
Suasana kota Bandung cukup ramai saat malam dengan banyaknya kendaraan yang berlalu-lalang, belum lagi para anak muda yang sedang asik bermain atau sekedar menghabiskan waktu mereka bersama teman masing-masing.
Lalu disudut lain, ada seorang gadis yang memakai kerudung pink pastel sedang terduduk disebuah bangku disudut taman di kota Bandung. Gadis itu begitu asik sambil menulis sesuatu dibukunya.
"Alesha!" Panggil seseorang. Gadis berkerudung pink pastel itu pun menoleh.
"Alesha, ayo yang lain udah nunggu." Ucap seseorang itu. Alesha mengangguk sambil tersenyum.
Saat ini, Alesha sedang berada di Masjid Raya Bandung. Ia dengan kumpulan para mahasiswa Bandung sengaja membuat acara amal untuk berbagi dengan anak yatim piatu dari beberapa panti asuhan yang ada di wilayah kota Kembang tersebut.
Kini, Alesha dan yang lain sudah berkumpul tepat di halaman masjid yang begitu besar dan luas. Seluruh anak yatim piatu dari berbagai panti asuhan juga sudah datang dan mengambil tempat masing-masing di halaman masjid tersebut. Lalu selang beberapa menit kemudian salah satu ketua BEM dari Universitas terkemuka pun membuka acara santunan itu.
Alesha sangat bahagia karna ia bisa membantu banyak anak yatim piatu. Alesha ingin sekali membahagiakan anak-anak yatim piatu itu karna Alesha tau bagaimana rasanya ditinggal orang tua. Alesha pun merekahkan senyum damai yang manis saat melihat wajah ceria anak-anak yatim piatu yang sedang tertawa ria.
Malam yang sangat membahagiakan untuk Alesha dan yang lain juga. Penuh dengan hiburan, candaan, dan berbagai permainan untuk membahagiakan anak-anak yatim piatu itu. Ada sekitar lima ratus anak yatim piatu yang diundang dan datang keacara santunan tersebut.
Acara pun terus berlanjut hingga berakhir pukul sembilan malam. Semua anak-anak yatim piatu itu harus segera kembali ke panti asuhan masing-masing karna malam yang semakin larut.
"Sha, ibu kosan nelpon, dia bilang ada cowo yang nyariin kamu, trus ibu kosan juga bilang kalau cowo itu bakal tunggu kamu di taman Asia Afrika." Ucap seorang gadis yang merupakan teman kosan Alesha, yaitu Nina.
Ya, sejak Alesha pulang ke Bandung tiga bulan lalu, Nina memutuskan untuk tinggal bersama Alesha disebuah kosan yang terletak tidak jauh dari kampus tempat Nina menempuh pendidikan selanjutnya.
"Siapa?" Tanya Alesha.
"Gak tau, kayanya kamu mending duluan aja deh, aku mau urus tugas skripsi dulu sama yang lain, paling aku pulang besok." Jawab Nina.
"Yah, berarti malem ini aku tidur sendiri dong." Alesha memajukan bibirnya, wajah kecewa terlihat tampak jelas pada Alesha.
"Hehe, sorry, Ale." Nina tersenyum. Ia tahu kalau temannya itu tidak mau dan tidak bisa jika harus tidur sendirian di kosan mereka, kecuali dalam keadaan mendesak seperti ini.
"Yaudah deh, aku juga gak bakal langsung pulang, aku mau ke taman Asia Afrika dulu aja buat temuin orang yang nyariin aku." Balas Alesha sambil merapikan tasnya untuk memastikan kalau tidak ada barang yang hilang atau tertinggal.
"Tapi kok aku takut ya." Alesha menatap tidak yakin pada Nina. "Gimana kalo cowo itu penjahat?"
"Udah samperin dulu aja, takutnya penting, lagian kalo emang penjahat kan kamu bisa teriak kali." Balas Nina.
Alesha berpikir kembali untuk mempertimbangkan keputusannya. "Yaudah deh, liat dulu aja, takutnya orang penting juga."
"Yaudah gih sana, hus hus.." Canda Nina.
"Ish, ngusir?"
