May I Love For Twice

May I Love For Twice
Poor Alesha II



Tetesan air turun dari langit pagi yang berembun. Setengah cahaya matahari tidak dapat menembus awan abu-abu kelam yang melayang-layang bagai kapas dilangit. Cuaca begitu mendung dan dingin saat itu, mungkin itu akan menjadi puncak dari musim dingin yang akan segera berlalu. Suhu di luar rumah sakit berada dikisaran lima belas derajat celcius, dan angin yang berhembus ke dalam ruang rumah sakit membawa suhu udara yang begitu dingin.


Pagi ini pun menjadi pagi yang cukup menegangkan setelah Jacob diberitahu oleh dokter bahwa kondisi Alesha kembali menurun dengan sangat drastis. Upaya lanjutan segera dilakukan oleh dokter tersebut bersama dua orang perawatnya. Di luar ruang tindakan tubuh Jacob mengeluarkan respon panik dan rasa takut seperti yang kemarin ia rasakan. Keringat dingin ditelapak tangan Jacob menunjukan besarnya rasa khawatir pada kondisi Alesha saat ini. Padahal semalam hingga subuh tadi kondisi tubuh Alesha mulai membaik, tapi setelah dokter itu kembali mengecek tubuh Alesha, didapatinya kondisi yang berbalik dengan kondisi tubuh Alesha semalam.


Tubuh Jacob sedikit menegang dan kaku saat ia melihat dokter itu keluar dari dalam ruang tindakan. Kemudian, Jacob segera berdiri tepat dihadapan dokter itu.


"Untuk saat ini, kami belum bisa memprediksi kapan pasien bisa kembali pulih karna kondisi tubuhnya masih belum stabil." Ucap dokter itu dengan raut wajah sedih.


Jacob menundukkan kepalanya dan menghembuskan napasnya dengan sabar. Kemudian dokter itu segera pamit dan melangkahkan kakinya menuju ruangan lain tempat pasiennya sedang menunggu.


Jacob sendiri terdiam sambil memejamkan kedua matanya. Resah dan gelisah mengetuk-ngetuk hati Jacob meminta izin untuk masuk, namun Jacob ingin berusaha setenang mungkin dan tetap berpikir positif. Tangan Jacob meraih gagang pintu lalu menekannya, kemudian terbukalah pintu ruangan tersebut. Kaki Jacob segera melangkah menuju kasur pasien tempat Alesha yang sedang terbaring.


Ditatapnya wajah Alesha dengan seksama oleh Jacob.


Kau harus bangun. Aku tau kau akan pulih kembali. Aku menunggumu Alesha.... Gumam Jacob dalam hati.


Wajah Alesha dielus lembut oleh Jacob. Setiap jemari Jacob mampu merasakan kulit Alesha yang kembali mendingin. Jam pada dinding terus bergerak hingga mencapai pada titik dimana datangnya rasa kecemasan dan ketakutan yang secara mendadak menghampiri tanpa adanya perizinan. Jantung Jacob berpacu semakin cepat seolah ada sebuah pedal yang menambah pergerakan disetiap detiknya.


Levin segera berlari ke luar ruangan untuk mencari dokter saat mendapati mesin Elektrokardiogram (EKG) atau alat pendekteksi aktivitas jantung yang Alesha gunakan menunjukan lonjakan peningkatan aktivitas jantung Alesha yang begitu signifikan. Saat ini, Alesha kembali mengalami serangan jantung secara dadakan.


Walau seberapa kuat Jacob menahan untuk bisa tetap bersikap tenang, tingkat kepanikannya malah semakin bertambah, apalagi ketika mendapati Alesha yang secara tiba-tiba terkena serangan jantung dadakan. Jacob merasakan ada sesuatu yang sedang mengacak-acak hatinya saat ini. Telapak tangannya terus saja mengelus pipi Alesha, dan keningnya ditempelkan pada kening Alesha. Air mata Jacob bercucuran hingga terjatuh dan mengenai lalu ikut mengalir pada pipi Alesha. Bastian yang berdiri tepat di belakang Jacob pun menunjukan ekspresi wajah tidak percaya dengan mulut yang sedikit terbuka. Beberapa kali Bastian menggelengkan kepalanya untuk memastikan kalau ia tidak salah lihat dengan pemandangan yang saat ini berada tepat di depan matanya. Perasaan Bastian yang difokuskan antara ragu atau harus percaya kalau memang Jacob, mentornya itu benar menyukai Alesha, anggota timnya sendiri.


"Tidak, kau pernah seperti ini, aku tahu kau bisa melewati ini, Al. Aku mohon kau harus kuat, aku menemanimu." Jemari Jacob beralih dengan meraih jemari Alesha. Digenggamnya dengan kuat jemari Alesha, air mata Jacob terus turun dan ikut membasahi pipi Alesha juga.


