May I Love For Twice

May I Love For Twice
Pengorbanan Terakhir Alesha



Ketika pagi hari tiba, semua anggota tim kembali bersiap dan berkemas untuk melanjutkan perjalanan.


"Kita kemana lagi sekarang?" Tanya Alesha.


"Utara. Ada bekas jejak penelitian di sana. Mungkin kita bisa menemukan petunjuk." Jawab Aiden.


"Baiklah, kalau begitu, ayo!" Saut Nakyung sembari memakai tas ranselnya.


Perjalanan pun kembali berlanjut. Bastian dan timnya menyusuri daratan bersalju itu dengan lancar tanpa adanya kendala. Mereka cukup menikmati perjalanan itu, kadang sesekali mereka berhenti didaratan yang tidak dilapisi oleh salju untuk meneliti dan mengecek sampel bebatuan yang ada di sana, tidak lupa Nakyung juga mencatatnya kedalam buku jurnal perjalanan ujian akhir semester.


Sepanjang perjalanan berlangsung, tim Bastian berhasil menemukan beberapa jenis sampel bebatuan yang memiliki tekstur dan ciri yang sedikit berbeda dengan bebatuan pada umumnya. Mereka membungkus beberapa sampel itu pada plastik-plastik tipis berukuran sedang lalu menyimpannya dalam ransel.


"Aku pernah membaca disebuah artikel yang mengatakan kalau gunung Everest dulunya terletak di dalam laut. Kalau tidak salah gunung everest mulai tumbuh sekitar 60 juta tahun yang lalu. Namun batu kapur dan batu pasir yang ada di puncak Everest diketahui pernah menjadi bagian dari lapisan sedimen di bawah laut sekitar 450 juta tahun yang lalu,." Ucap Alesha.


"Itu berarti pegunungan Himalaya berada didasar laut dulu?" Saut Maudy.


"Ya. Dan itu berarti kita juga sedang memijaki dasar laut sekarang." Ucap Merina.


"Hanya perbandingan waktu saja yang berbeda, sekarang air lautnya sudah menyusut dan Himalaya bukan lah dasar laut lagi, malainkan daratan tertinggi di dunia." Sambung Mike.


Penelusuran demi penelusuran, setiap inchi dalam langkah yang sudah tertapaki memberikan kesan yang sangat menakjubkan. Mereka menjalani tugas dan ujian akhir itu dengan penuh semangat, tekad, dan canda gurau juga tentunya.


Cara mereka menikmati kebersamaan dan kekompakkan begitu memberikan dampak yang positif, terlebih lagi sang ketua yang sukses memimpin dan menjaga timnya.


Dan malam ini, adalah malam terakhir untuk anggota tim Bastian menjalani ujian akhir mereka. Sangat tidak terasa dan cukup disayangkan. Padahal mereka sudah sangat menikmati petualangan itu, bahkan mereka pun sudah menemukan beberapa petunjuk untuk membawa mereka menuju lokasi di mana bongkahan meteor itu berada. Namun, waktu mereka telah habis, dan sang mentor pun memaksa mereka untuk kembali.


Tapi usaha mereka selama tiga hari itu cukup membuahkan hasil, berkat ilmu pengetahuan, wawasan, dan praktek keras yang setiap hari mereka jalani, tim Bastian sukses menemukan beberapa serpihan kecil yang merupakan potongan atau kikisan dari batu meteor yang asli. Kecerdasan dan ketelitian tinggi dari remaja-remaja terbaik itu tentunya membuat sang mentor bangga. Mr. Frank dan Mr. Thomson pun sama bangga dan bahagianya, setelah mereka mendengar kabar kalau anggota tim Jacob berhasil menemukan kerikil kecil yang merupakan serpihan dari batu meteor yang dicari itu. Begitu pula anggota tim Eve, mereka pun telah menemukan bebatuan kerikil kecil yang merupakan serpihan dari batu meteor yang asli.


"Tidak salah bukan prediksiku mengirim dua kelompok itu ke Himalaya?" Ucap Mr. Frank dengan bangga.


Mr. Thomson yang berada disebelahnya turut menyungginkan senyuman karna merasa bangga pada anak asuh Eve dan Jacob.


"Setelah ini kita akan langsung kirim beberapa ilmuan untuk meneliti wilayah yang sudah dilewati oleh tim Jacob dan Eve." Sambung Mr. Frank.


