman jahil pada Bastian.
"Jack, ibu pergi ke kamar dulu ya," Ucap Laura.
"Iya, Bu," Balas Jacob yang masih tersenyum.
"Mr. Jacob kenapa tiba-tiba senyum aneh seperti itu pada Bastian?" Bisik Maudy pada Nakyung.
"Mr. Jacob, kau kenapa?" Tanya Nakyung dengan sangat santai.
"Ah, apa?" Jacob melirik pada Nakyung.
"Maudy bertanya, kau kenapa tiba-tiba tersenyum aneh pada Bastian?" Ulang Nakyung.
"Aku baik-baik saja," Jacob menjawab santai. "Oh ya, kalau begitu aku pergi duluan ya ke kamarku, kalau kalian bosan kalian bisa main ke taman belakang sembari menemani Sharon," Jacob melirik jahil pada Bastian. "Atau kalau masih lapar di dapur banyak makanan."
Mr. Jacob, awas kau..... Dumal Bastian dalam hatinya.
"Bye...." Jacob menyungginkan senyumnya yang terakhir sebelum ia pergi menuju kamarnya.
"Mr. Jacob kenapa sih? Aneh," Komen Merina.
...*****...
Di dalam kamarnya, kini Jacob, dan Alesha tengah bersiap untuk tertidur.
Alshiba baru saja beres disusui oleh bundanya, dan kini putri kecil itu sudah tertidur lelap dalam kasur bayi.
Lalu Jacob, ia baru saja keluar dari dalam kamar mandi, dan kini ia malah tertegun karna melihat istrinya yang terlihat begitu cantik, dan segar. Rambut yang dikesampingkan, kulit leher yang seputih susu, wajah natural, tubuh minimalis. Argh! Jacob merindukan itu semua. Berapa lama ia tidak mendapatkan jatahnya sebagai suami?
"Jack?" Alesha yang hendak berbaring pun tiba-tiba menghentikan niatnya ketika melihat suaminya yang tengah melamun.
Jacob sendiri tidak membalas. Kini ia berjalan untuk mendekati istrinya.
"Sayang....." Panggil Jacob, pelan.
Tapi dari cara bicara Jacob yang dapat Alesha artikan, sepertinya pria itu tengah dimabukkan akan suatu hal.
Dan benar saja gudaan Alesha. Kini, tubuhnya membeku ketika Jacob perlahan mengendusi kulit lehernya.
Tubuh Alesha mulai memanas ketika kedua lengan besar Jacob mulai mengambil alih tubuhnya.
Alesha tetap diam. Ia mengerti, mungkin suaminya itu tengah menginginkan haknya yang selama beberapa bulan atau terhitung sejak Alesha hamil besar tidak pernah lagi menerima jatahnya. Namun Alesha juga mesti berpikir lagi, ia masih dalam masa nifas, dan tidak mungkin bisa membuat suaminya merasa bahagia.
"Jack.." Alesha menyentuh kedua bahu suaminya ketika pria itu semakin menundukkan kepala, dan menikmati tubuh atas istrinya yang sudah tidak tertutupi oleh kain piyama lagi.
"Aku merindukanmu, Alesha.." Gumam Jacob disela-sela kegiatannya.
"Tapi aku tidak bisa memberinya sekarang," Lirih Alesha.
"Aku tidak akan meminta lebih, tapi tolong malam ini, aku hanya meminta setengah dari hakku, sayang."
"Setengah? Maksudnya?"
Jacob mengangkat wajahnya lalu menatap wajah istrinya. "Aku tidak meminta seluruh tubuhmu, cukup setengah saja."
"Aww, Jack, geli!" Alesha menggeliatkan tubuhnya ketika jemari Jacob menggelitiki perutnya.
"Tidak apa kan, sayang?" Mohon Jacob.
"Aku tidak masalah, aku hanya takut, argh, Jack!" Lagi, namun kini Jacob meremas bagian sensitif istrinya.
