Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
BAB 85



Win membukakan pintu mobil untuk mempersilahkan Ibu Maria keluar dari dari mobilnya. Sebenarnya hari ini dia tidak ada niatan ingin datang ke rumah Leo dan Ariel, tapi karena saat sedang bertemu dengan kliennya di sebuah restauran berjumpa dengan Win, akhirnya dia ikut mobil Win, dan di sanalah mereka tiba Semarang. Ibu Maria yang sudah berusia empat puluh tahun itu benar-benar nampak sangat cantik dan jauh lebih muda seperti baru berusia tiga puluh tiga atau tiga puluh lima tahun. Dia turun dari mobil dengan anggun, tubuh rampingnya di balut dress polos menutupi lututnya, berwarna krim sesuai seleranya dari dulu.


" Hati-hati, Nyonya. " Win memberikan tangan kanannya, dia dengan hati-hati menahan tangan mungil lembut itu agar si pemilik tangan bisa berdiri dengan baik dan tetap anggun seperti itu.


" Terimakasih banyak ya, Win? " Ibu Maria tersenyum dengan begitu lembut dan manis.


" Ah, iya. " Kedua bola mata Win yang sempat bersitatap dengan Ibu Maria segera dia tundukan lagi. Bukan merasa kurang ajar atau terlalu lancang, tapi jantungnya! Jantung yang biasanya tenang bahkan saat merakit boom sekalipun tiba-tiba berdegup begitu kencang. Ingin sekali menepuk pelan dadanya, tapi entah mengapa dia tidak ingin membuat Ibu dari istri Tuannya itu merasa tersinggung, jadi dia tahan saja dan berharap bisa memarahi jantungnya yang berdebar sembarangan hanya karena senyum manis dari Ibu Maria nanti.


Dengan sopan Win berjalan di belakang Ibu Maria, hingga Ariel yang menyadari kedatangan Ibunya segera berlari menyambut gembira wanita yang sudah melahirkannya itu.


" Ibu! "


Teriak Ariel dengan suara dan mimik yang begitu bersemangat. Lupa sejenak jika dia sudah dewasa, Ariel segera memeluk Ibunya, bergantung ke tubuh mungil Ibunya dengan memeluk tengkuk Ibunya hingga Ibu Maria yang belum siap itu hampir saja terjatuh membawa tubuh putrinya juga jika saja Win tidak menahan tubuh mereka berdua.


" Eh? "


Ariel bengong sendiri karena melihat tatapan mata Ibunya dan Win yang bertemu secara intens, anehnya mereka berdua malah fokus dengan itu hingga lupa kalau Ariel berada di sana, memeluk tubuh Ibunya dengan posisi yang aneh. Dia berada di atas tubuh Ibu Maria, sedangkan Ibu Maria berada di atas kedua lengan kekar Win yang menopang tubuhnya beserta Ariel juga.


Wah, Win hebat sekali ya? Ototnya pasti sering di latih.


Ah...! Bukan, bukan itu masalahnya sekarang! Segera Ariel melotot setelah membatin tentang otot Win.


" Hei, hei! Bisa tidak benahi dulu posisi kami?! " Protes Ariel.


Dengan segera Win bangkit dari posisinya membantu Ibu Maria yang jelas secara otomatis juga membantu Ariel untuk berdiri dengan benar. Ibu Maria nampak berdehem beberapa kali mengusir kecanggungan yang terjadi, Win juga terlihat aneh karena wajahnya memerah. Tidak mau curiga sih, tapi tampang mereka berdua begitu jelas sehingga sangat tidak mungkin untuk tidak berpikir negatif jadi maaf saja kalau Ariel sudah memiliki perasaan itu sedari Ibunya dan Win bertatapan tadi.


" Win, kenapa wajahmu merah seperti pantat babi? "


" Ya? " Win menatap Ariel dengan tatapan yang sepertinya di buat seolah-olah dia tidak paham apa yang di tanyakan oleh Ariel. Dia memang menatap wajah Ariel, tapi Ariel juga bisa melihat dengan baik dan jelas kalau yang di lihat oleh Win hanyalah hidung dan bibirnya saja, ah! Itu tidak berani menatap mata karena bohong kan?!


