
Ariel melotot tajam ke arah Leo yang tersenyum terus menerus ke arahnya. Benar-benar seperti singa jantan yang kelaparan, dan tidak membiarkan mangsanya terbuang sia-sia sehingga melahap semuanya adalah pilihan yang memuaskan. Entah kekuatan dari mana yang dimiliki Leo, pria itu benar-benar tak membuatnya tidur dengan tenang semalaman, bahkan mandi pagi pun tetap di ikuti dan melakukannya di sana.
Rasanya benar-benar ingin sekali memukul kepala Leo sampai melintir, sama seperti pinggangnya yang sudah seperti dipelintir hingga mati rasa semalaman, dan sekarang di saat pagi datang dia benar-benar seperti baru saja mendapatkan pukulan-pukulan dari masa yang sedang unjuk rasa. Sudah tidak ingat tuh yang namanya malu-malu meong seperti kebanyakan pengantin yang baru saja melakukan adegan dua puluh satu plus alias malam pertama mereka, yang ada Ariel malah kesal tiada Tara karena tubuhnya sakit semua dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ah, bahkan dia juga di buat seperti macan tutul di seluruh tubuh, untung saja wajahnya mulus, kalau tidak dia benar-benar ingin sekali menghancurkan dunia pagi ini.
" Hari ini kau bisa tinggal dirumah dan istirahat yang banyak, nanti malam- "
" Malam apa?! Kau jangan seperti monster yang tidak kenal lelah ya?! Aku ini wanita lemah yang harus kau lindungi dengan baik! Bukan di ewita sampai tidak berdaya seperti ini! " Kesal Ariel, entah mengapa mendengar kata nanti malam benar-benar membuat emosinya naik sampai ke ubun-ubun.
Leo tersenyum, sungguh sangat menggemaskan cara marah Ariel barusan. Apalagi saat menyebut kata mengewita yang membuat perutnya seperti digelitik dan ingin tertawa. Entah dari mana bahasa aneh itu, yang paling penting adalah kegiatannya yang jelas rasanya sangat enak hingga sulit membuatnya berhenti. Ah, ngomong-ngomong soal kalimat malam nanti, Leo jadi lupa kalau harus meluruskan kesalahpahaman itu.
" Nanti malam kita harus menemui kakek, jadi aku akan pulang lebih awal dan menjemputmu. "
Ariel Membuang tatapannya karena merasa malu sendiri.
Tok Tok
" Selamat pagi, Tuan? Maaf mengganggu, tapi ada tamu yang harus anda temui. " Ucap Win dari balik pintu yang tertutup rapat.
" Siapa, Win? "
" Paman anda, dan juga putranya. "
Leo terdiam setelah menghela nafas, sungguh sangat bersemangat sekali karena begitu sampai sudah langsung datang kepadanya.
" Katakan padanya untuk menunggu karena aku baru bangun tidur, aku perlu mandi dan rapih sebelum menemui dia, dia pasti paham bahwa orang cacat pasti akan lama kan? "
" Baik, akan saya sampaikan, Tuan. " Ucap Win segera dia bergegas menuju ruang tamu. Sedangkan Leo, dia yang sudah mandi bersama dengan Ariel tadi tentu saja tidak akan mandi lagi, melainkan memasang kulit buatan ke wajahnya karena itu juga memerlukan waktu yang lumayan juga.
" Bantu aku memakai nya ya? "
Ariel menghela nafas, lalu bangkit dari posisinya untuk membantu Leo yang sudah bersiap dengan duduk di meja rias milik Ariel.
" Bagaimana caranya? "
" Oleskan krim wajah ini supaya tidak iritasi, lalu juga perekatnya batu menempel kulit buatan ke wajahku. "
Ariel menggeleng heran, sungguh luar biasa karena ada orang yang selama bertahun-tahun hidup seperti itu. Menghabiskan banyak waktu untuk berpura-pura menjadi jelek dan cacat, bahkan harus menggunakan kulit buatan yang pasti tidak akan nyaman.
Hampir tiga puluh menit, dan akhirnya selesai juga.
" Biasanya siapa yang memakaikan kulit aneh itu? " Tanya Ariel penasaran.
" Bawahannya Win, ada apa? "
" Tidak ada. " Ariel meninggalkan Leo disana untuk menuju kamar mandi dan membasuh tangannya. Tak lama Leo juga ikut menyusul, dia berdiri di belakang Ariel seolah ingin memeluknya, lalu ikut mencuci tangannya.
