May I Love For Twice

May I Love For Twice
Kenangan Lama



Sabtu pagi menjadi sabtu yang cukup membosankan untuk Alesha, pasalnya dihari sabtu kantor SIO tutup, dan tentunya para pegawai pun libur bekerja.


"Huft.."


Sekarang baru pukul tujuh pagi, tadi Alesha pergi ke dapur untuk melihat apakah ada piring, atau gelas, atau sendok, atau mangkuk yang harus dicuci. Memang sih ada banyak, mengingat di mansion itu juga ada sekitar enam pelayan, dan sebelas belas penjaga, namun ketika Alesha ingin mencuci peralatan makan itu, ada dua orang pelayan yang langsung mencegahnya. Alesha sudah membujuk agar ia saja yang mencuci alat-alat makan yang kotor itu, tetapi pelayan itu tetap bersikeras kalau Alesha dilarang untuk melakukan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh para pelayan itu.


Baiklah, Alesha mengalah. Singkatnya, ia pun beralih menuju tempat laundry. Niat Alesha masih sama, yaitu mengerjakan pekerjaan rumah dengan mencuci pakaian-pakaian yang kotor itu. Lagi pun mencucinya jugakan menggunakan mesin cuci, jadi Alesha pikir tidak ada salahnya jika ia ikut andil dalam melakukan kegiatan yang biasanya dilakukan oleh seorang istri.


Tapi lagi-lagi, para pelayan malah melarangnya, dan mengatakan jika Alesha adalah Nyonya rumah, jadi tidak pantas jika Alesha melakukan pekerjaan para pelayan. Alesha sendiri sudah menegaskan kepada para pelayan, memanglah ia seorang Nyonya di rumah itu, namun ia jugakan seorang istri yang mesti bisa menjalani semua tugas yang berkaitan dengan kebersihan atau kerapihan di rumah, salah satunya yaitu mencuci pakaian.


Namun para pelayan itu tetap melarang, dan menjelaskan kalau Alesha tidak perlu melakukan pekerjaan apapun di rumah itu karna para pelayan lah yang akan mengurusnya.


Jadi, pada akhirnya Alesha hanya berkeliling, melihat-lihat, dan berakhir dengan ia yang terduduk santai di pinggir kolam renang yang letaknya berada dibagian dalam mansion suaminya itu.


"Ish, bosenin banget sih!"


Alesha ingin berenang, namun ia tidak bisa berenang, dan juga ia yakin kalau kolam renang itu memiliki kedalaman air rata-rata 160 cm. Oh ayolah, tinggi Alesha hanya 163 cm, dan itu berarti meski ia sudah berdiri tegak tubuhnya akan tetap tenggelam.


"Permisi, Nyonya.."


"Nona!" Koreksi Alesha pada pelayan yang barusan memanggilnya. "Panggil aku Nona!"


"Ah iya, maafkan saya, Nona," Ucap pelayan itu sembari menunduk malu.


"Ada apa?" Tanya Alesha.


"Ini sarapan anda, Nona," Jawab pelayan itu seraya menaruh seporsi makanan, dan jus mangga untuk Alesha.


Mata Alesha langsung membulat, senyum sumringah pun kini menghiasi wajah manisnya. "Ayam geprek sama sambel goreng?" Tanya Alesha yang begitu bersemangat.


"Iya, Nona," Pelayan itu mengangguk.


"Ah! Terima kasih," Pekik Alesha yang terlihat bahagia atas jawaban dari si pelayan itu. "Kau mau?" Tawar Alesha.


Sontak pelayan itu menggenglengkan kepalanya dengan ekspresi yang menunjukkan ketidak percayaan atas sikap  Nyonya mudanya yang begitu ramah karna mau menawari makanan pada seorang pelayan biasa.


"Baiklah. Tapi jika kalian mau kalian buat saja yang baru, jangan makan makanan sisa," Ucap Alesha yang begitu perhatian kepada pelayannya. Alesha tidak mau merendahkan para pelayannya, bagaimana juga mereka adalah manusia yang sedang bekerja untuk mencari uang, dan sudah berjasa karna mau mengurus segala keperluan di rumah besar itu. Alesha juga tidak mau bersikap angkuh, apalagi semena-mena kepada para pelayan, dan para penjaganya karna mereka telah sangat baik, dan ramah pada Alesha.


