
Hari itu, sejak siang dan malam menjemput, Jacob sama sekali tidak membawa dirinya untuk keluar kamar. Ia enggan sebab kerinduan yang bergitu mendalam pada gadis tercintanya yang kini sudah hanya berbentuk kenangan samar berupa kabut yang bisa saja menghilang saat datangnya cahaya.
Berjam-jam dalam kamar dan bergelut dengan kenangan yang tak berperasaan. Mata sembab menjadikannya bukti betapa rintihan kerinduan Jacob begitu menyiksa dirinya sendiri.
Yuna hadir kembali dalam bentuk sesak yang menyakitkan. Peluang besar bagi Jacob saat hatinya sudah luluh pada gadis lain kini kembali hilang setelah nostalgia buruk yang sedang melanda dirinya saat ini.
Mengabaikan rasa rindu adalah kebodohan untuk Jacob, namun jika itu terus menerus terjadi maka Jacob akan kembali pada titik terdalam dari ruang kefrustasiannya.
Ia butuh sesuatu yang bisa membawanya bangkit dari candu rindu yang mematikan. Inginnya lupa pada gadis yang mentahtai hatinya, namun apa yang dapat Jacob lakukan selain beralih kelain hati?
"Aku merindukanmu, Yuna." Lirih Jacob dengan sisa-sisa suaranya.
Berbaring miring dan menatap wajah Yuna melalui foto adalah hal yang sedang Jacob hindari, namun kali ini ia kalah oleh rasa rindu yang membombardir pikiran serta jiwanya.
"Aku sangat mencintaimu, Yuna, tidak ada yang bisa menggantikan posisimu hingga sekarang." Lirih Jacob secara tidak sadar. Jacob kalut, kerinduan itu meracuni pikirannya dan kembali membawa Jacob pada masa Yuna, padahal jelas saat ini adalah masa yang berbeda, hatinya sudah memilih dan menetap pada Alesha.
"Tidak ada wanita mana pun yang mampu menaklukkan hatiku selain kau, sayang." Racau Jacob. Ia kehilangan kendali atas pikirannya, bahkan Alesha lah yang kini menjadi penakluk hati Jacob, namun sekali lagi rasa kerinduan itu mengubah jalur waktu hingga yang Jacob ingat saat ini hanya lah kemesraannya bersama Yuna.
Jacob harus sadar bahwa masa Yuna sudah berakhir, dan kembali kemasa itu hanya akan membawanya kembali menuju keterpurukan. Di mana Alesha? Hanya dia yang bisa menarik Jacob dari alam ketidak sadaran. Jacob terlalu berhayal jika Yuna ada disisinya hingga senyum gila pun terukir.
Dan kini, waktu yang tepat sudah datang, sang selir yang sudah mengganti posisi sang ratu telah tiba.
"Mr. Jacob..." Panggil Alesha sembari membuka pintu ruangan mentornya itu.
"Aku ingin melihat ponselku." Lanjut Alesha yang masih belum menyadari ketidak hadiran Jacob di ruangan itu. Namun, setelah Alesha menutup pintu dan membalikkan tubuhnya agar menghadap ke arah meja kerja Jacob, ia tidak mendapati adanya sosok Jacob yang biasanya sedang mengerjakan tugasnya dimeja kerja.
"Mr. Jacob.." Panggil Alesha sekali lagi.
"Ish Mr. Jacob dimana sih!" Ucap Alesha yang mulai kesal karna tidak menemukan keberadaan mentornya itu.
"Lagian deh, hp aja segalaan disita, ribet banget buset dah." Ketika mengucapkan kalimat itu, secara tidak sengaja telinga Alesha menangkap sebuah suara lirih yang sedang berbisik dari balik pintu lain yang berada dalam ruangan itu.
Ya. Suara itu berasal dari dalam ruang kamar mentornya, Jacob.
"Aku merindukanmu, aku mencintaimu."
