
Ariel terdiam dengan tatapan bingung setelah pagi tadi bertemu dengan Arumi, untuk menyelesaikan apa yang belum selesai. Aneh, karena Arumi sama sekali tak bicara, bahkan menatap Ariel saja tidak mau. Dia hanya mau bicara dengan Presdir Nard, karena dia sudah bertanya beberapa pertanyaan tak di jawab berarti jelas dia tidak mau bicara dengan Ariel kan? Ya sudah lah, tidak apa-apa karena mungkin wanita itu cemburu dengannya. Meksipun itu bukan salahnya, tapi bisa apa dia kalau pemikiran Arumi sudah seperti itu?
Presdir Nard juga tidak tahu malu membuat Ariel semakin kesal dibuatnya. Sudah tahu disana ada Arumi yang katanya kekasihnya, tali tatapan Presdir Nard terus mengarah kepada Ariel, bahkan dengan terang-terangan dia Soo perhatian dengan menanyakan apakah sarapan tadi cukup? Apa perlu tambah lagi? Apa kau mengantuk? Mau kopi? Ah, menyebalkan! Apakah dia tidak tahu kalau mata Arumi sangat menakutkan, kalau saja itu terus berlanjut, bisa-bisa mata Arumi akan lepas menggelinding dari tempatnya.
" Ariel, kau tidur saja dulu. Masih ada satu jam, karena kita kan harus segera ke kantor untuk bertemu klien. Setelah itu baru kau boleh pulang ke rumah. "
Lagi? Ariel sebenarnya sangat kesal dengan Presdir Nard yang sangat menyebalkan itu, bisa-bisanya begitu perhatian padahal Arumi ada disana sedari pagi selalu melotot melihatnya.
" Oh, iya Presdir Nard. " Tidak mau memancing mulut Presdir Nard, segera Ariel mengambil posisi untuk menyender dan memejamkan matan.
Sesampainya di kantor, Presdir Nard, dan Arumi menemui Klien, sementara Ariel kembali keruangan Presdir Nard. Setelah mereka berdua menemui Klien nanti, barulah mereka akan segera pulang kerumah.
Ditengah-tengah meeting dengan Klien, entah mengapa tiba-tiba Presdir Nard mengingat tentang Ariel, apalagi Ariel yang semalam benar-benar sangat lucu sekali hingga tanpa sadar dia tersenyum. Arumi melihat itu dengan jelas, senyum yang hampir tidak pernah Arumi lihat, dan jika boleh menebak, orang yang sedang dipikirkan oleh Presdir Nick tentulah itu bukan dia.
Arumi mencoba mengabaikan senyum dari bibir Presdir Nard, dia fokus untuk membicarakan tentang pokok meeting kali ini. Presdir Nard pasti tidak akan senang kalau sampai dia tidak paham apa yang sedang dibahas pada meeting itu. Setelah meeting selesai, barulah Presdir Nard bergegas menuju ruangannya untuk melihat bagaimana dan apa yang sedang di lakukan oleh Ariel selama dia tidak disana.
Presdir Nard tersenyum melihat Ariel tengah tertidur pulas dengan kepala yang ia letakkan di meja. Ah, dia bahkan sampai ileran itu berarti dia sangat nyenyak kan?
Tok Tok Tok
Presdir Nard mengetuk meja Ariel dan sontak Ariel terbangun. Sadar area bibinya basah, segera Ariel menyekanya dan bangkit dari posisinya posisi anehnya itu.
" Maaf, Presdir Nard! " Pinta Ariel dengan sungguh-sungguh.
" Tidak masalah. "
Heran, itulah yang Ariel rasakan terhadap Presdir Nard. Padahal banyak orang bilang, bahkan hampir semua orang yang mengenalnya akan merasa takut dan tertekan karena Presdir Nard adalah pria yang dingin, jarang bicara, juga jarang tersenyum. Tapi apa yang dia rasakan benar-benar sangat berbanding terbalik. Kadang Ariel berpikir, apakah karena Presdir Nard ingin memperlakukan dirinya seperti keluarga? Atau memang dia adalah orang kaya yang dermawan dan tidak sombong? Ah, bukan juga pastinya! Tidak tahu! Pokonya Ariel sendiri masih bingung.