"I-iya, Nona," Pelayan itu benar-benar tidak menyangka jika ia bisa memiliki majikan yang sebaik Nyonya mudanya sekarang ini. Tidak pernah ia mendengar apalagi menerima ucapan kasar, atau hinaan dari Alesha. "K-kalau begitu saya permisi dulu, Nona."


"Iya, silahkan," Balas Alesha sangat ramah.


Pelayan itu pun pergi, dan Alesha mulai menyantap makanan favoritnya.


Sebagai pecinta makanan pedas, Alesha selalu meminta kepada para pelayan dapur untuk membuatkan makanan yang serba pedas, kecuali sayuran karna Alesha bukanlah seorang vegetarian, dan ia juga tidak suka  sayur-sayuran.


Makan sendirian, di pinggir kolam renang indoor sembari menatap taman belakang yang begitu menenangkan. Deru merdu suara burung, cahaya pagi hari, dan rerumputan yang menambah kesejukan sekitar membuat Alesha asik bersama dirinya sendiri.


Tapi entah kenapa, dan berasal dari mana tiba-tiba saja terbesit sebuah pikiran lucu dalam kepala Alesha.


Seminggu tidak ada suami, seperti seorang janda malang yang luntang-lantung sendirian.


"Uhuk, Uhuk, astagfirullah," Alesha menepuki dadanya ketika tidak sengaja ia tersedak akibat pikiran konyolnya itu. "Hahaha, bisa marah Mr. Jacob kalau tahu Alesha tiba-tiba aja kepikiran hal kaya gitu," Alesha terkekeh karna ulahnya sendiri.


Kok bisa ya kaya gitu?


Entahlah, itu hanya pikiran sekilas yang tidak sengaja terlintas dalam kepala Alesha.


"Enggak! Alesha gak mau jadi janda muda," Alesha bergidik ngeri membayangkan jika ia benar-benar menjadi janda diusianya yang masih menetap pada angka dua puluh.


Alesha bergeming selama beberapa saat, lalu setelah itu ia segera meraih ponselnya, dan berita untuk menelpon suaminya, Jacob.


Maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak dapat dihubungi.....


"Eh!" Alesha berkerut bingung. Ditatapnya layar ponsel itu. "Kok gak bisa dihubungin sih?"


Penasaran, Alesha kembali menelpon nomor suaminya itu.


Maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak dapat dihubungi.....


"Ish, Mr. Jacob!" Alesha mulai panik. Pikirannya melayang kemana-mana kala feeling buruk mulai merasuki dirinya.


Alesha tidak mau beranggapan jika apa yang ia pikirkan tadi adalah sebuah pertanda negatif yang akan menimpanya.


Panik!


Alesha terus menerus melakukan panggilan telepon, namun tetap saja nomor suaminya itu tidak dapat dihubungi.


"Ish, Mr. Jacob kemana sih? Dia gak pernah kaya gini sebelumnya. Kenapa nomor gak bisa dihubungin!" Dumal Alesha.


Tidak perduli dengan makanannya yang belum habis, Alesha langsung bangkit dari duduknya untuk pergi mencari Taylor.


"Taylor..... Taylor....."


Alesha berjalan secepat mungkin. Sampai akhirnya ia pun bertemu dengan lelaki yang ia cari.


"Nona, ada apa?" Tanya Taylor.


"Mr. Jacob nomornya gak bisa dihubungin. Kamu tahu kenapa?" Tanya balik Alesha yang sudah bercampur dengan kepanikan.


Taylor terdiam tidak tahu bagaimana menjawabnya. Ia sudah berjanji untuk tidak mengatakan pada nyonya mudanya jika Jacob sedang dalam perjalanan kembali ke Indonesia sekarang, dan mungkin Jacob akan tiba sekitar pukul sebelas siang.


"Taylor, kenapa diam? Kau tahu kenapa nomor telepon Mr. Jacob tidak bisa dihubungi?" Ulang Alesha.


"Eemm, sepertinya Tuan Jacob sedang sibuk, Nona, maka dari itu nomor teleponnya tidak bisa dihubungi," Jawab Taylor, ragu.


