
Hari ini, setelah seminggu berlalu dalam perhitungan waktu yang tidak hentinya menurunkan tempo kecepatan, seluruh murid senior WOSA sudah bersiap dengan perbekalan dan mental masing-masing. Mereka sudah siap, dan beberapa pesawat milik SIO sudah terpakir menunggu untuk ditumpangi.
Berjalan sesuai kelompok masing-masing, memasuki ruang pesawat dan terduduk manis sembari terus mengisi mental dan keyakinan akan keteguhan juga kekuatan fisik serta pikiran positif.
Takut? Sedikit. Grogi? Sedikit juga. Penasaran? Tentu saja. Ini misi yang berbeda, kalau diibaratkan bisa sama seperti murid sekolah kejuruan yang sedang melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL).
Pesawat yang ditumpangi oleh tim Bastian dan Brandon sedang mengambil ancang-ancang untuk segera melayang diudara, melesat melawan angin dan gravitasi.
Jarak dari WOSA menuju Himalaya sangatlah jauh, bisa memakan waktu sehari semalam. Namun perjalanan mungkin tidak akan terasa karna pikiran-pikiran dari dua kelompok tim itu disibukan dengan banyak hal yang berkaitan dengan ujian akhir mereka di Himalaya.
Eve dan Jacob sendiri sama-sama mendumal dalam hati mereka, merutuki keputusan SIO yang membawa kelompok tim mereka menuju Himalaya kembali.
Jika waktu kembali mundur pada masa lima tahun lalu, Jacob dan Eve akan menemukan serpihan ingatan yang membuat mereka berdua merasa trauma. Badai besar itu tiba-tiba saja datang dan menghantam tim mereka. Lalu kemana para petugas yang mengawasi lajur cuaca di Himalaya? Jangan tanyakan itu. Mereka pun tidak tahu kenapa sistem mereka bisa salah mendapatkan informasi mengenai cuaca Himalaya kala itu. Yang para petugas pengawas cuaca tahu adalah hari itu, kala ujian akhir berlangsung cuaca di Himalaya akan cerah, jika dipantau berdasarkan satelit dan alat-alat khusus yang mereka miliki.
***
Beranjak menuju Himalaya. Di sana, di salah satu titik lokasi yang daratannya ditutupi oleh lapisan salju tebal, Vincent dan anak buahnya sudah stay menunggu kedatangan anak murid WOSA, terkhusus kelompok tim Jacob.
"Tuan, Stella sudah sudah dapat mengakses satelit milik WOSA juga alat pelacak yang nanti akan digunakan oleh Alesha. Kita bisa langsung mengikuti Alesha setelah ujian akhirnya dimulai." Ucap salah seorang anak buah Vincent.
"Bagus. Aku sudah tidak sabar untuk segera menemui gadis itu lalu memerangkapnya dan membuat Jacob kembali tersiksa." Balas Vincent sembari menyeringai jahat.
Dalam benaknya, Vincent memang sudah gatal ingin segera melancarkan misinya itu. Rencana kali ini harus ia pastikan untuk berhasil demi mewujudkan keinginannya untuk mengambil alih SIO lalu mengembangkan bisnisnya nanti.
***
Beralih kembali menuju pesawat SIO yang mengakut anggota tim Bastian dan Brandon, kini alat transportasi terbang itu sudah mendarat mulus disebuah bandara, dan di bandara itu pula sudah siap dua mini bus yang akan mengantarkan anggota tim Bastian dan Brandon langsung menuju markas berukuran sedang milik SIO yang sudah berdiri sejak beberapa tahun lalu di sekitaran perbukitan Himalaya.
Dalam perjalanan dimini bus pun waktu benar-benar tidak terasa. Berlalu begitu saja dalam aliran keheningan yang tenang. Jacob yang sejak dalam pesawat tidak ingin berjauhan dengan Alesha pun kini masih terus menempel dan berada didekat gadis itu.
Jujur saja, meski terlihat tenang, Jacob tetap tidak mengenyahkan rasa panik dan takut dalam hatinya. Ia terus saja terbayangi oleh masa kelamnya di Himalaya lima tahun lalu. Bagaimana jika anggota timnya terjebak dalam badai lagi? Bagaimana jika anggota timnya tidak dapat ditemukan? Menghilang dalam daratan Himalaya. Lalu Alesha?
Wajah Jacob berubah menjadi pucat pasi sekarang. Membayangkan Alesha yang menghilang membuat jantung Jacob berdegub kencang, memunculkan rasa takut dan kepanikkan berlebih.
