May I Love For Twice

May I Love For Twice
Kembali Menuju WOSA II



Kedua mobil pengantar kini telah sampai di bandara, tepatnya di tengah-tengah lapangan penerbangan. Pesawat pribadi milik Laura sudah terparkir dan siap untuk lepas landas dalam beberapa menit lagi sesuai dengan jadwal yang sudah diatur oleh pihak bandara.


"Tuan, kita harus segera naik kepesawat, jadwal penerbangan kita tinggal beberapa menit lagi." Ucap salah satu pramugari yang menghampiri Jacob dan Alesha.


"Ayo, Al." Jacob pun segera meraih lengan Alesha dan membawanya untuk menaiki anak tangga penghubung antara jalan aspal dengan pintu pesawat.


Setelah masuk ke dalam ruang bagian dalam pesawat itu, Alesha pun melepaskan jaket miliki mentornya yang sejak tadi ia kenakan. "Mr. Jacob, jaketmu."


"Tidak, pakai saja." Balas Jacob sambil menahan lengan Alesha yang berniat untuk membuka jaketnya itu. "Pakai hingga kau sampai di WOSA nanti."


"Tapi..."


"Sudah tidak ada tapi-tapian, sekarang duduk dan diam." Potong Jacob sembari mendorong kedua bahu Alesha agar terduduk pada bangku pesawat.


"Mr. Jacob, kau yakin kalau kita akan kembali ke WOSA sekarang?" Tanya Bastian.


"Tentu saja, kau pikir kita akan kemana lagi?" Balas Jacob.


"Baguslah kalau begitu, aku sudah merindukan WOSA." Bastian pun tersenyum, sedangkan Jacob, ia hanya memutar bola matanya dengan malas.


Setelah menunggu selama hampir sepuluh menit, sang pilot pun mulai menyalakan mesin dan perlahan pesawat pun meluncur diatas aspal. Kurang lebih tiga menit berlalu, dan akhirnya roda pesawat pun berpisah dengan aspal. Karna perjalanan yang jauh dan memakan waktu yang tentunya sangat lama, Alesha berpikir kalau cara terbaik untuk menikmati setiap peralihan setiap detik dalam pesawat adalah dengan memandang ke arah luar melalui jendela kaca yang berada disebelah. Dibilang ingin tidur, tapi saat itu masih menunjukan waktu pagi menjelang siang hari di wilayah USA, bahkan matahari pun sedang berada pada titik yang paling bagus jika dimanfaatkan untuk menjemur anggota tubuh. Tapi semakin berjalannya waktu, Alesha juga semakin larut dalam rasa kantuk. Berada dalam pesawat pribadi milik Laura memanglah sangat nyaman, interior yang mewah dan ruangan yang lega membuat siapa saja bisa betah berlama-lama dalam pesawat itu.


Daya pada mata Alesha semakin menunjukan penurunan yang pesat. Pemandangan dari atas awan yang begitu indah, suhu udara yang pas, dan banyak hal lain yang membuat Alesha semakin pasrah pada rasa kantuknya.


"Mr. Jacob.." Panggil Alesha.


"Apa?"


"Boleh aku beralih kesofa yang panjang itu, aku mengantuk, aku ingin merentangkan tubuhku di sana." Pinta Alesha dengan nada dan ekspresi wajah yang begitu khas seperti orang yang sedang menahan kantuk.


"Silahkan." Balas Jacob sambil membuka jalan untuk Alesha agar gadis itu dapat berjalan melewatinya.


"Beritahu aku kalau kita sudah sampai." Ucap Alesha yang sudah tidak kuat lagi menahan rasa kantuknya. Ia pun segera membaringkan tubuhnya diatas sofa panjang dengan posisi tubuh yang menghadap ke arah jendela, dan ternyata bukan hanya Alesha saja yang tergiur dengan rasa kantuk, Bastian pun sama, malah sang ketua tim itu sudah tertidur lebih dulu sebelum Alesha. Sedangkan Levin dan Jacob, mereka sibuk dengan urusan masing-masing.