Suara itu kembali terdengar oleh telinga Alesha. Sebelah alis Alesha terangkat dan rasa penasaran pun muncul. Perlahan, langkah kakinya berjalan mendekat menuju pintu yang menjadi penghubung antara ruang kerja dan kamar tidur.
"Aku mencintaimu Yuna, aku tidak ingin ada wanita lain."
Racauan Jacob kini terdengar lebih jelas oleh Alesha saat gadis itu menempelkan sebelah telinganya pada pintu.
"Aku mencintaimu Yuna."
Alesha pun mengerutkan keningnya, mendengarkan dengan seksama setiap kalimat kerinduan yang mentornya itu utarakan untuk gadis yang dicintainya.
"Kau memaksaku untuk melupakan Adam, namun kau sendiri masih terpaku pada Yuna." Gumam Alesha.
"Kau sudah berapa tahun? Dan aku baru berapa hari?" Alesha menundukkan kepalanya. Ia mengingat Adam, ia merindukan Adam, ia ingin bertemu dengan Adam.
"Adam, Alesha kangen." Lirih Alesha. Tubuhnya pun berbalik dan bersandar pada pintu. Meratapi kerinduannya saat ini pada sosok lelaki yang tidak pernah meninggalkan hatinya tapi telah hilang bersama wanita lain.
Alesha sendiri tidak menyadari kalau pintu yang menjadi sandarannya itu tidak tertutup rapat. Pintu itu pun perlahan bergeser hingga membuat tubuh Alesha bergerak beberapa derajat kebelakang. Hingga akhirnya pintu itu bergeser semakin cepat dan membuat Alesha kehilangan keseimbangan atas tubuhnya.
Gubrak....
Alesha terjatuh dan tubuhnya menghantam lantai dengan cukup keras, namun karna hal itu pula Alesha sukses menarik paksa Jacob untuk kembali pada kesadaran sesungguhnya akan waktu dan masa yang sudah berganti. Masa Yuna yang sudah berlalu, dan masa kini yang menjadi acuan Jacob untuk membuka pintu demi kehidupan baru yang jauh lebih baik.
"Awww..." Ringgis Alesha ketika tubuhnya berbaku hantam dengan lantai yang begitu keras dan dingin itu.
"Alesha!" Pekik Jacob yang terkejut ketika melihat tubuh Alesha yang terjun menabrak lantai kamarnya. Jacob pun segera bangkit dari atas kasur dan berlari menghampiri Alesha.
Kini kesadaran Jacob kembali pulih karna kedatangan Alesha yang membantunya melepaskan rasa rindu yang begitu menyiksa terhadap Yuna.
"Aduh.." Alesha pun memijit punggungnya sendiri sambil menahan rasa nyeri yang kini menyambangi tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa bisa terjatuh?" Tanya Jacob yang cukup panik karna takut jika sesuatu yang buruk akan kembali menghampiri gadisnya itu.
"Aku bersandar pada pintu, tapi pintunya tidak tertutup rapat, jadi aku terjatuh." Jawab Alesha masih dengan ekspresi menahan rasa nyeri pada punggung dan tangannya yang dijadikan tumpuan ketika terjatuh tadi.
"Apa yang kau lakukan didepan pintuku?" Tanya Jacob lagi.
"Aku berniat mengambil ponselku, aku bosan, yang lain bermain ponsel masing-masing sedangkan aku hanya bisa terdiam menatapi layar TV yang tidak menyala." Jawab Alesha sambil melayangkan dua buah sorot mata yang tertuju lurus pada dua manik hitam milik Jacob.
Saat pandangan mereka saling bertautan, perasaan lain pun menyeruak memasuki diri Jacob. Lebih tepatnya bukan lah perasaan lain, namun perasaan baru yang sudah tumbuh sejak beberapa bulan lalu. Jacob sadar kalau yang ada dihadapannya ini adalah gadis yang semakin mengambil alih posisi Yuna dalam hatinya. Mata Jacob sedikit berbinar karna ia bisa kembali bangun dari memori kelam yang sejak beberapa jam lalu menariknya lagi untuk masuk menuju kerinduan tak berarti yang sangat menyiksa.
