
"Apa yang kau bawa itu?" Jacob mengerutkan dahinya. Ia bingung kenapa Alesha membawa dua boneka yang berukuran lebih besar dari tubuhnya.
"Aku mendapatkan hadiah dari toko itu. Bantu aku membawa benda ini." Jawab Alesha.
"Dapat hadiah?" Jacob mengerutkan keningnya.
"Ya." Balas Alesha datar.
"Bagaimana bisa?" Tanya Jacob.
"Sudah jangan banyak tanya dulu, bantu aku, boneka ini berat tau." Jawab Alesha.
Jacob terkekeh. Ia segera mengambil boneka donat yang Alesha bawa lalu mengambil dua bungkusan berisi kue dan donat itu.
Alesha sendiri kebagian membawa boneka beruang yang besar itu. Padahal dia berharap Jacob yang akan membawa boneka beruangnya.
"Buka pintunya!" Perintah Jacob dengan gampang pada Alesha.
"Ayo lah, kau tidak lihat aku kesusahan membawa boneka besar ini." Ucap Alesha sambil memeluk boneka beruangnya.
"Kau tidak lihat tanganku juga sudah penuh?" Balas Jacob.
Alesha mendengus. Jacob sedang mengesalkan kali ini.
Dengan terpaksa, Alesha mencoba meraih gagang pintu mobil, namun tangannya terlalu kecil, Alesha kesusahan untuk menarik gagang pintu mobil itu.
"Lama sekali." Sindir Jacob.
Alesha menghentakan kakinya. Ia mendengus dan menatap kesal pada Jacob.
"Sabar!" Balas Alesha.
Alesha segera meraih gagang pintu mobil itu lagi. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya pintu itu pun terbuka. Alesha segera masuk dan disusul oleh Jacob.
"Kita berangkat sekarang, Pak!" Ucap Jacob pada sang supir.
"Al, apa semua ini?" Tanya Jacob sambil menyingkirkan boneka Alesha.
"Toko itu mengadakan pesta ulang tahun dan membagi-bagikan hadiah pada pelanggannya. Pelanggan yang beruntung seperti aku bisa mendapatkan hadiah double." Jawab Alesha. "Boneka ini sangat menggemaskan. Aku akan menamakannya Bontot, agar sama seperti boneka beruangku yang ada di rumahku di Indonesia." Alesha memeluk gemas boneka beruang pink yang besar itu.
Jacob terkekeh. Ia tersenyum saat melihat wajah imut Alesha. Hal itu membuat Jacob jadi merasa gemas sendiri pada Alesha.
Kenapa kau sangat manis saat seperti itu?..... Jacob menunduk. Wajahnya sedikit memerah. Jacob tersipu karna melihat wajah gemas Alesha?
"Oh, iya, di WOSA kan para murid dilarang membawa boneka sebesar ini, Mr. Thomson tidak mengizinkan itu, kecuali boneka bantal yang berukuran kecil." Alesha memasang raut wajah kecewa. "Lalu bagaimana?" Alesha menatap Jacob masih dengan raut wajah yang sama.
"Boleh aku menitip ini di ruanganmu?" Tanya Alesha yang lebih mengarah kesebuah permohonan.
Jacob terdiam. Ia berpikir sesaat.
"Boleh ya, aku tidak mau boneka sebagus ini terbuang begitu saja." Alesha memohon pada Jacob.
"Baiklah." Jacob mengangguk setuju. "Tapi aku akan menamakannya Baby Ale." Jacob mengangkat sebelah alis sambil tersenyum pada Alesha.
"Namanya Bontot." Ucap Alesha dengan raut wajah yang berubah menjadi datar.
"Terserah kau mau menamainya apa saja, tapi aku akan menamai boneka itu Baby Ale." Balas Jacob.
"Baiklah, terserah padamu, Mr. Jacob." Ucap Alesha dengan malas.
"Hallo, Baby Ale, salam kenal, kau sangat lucu." Ucap Jacob sambil mengelus wajah boneka itu.