Kembali lagi menuju Himalaya. Kini anggota tim Bastian sedang memandang langit malam yang begitu indah. Rasanya sangat berbeda, menyatu dengan alam membuat jiwa terasa tenang. Duduk dipinggiran pegunungan, beralaskan salju tebal dan lembut. Sangat sempurna.


Mereka begitu fokus menikmati pemandangan alam dengan pikiran dan perasaan masing-masing, hingga akhirnya setelah malam berada dibatas pergantian hari, mereka pun memutuskan untuk kembali ke tenda milik sendiri-sendiri dan mulai membawa diri untuk beristirahat.


"Diam! Jika kau berteriak atau meronta, kau akan mati sekarang juga!" Ucap Vincent yang membekap mulut Alesha.


Mata Alesha membulat sempurna dengan perasaan terkejut dan takut yang saling bercampur aduk. Bagaimana bisa tiba-tiba ada Vincent di sana? Begitulah pikirnya.


"Ikuti aku, maka nyawamu akan selamat!" Vincent menarik paksa tubuh Alesha sembari terus membekap mulut gadis itu.


Alesha tidak tahu apa yang akan terjadi padanya karna sekarang ia sedang dibawa berjalan menjauhi tenda-tenda yang ditempati oleh timnya.


Setelah dirasa cukup jauh, atau ya mungkin sekitar satu kilometer dari lokasi tenda-tenda anggota tim Alesha berada, Vincent pun akhirnya melepaskan bekapan tangannya pada mulut Alesha.


"Vincent!! Apa yang kau lakukan?" Pekik Alesha penuh amarah sambil mengambil beberapa langkah kebelakang untuk menjauhi pria jahat itu.


Vincent menarik sebelah sudut bibirnya hingga menampakkan smirk licik yang begitu kentara.


Dengan santai, Vincent pun membalas ucapan Alesha. "Aku akan menawarkan sesuatu padamu."


"Kau ingin menemukan batu meteor itu kan? Aku akan menunjukkannya padamu."


"Kau pikir aku percaya!!" Bentak Alesha.


"Harus. Kau harus mempercayaiku." Balas Vincent begitu santai.


"Huh, Aku bukan gadis bodoh yang bisa kau bodoh-bodohi, Vincent!"


"Karna aku tahu kau gadis pintar, maka dari itu aku memberikanmu penawaran ini, Alesha."


"Kau bukan hanya akan menemukan batu meteornya saja, tapi kau juga akan menemukan kekasih mentormu yang selama lima tahun menghilang karna tertimbun oleh salju."


Sebuah sentakan kecil mengejutkan jantung Alesha setelah mendengar ucapan Vincent barusan. Ia bergeming dengan mata yang membulat sempurna dan mulut yang sedikit terbuka.


"Apa kau bilang? K-kau tahu tentang Yuna?"


"Tentu saja."


"Bagaimana bisa?"


"Ayolah, apa yang tidak aku tahu tentang mentormu itu, Alesha."


Alesha mematung kembali. Memikirkan setiap ucapan pria jahat yang ada dihadapannya itu.


"Jacob sudah sangat berjasa padamu, kau harus membalas perlakuan baiknya itu, dengan menemukan sosok pujaan hati mentormu. Apa yang sudah kau lakukan untuk membalas jasa Jacob? Belum bukan? Ini bisa jadi kesempatan untukmu."


Alesha masih bergeming. Ia sedang bergelut dengan pikirannya sendiri.


"Jacob sangat mencintai Yuna, bahkan saking cintanya, Jacob pun menyamakanmu dengan Yuna."


Alesha langsung merasakan sebuah tikaman keras yang menyesakkan hatinya saat mendengar ucapan Vincent barusan. Wajahnya sedikit menunduk, ia murung sekarang.


"Apa kau tidak mau sedikit saja membantu Jacob untuk melepaskan beban rindunya pada Yuna? Jacob masih mengharapkan kembalinya Yuna hingga detik ini, Alesha. Dia sangat mencintai gadis lugunya itu."


Alesha memejamkan matanya, menahan air mata dan rasa perih dalam hatinya.


"Jacob memang tidak memintamu untuk membalas jasa-jasanya, tapi sebagai gadis yang pintar, kau pasti akan memberikan sedikit balas budi pada mentormu itu dengan menemukan jasad Yuna."


Vincent berjalan mendekati Alesha.