" Ariel sayang, kau jangan bertanya seperti itu. Win itu kan kulitnya bersih sekali, jadi kalau terkena sinar matahari pasti akan merah. "


Ariel benar-benar heran dengan Win maupun Ibunya, matahari dari mana? Semenjak masuk gerbang, ah! tidak perlu membicarakan gerbang, mereka saja sekarang sedang berada di dekat pintu utama yang jelas matahari saja sungkan untuk menyelinap kesana. Menyadari kebodohannya dari wajah Ariel yang terlihat keheranan, Ibu Maria hanya bisa memaksakan senyumnya meringis malu sendiri. Sungguh bodoh sekali karena mengatakan hal aneh di keadaan yang sangat jelas tidak mendukung itu.


" Ibu, dan Win, kalian tidak mungkin kalian mau- "


" Kau ini apa sih nak? Ki kita masuk saja yuk! Ibu lapar, haus juga! " Ibu Maria segera meraih pergelangan tangan Ariel, membawanya masuk dengan segera sebelum Ariel tambah melebar luas nantinya.


Win, pria itu hanya bisa membuang nafasnya yang sempat dia tahan beberapa saat tadi. Dia memegangi jantungnya yang masih berdebar hebat, berjalan meninggalkan teras rumah karena dia baru ingat kalau harus menemui Leo untuk membicarakan sesuatu dengannya.


Tuan Daris yang melihat semua itu hanya bisa menahannya kelu di dalam hati. Gadis cantik bernama Maria yang rela menikah dengannya ketika usianya masih sangat muda, tepatnya beberapa bulan setelah dia lulus sekolah menengah atas nyatanya kini telah menjadi wanita yang tidak akan mungkin bisa ia raih lagi walau hanya di dalam mimpi. Saat itu dia bahkan hanya seorang pegawai biasa dan duda anak satu, dia yang hanya karena wajahnya bisa menikah dengan Ibu tiri dan sempat di buang karena ekonomi nya yang rendah pada akhirnya juga tidak mampu mempertahankan wanita sebaik Ibu Maria yang rela menerima segala kekurangannya, bahkan Ibu Maria juga tidak malu memperkenalkan dia kepada teman-teman kampusnya, dia juga dengan semangat tetap kuliah meski sampai harus hamil besar, memiliki balita dan bekerja di perusahaan yang sama dengannya, menemaninya dan tetap renda hati meski dengan kehebatannya dia lebih cepat naik jabatan, lagi-lagi hal itu tak membuat Ibu Maria jadi merendahkan suaminya.


Namun apalah daya karena kala itu dia terlalu bodoh sehingga di permainkan bertahun-tahun juga tidak menyadarinya. Sekarang bukan hanya tidak mampu meraih wanita yang sampai saat ini masih dia cintai, dia juga tidak akan pernah mendapatkan sedikitpun cinta dari putrinya yang selama ini dia sakiti karena kesalahpahaman yang di ciptakan oleh Ibu tiri.


" Semoga kau hidup dengan bahagia Maria, untukmu juga Ariel, ini adalah doa Ayah yang benar-benar tulus, semoga kau tetap bahagia, bencilah Ayah sebanyak yang kau inginkan, Ayah hanya akan menjalani hari-hari menyakitkan ini sebagai hukuman. "


Di dalam rumah.


Ariel masih tak mau lepas dari wajah Ibunya yang terlihat salah tingkah. Ibunya terus mencoba untuk mengalihkan fokus Ariel, tapi sayangnya Ariel yang memiliki sifat curigaan itu tak bisa terkecoh barang sedikitpun.


" Ibu, apa aku akan punya Ayah tiri? "


Ibu Maria menelan salivanya. Bingung bagaimana akan menjawab pertanyaan Ariel barusan. Iya atau tidak mana mungkin dia bisa tahu?


" Ariel, kau ini bicara apa sih? "


" Ayah baru, aku tanya apa aku ada kemungkinan akan punya Ayah baru? "


Bersambung.