
Ariel menahan tubuh Leo yang semakin akan melekat di tubuhnya. Sebisa mungkin dia menghindar dari Leo yang kegatalan sekali ingin menciumnya.
" Lebih baik kau berhenti sekarang sebelum aku memukul kepala- Hem! "
Ah, benar-benar menyesal karena bicara barusan dan membuatnya lengah sehingga Leo bisa menyambar bibirnya. Tak bisa lagi mengerakkan kedua tangannya, karena Leo sudah merapatkan, membawa tubuhnya masuk ke dalam pelukannya. Bibirnya yang semula hanya menempel untuk membungkam mulut Ariel kini mulai bergerak mencoba membuka bibir Ariel yang tertutup rapat, begitu mendapat celah segera dia menyusupkan lidahnya untuk menari disana.
" Em! "
Kaget, sungguh dia sangat kaget karena tiba-tiba lidah Leo sudah masuk ke dalam sana menguasai rongga mulutnya. Benar, ini memang bukan ciuman pertama bagi Ariel, tapi sungguh dia masih belum terbiasa dengan adegan ini.
Tak menghiraukan bagaimana Ariel meronta, Leo benar-benar begitu fokus dengan apa yang sedang dia lakukan. Dia boleh kehilangan banyak hal, tapi tidak dengan Ariel. Cinta kah? Mungkin iya, karena perasaan bahagia, merasakan malu, juga tidak percaya diri hanya bisa ia rasakan saat memikirkan Ariel, atau bersama Ariel.
" Cukup! " Ucap Ariel dengan sekuat tenaga menjauhkan tubuhnya dari Leo. Dia sudah mengangkat tinggi tangannya ingin melayangkan pukulan ke wajah Leo, tapi tertahan karena dia teringat dengan ucapan Ibunya.
Leo, pria itu tak menunjukkan ekspresi apapun begitu tahu Ariel ingin menamparnya, tidak tahu juga perasaan apa itu, tapi dia merasa jika itu adalah Ariel, maka dia tidak akan melawan. Tapi, jika yang mengangkat tangan itu adalah orang lain, demi Tuhan tidak akan ada pengampunan untuk orang itu.
Perlahan Ariel menurunkan tangannya, dia sadar benar jika seharusnya memang dia tidak melakukan itu. Dia marah, dia kecewa, tapi dia juga tidak lupa kalau Leo sudah membantu membebaskan Ibunya. Satu kebaikan yang tidak bisa diberikan Ayahnya, juga tidak bisa dia dapatkan sebelumnya.
" Beri aku waktu, aku sedang tidak bisa berpikir sekarang. " Ujar Ariel.
Sebenarnya Leo sama sekali tidak tahu harus mengatakan apa untuk membujuk Ariel, tapi hatinya tiba-tiba saja tergugah untuk meraih tangan Ariel, menariknya dan membawa ke dalam pelukannya.
" Maaf. " Ucap Leo setelah Ariel berhasil ia peluk dan dia tidak meronta.
Sebenarnya Ariel juga tidak tahu harus bagaimana, dia marah juga kecewa, tapi dia juga tidak bisa menyalahkan Leo karena dia juga paham bahwa itu pasti berat untuknya.
" Aku yang masih belum paham dengan keadaan ini, jangan meminta maaf terus, karena aku tidak tahu harus mengatakan apa. "
Untuk sebentar mereka tak bicara, hanya saling memeluk dengan pemikiran mereka masing-masing.
" Ariel, tidak apa-apa sekarang kau masih merasa marah, tapi percayalah aku akan membuktikan kelayakan ku sebagai seorang suami. "
" Masalahnya, kalau kau adalah Presdir Nard, aku tidak bisa yakin kalau kau akan memenuhi harapanku. "
Leo mengurai pelukannya, menatap Ariel dengan tatapan penuh tanya.
" Memang apa harapan mu? "
" Aku, paling benci dengan perselingkuhan, jadi aku tidak ingin diselingkuhi. "
Leo menghela nafas lega.