"Tidak ada yang Jacob cintai selain Yuna, kau harus menyadari itu, Alesha.... Kau banyak berhutang budi pada Jacob, apa kau tidak malu? Temukan Yuna untuk membalas budi Jacob padamu.... Jangan harap Jacob akan mencintaimu sedalam dia mencintai Yuna. Aku tahu pasti bagaimana sikap Jacob, tidak ada wanita lain yang begitu berarti dalam hidupnya selain Yuna. Kau bukanlah apa-apa untuk Jacob."


Alesha menitikkan air matanya. Merasakan tikaman, tusukan, dan pukulan yang membuat duka dalam lubuk hatinya semakin parah.


"Katakan dimana tempatnya?" Tanya Alesha yang dibarengi oleh isakan.


Vincent tersenyum licik. Akhirnya Alesha mau masuk dalam perangkapnya.


"Temui aku besok pagi di sini sebelum matahari terbit. Jangan katakan pada siapa pun soal ini, atau kau akan menerima konsekuensinya, yaitu kehilangan anggota timmu besok juga. Ingat! Ada anak buahku yang sudah memantaumu, jadi aku bisa tahu percakapan dan gerak-gerik apa saja yang kau lakukan."


Alesha menangguk pasrah.


"Apa yang akan terjadi padaku jika aku menerima tawaranmu?" Lirih Alesha.


Lagi dan lagi, Vincent mengeluarkan smirk liciknya.


"Aku akan memberitahunya besok setelah kita menemukan Yuna dan batu meteornya." Vincent mendekat lalu menepuk bahu Alesha.


"Lalu bagaimana jika aku menolak tawaranmu itu?" Tanya Alesha lagi dengan nada yang kian melirih.


"Teman-temanmu akan menjadi mayat dan terkubur dalam salju besok pagi."


Alesha menghela napasnya. Matanya terpejam dan hatinya juga perasaanya sudah tidak karuan.


"Tapi kau yakin tahu dimana tempatnya? Aku mohon jangan permainkan aku begini. Aku tahu Mr. Jacob sangat berjasa padaku. Aku ingin membalas jasanya itu." Alesha manangkup wajahnya, membiarkan rintihan tangis mengalir membasahi telapak tangannya.


"Apa untungnya untukku jika aku membohongimu?"


"Apa buktinya jika kau tidak membohongiku?"


Vincent memutar kedua bola matanya dengan jengah karna pertanyaan Alesha barusan.


"Haruskah aku menunjukkan bukti foto ini agar kau dapat mempercayaiku?"


Vincent pun mengaktifkan ponselnya dan menunjukkan foto wajah Yuna dan beberapa anggota tim Jacob yang tubuhnya tertimbun oleh tumpukan salju.


"Bagaimana kau bisa menemukannya? Bahkan SIO tidak bisa menemukan keberadaan mereka hingga sekarang!" Pekik Alesha.


Ucapan Alesha terus saja mengukir seringai licik pada wajah Vincent. Tentu saja Vincent dapat menemukannya karna memang hanya dialah yang tahu lokasi jasad Yuna dan anggota tim Jacob yang lainnya. Vincent pula yang sudah mensabotase sistem pelacak dan maps satelit milik SIO waktu itu hingga SIO tidak dapat menemukan atau mendapatkan petunjuk lokasi jasad Yuna.


Alesha yang merasa curiga pun kembali menyembur Vincent dengan ucapannya. "Jangan-jangan kau yang terlibat dalam hal itu."


"Hey, kau menuduhku?" Tanya Vincent.


"Bagaimana kau bisa tahu sedangkan SIO tidak tahu?" Pekik Alesha.


"Para pegawai SIO tidak becus melakukan tugas mereka." Balas Vincent dengan santai. "Cukup! Sekarang kembali ke tendamu, ada anak buahku yang akan terus mengawasimu!"


"Tapi.."


"Kau ingin membuat anggota timmu mati saat ini juga karna tidak menuruti ucapanku?" Ancam Vincent.


"Baiklah!" Alesha pun menghentakkan kakinya dengan kesal. Matanya sudah berkaca-kaca, ekspresi wajahnya semakin menunjukan rasa takut dan kesedihan.


Alesha pun berlari secepat mungkin menuju tendanya. Hingga setelah sepuluh menit berlalu, ia pun sampai dan langsung saja mendaratkan tubuhnya di dalam tenda itu.


"Kenapa harus jadi rumit begini sih? Apa salah Alesha? Kenapa Alesha harus masuk lagi dalem masalah kaya gini? Astagfirullah...hiks.." Alesha menangis tersedu-sedu, meratapi nasib buruk yang kembali menghampirinya.