Sepanjang perjalanan dimini bus, seluruh anggota tim Bastian tertidur lelap, termasuk Alesha yang tertidur dengan bersandar pada dada mentornya. Sebenarnya tertidur dalam posisi itu bukanlah keinginan Alesha, bahkan ia sendiri tidak menyadarinya, Jacob lah yang sengaja menempatkan Alesha pada dadanya, membiarkan gadis tercintanya itu tidur lelap dalam pelukannya.
Beberapa jam yang dilalui, akhirnya mereka pun sampai di markas SIO tersebut.
"Alesha, bangun.." Jacob menepuk pelan pipi Alesha untuk membangunkan gadis itu.
Alesha terusik, refleks ia menggeliatkan tubuhnya dalam pelukan sang mentor. Bukannya membuka mata dan terbangun, Alesha malah semakin merapatkan tubuhnya pada pelukan Jacob dan mencari kehangatan di sana.
Jacob jadi tidak tega untuk membangunkan gadisnya itu. Melihat Alesha yang begitu tenang ketika tertidur membuat Jacob betah berlama-lama untuk memandangi wajah si manis kesayangannya.
"Alesha, hey. Kau bisa tidur dalam pelukanku dilain waktu, sekarang bangun lah, teman-temanmu sudah menunggu di luar, sayang."
"Eungh..." Alesha menggeliatkan kembali tubuhnya.
"Bangun, sayang. Kita sudah sampai.." Lanjut Jacob.
Perlahan Alesha mengerjapkan matanya, mencoba untuk mengumpulkan kesadarannya yang sempat hilang karna terbawa alam mimpi tadi.
"Mr. Jacob.." Panggil Alesha pelan.
"Ya. Ada apa?"
"Lepaskan aku! Aku tidak ingat kalau aku tertidur dipelukanmu."
Jacob tertawa kecil, sungguh Alesha sangat manis saat ini.
"Sudah ayo, kita harus segera keluar."
"Aku mengantuk, Mr. Jacob.." Ucap Alesha persis seperti orang yang baru bangun dari tidur namun masih dibayang-bayangi oleh rasa kantuk.
"Iya, kau bisa melanjutkan tidurmu di sana." Jacob menunjuk pada markas mini milik SIO yang ada di luar mini bus itu. "Kalian harus istirahat cukup malam ini, besok pagi kalian akan mulai ujian akhir kalian."
"Baiklah." Alesha mengangguk seperti seorang anak kecil yang sedang menahan kantuk berat.
Aish. Bisa tidak jika Jacob menciumi wajah gadisnya itu sekarang? Sungguh menggemaskan.
Alesha pun langsung membawa dirinya untuk keluar dari dalam mini bus yang ia tumpangi bersama anggota timnya.
Saat sudah di luar, Alesha berjalan sedikit sempoyongan dan nyaris menabrak petugas SIO yang menjaga gerbang, tapi untungnya Jacob menyadari itu dan langsung menahan tubuh Alesha.
"Hey hey hey, Nona, buka matamu dengan benar. Kau nyaris menabrak seseorang, sayang." Ucap Jacob.
Alesha tersentak kaget karna mentornya itu tiba-tiba saja menarik lengannya. Ia pun mengerjapkan matanya beberapa kali, menggelengkan kepalanya agar mendapatkan kesadaran yang seutuhnya.
"Kau mengantuk berat ya? Mau aku gendong?" Goda Jacob.
"Tidak! Aku bisa berjalan sendiri!"
"Kalau begitu ayo, yang lain sudah di dalam." Jacob pun menuntun Alesha untuk berjalan, takut-takut kalau gadisnya itu akan menabrak sesuatu karna menahan rasa kantuk.
Sesampainya disebuah kamar sempit yang terdapat lima kasur tingkat, anggota tim Bastian pun langsung menyerbu memilih tempat mereka untuk melanjutkan istirahat yang berusan tertunda selama beberapa menit.
"Selamat datang, tuan Jacob." Sapa ramah seorang petugas yang bekerja di markas itu.
"Terima kasih." Balas Jacob yang tidak kalah tamah juga.
"Dia siapa, Mr. Jacob?" Tanya Alesha.
"Petugas yang bekerja di sini." Jawab Jacob.
"Bagaimana dia bisa mengenalmu?"
"Tidak ada pegawai SIO yang tidak mengenalku, Alesha." Jacob tertawa kecil menyikapi pertanyaan yang gadisnya itu berikan.
