
Seorang pria yang kini duduk di kursi roda, dan Win yang mendorongnya masuk benar-benar membuat semua orang menatap kaget hingga kebingungan, saling bertanya karena Win, Leo, dan juga Nard berada di satu tempat yang sama.
Sempat mereka meragukan karena informasi yang mereka dapatkan adalah Leo yang sengaja menggunakan kulit palsu, jadi tida heran kalau mereka beranggapan sama bahwa orang yang duduk di kursi roda itu adalah Leo palsu yang menggunakan kulit palsu.
" Jangan membodohi kami dengan membawa Mister L palsu! Kau pikir kami akan percaya begitu saja? "
Win, Leo, dan pria cacat itu kompak tersenyum miring menghina ungkapan itu dengan mimik wajah dan senyumnya. Sebenarnya senyum itu sudah benar-benar mampu membuat mereka merasa gugup, tapi demi membuktikan kebohongan itu, mereka mencoba sebisa mungkin terus mendesak hingga kebohongan Leo terungkap.
" Kau pikir kau bisa membohongi kami dengan tipuan receh itu?! "
" Kalau begitu, bagaimana jika memeriksanya sendiri? "
Semua orang kini menatap dengan begitu terkejut. Kenapa? Karena suara pria yang duduk di kursi roda itu benar-benar sangat mirip seperti suara Leo, dan juga Nard, dan Ayah mereka yang menjabat sebagai Presdir sebelumnya.
" Jangan kira kalian bisa menuduh jika hanya berlandaskan keterangan palsu. Aku yakin sekali, dari mata ku, dan suaraku kalian bisa mengenaliku dengan baik. Aku, dan Nard memiliki kesamaan, tapi bukan berarti kami satu orang. Ah, ada sebuah rahasia yang ingin aku sampaikan kepada kalian semua, sebenarnya aku dan Nard, kami berdua adalah kakak adik dari Ibu yang berbeda. "
Sontak semua orang menjadi amat terkejut bukan main. Awalnya mereka mengira kalau kemiripan antara Nard dan juga Presdir terdahulu adalah kebetulan saja, tapi tidak disangka jika Nard adalah anaknya juga. Mereka ingin tidak mempercayai itu, tapi ketika sorot mata keduanya begitu jelas terlihat sama, mereka tak mampu lagi mengelak.
" Benar, aku memang berbohong beberapa hal, jadi aku akan memberitahu kebohongan ku dan apa alasannya. "
Pria cacat itu, yang tak lain adalah kakak dari Leo, namanya adalah Leonarde. Dia adalah anak dari mantan kekasih Ayahnya yang baru diketahui kehadirannya setelah Ayahnya Leo menikah dengan Ibunya. Ketika dia di bawa pulang untuk dikenalkan kepada Leo dan Ibunya, banyak kesalahpahaman terjadi, dan naasnya hari itu juga Leonarde ikut menjadi Korban dari rencana licik paman Daris yang sudah lama menyimpan dendam kepada Ayahnya Leo.
Leonarde, atau orang akan memanggilnya Onar kini tersenyum miring. Perlahan dia bangkit dari kursi duduknya, berdiri tegak, lalu mengelupas kulit buatan yang di tempelkan di wajahnya.
" Ka kalian?! " Semua orang tercengang bukan main mulai dari Onar membuka kulit palsu di wajahnya hingga tuntas dan akhirnya wajahnya terekspos.
" Kenapa? Kami mirip? " Onar tersenyum miring, sama persisi seperti Leo.
" Jika aku tidak mengalami luka bakar yang lumayan parah hingga lima puluh persen, maka kami akan seperti saudara kembar. Untuk mengembalikan kulitku seperti sekarang ini, aku sudah menjalani seratus dua kali operasi kulit. Penambalan kulit, pembentukan kulit, cangkok kulit, dan banyak prosedur lain. Jika kalian masih tidak bisa menerima kenapa aku berbohong, maka jadilah aku, menderita lah sepertiku, dan hiduplah dengan banyak orang licik jadi kalian akan tahu benar gunanya berbohong. "
Semua orang masih tak percaya, mereka yang terkejut hanya bisa menatap syok, lalu saling menolah untuk bertanya sebenarnya apa yang terjadi? Drama apa ini?
