Maried With Mr. L

Maried With Mr. L
BAB 109




Yuk yang belum mampir kesini, di tunggu ya!


Sephora terdiam menahan kesal dan rasa tidak percaya dengan apa yang di lihatnya tentang Daniel. Padahal dia sudah berusaha membuat Daniel mati kutu dengan segala syarat yang dirasa berat sekali untuknya, tapi kenapa pria itu malah tersenyum dengan begitu tulus seolah semua persyaratan itu tidak ada artinya baginya? Kenapa Daniel bersikap seolah dia begitu menginginkan hati dan cinta Sephora? Bahkan dia tidak terlihat menginginkan anak mereka, apakah itu hanya akting semata untuk membuat Sephora percaya akan ucapannya meski niatnya masihlah ingin merebut anaknya?


" Sephora berhentilah untuk terus meragukan ku. Aku tahu aku memiliki kesan yang tidak baik dari awal kita bertemu di pertemuan yang sangat kebetulan itu. Mungkin memang sulit untuk mempercayaiku saat ini, jadi mari kita hidup bersama dan nilai lah aku pelan-pelan seteliti mungkin. " Daniel meninggalkan senyum yang begitu manis membuat Sephora mengeryit menjadi tambah bingung. Selama dia mengenal Daniel ini adalah kali pertama Sephora melihat senyum itu di wajah Daniel, karena biasanya pria itu hanya akan menunjukkan betapa sangar dan menakutkannya dia ketika sedang marah, bahkan di suasana hatinya yang biasa saja Daniel tetap terlihat bengis dan menakutkan.


" Aku sudah menyiapkan segalanya untuk kita menikah, hanya tinggal kesiapan mu saja. "


Sephora membuang nafas kasarnya.


" Kau takut sekali ya? Apa satu istri saja tidak cukup untukmu? "


Daniel tersenyum, di mendekati Sephora lalu meraih tangannya meski sempat di tepis beberapa kali, dan pada akhirnya sukses Daniel menggenggam tangan Sephora dengan erat.


" Sidang perceraian akan segera di langsungkan, dengan pengacara yang aku bayar aku pastikan segala prosesnya akan berjalan lancar dan tidak pula memakan waktu lama. "


Sephora sebenarnya cukup tersentak mendengar kabar itu, karena terakhir kali saat Daniel datang setelah istrinya, Daniel kan sempat marah dan memintanya untuk jangan melawan dan membatah, bukankah itu artinya Daniel sangat mencintai istrinya?


" Kau terlihat seperti sangat mencintai istrimu, bahkan kau sangat tidak suka saat aku melawan nya, kenapa kau tiba-tiba menceraikan dia? Apakah ini salah satu trik kalian untuk merebut anakku? "


Daniel membuang nafas kasarnya.


" Dari mana pendapat mu itu muncul? Kapan aku menunjukan bahwa aku sangat mencintai wanita itu? "


" Kau memakiku saat wanita itu datang menyerang ku. "


" Aku hanya ingin membuat kejutan untuknya, jika kau tetap diam tidak mengatakan apapun, ini benar-benar akan membuatnya sesak kan? Pada awalnya aku ingin membuat kejutan dengan membawamu yang sedang hamil dan menikahi mu. "


Sephora tersenyum sinis.


" Bagaimana bisa juga Ibu mu datang dan mengoceh mengatakan begitu banyak hal menyakitkan untukku? Ibumu bahkan sudah mengatakan banyak hal yang cukup mengguncang jiwaku. "


Daniel menyentuh wajah Sephora, yah meksipun awalnya Sephora menghindar, nyatanya Daniel tak kehilangan akal untuk mewujudkan apa yang dia inginkan.


" Ibuku itu sangat menyukai istriku, dia sama sekali tidak perduli apapun meski aku sudah banyak sekali memberitahu segala kekecewaan ku, Ibuku benar-benar tidak perduli dan tetap beranggapan bahwa dia adalah menantu yang paling sempurna. "


" Cih! Kau ingin membunuhku pelan-pelan dengan menjadikan ku istrimu dan ditindas habis oleh Ibumu? "


" Memang siapa yang berani menindas mu kalau aku sendiri tidak mengizinkannya? " Daniel membuang nafasnya.