"Engga, hehe.." Balas Nina dengan senyum manisnya
"Yaudah, bye, aku pergi dulu ya, assalamualaikum." Ucap Alesha seraya bangkit dari tempat duduknya dan mulai melangkahkan kaki menuju jalan raya.
"Waallaikumussalam, hati-hati, manis." Balas Nina. Teman Alesha yang satu ini memang sangat suka meledek dan menggoda Alesha, entah atas dasar apa, tapi Nina memang suka memiliki teman seperti Alesha.
Ketika sampai dipinggiran jalan raya, Alesha pun segera memberhentikan sebuah angkutan umum yang biasa masyarakat Indonesia gunakan. Saat tubuhnya sudah memilih tempat untuk duduk di dalam angkutan umum itu, pikiran Alesha pun terfokuskan pada satu masalah. Siapa yang mencarinya? Kepenasaranan dalam hatinya semakin bertambah saat angkutan umum yang Alesha tumpangi sudah sampai pada tujuan. Untungnya jarak dari Masjid Raya Bandung ke taman Asia Afrika tidak jauh, hanya menghabiskan waktu selama beberapa menit saja.
Alesha pun turun dan memberikan sejumlah uang kepada sang supir. Proses transaksi antara pengemudi dan penumpang pun selesai. Angkutan umum itu kembali jalan, dan Alesha memandangi sekelilingnya. Satu pertanyaan lagi dan lagi muncul dalam benak Alesha saat ini, dimana orang yang mencarinya itu?
Situasi yang cukup sepi menimbulkan rasa takut dalam diri Alesha. Ia tidak biasa jika harus bepergian malam-malam sendirian. Kakinya pun melangkah tanpa arah, namun tatapan matanya masih mengawasi setiap sudut taman itu.
"Hello, Little Ale, i miss you so much." Sebuah bisikan lembut bergema tepat ditelinga Alesha, dan tiba-tiba saja ia merasakan ada dua tangan kekar yang melingkari pinggangnya. Sebuah pelukan hangat dari belakang yang diberikan oleh sosok pria tinggi besar yang tidak lain adalah mentor Alesha, yaitu Jacob. Alesha pun terlonjak kaget saat mendapatkan perlakuan dari mentornya itu. Ia membalikkan tubuhnya dan melihat sosok pria yang selama tiga bulan ini cukup membuatnya merasa rindu.
"Mr. Jacob!" Pekik Alesha yang tidak percaya dengan keberadaan Jacob yang saat ini berdiri tepat dihadapannya.
"Aku merindukanmu, Al." Ucap Jacob yang maju sekangkah untuk memeluk tubuh Alesha. Namun sayang, aksinya itu terhenti karna Alesha malah memundurkan kakinya sebanyak dua langkah kebelakang.
"Tidak, Mr. Jacob." Alesha mengangkat kedua telapak tangannya untuk memberi isyarat pada Jacob agar tidak melanjutkan niatnya untuk memeluk Alesha.
"Kenapa? Kau tahu, tiga bulan ini benar-benar membuatku frustasi karna tidak bisa bertemu denganmu, bahkan aku tidak pernah memiliki waktu untuk berkomunikasi bersamamu." Jacob merajuk, ia benar-benar merindukan gadisnya yang saat ini sudah memiliki gaya penampilan berbeda dari yang terakhir kali Jacob ingat.
"Tidak, aku tidak bisa sebebas dulu, aku sudah merubah diriku, tolong jangan samakan aku yang dulu dengan yang sekarang." Balas Alesha dengan senyum bersalahnya.
"Aku sangat merindukanmu, Al." Ekspresi wajah Jacob berubah menjadi sedih.
Alesha jadi merasa tidak enak pada mentornya itu. "Kau sudah bertemu denganku sekarang." Balas Alesha sambil tersenyum kecil.
"Aku benar-benar merindukan Aleshaku." Jacob meraih kedua telapak tangan Alesha dan menggenggamnya dengan erat. "Kau tidak tahu seberapa beratnya aku menjalani hari-hariku saat kau tidak ada."
Alesha hanya tersenyum mendengar ucapan mentornya itu.
"Aku mencintaimu, Al." Lanjut Jacob.
"Cukup-cukup, kau membuatku ingin tertawa." Balas Alesha yang mencoba untuk menahan tawanya.
