May I Love For Twice

May I Love For Twice
Sleep In My Arms



Matahari sudah membawa dirinya menuju belahan bumi lain, dan saat ini gelap malam telah datang bersama rombongan bintang yang bersinar. Bulan menjadi lampu yang bergantung diatas langit gelap. Cahayanya menantulkan kerlap-kerlip saat bersentuhan dengan air laut. Udara begitu dingin saat angin laut menyapa Jacob dan Alesha yang sedang asik menikmati waktu berdua mereka.


"Ayo ikut aku." Ucap Jacob sambil beranjak dari ayunan yang ia duduk bersama Alesha. Ia menarik tangan Alesha lalu menggiring Alesha masuk ke dalam hutan. Alesha memeluk bonekanya dengan erat karna merasa takut dengan sekitarnya. Jacob membawa Alesha masuk lebih jauh ke dalam hutan. Alesha tidak tahu kenapa Jacob membawanya ke hutan yang gelap dan terasa mencekam itu. Bayangan sosok hantu yang ia temui di gedung tua waktu itu membuat ketakutan Alesha semakin bertambah.


"Mr. Jacob, ayo kembali, Alesha takut." Alesha menatap Jacob dengan tatapan takut dan memohon. Perasaan Alesha sudah tidak karuan. Suasana mencekam di dalam hutan itu membuat Alesha ingin kembali ke kamar messnya. Namun Jacob hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Tenanglah, jangan takut, tidak akan ada yang menyakitimu, aku hanya ingin membawamu kesuatu tempat." Ucap Jacob.


"Besok saja, Alesha takut kalau malam begini." Balas Alesha yang mulai merajuk.


"Tempat itu akan terlihat biasa saja kalau siang." Jacob mengusap pelan puncak kepala Alesha. "Kau tidak usah panik, aku tidak akan melakukan hal hal aneh padamu." Lanjutnya.


Alesha hanya mengangguk. Ia sedikit kecewa dengan jawaban Jacob yang menolak permintaannya untuk kembali.


"Bagaimana kalau kita tersesat?" Tanya Alesha sambil menatap sekelilingnya. Perasaan takut dan panik sudah masuk ke dalam diri Alesha. Bagaimana tidak? Malam seperti ini Jacob membawanya ke tengah hutan. Siapa yang tidak takut? Apa lagi Alesha masih belum tau pasti apa tujuan Jacob.


Jacob sendiri hanya tersenyum saat melihat ekspresi Alesha yang panik dan takut. Jacob membawa Alesha untuk berjalan lebih dalam lagi ke arah hutan. Ia ingin menghabiskan waktu selama beberapa saat lagi bersama Alesha ditempat ia dan Yuna pernah menghabiskan waktu bersama dulu. Dan sampailah mereka disebuah taman kecil di tengah hutan. Taman itu terlihat kotor dan acak-acakkan. Beberapa lampu kecil menghiasi sudut taman dengan nyala cahaya yang redup. Tepat di tengah taman itu ada sebuah rumah pohon berukuran mini yang berdiri tegak diranting pohon yang besar dan kuat.


"Tempat apa ini?" Tanya Alesha sambil memandang bingung ke arah taman yang ada dihadapannya.


"Ini taman yang aku buat sendiri tiga tahun yang lalu." Jawab Jacob.


"Kau yang membuat ini?" Alesha mengerutkan keningnya dan menatap bingung pada Jacob.


"Ya, aku membuat ini untuk merayakan hari ulang tahun Yuna waktu itu. Tapi sayang, seminggu sebelum hari ulang tahunnya, Yuna sudah terlanjur pergi." Jawab Jacob. Raut wajahnya menjadi murung dan tersirat kesedihan yang mendalam. Namun, sepersekian detik setelah itu senyum kembali tercetak diwajah tampannya. Jacob ingin menghilangkan kenangan pahit itu bersama Alesha.


