Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
Bonus Chapter 17



Mario menjauhi teras kamarnya agar Nara tidak mengetahui jika dia sudah menguping pembicaraan antara Nara dan Ibunya. Segera dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan memejamkan mata karena dia mendengar langkah kaki Nara menuju masuk ke dalam dan pasti akan menuju ke tempat tidur.


Benar saja, Nara kini sudah dekat dengan tempat tidur mereka. Sebentar dia membuang nafas karena tidak ingin terus memikirkan apa yang di katakan oleh Ibunya. Bagaimanapun kehidupan mereka yang mulai membaik ini juga berkat keluarga dari Mario, jadi sekarang dia benar-benar tidak boleh mengeluh tentang seberapa sulitnya menjadi istri yang begitu ogah di dekati olehnya. Tidak apa-apa, meskipun dia sendiri tidak merasakan perasaan cinta kepada Mario meski pria itu memang sangat tampan, nyatanya dia juga tidak bisa mengeluhkan nasibnya toh Mario juga termasuk pria idaman banyak wanita jadi dia termasuk dalam golongan beruntung.


Nara tersenyum melihat Mario yang sudah memejamkan mata dan tidur seperti biasanya yaitu, memunggungi tempat dimana Nara tidur. Segera Nara membaringkan tubuhnya menghadap punggung Mario, lancangkah jika dia selalu mencoba untuk menyentuh Mario Meski hatinya merasa begitu memperingati jika itu memalukan? Hah! Cucu untuk orang tua Mario, kata-kata itu benar-benar mendorongnya untuk melakukan banyak hal selama ini, meksipun mereka sudah berhasil melakukannya sekali, tentu kemungkinan untuk langsung hamil sangat rendah kan?


Nara tersenyum, dia mendekatkan tubuhnya kepada punggung Mario dan memeluknya dari belakang. Tentu saja Mario tersentak, dia membuka matanya langsung meski tak menciptakan gerakan pada tubuhnya. Jika mengikuti keinginan hatinya, tentu saja dia inginnya menjauhkan tubuhnya dari Nara, tapi jika dia melakukan itu, sampai kapan dia bisa keluar dari perasaan kacau akibat masa lalunya dengan Luna? Mario memilih untuk diam, meskipun Nara tidak membuat banyak gerakan, rupanya pelukan Nara semakin lama semakin membuat Mario merasa gelisah. Dia sungguh adalah biksu sebelumnya, maksudnya adalah cucungnya yang biksu, tapi setelah malam pertama itu terjadi sepertinya si cucung biksu itu mulai tidak bisa kendalikan. Memalukan sekali sih, tapi bagaimanapun jika menyerang Nara lebih dulu akan sangat menurunkan egonya jadi Mario memilih untuk menahan sebisa mungkin.


" Sayang, boleh pijat punggung ku tidak? "


Mario menelan salivanya, bagaimana bisa dia memijat punggung dengan keadaannya yang seperti ini? Bukankah sama saja dengan menghukum dirinya sendiri?


" Sayang...... " Nara menggerakkan tangannya dengan gerakan lembut dan menggoda membuat Mario tersentak dan segera bangkit dari posisi tidurnya.


" Kenapa kau hobi sekali membuat gerakan aneh seperti itu?! " Protes Mario sembari mendelik sebal kepada Nara yang justru tersenyum menatapnya seperti tak melakukan apapun.


" Karena kalau tidak begitu, kau kan tidak akan bangun. Jadi, karena suamiku ini sudah bangun, bagaimana kalau istrimu ini dipijat punggungnya? Nanti sebagai hadiahnya boleh kok kalau mau mencicipi- "


" Diam! Ambil saja posisimu, jangan bicara yang aneh-aneh lagi! " Ucap Mario menahan diri karena sungguh dia tidak sanggup kalau harus mendengar kalimat selanjutnya yang akan di ucapkan secara langsung oleh Nara. Entah dari mana Nara mempelajari cara untuk menggoda pria, karena Mario juga ingat benar jika Nara masihlah suci saat mereka pertama kali melakukannya.


Nara tersenyum, lalu menelungkup kan tubuhnya.


