
"Bagaimana? Apa Baby J sudah kenyang sekarang?" Ledek Jacob sembari mengusapi perut istrinya.
"Baby J sudah kenyang sekarang, bundanya juga sama," Balas Alesha.
"Baiklah, kalau begitu tunggu sebentar, aku akan membayar makanannya dulu, lalu setelah itu kita cari makanan yang kau inginkan," Jacob menoel gemas ujung hidung Alesha.
"Tidak usah, aku kenyang, dan ingin pulang saja," Balas Alesha.
"Kau yakin?"
Alesha mengangguk.
"Yasudah, tunggu di sini sebentar," Jacob segera bangkit lalu berjalan menuju kasir untuk membayar makanan yang sudah dipesan olehnya juga Alesha.
Tidak lama, kurang dari tiga menit Jacob pun kembali menghampiri istrinya.
"Ayo," Ajak Jacob.
"Hoaammm..." Alesha menguap begitu saja. Untungnya restoran itu sedang dalam keadaan sepi.
"Hmmm, sudah makan, kenyang, dan sekarang mengantuk," Jacob menggenggam jemari Alesha, dan mulai berjalan beriringan.
"Jam berapa sekarang?" Tanya Alesha.
"Jam lima."
"Sudah sore ternyata, cepat sekali," Gumam Alesha.
"Iya, makanya kita harus segera pulang, dan beristirahat. Besokkan kita harus berangkat ke Turki untuk berbulan madu."
"Honeymoon, Babymoon," Alesha mengusap-usap perutnya sendiri.
Tidak ada perbincangan lagi setelah itu. Jacob, dan Alesha terus berjalan hingga sampai di tempat parkir. Lalu mereka bergegas menuju mobil berwarna hitam mengkilat milik Jacob.
"Jack, aku mengantuk," Alesha mengedipkan matanya beberapa kali, menahan kantuk yang seolah sedang menarik kesadarannya.
"Tidur saja, Al," Balas Jacob seraya memasangkan sabuk pengaman pada tubuh istrinya.
"Bawa mobilnya jangan kencang-kencang," Gumam Alesha yang mulai menutup matanya.
"Iya, sayang," Balas Jacob disertai ciuman lembut pada bibir, dan kedua pipi Alesha.
Tidak ada balasan atau respon apapun yang Alesha berikan, ia sudah terlanjur mengantuk. Maka dari itu, Alesha memilih untuk diam, dan membiarkan dirinya larut dalam mimpi.
Sedangkan Jacob, sesuai permintaan dari istri tercintanya, ia pun melajukan mobil dengan kecepatan biasa-biasa saja, ia takut Alesha akan terusik jika membawa mobil dengan kecepatan yang tinggi.
Berpacu di jalan raya kota Paris Van Java yang dipadati oleh banyaknya kendaraan membuat waktu tersita lebih lama, yang seharusnya kurang dari satu jam, ini bisa sampai satu jam lebih. Tapi Jacob mewajari itu karna memang pukul setengah lima hingga maghrib adalah waktu bagi arus balik para pekerja yang kembali pulang ke rumah masing-masing.
Memang sedikit membosankan, sesekali Jacob melirik ke arah Alesha yang sudah terlelap, sesekali pula Jacob mengelusi wajah istrinya itu dengan pelan agar tidak mengusik si manis kesayangannya.
Tidak terasa, Jacob pun menguap karna seperti ia juga mulai mengantuk. Namun ia tidak boleh luluh dengan rasa kantuknya itu.
Sesekali mengerjapkan mata, hingga akhirnya Jacob sedikit terkejut ketika mendapati Alesha yang tiba-tiba saja terusik, dan mengubah posisi tidurnya.
"Hhmmm, Mr. Jacob," Gumam Alesha.
"Ck!" Jacob berdecak pelan. Lagi, dan lagi Alesha memanggilnya dengan sebutan 'Mr. Jacob'. "Apa?"