Alesha benar-benar datang dan membawa Jacob untuk keluar dari ruang sunyi yang dipenuhi oleh kefrustasian akibat kambuhnya ingatan masa lalu yang menghasutnya untuk kembali terjerumus pada kenangan kasih yang menyiksa. Jika saja Alesha tidak datang mungkin saat ini Jacob masih meracau tidak jelas dan meratapi nasib menyedihkan yang sudah berlalu.
"Kau menangis ya, Mr. Jacob?" Tanya Alesha yang mengusik kefokusan Jacob untuk terus terbawa arus gravitasi kuat yang dihasilkan oleh kedua iris coklat indah milik Alesha.
"Tidak apa." Jawab Jacob dengan senyum kecil yang terlihat manis namun tidak dapat menyembunyikan rasa kesedihan yang memenuhi tatapan mata Jacob.
"Maaf, aku tidak bermaksud untuk menguping, tapi aku mendengar ucapanmu tadi. Kau merindukan Yuna."
Sentakan kecil pun dilayangkan oleh sang lubuk hati agar membuat Jacob tersadar kalau ia sudah melakukan sebuah kesalahan. Seharusnya Jacob ingat, semua waktu yang sudah berlalu dengan Yuna hanya akan membuat kekacauan lagi dalam dirinya, sedangkan Alesha yang sudah jelas membantu Jacob untuk kembali bangkit malah dibiarkan begitu saja. Racauan apa yang tadi sudah Jacob katakan? Mengklaim Yuna kembali dan membuang Alesha dari pikirannya? Kini Jacob merasakan hatinya yang sedang memberikan banyak cambukan untuk dirinya sendiri.
Jacob dipecundangi oleh pikiran dan egonya sendiri, padahal hatinya sudah mengingatkan untuk melupakan Yuna dan melepas semua peristiwa buruk yang terjadi beberapa tahun lalu, tapi entah karna apa tiba-tiba saja pikiran Jacob mengambil alih semuanya dan melarutkan Jacob kedalam semi ruang yang senyap dan menyesakkan.
"Maaf mengganggu waktu kerinduanmu pada Yuna, kalau begitu aku balik lagi saja, dan ya aku minta ponselku, aku butuh sesuatu yang bisa membangkitkan moodku." Ucap Alesha sambil menggerakkan seluruh anggota tubuhnya agar bisa bangun dan berdiri. Alesha berniat untuk mengambil ponsel miliknya yang tergeletak diatas meja kecil disudut ruangan, namun tiba-tiba saja niat itu harus terhenti.
"Tidak!" Kini lengan Jacob menahan tubuh Alesha agar gadis itu tidak berbalik dan meninggalkannya. Jacob lelah, kerinduannya menimbulkan efek batin yang mendalam. Jacob butuh Alesha untuk berada disisinya kali ini, setidaknya sampai Jacob merasa lebih tenang.
"Kenapa?" Tanya Alesha sambil memiringkan sedikit posisi kepalanya. Tapi Alesha mendapati satu hal yang cukup membuatnya bingung. Kenapa Jacob, mentornya itu menatap Alesha dengan tatapan seperti orang yang sedang memohon?
Jacob mengedarkan pandangannya menuju sebuah jam yang menempel pada dinding.
"Apa?"
"Temani aku."
Antara memohon atau pasrah, Jacob sangat berharap jika Alesha mau menemaninya. Dan untuk Alesha, ia jadi tidak tega melihat ekspresi wajah mentornya kali ini, sorot mata Jacob menunjukkan pengharapan penuh atas jawaban dari Alesha.
"Y-ya, baiklah." Jawab Alesha yang setengah ragu dan bingung.
Binar pelangi pun seketika timbul pada kedua sudut celah mata Jacob setelah Alesha memberikan jawaban yang diharapkan. Lengkungan senyum juga ikut tercipta seiring kembalinya rasa bahagia yang disebabkan oleh hadirnya si gadis kesayangan.