Perjalanan yang telah ditempuh selama berjam-jam pun tidak terasa. Keasikan akan pikiran yang menjadi sebab betapa cepatnya waktu berlalu.


Jacob yang sedari tadi terdiam sambil menatap ke arah hamparan awan yang terlihat dari kaca jendela pesawat pun sama saja, pikirannya mengambil alih semua, mulai dari setiap detik, menit, dan jam. Jacob tidak ingin memikirkan hal lain selain yang sedang ia pikiran sekarang. Kebingungan sempat melanda diri Jacob kala ia mengingat kini ia sudah lupa akan kenangannya bersama Yuna dahulu. Kehadiran Alesha membuat Jacob melupakan sosok gadis yang dulu sangat ia cintai. Masa kini sudah berubah, tiga tahun lalu hanya akan menjadi cerita dan tiga tahun mendatang akan menjadi saat-saat yang mungkin saja akan menjadi momen bahagianya bersama Alesha. Rasa sedih ketika mengingat kalau kini perasaan Jacob sudah beralih pada gadis lain, sedangkan Yuna, ia begitu mencintai Yuna, namun memang tidak ada takdir yang tertulis untuk mereka dapat bersama. Jacob berusaha untuk tetap mengenang Yuna dalam hati dan memorinya, namun entah kenapa dirinya bahkan hatinya juga menolak, seolah Yuna adalah sosok asing yang tidak lagi dapat memasuki hatinya. Jacob tidak pernah menolak untuk terus mengingat Yuna, namun rasanya seperti ada sesuatu yang membuat hatinya jadi tidak nyaman jika kembali memasukan bayangan Yuna dalam dirinya. Atau mungkin, karna kini perasaan Jacob sudah tumbuh dengan begitu pesat pada gadis remaja yang merupakan salah satu anggota timnya. Alesha benar-benar dapat membuat Jacob melupakan bagaimana perjalanan manisnya dulu saat masih bersama Yuna.


Kalau boleh diibaratkan melalui sebuah pertanyaan maka bentuknya akan seperti ini, 'Siapa Yuna?'.


Jacob tidak mau melupakan Yuna, karna bagaimana juga gadis itu sangat berarti bagi Jacob. Yuna lah orang kedua setelah kakaknya yang mampu membuat hari-hari Jacob menjadi lebih hidup, Yuna juga yang sudah membuat Jacob merasakan jatuh cinta yang setulus-tulusnya untuk pertama kali. Tapi Alesha? Jacob tidak mau membodohi dirinya sendiri. Kini rasa cinta itu sudah tumbuh besar untuk Alesha. Bahkan Alesha mampu membuat Jacob lupa akan ingatan bersama Yuna. Sebagaimana Jacob berusaha untuk mengembalikan rasa cintanya pada Yuna, sekarang semua terasa seperti sulit, Alesha lebih mendominasi. Jelas saja, Alesha adalah warna baru untuk Jacob, mampu membuat Jacob mendamba hingga hatinya selalu saja terpanah pada Alesha.


'Gadis manis yang memikat'


Gambaran yang Jacob dapatkan untuk si gadis kesayangannya saat ini.


Sekian lama waktu diperjalan udara, dapat terkalahkan dengan hadirnya pikiran yang membawa jauh dari jangkauan waktu, termenung sendiri dan asik bersama dunia dalam kepala tidak sebanding dengan jarak tempuh yang begitu jauh. Hamparan laut tidak terlihat kala gumpalan awan putih menjadi dinding pembatas. Yang ada hanyalah dunia langit yang membentang begitu luas.


Setiap perkiraan waktu yang sudah ditentukan, kini saatnya untuk segera kembali memijaki tanah. Izin mendarat sudah didapatkan, dan beberapa saat lagi sang roda dapat berjumpa lagi dengan temannya, aspal.