"Kita sudah sampai?" Tanya Alesha, masih memejamkan matanya.
"Sebentar lagi, Al," Jawab Jacob.
"Kalau sudah sampai beritahu aku."
"Hmmmm..."
Alesha segera merileksasikan tubuhnya, dan kembali tertidur, sedangkan Jacob, tentu saja ia masih harus terus fokus berkendara. Tapi untung saja lokasi mansionnya sudah tidak jauh lagi. Ya sekitar lima belas menitan, barulah mobil yang Jacob kendarai tiba di depan gerbang rumah besarnya.
Langsung saja Jacob memarkirkan mobilnya tepat di depan garasi. "Sayang, Alesha, bangun kita sudah sampai." Jacob mengguncang pelan bahu istrinya.
"Eungh," Alesha menggeliatkan tubuhnya. "Aku masih mengantuk," Gumam Alesha sembari membuka kedua kelopak matanya.
"Lanjutkan tidurmu nanti setelah kau mandi," Setelah mengucapkan itu, Jacob langsung membuka pintu mobilnya, dan beranjak keluar.
"Ya ampun," Gumam malas Alesha. Terpaksa, meski matanya terasa berat, Alesha pun turut beranjak keluar dari dalam mobil suaminya. "Argh, Mr. Jacob!" Tiba-tiba saja tubuh Alesha oleng, dan hampir terjatuh jika saja tidak bersandar pada badan mobil.
"Alesha, ada apa?" Dengan sigap Jacob langsung mengambil alih tubuhnya Alesha agar bersandar padanya.
"Perutku mual," Alesha mencengkram kuat bahu suaminya.
Jacob berniat untuk membopong tubuh Alesha, namun Alesha menolak.
"Tidak! Bantu saja aku berjalan!"
"Kau yakin?"
"Iya!"
"Baiklah."
Perlahan, Jacob membawa istrinya berjalan langkah demi langkah.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Tawar Taylor sembari menghampiri Jacob.
"Ti.."
"Ya! Tolong buatkan aku salad buah!" Potong Alesha dengan cepat.
"Tapi kau sedang mual, Alesha!"
"Nooo, aku ingin salad buah strawberry, dan mangga!"
"Tidak! Kau harus istirahat!"
"Aku tidak apa-apa."
"Kau bilang tadi mual!" Jacob mulai menajamkan tatapannya pada Alesha.
"Aku hanya ingin salad, apa salahnya," Lirih Alesha yang merasa takut akan tatapan suaminya.
"Tidak!"
"Yasudah. Awas! Aku akan membuatnya sendiri saja!" Alesha merajuk. Ia pun melepas paksa lengan Jacob dari pinggang, dan bahunya. "Minggir!"
Alesha mulai melangkah, namun sayang langkahnya itu harus terhenti pada tapak ketiga karna tiba-tiba saja Jacob membuat tubuhnya melayang.
"Mr. Jacob, lepaskan aku!" Alesha memukuli dada bidang suaminya. Tetapi itu tidak berpengaruh sama sekali terhadap Jacob.
"Mr. Jacob!"
"Aku suamimu, Alesha!!!" Bentak Jacob yang sukses membuat Alesha terkejut hingga tidak dapat bergerak sedikit pun. "Berhenti memanggilku dengan sebutan itu!!" Lagi, Jacob membentak istrinya namun dengan tensi yang sedikit merendah.
Marah.
Bisa dibilang begitu. Entah apa yang terjadi pada Jacob saat ini hingga membuatnya merasa kesal terhadap sikap Alesha yang menurutnya sedikit kekanak-kanakkan.
Bahkan sesampainya di kamar pun, Jacob langsung membawa istrinya menuju kamar mandi.
"Mau mandi sendiri atau aku yang akan memandikan!!" Ancam Jacob dengan tatapan pisaunya yang membuat Alesha kikuk ketakutan.