"Naiklah, aku rasa tangga itu masih kokoh untuk diinjak." Ucap Jacob yang meminta Alesha untuk naik ke rumah pohon buatannya. Jacob ingin Alesha menjadi yang pertama naik ke rumah pohon buatannya karna sebelumnya Yuna tidak punya keberanian untuk naik ke rumah pohon itu.


"Kau yakin?" Bagaimana dengan bonekaku? "Tanya Alesha.


"Baby Ale biar aku yang bawa." Jacob segera meraih boneka yang sedari tadi Alesha peluk.


Alesha segera menghampiri pohon yang di atasnya terdapat rumah pohon mini. Ia memegangi tangga dari potongan kayu untuk memastikan kalau kayu-kayu itu masih kuat untuk dipijak.


"Kau bisa memanjatnya kan?" Tanya Jacob yang berdiri tepat di belakang Alesha.


Alesha menyeringai sambil menatap Jacob. "Memanjat pohon adalah keahlian Alesha." Ucap Alesha dengan penuh percaya diri.


Jacob terkekeh. "Kalau begitu cepat naik, aku akan menyusulmu."


Alesha mengedikan bahunya. Ia segera meraih kayu yang akan ia pijak untuk naik ke rumah pohon buatan Jacob. Kakinya mulai terangkat dari tanah. Satu demi satu kayu-kayu itu Alesha tapaki sambil terus memanjat untuk mencapai rumah pohon yang berada di atas kepalanya.


Beberapa lumut licin yang menempel pada kayu itu membuat Alesha sedikit kesulitan, tapi hal itu tidak membuat Alesha ragu untuk terus memanjat. Ada sekitar sepuluh anak tangga yang terbuat dari kayu yang harus dilewati agar bisa mencapai rumah pohon tersebut.


"Mr. Jacob aku sudah sampai!" Teriak Alesha dari atas rumah pohon.


Jacob tersenyum bahagia. Setelah tiga tahun, usahanya tidak sia-sia untuk membuat rumah pohon itu, walau bukan Yuna yang pertama menaikinya. Jacob segera menyusul Alesha yang sudah menikmati pemandangan langit malam dari atas rumah pohonnya.


"Bagaimana, bagus tidak?" Tanya Jacob yang baru saja sampai dan merangkak untuk mendekati Alesha.


Alesha mengangguk sambil tersenyum. Ia sangat suka memandangan langit malam dari rumah pohon buatan mentornya itu. Dengan leluasa matanya merekam semua sudut langit yang bisa dilihat. Pemandangan yang sangat indah seperti ini tidak boleh terlewatkan oleh Alesha. Jiwa alamiah Alesha keluar begitu saja saat ia memandang hamparan hutan dengan perpaduan malam yang dipenuhi oleh bintang sebagai manik-manik penghias. Rasa ketenangan dan kedamaian memasuki hati Alesha. Ia ingin berterima kasih pada Jacob karna sudah membawanya ke tempat seperti ini.


"Kau tau apa yang aku suka, Mr. Jacob, terima kasih sudah membawaku ke tempat ini." Ucap Alesha dengan lembut. Tatapannya bertemu dengan mata Jacob yang sedang menatap ke arahnya juga. Alesha tersenyum hangat. Kini Jacob bisa merasakan apa yang Alesha rasakan seolah batin mereka saling memberi sinyal satu sama lain.


Alesha bersandar pada dinding rumah pohon itu. Matanya masih terpaku pada langit malam yang sangat indah dan murni. Senyuman manis terukir dibibir Alesha saat Alesha membayangkan sesuatu yang membuatnya bahagia.


