May I Love For Twice

May I Love For Twice
Bad Feeling and Planning



"Aku jadi takut." Stella meremas selimut lembutnya. Ia duduk termenung diatas kasur.


"Aku malah penasaran." Saut Nakyung.


Stella berdecak sebal. "Kenapa cepat sekali? Aku takut aku akan gagal."


"Jika kau gagal, maka kita semua juga beresiko gagal." Nakyung memutar bola matanya dengan jengah. Ia tidak takut sama sekali karna itu hanyalah tes dan semuanya sudah ditanggung oleh WOSA.


"Lusa pagi kita sudah harus berangkat, untung saja aku masih ingat dengan jelas semua hal yang sudah Mr. Jacob ajarkan. Insting yang kuat, keberanian, dan fokus pada tujuan." Ucap Merina yang mencoba untuk melawan rasa takut dan mengubahnya menjadi sebuah keberanian.


Tapi Alesha, ia hanya terdiam tidak ikut menyahuti teman-temannya. Hingga saat Stella menyadari Alesha yang sedang termenung, ia pun berinisiatif untuk bertanya. "Al, apa kau takut?"


Alesha tidak menjawab, ia terlalu fokus pada pikiran dan perasaan tidak enaknya. Entah apa dan kenapa, secara mendadak Alesha merasakan ada sesuatu yang mengganjal dan meragukan, seperti tidak yakin akan suatu hal. Gelisah lah Alesha saat ini. Mendadak sekali rasa takut itu muncul, semoga saja bukan pertanda buruk.


"Alesha." Maudy mengguncang tubuh Alesha saat melihat tatapan mata Alesha yang lurus dan kosong. "Kau kenapa?"


Alesha terhenyak saat menyadari kalau temannya itu bertanya. "Apa kenapa?" Tanya Alesha namun dengan tatapan yang masih datar dan kosong.


"Ada apa denganmu?" Tanya Merina.


"Aku?" Alesha menunjuk dirinya sendiri. "Ada apa denganku?"


"Kau aneh, Alesha." Komen Nakyung.


Alesha menggelengkan kepalanya dan mengerjapkan matanya beberapa kali. Tunggu, seperti ada yang salah. Ada apa dengannya? Firasat buruk tiba-tiba saja membuat gundah hatinya.


"Kau takut ya?" Merina mendekati Alesha dan menyentuh pipi temannya itu. "Wajahmu sedikit pucat."


"Mungkin dia gugup." Potong Nakyung. "Wajar saja sih, ini pertama kalinya untuk kita. Hanya nikmati saja, semua sudah ditanggung oleh WOSA, jika terjadi suatu hal yang buruk maka WOSA yang akan bertanggung jawab." Nakyung mencoba untuk sesantai mungkin.


Dan ya, itu cukup membuat sedikit ketenangan dalam diri Alesha. WOSA sudah menanggung semua dan memastikan kalau tidak akan ada hal buruk yang terjadi, maka WOSA yang akan bertanggung jawab.


Hal yang serupa pun Jacob rasakan malam ini. Sedari tadi ia terus saja membulak-balikkan tubuhnya yang gelisah diatas kasur besarnya. Seperti ada hal yang salah dan begitu mengganggu, Jacob tidak dapat merileksasikan dirinya.


"Ada apa?" Gumamnya. Refleks, Jacob menggigit bibir bawahnya. Hatinya benar-benar tidak tenang, dan tiba-tiba saja ia teringat pada Alesha.


Tubuh Jacob menegang. Apakah itu sebuah firasat? Kalau ya maka Jacob tidak akan membiarkan gadisnya untuk kembali terjerumus dalam masalah. Hawa panas menyekap tubuh Jacob, pahala ia tidak memakai pakaian, hanya celana joger panjang saja, suhu ruangan juga sangat sejuk, namun kenapa malah sensasi panas yang Jacob rasakan?


Jam berapa sekarang? Jacob melihat ke arah dinding.


"Jam sepuluh lewat."


Dengan sigap, Jacob segera meraih ponselnya. Mungkin Alesha belum tertidur. Pikirnya.