"Kau tahu, aku begitu cemas denganmu, dan aku sangat takut terjadi hal-hal buruk padamu." Jacob membawa Alesha untuk berjalan mengelilingi taman itu tanpa melepaskan sebelah genggamannya pada telapak tangan Alesha.
"Aku baik-baik saja, Mr. Jacob, kau tidak perlu cemas." Balas Alesha.
Kedua insan yang kini sedang melepas kerinduan masing-masing pun terdiam selama beberapa saat, menikmati setiap momen kebersamaan yang sedang berlangsung. Malam begitu indah dengan banyaknya taburan bintang, waktu yang terasa berhenti membuat Jacob dan Alesha mendapatkan pelukan kehangatan dari perasaan mereka yang seolah bersatu padu. Tidak ada yang membuka suara, baik Jacob mau pun Alesha, mereka masih menjiwai proses pelepasan kerinduan yang selama ini terpendam. Sampai pada akhirnya otak Alesha menemukan sebuah pertanyaan.
"Mr. Jacob." Panggil Alesha sambil menatap bingung pada mentornya.
"Apa, sayang?" Tanya balik Jacob dengan arah mata yang masih terpaku dengan langit malam.
"Kau, bagaimana kau tahu tempat aku tinggal? Kau tahu kosan yang aku tinggali." Alesha mengerutkan keningnya.
Jacob terkekeh mendengar pertanyaan Alesha barusan. Bagaimana Jacob bisa tahu tempat Alesha tinggal? Sepertinya Alesha lupa kalau mentornya itu adalah seorang peretas handal.
"Aku selalu tahu keberadaanmu dan dengan siapa saja kau berteman." Jawab Jacob dengan senyum jahilnya. "Aku tahu semua tentang Nina, dan beberapa temanmu yang lain." Lanjut Jacob. Tentu saja Jacob dapat dengan mudah mengetahui semua hal yang Alesha lakukan selama tiga bulan terakhir ini. Anak buah Jacob tersebar disegala tempat, dan kalau hanya untuk seukuran kota Bandung saja, itu terlalu mudah untuk Jacob dan anak buahnya.
"Aku juga tahu kalau sebulan lalu ada seorang lelaki bernama Rama yang mendekatimu, dan aku sangat marah waktu itu, maka dari itu aku menyuruh orang-orangku agar memperingati Rama termasuk semua lelaki yang mendekatimu agar tidak melanjutkan niat mereka lagi untuk merebutmu dariku." Jacob mulai menurunkan ekspresi wajahnya, kini raut Jacob berubah menjadi malas karna sedang menahan sebuah rasa kesal dalam hatinya.
"Kau menyuruh seseorang untuk mengawasiku?" Pekik Alesha yang tidak percaya dengan ucapan mentornya barusan.
"Lebih tepatnya sepuluh orang." Koreksi Jacob.
"Apa?!" Seketika kedua ujung tengah alis milik Alesha pun nyaris bersentuhan. Gadis itu begitu terkejut setelah mendengar ucapan mentornya barusan.
"Aku hanya ingin menjagamu dari orang-orang jahat dan para pria yang berniat untuk mendekatimu, sayang." Jacob mencubit pelan kedua pipi Alesha dengan gemas. Gadisnya itu kini terlihat semakin cantik dengan balutan kerudung yang menutupi kepala dan rambutnya. Jacob bersyukur dengan Alesha yang berhijab saat ini, itu tandanya tidak ada lelaki lain yang dapat melihat kulit, rambut, dan bentuk tubuh indah Alesha selain Jacob nanti setelah mereka menikah.
"Mr. Jacob, kau terlalu berlebihan tahu tidak!" Alesha memajukan bibirnya dengan ekspresi wajah yang kesal. Ya, itulah salah satu kebiasaan lama Alesha yang tidak bisa diubah.
"Aku tidak berlebihan, Al, aku tidak suka melihat ada lelaki lain yang mendekatimu." Balas Jacob.
"Dengan cara menyuruh sepuluh orang untuk mengawasiku? Mr. Jacob, aku bukan anak kecil." Alesha melepaskan telapak tangannya dari genggaman Jacob.