Selang beberapa menit, Levin masuk bersama seorang dokter dan seorang perawat. Amarah Levin memuncak saat melihat Jacob yang masih menempelkan keningnya pada kening Alesha.


"Menyingkirlah!" Levin menarik baju Jacob dengan kuat hingga membuat Jacob hampir terjatuh. Dokter dan seorang perawat segera mengambil alih Alesha. Beberapa tindakan segera dilakukan, Jacob yang berusaha untuk mendekati Alesha lagi ditahan oleh Levin.


"Jangan ganggu mereka, kau akan menghambat dan memperburuk keadaan!!" Bentak Levin.


"Jacob.." Panggil Laura dengan khawatir saat melihat Jacob, anaknya yang menangis tersedu-sedu.


Lengan Levin yang menahan Jacob seketika mengendur saat merasakan tubuh Jacob yang mulai melemah karna pasrah. Jacob merosot dan tertunduk lemah dilantai. Bagaikan seseorang yang baru saja kehilangan orang yang dicintainya, Jacob kembali merasakan rasa sakit yang sama saat ia kehilangan Yuna tiga tahun yang lalu.


"Cukup, kenapa harus seperti ini? Yuna..." Gumam Jacob dengan lirih dan penuh kepedihan. Pikiran Jacob kini menunjukan sosok Yuna yang tiga tahun lalu masih bersama dengannya, dan seperti sebuah kilat, memori saat ia untuk terakhir kalinya melihat wajah Yuna terpampang dengan jelas. Pudar dan semakin pudarlah bayangan Yuna dalam pikiran Jacob, namun rasa sakit itu semakin bertambah dengan kecemasannya sekarang pada Alesha. Dua wanita yang membuat Jacob begitu tertarik, namun pada masa yang berbeda. Masa Yuna sudah berakhir untuk Jacob, dan Jacob juga tidak mau masa untuk Alesha berakhir begitu saja yang bahkan baru saja dimulai.


Jacob mengusap wajahnya dengan kasar. Laura berusaha mendekat dan ingin mencoba untuk menenangkan Jacob, namun Jacob sama sekali tidak memberikan respon apapun.


"Kita hanya bisa bergantung pada daya tahan tubuh pasien, namun sayangnya daya tahan tubuh pasien semakin menunjukan penurunan." Ucap sang dokter dengan penuh kekhawatiran.


Tali-tali benang bagai mengikat hati Jacob dan membiarkan rasa sakit yang menyebar keseluruh tubuhnya.


"Pasien mungkin akan mengalami koma." Lanjut sang dokter dan membuat tubuh Jacob terlonjak kecil. Levin pun terkesiap saat mendengar kata-kata itu keluar dari dalam mulut sang dokter.


Suasana di dalam ruangan itu terasa semakin menyedihkan setelah dokter dan seorang perawatnya pergi keluar. Raut-raut wajah cemas dan pasrah menjadi pembalut ekspresi yang ditunjukkan oleh Levin, Bastian, dan Laura, terutama Jacob. Tidak henti-hentinya Jacob memanggil nama gadis yang menjadi inti kesedihannya saat ini. Alesha sudah mulai memasuki hati Jacob, dan Jacob ingin terus membuktikan pada dirinya kalau memang Alesha adalah tujuan selanjutnya, tapi tidak seperti ini juga caranya. Dengan kondisi Alesha yang seperti ini mungkin bisa menjadi bahan pembuktian untuk Jacob pada dirinya sendiri, namun hal ini juga benar-benar menyakiti hati Jacob. Bahkan Jacob terus bertanya pada dirinya sendiri, apa ini ujian yang harus dia lewati? Sesakit ini kah? Atau masih ada lagi yang hal yang lebih menyakitkan dari ini?


"Jangan permainankan aku, kembalilah." Gumam Jacob dengan lirih.


***


Di WOSA, tim Luxury-01, yang merupakan tim Jacob dan Bastian sedang berkumpul di taman. Mereka tidak melakukan apa-apa sejak kemarin, Mr. Thomson juga tidak menyuruh seseorang untuk mementori mereka untuk sementara hingga Jacob kembali.


"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Tyson sambil mencabuti rumput taman.


"Tidak ada." Jawab Nakyung.


"Seandainya Bastian tidak ikut, setidaknya kita tidak akan terabaikan seperti ini." Lucas mendengus.


"Siapa?" Tanya balik Nakyung.


"Bastian." Jawab Mike.


"Sudah, dan dia bilang dia tidak bisa pulang cepat. Kondisi Alesha masih kritis." Nakyung menghembuskan nafasnya. "Sebenarnya siapa yang menculik Alesha dan membuatnya menjadi kritis?"


"Yang pasti bukan orang baik." Saut Lucas.


