May I Love For Twice

May I Love For Twice
Pernyataan Jacob



Pukul 07.00 pagi.


Dibalik selimut sutra tebal yang menghangatkan, terdapat sebuah tubuh mungil yang sedang menggeliat mencari kenyamanan lain dalam kasur empuk yang begitu membuatnya betah untuk tertidur lebih lama lagi.


Dengan dua kelopak mata yang masih terpejam, tubuh itu pun berguling-guling beberapa kali mencari posisi yang paling tepat untuk melanjutkan mimpinya. Tetapi, si pemilik tubuh itu tidak menyadari hadirnya seseorang yang sejak setengah jam lalu sudah terduduk disofa untuk menunggu terbangunnya si ratu manis kesayangan. Dengan senampan breakfast yang ditaruh diatas meja, pria itu tetap bersabar menanti gadisnya untuk bangun, ia tidak mau mengganggu gadisnya yang masih terbayangi oleh alam mimpi.


"Hoamm....." Alesha mengangkat kedua lengannya untuk merenggangkan tubuhnya. "Eungh...." Refleks, Alesha menggesek-gesekkan dua jari telunjuknya pada kedua bagian matanya.


Sebagaimana biasanya orang yang baru bangun dari tidur nyenyak, Alesha pun kembali menggerakkan tubuhnya tak tentu arah, ia pikir kalau ia begitu malas untuk terbangun, ia masih butuh waktu untuk tidur lebih lama lagi.


Ketika Alesha membantingkan tubuhnya kesebelah lain, sebuah deheman berat tiba-tiba terdengar oleh telinganya.


"Ekhem..."


"Selamat pagi, putri tidur."


Sapaan lembut dari seorang pria dipagi hari ini membuat Alesha menyunggingkan senyumnya tanpa disadari.


Eh. Tunggu....


Sapaan lembut dari seorang pria? Dipagi hari ini? Sapaan lembut? Barusan sekaligus terdengar. Siapa? Suaranya seperti seorang pria?


Senyum Alesha langsung luntur seketika setelah menyadari kalau di kamar itu terdapat seorang pria yang barusan sekali menyapanya.


Alesha begitu terlonjak dan menutup seluruh bagian tubuhnya dari kaki hingga kepala, kecuali area wajahnya.


"Mr. Jacob! Apa yang kau lakukan di sini pagi-pagi?" Pekik Alesha yang sudah mengetahui sosok pria yang tadi berdehem dan menyapanya.


"Menunggu putri tidurku terbangun." Jawab Jacob begitu santai.


"Keluar sekarang!!"


Jacob mengerutkan keningnya, tidak percaya dengan perintah Alesha barusan. "Hei, aku menunggumu untuk terbangun bukan untuk mendengar kau mengusirku setelah kau bangun."


"Mr. Jacob, Alesha tidak pakai kerudung! Keluar dulu sekarang juga!!"


"Apa salahnya? Aku kan calon suamimu, sayang."


"C A L O N! CALON! Mr. Jacob masih calonkan? Bukan suami Alesha? Pergi sekarang juga!!"


"Oke, oke, aku keluar sekarang! Tiga menit kemudian aku akan masuk kembali!" Dengan begitu terpaksa, akhirnya Jacob pun bangkit dari duduknya dan berjalan menunju keluar kamar untuk membiarkan Alesha melapisi rambutnya dengan kerudung terlebih dahulu.


Sedangkan Alesha, ia pun langsung loncat dari atas kasurnya dan berlari menuju walk in closet untuk memakai kerudungnya.


Ketika ditengah-tengah kegiatannya untuk menutupi area kepala dan rambutnya, tiba-tiba saja Alesha ingat akan satu hal. Suatu yang paling sensitif yang seharusnya ia pikirkan sejak dulu sebelum perasaannya terhadap Jacob semakin tumbuh membesar.


Kenapa Alesha bisa lupa dan khilaf seperti itu? Kini hatinya mendadak sakit bagai tertikam oleh tusukan dan pukulan keras yang membuat sekujur tubuhnya melemah.


Seharusnya Alesha sadar dan menyadari hal itu sejak dulu. Sekarang, setelah semua perasaannya telah membiak dengan sangat dalam apa yang bisa ia lakukan? Alesha mencintai pria yang menjadi mentornya dulu, tapi ia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa, tidak mungkin mereka bisa bersatu jika apa yang mereka yakini saja sudah sangat jelas berbeda.


"Astagfirullah, kenapa Alesha baru sadar?" Alesha mengepalkan telapak tangannya, lalu menaruh kepalan itu pada dadanya untuk bisa menahan rasa yang sangat menyesakkan yang menyeruak dalam hatinya.


