
Tik.. Tok.. Tik.. Tok.. Tik.. Tok..
Begitulah bunyi pergantian detik demi detik yang dilakukan oleh jarum jam.
Setelah pukul sebelas kurang, Alesha masih saja di dalam kamarnya sembari monda-mandir penuh kecemassan.
Jacob belum pulang, bahkan kabar saja tidak ada. Tentunya hal itu membuat Alesha cemas tingkat akut. Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi pada Jacob? Itulah yang selalu Alesha pikirkan sejak beberapa jam lalu.
Merasa tidak ada hasilnya jika ia terus saja berada di dalam kamar, Alesha pun memutuskan untuk berjalan keluar, dan menemui Taylor yang berada di lantai bawah.
"Mobil tuan Jacob meledak, dan terbakar hangus, sekarang tuan Jacob sudah berada di rumah sakit untuk mengu.... ."
"APA?" Pekik Alesha yang kebetulan sekali muncul ketika salah satu anak buah suaminya itu mengatakan hal yang sebenarnya menimpa Jacob.
"Nona!" Panik! Taylor panik melihat Nonya mudanya yang merosot ke lantai dengan tatapan kosong, dan wajah yang memucat.
Sejak kapan ada Alesha di situ? Pikir Taylor.
"Mr. Jacob..." Alesha berucap lirih, hatinya perih, dan merintih mendengar kabar jika mobil yang Jacob gunakan meledak, dan terbakar. Lalu bagaimana dengan kondisi suaminya itu sekarang?
Alesha terkesiap. Tubuhnya bergetar mengingat kejadian masa lampau yang membuat hidupnya berubah. Waktu itu kedua orang tuanya meninggal karna mobil yang terbakar, dan kini, Jacob pun mengalami hal yang serupa.
"Enggak..." Alesha menggelengkan kepalanya dengan air mata yang mulai bercucuran. "Gak boleh!! Mr. Jacob gak boleh tinggalin Alesha!!" Pekik Alesha.
"Nona, Nona tenanglah," Ucap Taylor yang berniat untuk menjelaskan semua yang sebenarnya terjadi pada Jacob. Tetapi Alesha sudah terlanjur memberontak karna perasaan trauma akan kehilangan seseorang yang begitu dicintainya.
Bagaimana tidak? Alesha kehilangan umi, dan bapaknya karna mobil yang dikendarai oleh orang tua Alesha itu meledak, dan terbakar begitu juga dengan umi, dan bapak Alesha yang tubuhnya ikut hangus di dalam mobil. Lalu sekarang? Alesha harus menerima kenyataan jika tragedi terburuk yang menimpa kedua orang tuanya sepuluh tahun silam harus kembali terjadi dengan merenggut nyawa suaminya?
Tidak!
Alesha tidak menerima itu! Ia baru saja menemukan kebahagiaan, dan kasih sayang juga cinta murninya kembali, tapi kenapa nasib buruk tidak pernah mau enyah dari hidupnya?
"MR. JACOB!!!!" Alesha meronta, mendorong dengan kuat tubuh Taylor.
"Nona. tenang dulu sebentar, Nona.." Taylor berusaha untuk meraih bahu Alesha, namun Alesha tidak mau diam, dan terus meronta.
"Hiks, aku ingin bertemu dengan Mr. Jacob. Kita ke rumah sakit sekarang!" Sembari terus dibanjiri oleh air mata, Alehsa bangkit sekuat tenaga.
"Tidak, Nona, anda harus tetap berada di rumah," Tolak Taylor.
"TIDAK MAU!! AKU INGIN MELIHAT KONDISI MR. JACOB SEKARANG, HIKS, HIKS!!!"
"AYO, AYO, TAYLOR, KITA KE RUMAH SAKIT, AKU MOHON, AKU INGIN MELIHAT KONDISI MR. JACOB!!"
"Nona, tenanglah, ingat kalau Nona sedang hamil sekarang," Balas Taylor sebisa mungkin membuat Nyona mudanya untuk tidak terus meronta.
"TAPI AKU INGIN MELIHAT KONDISI JACOB, TAYLOR. KAU TIDAK MENGERTI BAGAIMANA PERASAANKU SEKARANG!! AKU KEHILANGAN ORANG TUAKU KARNA MOBIL YANG MEREKA TUMPANGI MELEDAK, DAN TERBAKAR, DAN SEKARANG KEJADIAN YANG SAMA MENIMPA JACOB JUGA!! AKU MOHON, TOLONG BAWA AKU KE RUMAH SAKIT, HIKS, HIKS."