"Kembalikan boneka donatnya, aku harap Mr. Thomson akan mengizinkan untuk boneka donat ini." Ucap Alesha sambil meraih boneka donatnya.
Alesha menaruh boneka beruangnya di tengah-tengah. Ia segera membuka bungkusan berisi donat dan roti itu.
"Mr. Jacob kau mau?" Tawar Alesha sambil menyodorkan bungkusan itu.
Jacob menggelengkan kepalanya. "Tidak, terima kasih."
"Ya sudah." Alesha mengedikkan bahunya. Ia segera memakan donat pertama dengan balutan cream macha Jepang kesukaannya.
"Pak supir kalau mau ini ambil saja, aku memberikannya, terlalu banyak donat dan roti ini jika hanya aku yang memakannya sendirian." Ucap Alesha sambil menaruh bungkusan lain di jok mobil depan.
"Terima kasih, kau sangat baik." Balas supir itu sambil tersenyum ramah.
"Sama-sama." Balas Alesha.
Alesha segera mengambil ponselnya yang tergeletak di pinggiran pintu mobil.
"Bontot punya saudara sekarang." Ucap Alesha sambil memeluk boneka beruang di sebelahnya dengan gemas. Alesha segera mengarahkan kamera ponselnya itu pada wajahnya juga wajah si Bontotnya itu.
Senyuman manis dengan mata yang menyipit menjadi gaya pose Alesha saat ini. Timer di kamera itu sudah berjalan dan beberapa detik lagi akan mengambil foto pertama Alesha bersama boneka beruangnya.
Jacob berpikir sambil terus menatap pada Alesha. Bisa-bisanya ia tertarik dengan gadis yang tujuh tahun lebih muda darinya. Mungkin Jacob akan disebut pedofil oleh Alesha jika Alesha tahu. Namun, ia tidak akan mengatakan apa pun pada Alesha tentang perasaannya sebelum ia benar-benar yakin dan mantap kalau Alesha adalah tujuan dia selanjutnya.
Mata Jacob tidak bisa lepas dari Alesha yang terus saja mengambil foto bersama Bontotnya itu. Jacob tersenyum saat melihat Alesha yang begitu asik bersama boneka beruang barunya.
"Rejeki anak sholihah. Niatnya mau beli makanan, eh dapet hadiah boneka yang bagus. Kalo di Indonesia mungkin boneka ini bisa mencapai lima ratus ribu rupiah. Tapi entah kalau di sini." Ucap Alesha sambil memeluk boneka beruang dan boneka berbentuk donatnya.
Alesha memejamkan matanya dan bersandar pada boneka beruangnya. Tangannya yang satu lagi memeluk boneka berbentuk donat. Alesha terlihat senang karna bisa mendapatkan hadiah dua boneka itu.
Jacob sendiri merasa lebih tenang saat melihat wajah Alesha yang sudah terlelap. Anak rambut Alesha terbang karna terhempas angin yang berasal dari luar jendela mobil yang sedikit terbuka.
Jacob merasa hatinya lebih sejuk saat melihat wajah damai Alesha yang tertidur. Wajahnya begitu polos tanpa pulasan make up sedikit pun. Alesha adalah tipe yang tidak terlalu mementingkan make up untuk wajahnya. Ia lebih suka yang simpel simpel saja. Memakai bedak pun jarang. Tapi bukan berarti Alesha tidak suka make up. Ia suka make up dan mengoleksi beberapa brand make up, tapi Alesha terlalu malas untuk memakainya. Jadi intinya Alesha hanya suka mengoleksi saja, bukan untuk memakainya. Itu juga kenapa tekstur kulit Alesha masih terasa halus dan wajahnya juga masih bersih karna tidak ada tumpukan kimia di dalam jaringan kulitnya.
Setelah hampir satu jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di bandara. Mobil itu langsung masuk ke area parkir.
"Al, bangun kita sudah sampai." Ucap Jacob yang menepuk pelan pipi Alesha.