Lemas yang Alesha rasakan sekarang, kakinya seperti tidak mampu lagi jika dipaksakan untuk menopang tubuhnya yang berdiri tegak.


Selepas itu, Alesha pun merosot, berjongkok pada lantai dengan kedua telapak tangan yang sudah menutupi wajahnya. Air mata mulai keluar setetes demi setetes. Rasa sakit dalam hatinya semakin bertambah besar. Ia tidak mungkin bisa menjalin kehidupan pernikahan dengan pria yang selama dua tahun sudah mementorinya. Tetapi ia juga sudah terlanjur mencintai pria itu.


"Kenapa jadi rumit gini sih? Kenapa Alesha bodoh banget?" Kini Alesha hanya bisa merutuki dirinya sendiri. Ia sudah jatuh cinta pada pria yang salah, dan kini ia harus menanggung patah hati untuk yang kedua kalinya. Kenapa kisah cintanya harus serumit ini?


"Ya Allah.... Alesha harus gimana sekarang? Hiks."


Di luar, Jacob yang sudah kembali masuk ke dalam kamar gadis kesayangannya itu kini dibuat bingung karna tidak mendapati sosok manis yang seharusnya sudah selesai memakai pembalut kepala itu.


"Alesha... Sayang..."


Tidak ada sahutan yang Jacob dengar. Ia mencoba untuk berjalan ke arah toilet, namun pintu toilet tidak terkunci, dan ia juga tidak mendapati ada siapa pun dalam toilet itu.


Lalu Jacob kembali bejalan menuju walk in closet dengan harapan ia bisa menemukan objek manis kesayangannya. Benar saja, ia menemukan si manis itu, namun ia juga sangat terkejut karna mendapati kalau gadisnya itu, Alesha sedang terjongkok dengan kedua bahu yang bergetar karna isakan, dan juga telapak tangan yang menghalangi wajah manisnya yang sedang dialiri oleh air mata kesedihan.


"Alesha, ya ampun apa yang terjadi?"


Panik! Jacob segera menghampiri Alesha dan ikut menjatuhkan tubuhnya pada lantai dengan lutut yang menjadi topangan dasar.


"Alesha, ada apa? Kenapa kau menangis?"


"Mr. Jacob, hiks.. Kenapa kita bisa sama-sama bodoh seperti ini?"


Ucapan Alesha barusan tentu saja membuat Jacob langsung terserang keterkejutan, matanya membelalak penuh ketidak percayaan.


"Apa yang bisa kita lakukan? Kau mencintaiku bukan?" Alesha mengangkat wajahnya dan menatap penuh kesedihan pada wajah pria yang ada dihadapannya.


"Apa maksudmu, Alesha? Tentu saja, aku sangat amat mencintaimu. Aku tidak pernah ragu dengan perasaanku, sayang."


"Kalau begitu berhentilah mencintaiku mulai sekarang."


Pelan namun begitu menusuk. Ucapan Alesha itu melesat mencambuki diri Jacob dengan sangat amat keras. Besitan luka langsung terbentuk dalam hati, Jacob merasakan dadanya yang begitu sesak hingga ia mulai kesulitan untuk mengatur jalan napasnya sendiri.


"Tidak!" Jacob menggelengkan kepalanya untuk memperjelas ucapannya. "Tidak akan pernah, Alesha. Aku tidak akan pernah mau melepaskanmu! Aku sangat mencintaimu, aku benar-benar mencintaimu, aku tidak akan pernah melepaskanmu!"


"Apa kau tidak menyadarinya, Mr. Jacob? Kau mengucapkan kalimat itu dengan begitu gampang. Tapi kau harus sadar akan satu hal yang kita lupakan!" Napas Alesha memburu bersamaan rintikan air mata yang terus mengalir diwajahnya. "Kau dan aku berbeda." Nada bicara Alesha pun melemah. "Kita tidak bisa bersama dalam keyakinan yang berbeda."


Sakit sekali, Alesha terpaksa mengucapkan kalimat itu untuk membuat pria yang mencintainya tersadar kalau mereka sudah terjerat dalam cinta terlarang.


"Berhentilah mencintaiku dan carilah wanita lain yang sama sepertimu, Mr. Jacob." Alesha benar-benar tidak ikhlas untuk mengatakan itu, namun mau bagaimana lagi? Ia harus merelakan Jacob demi kehidupan yang lebih baik.