"Kau yakin dia tidak apa-apa? Aku sangat khawatir, Taylor," Tampak sekali raut-raut takut, dan khawatir pada mimik wajah Alesha.


"Tuan Jacob baik-baik saja, Nona. Nona tidak usah panik seperti ini," Balas Taylor yang sedikit terkekeh karna melihat gelagat lucu nyonya mudanya yang panik karna khawatir akan keadaan tuan mudanya.


"Bagaimana kau tahu jika suamiku itu baik-baik saja?" Tatapan menuntut sebuah jawaban pun Alesha berikan pada asisten pribadi suaminya.


"Emm... T-tadi, Tuan Jacob masih sempat menghubungi saya, dan dia bilang jika dia akan pergi bersama rekan kerjanya, Nona," Jawab Taylor, asal. Namun, ternyata Nyonya mudanya itu malah balik menatap penuh keseriusan. Taylor pun gelapan, dan salah tingkah, ia takut jika Alesha tidak akan mempercayai ucapannya.


Nona, jangan pandang aku seperti itu....... Ucap Taylor dalam hatinya.


"Tolong kabari aku jika kau sudah bisa menghubungi Jacob."


"Huft.." Taylor menghembuskan napasnya dengan sangat samar.


Tapi sebentar.


Tadi Nyonya muda itu menatap Taylor dengan penuh keseriusan, tapi sekarang tatapannya sudah berubah sendu.


Sedih, sedih, lucu. Kasihan, namun mau bagaimana lagi? Taylor tidak boleh menghancurkan rencana Jacob yang akan memberikan kejutan pada Alesha dengan pulang secara tiba-tiba, dan tanpa sepengetahuan Nyonya muda itu.


"Baik, Nona," Balas Taylor dengan senyum ramahnya.


"Yasudah, kalau begitu aku kembali lagi saja ke kamarku," Lirih Alesha seraya membawanya dirinya untuk berjalan kembali menuju kamarnya.


Sekiranya sudah cukup jauh, kekehan kecil pun tidak dapat Taylor tahan. "Nona, Nona. Tuan Jacob beruntung memiliki wanita, dan istri sepertimu."


***


Siang harinya, tepat pada pukul dua belas lewat lima belas, Alesha baru saja menyelesaikan ibadah sholat dzuhur.


Seperti biasanya, Alesha melipat, dan merapikan kembali mukena juga sajadah yang tadi ia gunakan, lalu setelah itu menaruhnya kembali kedalam lemari kecil.


"Huft.." Alesha menghembuskan napasnya dengan berat. Siang ini mungkin akan berlalu dengan membosankan. Ia sudah menonton beberapa film sejak tadi pagi di kamarnya sendiri sambil terus memakan camilan ringan. Tapi masa iya siang ini ia juga harus mengulang kembali kegiatan itu?


Tidak sesuatu yang mengasyikkan apa? Alesha bosan.


Bruk...


Alesha menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur berlapis busa tebal, dan sutra halus itu.


Mengutak-atik ponsel? Argh, itu hal yang terlalu monoton. Alesha butuh sesuatu yang bisa membangkitkan moodnya.


Hening....


Tidak ada pergerakan yang dilakukan oleh istri Jacob itu. Ia termenung, tatapannya menatap lurus ke arah langit.


Cerah namun biru. Serupa dengan apa yang  Alesha rasakan saat ini.


Heh anak haram!......


Kalimat itu kembali mengganggu pikiran Alesha.


Anak haram? Apa Alesha sungguhan anak haram?


"Kenapa keluarga umi pada jahat sih? Seenak jidat ngatain Alesha anak haram, umi wanita gak bener, bapak orang jahat. Sebenernya apa dasar dari tuduhan mereka itu? Sirik? Kadang Alesha bingung, apa yang mesti disirikin? Tapi kakek bilang kalau keluarga umi itu pada sirik, sama gak mau kalah soalnya bapak termasuk orang yang sukses."


Alesha meremas sprey yang berada tepat dibawah telapak tangannya. Geram sekali rasanya ketika Alesha mengingat-ingat bagaimana jahadnya mulut saudara-saudara dari pihak uminya.


"Umi, Bapak....." Lirih Alesha. "Alesha kangen."