Tubuh Alesha bergetar hebat karna isakkan, dan sesegukkan yang ditimbulkan dari tangisannya sendiri. Patah hatinya, nasib yang menyedihkan menyuramkan dunianya kembali. Alesha tidak bisa, dan tidak mau jika harus ditinggalkan dengan sangat cepat oleh suaminya. Jacob benar-benar berarti untuk Alesha. Hadirnya pria itu membuat Alesha kembali menemukkan dunianya. Namun kenapa dunianya itu harus hancur kembali oleh tragedi memilukan yang kembali terjadi dalam kurun waktu sepuluh tahun.
"Nona, tenanglah, tuan Jacob baik-baik saja, Nona."
"BAGAIMANA BISA BAIK-BAIK SAJA!!" Alesha langsung menyulut. "MOBILNYA MELEDAK, DAN TERBAKAR!!"
"Nona, tuan...."
"BERHENTI MENGUCAPKAN OMONG KOSONG!! AKU INGIN MELIHAT KONDISI SUAMIKU!!" Alesha membentak dengan sangat keras pada Taylor.
"Taylor, nyawanya sudah tidak bisa diselamatkan lagi, hanya tersisa tulang belulang saja, Kita harus segera ke sana untuk mengurus semuanya!" Ucap salah satu anak buah Jacob yang tiba-tiba saja datang, dan menunjukkan foto jenazah si pria paruh baya yang terbakar dalam mobil milik Jacob.
"TIDAK MUNGKIN!!" Alesha memekik kencang. Tangisnya kian menjadi ketika mendegar kata 'Tulang Belulang'. Alesha sudah pasrah setengah mati, hatinya hancur berkeping-keping saat mendengar jika tubuh suaminya yang hanya tinggal tersisa tulang-belulang saja setelah hancur terbakar.
"CK KAU!!" Taylor menggeram pada pria yang barusan membawa kabar mengenai kondisi jasad si pria paruh baya korban kebusukan rencana Stella.
"Nona, tenanglah, biarkan kami menjelaskan yang sebenarnya," Bujuk Taylor.
"TIDAK MAU, AKU INGIN BERTEMU DENGAN MR. JACOB SEKARANG!! AYO, ANTAR AKU KE RUMAH SAKIT, TAYLOR!!" Paksa Alesha.
"Nona, tenang dulu, Nona, tuan Ja.."
"AYOO!! AKU MAU MELIHAT SUAMIKU!! MR. JACOB!! HIKS, HIKS!!" Alesha semakin histeris.
Taylor pun semakin kelimpungan menghadapi Nyonya mudanya.
"AYOO, TAYLOR, AYO!!" Alesha menarik paksa lengan Taylor untuk berjalan.
Sedangkan Taylor, ia terdiam sejenak untuk memikirkan cara agar ia bisa segera pergi menuju lokasi terbakarnya mobil Jacob.
"Hiks, Mr. Jacob, jangan tinggalin Alesha..." Rintih Alesha. Tidak perduli bagaimana bentuk atau rupa tubuh Jacob nanti, Alesha hanya ingin melihat suaminya, meski harapannya tipis untuk bisa kembali bersama jika mengingat ucapan dari anak buah Jacob tadi.
"Berhenti, Nona," Taylor menghentikan langkahnya dengan paksa. Tentunya hal itu juga membuat Alesha ikut terhenti melangkah.
"Maaf kalau aku lancang, Nona," Tanpa aba-aba, Taylor pun mengangkat tubuh Nyonya mudanya lalu berjalan dengan cepat menuju kamar majikannya itu.
"LEPASKAN AKU, TAYLOR!! AKU INGIN BERTEMU DENGAN MR. JACOB, AKU INGIN LIHAT KONDISI TUBUHNYA!!" Pekik Alesha sembari memukuli dada bidang Taylor.
Namun Taylor acuh. Ia terus fokus menahan tubuh Alesha agar tidak terjatuh.
"Hiks, aku mohon, Taylor, aku ingin bertemu Mr. Jacob..." Lirih Alesha yang mulai kelelahan, dan terdengar serak. Mungkin karna ia terlalu banyak mengeluarkan suaranya.
"Anda akan segera bertemu dengan tuan Jacob, Nona," Balas Taylor singkat.
"Aku ingin bertemu sekarang!"
Taylor tidak membalas. Selang beberapa saat kemudian, sampailah ia di dalam kamar majikannya itu.
Dengan hati-hati Taylor pun menaruh tubuh Nyonya mudanya diatas kasur, lalu setelah itu, ia bergegas lari menuju keluar, dan mengunci pintu rapat-rapat.