Mode panggilan video ternyata. Jacob cemas dan entah kenapa tidak biasanya ia menelpon Alesha, apalagi dengan panggilan Video.


"Hallo, Mr. Jacob, ada apa? "


"Alesha, kau baik-baik sajakan? "


"Iya aku baik."


Tenang rasanya saat Jacob dapat melihat wajah Alesha melalui panggilan video yang ia lakukan. Tetapi kondisi kamar mess Alesha sudah gelap dan hanya lampu redup saja yang menyala, jadi Jacob masih dapat melihat dengan jelas wajah Alesha. Mungkin yang lain sudah tertidur.


"Apa kau sudah tidur tadi, Al? "


"Tidak, yang lain sudah, tapi aku belum, aku tidak bisa tidur, Mr. Jacob."


Melalui panggilan video itu, Jacob dapat mengambil kesimpulan kalau suatu hal sedang mengganggu pikiran Alesha. Buktinya adalah ekspresi wajah Alesha yang menunjukan sebuah rasa kerisauan.


"Kenapa memangnya? "


"Aku tidak tahu, mungkin aku akan bergadang malam ini. Aku takut, Mr. Jacob."


Ucapan Alesha barusan membuat Jacob semakin dilanda keresahan. Ingin sekali rasanya ia membawa Alesha ke kamarnya dan menenangkan gadisnya itu dan menghantarkannya kedalam mimpi.


"Kau takut kenapa? "


"Entah, aku merasa seperti ada sesuatu yang aneh dan mengganjal."


Kita sama, Al. Aku juga merasa gelisah.... Ucap Jacob dalam hati.


"Sudah coba untuk menenangkan dirimu? "


"Sedang aku coba, tapi aku tetap merasa tidak enak. Apa yang harus aku lakukan, Mr. Jacob? "


"Al, aku juga merasakan hal yang sama, aku juga gelisah dan tiba-tiba saja aku pikiranku malah mengarah padamu, maka dari itu aku langsung menghubungimu."


"Mr. Jacob, apa aku akan masuk dalam masalah lagi? Atau nanti saat ujian tes akhir.."


"Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu masuk dalam masalah lagi, Al. Kau akan baik-baik saja, ada aku dan yang lain, kau tahukan kalau teman-temanmu itu pandai bela diri sekarang? "


"Ya, tapi bukan itu masalahnya."


Nada bicara Alesha yang terdengar lirih membuat Jacob semakin menaruh rasa prihatin. Jika saja malam belum menunjukkan pukul sepuluh, mungkin Jacob akan membawa Alesha pergi ke taman untuk sama-sama menenangkan pikiran, namun salah satu peraturan WOSA adalah melarang anak murid untuk berkeliaran diatas jam sepuluh malam.


"Alesha, sandarkan ponselmu dipinggiran jendela kaca yang dingin, biarkan panggilan video ini berlangsung, aku akan menemanimu hingga kau tertidur, lalu setelah itu aku akan mematikan sambungannya."


"Tidak bisa, Mr. Jacob, aku tidak bisa tidur."


"Kau takut, Al, semakin kau terjaga maka kau akan semakin cemas, tidur sekarang dan berdoa yang baik-baik, aku akan menemanimu."


"Baiklah akan aku coba. "


Alesha pun segera menyandarkan ponselnya pada jendela kaca yang dingin sesuai dengan yang mentornya perintahkan.


" Tidurlah, Al. Kau butuh ketenangan sekarang."


Ucapan Jacob yang lembut sedikit menenangkan hati Alesha, namun tetap saja perasaan tidak enak itu enggan untuk pergi.


Alesha segera membaringkan tubuhnya dengan menghadap ke arah ponselnya.


"Tidak akan terjadi sesuatu yang buruk, itu hanya perasaanmu saja. Jangan lupa berdoa."


Alesha memejamkan matanya, mendengarkan dengan seksama suara penuh kelembutan yang mentornya keluarkan. Alesha bersyukur karna Jacob menghubunginya, hatinya benar-benar tidak bisa diajak kompromi, hingga dari tadi Alesha hanya bisa termenung sendirian.