"Ck. Sombong.."
"Aku tidak sombong, itu kenyataannya."
"Terserah...."
Karna Alesha datang paling terakhir, ia pun mendapatkan satu kasur tingkat yang terletak dipojok.
"Ah, aku tidak mau dipojok!" Dumal Alesha.
"Tidak ada tempat lagi, Alesha. Dimana pun sama saja. Kau hanya perlu berbaring, dan tertidur untuk memulihkan energimu." Saut Aiden.
"Huh!" Alesha mendengus sebal. Mau tidak mau ya harus mau. Kini Alesha bejalan menuju kasur tingkat yang masih kosong lalu membaringkan tubuhnya diatas busa tebal berlapis kain sprey yang ternyata lumayan empuk juga.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Alesha pada mentornya yang masih saja berdiri disamping kasur tingkatnya.
"Menunggumu tertidur."
Alesha mendengus sebal setelah mendengar jawaban dari mentornya itu. "Aku bukan anak kecil, Mr. Jacob."
"Siapa bilang kau anak kecil?" Jacob balik bertanya.
"Ish, aku lelah kau pergilah ke kamarmu sendiri!"
"Alesha, bisa kau berhenti bicara? Aku tidak bisa tidur jika kau terus saja berkicau!" Ucap Nakyung.
Alesha menghela napasnya dengan kasar. "Kau dengarkan? Sudah pergi sana ke kamarmu sendiri!" Bisik Alesha sembari melototkan matanya pada Jacob.
"Baiklah baiklah... Kalau begitu selamat tidur, tuan putri Ale." Balas Jacob yang berbisik pula.
***
Pukul lima subuh
Deringan alarm yang terpasang pada dinding kamar membuat beberapa jiwa yang sedang lelap dalam mimpi pun terpaksa untuk menarik kembali kesadarannya.
Bastian juga anggota timnya yang lain pun terbangun dan langsung bersiap diri. Satu persatu dan secara bergantian, para anggota tim memasuki kamar mandi dalam waktu yang sesingkat mungkin.
Saat jam pada dinding menunjukkan pukul tujuh, barulah seluruh anggota tim siap dengan semua perlengkapan yang mereka kenakan dan akan mereka bawa untuk perbelakan selama perjalanan di kawasan pegunungan Himalaya yang akan berlangsung selama tiga hari.
*
"Huftttt.." Jacob menghembuskan napasnya. Setelah lima tahun, sekarang ia menapaki kembali kakinya pada tempat di mana ia kehilangan sosok tercintanya. Bentangan salju tebal menghampar luas dibalik indra penglihatannya.
Yuna.... Aku kembali ke tempat ini lagi..... Ucap Jacob dalam hati.
Selama beberapa saat Jacob termenung sambil menatap luasnya daratan salju yang mengampar dihadapannya, namun sesaat kemudian, Jacob pun mendapati Alesha yang juga termenung dengan tatapan lurus ke arah daratan salju itu.
"Alesha, kau baik-baik saja?"
Kini Jacob dirundung cemas. Wajah Alesha seperti mengisyaratkan sebuah ketakutan dan keraguan terpendam. Jacob panik, ia seperti mengalami dejavu, Alesha menunjukan ekspresi yang serupa dengan yang Yuna tunjukkan sesaat sebelum gadis itu pergi bersama anggota timnya untuk mencari bebatuan meteor yang terpendam dalam gundukan salju di Himalaya.
Jacob takut setengah mati saat sorot mata Alesha semakin memperjelas ketidak yakinan akan ujian akhirnya kali ini. Jacob takut hal yang menimpa Yuna akan menimpa Alesha pula.
"Alesha, kau takut?"
Alesha tidak menjawab. Sungguh saat ini ia merasakan nyalinya yang mendadak ciut, ia pun baru ingat kalau ia memiliki riwayat ASMA dan bisa kambuh jika kedinginan. Alesha takut, bagaimana jika ia malah merepotkan anggota timnya nanti diperjalanan?
"Alesha, katakan kau kenapa?" Jacob yang semakin cemas pun menggerakkan kedua bahu Alesha.
"Aku takut. Ini pertama kalinya aku menjalani misi seperti ini. Aku takut jika aku dan timku gagal."
Tunggu!
Deja Vu?
Jacob tertegun. Ia mengingat kalimat itu, seperti kalimat yang pernah Yuna ucapkan dahulu padanya.
