Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
BAB 99



Dengan tangan yang gemetar Ariel menerima apa yang di titipkan Ayahnya padanya. Sungguh dia tidak menyangka di balik wajah dingin dan jarang bicara itu ternyata dia masih memperdulikannya. Ariel ingat benar waktu yang dihabiskan bersama Ayahnya sejak dia kecil. Dulu Ayahnya terlihat sangat bahagia, dia selalu tersenyum menatapnya, memeluknya kapanpun Ariel membutuhkannya, bahkan Ayah yang bisa mengikat rambutnya berbagai model di banding Ibunya itu tak pernah menunjukan bahwa suatu saat dia akan begitu berubah.


Hari dimana Ibu tiri, atau mantan istri Ayahnya bergabung dalam keluarganya membawa seorang gadis kecil yang usianya empat tahun lebih tua darinya. Dengan senyum miring di awal mereka memasuki rumah itu sebenarnya Ariel sudah merasakan bahwa hidupnya pasti tidak akan mudah lagi. Semenjak itu juga Ayahnya tak lagi tersenyum padanya, dia menjadi acuh, dingin, dan lebih mempercayai apa yang dikatakan Ibu tiri juga Sephora di banding dirinya. Jelas itu membuatnya terkejut, dia bahkan bukan sekali dua kali mengintip Ayahnya saat sedang tidur demi memastikan apakah itu benar Ayahnya atau bukan.


Sekarang semua sudah berlalu, yang menyakiti pada akhirnya merasakan kesakitan sendiri, yang acuh pada akhirnya di acuhkan oleh orang lain. Beginilah cara kerja kehidupan kan? Bersikap baik maka baik akan memberi manfaat untukmu, begitu juga sebaliknya. Sekarang semua yang menyakitinya sudah mendapatkan balasannya, jadi untuk apa lagi mendendam? Ariel menghembuskan nafas panjangnya dan tersenyum menerima titipan dari Ayahnya. Mungkin yang itu tidak akan ia gunakan, tapi tetap akan dia simpan karena Ayahnya sudah menyiapkan itu untuknya bertahun-tahun lalu.


" Sayang, Ibu tahu rasa sakit yang kau alami, tapi bagaimanapun dia adalah Ayahmu. Jika kau sudah lebih baik, tetaplah temui dia walau sesekali, toh kau sudah lama sekali tidak menemui nenek mu kan? " Ucap Ibu Maria sembari mengusap kepala Ariel dengan lembut.


" Iya. " Ariel tersenyum, dia menjatuhkan kepalanya di pelukan sang Ibu. Jujur saja dia merasa sedih harus melihat Ayahnya bekerja sebagai tukang kebun di sana beberapa waktu lalu, tapi karena saat itu dia masih di buatkan kebencian masa lalu, dia sempat menepis perasaan Iba terhadap Ayahnya dan mencoba bersikap biasa saja yang tentu membuat Ayahnya sedih.


" Ibu tahu apa yang kau pikirkan, tapi itu adalah hukuman untuknya karena terllau naif dan bodoh. Dia sudah membiarkan banyak hal hilang darinya karena tidak bisa menghilangkan kebodohannya, maka biarkan dia menjalani ini, jangan merasa bersalah karena ini bukan salah mu sama sekali. "


" Em! " Ariel mengangguk setuju.


***


Daniel terduduk di ujung ruangan dengan perasaan kesal. Sudah tiga hari ini dia mencari keberadaan Sephora dan masih belum bisa menghubunginya. Kepergiannya benar-benar seperti di telan bumi, rekaman dari kamera pengawas memang menunjukan kalau Sephora meninggalkan apartemen seperti dia akan pergi biasa saja bukan untuk kabur. Tapi yang membuatnya bingung adalah dia tidak mendapatkan jejak lagi setelah Sephora keluar dari apartemen. Beberapa temannya mengatakan jika tidak mengetahui keberadaan Sephora karena Sephora terkenal sangat sombong dan tidak suka menceritakan hal pribadi meski dia begitu akrab dan terlihat dekat mereka.