Sedangkan Vincent, sebenarnya ia bisa saja membunuh Alesha langsung saat ini juga, dan membuang jasadnya kemana saja, namun Vincent hanya ingin sedikit bermain-main saja, tidak ada salahnya juga bukan? Sejujurnya Vincent pun tidak tega jika harus melibatkan Alesha dalam misinya untuk menghancurkan Jacob, namun ia benar-benar ingin membuat Jacob menderita dengan ditinggalkan kembali oleh gadis tercintanya.


Kau sangat manis, Alesha. Aku sangat tidak tega jika harus membunuhmu secara langsung, jadi aku akan membunuh secara perlahan....... Ucap Vincent dalam hati.


Jika dijelaskan, alasan utama Alesha menerima tawaran Vincent dan siap menanggung resiko besar yang akan ia hadapi adalah pertama, ia ingin menemukan jasad Yuna dan sedikit membalaskan budi pada Jacob, kedua Alesha yakin jika mentornya itu pasti akan dapat menemukan dan membebaskannya dari kekangan Vincent nanti setelah ia menemukan Yuna.


Alesha sangat yakin jika mentornya itu akan menyelamatkannya dari Vincent.


***


Dengan mengendap-endap, ia pun akhirnya berhasil pergi menjauhi tenda-tenda yang ditempati oleh kedelapan rekannya itu.


Dalam radius beberapa meter, Alesha dapat melihat Vincent sedang berbincang dengan anak buahnya dengan posisi membelakangi Alesha.


"Kita akan membawanya ke danau itu lalu membunuhnya di sana."


Deg...


Langkah Alesha langsung terhenti dan tubuhnya membeku di tempat.


Alesha bakal dibunuh?..... Bisik hati Alesha. Jelas sekali ia mendengar ucapan Vincent yang berniat untuk membunuhnya.


Astagfirullah. Kenapa harus gini?......


Salah satu dari anak buah Vincent pun memberikan isyarat kecil pada Vincent setelah menyadari kehadiran Alesha.


"Hai, manis. Bagus kau sudah datang. Ayo, kita akan pergi menuju tempat di mana jasad Yuna dan batu meteor kecil itu berada." Ucap Vincent dengan sangat manis.


"Kau akan membunuhku?" Lirih Alesha. Tubuhnya mulai bergetar, ia menangis, menatap pasrah pada Vincent.


Kini Alesha sudah tahu niat Vincent yang sebenarnya, namun melihat Alesha yang menangis tanpa mengeluarkan suara membuat Vincent merasa iba. Pria jahat itu tidak tahu kenapa tiba-tiba saja ia merasa kasihan terhadap Alesha.


Melihat wajah manis yang dibanjiri oleh air mata itu sedikit meluluhkan hati Vincent dan membuat keraguan dalam dirinya.


Tidak!


Tidak boleh!


"Ya!" Ucap Vincent datar.


"Kau tidak memiliki kesempatan atau pilihan lain selain mengikutiku saat ini, Alesha! Jika kau menolak, aku akan tetap membunuhnu saat ini juga, tapi jika kau menerima, setidaknya kau sudah melakukan sebuah kebaikan pada mentor dan timmu." Balas Vincent.


"Hiks.. Apa maumu?"


"Membuat Jacob menderita dan membunuh dirinya sendiri karna kehilanganmu."


Kaki Alesha lemas hingga tidak mampu menopang berat tubuhnya. Alesha pun terjatuh lemah penuh kepasrahan. Apakah akan seperti ini akhirnya? Perjalanan cinta dan kehidupannya? Alesha menarik dan menghembuskan napasnya dengan susah payah. Tubuhnya bergetar dan napas tersendat-sendat karna tangisnya sendiri.


"Ayo. Jangan buang waktuku!" Vincent menarik lengan Alesha dengan kasar. Menyeret gadis itu agar bisa menyamai langkahnya dalam berjalan.


***


Berlain hal dengan Bastian dan anggota timnya, mereka semua dibuat sibuk dan panik setengah mati karna tidak kunjung menemukan keberadaan Alesha.


"Alesha......"


"Alesha........."


"Alesha........"


"Cukup! Berhenti! Mr. Jacob mencoba untuk memanggilku, jangan keluarkan suara sedikit pun apalagi memanggili nama Alesha!" Ucap Bastian. Ia pun segera menekan tombol kecil pada alat komunikasi yang terpasang pada telinganya.


"Hallo, ya Mr. Jacob."


"Bas, bagaimana? Kalian sudah bersiap? "


"Sudah, Mr. Jacob. Kami akan kembali sekarang juga."