Alesha merasa terusik. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Ayo, kita harus bergegas, pesawat SIO sudah menunggu." Ucap Jacob.
Alesha mengangguk. Ia segera membuka pintu mobil itu. Sedangkan Jacob pergi membuka bagasi mobil untuk mengeluarkan barang bawaannya dan juga Alesha.
"Biar saya yang akan membawa ini, tuan." Ucap sang supir lalu meraih tiga koper sedang.
"Bawa saja yang dua itu, yang ini biar aku yang bawa." Ucap Jacob.
"Mau aku bawakan boneka itu?" Tawar Jacob pada Alesha. Alesha menggeleng kepalanya. Ia memasukan tangannya ke lubang yang ada di boneka donat itu, lalu kemudian Alesha memeluk boneka beruangnya yang besar.
"Kau yakin?" Tanya Jacob lagi.
"Ya." Alesha mengangguk.
"Permisi, tuan Jacob, saya pramugara pesawat yang SIO kirim untuk anda dan nona Alesha. Mari biar saya tunjukkan jalan untuk langsung menuju pesawat." Ucap seorang lelaki yang memakai seragam ala pramugara pesawat.
Jacob mengangguk. Ia dan Alesha segera berjalan mengikuti arahan pramugara itu. Tepat saat mereka memasuki area bagian dalam bandara, beberapa bodyguard mendekati Jacob dan Alesha untuk mengawal mereka. Para Bodyguard itu adalah anak buah Jacob yang dikirim oleh Mr. Thomson untuk mengawal Jacob dan Alesha hingga sampai ke WOSA. Saat ini mereka sedang berada di tempat umum, dan Jacob pasti sedang menjadi incaran beberapa anak buah Mack yang masih berkeliaran.
Alesha mendekat kepada Jacob. "Mr. Jacob, mereka siapa?" Alesha sedikit jinjit untuk berbisik pada Jacob.
"Mereka anak buahku yang akan mengawal kita sampai ke WOSA." Jawab Jacob.
Alesha mengangguk paham. "Tapi mereka terlihat seperti preman."
Jacob hanya menyeringai mendengar ucapan Alesha barusan. Banyak sekali pasang mata yang memperhatikan Jacob dan Alesha yang dikawal oleh beberapa bodyguard bertubuh tinggi dan besar.
"Tuan, tolong tunggu sebentar di sini." Ucap pramugara itu lalu pergi untuk menghampiri beberapa pelayan yang ada di bandara itu.
Alesha merasa tidak enak karna orang-orang di bandara itu terus melihat ke arahnya dan juga Jacob. Jacob sendiri hanya bersikap biasa saja. Ia sudah biasa dikawal seperti itu oleh bodyguardnya jika ia pergi ke mana-mana walau sebenarnya Jacob tidak perlu dikawal oleh para bodyguard itu karna Jacob sudah lihai dalam urusan bela diri.
Tatapan Alesha teralih menuju setiap sudut bandara. Namun, di salah satu sudut bandara itu, Alesha menemukan seorang kakek tua yang kumal seperti seorang pengemis sedang duduk di kursi. Alesha bingung bagaimana bisa ada pengemis di dalam bandara?
Hatinya tergerak saat melihat kakek itu menyentuh perutnya. Sepertinya kakek itu kelaparan. Dengan dorongan dari dalam hatinya, Alesha segera berjalan sambil masih membawa-bawa bonekanya dan mendekati kakek itu.
"Tuan Jacob, nona Alesha pergi ke sana." Ucap salah satu bodyguardnya. Jacob menengok mengikuti arah jari telunjuk bodyguard itu.
"Ikuti dia, suruh dia untuk kembali!" Perintah Jacob dengan tegas. Salah satu bodyguardnya mengangguk lalu segera menyusul Alesha.
"Permisi.." Sapa Alesha pada kakek itu.
"Kakek siapa? Kakek terlihat bingung, apa kakek tersesat?" Tanya Alesha dengan ramah.