"Iya iya, tapi kau tahu kan kalau aku tidak bisa...." Alesha menjeda ucapannya, ia bingung bagaimana harus melanjutkannya.
"Aku paham, sayang," Jacob tersenyum hangat.
"Emm, Jack... Cukup, sakit..."
Jacob menyunggingkan smirknya ketika melihat Alesha yang mulai terangsang karna ulahnya.
"Aku mencintaimu, Alesha," Bisik Jacob. Lalu setelah itu, ia pun menyantap bibir istrinya begitu pelan, dan lembut.
Sesekali Alesha membalas ciuman suaminya itu, namun ya tetap saja, Alesha masih sangat kaku dalam hal berciuman, dan suaminya lah yang jauh lebih mendominasi kegiatan mereka.
Jacob yang merasakan tubuhnya istrinya bergetar karna kedinginan pun akhirnya meraih selimut lalu membalutkannya pada tubuh Alesha.
Masih dalam posisi berciuman, kini sebelah lengan Jacob bergerak menuju punggung Alesha untuk melepaskan kaitan bra lalu setelah itu membuangnya sembarang ke lantai.
"Sebut namaku, Alesha..."
"Jack.... Emm... Jacob.... Ridle..."
"Pintar."
Perlahan, Jacob membawa tubuh istrinya untuk berbaring.
"Jack....." Erang Alesha ketika Jacob mulai membawa dirinya untuk masuk ke dalam selimut, dan menikmati tubuh istrinya itu.
Alesha menggigit bibir bawahnya untuk menahan ******* yang bisa lolos begitu saja.
Beberapa kali Alesha tersenyum, dan menggeliatkan tubuhnya. Jacob asik bermain-main di dalam selimut, dan itu membuat Alesha merasa geli, dan sedikit sakit.
"Awww!!! Jack, pelan-pelan!!"
"Emm, kau ini!!" Alesha mendengus.
"Bagaimana, sayang?" Tanya Jacob sembari muncul dengan tiba-tiba dari dalam selimut.
"Jika kau senang, aku pun senang," Jawab Alesha dengan jemarinya yang membelai lembut wajah pria kesayangannya itu.
"Kau selalu membuatku senang, Lil Ale."
Jacob merasa cukup, ia tidak mau membebani istrinya, jadi sekarang, ia pun menggulingkan tubuh, dan membawa Alesha kedalam dekapannya.
"Dulu, aku menyembunyikan perasaanku, dan sekarang aku bersyukur kau sudah menjadi milikku. Kau tidak tahu Alesha, waktu itu, ketika kau belum sampai di WOSA, aku sudah terlebih dahulu melihatmu melalui foto, dan profilmu. Hal yang pertama terlintas dalam benakku adalah orang yang 'Manis'. Bahkan aku memiliki banyak koleksi fotomu digaleriku. Aku tertarik denganmu, maka dari itu aku sengaja mendekatimu, hingga akhirnya sekarang usahaku tidak sia-sia, bahkan kita sudah memiliki anak, sayang," Jacob mengelusi rambut, dan punggung istrinya.
"Kau selalu suka bukan jika sudah tertidur dalam pelukanku? Disaat seperti itu, aku merasa jauh lebih leluasa, bahkan tanpa kau sadari, ciuman-ciumanku sudah banyak mendarat sewaktu kita belum menikah. Aku tidak ingin kehilanganmu, aku mencintaimu, sayang. Aku sangat frustasi karna waktu itu beberapa tragedi menimpamu, aku takut kau pergi, tapi tidak, karna aku tidak akan membiarkan itu."
Jacob mengakhiri cerita pendeknya lalu terdiam sejenak.
"Alesha....."
Tidak ada jawaban.
"Lil Ale," Jacob melirik pada istrinya, dan ternyata....
"Kau sudah tidur? Berarti tadi kau tidak mendengarkanku," Jacob mengerucutkan bibirnya. "Yasudah tidak apa. Selamat malam, sayang, mimpi indah."
Terakhir, Jacob pun mencium kening istrinya lalu setelah itu ia turut larut dalam tidurnya.