"Tapi untukku kau tetaplah Alesha yang sama seperti dulu, gadis manis yang selalu membuat pikiran dan hatiku hanya tertuju padanya. Aku sangat mencintaimu, Al." Jacob kembali meraih kedua telapak tangan Alesha.
"Tolong jangan tolak aku, aku benar-benar mencintaimu, kau yang selama dua tahun lebih ini memenuhi seluruh ruang hatiku, menikahlah denganku." Untuk pertama kalinya Jacob mengatakan yang sesungguhnya pada Alesha tentang ketulusan niatnya agar dapat mempersunting gadis pujaannya itu.
Alesha pun tersenyum lalu berkata. "Jika kau benar-benar mencintaiku, aku ingin kita menjalaninya sesuai alur, aku tidak mau berpacaran atau pun memiliki pacar, dan aku juga perlu memantapkan hatiku."
"Aku akan selalu menunggumu, Al, berapa pun lamanya waktu yang harus aku lewati." Jacob membalas ucapan Alesha dengan setulus-tulusnya sebuah ungkapan.
Alesha menundukkan kepalanya sembari tersenyum kecil.
Ya Allah, kalau Mr. Jacob itu emang jodoh Alesha, tolong teguhin hati dan yakinin diri Alesha. Alesha gak mau kecewain Mr. Jacob, dia lelaki yang baik dan bertanggung jawab..... Doa Alesha dalam hatinya.
"Kau lapar?" Tanya Jacob.
"Sepertinya..." Alesha meletakkan satu ujung jari telunjuk pada sudut bibirnya.
"Baiklah, ayo kita makan." Jacob segera menarik tangan Alesha menuju mobil mewah miliknya yang sedang terparkir.
"Silahkan masuk, tuan putri Ale." Jacob membukakan pintu mobilnya dan mempersilahkan Alesha agar terlebih dahulu duduk dalam jok mobil bagian depan.
"Pakai sabuk pengamannya." Tanpa meminta izin terlebih dahulu dari Alesha, dengan leluasa Jacob segera memasangkan sabuk pengaman itu pada tubuh gadisnya.
"Sudah." Jacob tersenyum dan menatap pada Alesha.
"Jalankan mobilnya." Alesha mendengus sebal. Walau waktu sudah berlalu beberapa bulan, ternyata mentornya itu memang masih tetap menjengkelkan, dan tidak berubah juga.
"Oh ya, Al, bagaimana? Apa SIO sudah membuka proyek barunya?" Tanya Jacob sambil mulai menginjak gas agar mobilnya dapat melaju.
"Sudah, proyek baru SIO sudah rampung seminggu lalu, dan Mr. Thomson sudah menghubungiku kalau aku bisa mulai bekerja dengan yang lain tiga hari lagi." Jawab Alesha.
"Bagus kalau begitu, aku juga sudah menyelesaikan proyek baruku di daerah Puncak, Bogor dengan membangun sebuah resort dan apartemen mewah yang mungkin akan resmi berjalan sebulan lagi."
"Apa? Kau membangun resort dan apartemen mewah di kawasan Puncak?" Alesha mengerutkan keningnya seolah tidak percaya dengan apa yang mentornya katakan barusan.
"Ya, apa aku baru mengatakan ini padamu?" Jacob menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
"Kakakku yang meminta itu, ya maklum dia seorang CEO perusahaan yang menggantikan ibuku sekarang, jadi aku harus menuruti perintahnya." Lanjut Jacob dengan santai.
"Kenapa tidak kau saja yang menjadi CEO dari semua perusahaan milik orang tuamu?" Tanya Alesha.
"Aku?" Jacob menunjuk dirinya sendiri. "Tidak, aku tidak mau mengambil posisi sebagai CEO perusahaan selagi ada Mona. Dia anak pertama dan aku pikir dia lebih berhak untuk menjalankan perusahaan ibuku." Jawab Jacob.
"Tapi kau anak lelaki, Mr. Jacob, seharusnya tanggung jawab itu jatuh padamu."
"Seharusnya, tapi aku ingin biar Mona terlebih dahulu saja yang memimpin perusahaan ibuku saat ini, dia jauh lebih pintar dariku, otomatis dia jauh lebih baik dalam memimpin perusahaan." Balas Jacob. "Kau tahu stadion yang terletak dipinggir jalan tol?"
