
Setelah sampai di ruangannya, Jacob pun segera menyuruh pada Alesha agar berbaring disofa besar, dan dengan setengah hati akhirnya Alesha menuruti perintah mentornya itu.
Tega banget punya mentor, masa iya tiduran disofa... Ucap Alesha dalam hati.
Tidak lama setelah itu, Jacob pun keluar dari dalam kamarnya sambil membawa boneka beruang milik Alesha. Jacob pikir Alesha bisa berbaring disofa itu sambil memeluk boneka besarnya.
"Ini, pakai ini." Ucap Jacob sambil memberikan Baby Alenya pada Ale yang asli.
"Bontot, ah ya ampun sudah berapa hari aku tidak memeluknya." Pekik Alesha yang kegirangan ketika Jacob memberikan boneka beruang besar itu padanya.
"Baby Ale, Alesha." Saut Jacob.
"Bontot, dia bonekaku!" Balas Alesha dengan mata yang melotot pada Jacob.
"Terserah tapi namanya adalah Baby Ale." Balas Jacob sambil berjalan menuju meja kerjanya.
"Ah sudahlah aku malas jika berdebat denganmu, yang ada akhirnya hanya akan membuatku sebal padamu." Alesha mendengus lalu memeluk bonekanya yang selama hampir dua minggu tidak ia lihat.
"Kau yang memulainya." Goda Jacob.
"Lebih baik kau katakan saja apa yang mau kau sampaikan, tidak usah memancing emosiku!" Ketus Alesha.
"Aku tidak memancing emosimu, kau yang selalu marah dengan tiba-tiba padaku." Balas Jacob.
"Ya tapi kau yang selalu membuatku menjadi marah secara tiba-tiba padamu, jangan salahkan aku." Balas Alesha yang mulai tersulut kembali oleh emosi.
"Hanya karna hal tadi?" Jacob mengangkat sebelah alisnya.
"Ya, dan yang sebelumnya juga." Alesha mengangkat dagunya dengan tatapan menantang pada Jacob.
"Yang mana?" Tanya Jacob yang berpura-pura tidak tahu ditambah dengan ekspresi tidak bersalahnya.
Alesha memutar bola matanya dengan jengah. "Kalian lihat bagaimana tingkah mentor kalian? Dia sangat menyebalkan, kalian harus tahu itu!" Ucap Alesha pada rekan setimnya.
Smirk usil Jacob pun seketika terbentuk. Ucapan Alesha barusan dapat Jacob jadikan sebagai jebakan untuk membercandai gadisnya itu. "Aku menyebalkan, tapi kau menyukainyakan?" Tatapan usil dan menggoda tercetak jelas pada wajah Jacob saat ini.
Blushh....
Seperti ada angin panas yang menerpanya, wajah Alesha dengan cepat memerah karna ucapan mentornya barusan. Jacob benar-benar menguji emosi Alesha kali ini. Sangat malu saat Alesha berada dihadapan anggota timnya dan mendapatkan kalimat seperti tadi dari mentornya. Sedangkan Jacob tersenyum menang, akhirnya ia bisa kembali menjahili Alesha.
"Tidak! aarrgghh, Bastian cepat berikan perintah, aku geram dengan Mr. Jacob, kau tahu sendirikan bagaimana tingkahnya!" Ucap Alesha pada Bastian dengan emosi yang menggebu-gebu, lalu tatapannya beralih kembali menuju Jacob.
"Aku tidak tahu kalau Alesha bisa seberani itu pada Mr. Jacob, lihat matanya, begitu tajam menatap pada Mr. Jacob." Komen Mike yang berbisik pada Lucas.
Tapi sayangnya bisikan Mike itu masih bisa terdengar oleh Alesha. "Diam kau Mike! Aku mendengarnya!"
"Abaikan Alesha, dia sedang sensi." Ucap Jacob.
Alesha mendengus dan menatap mentornya dengan tatapan kesal. Namun berbeda dengan Jacob, wajahnya ditopang diatas kedua telapak tangannya, alisnya terangkat dan senyum menawan terukir jelas untuk membalas tatapan maut Alesha yang tidak ada apa-apanya.