"Kakek lapar, anak kakek pergi dari tadi siang, sampe sekarang kakek gak tau dimana anak kakek." Jawab Kakek itu.
Mata Alesha membulat seketika. Jadi kakek ini ditinggalkan begitu saja oleh anaknya? Tega sekali anak itu.
Alesha terkejut. Ternyata karna bodyguard itu memegang tangan Alesha. "Tuan Jacob memerintahkan nona untuk kembali."
"Tidak! LEPAS!" Alesha menarik paksa lengannya. "Tunggu sebentar, aku ingin memberi makanan pada kakek ini, dia ditinggalkan begitu saja oleh anaknya!"
Alesha segera beralih menatap kakek itu dengan tatapan khawatir.
"Ya ampun, kakek yang sabar ya." Ucap Alesha.
"Tuan, semua sudah siap, pihak bandara sudah mengizinkan kita untuk memasuki area parkir pesawat." Ucap pramugara yang tadi.
Jacob hanya mengangguk. Ia segera bergegas menghampiri Alesha yang sedang memberi bungkus donat dan rotinya pada kakek itu.
"Aku akan beritahu pihak bandara untuk mencari anakmu." Ucap Alesha dengan lembut.
"Kita harus segera menuju pesawat sekarang, Al." Ucap Jacob sambil menarik tangan Alesha untuk berjalan.
"Tidak, tunggu, kakek itu ditinggalkan oleh anaknya, kita harus memberitahukan pihak bandara!" Ucap Alesha sambil meronta untuk melepaskan tangannya.
Jacob berhenti berjalan seketika setelah mendengarkan ucapan Alesha.
"Kumohon." Mohon Alesha.
Jacob terdiam. Ia malah balik merasa kasihan pada kakek tua yang berpakaian kumuh itu.
"Baritahu pihak bandara untuk mencarikan anak kakek itu!" Perintah Jacob pada salah satu bodyguardnya.
Alesha tersenyum, akhirnya ia bisa membantu kakek itu.
"Sudah ayo, bodyguardku akan membantu kakek itu." Ucap Jacob lalu menarik tangan Alesha lagi.
Alesha berjalan dengan kesulitan karna tangannya yang ditarik oleh Jacob dan juga ia membawa boneka besar yang sedari tadi ia peluk. Jacob yang melihat itu merasa risih.
"Bawa bonekanya!" Perintah Jacob pada bodyguardnya.
Bodyguard itu mengangguk lalu segera mengambil boneka Alesha.
"Biarkan dia membawanya. Kau harus berjalan cepat karna kita harus mengejar penerbangan pesawat!" Potong Jacob pada Alesha.
"Baiklah." Alesha menunduk. Ia terlihat sedikit kesal karna Jacob seolah memarahinya.
Akhirnya setelah beberapa menit, mereka sampai di depan pesawat milik SIO.
"Alesha cepat kau naik duluan!" Ucap Jacob. Alesha segera menurut dan segera menaiki anak tangga. Langkah demi langkah sudah di pijak, dan sekarang Alesha sudah masuk ke dalam pesawat.
"Tuan, pilot bilang kita akan lepas landas sekarang." Ucap sang pramugara. Jacob mengangguk. Ia segera membawa Alesha untuk duduk dibangku pesawat.
"Bonekaku." Pinta Alesha pada bodyguard yang membawa bonekanya.
Bodyguard itu segera memberikan boneka yang ia bawa pada Alesha.
"Terima kasih." Ucap Alesha sambil tersenyum manis. Ia segera memasang sabuk pengaman lalu menyandarkan tubuhnya pada kursi pesawat yang terasa sangat nyaman.
"Mr. Jacob, kau kenapa sih?" Tanya Alesha. Alesha menyadari ada yang salah dengan mentornya itu karna sedari tadi Jacob terus saja diam dengan wajah yang datar dan dingin.
"Tidak apa-apa." Jawab Jacob datar.
"Kau marah?" Tanya Alesha lagi.
"Tidak."
"Kenapa kau diam saja dari tadi?"
"Aku sedang malas berbicara."