"Mandi sendiri," Lirih Alesha tanpa berani menatap balik kedua iris hitam suaminya.
"Kalau begitu cepat!" Dingin. Jacob meninggalkan Alesha begitu saja dengan ekspresi dingin, dan datarnya.
"Ish, dasar aneh!" Gerutu Alesha.
Menyebalkan memang Jacob itu. Tapi ada kalanya dimana Alesha merasa takut dengan suaminya sendiri. Pasalnya, sewaktu di WOSA dulu ia juga sering mendapatkan bentakan, dan diperlakukan sedikit kasar oleh Jacob. Tapi bukan hanya Alesha saja sih, semua anggota tim juga merasakan hal yang sama ketika mendapati amarah Jacob ketika mengajar dulu.
Galak, tegas, disiplin, dan cukup menyiksa. Itulah pribadi Jacob ketika menjadi seorang mentor. Tapi usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Buktinya tim Bastian menjadi salah satu yang terbaik hingga dimanfaatkan oleh Mr. Frank untuk menemukan bongakahan meteor di Himalaya.
Kembali lagi pada Alesha, ketika baru akan melepaskan jilbabnya, tiba-tiba saja rasa mual itu kembali hingga membuat tubuhnya lemas. Bukan hanya sekali, namun berkali-kali ia berusaha untuk mengeluarkan sesuatu dari dalam perutnya, tetapi yang keluar hanyalah air biasa. "Argh, astagfirullah." Alesha memegangi keningnya yang terasa sakit. Bahkan perutnya pun sama sakitnya, mungkin karna adanya tarikan dari otot-otot perut ketika ia muntah-muntah tadi.
Alesha terdiam, dan bersandar pada dinding cukup lama. Mungkin sekitar sepuluh menitan, barulah setelah itu, ia pun mulai membersihkan tubuhnya karna ingin cepat-cepat beristirahat.
Sedangkan di luar kamar mandi, Jacob merasa amat bersalah karna sudah membentak Alesha dengan sangat keras tadi. Itu benar-benar diluar kendalinya, ia juga tidak tahu kenapa ia bisa sekasar itu pada istrinya.
"Alesha, maaf..." Lirih Jacob.
Selama Alesha mandi, selama itu pula Jacob terus menerus merutuki perbuatan, dan perkataannya yang begitu keras terhadap Alesha, padahal Jacob sadar kalau saat ini Alesha sedang mengandung anaknya.
Benar-benar sebuah gamparan keras untuk Jacob saat ia membayangkan wajah terkejut, dan ketakutan Alesha tadi.
"Maaf, Lil Ale..."
Tok... Tok... Tok...
"Jack...." Panggil Alesha begitu pelan dari dalam kamar mandi. "Jack, bantu Alesha..." Sungguh Alesha merasa sangat amat lemas, dan kedinginan saat ini. "Jack, buka pintunya."
Tok... Tok... Tok...
Ceklek...
Pintu kamar mandi yang tidak terkunci pun langsung terbuka begitu saja.
"Alesha, ya ampun! Ada apa, sayang?" Panik Jacob.
"Tubuhku sangat lemas," Parau Alesha.
"Ayo, aku akan membantumu berjalan."
Jacob membawa Alesha menuju walk in closet, dan memilihkan pakaian tidur untuk dikenakan istrinya malam ini.
"Ini pakai."
Alesha meraih pakaian yang suaminya itu sodorkan.
"Aku mau mandi dulu ya, sayang," Ucap Jacob sembari mengelusi puncak kepala istrinya.
Alesha mengangguk pelan. Setelah memastikan jika suaminya itu masuk ke dalam kamar mandi, buru-buru Alesha memakai pakaian tidurnya.
Gemertak gigi tidak dapat terhindarkan karna suhu yang begitu dingin membuat Alesha menggigil. Namun, semakin lama, rasa kantuk semakin menggatali kelopak matanya.
