Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
Bonus Chapter 19



Nara mengernyitkan dahi, perlahan membuka matanya yang baru saja mulai terbangun dari tidurnya. Sial! Benar-benar pinggangnya sangat sakit, bahkan kedua kakinya juga seperti mati rasa. Nara menoleh ke sebelah dan rupanya Mario sudah bangun, iya wajar saja dia sudah bangun karena matahari yang masuk ke dalam kamar mereka sudah cukup memberi tahu bahwa ini sudah lewat dari jam pagi biasanya Nara bangun.


" Ah! "


Nara perlahan menggerakkan tubuhnya untuk bangun karena dia juga harus beraktifitas seperti biasanya kan? Ah benar-benar gila karena pinggangnya seperti hampir saja putus rasanya.


" Mario, si brengsek itu kenapa begitu kejam? Padahal aku sudah puluhan kali minta untuk berhenti tapi dia malah tancap gas. "


Nara membuang nafas sebalnya, sebenarnya tidak sepenuhnya dia merasa sebal dan kesal, walau bagaimanapun perubahan Mario termasuk adalah keberuntungan untuknya. Jika dia bisa dengan cepat hamil, maka status sebagai istri dari Mario akan semakin kuat, dan orang tuanya juga akan semakin terjamin kehidupannya. Maklum saja, orang tua Nara jauh lebih tua dari pada orang tua Mario, itu semua karena untuk menunggu Nara hadir di dalam hidup mereka, butuh dua belas hampir tiga belas tahun, dan Nara adalah anak tunggal orang tuanya. Di usia mereka yang sudah tidak produktif tentu Nara hanya ingin kedua orang tuanya sejahtera tanpa begitu ngoyo bekerja seperti sebelum Nara menikah dengan Mario. Entah apakah suatu hari akan ada cinta di antara Nara dan Mario, intinya seimut hidup Nara akan mempertahankan pernikahan ini demi kedua orang tuanya. Tidak perduli hanya di anggap mesin pembuat anak atau apalah itu, toh selama hidupnya nyaman itu bukan sebuah masalah namanya kan?


" Aduh! Sh...! "


Begitu sudah dalam posisi berdiri, Nara menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit yang luar biasa pada pinggangnya, bahkan kedua kakinya yang gemetaran sampai seperti tak bisa merasakan apapun saat kedua telapak kakinya berpijak ke lantai.


" Aku benar-benar salah karena sudah memprovokasi siluman. " Gerutu Nara perlahan berjalan menuju kamar mandi dengan tangannya memegangi pinggang, berjalan dengan kaki terbuka dan perlahan karena itu benar-benar membuatnya sulit berjalan. Yah, kalau ada orang lain yang melihat cara jalannya itu, mustahil saja kalau orang itu tidak tertawa.


Setelah selesai membersihkan diri dan berpakaian, Nara perlahan menjalankan kakinya karena dia juga merasa lapar dan butuh sarapan.


" Jadi bagaimana rasanya, istriku? "


" Alamak! "


Nara terkejut luar biasa karena entah dari kapan Mario ada di dekatnya, lalu membisikkan kata-kata mengerikan itu yang langsung saja membuat bulu bulu tak berdosa di tubuhnya bangkit secara bersamaan.


Sialan membuatku merinding saja!


" Rasa apa?! " Nara menahan diri agar tidak terlihat gugup. Duh, apalagi tadi Mario memanggilnya istri, kalau inga itu kenapa pula Nara merasa senang.


Mario tersenyum miring, mulai dari semalam dia benar-benar sudah bertekad tidak akan mudah kalah oleh Nara lagi. Sekali Nara mencoleknya, dia akan membalas sepuluh kali colekan, dia benar-benar sudah tidak tahan harus kalah dari Nara terus menerus.


" Bagaimana rasanya di bantai habis-habisan? "


Sudah payah Nara berbalik untuk menatap Mario, dan al hasil dia malah jadi begitu ingin melihat sampai dimana Mario akan membuatnya malu dan merasa kapok?