Karna merasa bosan, Merina melemparkan daun yang sedari tadi ia mainkan. "Mr. Jacob, Bastian, Alesha kapan kalian akan kembali?" Merina mendengus. "Kita terabaikan di sini." Lanjutnya.


"Ya, kau benar. Aku mulai berpikir kalau lebih baik kita meminta Mr. Thomson untuk mencarikan mentor pengganti untuk sementara waktu." Usul Aiden.


"Siapa? Mrs. Laras? Dia sedang kembali ke Indonesia bukan?" Tanya Tyson.


"Siapa saja yang bisa." Jawab Aiden.


"Aku pikir lebih enak begini." Saut Stella yang sibuk dengan ponselnya. "Sesekali kita libur saat yang lain sedang sibuk belajar."


"Membosankan." Balas Nakyung sambil memutar kedua bola matanya dengan malas. "Kau pikir enak? Aku dan Alesha kebosanan saat yang lain sibuk belajar dan kami hanya terdiam di dalam kamar." Lanjut Nakyung sambil mengingat saat-saat ketika ia dan Alesha diberikan waktu berlibur sehari karna kejadian waktu itu.


"Kita hanya perlu menikmatinya." Balas Stella.


"Aku malah tidak menikmati itu." Nakyung mengalihkan matanya untuk menemukan objek yang bisa ia tatap dengan nyaman.


"Kalian berisik, aku lebih baik mendengarkan musik." Ucap Merina sambil menikmati musik yang mengalir melalui earphonenya.


***


Jam menunjukan pukul sepuluh siang, dan dari kemarin hingga saat ini, Jacob belum juga memasukan apapun kedalam perutnya. Laura khawatir akan kesehatan anaknya, jadi ia berniat untuk mendekati Jacob dan memberikan sepotong roti yang tadi ia beli di kantin rumah sakit.


"Jacob, kau harus makan, kau belum makan dari kemarin." Ucap Laura sambil menyodorkan sepotong roti pada Jacob. Dilirik saja tidak, apalagi diterima oleh tangan Jacob, ia terlalu sibuk memandangi gambar Alesha yang sedang tersenyum manis diponselnya.


Laura menunduk, rasa kesedihan kembali menyelinap memasuki hatinya, lagi dan lagi ia diacuhkan oleh anaknya. Sakit, namun Laura tidak bisa berkata apa-apa, ia paham kalau Jacob masih marah padanya.


"Jacob." Panggil Laura dengan lirih. Karna tidak mendapatkan respon apapun dari Jacob, wanita paruh baya itu akhirnya memiliki cara lain, yaitu dengan duduk disisi Jacob. Ia memotek kecil roti yang ia pegang lalu menyodorkannya pada Jacob. Niat hati ingin menyuapi Jacob, namun sayangnya Jacob membalas dengan memandang sinis pada potongan roti yang disodorkan itu.


"Ibuku tidak pernah menyuapiku, kenapa aku harus menerima suapan darimu?" Sindir Jacob.


Laura membulatkan matanya ketika mendengar sindiran keras dari Jacob barusan. Nafasnya sedikit terengah-engah dan hatinya seperti ditusuk beribu panah. Air mata mulai berkumpul pada kelopak mata Laura. Wanita paruh baya itu tersakiti oleh ucapan anaknya barusan. Tidak menyangka kalau Jacob bisa berkata setajam itu, anaknya sendiri seolah tidak menghargainya, namun Laura juga tidak bisa berkata apa-apa, ia sadar kalau kesalahan terbesar ada padanya dan mendiang suaminya.


Laura memejamkan matanya menahan rasa sakit yang menusuk-nusuk hatinya. Air mata mengucur membuat jalur kecil pada pipi Laura.


"Maafkan ibu, Jack, ibu akan selalu bersabar untuk bisa mendapatkan maaf darimu dan Mona." Laura menghapus air matanya yang kembali mengucur.


Jacob tetap menghiraukan ucapan ibunya itu. Kini yang memenuhi hati dan pikiran Jacob adalah Alesha, dan mungkin masih belum ada tempat untuk ibunya.


"Kau bukan ibuku. Kau salah anak." Balas Jacob dengan datar.


"Kita cek sekarang selagi kita masih berada di rumah sakit. Kau adalah anakku Jacob, aku berhasil mendapatkan data dirimu dan Mona, kalian adalah anakku." Balas Laura yang menangis tersendu-sendu.


Emosi mulai memasuki diri Laura, cukup sudah ia bersabar karna terus saja tidak dianggap ibu oleh Jacob. Segera Laura bangkit dan berjalan menuju keluar ruangan.


"Mr. Levin, aku pikir Nyonya Laura memang ibunda Mr. Jacob." Bisik Bastian pada Levin.


"Ya." Balas Levin dengan singkat. Levin sedang malas berbicara saat ini, jadi ia memilih diam dan memperhatikan drama ibu dan anak antara Laura dan Jacob.