
"Mr. Thomson, kita tidak bisa membiarkan para murid WOSA berkeliaran, aku usulkan untuk menutup beberapa taman." Usul Aldi pada Mr. Thomson. Terlihat saat ini Mr. Thomson sedang berpikir dan mempertimbangkan ucapan Aldi.
Benar perhitungan SIO. Sebelum dibukanya kembali WOSA, SIO sudah memprediksi kalau kelompok jaringan gelap yang beberapa tahun lalu berhasil dilumpuhkan akan mulai beraksi kembali, belum lagi dengan ulah Vincent, dan Mack yang berhasil kabur. Jadi mungkin, WOSA akan membatasi kegiatan para murid, pengawasan akan dilakukan pada setiap titik. Beberapa murid WOSA yang kini sudah bekerja pada organisasi intelegent lain yang bekerjasama dengan SIO sudah mendeteksi beberapa pergerakan dari kelompok jaringan gelap itu.
Karna pening, Mr. Thomson mengetuk-ngetukkan pulpen yang ia genggam kekepalanya. Baik Mr. Thomson atau pun Mr. Frank, mereka sama-sama bertanggung jawab jika sesuatu terjadi pada SIO atau WOSA, dan kali ini lawan yang mereka hadapi bukan hanya satu, mungkin ada beberapa bantuan dari badan intelegent lain, namun musuh mungkin sudah membangun taktik yang masih belum bisa terbaca, kerugian bukan hanya didapatkan oleh SIO atau pun WOSA, semua organisasi yang bekerjasama dengan SIO akan terkena imbasnya. Perburuan sampel-sampel yang sudah SIO dan organisasi lain kumpulan adalah hal yang selama ini mereka incar. Dengan sampel-sampel itu mereka bisa saja menggoyahkan perekonomian dunia dengan menjual dan memproduksi lebih banyak secara ilegal, peperangan akan terjadi dimana-mana untuk mengembalikan sistem keuangan yang sudah melonjak turun. Bahkan untuk organisasi gelap lain secara diam-diam akan memanfaatkan momen seperti itu untuk mengambil alih dan mengendalikan perekonomian dunia.
"Apa Jacob dan Eve sudah tahu?" Tanya Mr. Thomson.
"Belum, SIO melarangku untuk memberitahukan pada Jacob dan Eve." Jawab Aldi.
"Kau awasi terus tim Jacob dan Eve, mereka akan menjadi incaran untuk mempermudahkan misi kelompok jaringan gelap itu!" Perintah Mr. Thomson.
***
Malam semaki larut, namun Alesha belum juga menunjukan rasa kantuk. Potongan mangga yang berada dipiring pun telah habis dimakan oleh Alesha. Senyum manis mulai mengembang pada bibir Jacob saat memandangi wajah Alesha yang kini sedang menatap kelayar televisi. Rasa ketenangan kini mendominasi diri Jacob, ia begitu yakin kalau Alesha akan segera pulih. Kenangan dan candaan ringan bersama Alesha adalah momen yang cukup dirindukan oleh Jacob. Sambil membayangkan momen-momen manis bersama gadis itu, secara tidak sadar Jacob mengeluarkan sebuah tawa kecil yang membuat Alesha terusik.
Iris mata Alesha bergeser dan menatap wajah mentornya yang sedang tersenyum sendiri sambil menundukkan kepala.
Terangkatlah alis sebelah kanan Alesha. "Ada apa?"
Jacob mengangkat wajahnya dan menatap pada Alesha. Senyuman itu masih belum luntur dari wajah tampanya, bahkan jantung Irene beedegub sedikit lebih kencang saat memandang ke arah Jacob.
Merasa tidak ada jawaban dari Jacob, Alesha pun memutar bola matanya dengan malas. Lagi dan lagi mentornya itu malah memandanginya. "Dasar aneh."
"Sungguh?" Jacob menangkup kepalanya dengan kedua lengan yang bertumpu pada pinggiran kasur.
"Jauhkan wajahmu." Alesha mendengus dan menatap tajam pada Jacob.