Menyandang status sebagai anak yatim piatu sejak usia delapan tahun memanglah tidak mudah untuk Alesha.


Pelukan, candaan, dan kasih sayang orang tuanya sudah lenyap. Hanya ada kerinduan yang selalu Alesha genggam. Ia pun mengingat kembali bagaimana dirinya ketika tahu jika kedua orang tuanya sudah tiada.


*Flashback


"Umi....... Bapak......."


"Alesha, sayang," Balas Umi Alesha sembari mengangkat tubuh gadis kecilnya.


"Umi mau kemana sama bapak?" Tanya Alesha begitu imut selayaknya seorang bocah kecil.


"Umi sama bapak ada urusan dulu sebentar, sayang."


"Alesha boleh ikut?" Kedua mata indah Alesha membulat, berharap jika permintaannya itu akan diterima oleh Uminya.


"Boleh," Umi Alesha menoel gemas ujung hidung putrinya. "Tapi nanti, jangan sekarang."


Mendengar itu, Alesha kecil pun memanyunkan bibirnya, merajuk, dan marah karna ia tidak akan diajak pergi oleh kedua orang tuanya.


"Kita lagi ada urusan dulu sebentar, sayang," Ucap Bapak Alesha sembari menaruh ciuman gemas pada pipi gembul putrinya. "Nanti kalau udah, kita jalan-jalan ke Farm House."


"Janji!" Alesha mengacungkan jari kelingkingnya, namun masih dalam ekspresi sebal, dan bibir manyunnya.


"Iya, sayang. Janji," Balas Bapak Alesha sembari mengaitkan jari kelingking besarnya pada jari kelingking mungil milik putrinya.


"Yaudah, peluk Alesha dulu sekarang, kalo enggak umi sama bapak gak boleh pergi!" Ketus Alesha kecil.


Umi, dan Bapak Alesha terkekeh hingga tertawa kecil karna mendapati sikap manja putri cantik mereka itu.


"Sini, sini.... Berpelukkan."


Alesha menyunggingkan senyum bahagia ketika bapaknya memberikan pelukan kasih sayang pada ia, dan juga uminya.


Sungguh gadis kecil yang beruntung. Memiliki orang tua yang cerdas, dan sangat penyayang, juga rendah hati. Namun sayang, itu adalah kali terakhir untuk Alesha kecil merasakan bagaimana hangatnya pelukan dari kedua orangnya.


Setelah itu, Alesha pun membiarkan umi, dan bapaknya pergi karna ia benar-benar menganggap kalau kedua orang tuanya itu akan kembali lagi, dan membawanya ke taman wisata Farm House.


Tidak ada kecurigaan, atau pertanda apapun yang ditinggalkan oleh kedua orang tua Alesha. Mereka berangkat begitu saja sebagaimana biasanya mereka berangkat bersama menuju tempat kerja. Mereka tidak tahu jika Mack sudah menyuruh anak buahnya untuk mensabotase mobil bapak Alesha itu.


Berjam-jam Alesha menunggu kepulangan orang tuanya. Ia duduk di teras rumah sembari memainkan mainannya, bahkan saat itu Alesha sudah berdandan cantik agar setelah kedua orang tuanya pulang, ia sudah siap untuk pergi berjalan-jalan.


Satu jam, dua jam, tiga jam....


Alesha bosan. Ia belum sempat makan karna ia ingin makan bersama kedua orang tuanya nanti.


Tetapi, ketika jam sudah menunjukkan pukul empat lewat dua puluh lima, tiba-tiba saja Alesha mendapatkan kabar dari kakeknya jika kedua orang tuanya mengalami kecelakaan di jalan raya.


Alesha sangat syok saat mendapat kabar itu dari kakeknya. Lalu mereka pun buru-buru berangkat menuju rumah sakit dimana jasad kedua orang tua Alesha akan dilakukan tindakan outopsi.


***


Sesampainya di rumah sakit, Alesha dan kakeknya menunggu sekitar sepuluh menit sampai sebuah mobil ambulance yang mengakut tubuh kedua orang tua Alesha tiba.


"Pak, tolong tutupin mata cucu bapak. Dia masih kecil, jangan sampe ngeliat tubuh orang tuanya yang hangus kebakar," Ucap sang perawat UGD.