"Stadion GBLA? Gelora Bandung Lautan Api maksudku." Lanjut Alesha.
"Ya itu. Salah satu tujuanku datang ke sini adalah untuk menyewa stadion itu. Beberapa perusahaan ibuku akan melakukan launching dan promosi serentak secara besar-besaran di sana. Aku juga sudah mengusulkan pada Mona untuk mempromosikan resort dan apartemen baru dengan melakukan kerjasama bersama salah satu klub bola di Indonesia."
Alesha mengerutkan keningnya. Benarkah apa yang mentornya itu katakan?
"Klub bola mana?" Tanya Alesha.
"Masih aku pikirkan, karna hal itu pun masih bersifat wacana saja, tapi jika Mona menerima usulanku itu, yang pasti harus klub bola yang paling terkenal dan memiliki pendukung terbesar di Indonesia." Jawab Jacob. "Ini semua tentang bisnis, sayangku, kau harus lakukan banyak hal agar bisnismu maju."
"Jika kau mau, aku bisa memperkenalkan padamu dengan salah satu ketua kelompok suporter bola di Indonesia, aku punya banyak teman yang begitu fanatik dengan klub bola kebanggaan mereka." Tawar Alesha.
"Tidak usah repot-repot. Ini urusanku, biar aku saja yang melakukan semua itu sendiri, kau tidak usah ikut campur, oke." Jacob mengelus pelan puncak kepala Alesha.
Alesha memutar bola matanya dengan malas. "Baiklah."
Alesha dan Jacob pun tidak melanjutkan percakapan selama beberapa saat. Jacob sibuk mengatur laju mobil dan memperhatikan jalan raya padat yang ia lewati, sedangkan Alesha hanya memfokuskan pandangannya pada beberapa objek dengan melihat melalui kaca mobil.
"Stop, Mr. Jacob, stop!" Ucap Alesha secara mendadak dan cukup membuat Jacob kaget.
"Ada apa?" Jacob pun menepi dan menghentikan laju mobilnya.
"Tunggu sebentar." Alesha melepas sabuk pengamannya dan keluar begitu saja dari dalam mobil.
"Ara!" Panggil Alesha pada seorang gadis berambut pirang yang kini sedang berdiri sendiri di pinggiran jalan sambil asik memainkan ponselnya.
Setelah mendengar ada suara seseorang yang memanggilnya, gadis bernama Ara itu akhirnya menaikkan kepalanya dan melihat kesekeliling untuk mencari tahu siapa yang barusan memanggil namanya.
"Ara!" Alesha menepuk bahu Ara.
"Alesha, ada apa? And lu abis dari mana? Tumben belum pulang jam segini?" Tanya Ara.
"Itu bukan urusan lu. Sekarang ini gua mau tanya sama lu. Bocah teater gimana? Udah setuju sama teks drama yang waktu itu gua kirim?" Tanya Alesha.
"Oh ya itu! Mereka setuju, mereka bilang karya lu bagus, Al, jadi ya kemungkinan mereka bakal mulai ngegarap teater itu minggu depan." Jawab Ara dengan mata yang berbinar.
"Seirus? Alhamdulillah kalau gitu, asal lu tau aja, gua tuh bikin teksnya ampe bergadang dua hari dua malem." Balas Alesha yang sorot matanya tidak kalah berbinar dari Ara.
"Ya baguslah, jadi gak sia-sia. Oh ya satu lagi, lu bisa ikut kumpul ama anak tetaer gak besok?" Tanya Ara.
"Hmm, gak tau deh, kayanya gak bisa soalnya gua ada urusan." Jawab Alesha.
"Yah, yaudah deh nanti gua kabarin si ketua aja." Balas Ara.
Alesha tersenyum, lalu sepersekian detik kemudian ia memperkenalkan Jacob pada Ara.
"Oh ya, Ra, kenalin ini Jacob, men..."
"Pacar Alesha." Potong Jacob secara mendadak dan membuat Alesha tersentak setelah mendengar ucapan mentornya itu.
Alesha begitu terkejut ketika mendengar ucapan Jacob barusan.
Tunggu....
Jacob mengerti apa yang Alesha ucapkan? Kesal bercampur bingung. Bagaimana Jacob bisa tau apa yang Alesha ucapkan, dan kenapa Jacob dengan seenaknya mengaku sebagai pacar Alesha.