"TAYLOR!!!!" Teriak Alesha sangat kencang. Ia pun bangkit dengan susah payah lalu berlari tertatih menuju pintu.
*Dug!
Dug!
Dug*!
"BUKA PINTUNYA, AKU MOHON!! AKU HANYA INGIN MENGETAHUI KONDISI JACOB SECARA LANGSUNG!!" Alesha histeris di dalam kamar sembari terus memukuli dinding pintu berharap Taylor akan membukakannya.
Tetapi Taylor, sungguh ia tidak tega terhadap Nyonya mudanya. Ia tertegun dengan tatapan sayu ke arah pintu.
"Maaf, Nona..." Lirih Taylor sebelum akhirnya ia beranjak pergi.
"TAYLOR!!!!!"
Taylor menunduk, memejamkan matanya menahan rasa iba, dan kasihan terhadap Alesha.
"Kalian tetaplah di sini, jaga Nona Alesha dengan baik, dan jangan sampai ia keluar dari kamarnya, apalagi sampai kabur!" Perintah Taylor pada anak buahnya. "Aku akan pergi sekarang untuk mengurusi masalah ini," Sambung Taylor.
"Baik, Taylor," Balas salah seorang pria sembari mengangguk patuh.
***
Beralih tempat menuju rumah sakit umum daerah setempat. Kini Jacob tengah terduduk dikursi panjang di dalam ruangan UDG.
Sejak tadi ia berada di sana, menunggu dokter yang sedang memeriksa kondisi Adam saat ini. Sebenarnya ia sangat tidak menyukai Adam, namun bagaimana juga ia harus bertanggung jawab terhadap Adam yang sudah membuatnya terhindar dari kejahatan Stella.
Tapi sebenarnya Jacob bingung, dan terus bertanya-tanya, kenapa Adam menghalangi Stella untuk memukulnya?
Jacob menangkupkan kedua tangannya, pandangannya lurus datar.
"Permisi, apa anda keluarga pasein Adam?" Tanya dokter UGD.
"Iya," Jawab Jacob, cepat.
"Gini, Tuan, Pasien Adam harus segera dilakukan tindakan CT Scan untuk mengetahui cidera apa yang terjadi dibagian kepalanya," Ucap sang dokter.
"Iya, Dok gak apa-apa. Lakuin semua cara biar kondisi Adam bisa pulih lagi," Balas Jacob tanpa berpikir panjang.
"Baik, kalau begitu, kami bakal langsung bawa pasien Adam buat segera ambil tindakan CT Scan sekarang juga. Permisi, Tuan," Dokter tersebut segera pergi lalu menghampiri para perawat yang sedang menangani Adam.
Jacob diam di tempat sembari memandangi tubuh Adam yang terbujur tak sadarkan diri selepas kejadian pemukulan yang Stella lakukan. Sedikit Jacob merasa bersalah, maka dari itu ia akan lakukan apapun agar Adam bisa kembali pulih, meski rasa tidak sukanya terhadap Adam tetap tidak bisa dihilangkan.
Drett... Drett...
Segera Jacob merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel miliknya.
Ternyata Taylor. Jacob pun segera menerima panggilan telepon dari pria kepercayaannya itu.
"Hallo, Taylor ada apa? "
"Tuan, apa anda bisa pulang sekarang? "
"Memangnya kenapa? "
"Nona histeris, Tuan. Dia terus meronta, dan menangis kencang karna mendengar kabar tentang mobil tuan Jacob yang terbakar, Nona pikir jika Tuan pun ikut terbakar dalam mobil itu. Nona memaksa untuk pergi ke rumah sakit agar bisa melihat kondisi Tuan."
"Apa? Bagaimana bisa? Dimana Alesha sekarang? "
"Nona tidak sengaja mendengar percakapan saya, dan yang lain, Tuan. Saya sudah mengurungnya di dalam kamar. Tolong segera pulang, Tuan, saya takut jika Nona akan melakukan hal buruk."
"Baiklah, suruh salah satu orangmu untuk ke rumah sakit, dan mengurusi Adam! Aku akan pulang sekarang."
"Baik, Tuan."
Sejurus kemudian sambungan telepon itu pun terputus.
Jacob yang panik terhadap istrinya pun segera melangkah pergi untuk kembali menuju rumahnya.
Kini hati Jacob berdegub tidak karuan. Ia takut jika Alesha akan melakukan hal yang nekat hanya demi bisa mengetahui kondisinya yang sebenarnya baik-baik saja.
Selepas beberapa menit berlalu, kini Jacob pun keluar melewati gerbang, dan segera menaiki mobil taxi yang sedang mangkal tidak jauh dari lokasi rumah sakit umum daerah itu berada.