"Eh, Mr. Jacob, daripada kau membuang waktu dengan membalas tingkah Alesha, aku pikir lebih baik kau katakan saja apa yang mau kau sampaikan." Usul Nakyung.
"Benar, Nakyung, katakan pada mentormu agar tidak menggangguku terus menerus!" Saut Alesha yang ekspresi sebalnya masih terfokuskan pada sang mentor yang kini sedang memberikan tatapan menggoda padanya. Apa coba maksudnya? Pikir Alesha.
Sedangkan Jacob, hatinya tiba-tiba saja berdegub kencang ketika melihat wajah Alesha, entah karna apa Jacob pun tidak tahu.
"Berhenti menatapku! Atau lebih baik aku pergi!" Bentak Alesha. Aish kali ini Alesha benar-benar geram, ia masih marah karna ulah Jacob tadi yang merangkul pinggangnya dihadapan murid-murid WOSA.
"Alesha, kau membentak Mr. Jacob?" Aiden mengerutkan keningnya.
"Ya! Dia membuatku malu dan kesal!" Alesha mengangkat jari telunjuknya dan menunjuk pada Jacob.
Jacob pun terkekeh ketika melihat reaksi Alesha setelah mendapat pertanyaan dari Aiden.
"Aku baru tahu kau seberani itu." Komen Tyson.
"Dia yang membuatku geram! Kalian semua belum tahu saja bagaimana tingkah mentor menyebalkan itu!" Alesha menggertakkan giginya pada Jacob, sedangkan Jacob hanya membalasnya dengan senyuman manis.
"Kau bisa membuat nilai tim berkurang, Al." Ucap Nakyung yang mulai jengah.
"Nilai lagi! Argh, selalu saja nilai yang menjadi ancaman." Alesha mendengus dan menatap penuh emosi pada mentornya.
"Cukup! Alesha duduk! Mr. Jacob silahkan bicara tentang yang ingin kau katakan." Tegas Bastian. Si ketua itu kini menunjukan kembali sisi kepemimpinannya.
Alesha pun terdiam, Bastian sudah memberikan perintah, jadi Alesha mau tidak mau harus menurutinya. Begitu pun Jacob, ia juga harus menuruti apa yang Bastian perintahkan.
Jacob menggigit bibir bawahnya selama beberapa detik lalu mulai tersenyum kembali, tiba-tiba saja ingatan tentang malam itu kala untuk yang pertama kalinya Jacob mencium bibir Alesha kembali mengiang dipikirannya. Hal itu membuat Jacob tidak fokus dan lupa dengan hal yang ingin ia tanyakan pada anggota timnya.
"Mr. Jacob, kau membuang waktu, katakan apa yang ingin kau katakan sekarang!" Tegas Bastian sekali lagi.
"Baiklah." Jacob pun menggerakkan tubuhnya dan mencari posisi duduk yang nyaman. "Aku ingin tahu apa yang terjadi pada kalian di sini selama aku pergi."
Para anggota tim Luxury-1 itu pun saling menatap satu sama lain, kecuali Bastian dan Alesha. Siapa yang akan berbicara dan menjelaskan pada sang mentor? Pikir mereka. Hingga akhirnya, Nakyung pun berani untuk membuka mulutnya untuk memberikan jawaban pada Jacob.
"Awalnya kami tidak diberi mentor pengganti oleh Mr. Thomson, tapi beberapa hari setelah kau pergi ada Mr. Aldi yang datang ke mess kami hingga akhirnya ia yang menjadi mentor pengganti untuk sementara waktu, dan saat malam hari Mr. Aldi mendatangi kami lalu meminta kami untuk bergabung dengan anggota tim Mr. Eve, Mr. Aldi bilang kalau kami dan anggota tim Mr. Eve sedang menjadi incaran oleh orang-orang jahat itu, jadi untuk beberapa hari kami pun bergabung dengan anggota tim Mr. Eve, dan Brandon yang menjadi ketua dari kedua tim, juga Mr. Aldi yang menjadi mentor kami dan tim Brandon." Jelas Nakyung secara singkat.
"Apa?!" Bastian terlonjak kaget dan terlihat begitu terkejut ketika mendengar penjelasan dari Nakyung kalau Brandon yang menjadi ketua dari anggota timnya. "Brandon jadi ketua tim kalian?" Ekspresi tidak percaya tercetak jelas pada wajah Bastian.