Hangus terbakar? Kakek Alesha langsung merasakan lemas disekujur tubuhnya. Dan tepat setelah dikeluarkannya tubuh umi dan bapak Alesha dari dalam mobil ambulance, kakek Alesha pun langsung menutupi wajah cucu perempuannya.


Satu yang terlintas dalam kepala kakek Alesha setelah melihat bentuk dari jasad anak dan menantunya saat ini.


Hancur.


Kulit yang gosong, luka bakar teramat parah hingga memperlihatkan daging bagian dalam.


"Lepasin, Kakek!!" Alesha menghentakkan lengan kakeknya dengan keras.


"Umiiiiii, bapak........"


Lengkingan suara Alesha pun memecah keheningan lorong rumah sakit. Para perawat, dan dokter yang berada di sana mencoba untuk mengejar Alesha kecil yang terus berlari mengikuti dua kasur pasien yang diatas terdapat jenazah sepasang suami istri yang bukan lain adalah orang tua Alesha sendiri.


"Hiks, hiks, hiks, Umi..... Bapak...... Ini Alesha....." Langkah kecil gadis mungil itu begitu cepat, tangisan yang bercucuran membuat siapa pun yang melihatnya menjadi iba.


"Umi.... Bapak..... Ini Alesha, tungguin Alesha.....Hiks, hiks, hiks."


Tepat saat di depan pintu ruang outopsi, dua orang perawat berhasil menangkap tubuh Alesha yang hampir saja masuk ke dalam ruangan itu.


"Engga, lepasin Alesha! Umi.... Bapak..... Alesha di sini.... Hiks, hiks."


Alesha memberontak, tangisnya tiada henti karna menginginkan untuk bisa bertemu dengan kedua orang tuanya.


"Hiks, hiks, lepasin Alesha, Tante, Om, Alesha pengen ketemu sama umi sama bapak."


Kedua perawat itu sempat meneteskan air mata. Mereka merasa prihatin, dan sedih karna melihat Alesha yang menangis tersedu-sedu ingin bertemu dengan kedua orang tuanya yang sudah terlanjur tidak bernyawa.


"Alesha...." Kakek Alesha yang baru tiba pun langsung memeluk, dan menggendong cucu kesayangannya itu.


"Kakek, Alesha pengen ketemu sama umi sama bapak, hiks, hiks."


"Engga, sayang, umi sama bapak kamu udah meninggal," Kakek Alesha tak kuasa menahan tangisnya. Ia tidak kuat untuk menerima kenyataan yang saat ini menyatakan jika cucu perempuannya itu telah menjadi yatim piatu.


"KAKEK BOHONG! UMI SAMA BAPAK BELUM MENINGGAL! TADI MEREKA JANJI MAU AJAK ALESHA JALAN-JALAN!!!" Alesha memukuli tubuh kakeknya dengan keras. Tentu saja ia tidak terima dengan pernyataan kalau kedua orang tuanya sudah tiada.


Tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka. Seorang dokter lelaki muda yang sudah menunjukkan raut kepasrahan juga kesedihan pun muncul.


"Pak Dokter, umi sama bapak Alesha gak kenapa-Kenapa kan? Hiks, hiks."


Dokter muda itu menitikkan air matanya kala melihat gadis kecil sedang menatap penuh tangis kepadanya.


"Umi sama bapak kamu udah baik-baik aja sekarang," Ucap Dokter itu selembut mungkin dengan telapak tangan kanannya yang mengelus lembut pipi Alesha. "Mereka udah gak bakal ngerasain sakit lagi. Mereka udah bahagia."


"Bahagia?" Alesha mengerutkan keningnya. "Tuhkan bener! Kakek bohong! Umi sama bapak gak kenapa-kenapa, hiks!" Alesha memberontak, berusaha untuk melepaskan dirinya dari gendongan sang kakek.


"Alesha pengen ketemu umi sama bapak!" Pekik Alesha.


Dokter lelaki muda itu menunduk kepalanya untuk menahan tangis. Ia tidak tega melihat Alesha yang menangis meminta untuk bertemu dengan kedua orang tuanya. Namun hal itu tidak boleh terjadi karna usia Alesha masih terlalu dini untuk melihat wujud tubuh kedua orang tuanya yang habis terbakar.