"Kenapa?" Rayu Jacob.
Bukan Alesha namanya kalau tidak membalas perbuatan jahil seseorang. Dengan ide yang berasal dari kepalanya, Alesha tersenyum dan segera melancarkan aksi jahilnya. Lengan Jacob yang bertumpu pada pinggiran kasur didorong dengan cepat oleh lengan Alesha hingga membuat kepala Jacob terjatuh dan membentur kasur pasien.
"Aww..." Pekik Jacob.
"Haha hahahah, Alesha, kau sangat pintar, hahahaha..." Tawa Bastian yang terbahak-bahak saat menyaksikan langsung aksi jahil yang Alesha berikan pada mentornya.
"Hahahaha..." Alesha pun ikut tertawa lepas seperti Bastian.
Laura mengerutkan keningnya, ingin sekali ia ikut tertawa bersama Alesha dan Bastian saat melihat anaknya yang dijahili oleh seorang gadis. Begitupula Irene, wanita cantik itu segera menutup mulutnya saat suara tawa mulai keluar, ia tidak mau terlihat buruk dengan suara tawa yang terbahak-bahak seperti Bastian dan Alesha, imagenya sebagai sekretaris bisa ternodai karna hal itu.
"Bagaimana, lagi?" Goda Alesha sambil mengangkat wajah Jacob.
"Lakukan lagi, Al, hanya kau yang bisa melakukan hal itu pada Mr. Jacob, hahahaha.." Saut Bastian yang masih tertawa puas. "Aww--" Pekik Bastian saat tiba-tiba saja Levin menendang pelan kakinya. Boleh dibilang kalau Levin itu sebal karna merasa cemburu dengan Jacob.
Jacob segera melepaskan lengan Alesha yang memegangi wajahnya. Ia menatap intens pada mata Alesha yang masih berbinar karna tawa manisnya itu.
Tiba-tiba saja, sekelibat rasa cemburu mulai merasuki hati Irene ketika melihat Jacob yang memandangi Alesha dengan tatapan yang tidak biasa.
"Kau mau lakukan itu lagi? Hmm.." Ucap Jacob dengan pelan.
Alesha mengerjapkan matanya beberapa kali saat iris mata Jacob yang seolah menusuk-nusuk kedua matanya.
"Nilai kalian berdua akan aku potong." Ancam Jacob dengan seringai jahilnya.
"APA?!" Ucap Alesha dan Bastian secara bersamaan.
Tatapan tajam kini Jacob dapatkan dari kedua remaja yang merupakan anggota timnya.
"Kau tidak adil, Mr. Jacob!" Protes Bastian.
"Tidak, Bas, dia memang selalu begitu, ancamannya selalu saja nilai." Balas Alesha sembari mendengus kesal.
Levin terkekeh saat mendengar ucapan Alesha barusan.
"Sungguh? Tidak asik kau, Mr. Jacob." Bastian mendengus.
"Tenang saja, Bas, Mr. Jacob tidak akan mengurangi nilai kita, dia hanya ingin bercanda saja, aku sudah tahu itu." Alesha memalingkan wajahnya dengan malas dari intaian bola mata Jacob.
"Baiklah, kali ini aku akan bersungguh-sungguh." Ucap Jacob yang mengeluarkan smirk usilnya.
"Biarkan dia, Bas." Ucap Alesha sembari menatap pada Bastian.
Iris mata Alesha bergerak menuju sudut kelopak lalu memandangi layar ponsel yang sedang Jacob pegang.
"Ah tidak asik, Mr. Jacob selalu seperti itu!" Alesha membuang wajahnya saat ia melihat jemari Jacob yang mengubah angka yang tertera pada namanya juga nama Bastian. Alesha tidak tahu kalau nilai yang Jacob ganti adalah nilai dari bulan lalu, dan data aslinya berada pada laptop bukan ponsel.
"Dia benar menggantinya." Ucap Alesha dengan sebal pada Bastian.
"Kau yang bertanggung jawab." Balas Bastian.