Nakyung menganggukkan kepalanya. "Ya."
"Aku tidak tahu apa yang terjadi pada timku ketika membayangkan mereka dipimpin oleh Brandon." Bastian menatap pasrah pada Jacob.
"Aku pikir dia ketua yang baik." Saut Maudy. "Dia memang sensi pada kami, tapi walau begitu dia tidak melupakan tugasnya sebagai ketua dari dua kelompok tim. Dia adil dalam memberi keputusan dan tidak pilih-pilih."
"Ya, Brandon memang sombong, merasa paling baik, dan selalu membuatku geram karna tingkahnya, tapi disisi lain Brandon cukup baik pada kami. Maksudnya baik dalam artian tidak pilih kasih, dan dia adil pada kami juga, ya walau dia memang tidak banyak berkomunikasi dengan kami dan selalu menatap sinis pada kami, tapi Brandon tidak mencoreng nama baiknya sebagai ketua tim." Lanjut Nakyung.
"Tentu saja dia seperti itu, mentornya adalah Eve, dan Eve mewariskan sikap kepemimpinannya pada Brandon. Bagus kalau begitu." Komen Jacob.
"Tapi jujur saja, aku masih bingung kenapa orang-orang jahat itu mengincar kami juga anggota tim Mr. Eve. Sebenarnya apa yang terjadi Mr. Jacob?" Tanya Lucas.
Mendapat pertanyaan itu, Jacob pun terdiam selama beberapa saat untuk mencari kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaan Lucas. "Sebenarnya mereka mengincarku dan Eve karna beberapa tahun lalu kami berdua berhasil mengacak-acak dan menghancurkan kelompok jaringan gelap itu. Tapi karna mereka tahu kalau aku dan Eve tidak sedang di WOSA, jadi mereka mengincar kalian dan akan menjadikan kalian sebagai alat untuk menghabisiku, Eve, dan WOSA. "
Mike yang mendengar jawaban dari mentornya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Jahat sekali mereka."
Tyson mengetuk-ngetuk pinggiran bangku sambil menatap bingung pada mentornya. "Lalu bagaimana? Apa mereka akan kembali lagi? Mr. Eve tadi bilang bukan kalau yang kemarin hanya setengahnya saja, sedangkan masih ada setengah kelompok lagi." Tanya Tyson.
"Aku rasa ya, tapi entah kapan. Yang mesti kita lakukan sekarang adalah berwaspada." Jawab Jacob.
Tampang serius kini menjadi riasan pada wajah Jacob, Bastian, dan yang lain. Mereka kembali membenamkan diri pada pikiran masing-masing yang saling tertuju pada satu topik permasalahan. Akankah kelompok jaringan gelap itu beraksi kembali untuk yang ketiga kalinya? Jacob tidak bisa tenang, kini bahaya tidak hanya untuknya dan Eve saja, tapi kelompok mereka juga ikut terlibat. Jacob, Eve, Mr. Thomson, dan Mr. Frank harus memutar otak mencari jalan keluar untuk menghalau pergerakan kelompok jaringan gelap itu. Tahapan yang diambil perlu diperhatikan secara seksama agar tidak ada yang keluar kontrol. Jacob dan Eve sama-sama tahu daya yang dimiliki kelompok jaringan gelap itu, dan mereka siap saja jika SIO memberikan perintah, namun sekarang ini belum saatnya. Mungkin Jacob akan berunding dengan Eve untuk merencanakan tak tik selanjutnya dalam menghadapi musuh yang kini sudah dibilang siap dengan alat tempurnya.
***
Di dalam ruangannya, Laura kini sedang terduduk dengan kaki yang disilangkan sambil menatap sebuah layar kaca besar dihadapannya. Tetera jelas dalam layar kaca itu berita mengenai ditemukannya jasad Mack yang sudah tewas tanpa sebab. Tentu saja berita itu tidak Laura dapatkan dari saluran TV biasa, kepolisian tidak mungkin menyebarkan mengenai berita ini kepada publik, dan yang dapat mengetahui berita ini hanyalah orang-orang khusus, apa lagi Mack terkenal dengan bisnisnya yang besar, walau sekarang bisnisnya itu sudah lenyap. Laura mendapatkan berita tersebut dari sebuah situs resmi yang tidak dapat diakses melalui jaringan internet pada umumnya.