Seperti Mario sebelumnya, dia akan memberikan tatapan datar, tapi bibirnya tersenyum tipis seolah mengejek entah bagaian mana yang dia anggap pantas untuk di ejek. Yah, masalahnya Nara tidak akan diam saja kalau dia di ejek, meksipun memang benar tubuhnya seperti habis di lindas truk tronton, tapi dia benar-benar tidak akan mengaku kalah.


" Menurutmu semalam itu termasuk di bantai habis-habisan ya, sayangku? Sebenarnya aku hanya berpura merintih dan meminta berhenti loh. Kau tahu tidak kenapa? Karena kalau aku memperlihatkan ekspresi keenakan, kau akan badmood dan langsung berhenti kan? Dengan kata lain, sebenarnya aku sudah membuatmu terlihat seperti laki-laki sejati loh. "


" Sayang, lain kali tolong lebih di tingkatkan lagi staminamu ya? Bagaimana bisa kau merasa membantai kalau aku justru merasa seperti lubangku sedang di gelitik saja? "


" Bajingan tengik! Kau bicara apa tadi? Menggelitik apa?! Kau pikir punyaku cuma sepanjang dan sebesar sumbu lilin saja? " protes Mario jelaslah dia tidak terima dengan kalimat aneh luar biasa yang keluar dari mulut Nara. Bayangkan saja bagaimana terhinanya dia dengan kalimat Nara barusan. Stamina buruk, ukuran dan panjang tidak masuk kualifikasi karena rasanya hanya menggelitik saja? Apa-apaan?! Memang sebesar dan selebar apa lobang Nara sampai tidak merasakan dengan jelas miliknya? Protes Mario di dalam hati.


Nara tersenyum lebar, ini adalah hal yang paling Nara sukai dari Mario. Pria yang ketus dan sangat sulit di dekati itu nyatanya begitu mudah merajuk, dan mirip sekali seperti anak-anak yang masih polos.


" Sayang, sudah ah jangan marah-marah terus, bagiamana kalau nanti kita latihan untuk meningkatkan staminamu? Karena kalau hanya bermodalkan ukuran saja tidak akan berpengaruh. "


Mario memejamkan mata sembari membuang nafas kasarnya. Dia benar-benar sudah tidak tahan lagi, dia benar-benar ingin membuktikan detik itu juga kalau dia tidak lemah stamina, masalah menggelitik, biar dia yang akan membuktikan apakah benar begitu adanya ataukah tidak.


Mario memaksakan senyumnya, dia meraih pinggul Nara dan membawa tubuh Nara merapat padanya. Mario bahkan dengan berani menatap Nara yang wajahnya begitu dekat dengannya.


" Kalau begitu, ayo kita latihan bersama. Aku ingin lihat apakah benar rasaku hanya mampu membuatmu di gelitik atau tidak. "


Nara menelan salivanya dengan tatapan ngeri.


" Haha..... Sayang, jangan begitu serius lah. Kita sarapan saja dulu yuk, nanti baru kita bicarakan lagi, oke? "


Mario tersenyum miring karena dia seperti merasakan hawa ketakutan dari wajah Nara.


" Aku beri tahu satu hal padamu ya, aku ini orangnya paling suka melakukan hal sebelum jadwalnya. Kau tahu kenapa? Karena aku buka orang penyabar, dan aku sangat suka mencari tahu sebelum orang lain mengetahuinya. "


Nara tadinya ingin menjauhkan tubuhnya dari Mario dan kabur ke meja makan, tapi sayangnya Mario yang bertubuh tinggi besar mirip Ayahnya itu dapat membawa tubuhnya hanya dengan satu kamar saja untuk masuk ke dalam kamar mereka.


" Tunggu! Mario, brengsek! Aku lapar dan butuh makan! "


" Makan aku saja sepuasmu, kau juga pernah menggodaku seperti itu kan? "


" Apa-apaan?! Aw! Jangan menarik bajuku seperti itu, baju itu cukup mahal! Hei, celanaku sampai sobek! Ah! Mario! "


" Astaga! Sebenarnya apa yang terjadi dari tadi? Aku tidak sanggup berlama-lama di rumah ini. " Gumam Lukas yang sebenarnya sedari tadi sudah mendengarkan Nara dan Mario berbicara karena dia diminta Ibunya untuk memanggil mereka berdua untuk sarapan bersama.


Bersambung.