"Hoaaammm...." Alesha merenggangkan tubuhnya, lalu menelusup kembali kedalam selimut. Tidak lama, hanya dalam hitungan menit saja, kesadaran Alesha pun akhirnya teralihkan pada dunia tidur.
Ceklek...
Pintu kamar mandi yang terbuka memberi tanda jika Jacob sudah selesai dengan urusannya dalam hal bersih-bersih diri.
Semula Jacob acuh saja dengan keberadaan istrinya diatas kasur, namun setelah ia keluar dari dalam walk in closet dengan mengenakan piyama yang sama persis dengan piyama yang Alesha kenakan saat ini, Jacob pun mendapati kalau ternyata si manis kesayangannya itu sudah tertidur lelap dengan tubuh yang meringkuk dibalik selimut tebal.
Sepertinya Alesha kedinginan. Pikir Jacob.
Memang cuaca, dan suhu udara malam ini cukup rendah, yaitu sekitaran delapan belas derajat celcius, belum lagi angin dari AC yang tetap menyala dalam kamar, semakin lah Alesha dibuat membeku karna rendahnya suhu ruangan itu.
Segera Jacob mematikan ACnya, baru setelah itu ia pun merayap secara perlahan ke atas kasur, dan menyelinap masuk ke dalam selimut.
"Tanganmu dingin sekali, Alesha," Gumam Jacob. Merasa prihatin, segera Jacob merengkuh tubuh Alesha untuk memastikan jika kekasihnya itu merasa hangat.
"Eungh...." Alesha menggeliatkan tubuhnya saat merasakan ada sesuatu yang mengusik tidurnya. Namun hanya beberapa saat kemudian, Alesha kembali terlelap karna merasakan adanya tubuh besar yang membuatnya merasa lebih hangat.
"Selamat malam, dan selamat tidur, My Sweetheart," Satu kecupan pun Jacob berikan pada kening si manis kesayangan.
***
Keesokan harinya.
Pukul 06.30 WIB, tak terasa mimpi yang mewarnai dunia malam Alesha kini telah lenyap oleh kesadarannya dihari, dan pagi baru.
"Jack.." Alesha mengguncang pelan tubuh suaminya. Ia merasa kesulitan untuk bergerak karna terkunci oleh tubuh besar Jacob. "My Big Guy, bangun. Kau menindihku kalau begini caranya," Sekuat tenaga Alesha berusaha menjauhkan tubuh Jacob dari tubuhnya, namun nihil.
"Jack, lepas..." Alesha menepuk-nepuk pipi suaminya cukup keras.
"Eemmm, ada apa, Alesha?" Gumaman khas orang bangun tidur pun terucap dari mulut Jacob.
"Lepaskan aku!" Lagi. Alesha berusaha untuk melepaskan tubuhnya dari kukungan sang suami.
"Tapi aku masih mengantuk, Alesha," Bukannya melepaskan, Jacob malah semakin mengeratkan pelukannya pada Alesha.
"Kita harus bersiap! Bukannya siang ini kita akan pergi ke Turki?"
"Siang, bukan sekarang," Balas Jacob.
"Yasudah, lepaskan dulu tubuhku!" Paksa Alesha.
"Baiklah, baiklah," Terpaksa, Jacob akhirnya membiarkan tubuh Alesha terlepas dari pelukannya.
"Dari tadi kek!" Gumam Alesha.
"Kau mau kemana?" Tanya Jacob yang mendapati istri turun dari atas kasur.
"Mandi," Jawab Alesha, singkat.
Awalnya Alesha biasa-biasa saja setelah menjawab pertanyaan dari suaminya itu, ia pun berjalan dengan begitu santai menuju kamar mandi, namun ketika ia hendak menutup pintu tiba-tiba saja Jacob masuk, dan menganggetkannya.
"Hei, apa yang kau lakukan di sini!" Pekik Alesha.
"Mandi," Jawab Jacob, santai.
"Tidak, aku dulu yang mandi!" Tegas Alesha.