" Sephora, maka berikanlah saja aku kesempatan untuk menunjukan padamu bagaimana aku yang sebenarnya, kalau memang pada akhirnya kau memilih untuk tidak bersamaku, maka aku akan membiarkan mu pergi tanpa sekalipun menghalanginya dengan cara apapun. "


***


Leo tak henti-hentinya tersenyum, dia menenggang erat tangan Ariel dan terus mencium punggung tangan wanita kesayangannya itu. Rasa sebal yang kemarin ia rasakan karena Ariel begitu aneh benar-benar tidak lagi membuatnya merasa perduli. Iya, Ariel ternyata benar-benar hamil, usia kandungannya bahkan sudah hampir dua bulan. Aneh ya karena Ariel sama sekali tidak seperti ibu hamil lainnya yang akan muntah terus menerus, alias ngidam. Ariel terlihat biasa saja, dan hanya perubahan moodnya saja yang agak berbeda dan sulit di tebak.


" Leo, berhentilah mencium tanganku, aku risih! " Ariel berusaha menarik tangannya, tapi sayang sekali Ariel tidak bisa melanjutkan keinginannya saat Leo malah jadi lebih erat menggenggam tangannya.


" Sayang, maaf tapi sepertinya aku sedang tidak bisa menahan kebahagian ini. Aku benar-benar bahagia karena memiliki istri seperti mu, juga akan punya anak bersamamu. "


Kalimat itu sontak membuat Ariel terdiam. Sejujurnya apa yang bagus dari dirinya? Bukankah di luar sana juga banyak wanita cantik? Lebih cantik bahkan banyak, yang berpendidikan lebih tinggi, serta memiliki latar belakang keluarga yang hebat juga banyak, kalau di sandingkan dengan mereka tentu saja Ariel bukanlah apa-apa. Tapi bagaimana bisa Leo yang bisa di bilang sempurna bagi kaum hawa malah memilih dirinya yang serba kekurangan ini?


" Kau, kenapa kau malah memilihku? "


Leo menatap Ariel dengan tatapan penuh tanya.


" Kenapa? Tentu saja itu karena kau, aku juga tidak memilihmu, tapi takdir yang memberikan mu padaku. "


Ariel membuang nafas kesalnya saat melihat bibir Leo tertarik, tersenyum dengan begitu indah. Memang menjadi misteri baginya karena sampai detik ini dia masih belum paham kenapa Leo bisa jatuh cinta dengannya dan mengabaikan banyak wanita di luaran sana.


" Kalau kau begitu penasaran, aku akan memberitahu mu. Yah, aku anggap ini keinginan Ibu hamil begitu. " Leo kembali tersenyum, hingga pada akhirnya dia terkekeh sendiri karena tiba-tiba membayangkan perut Ariel yang akan membesar nanti.


" Kau sedang menertawakan apa? "


" Ehem! Tidak ada. " Leo kembali mengeratkan genggaman tangannya.


" Aku memantapkan hatimu juga di luar dugaan ku. Awalnya aku kira kau akan kabur begitu pesta pernikahan kita selesai. Kau tahu saat itu aku sedang memerankan pria cacat yang tidak memiliki kemampuan apapun, bahkan menjurus seperti pria tidak berguna kan? Aku sengaja ketus dan membuatmu kesal, tapi siapa sangka kalau kau malah seperti menarik ku masuk ke dalam permainan yang aku ciptakan sendiri. Aku mengingat dengan jelas seperti apa maunya wajahmu saat membentak ku, tatapan marah, tapi pipi merona malu saat kau melihatku tanpa busana, kau terlihat kesal tapi juga merona setiap kali membahas tentang cucung, ah! Adalagi satu istilah yang suka kau sebutkan, ewita! Haha,... Aku suka saat kau mengucapkan kata itu. "


Ariel mendengus kesal.


" Alasan macam apa itu? Memang itu saja bisa membuatmu jatuh cinta? "


" Kan sudah aku bilang, karena itu adalah kau makanya aku jatuh cinta dan memilih mu. "


" Kira-kira berapa persen kemungkinan untukmu berselingkuh? " Tanya Ariel dengan tatapan menyelidik tajam menatap kedua bola mata Leo.


" Sejauh ini nol persen, selanjutnya tentu saja bagaimana kau bisa menjaga ku baik-baik supaya tidak berselingkuh. "


" Dasar pria terkutuk! Lihat saja kalau berani berselingkuh, aku benar-benar akan mentato cucung mu dan menuliskan kata di sana, cucung ini milik Ariel seorang! "


Bersambung.