"Inilah yang aku harapkan saat masih ada Yuna dulu." Ucap Jacob dengan nada sedih. "Yuna pergi ke taman ini untuk yang pertama dan terakhir kalinya, dan setelah itu taman ini kehilangan pemiliknya." Rasa kesedihan yang mendalam terpampang jelas pada raut wajah Jacob saat ini. Taman dan rumah pohon yang Jacob buat khusus untuk Yuna sudah berubah, suasana kelam dan penuh penderitaan selalu Jacob rasakan saat ia datang sendirian ke taman itu. Jacob sudah putus asa awalnya, dan dia akan mengubah taman itu menjadi hutan seperti sedia kala lagi. Namun, saat Alesha datang dan memasuki hati dan pikirannya, di dalam hati Jacob tersirat sebuah keinginan kalau ia ingin membangkitkan aura bahagia dan ceria lagi di taman yang ia buat itu. Bersama Alesha, mungkin taman itu akan kembali indah.


"Aku turut berduka atas kepergian Yuna, kau pasti sangat mencintai Yuna." Ucap Alesha sambil menyentuh tangan Jacob. "Aku harap akan ada lelaki yang bisa mencintaiku seperti kau mencintai Yuna." Alesha mengalihkan pandangannya dan menatap langit. "Aku tidak mungkin berharap kalau lelaki itu adalah Adam, aku ingin melupakannya. Dia mencintai wanita lain, dan aku, tidak ada yang mencintaiku selain orang tuaku, Allah, dan diriku sendiri. Aku kadang merasa sangat sedih, aku sudah lama tidak mendapatkan kasih sayang yang tulus sejak orang tuaku meninggal. Kakekku sakit-sakitan, dan aku yang harus mengurusnya, saudaraku tidak ada yang perduli padaku. Aku selalu mengasihani diriku sendiri. " Butiran kristal cair mendadak terjun dan membasahi pipi Alesha.


"Aku rindu kasih sayang dari orang tuaku. Di dunia tempat aku tinggal ini hanya mereka sajalah yang benar-benar mencintaiku dan menyayangiku dengan tulus. Tapi aku tidak mempunyai banyak waktu bersama mereka, Allah lebih menyayangi mereka." Alesha memejamkan matanya dan merasakan beberapa butiran air yang terjun lagi melewati pipinya.


"Tidak ada yang benar-benar mencintaiku di sini setelah orang tuaku meninggal. Aku merindukan mereka." Alesha mulai terisak. Ia segera memeluk bonekanya lalu membenamkan wajahnya dibulu-bulu halus boneka itu.


Jacob terkesiap saat melihat Alesha yang lagi-lagi menangis dihadapannya. Ingin rasanya Jacob memeluk tubuh Alesha dan menenangkan gadisnya itu.


Kau akan segera mendapatkan seseorang yang benar-benar mencintaimu, Alesha, tunggu aku, setelah waktunya tepat, aku akan mencintaimu sepenuh hatiku, dan kau akan mendapatkan kasih sayang yang sudah lama tidak kau rasakan...... Gumam Jacob dalam hati.


Jacob merasa miris melihat Alesha yang menangis hingga sesegukan. Ia benar-benar tidak tega, dan hatinya terus saja memerintahkan Jacob untuk memeluk dan menenangkan Alesha.


"Kau akan segera menemukan kasih sayang dan cinta tulus yang sudah lama tidak kau rasakan, Alesha, kau harus percaya itu." Ucap Jacob seraya menyingkirkan boneka yang Alesha peluk lalu membawa Alesha masuk kepelukannya.


Jacob mengusap pelan punggung Alesha dengan penuh kasih sayang. "Tunggulah, kau akan segera mendapatkannya." Ucap Jacob yang berbisik pada telinga Alesha.