Sebuah pulau besar yang terletak diantara gugusan pulau lain yang terletak di tengah-tengah salah satu dari samudra di bumi. Pulau yang begitu luas dan menjadi tempat bermukimnya para siswa WOSA dan para mentor. Berapa hari Jacob pergi? Rasanya senang bisa kembali.


Dengan perhitungan yang tepat, dan dibekali oleh banyaknya pengalaman, akhirnya sang pilot pun sukses membawa roda pesawat menyentuh dan berseluncur di atas aspal.


"Alesha, bangun kita sudah sampai." Ucap Jacob yang menepuk pelan pipi Alesha.


"Eunghh.." Alesha terusik ketika ia merasakan ada sesuatu yang menyentuh pipinya.


"Ayo."


"Aku masih mengantuk." Balas Alesha sambil mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali.


"Kau bisa melanjutkan tidurmu, sekarang ayo kita harus turun yang lain juga sudah menunggu di bawah."


Dengan perasaan malas, akhirnya Alesha pun mau tidak mau harus bangkit dan berjalan menuju keluar pesawat, namun belum juga langkah kedua didapatkan tiba-tiba saja tubuh Alesha oleng dan nyaris terjatuh, tapi untungnya dengan sigap Jacob pun segera menahan tubuh Alesha.


"Alesha, kau baik-baik saja?" Tanya Jacob yang mulai panik.


Alesha mencengkram lengan Jacob dengan cukup kuat ketika ia merasakan kepalanya yang mendadak seperti dihantam oleh sebuah benda yang begitu berat.


"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja, hanya saja aku dapat melihat beberapa kunang-kunang yang mengilingi kepalaku." Jawab Alesha.


"Perlu aku gendong?" Tawar Jacob.


"Tidak!" Tolak Alesha dengan tegas. Tubuhnya pun segera berdiri tegak setelah kata itu terucap.


"Aku masih bisa berjalan." Alesha kembali melanjutkan jalannya walau ia merasakan kepalanya yang masih berputar, namun ia lebih memilih menahan itu semua ketimbang harus membuat asumsi dipikiran para anggota yang lain juga murid WOSA. Bisa-bisa Alesha mendapatkan tatapan sinis lagi dari para pengagum rahasia Jacob di WOSA.


"Alesha!!" Teriak Stella dari bawah saat ia mendapati teman pertamanya di WOSA itu baru saja keluar dari pintu pesawat disusul dengan Jacob yang berjalan tepat dibelakang Alesha.


"Syut, tutup mulutmu! Jangan banyak ganggu Alesha, dia masih perlu pemulihan." Ucap Bastian.


"Oh, Bastian, apa kau tidak merindukanku?" Tanya Stella dengan percaya diri.


"Tidak." Jawab Bastian dengan datar.


"Jangan berbohong, Bas." Saut Alesha yang menyimak percakapan antara dua temannya itu.


"Baiklah, aku memang merindukan kalian semua." Lanjut Bastian dengan pasrah.


"Alesha, bagaimana kondisimu?" Tanya Nakyung.


"Alhamdulillah, aku merasa lebih baik, walau kadang kepalaku ini memang suka membuatku menderita." Jawab Alesha.


"Mr. Jacob....." Teriak Merina dan Maudy secara bersamaan. Kedua gadis itu segera berhambur dan memeluk tubuh mentornya.


Tubuh Jacob terlonjak seketika saat ia mendapatkan perlakuan dari kedua gadis itu.


"Kau tahu, kami di sini sangat khawatir, WOSA diserang dan kami disandra oleh orang-orang jahat itu." Ucap Merina.


"Ya, benar, kami sempat takut karna kau tidak ada di sini." Sambung Maudy.


"Oke, baiklah." Jacob pun melepaskan pelukan yang diberikan oleh Merina dan Maudy. "Aku juga mengkhawatirkan kalian, kalian pikir aku diam saja setelah mendengar kabar kalau WOSA diserang dan kalian dijadikan sebagai sasaran mereka. Aku frustrasi di sana karna takut sesuatu yang buruk terjadi pada kalian." Sebagai gantinya, Jacob pun mengusap pelan puncak kepala Merina dan Maudy.