" Aku tidak suka berselingkuh. "
Leo terdiam sebentar, iya memang benar! Jika dia ingin seperti kebanyakan pria lain yang suka sekali bergonta-ganti wanita seperti berganti pakaian, dia sungguh bisa melakukan itu saat menjadi Presdir Nard. Tapi, Leo yang tumbuh dengan segala kemalangan tentu tidak mudah menerima wanita yang datang begitu saja kepadanya. Pertama, wanita yang ada disampingnya haruslah wanita yang setia apapun keadaannya. Kedua, wanita yang berada di sampingnya haruslah wanita yang bisa bertahan dari guncangan. Ketiga, karena hatinya tertuju kepada satu nama yaitu Marile, maka dia tidak akan bisa memilih yang lain karena yang lain tidak akan bisa menjadi seperti Ariel.
" Maka tetaplah terus berada di sampingku, kau bisa menilainya sendiri. "
Sial! Ucapan Leo barusan benar-benar membuatnya tidak bisa berkata apa-apa lagi! Tidak tahu ini bisa disebut berkah atau apa, tapi yang jelas Ariel masih belum paham harus bagaimana.
" Nanti kita bicara lagi deh, sekarang aku lelah dan ingin istirahat. "
" Kau lelah, tapi aku baru mulai bereaksi, jadi maaf. "
Ariel mengeryit bingung, apa sih maksudnya? Batin Ariel di dalam hati.
" Aku sudah lama bersabar, jadi aku tidak ingin bersabar kali ini. "
" Kau ini bicara apa sih? " Bingung Ariel. Oh ya ampun, ini bukan masalah sok polos atau apa! Tapi disaat seperti ini tidak mungkin kan memikirkan tentang hal mesum.
Leo membuang nafasnya, meraih tangan Ariel dan mengarahkan ke arah baik intinya hingga bersentuhan dengan benda itu.
" Apaan sih?! " Dengan cepat Ariel menarik tangannya. Ah, malu sekali! Kalau saja itu adalah Leo yang cacat, maka tidak ragu-ragu Ariel meladeninya, tali kalau Leo yang sekarang ini, tentu saja bukan tandingannya. Kalau Leo cacat kan setidaknya dia bisa bergerak seperti seorang pemimpin yang hebat menyelamatkan pria malang, tapi kalau berhadapan dengan Leo yang bisa berdiri dengan gagah seperti sekarang, entah mengapa dia itu merasa seperti seekor tikus yang tengah di incar oleh kucing jantan perkasa.
" Kalau aku tidak melangkah lebih jauh, kau pasti akan sempat-sempatnya memikirkan kapan bisa kabur kan? "
Ariel menelan salivanya sendiri, padahal ia dia sempat berpikir untuk pergi beberapa hari agar pikirannya bisa tenang, tapi tidak disangka kalau itu sudah terbaca oleh Leo.
" Kau memikirkannya bukan? "
Ariel menolah ke arah lain, sungguh luar biasa pesona pria itu!
Leo tersenyum, dia memberanikan diri menyentuh wajah Ariel Meksi dia juga gugup. Di kecup nya kening dan juga pipinya lalu kembali menatapnya dengan jarak yang lebih dekat.
" Kau ada di dalam genggaman ku, sekarang atau nanti aku tidak menerima penolakan, jadi kau dilarang bicara kalau hanya untuk menolak. "
Leo meraih pinggang Ariel, menariknya untuk dekat dengannya. Dia menatap sebentar wajah Ariel dengan lekat. Wajah yang terlihat kurang setuju dengan tindakannya, matanya menatap tegas, alisnya juga sedikit berkerut seolah ingin memperingati jangan macam-macam dengannya. Heh! Bisakah? tidak, tidak bisa! Entah nanti atau besok, semua hari yang dimiliki Ariel adalah miliknya.
" Em! " Ariel tak bisa lagi mengatakan sepatah katapun saat Leo mulai menyesap bibirnya. Awalnya boleh saja begitu lembut, tapi lama kelamaan Leo benar-benar menunjukkan keinginannya.
Bruk!
Ariel dijatuhkan di atas tempat tidur dan di susul oleh Leo yang sepertinya sudah semakin dirasuki oleh keinginan mendalam dari seorang pria. Rasanya ingin mendorong tubuh pria itu, tapi melihat wajahnya yang tegas lebih dekat, nafasnya yang panas menyembur kulitnya, rasanya Ariel kehilangan energi untuk mengeluarkan tenaga mendorong jauh Leo yang kini tengah menjamah pundak dan lehernya.
Bersambung.