Pihak kepolisian masih menyelidiki tentang penyebab kematian Mack dan beberapa anak buahnya. Beberapa agent khusus pun dikerahkan untuk olah tempat kejadian perkara.
Sebuah ponsel yang tergeletak diatas sofa seketika berubah tempat menjadi berada didalam genggaman tangan milik Laura. Jemarinya bergerak diatas layar ponsel itu untuk mencari nomor telepon yang ingin dituju. Tidak mesti membuang waktu lama, Laura pun mendapatkan nomor yang dimaksud.
"Hallo, siapakan jadwal penerbangan untuk besok, aku akan pergi menuju SIO."
Sebuah perintah singkat yang Laura ucapkan pada anak buahnya melalui saluran telekomunikasi. Dan hanya kalimat itu saja yang Laura ucapkan, setelahnya komunikasi pada jaringan telepon itu pun berhenti ketika Laura memutuskan sambungannya.
"Katakan pada Irene untuk bersiap, besok dia akan ikut bersamaku menuju SIO!" Perintah Laura pada seorang pelayan yang sedang berdiri sopan didekat ambang pintu.
"Baik, Nyonya." Balas pelayan itu lalu pergi untuk segera menjalankan perintah bossnya.
"Jika mereka tahu kalau anakku yang membunuh pria tak berguna dan anak buahnya itu..." Ucap Laura pada dirinya sendiri. Ia sengaja menghentikan ucapannya karna ada sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya.
"Antara bahaya dan zona aman. Pihak kepolisian mungkin berterima kasih pada Jacob karna sudah memudahkan mereka dalam menangkap Mack, walau dalam keadaan tidak bernyawa. Tapi disisi lain Jacob juga akan semakin diawasi oleh orang-orang yang berseteru dengan SIO."
Laras menghembuskan napasnya dengan kasar. "Mona, aku harus bertemu dan berbicara dengannya, terlebih dia sedang mengandung cucuku."
****
Setelah semua percakapan yang dilakukan bersama sang mentor telah usai, akhirnya Bastian, dan anggota timnya pun bangkit dari duduk mereka dan berniat untuk kembali ke mess masing-masing. Sedangkan Alesha? Gadis itu tertidur disofa dengan kepala yang disandarkan pada boneka beruangnya.
Sebenarnya sejak pertengahan percakapan tadi Alesha sudah merasakan pusing dikepalanya, lalu ia menyandarkan kepalanya keboneka beruangnya. Alesha pikir hal itu akan membuat rasa pusing dikepalanya sedikit berkurang, namun yang terjadi selanjutnya adalah Alesha yang ketiduran begitu saja tanpa disadari oleh yang lain, kecuali Jacob. Ia sudah tahu ketika melihat ekspresi wajah Alesha yang sedang menahan sakit dikepalanya, dan Jacob membiarkan begitu saja karna Jacob berpikir kalau Alesha akan tertidur, dan ternyata dugaannya itu benar.
"Jangan bangunkan dia, biarkan dia tertidur, Mr. Jacob yang nanti akan mengantarkannya." Ucap Bastian sembari menatap pada Jacob. Sebagai balasannya Jacob pun mengangguk setuju.
"Kalian kembali saja ke mess masing-masing, aku yang akan mengantarkan Alesha nanti, saat ini Alesha sedang mengistirahatkan kepalanya yang mungkin terasa pusing kembali." Ucap Jacob sambil menyentuh kening Alesha. Jacob sangat mengasihani gadisnya itu. Alesha memang sudah pulih, tapi rasa pusing dikepalanya masih akan tetap kambuh hingga beberapa hari kedepan, dan Jacob merasa kasihan jika ia terus melihat Alesha yang menahan rasa pusing dikepalanya.
"Baiklah kalau begitu, ayo." Nakyung pun melangkahkan kakinya lebih awal, disusul teman-temannya dibelakang, dan Bastian yang terakhir.