"Tapi Mr. Aldi, dia yang memberitahu kami dan menjaga kami disini." Ucap Nakyung.


"Ya, kami baru saja tiba." Balas Bastian.


"Oh ya, kalian semua bisa ikut denganku ke ruanganku, kecuali Alesha?" Tanya Jacob.


"Ya, tentu saja, memangnya ada apa?" Tanya balik Nakyung.


"Aku membutuhkan beberapa informasi dari kalian." Jawab Jacob.


"Levin, bisa kau jaga Alesha di kamera messnya?" Tanya Jacob. Sebenarnya Jacob itu setengah hati saat meminta Levin untuk menemani Alesha, tapi ah yasudahlah.


"Dengan senang hati." Balas Levin sambil tersenyum dan meraih jemari Alesha. Sebenarnya niat Levin hanya ingin membercandai Jacob, namun yang namanya orang cemburu itu beda lagi pemikirannya. Jacob menatap tajam pada Levin seolah memberikan isyarat agar tidak bola berdekatan dengan Alesha. Namun Levin, dia memang senang memancing emosi salah satu rivalnya itu.


"Ayo, Al, kau harus beristirahat, sayang." Ucap Levin seraya merangkul pinggang Alesha dan membawa gadis itu untuk berjalan meninggalkan yang lain juga Jacob yang kini sedang mencoba untuk menahan dan mengendalikan emosinya.


Bastian yang mengerti apa yang saat ini sedang melanda mentornya itu hanya bisa menepuk bahu Jacob sambil berkata.


"Tenang saja, Mr. Levin tidak akan merebutnya." Ucap Bastian dengan santai bercampur rasa malas.


Seketika Jacob pun menembakkan sebuah tatapan tajam pada Bastian. Ucapan Si Ketua Tim itu dapat membuat yang lain berpikiran curiga.


Spechless


Bastian tidak berkutik saat sorot tajam mentornya itu menerornya.


"Jacob, selamat datang kembali." Sambut Mr. Thomson yang baru saja datang.


"Ya, Eve menghubungiku agar sesegera kembali menuju WOSA." Balas Jacob.


"Bagus kalau begitu, dia juga sudah sampai sejam yang lalu di WOSA, dan saat ini sedang berada di ruanganku bersama anggota timnya." Ucap Mr. Thomson. "Ayo, sekarang kau ikut denganku ke ruanganku." Lanjutnya.


"Eh, tapi aku perlu membawa mereka ke ruanganku dahulu, ada sesuatu yang mesti aku tanyakan pada mereka." Jacob menatap ke arah anggota timnya.


"Kau bisa menanyakan itu nanti, sekarang ikut lah dulu bersamaku ke ruanganku."


Mr. Thomson pun menarik pergelangan tangan Jacob dan membawanya berjalan. Hingga sampai lah mereka di gedung para mentor, dan tepat kini berada di depan ruangan Mr. Thomson.


Ceklek...


Suara gagang pintu yang mulai terbuka. Eve dan para anggota timnya yang berada di dalam ruangan pun seketika melirik ke arah pintu untuk mengetahui siapa yang datang.


"Jacob." Eve mengerutkan keningnya.


"Kalian duduk di sana." Ucap Jacob pada anggota tim Jacob sambil menunjuk ke arah sofa besar yang menjadi perlengkap ruang kepala sekolah WOSA itu.


"Kemari, Jack." Mr. Thomson mempersilahkan Jacob untuk duduk dibangku yang bersebelahan dengan Eve, sedang Mr. Thomson sendiri duduk dibangku kerjanya disebrang meja.


"Kalian tahu kalau kalian adalah penyebab kelompok jaringan gelap itu datang ke WOSA?" Tanya Mr. Thomson.


"Ya." Jawab Eve, dan sebuah anggukan dari Jacob.