"Tapi ponselku?"
"Akan aku berikan nanti."
Jacob pun membawa Alesha untuk mulai berjalan keluar ruangan dan menyusuri koridor serta taman-taman indah yang berada di WOSA.
Selama berjalan beriringan, Jacob enggan melepaskan lengan Alesha dari genggamannya karna hal itu bisa saja memutus aliran ketenangan yang saat ini sedang Jacob resapi. Alesha yang datang diwaktu yang tepat, Jacob benar-benar harus bangkit dan keluar dari kerinduannya pada Yuna. Hanya Alesha yang mampu, Jacob hanya bisa melupakan Yuna jika ada Alesha disebelahnya, mungkin saja Alesha memanglah obat dan jalan yang mesti Jacob perjuangankan agar kenangan Yuna tidak lagi menyiksanya.
Terpaan angin malam yang sejuk membuat Jacob dan Alesha sama-sama menyedipkan kelopak mata mereka, menghalau udara yang bisa saja menusuk-nusuk bola mata mereka.
Langkah mereka terus berlanjut hingga Jacob menemukan tempat yang menurutnya tepat untuk ia habiskan waktu berdua bersama Alesha. Tepi pantai yang begitu damai bersama senandung angin yang bergelombang, juga tidak kurang dari lautan bintang yang kini menjadi penonton dari manisnya pertunjukan waktu yang Jacob dan Alesha miliki hanya untuk berdua.
Jacob membawa Alesha untuk terduduk di ujung jembatan kayu yang berdiri kokoh diatas pasir dasar laut yang memiliki kedalaman air sekitar dua meter. Layar lebar cakrawala malam diibaratkan dinding tiada batas yang mustahil untuk diukur ketebalannya. Namun Jacob dan Alesha tetap menikmati waktu mereka, melewati setiap detik dan menit. Kaki mereka menggantung diatas air laut yang begitu jernih dan bersih.
Alesha masih tetap merapatkan bibirnya. Lidah yang kaku untuk mengucapkan kalimat basa-basi menjadi alasan utama untuk Alesha. Tidak biasanya Alesha merasa canggung seperti ini saat berada dekat dengan mentornya, sedang hal yang berbanding terbalik terjadi pada Jacob. Ia sangat menikmati waktunya bersama si manis muda selir hatinya.
Jacob mendapatkan ketenangan dan ketentraman. Hati dan pikirannya terasa lebih selaras dan terbuka.
"Terima kasih, Al." Ucap Jacob dengan pandangan yang masih menatap lurus ke arah perairan luas yang membentang dengan lebar hingga kepelosok sisi bumi yang lain.
"Apa?" Alesha mengerutkan keningnya ketika mendengar ucapan Jacob barusan.
"Terima kasih kau sudah datang padaku." Kini Jacob membelokkan kepalanya dan menatap pada Alesha.
Senyum tulus terus saja Jacob berikan pada Alesha, namun hal itu tidak membuat Alesha membalas balik ketulusan senyum yang mentornya itu berikan. Malah ekspresi bingung semakin tercipta pada setiap inchi wajah Alesha yang mulai putih pucat akibat paparan angin laut yang sangat terasa dingin.
"Kau benar, aku memang merindukan Yuna, dan aku menangis karna siksaan batin setelah kepergian Yuna beberapa tahun lalu. Tapi kau datang, dan membangunkanku agar kembali tersadar kalau waktu sudah berbeda."
Jacob mengembalikan posisi wajahnya agar menatap pada lautan air yang berada dihadapannya.
"Lambat laun, Yuna dan semua kenangannya sudah pergi meninggalkanku. Aku sadar itu terjadi, dan aku sadar kalau perasaanku pada Yuna semakin hampa dan kosong, namun tadi sungguh, aku dipecundangi oleh pikiran, dan khayalanku, padahal aku tahu dan aku sudah menyadari kalau masa kefrustasian dan keterpurukanku sudah berakhir."