Jacob menggenggam jemari Alesha, tatapannya semakin menunjukan rasa ketakutan. "Jika kau takut, kalian tidak perlu menjalani ujian akhir ini di sini, aku akan memaksa Mr. Thomson untuk memindahkan kalian ke tempat lain."
"Tidak! Jangan!" Alesha mengedarkan pandangannya untuk melihat seluruh penjuru Himalaya yang masih bisa dijangkau oleh matanya. "Aku harus berani melawan rasa takutku! Aku tidak boleh ciut! Aku harus bisa! Kau sudah mengajarkan semuanya pada kami, Mr. Jacob, dan aku juga timku akan membuktikan kalau semua yang sudah kau ajarkan itu tidak sia-sia, kami akan membuatmu bangga."
"Alesha, aku tidak perduli dengan hal itu. Aku hanya takut kalian terutama kau! Jatuh dalam bahaya besar!"
"Mr. Jacob, WOSA sudah memberikan petunjuk-petunjuk dan pengarahan yang tepat, mereka pasti akan memastikan keselamatan para murid juga. Yakin lah." Mulut Alesha berucap seperti itu, namun hatinya berkata lain. Ia takut, sangat takut, namun ia harus berani dan tangguh, tidak boleh lemah!
"Aku tidak mau kehilangan untuk yang kedua kalinya, Alesha. Aku sangat menyayangimu, aku sungguh mencintaimu. Aku bisa gila jika sesuatu yang buruk menimpamu saat ujian ini berlangsung." Jacob meraih pinggang Alesha dan memeluk tubuh gadis itu dengan sangat erat, tidak perduli dengan keberadaan orang-orang disekitarnya. "Kembalilah, aku akan menunggumu di sini."
Alesha jadi merasa sedih. Ia pikir mungkin mentornya itu sedang terbayangi kenangan kelam yang terjadi lima tahun silam yang menimpa anggota tim Yuna.
"Berjanjilah kau akan kembali.. Aku memaksamu..."
Alesha tersenyum manis, mengelus lembut rambut pria yang sudah membuatnya jatuh dan patah hati untuk yang kedua kalinya. "Iya, Mr. Jacob. Tenang saja, aku tidak akan pernah meninggalkanmu, kita akan selalu bersama tidak perduli jarak atau hal apapun itu yang dapat memisahkan kita."
"Jangan kembalikan traumaku. Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi!"
"Aku akan selalu bersamamu, Mr. Jacob.. " Alesha menitikan setetes air mata kesedihan. Ia tahu ia mencintai mentornya, namun ia masih terlalu patah hati karna ucapan mentornya yang kala itu menyamainya dengan Yuna.
"Aku mencintaimu, Alesha Sanum Malaika." Satu kecupan lembut yang berdurasi singkat sudah Jacob daratkan pada bibir ranum Alesha, lalu kening, dan kedua pipi gadis itu.
Alesha hanya diam tanpa merespon apapun perlakuan mentornya itu.
Jacob pun membawa Alesha untuk berkumpul dengan anggota timnya yang lain.
"Sekarang pergilah, jalankan ujian akhir ini dengan semangat dan tekad kuat, kalian selalu membuatku bangga. Semoga berhasil." Senyum hangat Jacob seperti sebuah pasokan energi yang menambah rasa semangat untuk kesembilan anggota timnya.
Sekarang adalah saatnya. Tim Brandon sudah terlebih dahulu berangkat memulai ujian akhirnya untuk menemukan bongkahan meteor langkah yang diprediksi tersebar dibeberapa titik di Himalaya.
Lalu kini waktunya untuk tim Bastian memulai perjalanan mereka yang akan memakan waktu beberapa hari.
Pijakan pertama yang mengawali langkah besar telah ditapakan. Sedang sang mentor yang menyaksikan anak didiknya berjalan menuju dunia luas pun hanya bisa memandang penuh kecemasan akan ketakutan dan trauma masa lalu.
"Aku percaya jika kalian akan baik-baik saja. Semoga berhasil, aku menyayangi kalian..." Lirih Jacob.
*
Misi pun dimulai!
*
*
Tim Bastian kini menyusuri lapisan salju tebal untuk menuju titik pertama yang mereka perkirakan terdapat sebuah petunjuk atau jejak yang dapat membawa mereka untuk menemukan bongkahan batu meteor itu.
Cuaca sangat cerah dan matahari bersinar begitu indah di ufuk timur.
