
" Kau, juga berbohong tentang ini? " Kali ini Ariel menahan tangis karena kemarahan tak tertahan yang dia rasakan. Sebenarnya dia sudah memperhatikan ujung kulit di pipi Leo yang sedikit terbuka semenjak Leo selesai mandi tadi, dan begitu melihat dengan jarak yang semakin dekat, Ariel jadi curiga kalau itu adalah kulit palsu lalu menariknya.
Leo, pria itu terdiam sebentar karena tak kuasa menatap mata Ariel yang terlihat sangat marah. Tahu, Ariel pasti sangat kecewa, tapi mau bagaimana lagi? Kebohongan ini juga tidak mungkin akan dilakoni terus selamanya.
" Kau boleh marah, tapi dengarkan semua penjelasan ku dulu. " Leo menatap dengan sungguh-sungguh. Dia menarik nafas terlebih dulu. Benar-benar gugup, padahal dia juga sudah biasa berada di situasi lebih parah di dunia bisnis, tapi meghadapi Ariel benar-benar seperti menghadapi dewa iblis.
" Ariel, dulu aku dan keluargaku pernah mengalami sebuah tragedi yang mengerikan. Kau juga tahu walau sedikit kan? Hari itu, adalah hari dimana aku tidak akan pernah bisa melupakannya. Ayahku datang membawa satu lagi putranya yang bernama Leonarde, jujur saja aku dan Ibuku sangat syok dan terang-terangan menolak anak itu. Usianya lebih tua dariku, itu berarti Ayahku juga memiliki wanita lain selama terikat hubungan pernikahan dengan Ibuku, bahkan namaku juga Leonardo beda satu huruf saja. Kami sibuk memikirkan kemarahan dan kebencian kami, hingga malam itu aku yang kesal keluar dari rumah, aku ingin kabur untuk menunjukkan kemarahan ku. Aku sudah lumayan jauh berjalan kaki, tapi karena aku lupa membawa uang, aku kembali ke rumah. Kau tahu apa yang aku lihat? Rumahku sudah terbakar sangat parah, parah sekali. Ibuku, Ayahku, dan anak itu berada di dalam. Pertama Ayahku keluar membawa Leonarde keluar dengan luka bakar yang sangat parah. Ayahku melihatku saat itu, dia berteriak padaku, dia mengatakan bahwa dia mencintaiku apapun yang terjadi. Dia memintaku bersembunyi, lalu masuk ke dalam lagi ingin menyelamatkan Ibuku. Tali sayangnya mereka berdua tidak pernah keluar dari sana. "
Ariel terdiam, tadinya dia ingin sekali melampiaskan kemarahannya dengan brutal, tapi mendengar cerita Leo bagaimana bisa dia melakukannya?
" Tadinya aku ingin berlari dan sembunyi seperti yang diperintahkan Ayahku, tapi langkah kakiku terhenti begitu melihat seorang pria berbaju hitam sedang berbicara dengan teleponnya. Dia mengatakan bahwa semua berjalan sesuai rencana, dan Leonardo terluka sangat parah, jadi kemungkinan kalau dia akan mati. "
Leo menghela nafasnya, berat memang menceritakan masa itu, tapi dia benar-benar ingin menceritakan segalanya kepada Ariel agar dia mengerti dan semoga saja memilih untuk tetap bersamanya.
" Aku tetap sembunyi, aku mengendap-endap kemana jasad orang tuaku di makamkan, dan Leonarde koma saat itu, dia berada di rumah sakit. Tadinya aku tidak mengerti apa yang terjadi, kenapa aku harus bersembunyi, tapi saat aku melihat senyum kepuasan dari wajah pamanku, aku merasa takut walaupun aku tahu pamanku tidak bisa melihatku saat itu. Dia tersenyum di peti mati orang tuaku setelah berpura-pura sedih sebelumnya. Seiring berjalannya waktu aku sadar ada yang salah dengan pamanku. Sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk menemui kakekku. " Leo tersenyum mengingat bagaimana wajah kakeknya saat itu.