"Kalian tahu kalau kelompok jaringan gelap itu kini bekerja sama dengan para pebisnis gelap?" Mr. Thomson menatap intens pada kedua anak buahnya.


"Ya, aku mendapatkan informasi itu dari salah satu anggota kelompok sialan itu." Ucap Eve.


"Mereka menjadi sekutu, dan keamanan SIO dan WOSA mulai terancam kembali dengan hadir kelompok jaringan gelap itu. Kalian berdua mungkin sudah bisa membasmi kelompok itu kemarin, tapi itu hanyalah setengahnya saja, sisanya masih berada di markas mereka. Aku juga mengkhawatirkan Vincent yang sepertinya sedang menyusun siasat baru. Mack dan Vincent kini sudah bekerja sama untuk mengambil alih SIO dan WOSA... "


"Tidak!" Sanggah Jacob. "Kali ini Vincent sudah tidak bekerjasama lagi bersama Mack."


Mr. Thomson mengerutkan keningnya ketika mendengar ucapan dari Jacob barusan. "Bagaimana kau tahu?"


"Karna aku sudah membunuh Mack."


"Apa?!" Ucap Eve dan Mr. Thomson secara bersamaan. Ekspresi bingung dan tidak percaya pun ditunjukkan oleh mereka berdua untuk Jacob. Para anggota yang berasal dari dua kelompok yang berbeda pun sama terkejutnya dengan Eve dan Mr. Thomson ketika mereka mendengar kalau Jacob sudah membunuh seseorang, kecuali Bastian karna ia sudah tahu yang sebenarnya.


Sedangkan Jacob, ia hanya menyikapinya dengan ekspresi wajah datar dan tangan yang dilipatkan. "Dia berusaha menculik Alesha dan berniat untuk membunuhku. Vincent juga mengirim beberapa anak buahnya untuk ikut menghajarku, tapi mereka salah karna mereka menghadapiku, dan akhirnya setelah ketujuh anak buah Mack dan Vincent berhasil aku kirim ke dunia lain, lalu Mack lah yang menjadi sasaranku selanjutnya. Dia mati dengan pisau belatinya sendiri yang tertancap diulu hatinya." Jelas Jacob dengan santai.


Eve yang mendengar penjelasan dari Jacob pun seketika mengeluarkan smirknya. Antara kesal dan sedikit senang, Eve memang selalu menganggap Jacob sebagai rivalnya, sama seperti Levin, namun SIO selalu saja menggabungkan mereka dalam misi khusus yang bersifat lebih dari sekedar bahaya. Setelah keluarnya Levin dari SIO, Eve sedikit tenang karna siangannya di SIO hanya lah Jacob, namun kemarin saat ia mendengar ucapan Mr. Frank kalau Levin akan dikembalikan lagi ke SIO seketika Eve pun merasa cukup geram. Kini julukan Trio SIO pun akan segera kembali lagi.


"Kau yang membunuh Mack?" Tanya Mr. Thomson yang masih menaruh ekspresi tidak percaya pada wajahnya.


"Kemarin malam, beritanya mungkin masih belum tersebar luas." Jawab Jacob.


Pandangan Mr. Thomson pun beralih menuju salah satu agent terbaik yang berada disebelah Jacob. "Eve, apa katakan apa saja yang Frank katakan padamu saat di SIO!"


"Dia memintaku untuk mengangtakan hal ini padamu agar kau memberitahukan pada seluruh murid juga mentor di WOSA kalau sistem pendidikan di sini akan segera diubah. Dalam kurun waktu dua tahun para mentor harus bisa memastikan kalau murid yang dibimbingnya sudah siap untuk bekerja di SIO dan beberapa badan intelegent lain yang bekerjasama dengan SIO, akan ada banyak praktek langsung di lapangan untuk memantau kemampuan dan kemajuan para siswa dalam tahap belajar. Musuh SIO semakin bertambah, dan SIO membutuhkan banyak agent baru yang dapat membantu untuk memberantas para musuh, juga dapat membantu para ilmuan dan para peneliti untuk melakukan penelitian berlanjut dalam skala besar. Maka dari itu mungkin proses pembelajaran pada angkatan sekarang akan begitu ketat karna para murid dituntut untuk dapat menjalankan semua tugas dan praktek menjadi seorang agent yang baik, dan satu lagi, Mr. Frank bilang kalau Levin akan segera ditarik kembali ke SIO, keberadaannya sangat dibutuhkan untuk saat ini." Jelas Eve.