Kembali lah sorot iris hitam milik Jacob mengunci kedua manik indah milik Alesha.
"Masa baru sudah datang, dan kini sedang aku hadapi. Aku bahagia saat aku menyadari kalau hatiku sudah mengikhlaskan Yuna, namun memang terkadang pikiranku bertindak sesukanya hingga aku merasa kalau semua masih sama, aku masih belum bisa bangkit dari keterpurukanku."
Jacob mendekatkan wajahnya beberapa centi menuju Alesha. Tarikan kuat dari mata Jacob membuat Alesha tidak bisa berkutik, mentornya itu benar-benar membuat Alesha jatuh jika mereka sudah saling berpandang.
"Aku bahagia karna kini waktu dan duniaku sudah berubah dengan hadirnya takdir baru yang wajib aku perjuangankan." Tatapan penuh arti kini menyeruak dalam sorot mata Jacob.
Aku mencintaimu, Ale.... Kini hati Jacob lah yang berbicara.
"Aku juga sama, aku selalu berharap agar bisa melupakan Adam, tapi aku tidak bisa." Balas Alesha sembari melepaskan kedua lengannya dari dekapan ruang telapak tangan Jacob.
"Aku mungkin butuh beberapa tahun agar bisa melupakan Adam."
Beberapa saat lalu adalah waktu yang cukup indah dan menenangkan untuk Jacob, tapi kini sulutan emosi mulai naik ketika Alesha melibatkan nama Adam dalam momen itu. Sungguh Jacob sudah sangat muak jika Alesha terus saja dibayangi oleh Adam. Jacob tidak suka jika Alesha terus menerus meratapi perasaan cintanya yang tidak dibalas oleh Adam. Jacob panas. Silahkan anggap Jacob egois, tapi keposesifan Jacob kini memuncak, Jacob tidak mau mendengar lagi nama Adam, Jacob tidak mau Alesha untuk terus terikat dengan lelaki itu, dan Jacob juga akan memaksa Alesha agar secepat mungkin melupakan Adam. Jacob tidak mau ada nama Adam dalam hati atau pikiran Alesha.
"Kau harus secepatnya melupakan Adam jika kau tidak mau sepertiku, terpuruk selama bertahun-tahun hanya karna gagal melepas perasaan cinta yang sudah melekat." Balas Jacob dengan datar dan dingin.
"Aku sudah berusaha, tapi aku tidak bisa jika harus cepat-cepat malupakan Adam. Aku sangat mencintainya, Mr. Jacob."
"Tapi kau harus melupakan Adam!!" Bentakkan kecil pun terlepas dari dalam mulut Jacob. Ia tidak tahan untuk memendam emosinya kali ini. Alesha yang membuat Jacob tenang, tapi Alesha pula yang membuat Jacob naik pitam.
"Kenapa?" Tanya Alesha dengan ekspresi polos dan mengabaikan aura panas yang saat ini sedang melingkupi tubuh mentornya.
"Aku yang akan membuatmu melupakan Adam dengan waktu yang sangat singkat." Jawab Jacob sambil meraih kedua lengan Alesha dengan kasar. Genggaman Jacob yang sangat erat membuat Alesha mesti menahan rasa sakit yang menjalar disetiap jemarinya.
Alesha bertanya-tanya, kenapa Jacob selalu bersikap negatif jika ia membicarakan tentang Adam?
Tapi Alesha tidak mau terpaku dan membiarkan pikiran itu hanyut entah kemana. Yang Alesha rasakan saat ini hanya lah sentuhan angin yang begitu lembut dan membuat matanya tepejam dan terbuka secara perlahan. Belum lagi elusan halus yang Jacob berikan dari atas kepala hingga punggungnya semakin menambah sensasi kantuk yang hampir mengambil alih kesadaran Alesha.
Tapi tunggu?
Mata Alesha terpejam, tapi pikirannya fokus pada satu hal.
