
Ariel terdiam di sudut ruangan karena tak ada satupun makhluk yang bisa dia ajak bicara. Hari ini adalah akhir pekan, tapi Leo sudah pergi sedari pagi karena ada urusan, Ibunya juga keluar kota dengan alasan yang sama. Ah, benar-benar bosan tapi tidak tahu harus melakukan apa.
" Ah, bosan sekali! " Ariel membuang nafas kasarnya, sebentar dia berpikir sebentar, lalu tersenyum setelah mendapatkan ide untuk pergi jalan keluar, iya! Dia ingin pergi ke pusat belanja. Yah meksipun Leo sudah memberikan kartu untuknya, tapi dia juga ingin menghabiskan uangnya sendiri dari kerja beberapa waktu di RC.
Segera Ariel bangkit untuk menuju kamar mandi guna membersihkan diri, barulah setelah itu, dia bersiap dengan menggunakan dress yang memang sudah tersedia disana, memaki riasan natural seperti biasanya.
Ariel tersenyum senang begitu semuanya sudah beres, dengan segera dia bangkit dari duduk meja riasnya, berjalan meraih mini bag nya dan menuju pusat belanja yang sudah dia tentukan.
Tak di izinkan keluar rumah sendirian, Ariel akhirnya di temani seorang sopir, dan ada dua orang khusus untuk menjaga Ariel secara diam-diam jadi mereka berada tetap di belakang mobil yang ditumpangi Ariel. Sampai di pusat belanja mereka juga hanya bisa mengikuti Ariel secara diam-diam karena Ariel sudah berpesan untuk jangan mengikuti dengan alasan tidak nyaman.
Ariel dengan semangat memilih beberapa baju untuk Ibunya, dan juga tas karena dia tahu Ibunya sangat menyukai tas.
" Hai, Ariel? "
Ariel kehilangan senyum sumringahnya padahal jelas tas yang tengah ia pegang adalah tas model terbaru yang pasti Ibunya sangat suka. Tapi gara-gara seorang pria yang menyapa sembari melepas kaca mata hitamnya, lalu tersenyum ke padanya, Ariel jadi benar-benar diam tak berkeinginan untuk berpura-pura tersenyum.
" Benar-benar seperti jodoh karena kita tidak sengaja bertemu di tempat yang luas ini. "
Ariel menelan salivanya sendiri. Jodoh, dia bahkan sering kali bertemu dengan teman kuliahnya dulu, tapi tidak juga berjodoh sampai sekarang, yang ada malah tiba-tiba dipertemukan dengan Leo dan menikah dengannya, uh! Ditindas luar dalam dengan kekuatannya yang seperti singa kelaparan membuatnya sering berjalan dengan kaki gemetaran.
" Kenapa kau ada disini, Mark? "
Iya, dia adalah Mark. Bukan kebetulan seperti yang dikatakan olehnya tadi, tapi dia memang mengikuti gerak gerik Ariel, kemana dia pergi, apa yang dia lakukan, dan dia harus terus menekan sampai Ariel tak punya pilihan lain.
" Aku sedang memilih hadiah untuk adikku, lusa dia ulang tahun. "
Ariel memaksakan senyumnya.
" Kalau begitu, silahkan nikmati kegiatan mu, aku sudah selesai jadi aku harus segera kembali ke rumah. " Ucap Ariel, dan segera dia ingin beranjak pergi, tapi lengannya di tahan oleh Mark.
" Jangan buru-buru begitu, Ariel. Karena kau adalah istrinya Leo yang berarti kau adalah sepupuku juga, maka aku minta bantuan mu dengan sangat, tolong bantu aku memilih hadiah untuk adikku. "
Ariel mencoba melepaskan lengannya, tapi Mark malah semakin kuat menahannya. Pria itu tersenyum bahkan saat Ariel menunjukkan wajah kesakitan.
" Lepaskan tanganku, Mark. " Ucap Ariel karena tidak tahan berlama-lama dengan Mark, terlebih tatapan Mark yang seperti mengancam dan seperti kehausan membuatnya benar-benar tidak bisa tenang walau hanya berpura-pura saja.
