
Hari sudah malam, tapi Ariel masih saja belum bisa tidur. Sedari tadi dia hanya sibuk mengubah posisi tidur untuk miring ke kanan dan miring ke kiri terus saja seperti itu. Aneh, begitulah yang di rasakan oleh Ariel. Biasanya ada orang disampingnya, dan orang itu pastilah Leo si manusia bermulut sarang lebah. Memang benar-benar tidak masuk akal, padahal jelas Leo adalah pria yang menyebalkan baik sikap atau pun cara bicaranya. Ah! Tidak tahu lah! Ditambah lagi pesan yang ia kirim belum juga mendapatkan balasan.
Ariel bangkit dari posisi tidurnya, dia membuang nafas sebal karena sepertinya dia tidak akan tidur bagaimanapun posisinya. Padahal sudah ia coba untuk melamun indah seperti membayangkan tengah berbaring di hamparan bunga lili yang indah, dia juga membayangkan betapa tenang dan nyamannya mendengar suara percikan air yang ada di sungai kecil. Tapi malahan dia tiba-tiba membayangkan ada seekor singa menerjang tubuhnya, mengoyak dengan brutal seluruh tubuhnya tanpa ampun.
Ariel meraih ponselnya, lalu menghubungi Win karena tidak bisa menahannya lagi.
Selamat malam, Nona Ariel?
" Win kenapa tidak membalas pesan dariku? "
Apa Nona menunggu balasannya?
Ariel terperangah sebal mendengar pertanyaan Win. Menunggu jawabannya? Ya Tuhan, kenapa Win sama menyebalkannya seperti Leo?
" Kau pikir aku adalah fans mu yang akan sibuk mengirim pesan tanpa mengharapkan balasan? " Sebal Ariel.
Oh, baiklah aku akhiri dulu teleponnya baru aku balas pesan dari Nona ya?
Hah? Ariel dibuat terperangah lagi oleh kelakuan Win. Bisa-bisanya dia sungguhan mematikan sambungan telepon untuk membalas pesannya? Bukannya tinggal bilang saja saat telepon tadi? Ini dia yang bodoh, atau Win yang kurang kerjaan?
Tak lama ponsel Ariel bergetar, dan benar saja Win membalas pesan darinya.
Maaf untuk keterlambatan balasan pesan kepada Nona. Tuan baik-baik saja, saya mengurusnya dengan baik. Sekarang Tuan sudah masuk ke kamar, tapi saya tidak tahu apakah sudah tidur atau belum.
" Dasar kurang kerjaan! " Maki Ariel yang tak tahan lagi untuk memaki. Tak lama dari itu ponsel Ariel kembali bergetar, dan itu adalah Win mengirim nomor telepon Leo kepadanya.
" Cih! Siapa juga yang mau menghubungi Tuan mu itu? " Gumam Ariel sok jual mahal, tapi pada akhirnya dia tetap melirik layar ponselnya karena hati nuraninya berkata untuk menghubungi Leo dan menanyakan secara langsung bagaimana keadaan pria itu.
Telepon tidak ya? Kalimat itulah yang memenuhi otak Ariel sekarang. Ingin sekali menghubungi Leo, tali gengsinya melarang dengan ketat.
" Aduh, telepon atau tidak ih sebenarnya?! " Ariel menghitung jemarinya dengan kata telepon dan tidak, baru pada akhirnya jatuh ke kata tidak. Merasa tidak rela, dia ulang kembali sampai kata telepon dia dapatkan.
" Nah, tu kan?! Sepertinya aku adalah manusia yang baik hati deh. Yah meksipun Leo itu menyebalkan, tali hati nurani ku ini selalu baik, jadi anggap saja ini kekhawatiran sesama manusia. " Ariel meraih ponselnya, sebentar mengambil nafas untuk mengurangi rasa gugupnya, ah tidak tahu juga kenapa dia gugup!
Katakan kau siapa dalam lima detik, atau aku akan segera mengakhiri sambungan telepon ini.
" Sombong sekali! Ini aku, Ariel. Istri mu yang paling cantik, paling manis, paling baik, paling pengertian, dan paling sering tertindas oleh suami jahat sepertimu. "
Diseberang sana, hanya bibir seorang pria tengah berbicara diseberang telepon yang terlihat. Begitu tahu itu adalah Ariel, dia tersenyum sebentar, lalu melanjutkan kegiatannya.