"Baguslah kalau begitu. Oh ya dimana Alesha? Dia baik-baik saja kan? "


"I-iya, Mr. Jacob. Alesha baik-baik saja." Bastian begitu panik ketika menjawab pertanyaan mentornya barusan.


"Dimana dia? Aku ingin mendengar suaranya."


"ALESHA, KAU DIMANA......" Mike yang tidak tahu kalau Bastian sedang berkomunikasi dengan Jacob pun terus saja meneriaki nama Alesha dan membuat seluruh anggota timnya menggeram.


"Tutup mulutmu! Bastian sedang berkomunikasi dengan Mr. Jacob!!" Lucas membekap mulut Mike sembari menekan setiap kata-katanya.


Bastian memejamkan kedua matanya rapat-rapat lalu menghembuskan napas dengan pasrah.


"Bas, Alesha dimana? " Jacob mengulangi pertanyaannya dengan intonasi datar dan dingin setelah mendengar suara Mike yang memanggil nama Alesha.


Bastian tidak menjawab. Ia tidak tahu bagaimana ia bisa menjelaskan pada mentornya itu kalau Alesha yang tiba-tiba saja menghilang.


"Bastian, Alesha dimana? " Jacob mulai menaikkan nada bicaranya. Jantungnya berpacu cepat. Ketakutan, kekhawatiran, semuanya. Semua perasaan dan prasangka buruk itu kini saling merebut posisi dalam diri Jacob.


"BASTIAN, JAWAB AKU DIMANA ALESHA? " Jacob naik pitam. Ia menggebrak meja yang ada dihadapannya dan sontak saja mengejutkan para petugas dan pengawas SIO yang ada di sana.


"Al-Alesha, di-dia, menghilang, Mr. Jacob.." Butuh tekad kuat untuk Bastian dapat menjawab pertanyaan mentornya itu.


Brak......


Jacob menggebrak kencang meja yang ada dihadapannya. Ia bangkit dengan penuh kefrustasian dan kemarahan.


Brak........


Kaki besarnya langsung menendang keras pintu ruangan yang terbuat dari besi baja itu.


Bastian yang mendengar suara gebrakan keras itu pun hanya bisa mematung dan terdiam. Ia tahu dan paham, pasti mentornya itu sedang mengamuk di sana.


"Berikan padaku!" Jacob merampas sebuah tablet yang berada dalam genggaman pengawas SIO lalu berlari begitu saja keluar ruangan dan melesat langsung menuju pegunungan Himalaya.


Tidak perduli dengan apa yang akan dihadapinya nanti, yang Jacob ingin saat ini adalah mencari dan menemukan gadisnya.


"Tidak akan aku biarkan kejadian yang sama terjadi dua kali!" Tekad Jacob.


Dibelakang, beberapa petugas SIO turut mengejar langkah cepat Jacob dengan niat untuk menghentikan tindakan gegabah Jacob yang bisa menimbulkan masalah.


"Bastian, apa yang terjadi?" Tanya Nakyung. Nampak jelas ekspresi khawatir yang ditunjukkan oleh wajah gadis asli Korea Selatan itu.


"Mr. Jacob marah. Aku tidak tahu apa yang ia lakukan sekarang, ia sudah mematikan sambungan komunikasinya." Jawab Bastian datar.


"Lalu apa yang kita lakukan sekarang?" Tanya Tyson.


"Cari tahu lokasi Alesha sekarang, dia pasti masih memakai alat pelacaknya." Bastian benar-benar bingung kali ini hingga ia hanya bisa menjawab seadanya dan begitu datar. Rasa bersalah menyeruak dalam hatinya, menyesali bagaimana Alesha bisa lolos dari pantauannya.


***


Kembali lagi pada Alesha, Vincent dan anak buahnya. Kini mereka sudah tiba disebuah tebing yang sedikit curam dan tidak terlalu dalam, mungkin hanya sekitar lima sampai delapan meter saja.


"Pergi ke bawah, jasad Yuna dan anggota tim Jacob ada dibawah lapisan salju itu. Taruh alat pelacak yang kau gunakan di sana agar Jacob dapat menemukan Yuna dan timnya. Batu meteornya juga ada di bawah, didalam salah satu ransel. Aku akan menunggumu di atas sini." Setelah mengatakan itu, Vincent pun mendorong tubuh Alesha hingga membuat Alesha terperosok ke dalam tebing itu.