"Berdua."
"Tidak mau!" Alesha menghentakkan kakinya dengan sebal.
"Jangan melawan peritah suamimu, sayang," Ucap Jacob yang mulai melucuti pakaiannya sendiri.
"Tapi, tapi...."
"Syuutt! Sekarang buka bajumu, kita mandi bersama!"
Alesha mendengus kesal. "Baiklah!"
Sekitar satu jam mereka berdua mandi bersama, lima belas menit membersihkan tubuh, dan sisanya ya sama-sama menyalurkan rasa cinta.
Ingin menolak, tapi takut dosa, tapi jujur saja Alesha merasa sedikit tidak enak badan, apalagi dengan tubuh yang direndam dalam air cukup lama. Beberapa kali Alesha meminta untuk segera menyudahi aktivitas pagi itu bersama suaminya, namun Jacob seolah tidak mendengar.
Hingga ketika Alesha benar-benar merasa lelah, ia pun berucap. "Jack, aku kedinginan." Suara Alesha sedikit bergetar, dan lirih, tentunya hal itu membuat Jacob terpaksa menghentikan aksinya.
"Cukup, aku lelah, dan kedinginan," Lanjut Alesha.
"Maaf, Lil Ale," Jacob memberikan ciuman kilat pada bibir ranum istrinya. Baru setelah itu, ia beranjak dari dalam bathub yang dipenuhi oleh air, dan busa.
Jacob meraih handuk miliknya untuk menutupi area pinggul hingga pahanya.
Sedangkan Alesha, ia masih tetap berada didalam air. Kenapa? Ia sedang merasakan ngilu diantara area paha, dan pinggulnya.
"Alesha, kenapa kau masih berendam?"
"Aku menunggumu untuk keluar terlebih dahulu," Alesha beralasan.
"Kita masuk sama-sama, maka keluar pun harus sama-sama," Jacob meraih kimono handuk milik Alesha.
"Ayo," Tanpa banyak bicara, Jacob langsung mengangkat tubuh istrinya begitu saja, hingga membuat si empunya tubuh itu berdiri.
"Aww!!" Alesha memekik kencang saat rasa ngilu, dan nyeri di area sensitifnya semakin bertambah.
Sadar akan apa yang sedang dirasakan oleh Alesha, Jacob pun langsung meminta maaf pada istrinya itu. "Alesha, maaf, " Tampak raut-raut bersalah pada wajah Jacob. Ia sungguh lupa akan ulahnya yang membuat Alesha merasa kesatikan saat ini.
"Tidak apa-apa," Balas Alesha sembari meraih kimono handuk miliknya dari bahu Jacob.
"Bantu aku berjalan," Setelah kimono handuk itu menutupi tubuhnya, Alesha segera menggenggam erat lengan kekar suaminya.
"Kau yakin bisa berjalan, Alesha?"
"Tentu saja, Big Guy."
Namun Jacob ragu. Ia kasihan melihat ekspresi Alesha yang sedang menahan perih.
"Kemarilah, biar aku gendong saja."
Jacob mengangkat tubuh Alesha begitu mudah.
"Aww, Jack, pelan-pelan," Alesha meringgis.
"Maaf, sayang," Sekali lagi, Jacob memberikan ciuman kilat pada kedua pipi istrinya.
Kini kedua insan itu harus segera bersiap-siap karna siang ini mereka harus mengambil penerbangan langsung menuju Turki, negara tempat dimana bagi mereka berdua. Ralat! Bertiga menghabiskan momen bulan madu.
Masing-masing dari mereka berdua sibuk dengan urusan sendiri-sendiri selama beberapa saat. Dimulai dengan memilih, lalu memakai pakaian, menyiapkan kebutuhan, monda-mandir sana-sini, mencari, dan mengecek kembali barang bawaan yang akan dibawa, dan terakhir sarapan pagi.