"Hanya itu saja yang Frank katakan?" Tanya Mr. Thomson pada Eve.


"Ya." Jawab Eve disertai anggukan kecil.


"Lalu Jacob, apa lagi informasi yang kau dapatkan selama kau meninggalkan WOSA?" Kini pertanyaan Mr. Thomson tertuju pada Jacob.


"Mack mengincar Alesha karna ayah Alesha lah yang sudah menjebloskannya ke dalam penjara. Ayah Alesha adalah seorang profesor, dan aku yakin ada sesuatu yang ditutupi. Jika ayah Alesha adalah seorang profesor, lalu kenapa Alesha sebagai anaknya tidak mendapatkan jaminan apapun?" Jawab Jacob dengan datar.


"Ayah Alesha seorang profesor?" Mr. Thomson mengerutkan keningnya.


"Ya, dan Mack lah dalang dibalik kematian kedua orang tua Alesha." Lanjut Jacob.


"Jangan bilang kalau ayah Alesha adalah Profesor Danu." Mata Mr. Thomson membesar seketika saat ia mengingat sesuatu. "Aku tahu kalau Mack memang memiliki hubungan yang dingin dengan salah satu profesor dari Indonesia, dan Profesor Danu adalah orangnya. Satu-satunya profesor yang berhasil menjebloskan Mack kedalam penjara adalah Profesor Danu.Tapi SIO tidak terlalu memperhatikan tentang permasalahan mereka jadi SIO mengabaikan begitu saja karna permasalahan mereka tidak ada sangkutannya dengan SIO. "


"SIO tahu permasalahan mereka?" Tanya Jacob yang mulai penasaran.


"Tentu saja, hanya SIO tidak mau berikut campur karna itu bukan lah urusan SIO." Jawab Mr. Thomson.


"Kau tahu masalahnya?" Tanya Jacob dengan sorot mata yang menuntut sebuah jawaban dari mulut Mr. Thomson.


"Profesor Danu melaporkan semua penyalahgunaan yang Mack lakukan terhadap sumber daya minyak diwilayah perairan Indonesia, dengan semua bukti yang akurat akhirnya Mack pun berhasil dipenjara, dan sekitar seminggu setelah dipenjaranya Mack, aku dan SIO mendengar kabar kalau Profesor Danu memutuskan untuk pengsiun dari dunia keprofesoran dan beberapa hari setelah itu ia pun mengalami kecelakaan bersama istrinya hingga akhirnya mereka pun dinyatakan meninggal dunia." Jawab Mr. Thomson.


Penjelasan dari Mr. Thomson barusan berhasil membuat Jacob menemukan sebuah informasi awal mengenai kejadian yang sebenarnya terjadi pada kedua orang tua gadisnya. Namun itu saja tidak cukup, Jacob membutuhkan informasi lain agar ia bisa memecahkan kasus itu, walau sama sekali tidak ada orang yang memintanya, bahkan Alesha sekali pun. Tapi ini semua mesti Jacob lakukan demi Alesha agar gadisnya itu mengetahui hal yang sebenarnya yang terjadi kepada kedua orang tuanya.


****


Author minta komennya ya kalo setelah kalian baca part ini trus kaya ada sesuatu yang gak nyambung atau alurnya jadi gak teratur 🙏 and for more terima kasih banyak buat yang udah like, vote, komen, rate, baca, and dukung cerita aku ini. Semoga kalian maki suka ya ama kelanjutannya🤗🤗 selamat membaca😇