" Aku menyukai aroma di rambutmu. " Ucap Leo yang sukses membuat Arie bergidik, padahal posisi mereka juga sudah sangat membuatnya berdebar, tambah lagi ucapan aneh Leo itu membuatnya semakin ingin kabur dari sana.
" Setelah ini aku mohon bantuannya ya? Tolong temani aku menghadapi mereka berdua. "
Leo mengelap tangannya yang basah ke waslap yang ada disana, lalu menyingkirkan rambut Ariel ke satu sisi bahunya dan mengecupnya lembut.
" Kau mau apa?! " Kaget Ariel.
" Hanya mencium saja, aku masih bisa menahannya sampai pulang dari rumah kakek nanti kok. " Leo tersenyum miring sembari menatap Ariel dari pantulan cermin tempat dimana mereka mencuci tangan. Tentu Ariel melihat itu dan hanya bisa menelan salivanya sendiri.
Setelah beberapa saat, Leo mengambil kursi rodanya yang berada di ujung ruangan, lalu membawanya sampai dekat pintu, dan duduk disana.
" Istriku sayang, tolong dorong kursi roda suamimu yang cacat ini ya? ''
Ariel menggigit bibir bawahnya menahan kesal. Sudahlah, lebih baik turuti saja apa maunya, baru nanti malam kalau dia ingin berbuat macam-macam, dia mencari sejuta alasan agar tidak di ewita dulu.
" Wah, selamat pagi Leo keponakan ku? " Sapa Pamannya Leo yang bernama Daris, disana juga ada seorang pria yang kemungkinan usianya tidak jauh beda dengan Leo. Dia adalah Mark, anak pertama dari Paman Daris dan istrinya yang katanya sudah meninggal sepuluh tahunan lalu.
Leo tersenyum tipis, sungguh dia amat muak melihat wajah penuh kepura-puraan itu.
" Selamat pagi, Paman dan juga Keponakan yang begitu perhatian hingga baru saja sampai tali sudah langsung mengunjungimu. " Ucap Leo, yang kini sudah berada di hadapan paman Daris dan juga Mark yang sedari pertama melihat Ariel tatapan matanya tak teralihkan darinya.
" Sayang, tolong sapa Paman dan keponakan ku! " Ucap Leo lalu mencoba sebaik mungkin untuk tersenyum. Ariel mengikuti saja apa yang dikatakan Leo, dia tersenyum lalu menunduk memberi salam.
" Selamat pagi, Paman dan- " Ariel tidak tau harus menyebutnya apa, apakah Keponakan juga?
" Panggil aku Mark, namaku Mark. "
Ariel tersenyum dan mengangguk paham.
Leo, pria itu benar-benar sadar benar bahwa tatapan mata Mark kepada Ariel sungguh memiliki maksud. Meksipun dia merasa amat sangat kesal, tapi dia juga tidak bisa berbuat sesuka hati dan harus bersabar sebentar lagi.
" Bagaimana keadaanmu, Leo? " Tanya Paman dengan tatapan menghina melihat Leo duduk di kursi roda, dan wajahnya masih saja rusak seperti dulu.
" Aku baik, semenjak ada istriku, aku jadi semakin baik karena ada yang mengurus segalanya tentang ku. Iya kan, sayang? " Leo tersenyum dengan begitu aneh membuat Ariel tak bisa lagi berkata-kata.
" Istrimu pasti sangat lelah karena harus mengurusi dalam segala hal ya? Aku malah jadi takut dia akan lari karena hanya sibuk mengurusi mu saja, padahal wanita cantik seperti istrimu pasti adalah wanita yang normal dalam segala hal kan? "
Ariel terdiam tak tertarik ingin ikut bicara.
" Aku tahu apa yang kau maksud, tapi jangan terlalu khawatir. "
Mark tersenyum mengejek.
" Lihatlah wajah istrimu, dia terlihat sangat lelah, pasti berat sekali untuknya membantu mu bangkit dari kursi roda, aku lihat dia juga seperti menahan sakit pinggang. Kau pasti terburu-buru untuk mandi tadi ya? Benar-benar kasihan sekali istrimu, badannya sangat kecil, jadi kalau kau butuh orang untuk membantumu bangkit dari kursi roda, kau bisa meminta Win, atau kau boleh menghubungiku. "
Ariel menghela nafasnya.
Matamu yang mana melihatku kelelahan karena itu? Ah, pinggangku sakit gara-gara cucung jumbonya yang super nakal dan tidak tahu diri itu!
Bersambung.