Tepatnya di ruang makan, kini Alesha sudah dihadapkan dengan beberapa jenis hidangan makanan pedas kesukaannya.
"Ayam rica-rica," Gumam Alesha yang menatap lapar pada santapan kesukaannya itu.
Namun sayang, Jacob yang tiba-tiba saja datang, dan langsung memeluk tubuh Alesha dari belakang akhirnya membuat Alesha kehilangan selera makannya begitu saja.
"Uhuk, Uhuk!! Lepaskan aku! Argh. Bauuu!!" Pekik Alesha yang dengan cepat melepaskan pelukan suaminya, lalu berdiri sembari mengambil jarak.
"Parfummu!!" Alesha mendengus sebal.
Jacob yang sempat terkejut akan respon istrinya pun kini paham jika ia sudah salah menyemprotkan parfum pada tubuhnya. "Maaf, sayang. Kalau begitu aku akan mengganti bajuku terlebih dahulu!"
Alesha hanya diam dengan ekspresi kesal meski suaminya, Jacob sudah pergi menuju kamar mereka dengan berlari kecil.
Memang semenjak hamil, Alesha benar-benar tidak menyukai wangi parfum suaminya, maka dari itu ia meminta Jacob untuk membeli parfum dengan aroma yang lain.
Sekian menit berlalu, meski sudah tidak memiliki selera makan, namun Alesha harus tetap menyantap sarapannya. Pertama ia kasihan pada jabang bayinya, kedua ia juga harus menghargai para pelayan yang sudah memasak.
Ya mungkin sekitar lima menit Alesha menyelesaikan kunyahan terakhirnya. Ia memang tidak makan banyak, moodnya sudah terlanjur menurun akibat mencium aroma parfum suaminya tadi.
"Selsai," Gumam Alesha. Lalu ia beranjak dari duduknya, dan berjalan menuju tangga untuk kembali ke kamarnya yang berada di lantai dua.
Situasi dalam mansion cuku sepi. Alesha tidak tahu kemana perginya para anak buah Jacob yang biasanya berkumpul di ruang belakang dapur.
Mungkin di luar. Pikir Alesha.
Ia pun terus melanjutkan jalannya hingga sampai di depan pintu kamarnya.
Ceklek....
Dibukanya pintu kamar itu oleh Alesha.
"Mr. Jacob," Gumam Alesha sangat pelan. Keningnya sedikit berkerut karna mendapati suaminya sedang termenung dengan tatapan lurus yang secara tidak sengaja saling beradu dengan tatapannya.
"Jack, ada apa?" Tanya Alesha sembari menghampiri pria besarnya.
Jacob tidak menjawab. Malah, semakin Alesha mendekat, Jacob semakin menseriuskan tatapannya.
Siapa orang itu? Kenapa dia memata-matai mansion ini secara diam-diam?...... Ucap Jacob dalam hatinya. Ia sedang dilanda kebingungan saat ini. Pasalnya, beberapa menit yang lalu Taylor menghubungi jika salah satu anak buahnya berhasil menemukan seseorang yang secara diam-diam bersembunyi dibalik pepohonan rindang depan mansion, dan mengawasi setiap pergerakan orang yang ada di mansion itu.
"My Big Guy!" Alesha mengguncang bahu Jacob.
"Iya!" Jacob mengerjapkan matanya beberapa kali ketika lamunannya dibuyarkan oleh Alesha. "Ada apa, Al?"
"Kau kenapa melamun seperti itu? Ayo kita harus berangkat sekarang, semua barang-barang juga sudah dimasukkan kedalam mobil."
"Memangnya sekarang jam berapa?" Tanya Jacob.
"Jam delapan lewat."
Jacob mengangguk. "Baiklah. Kalau begitu ayo, kita berangkat."
Lalu Jacob merangkul pinggang Alesha untuk berjalan beriringan. Tetapi meski begitu, pikiran Jacob tetap terfokuskan pada sosok orang misterius yang mengintai mansionnya.