"Aku?" Alesha menunjuk dirinya sendiri.
"Cukup, kau istirahat dan tidak boleh banyak melakukan gerakan yang bisa membuatmu kelelahan." Ucap Jacob seraya membaringkan tubuh Alesha.
"Hey!..." Ronta Alesha yang tubuhnya tiba-tiba saja terdorong untuk berbaring. Jacob itu memang sangat perhatian, bahkan sekarang wajah Alesha mulai memerah karna ulah mentornya.
Berbeda dengan Levin, pria itu malah bangkit dan mendengus sambil melihat kedua mahluk yang sedang asik tanpa memerhatikan sekitarnya.
"Aku gemas jika tidak mengatakan pada Alesha kalau Mr. Jacob menyukainya." Bisik Bastian pada Levin yang berada disebelahnya.
Mulut Irene sedikit terbuka dan matanya menatap tidak percaya pada pria yang mungkin akan menjadi incarannya. Alesha berhasil membuat rasa kecemburuan dalam hati Irene. Bagaimana tidak? Jacob begitu perhatian seolah Alesha adalah sosok yang begitu Jacob sayangi. Sedikit tarikan napas dilakukan oleh Irene untuk menenangkan hatinya yang sedikit terasa panas. Irene menepis jauh-jauh pikiran kalau Jacob memang menyukai Alesha, pasalnya Jacob tidak mungkin menyukai anak gadis yang usianya lumayan jauh, apa mau dikata pedofil jika Jacob menyukai Alesha? Atau mungkin Irene saja yang terlalu panik karna rasa kecemburuannya.
Senyum datar yang samar terukir pada wajah Irene.
Ayolah, Ren, kau tidak akan mungkin bersaing dengan bocah itu. Jelas-jelas jauh lebih cantik dirimu, Jacob melakukan itu karna ya mungkin Alesha hanya... Ucap Irene dalam hati. Wajahnya menegang seketika saat ia bingung harus melanjutkan kata-kata yang tadi hatinya ucapkan.
Kening Irene berkerut sambil menengok samar ke arah Alesha.
Alesha siapanya Jacob? Kenapa mereka begitu dekat? Apa mungkin Alesha adalah adik Jacob?.... Ucap Irene dalam hati.
"Cukup, aku masih belum mau tidur!" Bentak Alesha pada Jacob yang sedang menaikkan selimut untuk Alesha.
"Kau lihat sendiri, mereka selalu bermesraan tanpa memperhatikan sekitar." Bisik Levin dengan malas pada Bastian.
"Aku tidak berpikir kalau mereka bermesraan, Alesha tidak memberikan respon yang sama seperti yang Mr. Jacob lakukan. Itu semua karna rasa kepedulian
Mr. Jacob yang tinggi pada Alesha." Balas Bastian.
"Sudahlah, kau tidak dipihakku." Levin memutar bola matanya dengan malas.
"Kenapa kau tidak melakukan hal yang sama saja kepada Alesha, siapa tahu Alesha tertarik juga padamu?" Lanjut Bastian.
Levin terkekeh saat mendengar pertanyaan Bastian barusan.
"Jika saja aku bisa, tapi aku tidak mau. Aku memang menyukai Alesha karna ia gadis yang manis, tapi ada sesuatu yang membuatku tidak akan bisa meraih hatinya, jadi aku lebih memilih untuk membiarkan Alesha bersama Jacob, setidaknya aku tahu kalau ada lelaki tepat yang bisa menjaganya." Balas Levin dengan senyum miris.
Bastian mengerutkan keningnya. "Kau pikir Mr. Jacob lelaki yang tepat?"
"Aku harap." Levin memasang smirk pada wajahnya. Ada sedikit rasa sedih dalam hati Levin ketika ia mengingat seorang wanita yang sekarang ini mungkin sedang menunggunya.
"Tidur, aku mengantuk." Ucap Jacob yang kembali duduk.
"Tidur saja sana, aku tidak melarangmu. Lagi pun tidak ada hubungannya denganku." Balas Alesha dengan sinis.