" Kalau kalian tidak ingin terus mendapatkan untung, maka lanjutkan saja rencana kalian untuk menekan kami berdua. "
Sebagian dari mereka memilih pasrah dan diam. Nyatanya mereka bukan satu orang saja, jadi bisa di maklumi, toh kebohongan mereka hanya tentang status mereka saja kan?
" Tidak bisa! Kalau hal kecil begini saja kalian berbohong, bagaimana mungkin kami bisa percaya jika kalian tidak merencanakan sesuatu demi keuntungan kalian berdua saja?! "
Leo tersenyum mengejek, dia berjalan mendekati salah satu petinggi yang mengucapkan kalimat tadi. Leo menepuk bahu pria itu beberapa kali, lalu menatapnya dengan tatapan dingin.
" Tuan Mahardika surahaja, sepuluh miliar uang yang masuk ke rekening atas namamu, boleh kah aku tahu dari siapa? "
Pria itu menelan salivanya sendiri. Iya, dia merasa takut karena bahkan Leo bisa menyebut nominal itu dengan jelas.
" Itu, adalah uang yang dikirimkan oleh anak ku! Dia sudah sukses, jadi tidak heran bisa memberiku uang sebanyak itu. "
" Ck! Itu jumlah pertahun yang kau terima, yang aku tahu putramu baru saja lulus dari perguruan tinggi, dan belum lama ini bekerja di salah satu perusahaan ekspor impor di negara ini. Dua putrimu juga menikah dengan pria biasa saja, dan uang sebanyak itu kau sudah mendapatkannya dari lama sekali kan? Bahkan saat anak mu baru berusia lima belas tahun kan? Apakah lima belas tahun putramu sudah bisa menghasilkan uang sebanyak itu? Heh! Bahkan menjual seluruh organ tubuh keluargamu juga tidak akan mampu menghasilkan sebanyak itu kan? "
" Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, kau juga tidak boleh asal sebut dan menuduh ku begitu! "
" Oh, apa kau tidak malu mengatakan itu? Dan, apakah kau tidak apa-apa jika aku menunjukkan buktinya disini? "
Pria itu nampak gugup sekali, karena tak mampu menjawab pertanyaan itu dan membantahnya, maka dia beralasan agar bisa pergi dari sana, lalu kabur keluar negeri sesegera mungkin.
" Aku sudah lelah, dan aku juga sedang tidak enak badan, jadi aku harus segera kembali ke rumah. "
Leo menahan tubuh pria itu dengan tangannya yang menekan pundaknya.
" Jangan pikir bisa keluar, bagaimana kalau kau ajak teman-teman mu juga membantumu? "
Beberapa orang di sana nampak gugup, mereka jelas adalah kompolotan pria itu, atau orang yang selama ini bekerja kepada Paman Daris untuk sedikit demi sedikit menggerogoti RC, dengan iming-iming pemasukan berlipat-lipat setiap tahunnya.
" Bergabunglah dengan teman-teman mu, dan berikan ucapan selamat datang kepada mereka semua. " Ucap Leo, lalu tak lama datanglah enam orang polisi untuk menangkap empat orang yang menjadi komplotan Paman Daris.
" Tidak! aku tidak ikut campur! "
" Aku tidak bersalah! "
" Aku dipaksa, tolong jangan bawa aku juga! "
" Jangan asal tuduh saja, Aku tidak bersalah! "
Leo dan Onar sama-sama tersenyum puas.
" Wah, ternyata melihat orang menderita itu sangat menyenangkan ya? " Gumam Onar yang terlihat bahagia. Karena tak terlalu kuat untuk berdiri lama, segera dia menjatuhkan tubuhnya di kursi roda.
" Berlatihlah lebih keras, Tuan. Tubuhmu belum sanggup melihat indahnya air mata yang keluar dari mata musuh mu. " Ucap Win yang langsung mendapatkan senyuman dari Onar.
" Win, bersiap sekarang, aku yakin mereka sudah akan bergerak kepada Ariel. " Ucap Leo mengingatkan.
" Semua sudah siap di tempatnya, Tuan. "
Leo mengangguk.
Ariel, tunggu sebentar lagi ya? Kau harus baik-baik saja.
Bersambung.