Vincent pun berjalan sedikit menjauh dari sisi tebing dan mengawasi sekelilingnya untuk memastikan tidak ada yang mengikutinya.


Lalu di bawah. Alesha kembali menangis karna merasakan sakit pada tubuhnya yang jatuh terperosok akibat didorong oleh Vincent. Namun Alesha tidak ingin membuang waktu, ia pun segera menggali lapisan salju yang berada dibawahnya.


"Astagfirullah!!!" Alesha memekik kencang dan terlonjak kebelakang kala jemarinya berhasil menyingkirkan sekitar enam puluh centimeter lapisan salju yang dibawahnya terdapat sebuah objek berupa wajah manusia yang masih terlihat sangat utuh.


Jantung Alesha berdegub kencang, wajahnya pucat pasi dipenuhi ketakutan dan keterkejutan.


Setelah beberapa detik berlalu, perlahan Alesha pun mulai memberanikan dirinya untuk mendekati wajah itu lagi dan menggali lapisan salju lain yang berada disekitarannya.


Rasa penasaran Alesha mendadak muncul hingga mulai mengalahkan rasa takutnya. Ia semakin gencar menggali hingga akhirnya ia berhasil mendapati satu wajah milik seorang gadis yang selalu dimiripkan olehnya.


"Yuna!" Lirih Alesha sembari menatap tidak percaya pada wajah cantik yang sudah tertimbun oleh gundukan salju selama lima tahun lamanya.


Jadi ini Yuna yang selalu Mr. Jacob samain sama Alesha? Cantik.......


Alesha menggenglengkan kepalanya beberapa kali untuk memfokuskan kembali konsentrasinya.


"Batu meteornya!" Langsung saja Alesha bergeser ke lain tempat untuk mengira letak sebuah ransel yang didalamnya terdapat batu meteor kecil.


Melakukan beberapa kali percobaan tanpa patah semangat dan tekad yang kuat, Alesha pun sukses mendapatkan sebuah ransel berukuran sedang.


"Argh..." Alesha menarik ransel itu hingga tubuhnya terjatuh. Namun cepat-cepat Alesha bangkit kembali, dan membuka paksa resleting ransel yang sudah mengeras. "Argh!" Beberapa kali tarikan kuat yang Alesha lakukan, akhirnya resleting pun terbuka. "Bismillahirrahmanirrahim..." Alesha mulai memasukkan tangannya untuk meraba-raba isi dari ransel itu. Sekitar beberapa saat berlalu, Alesha terlihat sangat fokus pada kegiatannya. Hingga sepersekian detik kemudian, mata Alesha pun membulat sempurna kala telapak tangannya merasakan benda bulat kasar. Tanpa berpikir panjang, Alesha langsung saja menarik keluar benda itu.


"Alhamdulillah... Yes, Alesha dapet!" Pekik Alesha penuh kegirangan karna ia berhasil menemukan batu meteor kecil yang ia dan timnya cari.


Namun, Alesha pun kembali termenung murung mengingat kalau Vincent akan membunuhnya setelah ini.


Coba bayangkan seberapa sedihnya Alesha karna tahu hidupnya kemungkinan besar akan segera berakhir karna dibunuh oleh pria yang kejam.


Terlintas dalam kepala Alesha sebuah ide singkat yang bisa jadi alat komunikasi terakhirnya bersama sang pria yang selama dua tahun ini selalu saja menemaninya dengan memberikan segala rasa cinta dan kasih sayang.


Langsung saja Alesha merogoh ransel berukuran sedang itu untuk mencari benda yang bisa membantunya mewujudkan keinginan terakhirnya untuk menyampaikan pesan dan salam perpisahan terakhir.


Di atas, Vincent sudah jengah, bosan, dan geram karna menunggu Alesha.


"Apa yang dia lakukan di bawah? Lama sekali!"


Tangan Vincent terkepal, sudah lima belas menit berlalu dan ia masih harus menunggu Alesha untuk lebih lama lagi?


Vincent membalikkan tubuhnya dan berjalan mendekati pinggiran tebing dengan ekspresi wajah sebal.


"Hei!! Cepat naik sekarang juga!!"


Teriakkan Vincent itu membuat Alesha terkejut hingga tubuhnya sedikit terlonjak. Buru-buru Alesha menyudahi kegiatannya dan segera merangkak menaik ke atas tebing. Namun sesaat sebelumnya, Alesha sudah melepaskan gelang pemberian Levin dan untuk memberikan tanda kalau ia sudah terlebih dahulu singgah di tebing itu sebelum Jacob.