"Aku akan menjagamu, Al. Maaf aku tidak ada disampingmu sekarang." Gumam Jacob tanpa mengeluarkan suara.


Kenapa perasaan ini sangat kuat? Aku tidak akan membiarkan Alesha jatuh dalam masalah lagi. Aku mencintainya, cukup aku dibuat menggila karna kejadian tujuh bulan lalu...... Ucap Jacob dalam hati.


Saat melihat tubuh Alesha yang merinding kedinginan melalui layar ponselnya, Jacob sungguh tidak kuat, ingin sekali ia menghangatkan tubuh Alesha dalam pelukannya.


"Udara dingin, selimuti tubuhmu dengan benar, Al."


Alesha mengangguk kecil. Ia semakin menarik selimutnya untuk menutupi seluruh anggota tubuhnya.


"Tidur yang lelap, Al, aku akan menunggumu."


Mr. Jacob, kenapa aku semakin yakin kalau kau memang menaruh rasa padaku? Kau merasakan kegelisahanku, apa mungkin perasaan kita saling terhubung? Aku tidak ingin berharap palsu. Tapi terima kasih sudah menemaniku malam ini.... Ucap Alesha dalam hati.


Saat ini kau mungkin belum mengetahuinya, Al, tapi cepat atau lambat kau akan menyadarinya. Aku mencintaimu, kenapa sulit sekali aku mengatakannya?......


Melihat Alesha yang mulai terlelap, akhirnya Jacob dapat menghembuskan napasnya dengan perasan yang lebih tenang. Tapi setelah beberapa detik berlalu, Jacob sadar kalau ternyata ia salah, Alesha masih belum juga terlelap.


"Mr. Jacob, matikan saja sambungannya, aku tidak mau mengganggu waktu tidurmu."


Seketika Jacob berseru saat mendengar ucapan Alesha barusan. "Tidak! Jangan matikan sambungnya. Aku tidak akan tenang jika kau belum tertidur."


"Aku akan tidur, tapi aku tidak enak jika seperti ini. Aku tidak ingin mengganggu waktu istirahatmu, aku matikan saja ya sambungannya, baru setelah itu aku bisa tertidur."


Jacob sendiri tidak yakin dengan ucapan Alesha barusan. Ia merasa Alesha berbohong hanya karna tidak mau mengganggu waktu istirahatnya.


"Tidak apa, Al, kau akan menambah kekhawatiranku jika kau mematikan sambungannya, setidaknya biarkan aku menemanimu, baru setelah kau tidur, maka aku akan tidur pula."


Mungkin mentornya itu benar. Alesha juga akan merasa sedikit tenang walau hanya ditemani melalui sambungan telepon saja.


" Baiklah. Terima kasih sudah mau menemaniku, Mr. Jacob. " Lirih Alesha. Matanya mulai terpejam agar alam bawah sadarnya bisa segera mengambil alih.


Jacob kini hanya dapat memperhatikan gadis kesayangannya yang terpejam melalui laya ponselnya. Ia belum mengantuk karna terus saja memikirkan Alesha.


Kedua pupil hitam Jacob tidak lepas dari objek manis yang sedang berusaha untuk mendapatkan waktu tidurnya. Selama beberapa menit Jacob hanya bisa memandangi wajah Alesha tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, ia tidak mau sampai membangunkan Alesha. Namun berbeda dengan hatinya, Jacob terus saja mengoceh didalam sana.


Perasaan kita sama saat ini, Al. Aku akan memastikan kalau itu hanyalah perasaan biasa saja dan aku tidak akan membiarkanmu terjerumus dalam masalah lagi, apalagi sampai terjadi sesuatu yang buruk. Aku mencintaimu.....


Dan akhirnya setelah lima menit berlalu, Alesha pun sudah berpindah kealam mimpinya, dan Jacob segera mematikan sambungan video panggilannya. Tapi sebelum itu, tidak lupa Jacob menggumamkan satu kalimat.