" Dia sangat terkejut, mulutnya benar-benar terbuka lebar karena tidak percaya jika aku berdiri di hadapannya dengan sehat-sehat saja. Tentu saja dia bingung, karena sudah mengecek dengan benar bahwa anak yang terbaring koma itu adalah anak kandung Ayahku, tapi setelah aku menceritakan apa yang aku tahu dia bernafas lega, tapi juga merasa iba dengan Leonarde yang juga menjadi korban. Demi menyelamatkan nyawaku, kakek membawa Leonarde pergi keluar negeri dengan alasan berobat, dan tentu saja aku juga pergi tapi aku sudah dikirim lebih dulu oleh kakek. Empat tahun setelahnya aku kembali kesini, dan demi meyakinkan pamanku aku bertingkah seperti orang cacat dan mengalami luka bakar agar pamanku merasa aku tidak berguna dan hanya seorang pecundang jadi dia tidak akan merasa bahwa aku ini adalah sebuah ancaman baginya. "
Ariel jadi tidak bisa merasakan marah lagi, sekarang dia malah ingin memeluk Leo dan menepuk punggungnya pelan karena tidak tega dengan cerita menyedihkan yang dialaminya. Ah, tapi tahan saja dulu, biar bagaimanapun dia tidak boleh main peluk-pelukkan saja.
" Ariel, tidak mudah bagiku untuk terus begini, jadi mau kah memaafkan ku? "
" Kau, kenapa kau bicara dengan begitu lembut? Kau kan biasanya sangat ketus dan suka main kosa kata? Kau ini sebenarnya yang mana? Yang ini, atau yang baru aku kenal? "
" Tergantung dengan siapa aku berhadapan. "
Ariel membuang nafas sebalnya. Tergantung? Hah! Bukankah sekarang ini sangat pandai bicara seperti manusia? Kenapa juga tidak dari dulu saja cara bicaranya seperti ini?!
" Ariel, pernikahan kita itu terjadi dengan tiba-tiba dan sangat cepat kan? Yang aku tahu calon istriku sebenarnya juga bukan kau, jadi penting untukku mencari tahu seperti apa karakter aslimu. "
" Iya, tentu saja. Itu adalah alasan utama aku mengatakan ini semua padamu. Ariel, aku tida pernah benar-benar ingin mengerjai mu, aku hanya berharap kau kabur di hari pertama kita menikah agar aku tidak membuang-buang waktu dengan orang yang menganggap remeh diriku. Kau berbeda, Ariel. Kau sangat berbeda, kau tidak sama seperti wanita lainnya, jadi aku yakin dan percaya padamu. "
" Wanita lainnya kau bilang? Jadi, berapa banyak wanita yang kau kencani sebelumya? " Tanya Ariel dengan tatapan menyelidik. Sungguh tidak disangka, dari sekian panjang ceritanya, apalagi cerita itu begitu dramatis, tapi Ariel malah hanya fokus soal itu saja?
" Kenapa kau diam? Banyak ya? Kau punya banyak kekasih sebelumnya? Heh! Sudah ku duga! Meskipun aku memang tidak tahu seperti apa wajahmu, tapi aku bisa yakin benar bahwa pria yang tampan, dan pria yang kaya cenderung suka mempermainkan hati wanita. "
Leo menghela nafas.
" Ariel, bertahun-tahun aku hanya menjalankan peran sebagai orang cacat, jadi mana ada yang akan sudi denganku? "
Ariel kembali terdiam, sebenarnya sedih juga menjadi Leo, tidak semua orang bisa sanggup menjadi dirinya. Menyingkirkan semua kekecewaan dan kemarahannya, Ariel memeluk Leo, menepuk punggungnya pelan.
" Semua sudah berlalu, sekarang adalah sekarang, jadi cobalah sebaik mungkin untuk bahagia. " Ucap Ariel, padahal dia sendiri juga belum tentu paham benar apa yang dia katakan. Leo mengangguk dan tersenyum, yah setidaknya rasa kasihan dari Ariel sekarang lumayan menguntungkan dirinya.
" Ngomong-ngomong, aku penasaran kalau semua kulit palsu mu itu dilepas. " Ujar Ariel penasaran.
" Kau sudah melihatnya kok. "
Ariel mengeryit bingung.
" Kapan? Diaman? Kau menyamar menjadi salah satu penjaga rumah ini ya? "
Leo menggeleng, lalu dia melepas pelan-pelan kulit palsu yang ditempelkan di wajahnya. Begitu terbuka dengan sempurna, Ariel tak bisa menutup mulutnya karena sangat amat terkejut.
" Leo! Kau brengsek! " Ariel meraih bantal di sofa ia duduk dan memukulnya ke wajah Leo.
Bersambung.