Dibeberapa jalan yang telah dilewati, mereka berjumpa dengan beberapa pendaki atau wisatawan yang sedang menikmati pemandangan Himalaya. Sesekali mereka berhenti untuk beristirahat sejenak. Napas mereka mulai terengah-engah. Namun, dengan persiapan dan pengarahan yang matang juga pelatihan fisik yang keras, mereka pun bisa melewati setiap halang rintang yang menjajal.
Semakin bertambahnya jam, mereka semakin merasa lelah. Pastinya, ini adalah kali pertama untuk mereka. Namun titik pertama yang meski mereka tuju sudah tidak jauh lagi. Mereka pun terus memaksakan langkah hingga akhirnya mereka sampai ditujuan awal.
"Kita bangun tenda di sini!" Perintah si ketua, Bastian.
Para anggota tim pun patuh dan langsung menjalankan perintah ketua mereka itu.
"Hallo, Mr. Jacob. Kami sudah sampai dititik awal, dan kami sedang membangun tenda di sini."
"...."
"Ya, lokasinya sangat sepi, jauh dari wisatawan dan para pendaki."
"...."
"Alesha baik-baik saja, dia sedang membantu yang lain."
"...."
"Baik, Mr. Jacob, kami akan manfaatkan waktu tiga hari itu dengan sebaik mungkin."
Percakapan antara si ketua dengan sang mentor pun terjadi dengan menggunakan alat kecil yang terpasang pada telinga. Dengan alat kecil itu, para ketua tim dapat berkomunikasi secara langsung dengan mentor masing-masing, namun hanya ketua sajalah yang memakai alat komunikasi kecil itu.
Melanjutkan waktu menuju malam hari. Kini Merina, Alesha, Maudy, dan Nakyung sedang menyibukkan diri mereka dengan mengamati ciri-ciri dan spesifikasi batu meteor dengan bebatuan biasa, sedangkan sisanya sedang memantau, memperkirakan, dan menandai lokasi selanjutnya untuk mereka melanjutkan perjalanan.
Memperkirakan perhitungan dan jangka waktu juga lokasi yang akurat memang cukup menyulitkan. Dari informasi yang mereka terima dari SIO, bongkahan meteor itu diprediksi berada disalah satu tebing yang cukup curam dan ditutupi oleh salju tebal.
Disisi lain, dalam radius tiga kilometer Vincent dan tiga anak buahnya sudah mengikuti anggota tim Bastian sejak tadi.
"Target sudah tepat didepan kita, tuan. Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" Tanya salah seorang anak buah Vincent.
"Bersabar, kita ikuti mereka terus hingga hati lusa malam." Jawab Vincent dengan seringai kemenangan yang sudah terlebih dulu terukir.
"Jacob, kau akan hancur setelah ini. Merebut Alesha lalu melenyapkannya. Aku sudah tidak sabar untuk melihatmu mengakhiri hidupmu sendiri karna ditinggalkan oleh Alesha, Jack."
Rencana jahat yang sudah Vincent buat sejak satu tahun lebih kini akan segera terealisasikan. Pria itu benar-benar bertekad dan sangat percaya diri, menyingkirkan Jacob adalah langkah awalnya sebelum SIO jatuh dalam genggamannya.
***
"Bas, aku, Alesha, Merina, dan Maudy akan tidur sekarang tidak apa-apa kan?" Tanya Nakyung.
"Iya, kalian istirahatlah." Jawab Bastian. "Oh ya, malam ini kita gantian berjaga ya. Lucas dan Tyson berjaga sekarang, dan nanti pukul dua malam bagian Mike dan Aiden yang berjaga."
"Lalu bagaimana denganmu?" Tanya Lucas.
"Aku akan berusaha untuk tetap terjaga." Jawab Bastian.
"Lebih baik kau istirahat, Bas. Kau pasti lelah karna memimpin tim ini. Biar saja aku dan Tyson yang berjaga." Ucap Lucas.
"Iya, setidaknya kau istirahatkan dahulu tubuhmu, Bas. Tidak baik juga jika kau memaksakan untuk tetap berjaga." Sambung Tyson.
Beruntungnya memiliki anggota tim yang dapat mengerti satu sama lain.
"Baiklah." Bastian mengangguk pelan. Sejujurnya dia memanglah kelelahan dan membutuhkan istirahat, terlebih dia juga seorang ketua dan harus berpikir bagaimana caranya untuk memimpin juga memastikan kalau jalur yang dilewati oleh timnya itu aman.
"Selamat malam semua..." Saut Bastian sebelum memasuki tendanya untuk membaringkan tubuhnya lalu beristirahat.