Jacob memejamkan mata dan menghela napasnya dengan perlahan. Ia harus tenang, ia sudah tahu topik utama yang membuat gadisnya itu menangis dan mengucapkan kalimat yang begitu menyakiti hati.


"Aku paham maksudmu, Alesha." Lalu Jacob meraih pergelangan tangan Alesha. "Ayo, kita bicarakan ini di luar."


Alesha pun menurut, ia mengikuti langkah Jacob yang membawanya kesofa yang terletak disebelah jendela.


"Tenangkan dirimu. Aku akan jelaskan semuanya agar tidak ada keraguan dalam hubungan yang akan segera kita jalani." Ucap Jacob begitu tenang.


"Sudah?" Tanya Jacob yang langsung diangguki oleh Alesha.


Ukiran senyum ketulusan langsung mengubah wajah Jacob menjadi lebih bersinar dan cerah. Lalu sepersekian detik kemudian, kesepuluh jemari Alesha langsung diambil alih oleh Jacob dan digenggam begitu erat.


"Jangan menangis lagi. Aku tahu dan aku sangat sadar akan masalah terbesar yang harus kita lewati agar bisa memperlancar hubungan kita. Aku sudah memikirkan hal ini sejak lama, bahkan sejak dua tahun lalu setelah aku menyadari kalau aku mencintaimu, Alesha. Ya, diawal aku sempat ragu, tapi semakin berjalannya waktu aku semakin sadar kalau aku benar-benar jatuh padamu, Alesha. Aku senang saat melihatmu yang disaat-saat sepi selalu menjalani ibadah secara rutin dan teratur, aku merasa tenang saat mendengar murotal Al-Quran yang selalu kau ucapkan diwaktu senggang, aku suka dengan pribadimu yang menurutku begitu sempurna, mungkin kau merasa kalau dirimu itu jauh dari kata baik, itukan yang selalu membayangimu? Tapi kau dekat dengan tuhanmu, itu hal yang paling membuatku yakin jika aku bisa menjalani hubungan rumah tangga yang sempurna denganmu, Alesha. Aku membutuhkan seorang istri yang bisa mendidik anak-anakku dengan baik dalam segi wawasan pengetahuan, dan juga agama. Aku sudah mempercayakan hal itu padamu, Alesha. Aku sudah sangat yakin jika kau bisa mendidik anak-anakku hingga membuat mereka menjadi manusia yang beruntung, baik di dunia atau pun akhirat nanti."


Tangis Alesha semakin pecah setelah mendengar penjelasan dari pria yang sudah membuatnya jatuh hati itu. Sungguhankah Jacob mengatakan hal itu? Alesha sangat terharu hingga hanya air mata lah yang bisa mewakili perasaannya saat ini. Antara bahagia, lega, dan bersyukur. Bagaimana bisa ia mendapatkan lelaki yang begitu sempurna seperti Jacob?


Allah memanglah adil, Alesha tidak mendapatkan kasih sayang sejak kecil setelah orang tuanya meninggal, hidupnya jadi berubah tidak beraturan, keluarganya begitu acuh dan tidak ada yang menaruh empati padanya. Hidup Alesha cukup menyedihkan sebelumnya, tinggal berdua dengan kakeknya yang sakit-sakitan, mencari makan dengan berjualan keliling kota dan jalanan. Tetapi sekarang, Jacob dihadirkan dan mengubah semuanya. Alesha merasa menemukan kehidupannya yang sempat hilang setelah bertemu dengan Jacob.


"Aku sudah sering mengatakannya padamu, Alesha. Aku tidak bermain-main dengan perasaanku, aku sudah sangat siap untuk mengubah kehidupanku bersamamu, jangan ragu lagi, sayang. Percayalah, aku tidak akan mengecewakanmu. Aku sudah mempersiapkan diriku sebaik mungkin agar aku bisa menjadi imam dan suami yang bisa membimbing dan memimpin keluargaku di jalan yang benar. Aku sudah amat siap untuk menjadi imammu dan anak-anak kita nanti."


Senyum haru Alesha muncul disela-sela tangisnya yang sedang berlangsung. Perlukah dia mempercayai ucapan Jacob sepenuhnya? Tapi Alesha ingin sekali mempercayai ucapan pria itu.


"Hiks, Mr. Jacob, kau sadarkan keputusan yang kau ambil itu bisa jadi kontroversi besar dengan keluargamu."