Oh, aku pikir kau sedang kabur karena tidak tahan dengan ku.
Ariel membuang nafas, sepertinya Leo dalam keadaan baik-baik saja, buktinya mulutnya masih saja ganas, melebihi ganasnya mulut singa jantan.
" Kau belum tidur? Kau sudah mandi? Sudah makan? Kau bisa naik ke atas tempat tidur sendiri? Apa Win yang membantumu? "
Bersisik! Dari semua pertanyaan mu, yang mana dulu kau mau jawabannya?
" Kau, apa baik-baik saja? " Tanya Ariel karena memang itulah yang paling penting untuknya.
Tentu saja aku baik-baik saja. Aku pria cacat yang terbiasa tanpamu selama puluhan tahun.
Ariel terdiam, kenapa mendengar itu rasanya dia kecewa? apakah secara tidak langsung dia menginginkan Leo terbiasa dengan adanya dia? Kenapa perasaan itu bisa muncul? Tidak mungkin dia jatuh cinta dengan pria menyebalkan itu kan? Atau kah perasaan itu hanya perasaan perduli sesama makhluk hidup? Ah, pasti itu dia jawabannya.
" Apakah aku tidak boleh mengkhawatirkan mu? Bagaimanapun aku sama sepertimu, kita sama-sama manusia, jadi apa salahnya kalau aku perduli? "
Anggap saja aku bukan manusia kalau itu alasanmu perduli padaku.
" Eh? " Ariel mengeryit keheranan karena sambungan teleponnya rupanya diputuskan begitu saja oleh Leo. Tidak tahu bagian yang mana salah bagi Leo, tapi setelah mendapatkan jawabannya jika Leo baik-baik saja, Ariel jadi sedikit lega.
" Kenapa Presdir Nard menghubungiku? " Ariel bertanya kepada dirinya sendiri karena belum lama setelah panggilan dengan Leo berakhir, sekarang Presdir Nard menghubungi. Sebenarnya ini sudah malam dan dia mulai mengantuk, tapi karena isi perjanjian dia harus selalu ontime, maka dia hanya bisa menerima panggilan telepon itu.
" Selamat malam, Presdir Nard? Ada yang bisa aku bantu? " Jawab Ariel sopan.
Datang ke kamar ku ya? Aku sedang tidak bisa tidur.
Ariel menelan salivanya sendiri, datang ke kamar pria malam-malam begini? Hah! Jujur di dalam hati Ariel merasa was-was, tapi setelah dipikir-pikir, apa mungkin seorang Presdir RC akan melakukan tindakan tidak senonoh begitu?
Kau dengar tidak?
" Ah, iya! Saya kesana sekarang. "
Ariel menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan untuk membuang rasa gugup dan pikiran negatif sebelum dia mengetuk pintu kamar Presdir Nard.
Tok Tok
Tak lama Presdir Nard membuat pintu kamarnya. Ah, untunglah karena tidak seperti yang Ariel bayangkan, yaitu Presdir Nard membuka pintu dengan menggunakan jubah mandi seperti drama Casanova yang pernah ia tonton. Pria tampan itu menggunakan celana pendek, dan juga kaos berwarna putih over size lebih besar dari pada tubuhnya sendiri.
" Masuklah. " Ujarnya seraya membukakan pintu lebih lebar agar Ariel lebih leluasa untuk masuk ke dalam kamar.
" Apa yang bisa aku bantu, Presdir Nard? " Tanya Ariel langsung saja karena tidak ingin membuang banyak waktu untuk segera tidur.
" Tidak ada, temani saja aku ngobrol. "
Hah? Ariel melongo heran. Kalau cuma mau mengobrol bukanya ada Arumi yang jelas sekali adalah wanitanya?
" Duduk, kau mau anggur ini tidak? " Presdir Nard mengangkat sebuah botol anggur yang kalau di lihat dari desain botolnya, anggur itu pasti harganya sangat mahal.
" Aku belum pernah minum anggur, Presdir Nard. "
" Kalau mau coba silahkan saja. Kalau cuma sedikit tidak akan mabuk, berbeda denganku yang sudah kebal dengan anggur beralkohol. "
Bersambung.