Ariel menghela nafasnya setelah sampai di pintu gerbang rumah Leo. Rasanya dia lelah, tapi dia juga penasaran bagaimana kabar pria yang seharian kemarin tidak ia temui. Setelah gerbang dibukakan oleh satpam, Ariel dengan cepat menjalankan kakinya untuk melihat Leo, dia sudah sampai di ruang tamu, kemudian di meja makan, sekarang dia sudah masuk ke kamar tapi Leo masih belum ketemu.
" Kemana ya dia? " Gumam Ariel bingung. Tak lama suara kamar Ariel ada yang mengetuk, dengan segera Ariel membuka kamarnya.
" Ada apa? " Tanya Ariel bingung karena tidak biasanya ada pekerja dapur yang datang ke kamarnya.
" Maaf mengganggu, Nona Ariel. Di depan ada tamu, mereka bilang keluarga Nona Ariel jadi satpam sudah mempersilahkan untuk masuk. "
Ariel mengeryit bingung, mereka? Apakah keluarga lengkap itu? Kenapa datang ke rumah Leo? Batin Ariel bertanya-tanya.
Ariel meletakkan ponselnya terlebih dulu di atas tempat tidur, lalu berjalan keluar dari kamarnya untuk menemui mereka yang katanya adalah keluarganya. Ariel membuang nafas kasarnya setelah melihat siapa mereka itu, iya benar saja seperti dugaannya, Ayah, Ibu tiri dan juga Sephora. Ah, tidak tahu apa yang akan mereka lakukan juga bicarakan di rumah Leo, tapi menghadapi mereka adalah jalan satu-satunya yang bisa dia pilih sekarang ini.
" Silahkan diminum, Tuan, Nyonya, dan Nona. " Ucap Pembantu dirumah kepada mereka bertiga setelah menghidangkan teh untuk mereka, berikut juga camilan untuk teman teh nya.
Aduh, rugi sekali memberi mereka teh dan camilan. Yah, semoga saja mereka kejang-kejang karena tersedak teh dan camilan itu.
Ariel berjalan mendekat, dia duduk berseberangan dengan mereka bertiga. Tuan Diro menatapnya datar, entah rindu atau tidak terhadap dirinya, masa bodoh saja Ariel sudah tidak ingin perduli lagi. Sementara Ibu Tiri dan Sephora, mereka masih saja menatap Ariel dengan tatapan aneh seperti minta di colok saja dengan konde yang dilumuri larva panas membara.
" Apa kau menyelidiki kasus Ibumu? " Tanya Tuan Diro yang sukses membuat Ariel mengernyit bingung. Menyelidiki? Kapan? Bukankah sudah pernah meminta orang untuk menyelidiki dan hasilnya adalah tetap Ibunya bersalah?
" Dengar, Ariel. Ibumu memang sudah melakukan korupsi, jangan mencari bukti apapun karena tidak akan ada gunanya. " Ibu tiri menimpali dengan mimik yang sepertinya dipaksakan untuk menunjukkan keyakinannya. Tapi bukankah aneh jika mereka datang untuk memastikan sesuatu yang aneh seperti ini?
Ariel tak bicara, dia tetap menahan diri karena masih belum paham situasi macam apa yang terjadi sekarang ini, dia perlu mencerna ini perlahan.
" Ariel, Ibu mu sudah dipenjara lama sekali, kau pikir petugas negara bisa salah? "
" Wah, ada tamu ya? "
Ariel menoleh ke arah sumber suara. Leo, pria itu datang dan reflek saja Ariel tersenyum kepadanya.
" Kau dari mana saja? " Tanya Ariel seraya bangkit dari duduknya untuk berjalan megambil alih kursi roda Leo dari Win.
" Ada beberapa urusan, kau sudah kembali kenapa tidak mengabari? " Wow sekali kan karena Leo bicara dengan kalimat lengkap? Tidak tahu apakah dia sengaja karena ada keluarganya Ariel, atau memang sempat kerasukan jin di jalan tadi.
" Aku juga belum lama sampai. "
Leo tersenyum kepada tiga orang yang tersenyum sopan padanya.
Aku membenci wajah palsu tiga orang ini!
Leo menatap dengan tatapan yang tak terbaca Meksi hatinya sangat tidak menyukai senyum dari mereka bertiga.
" Aku sempat mendengar pembicaraan kalian tentang Ibunya Ariel, aku hanya ingin memberitahu saja, bahwa lusa Ibunya Ariel pasti akan di bebaskan. "
Bersambung.