Alesha diam setelah mendengar jawaban Jacob. Ia hanya memandangi Jacob dengan raut wajah sedikit khawatir. Khawatir kalau ia yang membuat Jacob marah.
"Kau marah padaku?" Tanya Alesha pelan sambil menunduk.
Jacob memandang ke arah Alesha.
"Maaf.." Bisik Alesha yang berubah menjadi murung.
Jacob jadi merasa bersalah karna sudah membuat Alesha murung seperti itu. Tatapannya menjadi menghangat. "Aku tidak marah padamu, Alesha, aku memang sedang malas berbicara saja." Ucap Jacob dengan lembut.
Alesha mengangkat kepalanya lalu menatap Jacob. "Serius?"
"Iya.." Jawab Jacob dengan senyuman hangat.
"Baiklah." Alesha mengangguk pelan.
"Memang kenapa kalau aku marah padamu?" Tanya Jacob. Entah kenapa ia merasa moodnya seperti akan kembali lagi setelah melihat wajah murung Alesha. Ia ingin bercanda lagi bersama Alesha.
"Tuh kan, kau beneran marah padaku." Ucap Alesha.
"Memang kenapa kalau aku marah padamu?" Jacob memulai candanya.
"Ya, aku harus tau dulu apa kesalahanku hingga membuatmu marah padaku." Jawab Alesha.
"Kau ingin tau apa kesalahanmu?" Rayu Jacob. Alesha mengangguk.
"Kemarilah..." Jacob menggerakkan jari telunjuknya untuk memberi isyarat pada Alesha.
Alesha segera mendekatkan wajahnya ke Jacob. Jacob juga mendekatkan wajahnya ke arah Alesha hingga jarak wajah mereka hanya beberapa centimeter.
"Apa?" Tanya Alesha dengan polos.
"Karna kau sudah membuatku.." Bisik Jacob. Ia memberi jeda beberapa detik untuk melanjutkan kalimatnya. Ia ingin bertatapan lebih lama lagi bersama Alesha.
"GEMAS!!" Bentak Jacob cukup lantang. Sontak saja hal itu membuat Alesha terkejut hingga terlonjak. Seketika Jacob tertawa saat ia melihat ekspresi kaget Alesha yang ia pikir sangat lucu.
"Mr. Jacob!" Alesha menghentakkan kakinya lalu memukuli Jacob dengan boneka donatnya.
"Kau ini!" Alesha terus memukuli Jacob yang masih tertawa. Para bodyguard dan dua orang pelayan yang ada di dalam pesawat itu hanya tersenyum sambil menggelengkan kelapa mereka. Itu pertama kalinya bagi mereka melihat Jacob yang tertawa lepas.
"Cukup, Al, maaf.." Jacob menahan pukulan dari boneka donat itu dengan tangannya. "Cukup, Al!" Jacob menarik boneka donat itu hingga membuat Alesha mendekat dengannya.
Sepanjang perjalanan Alesha dan Jacob menghabiskan waktu dengan bercanda. Gelak tawa beberapa kali keluar dari mulut Alesha. Ukiran senyum menghiasi wajah Alesha dan Jacob.
Setelah beberapa jam perjalanan di pesawat, akhirnya mereka sampai juga di WOSA. Pesawat segera mendaratkan bannya di atas aspal. Alesha dan Jacob segera bersiap untuk turun dari pesawat. Jacob mengambil kaca mata hitamnya untuk ia pakai karna cuaca di luar sangat panas, padahal saat ini jam sudah menunjukan pukul setengah lima sore.
"Aku akan bawa si Bontot dan boneka donat ini ke kamarku terlebih dulu, aku akan memberikan ini padamu nanti malam." Ucap Alesha. Jacob hanya mengangguk.
Mereka segera berdiri dan berjalan menuju pintu pesawat. Di luar sana, Bastian dan anggota timnya yang lain sudah menunggu.
Salah seorang pelayan membuka pintu pesawat tersebut. Dan benar saja. Alesha menyipitkan matanya, ia tidak bisa membuka matanya karna cahaya matahari begitu menyengat.