Mr. Jacob ngelus rambut sama punggung Alesha?..... Gumam Alesha dalam hatinya.
"Tidur lah, aku akan membangunkanmu jika sudah waktunya untukmu kembali ke kamar mess. Tapi sekarang tidur saja di sini, temani aku untuk lebih lama lagi, aku yang akan menjagamu."
Setelah mendengar ucapan mentornya itu, Alesha pun pasrah dengan rasa kantuk yang menekan tubuhnya untuk luluh pada pelukan Jacob yang hangat. Ini adalah kali kedua untuk Alesha tertidur dalam dekapan mentornya. Hati Alesha pun tidak dapat menolak, padahal Alesha ingin sekali membuka matanya dan menjauh dari pelukan Jacob, tapi apa daya Alesha yang kini sudah terpenjara oleh kenikmatan angin malam yang mengantarnya ke pulau mimpi.
Alesha pikir tidak ada salahnya jika ia kembali tertidur dalam pelukan mentornya, karna dengan begitu Alesha dapat kembali merasakan kasih sayang dan perhatian lembut yang sudah sangat lama tidak Alesha dapatkan. Berada dekat atau pelukan Jacob membuat Alesha sangat nyaman dan betah. Jacob membuat Alesha kembali merasakan nikmatnya kasih sayang dan perhatian yang selama bertahun-tahun tidak pernah Alesha dapatkan. Alesha bersyukur, akhirnya hal yang selama ini selalu ia harapkan sejak kematian orang tuanya dapat kembali dirasakan melalui sikap mentornya.
"Aku hanya ingin kau menemaniku, Alesha. Tapi tidak apa jika kau mengantuk, tidur saja, aku bersamamu." Ucap Jacob.
Ujung dari jembatan kayu yang berdiri diatas air laut menjadi tempat dimana terdengarnya tepuk tangan dari jutaan bintang setelah pertunjukan hangat yang Alesha dan Jacob persembahkan. Bulan terang yang menggantung diantara langit gelap pun turut menyaksikan kejadian tersebut.
Jacob tahu, gadisnya itu membutuhkannya untuk memberikan segala macam perhatian, cinta, serta sayang. Maka dari itu, Jacob akan berusaha untuk semakin menumbuh besarkan perasaannya terhadap Alesha. Jacob ingin melihat Alesha bahagia dengan segala kasih yang pastinya akan Jacob berikan.
Malam semakin berlanjut, udara dingin semakin menusuk kulit. Setelah hampir satu jam lebih Alesha tertidur dengan tenang, Jacob memutuskan untuk membangunkan gadis itu. Jacob tidak ingin menanggung resiko yang akan Alesha dapatkan jika terlalu lama berada di tempat dengan udara yang amat dingin.
Tapi sebelum membangunkan Alesha, ada hal satu hal yang Jacob lakukan pada gadis itu. Satu kecupan kecil Jacob daratkan pada puncak kepala Alesha. Betapa ingin Jacob segera menikahi Alesha, hasratnya sangat tinggi dan itu membuat Jacob tersiksa karna harus menahannya. Tapi Jacob akan bersabar. Yang penting sekarang adalah keberadaan Alesha yang tidak boleh Jacob lepaskan, selir manis itu akan segera memperkokoh tahta ratu dalam hati Jacob, dan untuk Yuna? Jacob harus melupakannya agar hidupnya dapat berubah menjadi lebih baik, juga sekarang ini Yuna sudah tidakkah lagi berbentuk dalam hatinya, malah kabut menyakitkan selalu Jacob rasakan apabila Jacob berusaha untuk mengembalikan Yuna dalam hatinya. Tiga tahun yang berat bagi Jacob untuk bisa melepas Yuna, dan sekarang setelah hatinya sudah mengikhlaskan Yuna, Jacob hanya tinggal berhadapan dengan pikirannya yang selalu saja membawa Yuna kembali bersama rasa sakit yang menyusahkan.