"Tunggu, bukannya tadi mereka bertengkar?" Tanya Lucas pada Bastian sambil terus berjalan dilorong gedung mentor.
"Biarkan saja, mereka memang seperti itu." Jawab Bastian seadanya. Bastian sudah tahu perasaan Jacob pada salah satu anggotanya, tapi Bastian tidak bisa mengatakan hal itu pada siapa pun, termasuk anggota timnya yang lain.
Di dalam ruangannya Jacob kini sedang terduduk disebelah Alesha. Menjaga gadisnya itu hingga terbangun adalah hal yang sedang Jacob inginkan untuk saat ini.
Wajah Alesha yang begitu damai membuat Jacob betah berlama-lama untuk menatapi setiap lekuk wajah gadisnya itu.
Tangan Jacob pun perlahan mulai terangkat menuju sudut bibir Alesha yang terdapat bekas kecil dari luka gigitan yang Jacob bentuk beberapa malam lalu. Smirk terukir, gairahnya pun kembali muncul. Jacob sudah menyadari dirinya yang kini mulai lepas kendali lagi. Tidak ingin kejadian malam itu terjadi lagi kala Jacob mengecup lembut bibir Alesha, akhirnya Jacob pun bangkit dan masuk ke dalam kamarnya. Ia ingin menetralisir detak jantung juga hasrat batinnya yang kini sedang membara.
"Cepatlah lulus agar aku tidak perlu sesulit sekarang ini." Gumam Jacob. Ia menutup matanya lalu menarik napas dan menghembuskannya kembali. Beberapa kali percobaan itu dilakukan hingga akhirnya Jacob kembali merasakan dirinya yang mulai tenang.
"Bangun, Ale, aku takut sesuatu yang buruk menimpa kita, aku berusaha untuk menahannya, kau harus kembali ke messmu sekarang juga atau aku akan lepas kendali atas diriku sendiri."
Dengan perasaan yang bercampur aduk Jacob pun memutuskan untuk menepuk pelan pipi Alesha dan membangunkan gadisnya. Sebenarnya Jacob enggan melakukan hal itu karna rasa kasihannya, tapi kalau Alesha dibiarkan tertidur untuk lebih lama lagi di ruangannya, Jacob takut ia malah akan menodai Alesha.
"Al, bangun."
Tepukan halus yang Jacob layangkan mendarat mulus pada pipi Alesha hingga membuat sang pemilik pipi itu pun terusik dan mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Ayo, kau harus kembali ke messmu sekarang." Ucap Jacob.
Mata Alesha menyipit karna efek kantuk yang masih bereaksi pada dirinya.
"Ayo, aku akan mengantarmu." Jacob pun menarik boneka besar yang Alesha peluk lalu setelah itu ia beralih untuk meraih tangan Alesha dan membawa Alesha untuk bangkit dari duduknya.
"Aku masih mengantuk." Ucap Alesha sembari menggesekkan satu jari telunjuk pada matanya.
"Hoaamm.." Tanpa rasa malu, Alesha pun menguap tepat dihadapan wajah mentornya.
Astaga, Alesha kau benar-benar menguji hasratku.... Ucap Jacob dalam hatinya. Ia semakin gelisah dan frustasi ketika melihat Alesha yang terlihat manis walau pun sedang menguap. Gemas rasanya Jacob ingin menerkam gadis dihadapannya itu saat ini juga. Sebelah tangannya terkepal untuk menahan segala kefrustasiannya saat dihadapkan dengan niat buruk yang akan terasa memuaskan jika dilakukan.
"Ayo, kau bisa membuatku gila!" Gumam Jacob sembari mendorong tubuh Alesha agar mulai bejalan.
"Apa?" Tanya Alesha yang samar mendengar ucapan mentornya itu.
"Tidak ada, cepat jalan." Balas Jacob.
Tidak kah Alesha menyadari sikap Jacob yang terlihat cukup berubah akibat menahan hasratnya untuk membawa Alesha pada neraka dunia jika dilakukan tanpa ada ikatan yang sah? Tentu saja tidak. Alesha menahan rasa kantuknya, jadi ia tidak memperdulikan hal lain selain keinginannya untuk kembali tertidur.