"Iya, Alesha. Kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun, aku sudah urus semuanya, aku tahu dan siap menanggung resikonya, aku memikirkan keputusan ini bukan sekali, dua, tiga, empat, atau lima kali. Kau tidak perlu cemas akan apapun, percayalah, aku benar-benar menginginkanmu, Alesha Sanum Malaika, menikahlah nanti denganku. Aku siap untuk meminangmu, aku siap untuk menjadi imam dan memimpin keluarga kita. Tapi satu yang aku minta padamu, Alesha. Mungkin aku tidak bisa jika langsung menjadi seperti suami yang kau harapkan, aku masih perlu mempelajari banyak hal, bantu aku agar aku bisa menjadi suami yang bisa membuatmu bangga."


Alesha mangangguk saking tidak mampunya untuk membalas ucapan manis Jacob yang sangat menyentuh hatinya.


"Tolong bantu dan koreksi jika nanti aku melakukan kesalahan saat mempelajari hal-hal baru yang sudah diajarkan dalam Islam."


"Iya, pasti. Aku pasti akan membantumu, Mr. Jacob, hiks, hiks."


Jalan napas yang tersendat-sendat, juga tangis yang semakin menjadi menandakan kalau Alesha sungguh merasakan haru yang memenuhi lubuk hatinya dan jiwanya.


Ingin rasanya Jacob memeluk tubuh Alesha yang bergetar karna menangis. "Boleh aku memelukmu?"


"Tidak, hiks."


"Sebentar saja, Alesha. Aku tidak tega melihatmu yang menangis seperti itu." Bujuk Jacob.


"Tidak! Hiks, kau tidak boleh memelukku!"


"Oke, baiklah, kalau begitu angkat kepalamu, tatap aku, lalu tersenyumlah selebar mungkin."


Perlahan, Alesha mengangkat wajahnya untuk dapat bertatap wajah dengan pria yang ia cintai itu. Meski getaran pada tubuhnya belum berhenti, tetapi Alesha merasa sangat bahagia hingga senyum yang merekah menyinari wajah ayunya.


"Sudah, jangan menangis lagi, dan jangan pikirkan apapun, aku tidak pernah melepaskanmu, aku sudah mengambil keputusan ini dengan mutlak, kau jangan ragu, dan percayalah padaku." Ibu jari Jacob pun bergerak pada permukaan wajah Alesha untuk menghapus air mata gadis itu.


"Sekarang mandi, aku ingin mengajakmu berwisata."


"Kemana?" Tanya Alesha begitu bersemangat.


"Terserah, kau maunya kemana?" Tanya balik Jacob dengan senyum menawannya.


"Tangkuban Perahu! Aku ingin ke sana, Mr. Jacob!" Binar semangat begitu memancar kuat dari sorot mata indah Alesha.


Jacob terkekeh, menurutnya Alesha terilihat seperti seorang bocah kecil saat ini.


"Iya, kita pergi ke sana."


***


Sekitar tiga puluh menit Alesha bersiap-siap, akhirnya ia pun selesai dengan urusannya itu.


"Nona, tuan Jacob memintamu untuk menemuinya di kantor jam sembilan." Ucap Taylor yang ternyata sudah berdiri tepat di depan pintu apartemen Alesha.


"Kantor? Mr. Jacob bekerja?" Tanya Alesha.


"Tidak, nona, ia hanya akan menandatangani beberapa dokumen saja."


"Owh, oke. Kita berangkat sekarang?"


Taylor mengangguk sebagai jawabannya. Lalu mereka pun pergi menuju tempat parkir mobil yang berada di area bawah bangun apartemen itu.


Tring.... Tring... Tring....


Dering ponsel Alesha yang memberi tanda kalau ada panggilan masuk.


" Iya hallo, Nina. Ada apa? "


"...."


"Em, a-aku semalem gak tidur di kosan, Nin."


"...."


"Aku nginep di apartemennya temen aku."


"....."


"Yaudah oke, aku ke sana sekarang ya. Tapi abis itu aku harus pergi lagi soalnya anak-anak teater dah pada nunggu."


"...."


"Oke."


Sambungan telepon pun terputus.


"Kita pergi ke rumahku dahulu ya, temanku sudah menunggu di sana karna kunci rumah ada padaku." Ucap Alesha pada Taylor.


"Baik, nona."


Lalu Alesha pun memperhatikan jalan raya sekitarnya sembari memberitahukan pada Taylor celah mana saja yang harus dilewati agar mereka bisa sampai pada rumah kontrakan dimana Nina sudah menunggu sekarang.


Taylor pun hanya menyunggingkan senyumnya saja kala Alesha menuntunnya melewati jalanan. Sebenarnya tanpa perlu Alesha beritahu, tentunya Taylor sudah tahu pasti lokasi rumah kontrakan yang selama tiga bulan ini Alesha tempati bersama Nina.