"Selamat malam, Lil Ale, aku mencintaimu, sayang."


***


Keesokan harinya, kegiatan para murid WOSA tidak berlangsung seperti biasanya. Hari ini tidak ada kegiatan belajar mengajar karna mereka harus mempersiapkan semua keperluan, terutama fisik dan mental.


Jadi para hari ini para mentor dikhususkan untuk memberikan bimbingan konseling pada anggota timnya agar dapat menjalankan tugas akhir semester dengan baik, dan selain itu hari ini juga harus dimanfaatkan oleh seluruh murid WOSA untuk menyusun strategi bersama anggota timnya masing-masing.


"Mr. Jacob, kita sudah siapkan semuanya." Ucap Bastian. "Aku sudah mengecek semua kebutuhan dan perlengkapan yang akan dibawa."


"Kau sudah susun rencananya?" Tanya Jacob.


"Rencana?"


"Ya, kau yang memimpin, aku tidak bisa membantu apapun selain mengawasi kalian."


"Owh, sepertinya sudah. Aku sudah melihat jalur-jalur yang akan digunakan oleh timku. Tyson, Aiden, Maudy yang akan menghalau tim Brandon, mereka akan dipimpin oleh Nakyung, sedangkan Aku, Mike, Lucas, Stella Merina, dan Alesha yang akan fokus mencari kartu memori itu."


Jacob mengangkat sebelah alisnya. "Kau yakin strategimu sudah pas?"


Bastian mengangguk yakin. "Aku sudah mengawasi dan mengetahui kemampuan anggota timku, jadi aku tahu posisi yang tepat untuk mereka dalam misi ini."


Sunggingan senyum merekah menghiasi wajah Jacob. Tidak pernah sia-sia ia dalam memberikan pelajaran dan pengarahan pada anggota timnya. Jacob setuju dengan strategi yang sudah Bastian buat saat ini, proposi yang tepat dan juga pas.


"Bas, kira-kira kita akan mengambil jalur yang mana? Lokasi kartu memori kita berada didekat bukit Hollywood, sekitar dua kilometer dari papan reklame besar Hollywood." Ucap Aiden sembari menunjukkan peta kota Los Angeles melalui layar tabletnya.


"Sepertinya aku sudah mengatakan pada Lucas tentang hal ini." Bastian menaruh jari telunjuknya pada salah satu sudut bibirnya.


"Kita akan melewati Santa Monica Boulevard, lalu memutar di Beverly Hills, kita akan buat anggota tim Brandon berputar-putar di sana, dan setelah itu kita akan menuju West Hollywood untuk langsung mencapai dikaki pegunungan Hollywood. Kau, aku dan Lucas bertugas untuk menghalangi anggota tim Brandon, lalu Alesha, Stella, dan Merina, mereka tidak akan bersama kita, mereka harus terus menuju bukit Hollywood untuk mengambil kartu memori itu." Lanjut Bastian.


Jacob yang mendengarkan dengan seksama apa yang Bastian ucapkan barusan seketika merasa bangga pada si ketua itu, dan Jacob berharap kalau rencana Bastian akan berjalan dengan baik.


Waktu pun kembali mengambil satu langkah yang membuat jarum pada jam mesti bergerak beberapa derajat. Matahari juga sudah memposisikan dirinya tepat ujung kepala hingga bayangan manusia pun bersatu dengan diri manusia itu sendiri. Siang ini di WOSA, dan siang besok lokasi sudah berubah.


Alesha masih saja memikirkan perasaannya yang semalam, walau sekarang ia sudah jauh lebih tenang. Namun terus dirinya bertanya-tanya, apakah nanti akan ada sesuatu yang buruk? Semoga saja tidak.


"Alesha, apa yang kau lakukan di sini sendirian?" Tanya Mike sambil menempatkan dirinya untuk terduduk pada bangku taman disebelah Alesha.


"Tidak ada." Jawab Alesha datar.


"Kau seperti orang yang sedang memiliki banyak beban, Al." Celetuk Mike.