" Sialan! Kenapa dia masih bisa kabur padahal keadaan keluarganya saja sudah kacau. " Daniel mengacak rambutnya, dia juga mengusap wajahnya dengan kasar. Ini bukan lagi tentang kehamilan Sephora, tapi masalahnya dia tidak rela kehilangan Sephora meski dia sadar jika dia kerap berlaku kasar. Awalnya dia ingin bersikap baik kepada Spehora saat dia mengetahui kebenaran jika Sephora bukan wanita malam yang dikirimkan temannya. Tapi ketika malam itu dia melakukan hubungan badan dengan Sephora, Sephora justru terus memanggil nama pria lain dan membuatnya kesal sendiri. Jadilah dia menjadi kasar dan sangat sensitif kepada Sephora karena benci menerima kenyataan jika Sephora malah membayangkan pria lain di banding menganggapnya.


Daniel meraih kembali ponselnya untuk menghubungi seseorang.


" Bagaimana perkembangannya? Bodoh! Aku kan sudah membayar mu mahal, apa kau tidak bisa bekerja lebih keras sedikit?! "


Daniel melempar ponselnya ke sembarang arah karena tidak tahan dengan kekesalan yang ia rasakan.


" Sephora, kau tidak boleh kabur dariku, kau tunggu saja, aku pasti akan menemukan mu, dan mengikat mu erat-erat supaya kau tidak akan bisa kabur lagi. " Ucap Daniel setelah kembali mengusap wajahnya yang kasar.


Berbeda dengan Daniel yang sedang kelimpungan mencari keberadaan Sephora, wanita itu justru sedang duduk dengan tenang, perasaannya juga terus bahagia karena dia selalu ingat benar jika dia tengah mengandung. Setiap hari Sephora akan duduk sembari mengusap perutnya yang masih super rata sembari berbincang dengan si calon bayinya. Tidak tahu apakah benar bisa di dengar dan di rasakan bayinya, tapi Sephora benar-benar akan mengikuti saran Dokter agar tetap menjaga emosinya, dan memberikan segala yang terbaik untuk calon anaknya.


Memang sempat terlintas bayangan Ayah dari bayinya, tapi kalau pikiran itu tiba-tiba muncul segera dia menggeleng, dan kembali mengusap perutnya sembari mengoceh hal-hal yang tidak jelas, kadang juga Sephora bernyanyi nyanyian anak-anak, lalu dongeng anak-anak, bahkan dia juga sering menceritakan masa kecilnya yang selalu suka sekali merebutkan mainan dengan Ariel, lalu dia akan terkekeh sendiri.


Sephora tersenyum, dia masih tak berhenti mengelus perutnya.


" Tapi aku bahagia sekali, jadi aku tidak keberatan di anggap gila. "


Ariel menghela nafasnya.


" Kau tidak makan malam? "


" Maaf, aku sudah lebih dulu. Sejak hamil aku amanat sulit menahan nafsu makan ku, jadi maaf aku makan lebih dulu ya? "


Ariel terdiam, sungguh Sephora benar-benar berubah menjadi orang asing hanya karena kehamilannya ini. Ariel pikir wanita itu akan tetap menjadi wanita gila yang suka sekali mencari ribut, tapi sepertinya Tuhan tahu cara merubah seseorang.


" Aku tidak berniat merusak hati mu yang sedang bahagia, tapi aku harus menyampaikan surat ini padamu. "


Sephora mengeryit bingung.


" Surat? Dari siapa? Ibuku? "


" Bukan, ini surat dari Ayah. "


Sephora menerima surat itu.


" Aku kembali ke kamar dulu. " Ucap Ariel yang langsung mendapati anggukan dari Sephora.


Sephora perlahan membuka lipatan kertas itu dan mulai membacanya. Pelan dia mulai menjadi serius, matanya memerah, dan juga pada akhirnya dia menangis. Tak banyak yang di sampaikan Tuan Diro padanya, dia hanya mengatakan untuk baik-baik hidup, dia berharap Sephora menyayangi Ariel karena bagaimanapun Ariel tetaplah adiknya, dia mengatakan kemana dia akan pergi, dan dia juga berpesan untuk menjaga kandungan dengan baik, dan dia berharap akan ada di sana ketika Sephora melahirkan nanti.


" Ayah..... "


Bersambung.