Keheningan dirasakan oleh Jacob saat angin berhembus kencang. Situasi seperti itu membuat Jacob lebih merasa tenang. Mendengarkan curhatan Alesha dan membawa Alesha pada pelukannya saat Alesha menangis. Jacob senang bisa menjadi teman curhat bagi Alesha. Ia harus bisa membuat Alesha senyaman mungkin agar Alesha bisa membuka hatinya. Setelah beberapa menit, Jacob merasakan tangisan Alesha yang perlahan memudar. Sesegukkan Alesha juga sudah tidak dirasakan lagi oleh Jacob. Perlahan, Jacob mengangkat kepala Alesha dan mendapati kalau Alesha sudah tertidur. Senyum kecil terukir dibibir Jacob saat tau kalau Alesha tertidur dalam pelukannya. Ia sudah berhasil menenangkan Alesha, dan itu membuat kebahagiaan tersendiri untuk hati Jacob. Ia segera membawa Alesha kembali kepelukannya. Rasa ingin memiliki dan mengklaim Alesha perlahan muncul dalam hati Jacob.


"Kau benar-benar membawa dunia baru untukku, Alesha, dan kau tidak boleh meninggalkanku dalam dunia itu. Aku tidak akan melepaskanmu saat hati dan pikiranku sudah sepenuhnya berada padamu. Tunggu aku, aku masih butuh waktu untuk meyakinkan hatiku lagi kalau aku memang benar-benar mencintaimu." Gumam Jacob pelan sambil mempererat pelukannya. "Tidurlah, aku yang akan menjagamu malam ini." Lanjut Jacob sambil mengelus pelan rambut Alesha yang terurai.


Malam itu membawa Alesha dan Jacob masuk kealam mimpi mereka masing-masing. Jacob yang memeluk Alesha pun ikut hanyut dalam tidurnya karna ia merasa begitu nyaman saat memeluk Alesha. Tangannya yang besar mampu melindungi Alesha dari dinginnya angin malam yang berhembus begitu kencang.


***


"Kita beritahu saja Mr. Jacob!" Usul Merina.


"Alesha membawa ponselnya kan? Coba telpon dia." Ucap Maudy dengan santai sambil menatap ke arah TV dan memakan popcorn yang ada dalam mangkuk besarnya.


"Aku sudah mencobanya, tapi Alesha tidak mengangkat sambungan telpon dariku." Balas Stella.


"Yasudah, telpon saja Mr. Jacob." Usul Nakyung dengan santai.


"Telpon Mr. Jacob?" Stella mengerutkan keningnya.


"Ya. Setidaknya kita tidak perlu jauh-jauh berjalan menuju ruangan Mr. Jacob hanya untuk memberitahu kalau Alesha belum kembali sejak tadi sore." Balas Nakyung sambil asik memainkan ponselnya.


"Ide bagus." Stella segera membuka ponselnya dan berniat untuk menelpon Jacob.


"Sama-sama." Ucap Nakyung yang mengharapkan kata terima kasih dari temannya itu.


***


Tring... Tring... Tring... Bunyi nada dering ponsel Jacob tanda kalau ada panggilan masuk.


Jacob segera membuka matanya saat kupingnya menangkap suara nada dering yang berasal dari ponselnya. Jacob mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang dipancarkan dari ponselnya itu.


"Stella, ada apa?" Jacob mengerutkan keningnya saat nama Stella muncul dilayar ponselnya.


Sebuah gerakan kecil dari Alesha membuat Jacob mengalihkan pandangannya pada gadis yang sedari tadi tertidur dipelukannya.


Perlahan Alesha membuka matanya lalu mengerjapkannya selama beberapa kali. Alesha bingung saat ia mendapati kalau dirinya sedang berada dalam pelukan seseorang.


"Mr. Jacob." Gumam Alesha pelan. Ia segera menaikkan kepalanya dan seketika matanya bertemu dengan mata Jacob yang sedang memandang ke arahnya juga. Mata Alesha membulat seketika saat menyadari kalau ia tertidur dipelukkan Jacob. Dengan sekali gerakan, Alesha segera melepaskan dirinya dari pelukan Jacob dan bergerak mundur hingga punggungnya menyentuh tembok kayu dari rumah pohon itu.


Ekspresi wajah Alesha terlihat panik dan syok. "Maaf, Mr. Jacob, aku-a-ku-tidak bermaksud-untuk- ter-tidur-di-pelukan-mu."