Alesha pun membelokkan wajahnya untuk menatap Mike.


"Baiklah maaf, aku hanya bercanda." Lanjut Mike ketika menyadari Alesha sedang menatapnya. Padahal Alesha tidak memberikan tatapan tajam atau marah, ia hanya melayangkan tatapan datar pada Mike.


"Tidak, kau benar, Mike." Ucap Alesha.


"Maksudnya?" Tanya Mike.


"Aku memiliki firasat yang tidak baik dari semalam." Alesha masih tetap pada tatapan matanya yang tertuju pada Mike.


Mike pun akhirnya memberikan tatapan balik pada Alesha, namun dengan ekspresi bertanya. "Maksudmu?"


Alesha menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Aku tidak tahu, tapi aku merasa seperti..." Mata Alesha bergerak turun dan menatap ke arah bawah mencari-cari sambungan kata yang tepat untuk melanjutkan kalimatnya.


"Seperti?" Sebelah alis Mike bergerak naik.


"Seperti, kau tahu biasanya sebuah firasat adalah tanda kalau akan ada suatu hal yang terjadi, entah baik atau buruk, namun aku merasakan perasaan yang tidak enak."


Mike menghela napasnya dengan santai. "Itu hanya perasaanmu saja, Alesha."


"Bagaimana kalau benar terjadi?" Alesha menautkan kedua alisnya.


"Apa kau akan membiarkan hal yang buruk terjadi?" Tanya balik Mike sambil menatap santai pada Alesha.


Barulah setelah mendengar pertanyaan Mike itu pikiran Alesha sedikit terbuka. Mike pun terkekeh saat melihat raut wajah Alesha yang terlihat seperti sedang berpikir.


"Sudahlah, kau harus bersiap, mental dan keberanian, juga ketepatan, fokus, dan kecekatan adalah faktor utama. Jangan biarkan dirimu melemah karna pikiran itu, Al."


Mike bangkit dari duduknya. "Ayo, kita harus temui yang lain."


Alesha mangangguk kecil dan segera menuruti ucapan Mike.


Mereka pun akhirnya pergi menuju taman yang biasa mereka gunakan sebagai tempat belajar. Di sana, para anggota tim yang lain sudah berkumpul, tinggal tersisa Lucas dan Tyson saja yang belum muncul. Entah kemana perginya kedua anak itu.


"Alesha, kau baik-baik saja?" Tanya Jacob ketika melihat Alesha yang menghampirinya namun dengan ekspresi yang sulit diungkapkan.


"Tidak apa." Jawab Alesha sambil menyunggingkan senyum kecil yang singkat.


"Kau masih kepikiran yang semalam ya? Tenang saja, Al. Tidak akan terjadi hal buruk, percaya itu." Jacob lebih mengetahui apa yang Alesha rasakan saat ini. Ia pun memberikan usapan lembut pada puncak kepala Alesha.


"Kau akan mengawasi kamikan, Mr. Jacob?" Alesha menatap pasrah pada mentornya.


"Tentu saja, kalian selalu dalam pengawasanku." Jawab Jacob. Pertanyaan Alesha barusan cukup untuk membuat Jacob membentuk senyumannya. Tentu saja, Jacob tidak mungkin melepaskan pengawasan pada anggota timnya.


"Sekarang yang perlu kalian semua lakukan adalah mempersiapkan diri dan jangan panik, ini hanya tes, dan bukan misi sungguhan. Ya walau memang prakteknya akan seperti sebuah misi yang sesungguhnya. Tapi tenang saja, SIO sudah menjamin semuanya, tidak akan ada yang mengganggu kalian dalam ujian akhir semester besok." Ucap Jacob pada seluruh anggota timnya.


"Kau hanya gugup, Alesha, tenangkan pikiranmu dan semuanya akan berjalan dengan baik." Jacob menundukkan kepalanya agar dapat menatap kedua iris coklat Alesha. Ia menaruh kedua telapak tangannya pada bahu Alesha dan juga melayangkan sebuah senyuman manis berharap Alesha akan merasa lebih tenang.