"Alesha!!" Panggil Stella.
Alesha segera turun sambil membawa dua bonekanya.
"Tunggu, Al, boneka siapa itu?" Tanya Maudy.
"Bonekaku, namanya Bontot." Jawab Alesha.
"Baby Ale." Saut Jacob.
"Jangan dengarkan Mr. Jacob." Balas Alesha.
Stella segera berlari dan langsung memeluk Alesha.
Namun pelukan dari Stella membuat Alesha meringgis. Perutnya terasa sakit, tepatnya di sekitar jahitan bekas mengeluarkan sebutir peluru.
"Jangan senggol perutnya!" Ucap Jacob dengan panik. "Jahitannya belum lepas." Lanjut Jacob.
"Jahitannya?" Tanya Maudy.
"Aku tidak memberitahu mereka, Mr. Jacob." Ucap Bastian.
"Kenapa?" Tanya Jacob.
"Aku tidak mau membuat kepanikan dalam tim ini, jadi aku lebih memilih memberitahu mereka saat Alesha sudah kembali dan pulih." Jawab Bastian. Jacob tersenyum, tidak salah ia memilih Bastian sebagai ketua tim.
"Tunggu ada apa ini? Apa yang terjadi pada Alesha?" Tanya Nakyung.
"Kau akan tau nanti, sekarang bawa dulu Alesha ke messnya." Jawab Jacob.
"Alesha, kau harus segera kembali ke mess, istirahat yang cukup, jangan terlalu banyak bergerak DAN JANGAN BERKELIARAN KE MANA PUN TANPA SE IZINKU!" Tegas Jacob sambil menatap Alesha.
"Tidak aku tidak keluyuran kok." Balas Alesha.
"Bagus." "Bawa Alesha ke messnya sekarang, dia masih butuh banyak istirahat."
"Baik, Mr. Jacob." Ucap Stella.
Stella dan Merina membantu Alesha untuk berjalan, sedangkan Maudy membawa boneka beruang Alesha.
"Kau dapat dari mana boneka ini?" Tanya Nakyung.
"Aku mendapatkannya sebagai hadiah. Aku pergi ke toko kue yang sedang mengadakan pesta ulang tahun, dan alhamdulillah nya aku adalah pelanggan beruntung yang berhasil mendapatkan hadiah double. Aku memberinya nama Bontot agar sama seperti boneka beruang coklatku yang ada di Indonesia. " Jawab Alesha.
"Beruntung sekali kau, Alesha." Ucap Maudy sambil mengelus boneka Alesha.
"Ya, kalo kata anak Indonesia ini disebut rezeki anak sholihah." Balas Alesha.
***
Jam 07. 30 Malam.
Jacob baru saja selesai mandi. Saat ini, ia hanya menggunakan celana joger panjangnya. Ia sedang asik mengelap rambutnya yang basah dengan handuk kecil, namun tiba-tiba saja pintu ruangannya terbuka.
"Permisi, Mr. Jacob, aku ingin mengambil ponselku yang tertingal di dalam tasmu dan aku membawakan si Bontot untuk dititipkan padamu." Ucap Alesha sambil menggendong boneka beruang besarnya. Jacob mengerutkan keningnya. Jacob mengaitkan handuk kecil itu di lehernya.
Gadis itu, Alesha tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya dengan posisi Jacob yang hanya memakai celana joger penjang saja tanpa menggunakan baju.
"Hah, ya ampun!" Mata Alesha membulat tiba-tiba saat melihat Jacob yang bertelanjang dada. Perut sispack dan rambut basah Jacob yang baru selesai mandi menambah kesan seksi. Mentornya itu lagi dan lagi membuat jantung Alesha berdegub.
Dengan cepat, Alesha segera menutup matanya lalu membalikan badannya. Ia malu, wajahnya sudah mulai panas. Jacob terkekeh saat melihat ekspresi Alesha. Ia segera mendekati dan berdiri di samping Alesha.