"Pak Dokter, Alesha pengen ketemu umi sama bapak!!" Alesha berteriak kencang, memaksa untuk bisa dipertemukan dengan kedua orang tuanya.


"Pak, bawa cucu bapak pergi dari sini. Saya mau urus keperluan jenazah yang lain," Pinta lirih dokter muda itu pada kakek Alesha.


"Enggak!! Pak Dokter kok jahat sih!! Hiks, UMIIII, BAPAK........"


Buru-buru kakek Alesha berlari menjauhi ruangan itu. Bahkan tangisan pun sudah mengambil alih raut wajahnya.


*Flashback Off


Basah sudah wajah Alesha yang kini sedang mengenang kejadian kala itu. Alesha sudah tidak pernah melihat lagi rupa kedua orangtua setelah perpisahan mereka di halaman rumah ketika umi, dan bapaknya pamit untuk berangkat menuju tempat yang tidak Alesha tahu.


"Assalamualaikum, Lil Ale..."


"Waallaikumussa..... Lam."


Mata sembab, hidung, dan kedua garis halis yang memerah, juga napas yang tersenggal-senggal. Alesha menatap nanar pada suaminya, Jacob yang tiba-tiba saja muncul didepan ambang pintu.


Tunggu! Jacob berdiri tepat didepan ambang pintu?


Benarkah pria yang ada di dalam kamar itu adalah Jacob? Sejak kapan dia pulang?


Tatapan Alesha sudah terpaku pada dua manik hitam milik suaminya. Meski dibarengi dengan tangisan sendu, sekilas kebahagiaan pun hadir karna mendapati kehadiran sosok yang sangat dirindukannya.


"Alesha...." Lirih Jacob yang tak disangka malah mendapati istri kesayangannya sedang menangis.


"Mr. Jacob.." Tak menunda waktu lebih lama lagi, Alesha langsung melompat dari atas kasur dan berlari menghampiri suaminya.


Jacob sedikit tersentak kala tubuhnya berhantaman dengan tubuh minimalis istrinya.


Mereka saling mengeratkan pelukan masing-masing. Alesha mengalungkan kedua lengannya pada leher Jacob, dan Jacob mengangkat tubuh istrinya yang bergetar karna menangis.


"Alesha, ada apa?" Tanya Jacob, lembut.


Alesha belum menjawab. Ia masih ingin menumpahkannya kesedihannya pada bahu sang suami.


"Alesha, hey, sayang kenapa kau menangis?" Jacob tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya itu. Selama seminggu mereka berpisah, Alesha tidak pernah bercerita apapun tentang kesedihannya pada Jacob.


"Hiks, kau sudah pulang? Kenapa tidak mengabariku?" Lirih Alesha. Ia menarik kepalanya untuk dapat bertatapan langsung dengan Jacob.


"Maaf, Al, aku sengaja tidak mengatakannya karna aku ingin membuat kejutan untukmu," Balas Jacob sembari mengecupi wajah si manis yang selama ini begitu dirindunya.


"Aku merindukanmu, Jack," Alesha menakup wajah suaminya. Kedua kelopak mata Alesha pun turut mengering saat tatapannya sudah terkunci pada sepasang iris hitam Jacob.


"Kau pikir aku tidak?" Jacob memajukan kepalanya agar bisa lebih dekat lagi dengan wajah Alesha. "Aku sangat merindukanmu, My Lil Ale."


Lalu pada detik berikutnya, satu ciuman lembut Jacob kini telah membelai halus bibir ranum Alesha.


Sepasang pengantin baru itu saling memejamkan mata, dan membiarkan pertautan bibir mereka tetap terhubung dalam jangka waktu yang lebih lama lagi.


Jacob sudah tidak mau memikir hal lain. Yang ia ingin saat ini adalah kebersamaannya dengan Alesha. Seminggu mereka berpisah, rasa rindu tentunya langsung membludak kala pertemuan mereka saat ini.


Bahkan, tanpa melepaskan ciuman hangatnya bersama sang istri, Jacob pun berjalan sambil terus mengangkat tubuh Alesha lalu membaringkannya diatas kasur.