"Aku tidak bisa tidur jika kau belum tertidur." Jacob menenggelamkan wajahnya kekasur pasien. Baterai matanya sudah hampir habis, dan Jacob juga belum tertidur dari kemarin. "Kau tahu, aku belum tertidur sejak kemarin karna aku mengkhawatirkanmu." Ucap Jacob dengan pelan dan masih menenggelamkan wajahnya pada kasur pasien.
Alesha terkesiap setelah mendengar ucapan Jacob barusan. Seperduli itukah Jacob pada Alesha? Ia jadi merasa kasihan pada Jacob, mrntornya itu benar-benar bertanggung jawab terhadap anggota timnya. Beruntung sekali Alesha mendapatkan mentor sebaik Jacob. Reflek Alesha mengarahkan jemarinya pada pipi Jacob yang menempel pada selimut.
Kau sangat baik, beruntung sekali wanita yang bisa bersama denganmu nanti. Aku harap kau bisa menemukan wanita yang bisa membuatmu bahagia begitu pun aku, aku harap aku bisa cepat melupakan Adam dan membuka hatiku untuk lelaki lain.... Ucap Alesha dalam hati.
Dielusnya dengan pelan pipi Jacob oleh Alesha. Merasakan sentuhan lembut dari jemari Alesha yang mengelus pipinya, Jacob pun tersenyum dan memejamkan matanya sambil meresapi setiap sentuhan pelan yang jemari Alesha berikan.
Laura merasakan kesedihan mendalam saat melihat anaknya yang begitu dekat dengan Alesha, dan bukan dengannya. Ingin sekali Laura menggantikkan posisi Alesha sekarang. Begitu dekat dan mendapatkan perhatian dari Jacob. Tidak terasa air mata pun mulai berlinang. Mata yang kini sudah tampak kerutan disetiap ujungnya mengharapkan ada sentuhan lembut sebagai penghapus air mata. Sekali lagi Laura memendam kesedihannya. Ingin sekali Laura dapat menidurkan Jacob dalam pelukannya, pelukan dari seorang ibu yang begitu menyayangi anaknya. Ia ingin sekali menghubungi Mona anaknya, ia sangat merindukan Mona yang saat ini sedang mengandung cucunya. Kesedihan sekali lagi menusuki batinnya, tepat dihari pernikahan Mona, Laura yang seharusnya ada dihari kebahagiaan untuk anaknya itu malah tidak menunjukkan keberadaannya. Laura sibuk dengan jabatannya sebagai CEO, dan hampir saja melupakan kedua anaknya. Harapan terakhir Laura adalah Jacob dan Laura bisa kembali lagi kepadanya, dan Laura bisa merasakan kebahagiaan bersama ketiga anaknya, serat cucu dan menantu. Sharon harus bertemu dengan kedua kakaknya, Laura ingin melihat kedekatan ketiga anaknya. Tangannya yang kini sudah terdapat beberapa kerutan terangkat dan mengelus dadanya, merasakan setiap pukulan tidak terlihat yang terus menghantam hatinya.
Laura pun bangkit dari duduknya. "Irene, kita pulang sekarang." Ucap Laura.
Irene mengangguk. Ia segera bangkit dan mengikuti Laura yang berjalan mendekati Alesha dan Jacob.
"Alesha, kita pulang dulu ya, aku harap kondisimu akan semakin membaik." Ucap Laura dengan lembut sembari mengelus pelan puncak Alesha. "Aku titip Jacob, dan tolong katakan padanya kalau aku sangatlah mencintainya." Kalimat terakhir Laura. Segera setelah itu, Laura dan Irene segera berbalik dan pergi.
Alesha tertegun. Ia tidak paham maksud Laura karna Alesha tidak tahu kalau Laura itu ibunda Jacob. Ditatapnya Jacob yang kini sudah terlelap. Kening Alesha berkerut, satu persatu pertanyaan mulai memasuki pikiran Alesha karna kalimat terakhir yang tadi Laura katakan.