"Kemarinkan Baby Aleku, ambil ponselmu di mejaku." Ucap Jacob sambil mengambil Baby Alenya itu. Padahal Alesha sudah memberikan nama untuk bonekanya itu dengan sebutan Bontot, agar sama seperti boneka beruangnya yang ada di rumahnya.
"Namanya Bontot, dia bonekaku!" Tegas Alesha lalu memutar tubuhnya untuk berjalan menuju meja Jacob dengan mata yang masih tertutup.
"Kau menitipkannya padaku, aku menganggapnya milikku juga, karna dia akan selalu bersamaku ketimbang bersamamu, dia Baby Aleku." Balas Jacob.
"Terserah, Mr. Jacob, terserah!" Alesha meraba-raba meja kerja Jacob. Ia segera membuka matanya untuk menemukan ponselnya.
"Ini dia." Seru Alesha sambil mengambil ponsel miliknya. Setelah dapat Alesha segera membalikan badannya lagi, namun sialnya Jacob tiba-tiba saja sudah berdiri tepat di hadapannya. Mata Alesha berhadapan langsung dengan dada, dan bahu lebar milik Jacob karna tinggi Alesha hanya sebatas dada Jacob saja.
"Astagfirullah." Gumam Alesha lalu menundukan kepalanya. "Mr. Jacob, aku mohon minggirlah dari hadapanku, aku tidak mau mencemari mataku." Ucap Alesha.
Jacob terkekeh. "Baiklah." Jacob segera memberi jalan pada Alesha.
"Kau bisa pergi sekarang, Baby Ale akan bersamaku." Lanjut Jacob.
"Bontot! Dia bonekaku!" Tegas Alesha lalu berjalan begitu saja meninggalkan Jacob yang sedang berusaha untuk menahan tawanya.
Alesha segera keluar ruangan lalu menutup pintu. Ia sama sekali tidak melihat ke arah Jacob lagi.
"Astagfirullah, ya allah, maafin Alesha, Alesha gak tau kalo Mr. Jacob gak pake baju, cuman pake celana panjang aja." Gumam Alesha sambil berjalan di lorong gedung mentor.
"Dasar Mr. Jacob, bonekaku diklaim begitu saja olehnya!" Oceh Alesha. "Hanya karna aku menitipkan bonekaku pada mentor menyebalkan itu, dengan sepihak dia malah memberi nama bonekaku begitu saja. Baby Ale pula namanya. Apa coba maksudnya?" Lanjut Alesha.
Sedangkan di dalam kamarnya, Jacob sedang asik berbaring sambil mengelus Baby Alenya itu. Jacob tersenyum-senyum sendiri.
"Baby Ale. Kau akan menjadi Baby Aleku selama Ale yang asli belum jadi milikku." Gumam Jacob sambil tersenyum. Ia memeluk Baby Alenya, merasakan bulu halus boneka itu. Jacob menghirup wangi dari Baby Alenya. Wangi itu berasal dari parfum yang biasa Alesha pakai.
Dalam heningnya malam, Jacob merasa kedamaian dan kebahagiaan dalam hatinya malam ini. Sambil memeluk Baby Alenya, Jacob membayangkan setiap kenangan dan momen manis bersama Ale yang asli. Tangan kekarnya memeluk erat Baby Alenya itu.
"Mungkin pemilikmu akan marah jika tau aku melakukan hal ini." Gumam Jacob sambil membayangkan wajah marah Alesha.
"Dia hanya menitipkan kau saja padaku, dan bukan menjadikan kau sebagai mainanku juga." Lanjut Jacob.
"Baby Ale, kau akan menjadi temanku mulai sekarang." Jacob mengelus lembut bulu boneka beruang Alesha itu.
"Aku akan menceritakan semua hal tentang Ale yang asli padamu." Lanjut Jacob yang mulai memejamkan matanya sambil memeluk Baby Alenya itu. Ia ingin terlelap bersama boneka manis dari pemiliknya yang manis pula.