" Aku tidak ingin menyakitimu, Ariel. Aku kan hanya ingin memintamu membantuku memilihkan hadiah? Jadi jangan terlalu waspada, dan bantu aku sebisa mu, oke? "
Dua orang pengawal yang sedari tadi mengawasi Ariel sebenarnya sudah akan bertindak begitu melihat Mark muncul disana, tali mereka tidak bisa berbuat apa-apa begitu ada dua orang juga yang tiba-tiba ada di belakang tubuh mereka, menyodorkan pisau tepat di perut mereka.
Tak memiliki pilihan lain, Ariel hanya bisa mengikuti saja permintaan Mark berharap dia tetap akan selamat dari rencana Mark yang tidak dia ketahui sama sekali.
" Ariel, bagaimana kalau kau memilihkan tas untuk adikku? Dia salah satu penggemar tas branded, jadi tolong bantu aku pilihkan satu yang kira-kira cocok untuk adikku. "
Ariel melihat tas-tas yang terpanjang dengan rapih. Segera dia mengambil satu tas berwarna peach, berukuran sedang dengan desain yang minimalis tapi terlihat sangat berkelas.
" Menurutku ini bagus. " Ucap Ariel sembari menyodorkan tas itu kepada Mark.
" Benarkah? " Mark meraih tas itu, membolak-balikan seolah dia sedang menilainya, tali kedua mata Mark justru tak melihat tas itu sama sekali, melainkan menatap Ariel yang menatap ke arah lain. Mark tersenyum miring, dia benar-benar menyukai cara Ariel yang selalu ingin menolaknya, dan itu sungguh membuatnya begitu penasaran tentang Ariel.
" Kenapa kau yakin bahwa tas ini pasti disukai oleh adikku? "
" Aku tentu saja tidak yakin apakah adikmu suka atau tidak, aku hanya menggunakan feeling seorang wanita saja. "
" Baiklah, aku akan membeli tas ini. Bukan karena tas ini mahal, tapi karena feeling mu, aku yakin feeling mu tidak salah. " Mark tersenyum, dan itu malah membuat Ariel semakin tak tahan berada lama dengan Mark.
Setelah selesai Mark membayar tagihan belanjanya, Ariel tentu saja sudah ingin kabur, tapi lagi-lagi Mark menahannya dengan caranya.
" Ikutlah makan denganku, Ariel. Rasanya tidak pantas kan kalau hanya merasa tenaga mu tapi tidak mentraktir mu? "
" Tidak perlu, aku punya banyak uang dari Leo, aku tidak membutuhkan traktiran atau semacam gratisan. "
Mark merangkul pundak Ariel, dan mencoba untuk memaksanya ikut dengan senyum indah di bibirnya.
" Sayang, kau sudah lama berada di sini, kenapa masih belum ingin pulang? "
Ariel dengan segera menepis tangan Mark, dia berbalik badan, dan betapa bahagianya dia karena ternyata Leo ada di sana, dia duduk di kursi rodanya, menggunakan masker penutup wajah, dan Win juga berada di sana. Segera Ariel berlari ke arah Leo, dan di saat bersamaan Leo memberikan tangannya untuk Ariel genggam. Tadinya Leo ingin menghukum Ariel rencana begitu pulang ke rumah, tapi merasakan tangan Ariel yang dingin dan gemetar, dia benar-benar tahu kalau Ariel begitu tertekan berdekatan dengan Mark.
" Leo, kau datang kesini hanya untuk mencari istrimu kah? "
" Iya, kau pasti kaget dan kecewa melihatku berada disini kan? " Leo tersenyum miring di balik masker yang ia gunakan.
Mark, pria itu mengeratkan rahangnya menahan kesal. Leo berada di sana bersama dengan Win, pasti rencana sudah terdeteksi, dan dua orang yang dia minta menahan pengawal Ariel pasti sudah tertangkap oleh si brengsek Win yang dijuluki si cepat di dalam dunia nyata.
Bersambung.