Jacob hanya tersenyum saat melihat ekspresi wajah Alesha yang panik dan syok. "Tidak apa-apa."


"Stella sudah menelponku, ia pasti ingin memberitahu kalau kau belum kembali sejak tadi sore." Ucap Jacob dengan senyum manisnya.


"Memang jam berapa sekarang?" Tanya Alesha.


"Jam sepuluh." Jawab Jacob.


Mata Alesha terbelalak seketika saat mendengar jawaban Jacob barusan. Jam sepuluh? Tiga jam lebih ia tertidur dalam pelukan Jacob.


"Mr. Jacob, kita harus kembali sekarang!" Ucap Alesha dengan panik seraya bergegas turun dari atas rumah pohon itu.


"Alesha, tunggu!" Saut Jacob yang kaget saat melihat Alesha yang tiba-tiba saja turun dari rumah pohonnya.


"Lemparkan bontot padaku, cepat!" Teriak Alesha yang sudah sampai di bawah.


Jacob segera menjatuhkan boneka itu ke bawah, dan dengan tepat Alesha berhasil menangkap boneka yang dijatuhkan oleh mentornya itu.


"Ayo, Mr. Jacob! Kita harus cepat!" Ucap Alesha sambil menarik tangan Jacob, padahal Jacob baru saja menginjakkan kedua kakinya ditanah.


Alesha begitu panik hingga ia menarik tangan Jacob untuk berlari.


"Alesha, pelan-pelan." Ucap Jacob disela-sela larinya. Alesha menarik lengan Jacob agar bisa berlari secepat mungkin. Jacob sendiri merasa biasa saja, ia malah menikmati saat lengan Alesha yang menarik lengannya.


"Aduh!" Alesha terjatuh ketika kakinya tidak sengaja menabrak batang pohon kelapa yang besar ditepi pantai.


"Alesha, kau tidak apa-apa?" Tanya Jacob yang panik saat melihat Alesha yang memegangi kakinya yang tadi tersandung batang pohon kelapa.


"Aku tidak apa-apa. Ayo!" Alesha bangkit sebisa mungkin sambil menahan nyeri yang amat sangat dikakinya. Ia berusaha untuk berlari lagi, namun tidak sampai lima langkah Alesha kembali terjatuh. Ia meringgis sambil memegangi kakinya yang terasa nyut-nyuttan.


"Mr. Jacob, perut Alesha sakit." Ucap Alesha sambil menyentuh perutnya yang masih ada jahitan bekas mengeluarkan peluru. Alesha meringgis saat merasakan sensasi perih diperutnya dan nyeri dikakinya.


"Aku sudah bilang untuk hati-hati. Ayo!" Ucap Jacob seraya mangambil kedua lengan Alesha untuk dikaitkan dilehernya. Jacob membantu Alesha dengan menggendong Alesha dipunggungnya.


"Mr. Jacob, perut Alesha sakit." Ringgis Alesha.


"Tidak apa-apa, Alesha. Perutmu sakit karna tadi kau terjatuh dan jahitannya jadi tergoncang-goncang. Aku sudah memperingatimu untuk berhati-hati, tapi kau tidak mau dengar." Balas Jacob.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Tanya Alesha sambil menahan sakit diperutnya.


"Tidak ada. Diamkan saja nanti juga rasa sakitnya hilang." Jawab Jacob.


Jacob segera berjalan secepat mungkin. Ia ingin Alesha agar beristirahat secepatnya. Jacob sedikit khawatir saat Alesha bilang kalau jahitan diperutnya terasa sakit.


"Pelan-pelan jalannya, aku kesulitan memegang boneka ini, dan perutku sakit." Ucap Alesha.


"Baik, tuan putri Alesha." Ucap Jacob dengan gaya bicara seolah dia adalah pelayan putri disebuah kerajaan.