Di dalam perjalanannya menuju pulang, Jacob beberapa kali menghubungi ponsel Alesha, namun tidak ada jawaban yang ia terima.
"Alesha, aku baik-baik saja, sayang, jangan membuatmu frustasi hanya karna kesalah pahaman yang kau dapatkan," Gumam Jacob yang masih mencoba untuk menghubungi istrinya, meski tetap berhasil nihil.
***
Beralih kembali menuju Alesha. Kini ia terduduk lemas di lantai sembari menyandarkan tubuh, dan kepalanya pada sofa.
Alesha tidak henti-hentinya menangis. Ia meratapi nasibnya yang ia pikir telah kembali jatuh pada lubang kesengsaraan.
"Mr. Jacooobbb... Hiks, jangan tinggalin Alesha...." Alesha pilu sendiri, menangisi hal yang sebenarnya tidak sama seperti pada kenyataannya. Jacob baik-baik saja, namun Alesha terlanjur mengira jika suaminya itu bernasib buruk sama seperti kedua orang tuanya dulu.
" Hiks, hiks, Mr. Jacob.... "
"Jangan tinggalin Alesha, hiks, hiks..."
Wajah Alesha sudah penuh dengan air mata hingga membuat hidung, pipi, dan kedua alisnya memerah. Tubuhnya juga tidak berhenti bergetar, belum lagi sesegukan yang mengganggu lajur napasnya.
"Mr. Jacob....."
Alesha merasa lelah, tubuhnya lemas. Tangisannya tidak kunjung surut meski setelah hampir satu jam berlalu.
Istri mana yang tidak bersedih hati kala mendengar kabar buruk yang menimpa suaminya. Itu sebabnya Alesha begitu terpukul mendengar kabar buruk tentang Jacob.
Tetapi Jacob, pria itu gelisah sepanjang perjalanan pulang. Hatinya sungguh ingin segera menemui sang kekasih. Kerisauan Jacob kian menjadi ketika mobil taxi yang ia tumpangi tiba di depan gerbang mansionnya.
"Ini, ambil aja kembaliannya," Jacob menyodorkan uang senilai seratus ribu rupiah kepada sang supir lalu setelah itu, dengan cepat ia pun keluar dari dalam mobil, dan berlari menuju ke dalam mansionnya.
"Dimana Alesha?" Tanya Jacob pada seorang penjaga.
"Nona di kamarnya, Tuan."
Jacob kembali melesat, berlari cepat menuju kamarnya. Hingga ia bertemu dengan beberapa penjaga yang sedang berjaga di depan kamarnya, dan kamar Alesha.
"Kunci pintu," Ucap Jacob.
Salah seorang lelaki maju untuk menyerahkan kunci pintu kamar pada Jacob.
Tidak menunggu lebih lama lagi, Jacob segera memasukkan kunci tersebut ke dalam lubang kecil yang terdapat pada gagang pintu.
Ceklek....
Jacob segera masuk ke dalam kamar, lalu menutup kembali pintunya dengan rapat.
"Alesha..." Jacob terkesiap mendapati tubuh istrinya yang bergetar dengan tangisan sendu yang sepertinya sangat diresapi.
Sementara Alesha, ia menengok sedikit ke asal suara yang barusan menyebut namanya.
"Mr. Jacob...." Tangis Alesha kembali membludak ketika matanya menangkap jelas sosok pria yang sejak tadi menjadi alasannya bersedih hati hingga menangis tersedu-sedu.
Ini bukan mimpikan? Itu benar Jacob bukan? Dan bukan roh yang sengaja datang untuk berpamitan? Pikir Alesha.
"Astagfirullah, Alesha apa yang terjadi padamu, sayang?" Jacob segera menurunkan tubuhnya untuk memeluk sang istri yang menatapnya penuh kesedihan. Jacob tidak tega, tatapan sendu bercampur tangis yang Alesha berikan membuat besitan luka dalam hatinya.
"Sayang, apa yang terjadi padamu?" Jacob mengelus pelan puncak kepala hingga punggung istrinya. Getaran tubuh, dan sesegukan Alesha benar-benar terasakan oleh Jacob ketika ia semakin mengeratkan pelukannya.
"Jangan tinggalin Alesha.... Hiks," Alesha balik memeluk tubuh suaminya begitu erat, seolah tidak rela jika harus melepaskannya. "Jangan tinggalin Alesha, Jack," Alesha menggelengkan kepalanya. Tangis yang terus terjadi pun kian pecah dalam pelukan suaminya. "Kau tidak boleh pergi!" Bentak Alesha dengan suara yang bergetar.