" Cepat sayang, ewi- ah, maksud ku lihat punggungku! "


Mario menahan nafasnya beberapa kali dengan perasaan kesal. Hanya sebentar, karena setelahnya dia membuang nafas kasarnya. Jelas lah bahasa aneh itu di turunkan dari Ibunya, sekarang Mario sudah tidak perlu menanyakan dari mana Nara belajar menggoda pria, sepertinya wanita yang menjadi guru untuk Nara adalah Ibunya sendiri.


Mario mulai menggerakkan tangannya meski awalnya dia merasa agak ragu dan gugup, sekarang Mario mulai menyentuh punggung Nara perlahan dan bergerak sebisanya untuk memijat dengan sedikit tenaga.


" Ah.... "


Mario membulatkan matanya mendengar suara aneh itu dai mulut Nara saya dia menekan punggungnya. Apakah reaksi wanita yang di pijat punggungnya memang begitu? Aneh, kenapa juga harus melenguh seperti- aduh! Seperti sedang itu lah pokoknya. Mario menahannya dan berpura-pura saja tidak mendengar, lalu dia melanjutkan laju tangannya untuk memijat.


" Em.... "


Mario sudah mulai merasa aneh, dia bahkan sudah dia kali menelan Salivanya dan masih terus menahan diri untuk tidak berpikir mesum apalagi sampai menunjukkan kekesalannya karena merasa jika Nara sengaja membuatnya berpikir ke arah sana.


" Uh..... "


Tidak, jangan berpikir macam-macam, Mario. Batin Mario mengingatkan diri nya sendiri.


Mario masih terus menahan diri meski Nara bukan sekali dua kali berdesis aneh membuatnya keringat dingin bercucuran di wajahnya. Biarlah, tahan saja, memang wanita adalah makhluk yang langka dan unik jadi memang membutuhkan kesabaran untuk menghadapinya, lagi-lagi batin Mario.


" Ah....Em......Ah.....Uh....Yah, terus, terus, lebih kuat, tekan lagi. "


Apa-apaan?! Mario bangkit dari posisinya, dia benar-benar sudah tidak tahan lagi dan merasa malu sendiri mendengar lenguhan aneh dari bibir Nara yang sangat tidak masuk akal. Padahal dia hanya menyentuh punggung. Dia hanya memijatnya kenapa Nara bersuara seperti sedang ewita?!


" Berhentilah membuat suara seperti itu! Kau ini sengaja ya?! " Kesal Mario.


Nara tersenyum membalikkan tubuhnya, dia menatap Mario tak perduli dengan tatapan pria itu.


" Mau bagaimana lagi? Sentuhan mu tadi benar-benar enak sekali. "


" Ja jangan bicara begitu! Enak apanya?! Aku kan hanya menyentuh punggung saja! "


" Oh, mau menyentuh yang lain juga boleh kok. Em, apa mau aku yang menyentuhmu? Apa mau gantian aku pijat supaya kau bisa mengeluarkan suara yang seperti tadi? Yah, aku memang tidak banyak pengalaman sih, tapi aku yakin benar bisa memijat tubuhmu, sekaligus " Nara menatap bagian tubuh Mario yang berada tepat di belakang pembuka celana.


Mario yang gugup segera menutup bagian itu dengan tangannya.


" Apa yang sedang kau incar?! "


Nara tersenyum, dia segera bangkit untuk menarik tangan Mario dan membawanya jatuh ke dalam tempat tidur dengan posisi Mario berada di atas tubuhnya.


" Ke kenapa kau menarik ku?! " Protes Mario.


" Memang tidak boleh? "


Mario terdiam sembari membatin di dalam hati, boleh! Tapi lanjutkan saja karena kalau aku yang memulai aku sangat malu! Seperti itulah bunyi batin Mario.


" Kok diam saja, sayang? Boleh tidak? "


Sialan! Meskipun aku sangat ingin, tapi aku terlalu malu untuk memulainya, aku jadi terpaksa menahannya.


" Dasar aneh! "


Mario segera bangkit dari atas tubuh Nara, dia membalikkan badan ingin meninggalkan Nara untuk menuju kamar mandi, yah siapa tahu dengan mandi tubuhnya bisa bersih berikut otaknya juga. Tapi, Mario tak bisa menjalankan niatnya ketika Nara memeluk pinggangnya dari belakang, dan tangan kanannya sudah mulai bergerak mencari sesuatu di dalam sana.


Bersambung.