"Lu punya pacar, Al? Ko lu gak bilang sih? Wah parah." Tanya Ara dengan tatapan tidak percaya pada Alesha. Setahu Ara, Alesha itu tidak memiliki seorang pacar, jadi wajar saja Ara terkejut ketika mengetahui kalau lelaki yang berdiri dihadapannya itu adalah kekasih temannya.
"Oh ya, gua Ara, temen Alesha." Balas Ara sambil tersenyum balik pada Jacob.
"Enggak, dia bukan pacar gua, lu salah paham." Balas Alesha yang mulai gelagapan dan salah tingkah.
"Ya, lebih tepatnya calon suami Alesha." Sambung Jacob dengan begitu santai dan menghiraukan Alesha yang sudah pusing memikirkan bagaimana caranya agar membuat Ara tidak mempercayai apa yang Jacob katakan.
"Nooo! Itu gak bener, Ra, dia cuman bercanda." Sangkal Alesha.
Mulut Ara sedikit terbuka, ekspresi tidak percaya dan kaget semakin terlihat jelas pada wajah teman Alesha itu. "Lu mau nikah? Kapan? Alesha kenapa lu gak bilang sama kita?" Tiga pertanyaan yang terlontar dari dalam mulut Ara, bahkan wajah Ara pun menunjukan sebuah binar bahagia ketika mengetahui kalau Alesha akan segera menikah.
"Enggak, no, gak usah denger dia!" Alesha menunjuk pada Jacob yang berdiri disebelahnya, namun pandangan wajahnya masih tetap tertuju pada Ara.
"Ya, gak usah denger ucapan dia." Jacob balik menunjuk pada Alesha dengan gerakan yang begitu santai.
Alesha mendengus dan menahan emosinya yang kali ini mulai menunjukan tingkat kenaikan level. Bisa-bisanya Jacob, mereka baru saja bertemu, namun Alesha sudah dibuat geram karna tingkah mentornya yang mengaku sebagai pacar dan calon suaminya.
"Ra, gua pergi dulu ya, byee.." Alesha menyunggingkan senyum paksa pada Ara seraya mendorong tubuh Jacob untuk berjalan kembali kemobil, sedangkan Ara, gadis itu masih memandangi Alesha dengan tatapan terkejut namun bahagia. Teman mana yang tidak bahagia jika mengetahui kalau sahabatnya akan segera menikah? Tentu Ara merasa bahagia jika benar Alesha akan segera menikah.
"Kenapa kau bilang seperti itu tadi?" Alesha membidik dengan tajam kedua bola mata Jacob.
"Memangnya kenapa, kau kan memang kekasihku, dan kita akan segera menikah, sayang." Balas Jacob seraya menunjukan senyum menawannya.
"Iya tapi, astagfirullah, aargghh, Mr. Jacob!" Alesha menggertakkan giginya ketika menahan rasa geram pada pria yang kini ada dihadapannya.
"Kenapa? Seneng ya bentar lagi kita bakal nikah." Goda Jacob yang mulai melajukan kembali mobilnya.
"Mr. Jacob?" Alesha menatap bingung pada mentornya itu. "Kau bicara.." Alesha memiringkan kepalanya beberapa derajat dengan tetap memandangi Jacob yang masih tersenyum bahagia.
"Ya, aku belajar bahasa Indonesia dengan cukup baik, jadi aku bisa mengerti apa yang kau katakan bersama temanmu." Lanjut Jacob yang paham maksud dari ucapan Alesha tanpa perlu dilanjutkan oleh Alesha sendiri.
..................
.....................................
..................................................
Hola Hola, aku balik lagi dengan cerita yang pastinya akan berlanjut dengan alur yang akan berubah beberapa derajat dari season 1😊😊
Oke sebenernya aku sih cuman mau bilang aja (ralat, maksudnya numpang promosi🤭) buat kakak readers dan para author, kalo berkenan boleh lah mampir ugha ke cerita baru aku, judulnya Princess Swan's Love 🥳🥳
And then, makasih ugha yang masih setia baca dan mampir ke cerita aku yang satu ini, Luv U All 😘😍😍😍😍