"Syutt... Sayang, aku tidak pergi, aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Alesha," Balas Jacob. Cemas bercampur sedih, sungguh Jacob merasa kasihan terhadap istrinya saat ini. Alesha menangis karna takut ditinggalkan olehnya. Alesha berpikir jika ia juga ikut terbakar dalam mobil itu. Padahal Alesha sudah salah sangka, ia baik-baik saja, sangat baik-baik saja.
"Tolong, Alesha takut, Alesha tidak mau kejadian yang sama terulang kembali. Ini benar kau kan? Kau yang asli, hiks, yang masih hidup, hiks, dan bernyawa. Aku takut, hiks, jika kau adalah roh, hiks yang datang hanya untuk berpamit lalu setelah itu pergi meninggalkan aku selamanya."
Mendengar itu, Jacob segera meraih telapak tangan istrinya lalu diletakkan tepat didada sebelah kirinya.
"Kau masih bisa merasakannya kan?"
Alesha mengangguk kecil ketika telapak tangannya mendapati pergerakan samar dari aktivitas jantung milik Jacob.
"Jangan berpikiran macam-macam lagi sekarang. Aku masih hidup, aku sangat amat baik-baik saja, orang yang terbakar dalam mobilku adalah pria lain, dan bukan aku, sayang."
Jacob mencium wajah istrinya dengan penuh kasih sayang. Alesha pun terdiam, dan tangisannya mulai meredup kala Jacob mencium wajahnya.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Alesha, aku sangat mencintaimu, jadi jangan bersedih lagi, ingat kau sedang hamil si kembar, sayang," Lagi, namun kali ini Jacob mengecup bibir ranum istrinya.
"Jangan pergi, aku mohon," Alesha menelusupkan wajahnya pada dada bidang Jacob.
"Tidak, Alesha, aku ada di sini, aku tidak akan pergi," Balas Jacob.
Selepas mengucapkan itu, tidak terdengar lagi potongan kata atau pun kalimat yang terucap, baik dari Jacob atau pun Alesha.
Mereka sama-sama terdiam, dan tangisan Alesha pun semakin tidak terdengar oleh Jacob walau masih menyisakan sesegukan kecil.
Hangatnya dekapan sang suami membuat Alesha enggan untuk beranjak. Ia bertahan pada posisinya. Begitu pula dengan Jacob, ia sudah bertekad untuk membuat Alesha tenang kembali, karna bagaimana juga istrinya itu menangis karna merasa takut jika ia akan meninggalkannya.
Sekitar sepuluh menitan suasana hening, Jacob pun mulai membuka suaranya kembali.
"Alesha..." Lirih Jacob.
"Hmm..."
"Ayo, kita pindah, Sayang jangan di sini, nanti badanmu sakit."
Alesha mengangguk.
Sejurus kemudian, mereka berdua pun bangkit berdiri, dan berjalan menuju kasur.
"Sudah merasa lebih tenang, Lil Ale?" Tanya Jacob sembari mencium kening istrinya.
"Iya," Jawab Alesha, singkat.
Setiba di tempat pembaringan, Alesha langsung menjatuhkan tubuhnya untuk barbaring. Namun ia tetap tidak mau membuat jarak sedikit pun dengan Jacob, dan memeluk tubuh suaminya itu begitu erat.
"Baca doa dulu sebelum tidur, Al," Ucap Jacob sembari memposisikan tubuhnya agar nyaman dipeluk oleh sang istri. Jacob merasa jauh lebih tenang sekarang, ditambah dengan Alesha yang enggan melepaskan pelukannya membuat Jacob merasa bahagia.
"Aku mencintaimu, dan dua anak kita, Alesha, jangan takut lagi, aku bersamamu sekarang," Gumam Jacob yang dapat terdengar oleh Alesha.
Namun Alesha tidak memberikan respon apapun. Tubuhnya lelah karna menangis histeris satu jam lebih, dan tenggorokannya pun terasa kering. Akhirnya, Alesha memilih untuk memejamkan matanya dengan wajah yang menghadap tepat didepan dada suaminya.
Jacob tersenyum tipis mendapati istrinya yang sudah tenang, dan larut dalam tidur.
"Setakut itukah kau jika aku meninggalkanmu, Alesha?" Kekeh Jacob yang sudah tidak dapat terdengar oleh telinga istrinya.
"Aku bahagia karna ternyata kau juga sudah membuka hatimu sepenuhnya untukku. Terima kasih, Alesha atas kedatanganmu dalam hidupku. Aku mencintaimu."